Ceritanya adalah….

Sepulang dari kondangan, saya punya keperluan mampir di salah satu Convenience Store untuk bertransaksi  menggunakan ATM yang terletak di dalamnya. Convenience Store ini adalah jaringan lokal Bali. Setelah selesai ber-ATM, sekalian saya membeli barang yang saya mau.

Sesampai di kasir rupanya sedang ada peralihan shift dan saya satu-satunya yang sedang melakukan transaksi pembayaran. Tiga item barang, total Rp. 49.900 rupiah.

Maka kesempatan sedang sendirian ini saya gunakan untuk berkomunikasi.

Saya bilang “ya sudah ini Rp. 50.000 saja, yang Rp. 100 untuk cover tekor kemarin”.

Si Mas-kasir tersenyum

Dan saya melanjutkan “Ummm…. tetapi apakah kalian memang pernah tekor

Mas-kasir Langsung menjawab “sering pak

Saya: “Apakah faktor tekor kalian? Apakah karena salah PLU, salah input atau salah menghitung uang?”

Kali ini ada Mbak-kasir yang sudah ada tulisan Closed di depannya menyahut “karena uang pecahan kembalian pak?”

Dilanjutkan oleh Mas-Kasir: “Iya pak kami sering harus memberikan kembalian lebih karena tidak tersedianya uang receh. Apalagi ibu-ibu, Rp 100 itu ditungguin bener”

Lanjutnya “Ibu-ibu itu bilang kan kalau saya kurang Rp 100 barang juga tidak boleh saya beli, maka saya juga minta kembalian Rp. 100 saya, jadi saya sering menyerahkan kembalin lebih dari yang seharusnya. Tekor yang sengaja pak, karena saya ndak enak ditagih oleh pembeli.”

Saya pun bertanya lagi,  “Loh.. kalian kan punya tim akunting yang tugasnya menyediakan pecahan uang kecil untuk kasir?”

Kali ini si Mbak-kasir menimpali “Iya pak Cuma hari Senin. Jadi kami sering nyari uang receh sendiri, kadang sampai ke tempat jual bensin segala”

Mak-deg saya, hati berdesir, ternyata para kasir ini sangat membutuhkan bantuan kita untuk membayar dengan uang receh juga. Secara uang receh kembalian saya kumpulkan di rumah dengan rapi. Seperti menjadi koleksi dan dekorasi ruang. Malah saya sengaja kalau belanja hanya membawa uang kertas. Males bawa berat-berat dan berisik juga.

TERNYATA, kebiasaan saya ini merugikan para kasir yang menerima upah minimum pokok bulan dengan potongan tekor. Bukannya malah menerima upah pokok bulanan dalam jumlah yang utuh atau dengan tambahan.

Maka saya sudah memutuskan mulai besok, saya akan membawa beberapa keping uang receh dengan pecahan terkecil untuk membayar belanjaan.

Pasti teman-teman, kerabat, saudara, handai taulan, rekan kerja dan Anda semuanya berkenan untuk melakukan aksi yang sama. MEMBAYAR DENGAN UANG RECEH dimana perlu.

 

Bali, 2 Desember 2019

Jeffrey Wibisono V.

 

koleksi uang logam Rupiah Indonesia