Hello teman-teman foodie dan gastronomi,

SEMPURNA! Penilaian ini yang harus saya sampaikan terlebih dahulu.

Sore ini saya berhasil menikmati Serombotan dan Tum Babi versi old style dari pedagangnya di Jalan Gatot Kaca Denpasar. Perjuangan sekali yaaaaa demi makanan sederhana ini dengan jarak tempuh sekitar 17 kilometer.

Saya mengenal rasa kedua makanan otentik Bali ini di awal tahun 90an, waktu saya mulai kerja dan tinggal di Bali. Pastinya selama ini saya sudah kemana-mana dan selalu mentarget untuk dapat serombotan dimanapun special dish ini berada. Tetapi belum ada yangย  klik dengan memori pengalaman saya pertama kali menikmati Serombotan Klungkung dimasa lalu.

Ssstttt… Ada sih sohib asal Klungkung yang berprofesi sebagai notaris dan tau banget tentang kesukaan saya ini dan beberapa kali khusus membuatkannya untuk saya. Highly appreciate it.

Wokeh… Kali ini si pedagang Serombotan adalah Gus Agung yang berprofesi sebagai Fotografer dan saya disodori dagangannya oleh si kakak Ida Ayu Oka Sunaryanthi. Okaย  sebagai penjamin kualitas dan rasa –ย  awalnya menawarkan madu hutan dari Sumatera – adalah klien saya di jaman saya bekerja sebagai Sales Manager Hotel in-charge untuk account Airlines. Lamaaa sekali ndak pernah ketemu dan thanks to teknologi. We meet up this way, di dalam dunia maya.

๐Ÿ‘

Bagaimana dengan rasa Serombotannya?

Untuk orang Jawa ini adalah mixed urap-urap dan pecel. Tetapi beda juga.

Begini…. Di dalam porsi bungkus yang saya beli, Bumbu Kelapa Bakar yang diparut sudah di-‘keceri’ jeruk sambal/lemo. Jadi ada rasa asam segar wangi jeruk lemo. Kemudian Bumbu Merah yang bahannya adalah cabe rawit bakar sudah dicampur dengan bumbu kacangnya.

Bumbu-bumbu ini yang utama. Persyaratan dari makanan Indonesia. Sambele kudu enak disik. Kemudian ‘seperti food pairing’.

Plusnya lagi saya mengudap rasa pedas yang sopan dan nyaman buat saya. Artinya pedas yang tidak membuat lidah saya kebas,ย  wajah gobyos berkeringat dan menitikkan air mata. ๐Ÿ˜‹๐Ÿ˜‹๐Ÿ˜‹

Kemudian sayurnya adalah sayur-sayuran dengan rasa tawar kecuali pare yang mestinya pahit tetapi bisa diolah menjadi tawar juga.

Di Serombotan old style versi Jl. Gatot Kaca ini, yang saya dapat adalah terong lalapan mentah, kecipir, kacang panjang (original Klungkung dulu pakainya buncis) kecambah, kangkung dan tipat. Untuk pelengkap kriuk nya adalah taburan kacang mentik (tolo) dan kacang tanah goreng.

Detail bahan Serombotan ini banyak bangetzzz, yang ini baru sebagian. Kalau komplit ada kacang undis, jagung goreng, toge yang baru tumbuh, bayam dan beberapa lagi lainnya. Jadi…. teman-teman kalau pengen, beli jadi saja. Praktis dan cukup se porsi dua porsi per orang. Tidak usah buat sendiri. Kecuali kalau hendak hajatan, bikin hidangan buat resepsi, prasmanan.

Untuk dimakan terpisah sebagai lauk, saya juga membeli Tum Babi.

E…eh…. Ini kok ya saya menemukan rasa yang sama seperti pada saat baru belajar mengecap makanan otentik Bali pertama kali.

Selain wanginya daun salam, saya bisa merasakan aroma buah pala on top of bumbu dasar nya yang balance termasuk bawang merah putih, kencur kunyit. Rasa sedap yang cocok buat saya.

.

Teman- teman yang tinggal di area dekat-dekat Tapak Gangsul sana, kalau ada yang belum tau silakan explore. Warung buka dari pk. 10 pagi sampai sore.

Sangunya?

Saya bayar Serombotan +Tipat at Rp 13ribu dan Tum Babi kukus bungkus daun pisang yang dirapikan menjadi model kipas at Rp 2ribu/pc.

Please enjoy your weekend teman-teman. Please share yours yang pastinya akan giving advantage to others.

Cheers

 

Bali, 7 Agustus 2020

Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku

namakubrandku Jeffrey Wibisono V. Makanan Minuman Gastronomi Foodie Kuliner Culinary Food and Beverage Influencer in Bali Indonesia, Blogger Bali Indonesia, Writer

Serombotan Klungkung

namakubrandku Jeffrey Wibisono V. Makanan Minuman Gastronomi Foodie Kuliner Culinary Food and Beverage Influencer in Bali Indonesia, Blogger Bali Indonesia, Writer

Serombotan dan Tum