Pada Maret 2016, saya melakukan perjalanan dengan masa tempuh yang mungkin membuat orang lain berpikir sekali lagi untuk menjalaninya. Bagaimana tidak, saya harus keluar masuk empat bandara hanya untuk satu destinasi. Tidak apa-apa, rapopo, kata saya. Karena kali ini adalah perjalanan liburan. Saya perlu sensasinya setelah sekian lama tidak berliburan ke luar negeri. Terakhir kali, tiga tahun lalu saya melakukan perjalanan dinas yang relatif cukup dekat, hanya Sydney, Australia, dengan masa tempuh enam jam dari bandara Ngurah Rai, Bali. Direct flight. Ngak ribet!

Baiklah. Destinasi liburan pilihan saya kali ini adalah London, Inggris. Saya sudah membeli tiket maskapai penerbangan nasional milik Hongkong yaitu Cathay Pacific. Tiket saya beli dengan harga promosi pada bulan November di tahun sebelumnya. Tahu dong artinya?  Yaitu saya harus mendarat di Hongkong bolak-balik karena Cathay Pacific sebagai destinasi utama perusahaan penerbangan itu. Perjalanan memutar yang dengan masa tempuh lebih lama dibandingkan kalau berangkat langsung dari Jakarta menuju London yang hanya 10 jam. Kalau harus lewat Hongkong menjadi ditambah 6 jam. Yang detailnya Jakarta – Hongkong 6 jam ditambah Hongkong – London 10 jam. Wow… 16 jam di dalam pesawat. Kalau ndak bisa tidur selama penerbangan bisa mati gaya nih.

Maka perjalanan pun saya atur sesantai mungkin dan senyaman mungkin. Liburan, gitu loh…! Denpasar ke Jakarta, saya menggunakan pesawat perusahaan penerbangan nasional kita. Sampai di Jakarta petang hari pukul tujuh. Saya minta dijemput oleh kendaraan hotel di mana saya memutuskan untuk menginap kurang dari semalam. Yang penting saya bisa tidur nyenyak dulu. Hotelnya bintang 4, dekat-dekat bandara saja. Pagi pukul tiga dini hari saya minta lagi pengantaran ke bandara menggunakan mobil hotel. Inilah kenyamanan yang saya rencanakan. Daripada saya ribet memulai liburan dengan mengantre taksi bandara yang jelas-jelas pernah menelantarkan dan menyasarkan saya, lebih baik saya main aman. Semua ada biayanya, tetapi “feeling good” yang saya butuhkan saat ini.

Setelah menginap semalam di Jakarta. Sekali lagi saya harus melakukan proses pengecekan barang bawaan dan bagasi di airport. Sepertinya ada aturan baru di Bandara Soeta keberangkatan Internasional ini. Koper saya ditempeli alat pendeteksi, tepat di lubang kunci gemboknya. Ah entahlah! Mari dibantu diperlancar saja. Tiba di counter check-in, petugas ticketing di counter memulai dengan pertanyaan standard bla… bla… Lalu pertanyaan, “Apakah ada barang berharga di dalam bagasi? Ada power bank?” Saya jawab, “Tidak ada, Mbak”. Sang mbak tersenyum manis.

Sementara itu di counter sebelah, teman seperjalanan saya ke London ditanyai juga oleh petugas counter check-in. Pertanyaan yang sama, hingga sampai kepada pertanyaan, “Ada power bank dalam koper? “Sudah-sudah. Sudah ndak ada semua itu, Mbak,” jawab teman saya dengan judes. “Power banknya sudah saya telan,” lanjutnya sambil kemudian tertawa lebar. Nampak roman muka petugas counter check–in itu tidak ramah lagi. Saya lalu berpikir, “Wah, kalau saya yang jadi mbak di counter checkin ini pasti saya sudah memerlukan Bach Rescue Remedy untuk mengurangi stress menghadapi tingkah laku para traveler. Jadi bukan hanya para long distance traveler yang memerlukan Bach Rescue Remedy, tapi para petugas counter checkin juga.

Saya sudah terbiasa melihat teman-teman, para traveler mengandalkan Bach Rescue Remedy untuk mengurangi stress dan hassle selama perjalanan. Kok mau liburan aja sudah stress ya? Wadoh…

 Mengapa akhir-akhir ini kita mudah stress ketika traveling?

Tak bisa dipungkiri bahwa kondisi lalu lintas penerbangan di seluruh dunia telah berubah karena tuntutan zaman. Juga, dan terutama, untuk faktor keamanan. Karenanya salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah barang bawaan. Kalau bisa sepraktis mungkin. Hassle dalam traveling saat ini membuat saya lebih praktis dalam soal barang bawaan ketika liburan. Saya biasa membawa satu ransel sebagai tas tangan yang bisa ditenteng sampai masuk kabin. Isinya segala rupa keperluan pribadi seperti obat pusing, lotion bibir, dompet berisi uang, serta dokumen. Kemudian untuk dimasukkan ke bagasi adalah satu koper yang isinya setelan baju dan segala rupa yang bisa dipakai nanti-nanti.

Ketika akan masuk ke dalam ruang terminal bandara, bawaan kita termasuk jaket akan dilewatkan melalui mesin scanner. Lalu kita masuk melewati detektor berhadapan dengan petugas keamanan yang siap menghadang dengan alat yang disebut WTMD: Walk Through Metal Detector. Jika ada suara alarm berbunyi, maka kita akan diperiksa lebih lanjut secara manual menggunakan Handheld Metal Detector.

Tidak sedikit traveler yang harus antre untuk diperiksa ulang mungkin saja karena memakai terlalu banyak asesoris atau membawa handphone di tangannya.

Kejadian anomali yang begini-begini ini yang memperlambat antrean dan seringkali membuat antrean menjadi semakin panjang dan lama. Ujung-ujungnya bikin kesal penumpang lainnya. Sepertinya juga bukan karena “wong ndeso” kejadian-kejadian yang saya sebut anomali ini. Banyak di antaranya orang-orang yang masuk bandara seperti pohon natal bling bling dengan segala macam perhiasan dari kepala sampai alas kakinya. Buat saya ini sudah lebih kepada attitude, tingkah laku, budi pekerti yang tidak peduli dengan kepentingan orang lain.

Setelah peristiwa 11 September, pengeboman menara kembar WTC New York Amerika, saya merasakan perubahan aturan di bandara. Dari akhir tahun 2001, semua bandara menjadi seperti paranoid. Sangat ketat, tetapi terkadang menjadi seperti robotic yang tidak pakai logika. Contohnya, Handheld Metal Detector yang biasanya untuk mengecek tas diarahkan di luarnya saja, malah didekatkan ke arah asesori metalnya, ya iyalah bunyi… ngeekkk … ngeeekkkk. Terus apa tindakanannya? Membuka tas? No! Tidak! Petugas hanya tersenyum mesem dan mempersilakan pembawa tas melanjutkan perjalanan.

 Kejadian dengan saya sendiri; itu si metal detector didekatkan ke retsleting celana jeans saya, ya bunyi lah… wong bahannya metal juga. Lantas harus membuka retsletingnya di situ dan mengeluarkan isinya di depan petugas?

Inilah kejadian-kejadian yang sering membuat saya apatis dengan kompetensi petugas keamanan bandara kita di masa revolusi traveling ini.

Sebetulnya, barang-barang yang dilarang ada di tas tangan mau pun di bagasi bisa dicek di website Kementerian Perhubungan untuk bagian Perhubungan Udara. Paham, sebagian daftar barang yang disebut mungkin agak janggal. Kita yang tahu pasti ngoceh “ngapain juga bawa begituan”. Tetapi pada kenyataannya masih sering dijumpai calon penumpang dengan kehebohannya membawa barang-barang tersebut.

Daftar barang larangan juga terpampang di counter check-in bandara termasuk dilengkapi gambar-gambar bagi yang masih buta huruf, antara lain:

  • Senjata Api tanpa terkecuali. Baik itu komponennya, tiruannya, atau barang-barang yang memang dimaksudkan sebagai senjata (senapan angin, tombak, dll).
  • Perangkat yang dirancang untuk melumpuhkan atau membuat pingsan, seperti alat setrum, bahan kimia, gas air mata, dll.
  • Objek dengan ujung atau sisi yang tajam yang bisa mengakibatkan cedera serius, seperti silet, pisau cutter, gunting, pembuka tutup botol, dll).
  • Alat kerja yang dapat digunakan dan menyebabkan cedera serius atau mengancam keamanan pesawat, seperti kapak, cangkul, bor, gergaji, dll.
  • Alat tumpul yang dapat menyebabkan cedera serius ketika digunakan untuk memukul, seperti tongkat hoki, golf, peralatan seni bela diri, pemukul baseball, dll.
  • Bahan peledak, zat pembakar dan bahan zat lainnya yang mampu membahayakan keamanan, seperti dinamit, petasan, kembang api, mesiu, dll.

Cukup sudah cerita hassle perjalanan masa kini. Lalu bagaimana sih kisah traveling tahun 90an? Ribet juga nggak sih? Stress nggak, sih?

Saya ingin mengajak Anda menoleh jauh ke belakang sedikit ya. Kisah traveling di tahun 1990an. Pada waktu saya mulai traveling sendirian ke luar negeri dan di dalam negeri pada tahun 1990, begitu mudahnya naik pesawat. Tidak ada pemeriksaan ini-itu. Di tas tangan, saya masih bisa membawa pemotong kuku, kotak stationery yang isinya gunting lipet, juga cutter selain alat tulis. Bebas-bebas saja. Termasuk parfum botol besar, body lotion, dan entahlah ada cairan apalagi. Saya merasa nyaman. No hassle.

Pada masa itu traveling nyaris bisa dikatakan “hassle free”, kecuali bila kita bepergian ke negara yang satu ini. Negara manakah itu? Hayo tebak. Amerika? Jerman yang petugas imigrasinya kadang seperti tentara NAZI? Bukan, bukan. Negara yang membuat saya stress itu adalah RUSIA. Stressnya tidak saja pada saat kita mendarat, tapi juga pada saat kita meninggalkan negara itu. Sama saja repotnya. Biasanya untuk mengurangi stress saya, sebelum departure dari airport Moscow saya akan menelan melatonin dalam perjalanan menuju airport yang urusan bea cukai dll-nya paling ribet di dunia ini. Sepertinya hassle-nya abadi.

Pertama kali saya melakukan perjalanan sales call ke Rusia di tahun 1998. Sejak itu saya setiap tahun mengunjungi Moscow. Totalnya tujuh (7) kali. Datang setiap bulan Maret/ April untuk bursa pariwisata dengan judul MITT Moscow dan di bulan September/ Oktober untuk yang judulnya Otdykh Leisure.

Ada dua airport utama di Moscow. Tergantung maskapai penerbangan mana yang kita gunakan. Dua-duanya sama ribetnya.

Untuk melalui Imigrasi dan Bea Cukai di Sheremetyevo International Airport (SVO) dan Moscow Domodedovo Airport (DME) sama saja aturan mainnya. Iya, ada dua bandara, kalau penerbangan internasional Aeroflot milik Federasi Rusia yang saya tumpangi berangkat dari Jakarta si Aeroflot, saya mendaratnya di SVO.

Ketika saya pertama kali masuk Moscow di 1998, saya ini masih buta huruf. Tulisan bahasa Rusia ini bukanlah hal yang mudah untuk dibaca. Di tambah lagi belum zaman informasi teknologi seperti sekarang ini yang segala sesuatu informasi lengkapnya bisa didapat dalam hitungan detik. Ketika saya masuk Moscow untuk pertama kalinya ya saya ikut prosedur saja. Kurang lebih seperti kedatangan di airport-airport lain di dunia. Segala form yang diberikan diisi. Tidak ada panduan resmi. Selesai melalui imigrasi giliran ambil bagasi sambil mempersiapkan formulir yang harus minta stempel. Saya yang mengunjungi Rusia untuk melakukan business trip tentunya datang dengan bagasi berisi barang-barang cetakan. Lalu ada juga brosur dan titipan majalah-majalah dari Bali untuk didistribusikan selama bursa pariwisata. Misi nasionalisme, promosi destinasi.

Nah di sinilah drama terjadi. Stress deh pokoknya. Ketika melintasi petugas bea cukai, sang petugas melihat kardus di trolley saya. Wajahnya terlihat sangat berbahagia, lalu dia menyetop saya dan berkata, “Sto dollar!” Waduh… apa nih kok jadi disuruh bayar 100 dollar, pikir saya. Orang lagi cape turun pesawat dan rasanya nyawa belum komplit kok langsung mau dipalak sih? Kemudian saya mengerti, bahwa saya harus membayar 100 dollar tanpa kuitansi untuk material promosi titipan itu. “Lah… ini gua mau di pungli yach,” begitu yang ada di kepala saya. Kami lalu berdebat panjang. Hingga akhirnya saya katakan pada petugas bea cukai itu, “Sudahlah barang ini saya tinggal di sini saja, buat kamu deh.”

Sang petugas dengan wajah dinginnya tetap mengatakan “sto dollar”.

Wadoh… bagaimana ini?

Tidak hilang akal, selanjutnya saya mengatakan, “Saya ini terbang di kelas bisnis lho ya, jadi bagasi saya boleh 30 kg.” Eh… sang petugas bea cukai itu malah menjawab, “Di udara bagasi kamu boleh 30 kg. Tapi di darat sini jatah berat bagasi kamu cuma 20 kg.”

Saya tambah bingung.

“Bayar sto dollar,” katanya kekeh kepada saya.

Tolooonggggg…… kalau saya bisa teriak. Ini sto dollar tanpa receipt, ntar saya balik ke kantor membuat laporan keuangan kan tidak diganti oleh perusahaan. Ini ironi menjalankan tugas jalan ke luar negeri yang membuat rekan kerja lain iri, tapi malah tekor. Gimana nih bayar kost?!

Saya berkeras tidak mau membayar sto dollar itu sampai akhirnya sang petugas bea cukai menjadi pusat perhatian dan merelakan kardus saya bawa tanpa membayar sto dollar.

Pengalaman keluar masuk Moscow telah mengajarkan saya untuk menyimpan baik-baik semua formulir declare ketika memasuki Moscow. Karena formulir itu akan diperlukan pada saat departure.

Pada saat kedatangan, semua mata uang dan nilai nominalnya silakan ditulis. Termasuk barang bawaan seperti kamera, gelang emas dan kalau perlu gigi emas pun yang hendak dibawa keluar lagi dari Moscow.

Pada saat masuk bea cukai tidak memeriksa secara detail yang ditulis, cukup ditunjukkan sekilas. Sebaliknya pada saat departure, mereka akan memeriksa Anda lebih teliti. Koper dibuka, uang yang ditulis di formulir declare dihitung, dompet dibuka. Aturannya visitors tidak diperbolehkan membawa keluar mata uang Rusia. Kemudian uang tunai yang ditulis jumlahnya harus berkurang. Kalau uangnya bertambah, bisa disita karena dibilang berbisnis. Itu dilarang. Kalau total nominal yang dibawa masuk jumlahnya tetap, sekali lagi ini akan dipermasalahkan. Kita akan ditanya, “Bagaimana Anda hidup di Moscow tanpa membelanjakan uang sama sekali?” Bila dijawab, “Saya menggunakan credit card”, maka sang petugas bea cukai akan cepat menjawab, “Impossible, di Moscow ini banyak yang harus dibayar dengan menggunakan uang tunai. Contohnya banyak restaurant, makanan jalanan, transportasi taxi dan underground train. Sama sekali tidak bisa dibayar dengan credit card.”

Jadi, uang tunai kita harus berkurang. Aduh… aduh… ribetnya ya.

Pengalaman lain yang tidak akan pernah bisa saya lupakan adalah ketika caviar saya dicegat oleh petugas bea cukai. Sekali lagi saya kena cegat karena sebelum pemeriksaan bea cukai saya membeli oleh-oleh caviar di pot-pot gelas seberat 70 gram dan membeli 10 pot. Waduh, sekali lagi saya mendapat pengalaman dikeroyok oleh petugas bea cukai. Mereka menyerbu saya dan berkata, “Kastem kas… kastem kas! 250 gram, YES. 10 pot, NO!” Wah, ternyata kali ini saya hendak dipungli lagi. Akhirnya saya buang saja caviar-caviar pesanan itu ke tong sampah daripada saya dipungli lagi.

Dari pengalaman hassle sejak pertama kali kedatangan dan keberangkatan di Moscow, maka pada perjalanan selanjutnya saya selalu siap dengan Bioglan Melatonin herbal produk Australia. Melatonin ini biasanya saya minum 5 butir untuk tidur nyenyak di pesawat yang jarak tempuhnya 10 jam. Dan minum satu butir lagi satu jam sebelum mendarat di bandara SVO supaya tidak stress dengan segala urusan imigrasi, bea cukai.

Itulah pengalaman saya mengunjungi Rusia.

Dan setelah peristiwa 11 September 2001, paranoia melanda seluruh dunia. Traveling dan liburan menjadi lebih hassle dari sebelumnya. Ditambah lagi setelah kejadian bom Bali 2002.

Pernah pada suatu masa saya menyetop diri saya untuk tidak melakukan perjalanan dengan pesawat terbang ke mana pun. Yakni di tahun 2007 sampai 2010. Saya sudah merasa cukup. Ikut-ikutan sakit jiwa rasanya dengan proses yang mencekam serta melelahkan.

Tetapi, ternyata panggilan tugas menanti, saya harus melakukan perjalanan dinas lagi. Yang saya lakukan kemudian adalah “light traveling”. Yang praktis saja, biar bebas dari segala pengecekan. Sampai pakai setelan baju untuk traveling pun se-simple mungkin. Tidak usah tampil gaya-gayaan, terlebih penuh asesori. Saya tidak perlu lagi mengenakan sabuk dan jam tangan. Jam kan sudah bisa dilihat dari handphone. Termasuk tidak perlu membawa laptop ataupun tab. Cukup perangkat kecil multi fungsi alat komunikasi android untuk menjelajah dunia sekali lagi. Begitulah saya kira, bagaimana revolusi traveling telah terjadi.

Terkini awal tahun 2021 dan sudah bisa kita pastikan bahwa kita akan menjalani tata cara baru traveling sejak pandemi COVID-19 mendunia di awal tahun 2020. Peraturan apalagi yang harus kita jalani dikemudian hari untuk persiapan traveling kita selain PCR – Swab Test, Rapid Test Antigen dan Vaksinasi setelah seluruh dunia membuka kembali perbatasannya?

Yang pasti passport saya telah habis masa berlakunya pada 12 Oktober 2020 dan belum saatnya untuk membuat yang baru. Let us wait and see sampai saatnya tiba.

 

Penulis: Jeffrey Wibisono V.
Buku: Hotelier Stories Catatan Edan Penuh Teladan

Diterbitkan pertama kali oleh
PT.Percetakan Bali
Denpasar- Bali-Indonesia
Email : Jeffrey@Jeffreywibisono.com

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang.
Dilarang mengutip dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa seijin penulis dan penerbit.
ISBN : 978-602-1672-686