Bali, di penghujung Desember 1997.

 Suatu hari General Manager (GM) saya menyampaikan sebuah kalimat yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, bagai sabda, dan menjadi instruksi yang harus segera dilaksanakan.

 “You are now the Public Relations Manager (PR) of this hotel and as we can not lock you in the office only as a PR all of the time, you must also still doing your sales job with your respective markets.”

 “Hah?! Apaan nih?” pikir saya waktu itu. Jelas saya kaget, karena sebelumnya tak ada tanda-tanda, tak ada badai atau topan hingga saya harus menerima sesuatu yang entah berkah ataukah bencana ini.

 “Yes, your title now is Public Relations and Account Manager.”

 Bagaimana reaksi saya?

 ”Tidak! Saya tidak suka!” Itu yang ada di benak saya. Karena waktu itu saya sudah berpikir untuk pindah ke Jakarta, untuk posisi Male Public Relations dengan target hotel-hotel luxury di kota metropolitan itu. Bukankah cita-cita awal saya memang ingin menjadi Public Relations (PR) …???

 Di dalam perdebatan dengan GM bule senior itu saya berargumen, “No! Male PR is for Jakarta, while Bali is for girls.” Dan di kepala saya terbayang para wanita PR di Bali yang saya kenal dengan sangat baik. Mereka yang lenje-lenje, PeDe abis, diplomatis, pakai rok mini dengan gincu berbagai warna. Mereka beredar di mana-mana seantero pulau pagi, siang dan malam melakukan tugas diplomasi dan promosi.

“Yes, we can make you as a male PR for Bali.”

Pada zaman itu sudah bagai stigma, bahwa di Bali jabatan PR harus dipegang seorang perempuan. Mana ada PR hotel di Bali laki laki? Aneh bin ajaib bila itu terjadi, gumam saya dalam hati.

Tapi akhirnya itu memang benar terjadi. Dan celakanya, saya lah yang seakan mendapatkan kutukannya.

Entah, mungkin ini dinamakan takdir, kenyataan, atau sebenarnya terpaksa nekat menerima dan urat rasa khawatir saya sudah putus.

Jadilah saya menjalani tugas-tugas itu dengan penuh komitmen dan pastinya banyak dibantu serta dibimbing oleh rekan-rekan PR perempuan yang sudah well established di Bali. Karena barangkali saya lah satu-satunya PR laki-laki di Bali, saya merasa bagai seorang “pangeran”. Maklum saja, PR ini sebuah jabatan prestisius dan figurnya selalu menjadi sorotan publik. Dan saya mungkin saja memang satu-satunya praktisi PR laki-laki di Bali di masa itu. Well.., di satu sisi saya masih menjalani pekerjaan rutin sebagai seorang salesman yang harus memanage clients bersama team sales lainnya.

Dalam posisi rangkap jabatan seperti itu, hal lainnya yang mungkin tidak dipunyai manager lainnya—dan ini bisa saja membuat saya diceletukin, “Gaya loe, Jeffrey!”—saya mempunyai dua orang sekretaris. Ya, dua sekretaris. Satu sekretaris untuk sales, satu lagi sekretaris untuk PR.

Tidak mudah memang mengawali pekerjaan ganda ini, karena dua sekretaris itu seringkali berantem rebutan agenda. Sampai-sampai saya akhirnya harus membagi waktu. Empat jam pagi adalah urusan saya untuk sales, dan setelah makan siang full untuk PR. Beres, aman, semua appointment teratur. Happy medium! Bahagia!

Tetapi apa yang terjadi kemudian? Agenda saya full… Penuh!

 I got no space untuk memperpanjang diskusi dan chatting dengan my clients. Semua harus on time. Kedua sekretaris saya tiba-tiba beralih fungsi menjadi manager saya. Kadang saya merasa seperti artis yang padat jadwal shooting sinetron untuk kejar tayang. Para sekretaris lah yang membawakan folder, minuman, kunci mobil dan memberikan instruksi yang harus saya jalankan. Semua orang yang meminta bertemu saya harus melalui screening mereka, with or without appointment. Akibatnya, saya sering menyebalkan teman-teman saya yang dropped by yang cuma ingin temu kangen dan killing the time nyantai ngopi-ngopi cantik.

Setelah beberapa saat saya menyadari bahwa saya bukan saja satu-satunya praktisi PR bergender laki-laki, tetapi juga satu-satunya yang punya job title Public Relations & Account Manager”— bila sebenarnya disimplify bisa disebut Sales & Marketing Manager. Dua tipe pekerjaan berbeda. Yang satu menuntut di dalam lingkup hotel untuk berinteraksi dengan wartawan, media, dan memanage in-house hotel activities. Sedangkan yang satunya lagi untuk menjemput bola menemui client mencari bisnis, spreading and selling my charm di jalanan. Jaminan tenar! Undangan menghadiri berbagai acara tiada henti, ditambah jadwal bergaul sampai dini hari.

Anda pasti mulai bertanya tanya dalam hati, “Wah keren ya jabatannya Jeffrey…” Dan bagaimana kira–kira awalnya sampai General Manager menghibahkan jabatan itu kepada saya?

Bagaimana kok bisa-bisanya saya bisa terpilih menjadi Public Relations Manager?

Cerita itu bermula ketika PR Manager, yang telah bertahun-tahun bekerja, mengundurkan diri karena memutuskan untuk bergabung dengan hotel baru berkategori lebih tinggi. Hanya dalam waktu sekitar enam bulan setelahnya, jabatannya silih berganti diisi oleh sampai dengan total tiga orang PR Manager. Dan ketiganya berhenti karena dianggap failed oleh pihak hotel.

Nah, di saat itulah rupanya General Manager hotel mulai melirik saya dan beliau merasa mempunyai alasan yang cukup kuat untuk meminta saya menjadi Public Relations. Mungkin itu lantaran Public Relations yang sudah bertahun-tahun bekerja di hotel kami ini juga adalah sahabat dekat saya. Pada masa masih bekerja bersama saya, dia lebih suka menitipkan pekerjaannya kepada saya ketika ia akan bepergian, liburan, atau cuti. Seperti sudah ada ikatan kepercayaan, bahwa pekerjaannya bakal beres kalau diserahkan kepada saya. Tugas hibah yang saya terima dengan ikhlas itu membuat saya belajar banyak tentang dunia public relations. Inilah namanya “kesempatan” idem ditto training, tidak hitung-hitungan dengan kerjaan, yang ikhlas-ikhlas saja ngerjain kerjaan orang demi image perusahan supaya komunikasi tetap lancar. Tentu saja saya dapat ilmunya juga dan ujung-ujungnya keserimpet harus terima paksaan didaulat mengerjakan fungsi ganda Public Relations kehumasan dan Sales pedagang keliling.

Menjadi PR di sebuah hotel bagi saya adalah memang sebuah cita-cita yang telah tertanam dalam diri semenjak masih berseragam SMA. Sebuah cita-cita, yang bila diibaratkan pacar, dulunya tidak mendapat restu orangtua, terutama bapak saya.

“Tidak ada biaya buat kamu kalau masuk sekolah perhotelan itu.” Begitulah dulu ucapan bapak ketika saya menyampaikan keinginan melanjutkan ke sekolah perhotelan untuk menjadi seorang Public Relations. Tentu saja hati saya langsung luruh jatuh ke lantai, pecah ambyar. Sambil menahan tangis, saya lari ke balkon kamar rumah loteng sederhana kami. Dan meratapi nasib di sana.

Belakangan saya tahu pemikiran bapak yang saya panggil papie. Saat itu profesi di bidang perhotelan mengundang persepsi negatif di beberapa kalangan masyarakat. Bapak ingin saya melanjutkan cita-cita dengan gelar yang terpandang. Jadi dokter, insinyur, atau ahli ekonomi. Bukan menjadi pekerja hotel dan Public Relations yang mungkin tidak beliau pahami. Saya kira itulah egoisme orangtua. Salah satu tugas seorang anak adalah mewujudkan cita-cita orangtua yang tidak kesampaian. Dalam hal ini saya yang didorong menggapai cita-cita bapak yang pengen jadi dokter. Tetapi saya memiliki interest yang lain.

Dari dulu minat saya ke bahasa dan sejarah. Tetapi, ketika saya memilih IPS waktu penjurusan semester kedua di SMA, guru wali kelas memaksa saya untuk masuk ke jurusan IPA. Saya berpikir, tega-teganya guru menjerumuskan saya ke jurusan yang bukan menjadi pilihan saya. Seakan saya diarahkan ke jalan yang sesat, setidaknya tersesat dari jalan menuju ke cita-cita saya.

Di sekolah dengan reputasi tempat anak nakal dan tawuran ini, pada saat kelulusan saya mendapat ranking tertinggi dari jurusan IPA. Mengherankan! Wong yang saya jalani di luar minat kok ya bisa juga ternyata. Lantaran keinginan melanjutkan ke sekolah perhotelan tidak mendapat restu, saya ngawur saja mendaftar UMPTN ujian masuk universitas negeri. Saya memilih UGM dengan jurusan Arkeologi dan Antropologi. Namun lagi-lagi ditentang oleh bapak, dengan alasan dapat kerja apa setelah lulus nanti?

Akhirnya saya juga mengisi form pendaftaran untuk tes jurusan Kedokteran dengan pilihan kedua Teknologi Pertanian. Ya…, kalau diterima di teknologi pertanian, paling tidak saya sudah suka dengan bercocok tanam dan memelihara binatang.

Yang terjadi kemudian, saya malah tidak mengecek pengumuman kelulusan. Pada hari itu saya memutuskan berdiam diri di kamar dan bilang tidak diterima. Hopeless lah rasanya. Saat itu ibu kemudian turut memarahi bapak dan berkata, “Biarkan saja anak itu memilih sekolahnya sendiri.” Ada rasa senang karena dibela ibu, dan akhirnya sukses mengadu domba mereka. Tetapi, seperti judul lagu, semuanya “terlambat sudah”.

Akhirnya, ketika IKIP program ekstensi dengan label ELC (English Language Center) membuka gelombang kedua pendaftaran untuk jurusan ekstensi Translator Interpreter bahasa Inggris- Indonesia, masuklah saya ke program diploma di sana.

Karena ketidakpuasan terhadap perlakuan bapak yang saat itu sedang bermasalah dengan keuangan dan penghasilannya, sambil kuliah saya mencari kerja. Seperti biasa, ketika kita berteriak minta tolong, bantuan akan datang dari segala penjuru. Begitupun dengan saya. Mulai dari sepupu yang rela memboncengkan sepeda motor sampai ke kota Batu untuk melamar pekerjaan di bagian tata usaha sebuah sekolah, dibantu menulis lamaran kerja dan daftar riwayat hidup dengan tulis tangan—di tahun 1982 itu harus pakai tulis tangan—jadi pegel juga kalau menulis 10 surat lamaran kerja, hingga dibantu ‘modal’ membeli amplop dan perangko senilai Rp 100. Itu pun sebenarnya saya sudah menguras tabungan, selain gengsi minta orangtua, lha wong mengirim lamaran kerja juga sembunyi-sembunyi.

Titik terang akhirnya datang dari mertua kakak perempuan saya yang menyodorkan koran Kompas Minggu dengan lowongan semua posisi untuk pembukaan Toko Buku Gramedia di kota Malang. Saya mendapat panggilan untuk psiko test, test kesehatan, dan interview.

Di sesi interview ini pun saya tetap ngotot membawa mimpi yang terpendam. Ditanya tentang cita-cita, saya masih saja bertahan dengan keinginan menjadi seorang Public Relations sebuah hotel. Sempat diluruskan oleh bapak Kepala Personalia yang meng-interview saya, “Ini interview untuk toko buku ya, bukan hotel, walau kami juga baru saja mempunyai hotel!” demikian katanya. Di benak saya waktu itu, hotel adalah tempat yang mewah dengan segala opportunity untuk menjadi orang terpandang, terkenal, dan tentu saja dengan wajah “indo” kebule-bule-an boleh dong saya bermimpi sekalian bisa menjadi bintang iklan. Atau malah menjadi bintang film ketika misalnya seorang produser melihat saya di lobby hotel.

Saya ternyata lolos semua tes. Sampai kepada tes kedua dan ditawari posisi sebagai Akunting Manager dengan masa training tiga (3) bulan di Surabaya. Saya menolak pekerjaan di belakang meja itu dan memilih sebagai pramuniaga, shop attendant di Toko Buku milik perusahaan media multi nasional di kota Malang, dengan gaji hanya sepertiga dari seorang Akunting Manager. Alasan saya sederhana. Saya lebih suka di garis depan bertemu banyak orang. Dan bukankah itu sudah agak mirip-mirip cita-cita saya sebagai seorang PR?

Tentu saja pilihan saya itu mengundang tanda tanya, dan dianggap aneh. Barangkali Kepala Personalia Divisi Perdagangan yang jauh-jauh didatangkan dari kantor pusat Jakarta untuk finalisasi rekrutmen dan mewawancarai saya itu, menemukan indikasi 44 (kode polisi untuk menyebut oknum yang dicurigai sebagai orang gila). Ditawari jabatan mentereng sebagai Akunting Manager, kok malah memilih sebagai pramuniaga.

Kegigihan mengawali job sebagai pramuniaga ternyata membuahkan hasil. Setahun kemudian saya dipindahkan ke hotel grup toko buku ini di Kota Semarang dan menjadi Receptionist. Kuliah di IKIP–ELC yang menjelang ujian negara di semester 7 pun saya tinggalkan.

Resmilah saya menjadi hotelier di entry karir dunia perhotelan dan pariwisata. Misi pertama menjadi pekerja hotel telah tercapai. Inilah cikal bakal praktisi perhotelan dari seorang pramuniaga toko buku menjadi General Manager Hotel. Dan itu setelah menjalani jalur karir zig-zag.

Maaf, yang di bawah ini agak narsis. Boleh ya sesekali narsis?

Puncak karir Public Relations saya raih di tahun 2001 dengan diberikannya penghargaan medali perak untuk kedua kalinya dengan kategori Public Relations Simpatik Bali dari hasil seleksi media pariwisata berbahasa Inggris terkemuka di pulau, Bali Travel News (grup Bali Post). Saat itu saya juga mendapat promosi jabatan menjadi Director of Sales masih di tempat kerja hotel yang sama. Medali Perak sebelumnya saya terima di tahun 1999 sehubungan dengan Tri Hita Karana Awards yang pertama kali diadakan.

Demikianlah. Dan mungkin seperti halnya gunung, “takkan lari cita-cita dikejar”. Hanya tinggal kita mau terus berlari, atau berhenti.

 

Penulis: Jeffrey Wibisono V.
Buku: Hotelier Stories Catatan Edan Penuh Teladan

Diterbitkan pertama kali oleh
PT.Percetakan Bali
Denpasar- Bali-Indonesia
Email : Jeffrey@Jeffreywibisono.com

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang.
Dilarang mengutip dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa seijin penulis dan penerbit.
ISBN : 978-602-1672-686