Ini cerita beberapa waktu lalu, ketika hotel tempat saya bekerja akan melakukan soft opening.

Beberapa minggu menjelang hotel beroperasi atau buka untuk mulai menerima tamu, saya mengundang beberapa rekanan bisnis yang potensial. Para tamu sangat curious dan mulai bertanya banyak hal. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan. Karena Bali terkenal dengan pantainya, biasanya pertanyaan pertama adalah, “Hotel loe di pantai, Jeff?” Ketika saya jawab “tidak”, pertanyaan selanjutnya adalah, “berarti ada roof topnya?” Dalam hati saya pun menimpali, “Lho kok harus ada roof top sih? jawab saya sembari tetap memasang wajah manis. Roof Top outlets, kini memang menjadi sebuah tren baru di Bali.

Inilah bukti bahwa tren itu berkembang dengan begitu saja. Ketika suatu hotel sukses dengan roof top bar, kemudian banyak hotel membuatnya juga. Nyontek atau ingin mendapatkan kesuksesan finansial yang sama? Tetapi buat saya para pengekor akan mengambil pasar pionernya. Istilahnya sharing the same cake. Maksudnya satu cake yang tadinya dinikmati satu orang, karena ada pengekor, jadilah dibagi-bagi dan dinikmati beramai-ramai.

Dan sekarang yang sedang berkembang beberapa tahun terakhir ini di Bali adalah beach club. Sekali lagi, ini ada unsur ngekor. Sukses di satu lokasi, beberapa bulan kemudian sudah ada lokasi beach club yang lain.

Apa sih sebenarnya beach club?

Pekerjaan yang simple sebenarnya. Sebagian hotel hanya merenovasi bar-nya yang di tepi pantai tanpa tambahan fasilitas rekreasi, kemudian tempat se-iprit itu diberilah nama beach club.

Inilah yang terjadi di sepanjang pantai Seminyak. Kita akan melihat bantal berwarna-warni dengan payung yang juga warna-warni bertebaran di atas pasir. Itulah beach club. Tidak hanya di Seminyak saja. Beach club telah menjamur dari Seminyak, Canggu, Uluwatu hingga Sanur. Siapa yang memulai beach club? Awalnya mulai dari Cocoon di Seminyak area pantai Double Six Seminyak.

Di awal tahun 90-an, pertanyaan soal tren hotel tentu berbeda. Biasanya pertanyaannya, “Berapa lantai tinggi hotel ini?” Atau, “Mengapa di Bali tidak ada gedung tinggi?” Di Bali ada gedung tinggi, dan satu-satunya, di Sanur. Pemerintah Bali memang mengatur ketinggian gedung hanyalah 15 meter atau setinggi pohon kelapa.

Jadi, roof top bar dan restoran yang berkembang dalam lima tahun terakhir ini adalah bagian dari tren. Perkembangan fasilitas hotel.

Mengapa?

Pastinya karena lahan sudah minim, bangunan dipaksa menjadi kamar semua. Fasilitas restoran, juga kolam renang, untuk memenuhi klasifikasi bintang, maka dibuatlah di lantai gedung paling atas. Ingat, maksimum 15 meter. Jadi, atap adalah suatu alternatif kalau tidak ingin bermasalah dengan otoritas pemerintah daerah.

Balik cerita ke tahun 90-an, di hotel tempat saya bekerja memiliki diskotek. Fasilitas yang juga dimiliki hotel-hotel lainnya.

Sekarang, ke mana diskotek itu?

Ya, sudah diubah fungsinya. Dibangun menjadi meeting rooms. Dan kalau sekarang saya bercerita dengan menyebut “diskotek”, terdengarlah tawa membahana. “Diskotek..?! Sekarang bar,

Oom… Barrrrr… Bar itu Oom!”

Apalagi tren yang terjadi dalam sejarah saya?

Oh ya, child minding, kids club. Saya adalah salah satu yang mendapat tugas mengembangkan kids club sesuai tuntutan pasar waktu itu. Hotel tepat saya bekerja berada tepi pantai dengan total 404 kamar. Lahan seluas 6 hektar. Yang terjadi kemudian, ya… belajar dari kids club-nya tetangga. Karena ini bukan salah satu fasilitas yang menghasilkan uang, maka management membuat apa adanya. Syukur-syukur bila memang ada nilai tambah bagi hotel.

Tren lainnya lagi adalah, tiba-tiba semua hotel menambah spa dan mengubah nama hotelnya menjadi “resort & spa”. Tentu ini dimulai dari kesuksesan satu hotel di Nusa Dua milik Sultan Brunei. Dan spa di hotel itu masih tetap dikembangkan di hotel sampai sekarang.

Generasi hotelier di tahun 90an di masa saya pasti masih ingat apabila harus mengisi questionnaire atau menerangkan fasilitas hotel kepada tamu akan mengatakan “Safety deposit box ada di front office.”

Lalu di awal tahun 2000an, fasilitas hotel ditambah lagi sesuai tuntutan zaman dan kenyamanan. Di setiap kamar ada safe deposit-nya masing masing sehingga tamu tidak perlu ke reception.

Juga ada “Tea & Coffee Making Facility”. Kunci kamar manual diganti dengan kunci elektronik dengan alasan keamanan. Ini supaya yang keluar masuk kamar bisa dideteksi dan ada rekamannya. Wah…, kejahatan dengan cara penjahatnya masuk kamar meningkat rupanya. Tetapi bukan itu alasannya.

Perubahan ngetren ini terjadi karena mengikuti tuntutan perkembangan kenyamanan tamu. Bali adalah destinasi internasional, maka memenuhi kebutuhan tamu sebagai bagian dari pelayanan dengan tujuan kepuasan tamu.

Dan hari ini, pertanyaan pertama ketika tamu check in adalah “Password wifi-nya apa?” Menurut ngana…., ini bagian dari tren juga?

 

Penulis: Jeffrey Wibisono V.
Buku: Hotelier Stories Catatan Edan Penuh Teladan

Diterbitkan pertama kali oleh
PT.Percetakan Bali
Denpasar- Bali-Indonesia
Email : Jeffrey@Jeffreywibisono.com

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang.
Dilarang mengutip dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa seijin penulis dan penerbit.
ISBN : 978-602-1672-686

 

Jeffrey Wibisono V.,  @namakubrandku, Hospitality Industry Consultant Indonesia in Bali, Telu Learning Consulting, Copywriter, Jasa Konsultan Hotel