Gini loh bro ….

Pertama-tama saya mohon ijin untuk men-copas terlebih dahulu satu statement yang dimuat di traveltext ini.

“Pariwisata kita terbangun atas kearifan masyarakat dan budaya lokal pada tiap destinasinya, sehingga menjadi daya tarik yang luar biasa bagi wisatawan. Ada keramah-tamahan khas yang dirasakan para wisatawan dengan berbagai latar kultur dan agama,” kata Wishnutama.

 

Lalu …..

Saya hendak membandingkan dengan Jepang yang  mengharapkan 40juta wisatawan mancanegara (wisman) masuk pada tahun 2020. Momennya juga tepat karena pada bulan Juli – Agustus, Jepang menjadi tuan rumah olimpiade musim panas.

Lantas apa yang ditawarkan oleh Jepang?

“Saat ini kami juga melayani wisman dengan teknologi inovatif, pengalaman pengguna yang ringkas, serta penawaran objek wisata lokal yang beragam yang disesuaikan menurut setiap pasar di kawasan Asia Tenggara yang beraneka ragam, hadir dengan bahasa-bahasa setempat, sejumlah metode pembayaran dan mata uang lokal. Dengan berkembangnya kalangan FIT dan generasi milenial yang terus mencari aktivitas baru, Asia Tenggara tetap menjadi salah satu fokus kami untuk ekspansi pariwisata secara berkelanjutan,” kata Satoshi Seino.

 

Saya menggaris bawahi Teknologi Inovatif.

Lalu apakah ini artinya Jepang menggantikan Customer Servicenya dengan Robot?

Ya, Jepang sangat terkenal dan salah satu yang pertama di dunia dengan teknologi robotik nya. Tetapi……

Ternyata orang Jepang melakukan teamwork dengan robotnya. Peran manusia tidak tergantikan dan robot untuk membantu memberikan kenyamanan lebih dan lebih untuk layanan publik.

Perlu kita sadari, Jepang memiliki integritas customer service yang dipelajari oleh marketer dari seluruh dunia. Filosofi layanan ini terminologinya adalah omotenashi. Roh dari customer service ini asal muasalnya adalah implementasi dari “Ichigo Ichi-e”, yang mempunyai makna “saya sangat bersyukur dapat bertemu dengan anda. Karena itu, saya akan melakukan hal yang terbaik saat ini kalau-kalau kita tidak dapat bertemu kembali”.

Ini seperti harus memenuhi permintaan terakhir seseorang sebelum ajal tiba. Harus delivered!

Lalu…

Apakah Jepang mempunyai keramah-tamahan khas yang dirasakan para wisatawan dengan berbagai latar kultur dan agama seperti yang diunggulkan oleh pariwisata Indonesia?

Apakah omotenashi ini sudah sebanding dengan yang selama ini kita unggulkan dan banggakan?

Sementara di wall Facebook saya sempat muncul komen sindiran dengan referensi banyak kejadian negatif sehubungan dengan turis versus penduduk lokal yang terekam dan menjadi viral di sosmed. “Kalau di kita mah…tenang aja ini negara kaya raya…indah mempesona…yg penting uang untuk kantong pribadi mengalir deras, jalanan mau macet keq, turis di tipu keq…emang gw pikirin…begituhhhh”

Ini menunjukkan anda dan saya sendiri belum puas terhadap sistem layanan di rumah kita sendiri.

Baiklah selanjutnya…

Saya mengacu pada Pidato Presiden Joko Widodo pada tanggal 16 Agustus 2019.

Saya percaya akan aktualisasi  wacana dalam kalimat “Berbekal inovasi, kualitas SDM, dan penguasaan teknologi kita bisa keluar dari kutukan sumber daya alam”.

Kalau omotenashi adalah bagian dari kurikulum sekolah di Jepang, maka Indonesia secara nasional harus mengejar kebutuhan akan SDM unggul yang toleran, yang berakhlak mulia, yang terus belajar, bekerja keras, dan berdedikasi. Perlu waktu berapa lama?

Kemudian diikuti cita-cita untuk mewujudkan Indonesia menjadi pusat teknologi dan inovasi.

Demi pariwisata Indonesia sebelum tergerus oleh jaman, anda dan saya perlu pemikir-pemikir dan pelaksana-pelaksana yang visioner.

Ini loh sudah masuk revolusi industri ke-4 yang kerennya disebut gen 4.0. dan sudah mencapai tingkatan IoT (Internet of Things) dan IoE (Internet of Everything) dimana instruksi dan operasional pengendalian suatu modul sudah bisa menggunakan sensor suara temasuk mengendari mobil tanpa hadirnya seorang sopir.

Lalu…..

Dimana posisi pariwisata Indonesia?

Buat saya keberagaman kearifan masyarakat dan keberagaman budaya lokal yang harus dipertahankan. Tetapi harus ditingkatkan dengan dukungan teknologi untuk menembus dunia yang sudah tanpa batas, sehingga disebut dunia maya. Dunia nyata yang imaginatif seperti film Avatar yang sangat sukses itu.

Bagaimana caranya?

Di dalam penglihatan saya, saya sangat berharap pentas-pentas kesenian tradisional dilengkapi dengan teknolgi lighting dan Augmented Reality (AR). Sehingga menjadi live show yang 5Dimensi yang interaktif. Kalau sudah begini bolehlah kalau kemudian kita sebut Wonderful Amazing Indonesia.

Promosi Pariwisata Indonesia saya rekomendasikan mulai menggunakan Virtual Reality (VR) seperti yang akan dilakukan juga oleh Facebook bagi penggunanya. Selain itu masih ada Apps yang terdengar sudah kuno buat saya. Biaya produksi apps bisa dibilang  mahal dan masih ada kemungkinan teknologinya dikembangkan.

Palapa Ring telah tersedia yang artinya ini salah satu bagian infrastruktur teknologi yang disebut tol langit sebagai pendukung komunikasi dan transaksi yang efektif dan efisien untuk semua lini bisnis dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai Pulau Rote. Proses jual beli bisa terjadi dalam hitungan menit sampai detik.

 

Saat ini yang saya mengerti, generasi milenial menghendaki banyak aktivitas baru, adventurous, mencari experience, travel light dan ini yang paling penting – liburan sambil bekerja dengan istilah baru staycation, workcation.

Kita yang lebih dewasa menyebutnya Millennial Disruption. Hahhaah…. kita merasa terganggu menghadapi perubahan preferensi dan perilaku konsumsi anak dan cucu kita.

Nah sekarang bagaimana mengantisipasi kelangsungan pariwisata Indonesia yang selanjutnya akan di kelola dan dikembangkan oleh Generasi Milenial kelahiran antara tahun 1981 sampai tahun 1994 dan iGeneration tahun 1995 sampai tahun 2010. Demikian pula usia wisatawannya.

 

Persiapan-persiapan ….. ini peringatan bagi Baby Boomer, gen X dan gen Y.

Di era ini, Gen Z dan iGeneration sangat tergantung dengan segala kemudahan suatu sistem dan sudah menular kepada para orangtua-nya. Kesabaran semakin menipis. Disuruh menunggu sebentar sudah ngambul dan bilang ndak direspek. Sebentar kemudian sosmednya penuh dengan pelampiasan pemikiran menuangkan emosi.

Lalu apa jalan keluarnya?

Kembali lagi ke implementasi teknologi dengan embel-embel “kemudahan” user friendly.

Dibutuhkan dimana? Tentunya harus dimana saja dan disemua bidang usaha. Partisipasi Teknologi yang inovatif untuk bekerjasama dengan manusia sebagai pengontrolnya.

Para Pebisnis dan Pengusaha Restoran, Rumah Makan, Warung, Hotel juga sarana pendukung pariwisata lainnya seperti Day-Cruise dan Taman Rekreasi sudah harus paham mengenai market segment berdasarkan Geographic, Demographic, Psychographic dan Behavioral. Pemahaman ini sangat diperlukan untuk berlangsungnya bisnis jangka panjang dan menyediakan fasilitas yang tepat.

Fasilitas apa?

Ya… contohnya membangun Digital Hotel dengan Pembayaran sistem Virtual, sudah bisa check-in pada saat dalam perjalanan menuju hotel dan masuk kamar dengan face detector. Memangkas beberapa masa tunggu. Untuk pengusaha, dengan menggunakan virtual account, artinya cashflow lancar.

On top of semua-semua ide teknologi ini, pastinya juga kita masih tergantung dengan birokrasi perijinan terhadap suatu badan usaha. Mestinya ini juga sedang dikerjakan oleh pemerintah kita, beyond our knowledge sebagai pengguna jasa.

 

Akhir kata

Sorry bro…

Saya secara pribadi suka dengan kata keberagaman dibandingkan ramah ini ramah itu yang mengangkat perbedaan.

Karena buat saya keramah-tamahan khas ini masih sangat abstrak dan menurut saya justru harus dibuat code of conductnya mengacu pada omotenashi-nya Jepang. Filosofi customer service yang bukan membanggakan diri sebagai orang Jepangnya, tetapi memberikan pelayanan sepenuh hati.

 

Bali, 18 November 2019

Jeffrey Wibisono V.