Malam itu, seperti ada euforia di jalan raya arah jalan saya pulang. Bunderan Sri Gunting begitu semrawutnya. Lalu lintas padat tidak terkendali. Lewat kaca spion, saya melihat satu sepeda motor merangsek maju tidak terkendali tepat di belakang mobil saya. Kemudian terdengar suara “kreeeekkk”. Astaga! Sepeda motor itu menempel nyangkut di bagian belakang sebelah kiri mobil saya. Seolah tidak peduli dan tak bersalah, dengan cepat pengendara sepeda motor itu berhasil lolos kemudian melaju menerobos lalu lintas yang padat semrawut.

Saya menyumpah dalam hati. Masih tertahan di dalam mobil, saya berjuang mengarahkan mobil penuh strategi masuk ke jalan tol dengan susah payah. Mobil serasa maju sangat pelan, satu sentimeter per satu sentimeter. Saya tentu ingin sekali melihat kerusakan bagian belakang mobil habis ditabrak pengendara sepeda motor tadi, tapi tidak mungkin pula saya berhenti dan turun.

Dengan sedikit sumpah serapah, ngedumel dalam hati kesal dengan pengendara sepeda motor tadi, saya teringat artikel yang pernah saya baca tentang semerawutnya lalu lintas di Bali, bahkan di jalan tol sekalipun. Berita dengan judul “Jalan Tol Bali Mandara Ramai, Bypass Ngurah Rai Tetap Macet” (REPUBLIKA. CO.ID, DENPASAR, Selasa, 24 September 2013).

“Jalan Tol Bali Mandara yang menghubungkan Nusa Dua-Bandara Ngurah Rai-Benoa, mulai dibuka untuk umum Selasa (24/9/2013). Di pintu jalan Tol Bali Mandara sejak Selasa, Pukul 07.00 WITA mulai dipadati pengguna jalan tol. Terutama untuk pintu masuk untuk sepeda motor, baik di gerbang Nusa Dua, gerbang Benoa maupun gerbang Bandara Ngurah Rai, antreannya lumayan panjang. Berdasarkan pemantauan Republika, kendaraan yang melintas di jalan tol sepanjang 12,7 kilometer itu cukup banyak, terutama pada jam masuk atau pulang kantor. Saking banyaknya kendaraan yang masuk dan keluar, di mulut jalan terjadi antrean yang cukup panjang. Meski begitu, hari pertama beroperasinya jalan tol tersebut tak membuat kelancaran arus lalu lintas di jalan By Pass Ngurah Rai. Jalan yang sebelumnya menjadi satu-satunya akses ke kawasan Nusa Dua itu, masih tetap diwarnai kemacetan.

Kemacetan juga terjadi dari arah Denpasar mulai dari persimpangan Patung Dewa Ruci hingga Bundaran Patung Ngurah Rai Tuban, sedangkan dari Nusa Dua, mulai dari persimpangan Kampus Unud Jimbaran, hingga Bundaran Patung Ngurah Rai.”

Yang diberitakan oleh media itu benar adanya. Berlaku sampai saat ini. Saya adalah bagian dari yang diberitakan dari malam Selasa tanggal 23 September 2013 itu. Saya merasakan manfaat jalan tol Bali Mandara ini. Tiap hari saya berangkat pulang melaluinya. Punya emoney toll card pula. Berpikir praktis saja dalam hal ini. Mengurangi masa tempuh dibandingkan apabila melalui jalan by pass dengan beberapa lampu merahnya yang bisa menghambat perjalanan berangkat dan pulang kerja. Selain itu, dengan jalan bebas hambatan, saya juga mengurangi resiko di jalan raya yang kepadatannya dan kesemrawutannya sering tidak terduga.

Cukup berjuang di Bunderan Sri Gunting saja untuk melaju masuk jalan tol, tidak perlu diperparah harus menambah capai lagi untuk lewat jalan by pass Ngurah Rai sesuai rute jalan saya. Tentunya, keputusan ini ada tambahan biayanya. Sekali masuk Rp 11.000, tarif yang berlaku saat ini. Yaaa…, mengurangi uang jajan saya lah.

Sehingga sampai malam ini, Sabtu 21 Mei 2016, di bulan purnama yang juga hari Raya Waisak, saya masih harus ada di sana. Bunderan Sri Gunting itu masih tetap semrawut, macet tidak karu-karuan. Benar-benar bunderan dengan jalur distribusi lalu lintas saling menggunting tidak jelas.

Hahahahha… iya… iya…. Pastinya nama Bunderan Sri Gunting ini tidak akan ketemu di google map dan foursquare mau pun swarm. Sri Gunting itu hanya saya yang menyebutnya begitu. Itu bukan nama resmi.

Bunderan ini sangat luar biasa. Tidak mungkin bisa dipasangi lampu lalu lintas juga rambu-rambu. Dari segala destinasi yang pernah saya kunjungi, hanya di Bali yang punya sistem jalan menggunting. Ini sangat kasat mata di bunderan keluar tol arah bandara, juga di underpass simpang-siur simpang Dewa Ruci.

Begitu keluar tol arah bandara, perpecahan distribusinya adalah melipir ke kiri menuju ke Selatan arah Nusa Dua. Kemudian untuk keluar menuju bandara ambil jalur kanan, menggunting semua kendaraan yang masuk dari by pass, sebelah kanan atau arah utara. Satu lagi, untuk keluar tol kemudian mengarah masuk ke by pass Ngurah Rai arah simpang siur Dewa Ruci, menggunting lagi ke sebelah kiri memotong semua laju kendaraan yang datang dari arah Selatan atau Jimbaran.

Cocok dah untuk yang baru belajar naik kendaraan. Bisa langsung mahir latihan di sini. Atau sebaliknya, Anda sekalian putus asa tidak mau belajar nyetir lagi karena trauma.

Jadi, sudah tepat bukan saya beri nama Sri Gunting?

Berbicara tentang lalu lintas di Bali, saya adalah saksi sejarah perkembangan jalan raya di Bali dari tahun 1990 hingga sekarang. Sungguh tidak pernah terbayangkan. Pastinya saya menjalani keseharian di Kuta, Nusa Dua, dan Denpasar. Di tahun 90-an perjalanan dari Denpasar ke Kuta yang jaraknya 10 km dari Kuta, tempat kerja saya, waktu tempuhnya hanya 15–30 menit saja. Ini sampai tahun 1997. Setelah Tahun 1997, jalanan mulai memadat.

Taxi dengan argometer baru mulai masuk Bali di pertengahan tahun 1995. Sebelumnya, saya cukup bahagia dengan jalan kaki. Kendaraan umum disebut blue thunder dan harus naik dari terminal sementara yang disebut penambangan. Untuk rekreasi jalan-jalan keliling Bali, bolehlah sewa mobil, nyetir sendiri dan hitungannya per 24 jam.

Jadi, inilah bukti perkembangan pembangunan dan peningkatan taraf hidup di Bali. Semua orang serasa mampu punya kendaraan. Baik itu motor ataupun mobil. Setiap waktu sekarang semua kendaraan tumpah ruah di jalan raya. Kata-kata maceeeeettttt…. sudah membuat kebal yang mendengarnya. Jadi, berangkatlah lebih awal kalau tidak mau terlambat. Lebih banyak waktu terbuang di jalan raya.

Kasihan wisatawan yang datang tujuannya berlibur ke Bali begitu keluar dari bandara sudah berada di tengah kemacetan dan kesemrawutan. Bali yang dibayangkan mistis dan mengesankan, seketika berubah menyebalkan. Membuat liburan diawali dengan menjadi stress di jalan.

Setelah lebih dari satu jam di jalan, sampailah saya di rumah. Begitu keluar dari mobil, langsung mengecek bagian belakang mobil yang ditabrak pengendara sepeda motor tadi. Seketika terbayanglah uang saya bakal melayang untuk mengganti spare part. Lampu bagian kiri berlubang. Sepertinya stang motor sempat masuk, nyangkut body lampu.

Mendapat pengalaman tidak menyenangkan akibat semrawutnya lalu lintas di Bali ini, saya jadi teringat keluhan seorang wisatawan perempuan manula berasal dari Jerman yang saya temui di lobi hotel, sehari sebelumnya. Dia bilang,“I never imagine Bali is so big”, dan memerlukan waktu lebih dari dua jam untuk pindah menginap dari Ubud ke Kuta karena kepadatan lalu lintas selama perjalanan. Padahal, sampai awal tahun 2000-an, waktu tempuh dari Kuta ke Ubud masih bisa 40 menit saja.

Tadi juga, karena tidak berhasil masuk tol, saya langsung melipir ke jalur paling kiri, lepas dari kesemrawutan macet itu mengarah ke Jimbaran. Lolos…

Nah, ngomong-ngomong, kalau Anda ke Bali jangan lupa lewati Bunderan Sri gunting. Mari saling menggunting.

 

Penulis: Jeffrey Wibisono V.
Buku: Hotelier Stories Catatan Edan Penuh Teladan

Diterbitkan pertama kali oleh
PT.Percetakan Bali
Denpasar- Bali-Indonesia
Email : Jeffrey@Jeffreywibisono.com

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang.
Dilarang mengutip dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa seijin penulis dan penerbit.
ISBN : 978-602-1672-686