Hotelier Stories Enaknya Jadi Staff Rank & File

Sesekali, ketika saya yang saat ini sudah menjabat posisi pimpinan puncak sedang merasa terbebani dengan masalah pekerjaan, maka akan terbayanglah masa lalu ketika merasakan enaknya  jadi staff tingkatan terendah, yakni sebagai seorang karyawan dengan tingkatan yang disebut Rank & File.

Sebagai staff Rank & File, otoritas dan tanggung jawab terbatas, tugas yang dilakukan sudah dipikirkan dan direncanakan oleh pimpinan. Jadi, tugas utama hanyalah pada lingkup kerja jangka pendek sebagai pelaksana.

Kerinduan membayangkan menjadi staff itu seumpama seseorang berkembang dewasa dan ingin kembali ke masa kecil. Masa di mana tidak perlu mikir persoalan hidup. Menjadi anak kecil yang tahunya cuma main, ketawa, dan menangis.

Sama seperti kita sebagai pekerja yang karirnya berkembang, semakin naik jabatan, semakin besar pula tanggung jawab yang diemban. Semakin mengerti dan paham semua soal yang harus diselesaikan, semakin banyak tekanan dalam proses menyiapkan solusi dan implementasinya. Peristilahannya “makan pikiran” dan stress.

Seperti dalam posisi sekarang ini, saya harus memikirkan nasib orang banyak. Strategi jangka panjang memberlakukan aturan main “make the job done through other people and controlling is better.”

Kendati demikian, tekanan dari segala penjuru mata angin membentuk kematangan pengalaman kerja saya.

Di dalam catatan perjalanan karir saya, di kuartal terakhir tahun 1999, saya dikeluarkan dari “my comfort zone” secara paksa. Saya harus meninggalkan pekerjaan Public Relations Kehumasan 100%, dan mendapat promosi jabatan menjadi Director of Sales (DOS) yang mengepalai Sales Department. Dipaksa pindah kantor dan dari pekerjaan yang sudah menjadi mimpi dan cita-cita saya sejak masih di bangku Sekolah Menengah Atas. Satu pekerjaan yang sangat saya sukai dan tekuni. Rasanya saya telah mencurahkan isi hati dan pikiran saya untuk bidang yang saya cintai ini. Totalitas yang pastinya berimbas langsung kepada prestasi dan citra positif hotel tempat kerja saya yang bintang 5 di tepi pantai Kuta, Bali.

Mengapa jadi pemaksaan nih ceritanya?

Begini. Awalnya saya menolak untuk mengambil posisi menjadi Director of Sales, karena bagaimanapun Public Relations adalah cita-cita saya. Titik. Dalam pikiran saya, sejak dulu saya hanya ingin menjadi seorang Public Relations. Dan ketika tercapai, saya sudah puas. Titik, sekali lagi. Tapi Boss tidak 86 juga (paham kan dengan istilah kepolisian itu?). Intinya, Boss tidak mau ngerti, tidak mau damai.

Ngeles kayak bajaj, saya memberikan bermacam-macam alasan agar tidak menjadi Director of Sales. Mulai dari alasan belum ada pengganti di Public Relations, bahwa kondisi saat itu memang susah mencari Public Relations di Bali, sampai alasan kalau saya sedang membereskan beberapa pekerjaan agenda kegiatan hotel seolah-olah pekerjaan kejar tayang sampai akhir tahun.

Promosi jabatan saya menjadi Director of Sales adalah efek domino. Efek berantai dari perubahan posisi di dalam hotel. Saat itu Director of Sales & Marketing dipromosikan menjadi Executive Assistant Manager (EAM), orang ke-2 setelah General Manager (GM). Artinya posisi Director of Sales & Marketing menjadi kosong. Dan orang yang diperhitungkan mampu untuk mengisi kekosongan jabatan itu adalah saya.

Maka setelah enam bulan menunda promosi jabatan, hari itu keluarlah kata-kata sakti dari General Manager, “We can not keep increasing your salary without doing anything to your future career and responsibility.”

Instruksi selanjutnya dari sang GM, “Silakan dibereskan barangbarang. Segera lakukan serah terima pekerjaan kehumasan kepada Executive Assistan Manager. Dan ambil tempat kerjamu di ruang sales.”

Di sini saya menjadi mengerti, bahwa setiap posisi ada batasan nilai nominalnya. Konsekuensinya, ya memang harus tertahan di posisi yang sama dengan gaji maksimum di jenjang itu. Sehingga naik jabatan berarti sekaligus masuk ke jenjang besaran nominal gaji di jenjang berikutnya dengan penambahan tanggung jawab.

So pasti!

Hhhmmm… Akhirnya. Baiklah! Dengan berat hati saya menurut. Memimpin Sales Department dan meninggalkan totalitas pekerjaan Public Relations—pekerjaan dan jabatan impian yang telah memberikan kesempatan tulisan saya, wajah saya, hasil foto jepretan saya, dan komen saya muncul setiap hari di berbagai koran dan majalah lokal, regional, serta international.

Di zaman saya menjadi PR itu, belum masanya internet dan digital online. Sehingga laporan bulanan termasuk kliping tidak pernah kurang dari tebalnya ordner! Semua itu termasuk materi iklan radio, iklan media cetak yang saat itu masih harus memakai colour separasi. Juga dokumentasi spanduk alias banner yang dikerjakan oleh dua artis yang harus mengerjakan secara manual dengan lukisan dan tulisan tangan.

Masuk ke Departemen Sales, saya menjadi leader dan harus me-manage tiga orang Sales Manager perempuan. Salah satu Sales Manager itu berkebangsaan Jepang. Ditambah lima personil di Jakarta Sales Office, tiga sekretaris sales yang memegang administrasi dengan respective market, dan tiga orang di Reservation Office.

Wah, langsung dapat banyak orang yang harus dipimpin yaaa…

Sedikit sulit memang, karena mereka awalnya kolega dengan tugas sejajar. Sekarang tiba-tiba harus mendengar dan menjalankan perintah instruksi order dan nasihat saya. Haissshhh…, tampang bule mental Indonesia saya ini. Karena ada rasa sungkan, segan, dan enggan untuk melakukan itu. But shows must go on.

Senang? Bahagia?

Once again, ndaklah! Saya manyun! Dari yang ceria jadi judes! Saya harus jadi pemimpin hasil pemaksaan sekaligus kejar target.

Sampai suatu ketika setelah beberapa lama hidup tanpa bisa tersenyum, salah satu Sales Manager yang campuran Batak- Jerman teman dekat saya, juga mencoba meluluhkan keseriusan saya. “Jup, ndak seneng aku kalau kamu ndak bisa senyum gini. Ayolah Jup, senyum dong…,” ucapnya menggoda saya di depan mesin fotocopy. Saat itu saya sedang serius menyusun dan menyempurnakan salah satu pekerjaan.

Lalu apa yang terjadi? Satu per satu sales perempuan itu mengundurkan diri dengan alasan masing-masing. Penggantinya masuk satu per satu menjadi tiga Sales Manager, dan laki-laki semua. Salah satunya berkebangsaan Jepang. Swifting gender.

Jujur, ternyata terbebani juga jadi seorang pemimpin suatu departemen yang harus membina anak buah. Dari pengalaman bekerja dengan tim perempuan, kemudian berganti dengan tim laki-laki, ternyata tim perempuan dari pengelolaan emosi dan keuletan lebih tangguh. Pada saat ada persoalan pribadi, tim perempuan tetap survive walau dengan drama tangisan. Hasilnya pekerjaan tetap beres. Sedangkan yang laki-laki, begitu dapat tekanan persoalan pribadi, mereka berubah menjadi blank tidak bisa mikir. Mereka menjadi lemah otak, tidak bisa diajak ngomong, apalagi membereskan tugas kerjaan. Flat like a frog! Selanjutnya tim dengan komposisi campur beda gender adalah lebih baik. Keseimbangan alam.

Dengan pekerjaan saya sebagai Director of Sales, sebuah jabatan yang mentereng, saya sering terbayang masa-masa awal mulai bekerja di hotel di Semarang. Bekerja di hotel bintang 2 dengan konsep rumah besar, sebuah hotel rebranding milik perusahaan multi nasional yang rajanya media. Di sana saya meniti karir dari bawah sebagai karyawan Rank & File.

Tak mungkin terlupa sejarah awal karir saya pada 31 tahun lalu di tahun 1985 itu. Pada bulan pertama saya masuk kerja, job assignment saya adalah pemegang buku harian income audit di accounting. Sekali lagi, ini juga sepertinya penempatan salah jurusan, yakni dari pemaksaan rekrutmen awal di toko buku. Duileeehhhhh… pusingnya saya harus membuka nota berlembar-lembar bolak-balik hanya untuk menemukan selisih Rp 50 yang membuat tidak balance hari itu di buku besar.

Rezeki sudah ada yang mengatur.” Begitu petuah yang sering kita dengar. Petuah itu juga berlaku dalam hidup saya. Selalu ada kejadian-kejadian yang membukakan pintu lebih-lebar dan menjanjikan untuk masa depan. Suatu ketika, di Front Office ada satu Receptionist yang sedang hamil dan dianggap sudah tidak pantas berdiri di belakang counter dengan perutnya yang mulai kelihatan besar menggelembung. Kolega saya itu memilih tukar menukar pekerjaannya dengan saya. Masih terngiang ucapannya, “Wis itu cah bagus (anak ganteng) yang baru nyampe saja pantes ngegantiin saya di depan dan saya yang ngerjain buku hariannya.” Prosesnya terjadi begitu mudah, dan saya mulai duduk di ruang switch board menjalani training sebagai telepon operator yang merupakan bagian dari Front Office.

Dengan berjalannya proses training, saya mendapat kesempatan langsung belajar reservation, reception, dan kasir. Komplit. Sempurna. Hingga sampailah pada tahap bisa in-charge sendirian di Front Office counter untuk mengerjakan multi tasking function itu. Luar biasa rasanya bisa belajar banyak hal dengan cepat.

Sampai pada saatnya si kolega perempuan itu kembali dari cuti melahirkan. Sekali lagi dia memutuskan untuk dirinya sendiri. “Saya ndak bisa kerja shift karena harus menyusui. Jadi, biar Jeffrey saja meneruskan di Front Office,” begitu permintaannya kepada Hotel Manager. Maka menjadi semakin permanenlah posisi saya.

Dinamika bekerja di Front Office ini sangat menyenangkan. What a life. Banyak kejadian baru untuk saya pelajari sebagai seorang “fresh blood”, masih segar tanpa pengalaman yang masuk ke industri perhotelan.

Pertama, hotel bintang 2 ini rebrand dari hotel sebelumnya yang XXX dengan diskotek, dan berubah total menjadi hotel keluarga. Banyak kejadian yang harus ditangani secara konsisten sebagai receptionist untuk menghalau pelanggan lama dengan kebiasaan lama. Coba bayangkan posisi saya. Tugas saya terasa berat karena saat itu belum paham apa itu bisnis XXX. Polos banget di usia 21 tahun. “Ngganteng-ngganteng bego,” gitu kata rekan kerja saya. Ini loh Semarang! Tamunya one night stand dan sebagian besar datang langsung istilahnya walk-in, transit saja. Hotel hampir setiap hari dengan tingkat hunian 100%. Komunikasi banyak dilakukan dalam bahasa daerah. Pastinya bahasa Jawa. Baik itu telepon maupun verbal di counter FrontOffice. Dan saya sering gelagapan berkomunikasi dengan bahasa Jawa sekelas wayang orang itu. Sering saya menjadi bahan tertawaaan dikatai “wagu”, kagok, ndak sopan! Sebelumnya saya tidak pernah berbahasa Jawa dengan perbedaan derajat seperti ini. Di kota kelahiran di mana saya dibesarkan sehari-hari pakai bahasa “ngoko”, bahasa sehari-hari tingkat paling bawah, dan tidak ada masalah.

Jupriiiii…, ngawur toh yo jawabmu tadi. Yang benar itu ‘toyo asrep’ untuk air dingin bukan ‘toyo adem’. Dan ‘toyo benter’ untuk air panas bukan ‘toyo panas’. Begitu salah satu koreksi rekan kerja di Front Office sambil ngakak. Ternyata, ada tambahan pelajaran di sini, bahwa bahasa Jawa Kromo Inggil kelas atas! Saya naik kasta!

Seiring berjalannya waktu, saya mulai bosan  dan mencari perkara. Saya yang masih sangat muda. Saya 24 jam mendapat kamar tempat tinggal di dalam hotel, dan bertemu orang yang itu-itu saja. Bergerak di dalam lingkungan itu-itu saja. Untuk mengisi kekosongan waktu, mendapat tambahan tugas memutar in-house video terjadwal. Dan saya menjadi penanggung jawab memegang kunci gudang setelah jam kerja mereka usai.

Di tahun kedua bekerja di hotel berbintang 2 di kota Semarang ini, saya memutuskan bergabung dengan kelompok fitness. Lokasinya berjarak sekitar 500 meter di kompleks Gedung Olah Raga Semarang Simpang Lima. Waktu tempuhnya sekitar 10 menit jalan kaki. Ya, harus jalan kaki, wong saya tidak dapat fasilitas mobil. Bisa sih naik becak, tapi kayaknya kok waktu itu saya lebih nyaman jalan kaki, tebar pesona dari pinggir jalan.

Gaji minim saja loh pake mau gaya. Wong saya juga tidak ada yang kenal di kota besar ini. Berangkat latihan dan rutin tiap hari hadir di Fitness Club. Saya hadir dengan jam yang ber-beda-beda sesuai jadwal kerja shift saya.

Mulailah saya dapat teman. Pastinya mulai berteman dengan pelatih sampai ke member lainnya. Saya mendapat sahabat laki-laki yang punya mobil. Dia pelajar Sekolah Menengah Atas kelas akhir. Minat kegiatannya sama dengan saya. Jadilah kami sering mengatur waktu menyesuaikan jadwal ke sana-sini berdua dari fitness, berenang, latihan atletik, bela diri, sampai ke night club.

Selain bersama satu orang sahabat ini, saya juga tetap bergaul dengan member lainnya untuk banyak kegiatan kemudian. Saya juga ikut bergabung dengan kelompok pemuda seiman (KKMK) untuk kegiatan ngumpul-ngumpul di luar gereja. Tidak hanya itu, saya pun ikut berbagai lomba fashion model dengan modal berwajah bule, body atletis, tinggi badan cukup, peserta independen. Anehnya, saya tidak pernah menang atau jadi juara.

Sekali-kalinya dapat juara III, eh malah saat ikut lomba masak PHRI Jawa Tengah mewakili hotel untuk kreasi makanan dengan bahan singkong. Sedangkan pekerjaan sehari-hari dan jabatan masih sebagai reception. Peserta lomba ini para chef mewakili dapur hotel-hotel se-Jawa Tengah gitu. Ajaib bukan? Tidak punya chef hotel tempat kerja saya itu. Hotel tempat saya bekerja kali ini mengkaryakan ibu-ibu rumah tangga yang jadi tukang masak. Sajiannya di hotel ya masakan rumahan. Merekalah yang mendukung kemenangan lomba masak singkong yang saya ikuti itu. Tim dapur ikut turun tangan menyempurnakan packaging presentasi masakan aneka singkong. Saya sebagai penampilnya.

Lalu, di mana enaknya jadi staff Rank & File?

Saya yang masih muda waktu itu dan dengan beban tanggung jawab yang diberikan, bisa dengan mudah nitip kerjaan ke teman di hotel. Minta ganti jadwal untuk kepentingan pribadi, pake ngeyel. Walau tinggalnya in-house dan karena sibuknya kegiatan pribadi, saya kadang tidur kebablasan, telat bangun. Begitu nyampe di lokasi kerja, Supervisor saya omeli dengan dalih dia menggonta-ganti jadwal, dengan nada menuduh mengintimidasi. Alasannya karena gonta-ganti shift yang dari malam ke sore, ganti lagi ke pagi, jadilah saya error dan letih. Supervisor saya paling cuma geleng-geleng kepala digalakin anak buahnya sambil berkata, “Dasar londo edan.”

Di luar kelakuan yang mau menang sendiri itu, sebenarnya saya adalah tipe pekerja yang penuh tanggung jawab. Kalau saya dapat shift malam dari jam 10 malam sampai 6 pagi, saya sama sekali tidak tidur. Ada saja yang membuat saya sibuk. Seperti biasanya, dengan berlaku seperti itu temperatur suhu tubuh saya meningkat. Di hari kedua shift malam, saya mimisan pendarahan hidung. Biasa, ndak panik! Saya memang mempunyai sejarah penyakit bawaan ini sejak kecil. Kalau sudah midnight shift gini, kerjaan saya adalah jahiliyah. Memotreti rekan kerja yang tidur, dengan target suatu hari akan di-“black mail”. Walau bintang 2, hotel tempat saya kerja ini adalah pusat tempat menginap para artis film, penyanyi rekaman papan atas, dan pejabat tinggi. Saya pernah menghendel ilmuwan Selo Soemardjan, budayawan Umar Kayam, juga politikus Megawati Soekarnoputri. Kemudian saya juga men-check-in-kan olah ragawan kelas dunia badminton seperti Hastomo Arbi bersama rekan seangkatannya, juga beberapa atlit tennis lapangan kelas nasional, salah satunya Yayuk Basuki. Bahkan pernah grup sepak bola dari Balikpapan menginap berbulan-bulan. Di akhir tahun 80an itu, tidak ada pilihan buat mereka untuk hotel di Semarang. Hotel tempat saya bekerja lokasinya strategis di pusat kota persis sebelah gedung RRI. Tidak ada hotel yang lebih bersih secara image XXX. Harga sewa kamar yang tepat sesuai budget mereka.

Sebagai receptionist dengan keramahan saya dan karakter yang easy going, saya mendapat kesempatan mengenal langsung dari dekat dan bergaul dengan para tamu. Sempat koleksi tanda tangan para pesohor yang saya sebutkan. Tetapi entah sudah ditaruh ke mana buku itu oleh teman-teman kerja yang saya tinggalkan di tahun 1989.

Pernah juga ditawari untuk ikutan casting menjadi bintang film. Namun saya ogah, dan menolak ajakan salah satu produser film langganan hotel itu. Sepengertian saya, main film itu seperti buang-buang waktu kalau sedang menunggu giliran untuk shooting.

Walau saya merasa yakin seyakinnya bahwa saya adalah petugas hotel yang sangat ramah, easy going, dan care, hal yang aneh adalah saya ini tidak pernah dapat uang tip! Persenan! Seperti teman-teman yang lain. Padahal, tentu saja di dalam hati saya juga mengharapkan tip seperti yang didapat rekan kerja saya.

Pernah sekali salah satu repeater guest, seorang pejabat tinggi di salah satu universitas memberikan amplop seraya mengatakan begini, “Ini ya, dik, titip buat teman-temannya. Kamu ndak usah karena sudah cukup”. Saya hanya bisa tersenyum manis, mungkin juga kecut, dan langsung menyerahkan uang tip itu ke rekan-rekan kerja yang in-charge. Tulus ikhlas tanpa syak wasangka, walau dalam hati agak bingung juga kenapa saya tidak termasuk yang mendapat bagian tip itu?

Mengapa bisa terjadi begitu? Mengapa saya tidak pernah diberikan tip?

Akhirnya suatu hari rahasia itu terkuak. Rekan-rekan kerja yang telah mengabdi dari zaman pemilik lama bercerita, bahwa pemilik hotel sebelumnya adalah keluarga campuran berdarah Cina-Belanda. Oh.., jadi sama seperti saya, wajah mereka keindo-indoan.

Dari cerita itulah akhirnya saya menyadari mengapa saya tidak pernah mendapat tip yang (tentu saja) saya harapkan. Rupanya karena tampang saya, karena ke-indo-indo-an lalu dikira anak pemililk hotel! Aduhhhhhh…

Kini, masa-masa di Front Office yang penuh gelak tawa itu sering saya rindukan kembali. Saat-saat bisa berekspresi apa adanya tanpa beban. Seenaknya mengatur diri sendiri, dan tidak perlu jaim jaga wibawa. Konsekuensi sebagai pemimpin di suatu departemen pun, paling dengan suara kering saya hanya bisa berkoar terhadap anak buah, “I’ve been there I’ve done that”. Saya juga pernah melakukan semua kenakalan itu.

 

Penulis: Jeffrey Wibisono V.
Buku: Hotelier Stories Catatan Edan Penuh Teladan

Diterbitkan pertama kali oleh
PT.Percetakan Bali
Denpasar- Bali-Indonesia
Email : Jeffrey@Jeffreywibisono.com

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang.
Dilarang mengutip dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa seijin penulis dan penerbit.
ISBN : 978-602-1672-686

Leave a Reply