Pada suatu siang tanggal 7 bulan 7 tahun 2020 puku 13:41, saya mendapat WA text dari perusahaan tempat saya mengikatkan diri sebagai  pekerja freelance/paruh waktu. Isi  beritanya adalah perusahaan tidak bisa membayar gaji lagi with immediate effect dan hanya akan memperhitungkan membayar  komisi saja. Untuk saya momen ini suatu kehilangan besar. Saya kecewa berat, energi positif saya menguap, rasanya kena depresi saat itu juga.

Sehingga meninjau dari kasus yang saya alami sendiri, pastilah saya sangat memahami  pandemi  COVID-19 menstimulasi banyak pekerja yang hidupnya bergantung pada gaji bulanan, kemudian beralih profesi untuk survive – bertahan hidup. Saya percaya teman-teman memberdayakan bakat terpendam dan segala kemampuan mereka menjadi pebisnis UMKM, small business owner, entrepreneur.  Bahkan, teman saya yang bilangnya tidak bisa memasak, saat ini bisa mendapat pemasukan rutin dari usaha kuliner masak-memasaknya, dipaksa keaadan. Selain itu. mereka belajar dan bekerjasama dengan robot sosial media dan gadget secara otodidak. Membuka bisnis independen untuk bisa bertahan memenuhi kebutuhan ekonominya dari suatu kehilangan.

Saya yang sedang mengembangkan diri menjalani pekerjaan transisi kedua juga merasakan kehilangan tersebut. Dari yang pekerja profesional mapan dengan gaji bulanan, lalu memantapkan Telu Hospitality Learning and Consulting. Kemudian bertransformasi membangun bisnis yang notabene menggunakan uang tabungan, ke dasar keilmuan yang sangat spesifik diusia paruh baya.

Tetapi , satu kehilangan tersebut adalah alasan saya untuk bergegas alih fokus ke profesi selanjutnya untuk mendapatkan secure income. Saya menjual dasar keilmuan lain yang saya kuasai, yaitu kemampuan saya menulis baik copywriting maupun storytelling, public speaking dan digital marketing. Apakah ini bisa disebut agility atau highly adaptive? Baiklah saya kutip sedikit tetang deskripsi nya – Agility adalah kemampuan seseorang untuk dapat mengubah arah dengan cepat dan tepat pada waktu bergerak tanpa kehilangan keseimbangan. Tetapi, yang saya alami, saya sempat kehilangan keseimbangan.

Dari memperhatikan keseharian di beberapa tempat kerja saya di masa lalu, banyak di antara teman-teman  yang tenggelam dalam satu bidang saya yang ditekuni. Katanya malas dan pusing kalau mendapat kesempatan dijadwalkan masuk kelas training. “Buang-buang waktu dan bikin kerjaan numpuk, ndak selesai”, begitu kira-kira komen verbalnya. Pada kenyataannya, pada saat ini, skill apapun yang kita kuasai bisa digantikan oleh gadget, sampai ke daya ingat bisa kita alihkan memorinya ke komputer yang harganya dari ratusan ribu rupiah sampai puluhan juta juga. Inilah fakta kekinian. Perjalanan hidup dinamis. Yang kita anggap kemampuan dari diri kita bisa berbalik melemahkan kita sendiri.

Contoh terbaik tentunya adalah kejadian sepanjang tahun 2020 yang baru berlalu. Pandemi COVID-19 nya memasuki episode baru di 2021. Banyak dari kita kehilangan pekerjaan, terkena efisiensi.

Tentunya banyak yang masuk fase bingung doang mencari pekerjaan karena kita hanya menguasai satu skill. Teman-teman dengan nilai outstanding entah lupa atau lengah atau nyaman, tidak mau menambah pelajaran mengenai  hal-hal lain di luar bidang keilmuannya.

Pertanyaan klasik pada saat susah adalah “Mengapa gak buka usaha sendiri?”

Well …. ternata membuka usaha sendiri juga perlu kemampuan keuangan untuk modal awal, marketing yang sekarang didigitalisasi, komunitas …dll. Banyak sekali bidang diluar yang kita tekuni sepanjang berkarir selama ini. Belum terlambat!

Saya rajin membaca postingan seorang teman yang mau meng-expose explorasi dan pencapaiannya di media sosial. Sesorang yang dinamis terus bergerak. Kemauannya adalah membuka diri, belajar terus, menghargai orang lain, membangun jaringan dan komunitas. Teman ini adalah salah satu yang  berhasil membuktikan dirinya mampu mempelajari beberapa bidang keahlian, di luar bidang yang tadinya dijalani selama berkarir di industri perhotelan. Inilah yang  agility yang secara fakta.

Saya sendiri mendapat momentum di bulan Oktober 2020 untuk berkolaborasi dengan Suzana Widiastuti, seorang Digital Maker. Kami bergabung membuka kelas seri workshop untuk masyarakat yang berminat mengembangkan diri dibidang digital marketing. Sepakat, kami  berdua menggunakan branding dengan label DIGIMAKz.

Artificial Intelligence dengan implementasi pe-robotan-nya sudah membuktikan bahwa komputer sudah bisa menggantikan pekerjaan-pekerjaan yang repetitif, operator telepon, customer service, receptionist hotel,  teller bank, sopir mobil, pembaca berita TV dan banyak lagi yang secara tidak sadar kita donlot dari apps di ponsel kita. Setiap hari semakin merajalela.

Bagaimana mengatasi semua hal tersebut untuk masa depan kita. Pastinya kita tidak bisa terus menerus antipati dan bisa mengeluarkan komentar negatif sesuai logika kita. Untuk saya sendiri, tindakan penyelamatan terhadap diri sendiri adalah mempelajari banyak hal baru. Selain yang sudah robotisasi, saya harus menemukan apa saja yang belum bisa digantikan oleh komputer atau robot. Salah satunya adalah kreatifitas menulis yang bisa kemudian menghasilkan uang dari bekerjasama dengan robot. Sering kali saya menjadi orang paling bodoh dibanyak bidang yang baru pertama kali saya pelajari.

Apakah kemudian saya sudah sukses secara finansial?

Tentunya belum! Saya masihberjuang dengan metode sharing, caring, learning.

Sebagai penutup, apakah sudah terpikir hal baru apa yang anda dan saya pelajari tahun 2021?

Perlu saya ingatkan bahwa banyak orang yang hanya fokus terhadap satu skill dengan tameng jadilah yang terbaik dibidangnya. Tetapi, seperti kejadian emergency pandemi yang kita alami hampir satu tahun ini, kita bisa berada dalam bahaya karena skill yang kita miliki tidak relevan lagi dengan situasi kekinian. Maka inilah momentum yang menumbuhkan kesadaran kita semua, bahwa adalah sangat berguna untuk membiasakan diri belajar sesuatu yang baru setiap ada kesempatan. Masuk ke kelas training dan workshop juga beragam seminar.

Kalau kita hanya mempunyai satu skill saja, kemungkinan besar bisa saja tidak relevan lagi dalam beberapa tahun ke depan, termasuk berbagai sertifikat pendukung yang telah kita kumpulkan. Kemampuan belajar hal yang baru akan menyelamatkan kita di masa depan!

Jangan membatasi dan memagari diri sendiri untuk mengembangan diri sendiri demi kepentingan yang lebih besar, terutama untuk keluarga. Maka mari kita selalu meningkatkan keahlian dan kemampuan, kemudian menurunkannya lagi  kepada lingkungan sekitar dan generasi di bawah kita.

Semoga bermanfaat ….

 

Bali, 3 Januari 2021

Jeffrey Wibisono V.  namakubrandku

Hospitality Consultant Indonesia in Bali –  Telu Learning Consulting – Digimakz Digital Marketing – Copywriter – Jasa Konsultan Hotel