Belajar dari pewayangan Bali, ada 4 karakter punakawan mewakili sikap miliaran manusia yang dirangkum ke dalam 4 gambaran umum yang bisa menjadi renungan untuk resolusi 2014.
Sudah sesuaikah pribadi kita di 2013 terhadap diri sendiri dan alam semesta termasuk kepada sang pencipta?

Berikut karakter-karakter utama yang pengejawantahannya terserah kita untuk menjalaninya secara naluriah dan penuh kesadaran.

1. Tualen, dia “tidak tahu dirinya tahu”. Dia kontemplatif, murni bersandar pada batin, sederhana dan penuh kearifan.
Tualen adalah penjelmaan dari Dewa Ismaya, yaitu adik dari Dewa Siwa. Arti Tua adalah tua dan Len adalah bijaksana, jadi berarti orang tua yang bijaksana. Tualen ini juga dipercaya sebagai leluhur bangsa Indonesia, ada yang berpendapat bahwa Tualen adalah Resi Agastya yang membawa Hindu dari India ke Indonesia. Tualen ini dalam wayang jawa dinamakan Semar.

2. Merdah, dia “tahu dirinya tahu”. Dia paham, berani dan penuh percaya diri.
Werdah adalah teman Tualen, tetapi ada pendapat yang mengatakan bahwa Werdah adalah murid setia dari Tualen, karena itu ia sudah seperti anak dari Tualen. Werdah berarti muda. Werdah adalah penjelmaan dari Dewa Wisnu.

3. Sangut, dia “tahu dirinya tidak tahu”. Dia tidak paham, namun bersikap menerima ketidakpahamannya, mengakui kelebihan orang lain, penuh pertimbangan.
Sangut sama seperti Delem, ia mengabdi pada manusia yang berwatak jahat tetapi ia selalu mengingatkan dan menasehati agar manusia menjadi baik. Sangut adalah penjelmaan dari Dewa Mahadewa.

4. Delem, dia “tidak tahu dirinya tidak tahu”. Dia tidak tahu tapi merasa tahu, dia tidak tahu tapi tidak menerima pengetahuan orang lain, angkuh dan congkak di depan orang-orang, dan dia tidak bisa mengukur diri. Percaya diri di tengah ketakpahaman. Angkuh dan pongah, merasa paling benar.
Delem adalah punakawan yang mengabdi pada manusia yang adharma atau kejahatan, tetapi dalam pengabdiannya ia selalu mencoba untuk mengingatkan dan menasehati kebaikan agar sijahat menjadi sibaik. Delem adalah penjelmaan Dewa Brahma.

Seperti siapakah kita?

Setidaknya kita akan malu bercermin pada Delem, yangg selalu pongah dalam ketidaktahuannya. Minimal kita bisa merenung, kalau tidak tahu sebaiknya kita “tahu kalau kita tidak tahu”, ini sikap Sangut.

Idealnya kita seperti Tualen, sekalipun ia paham dan tahu, dia tidak bersikap absolut atau “tidak tahu dirinya tahu”; di sini seseorang dituntut menjadi arif sebab kenyataan dan kebenaran tidak berwujud tunggal, maka “selalu ada yang mungkin”.

Dunia perasaan dan kemanusiaan diteliti dan dilihat dalam banyak perspektif.

Delem selalu jadi tertawaan di Bali sebab Delem bersikap paling tahu di tengah ketidaktahuannya.

Merdah yang “tahu dirinya tahu”, percaya diri dan berpengetahuan luas cenderung tergoda memaksakan sikap dan pikirannya. Dari Merdah orang Bali belajar bahwa sekalipun pemikiran kita yang benar, yang benar-benar lurus, kalau dipaksakan ke orang lain, cara memaksa ini yang mengundang perdebatan. Cara Merdah yg paling tahu membuat dia terpancing arogan. Dari Merdah kita diajak belajar bahwa kebenaran harus dijalankan dengan cara-cara yang benar.

Cara-cara benar itu ada pada Tualen, yang penuh kearifan membabarkan kebenaran, tanpa paksaan, tanpa menggurui, penuh kesantunan dan kesederhanaan. Secara kontemplatif. Kebenaran menjadi mentah dan tampak dangkal jika disampaikan dengan tutur keras dan perilaku bermusuhan.

Orang Bali yg mencintai wayang akan dibuat sadar, kebenaran menjadi sempurna bukan dalam diri Merdah, tapi dalam diri Tualen: Kebenaran menjadi sempurna dalam kesederhanaan tutur, kemuliaan hati, santunan, dan kesahajaan sikap.

Para dalang selalu mengingatkan: Rwabhinneda itu ada dalam diri manusia. Kala iya, Dewa iya.

Tualen, Merdah, Sangut dan Delem yang keempatnya ada dalam diri kita. Mereka silih berganti muncul dalam kehidupan nyata, pikiran dan diri kita menjadi kelirnya.

Lewat tulisan ini, saya, mengundang setidaknya kita menonton layar di dalam diri sambil menertawakan Delem dalam diri.

Dari berbagai sumber pewayangan Bali dan duniasekitarmu.blogspot.com