A Place I Call Home

Pelabuhan rasa rinduku

SEHARI-HARI saya “terlalu” sering mendapat pertanyaan sama, senada dari orang-orang yang sempat berinteraksi dengan saya. Dari mulai rekan kerja, tamu di tempat kerja, dalam acara resepsi, bahkandari pengemudi angkutan umum, transportasi online yang mendukung mobilitas kerja saya.

Bahasa tutur bahasa Indonesia kita ini sangatlah diplomatis dan sering bermakna ganda.

“Bapak pulangnya kemana?”

Apa jawaban Anda?

Saya? Serasa ingin menyanyikan lagu Indonesia Pusaka pada saat itu.

 “Di sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda. Tempat berlindung di hari tua. Sampai akhir menutup mata”

Saya bisa saja mengakhiri dengan kata pamungkas “pulang ke alam baka!”

Akan tetapi, makna implisit dari “Bapak pulangnya ke mana?” tersebut itu adalah sebagai pengganti kalimat – “Bapak berkebangsaan apa?” bahasa Inggrisnya “Where do you come from originally?” atau “Bapak orang mana, Bapak aslinya mana?”

YES! …….. Karena saya ini lahir sebagai bule kawe, waktu saya kecil sebutannya indo atau blasteran. Harus diakui, wajah saya ini makin tua semakin bule. Tapi perawakan SNI – Standard Nasional Indonesia tinggi cukup 170cm dengan berat ideal 75 kg. Klop! Mirip-mirip perawakan orang Perancis atau Hispanik. Di Timur Tengah saya menjadi mirip orang Jordania bahkan orang Rusia mengira saya serumpun dengan mereka. Saya bisa jadi bunglon di antara ras-ras tersebut, asalkan diam, tidak mengeluarkan suara yang bakal ketahuan kalau saya orang asing.

Lebih jauh lagi, ternyata bukan hanya saudara sebangsa se tanah air Indonesia saja yang mempertanyakan “pulangnya kemana”. Bahkan yang bule dan orang asing lainnya pun ketika saya jawab pertanyaan mereka dengan kalimat “I am an Indonesian!” mereka masih mengharapkan lanjutan dengan kata keterangan tempat sambil menyebut “but….???”

Ach sudahlah….. Pokok e Saya Indonesia Saya Pancasila. Lahir dan besar di Kotamadya Malang, Jawa Timur. Aksen bicara verbal saya adalah medok Jowo. Hahahah…. Londo kok medok. Tetapi….. again….. ketika saya berbahasa Jawa kepada teman-teman saya, mereka menyarankan saya berbahasa Indonesia saja atau sekalian bahasa Inggris.

Karena???

Sebab kuping mereka tertanggu! Bahasa Jawa saya disebut “wagu” atau kagok atau janggal. #haddddeeeehhhhh

Lalu, kalau masuk ke pertanyaan filosofis romantis “a place I call home”  – itu sejatine opo?

Dimana saya harus melabuhkan rasa rinduku?

Suatu tempat yang nyaman untuk kita pulang dan berbagi segala rasa. Tempat beristirahat, tempat berkarya, tempat bercerita, tempat bercengkerama, tempat sharing, dan banyak kebersamaan lainnya.

Loh?! jadi “a place I call home” ini adalah manusia toh?

Tentu saja bukan! Kalau saya, rumah itu kan kata benda. Maka untuk menjadi yang disebut “a place I call home” ya harus komplit dengan ada kehidupannya. Kalau tidak kan yo suwung, kosong, hampa, hambar. Kalau tidak komplit kan ya bikin tidak pengen pulang. Tidak pengen tinggal di rumah. Mabur muluk terus kemana-mana. Sehingga jangan-jangan,  kita-kita yang sering ngakunya workoholic itu, ternyata rumahnya suwung. Hati masih dalam proses mencari pelabuhan untuk menambatkan sauh emosi juga jiwa dan raga.

Balik lagi ke “a place I call home” ini….

Buat saya, hidup adalah suatu proses pencarian jati diri. Kerja keras mulai dari mengerti artinya harus mandiri membiayai hidup sendiri. Tinggal berpindah-pindah dari kamar kost satu ke kamar kost lain, dari rumah kontrakan satu ke rumah kontrakan lain, bahkan pindah dari satu kota ke kota lain.

Saya hidup untuk menghidupi orang lain. Profesi kerja saya di masa lalu sebagai seorang salesman harus menghasilkan uang untuk perusahaan. Kalkulasinya penghasilan perusahaan untuk membayar kesejahteraan rekan-rekan kerja dan termasuk saya juga pastinya.

Kehidupan yang penuh kompetisi untuk memenuhi kebahagian sejenak yaitu mengumpulkan materi. Lalu kalau sudah terkumpul apakah saya berhenti dari semua keduaniawian tersebut? Ternyata tidak, masih terlintas dalam pikiran, kok rekan kerja saya dulu dan teman-teman saya bisa punya ini-itu yang jauh melebihi saya ya?!

Artinya saya masih normal, masih manusia dengan segala nafsu duniawinya. Rapopo….. tapi ndak boleh kemrungsung. Harus tetap beretika dan menjalankan etiket.

Sekarang kita masuk lagi ke istilah Jawa yang merupakan bagian dari ajaran budi pekerti dan tata krama di banyak keluarga Jawa. Ada kalimat yang mengatakan: “Urip iku mung sawang sinawang, mula aja mung nyawang sing kesawang”. Terjemahannya “Hidup itu hanya tentang melihat dan dilihat, jadi jangan hanya melihat dari apa yang terlihat”.

Jangan mudah menyimpulkan dari apa yang terlihat oleh mata. Namun lihatlah juga dari apa yang tak terlihat melalui mata hati. Sering hidup orang lain belum sebaik hidup kita.

Lalu, dalam satu minggu di awal bulan Mei 2022 ini, banyak sanak saudara dan handai taulan kita rela melakukan perjalanan ratusan bahkan ribuan kilometer untuk mudik. Mari sekarang kita pulang. Artinya kita sudah punya “a place I call home” kan? Kita melihat dan dilihat, tapi jangan hanya melihat dari apa yang terlihat. Di sana ada hati yang rindu, komplit dengan kehidupannya.

 

Selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1443 H.

Taqabbalallahu minna wa minkum. Minal aidin wal faizin.

Mohon maaf lahir dan batin..

Jember, 5 Mei 2022

Jeffrey Wibisono V.

Praktisi  Perhotelan dan Konsultan

Juga tayang di

https://www.timesindonesia.co.id/read/news/408335/njawani-perilaku-urip-iku-wang-sinawang