UMUMNYA, para pebisnis di bidang pariwisata seperti perhotelan dan sarana pendukung pariwisata lainnya, merekrut tenaga kerja yang “siap pakai” dengan minimum tambahan pelatihan —sesuai keperluan perusahaan—. Rekrutmen SDM (Sumber Daya Manusia) berkualitas merupakan percepatan mengakomodasi kebutuhan para wisatawan baik domestik mau pun mancanegara. Mulai dari karyawan operasional seperti security, housekeeping, driver, pool attendant, front office, waiter sampai ke tour guide yang bekerja di travel agent. Pekerjaan multi dimensi dalam ekosistem pariwisata, tidak hanya memerlukan tenaga kerja terampil secara  fisik, juga memiliki kemampuan mengelola mood dan emosi kastemer.

Tahun ini dan 2023 nanti, berapa besar target  kunjungan wisatawan mancanegara yang ditetapkan pemerintah?

Berapa pun target optimis yang hendak dicanangkan pemerintah, tetap menjadi stimulan menggembirakan dan harus didukung semua pihak, terutama para pekerja pariwisata —Sumber Daya Manusia (SDM) pariwisata itu sendiri—.

Lalu, bagaimana ketersediaan SDM dengan kualitas dan kuantitas untuk mencapai keberhasilan pariwisatanya? Dan bagaimana minat SDM untuk bekerja di kepariwisataan?

Secara random, saya perkecil area misalnya khusus untuk wilayah Jawa Timur dan Jember. Berapa serapan tenaga kerja untuk sektor perhotelan, jika “endemi” COVID-19 diberlakukan? Dengan perhitungan rekrutmen konservatif 1: 1—artinya per kamar satu orang tenaga kerja yang ditempatkan sesuai bidangnya—, ini baru untuk hotel saja.

Bagaimana dengan  bisnis sektor pendukung pariwisata seperti kuliner dan rekreasinya? Masih diperlukan ribuan untuk bekerja di restoran independen, lapangan golf, taman rekreasi, transportasi dan seterusnya.

Tetapi,  apakah mereka — SDM pariwisata—sudah siap kerja dengan performa maksimal untuk melayani wisatawan?

Multi dimensi dalam melayani di industri pariwisata adalah kecukupan  pembekalan pengetahuan seperti:

  • Statistik pariwisata: Kita belajar menghitung jumlah kunjungan wisatawan yang masuk melalui jalur darat, laut dan udara. Kemudian demografi dan geografinya. Lalu objek wisata sampai ke psikografi. Semua adalah acuan akurasi  menggunakan analisa data untuk  melengkapi salah satu strategi sales & marketing.
  • Tourism behaviour: Kita belajar kultur dan kebiasaan bangsa-bangsa lain. Tahap awal, fokus pada kebangsaan mayoritas yang sudah siap masuk ke destinasi kita. Misal, saat ini pemerintah sedang menggalakkan kerjasama dengan Timur Tengah, Eropa dan ASEAN.
  • Ekonomi pariwisata: Kita belajar ilmu ekonomi. Seberapa besar dampak pariwisata di suatu destinasi atau objek wisata, secara makro dan mikro.?
  • Tourism law: Kita belajar tentang aturan-aturan dasar saat memulai membangun objek wisata, hotel, restoran, dan usaha pariwisata lain. Mata pelajaran ini wajib, agar pelaku industri tidak buta hukum yang digunakan untuk menjalankan dasar-dasar normatif pelaksanaan peraturan pemerintah dan kebijakan perusahaan tempat bekerja.
  • Studi Wilayah atau perencanaan destinasi: Kita perlu memahami roadmap pembangunan wilayah sehingga usaha yang hendak dikembangkankan sesuai “kelayakan” peruntukan wilayahnya.
  • Manajemen perhotelan dan objek wisata: Kita belajar mengelola bisnis sesuai konsep produk dan mengoperasikan berdasarkan panduan Policy & Procedure yang didetilkan ke Standard Operation Procedure.
  • Ekowisata: Kita belajar tentang mengembangkan pariwisata berbasis alam. Belajar ilmu kehutanan atau lingkungan!
  • Tourism philosophy: Pengetahuan ekstra yang selayaknya kita miliki adalah mempelajari perihal filosofi dan motivasi manusia melakukan perjalanan wisata.
  • Bahasa asing: Wajib bagi SDM kepariwisataan, minimum menguasai bahasa Inggris. Tambahannya seperti bahasa Arab, Perancis, Jepang, Mandarin, Belanda, Rusia, dan ada beberapa lagi lainnya. Menguasai bahasa asing, menaikkan harga jual profesi secara proporsional—profesionalisme—.
  • Geografi pariwisata: Kitabelajar  memahami peta potensi potensi wisata di daerah, provinsi, sampai nasional.
  • Pariwisata budaya: Indonesia “masih” menetapkan pembangunan kepariwisataan berdasarkan pariwisata budaya Nusantara didasarkan pada kearifan budaya lokal.

Pengetahuan tambahan tersebut memperkaya kompetensi utama SDM di front office, food & beverage dan house keeping. Tidak kalah penting adalah penguasaan code of conduct untuk  diimplementasikan disetiap dimensi fungsi tugas SDM pariwisata —integritas profesi—.

Pekerja pariwisata diajarkan dan dituntut untuk disiplin, menghargai orang lain, mandiri, kerja keras dan tahan banting; agar siap, sigap memberikan layanan sesuai ekspektasi wisatawan. Salah satu critical point misalnya kesopanan,  penampilan, kebiasaan greeting —memberi salam, sapa dan senyum – kepada siapapun. Kerapian penampilan cara berpakaian, penataan rambut dan pemilihan sepatu.

Belum Layak Rekrut 

Lalu siapa pekerja yang siap pakai, mudah direkrut dan berkualitas untuk mendukung program pemerintah yang sudah membuka “gerbang masuk”, memberikan kemudahan aturan warga negara asing berlibur ke Indonesia, sekaligus sebagai upaya mencapai target kunjungan tahun 2022 dan 2023 — meski angka belum terpublikasi–?

Jawaban saya adalah bermula dari SMK Pariwisata.  SMK adalah salah satu jalur praktis  menuju dunia kerja,  diajarkan untuk jadi pribadi yang mandiri, siap kerja. SMK pariwisata umumnya memiliki dua jurusan keilmuan yaitu iIlmu perhotelan dan usaha perjalanan wisata. Dengan kurikulum mata pelajaran dari Departemen Pendidikan, mendapat tambahan tentang perhotelan umum dari front office, house keeping dan food & beverage product dan service.

Jurusan usaha Perjalanan Wisata, mata pelajarannya antara lain tour planning, ticketing, guiding, MICE (Meeting Incentive Convention Exhibition), etika komunikasi dan pengantar ilmu pariwisata.

Apakah lulusan SMK sudah memenuhi kualifikasi ketersediaan tenaga kerja?

Saya yang berada di dalam lingkup praktisi industri perhotelan bisa menyatakan bahwa, lulusan SMK “belum” mencapai poin layak rekrut. Terutama untuk kebutuhan SDM di hotel-hotel bintang 4 dan 5 dengan tamu internasional. Penguasaan bahasa Inggris verbal dan tulisan masih di bawah angka rata-rata, demikian juga ketrampilan khusus seperti  food & beverage dan house keeping.

Nilai Suksesi

Belum layak direkrut sebagai SDM pariwisata, tidak berarti salah langkah. Upaya yang dapat dilakukan stake holder kepariwisataan antara lain:

– Memberi kesempatan guru dan murid mendapatkan pengalaman lapangan melalui pelatihan dan magang di industri perhotelan dan biro perjalanan wisata.

Khusus untuk perhotelan, hal ini sangat penting karena harus menjalankan standar internasional. Menjadi sangat “tidak kompetitif”, bila guru, tenaga pendidik tidak berpengalaman hal tata cara pergaulan internasional. Baik dari urusan hunian, layanan perjalanan sampai di meja makan.

– Departemen, Dinas Ketenaga Kerjaan selayaknya  membuka kursus-kursus bahasa asing, menyediakan laboratorium aplikasi bisnis dan pariwisata di setiap Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kepariwisataan di masing-masing kabupaten dan kota di Jawa Timur. Peran sistem triple helix —industri, kebijakan pemerintah, dan institusi Pendidikan– salah satu solusi untuk memaksimalkan SDM.

– Alternatif lain, pihak industri melakukan fostering/adopsi salah satu SMK untuk memberikan training, praktek sesuai kualifikasi perekrutan di hotel dan biro perjalanan wisata. Sehingga magang di hotel tak sekadar mengisi nilai kurikulum, tetapi praktik dengan “benar, bertanggungjawab” dan menjadikan peserta training/magang tenaga terampil siap pakai sesuai kualifikasi wadah penempatan pekerja.

Afdal?

 

 

Jember, 1 Mei 2022

Jeffrey Wibisono V.

Praktisi Perhotelan dan Konsultan

Naskah juga tayang di

https://www.timesindonesia.co.id/read/news/408281/rekrutmen-sdm-berkualitas-yang-paling-mudah

https://www.opini.beritabali.com/read/2022/05/09/202205090056/rekrutmen-sdm-berkualitas-yang-paling-mudah?page=all#