Lagi saya akan berteori tentang Sales & Marketing di dunia pariwisata secara umum. Bali di tahun 2013 mengacu pada data statistik kedatangan wisatawan mancanegara yang tinggal dua (2) bulan lagi, optimis akan tercapai target tiga (3) juta.
Bandingkan dengan data dan fakta berikut ini:
Sampai akhir September lalu, Bali sudah didatangi sekitar 2,4 juta wisatawan. Jumlah kunjungan wisatawan itu mendekati target kunjungan wisatawan ke Bali pada tahun 2013 sebesar 3,1 juta .  Jumlah ini sama dengan proyeksi  55% total wisatawan ke Bali adalah wisatawan domestik dari total kira-kira tujuh (7) juta wisatawan yang akan berkunjung ke Bali – baik itu wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik . Akan dibuktikan nanti setelah data 2013 dilengkapi.
Tetapi untuk target rata-rata pertumbuhan kunjungan wisman berkisar dari 10-12 persen dalam lima (5 tahun ke depan. Apakah sudah dievaluasi faftor-faktor penarik pariwisata Bali secara optimum untuk memberdayakan pariwisata berkesinambungan?

Teknik Sales & Marketing berubah dengan cepat – tetapi apakah kemampuan  kita berkembang seimbang?

Sebagaimana teknologi mempercepat perubahan, marketer yang mau sukses perlu menjadi lebih taktis dan skillful, lebih responsif terhadap perubahan dan tampil lebih baik di dalam  different teams, different functions  dan menggunakan berbagai distribution channels .

Untuk berhasil sebagai Marketer masa kini, ada tiga (3) tantangan pemasaran modern dan bagaimana kita  dapat berkecimpung di dalamnya .

  1. Memahami Umpan Balik

    Teknologi dan media sosial telah mengubah cara kita berinteraksi dengan konsumen . Cara lama telah digantikan oleh banyak kemudahan dengan hanya menggunakan satu channel dalam mendistribukan pesan-pesan dan promosi ke audience.  Sebaliknya , kita juga perlu merangkul mata rantai  komunikasi yang berkesinambungan dengan pelanggan yang di dalamnya termasuk “listening” yaitu untuk mendapatkan dampak umpan balik membutuhkan interaksi media sosial dan tradisional.
  2. Menerima Perubahan dan Bereaksi

    Beraksilah terus menerus untuk memastikan brand kita selalu membuat kemajuan . Laju perubahan teknologi tidak menyisakan  waktu untuk ” wait and see” dengan perangkat dan pola baru. Brand terkemuka tidak akan ragu untuk menggabungkan teknologi baru ke dalam strategi pemasaran mencoba – dan – benar. Kita bersiap gagal apabila tidak beradaptasi dengan teknologi baru dan perilaku konsumen .
  3. Membuang Keterbatasan

    Marketer  harus dapat bekerja dengan semua departemen : IT , sales , pengembangan produk dan customer service . Menciptakan insentif dan kesempatan bagi tim yang berbeda-beda di dalam organisasi  kita untuk berbagi informasi yang berharga juga pertukaran wawasan yang membantu semua departemen berhasil dalam tujuan mereka . Pendekatan tanpa batas . Ini contoh inovatif kolaborasi yang dapat mempengaruhi  corporate culture masa ini.

Pemasaran berubah setiap hari . Bagaimana Bali akan menghadapi tantangan masa depan itu ?

Secara traditional, pertama-tama mari kita ungkap apa saja kira-kira Motivasi juga “Push dan Pull Factor” berwisata yang bisa menaikkan citra Bali di dunia internasional bahkan di dalam negeri sendiri.

MOTIVASI

Sebelum seseorang melakukan perjalanan wisata, pastinya mereka digerakkan oleh motif untuk melakukan wisata. Motivasi merupakan hal yang sangat mendasar dalam studi tentang wisatawan dan  pariwisata, karena motivasi merupakan “trigger” dari proses perjalanan wisata.
Motivasi internal yang merupakan factor pendorong dari diri seorang wisatawan, dan motivasi berikutnya  adalah motivasi eksternal yang merupakan factor penarik yang berasal dari atribut-atribut sebuah destinasi.
Keputusan seseorang untuk melakukan perjalanan wisata dipengaruhi oleh kuatnya faktor-faktor pendorong (push factor) dan faktor-faktor penarik (pull factor). Faktor pendorong umumnya bersifat sosial-psikologis, atau merupakan person specific motivation, sedangkan faktor penarik merupakan destination specific attributes. Dengan adanya faktor pendorong, maka seseorang ingin melakukan perjalanan wisata, tapi belum jelas daerah / negara mana yang akan dituju.
Pada dasarnya seseorang melakukan perjalanan dimotivasi oleh beberapa hal, motivasi-motivasi tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok besar sebagai berikut:

  1. Motivasi yang bersifat fisik antara lain untuk relaksasi, kesehatan, kenyamananm berpartisipasi dalam kegiatan olah raga, bersantai dan sebagainya.
  2. Keinginan untuk mengetahui budaya, adat, tradisi dan kesenian daerah lain.
  3. Motivasi yang bersifat sosial, seperti mengunjungi teman dan keluarga, menemui mitra kerja, melakukan hal-hal yang mendatangkan gengsi (prestis), melakukan ziarah.
  4. Motivasi di daerah/destinasi lain seseorang akan bisa lepas dari rutinitas keseharian yang menjemukan dan yang memberikan kepuasan psikologis.
  5. Motivasi aktualisasi diri.
  6. Motivasi keamanan

Faktor Pendorong Berwisata (PUSH FACTOR)

Kemudian PUSH FACTOR  umumnya bersifat sosial-psikologis, atau merupakan person specific motivation, sedangkan dengan adanya faktor pendorong, maka seseorang ingin melakukan perjalanan wisata, tapi belum jelas daerah mana yang akan dituju.
Berbagai faktor pendorong bagi seseorang untuk melakukan perjalanan wisata misalnya seperti di bawah ini.

  1. Escape. Ingin melepaskan diri dari lingkungan yang dirasakan menjemukan atau melepaskan kejenuhan dari pekerjaan sehari-hari.
  2. Relaxation. Keinginan untuk penyegaran yang juga berhubungan dengan motivasi untuk escape di atas.
  3. Play. Ingin menikmati kegembiraan melalui berbagai permainan yang merupakan pemunculan kembali sifat kekanak-kanakan dan melepaskan diri sejenak dari berbagai urusan yang serius.
  4. Strengthening Family Bonds. Ingin mempererat hubungan kekerabatan, khususnya dalam konteks VFR (Visiting Friends and Relations).
  5. Pretige. Untuk menunjukkan gengsi dengan mengunjungi destinasi yang menunjukkan kelas dan gaya hidup yang merupakan dorongan untuk menaikkan status dan derajat sosial.
  6. Social Interaction. Untuk melakukan interaksi sosial dengan teman sejawat atau dengan masyarakat lokal yang dikunjungi.
  7. Romance. Keinginan untuk bertemu dengan orang-orang yang bisa memberikan suasana romantis untuk memenuhi kebutuhan seksual khususnya dalam pariwisata seks.
  8. Educational Opportunity. Keinginan untuk melihat sesuatu yang baru, mempelajari orang lain atau daerah lain, atau kebudayaan etnis lain. Hal ini pendorong yang dominan dalam pariwisata.
  9. Self-Fulfilment. Keinginan untuk menemukan jati diri sendiri karena diri sendiri biasanya bisa ditemukan pada saat kita menemukan daerah atau orang baru.
  10. Wish Fulfillment. Keinginan untuk merealisasikan mimpi-mimpi yang dicita-citakan sampai mengorbankan diri dengan cara berhemat agar bisa melakukan perjalanan.
  11. Financial Security. Kemampuan financial masyarakat.
  12. Leisure Time. Menggunakan waktu senggang yang dimiliki

Dari beberapa evaluasi di atas, faktor pendorong pariwisata dapat diprediksi dari jumlah penduduk dari suatu negara asal wisatawan, pendapatan perkapitanya, lamanya
waktu senggang yang dimiliki yang berhubungan dengan musim di suatu negara, kemajuan teknologi informasi dan transportasi, sistem pemasaran yang berkembang, keamanan
dunia, sosial dan politik serta aspek lain yang berhubungan dengan fisik dan non fisik wisatawan.

Faktor Penarik Berwisata (PULL FACTOR)

Sedangkan PULL FACTOR  merupakan destination specific attributes. Berbagai faktor penarik yang seharusnya dimiliki oleh daerah tujuan wisata untuk menjadi destinasi
pilihan adalah yang memenuhi “needs dan wants” yaitu:

  1. Cuaca / Iklim Destinasi.
  2. Transportasi, Akses. Akses yang dimaksudkan agar wisatawan dapat dengan mudah dalam pencapaian tujuan ke tempat wisata baik secara internasional maupun akses ke tempat-tempat wisata pada sebuah destinasi.
  3. Atraksi Pariwisata. Aspek daya tarik suatu destinasi untuk berkatifitas dan mempunyai nilai rekreasi. Setiap destinasi pasti memiliki daya tarik baik daya tarik alam, masyarakat juga budayanya.
  4. Amenities. FAsilitas utama dan pendukung.. Amenities menjadi salah satu syarat daerah tujuan wisata agar wisatawan dapat dengan kerasan tinggal lebih lama pada sebuah destinasi. Di dalamnya termasuk akomodasi, makanan dan minuman.
  5. Adanya keterlibatan lembaga pariwisata yang akan mendukung sebuah destinasi layak untuk dikunjungi. Aspek kelembagaan ini dapat berupa dukungan lembaga keamanan, lembaga pariwisata sebagai pengelola destinasi dan lembaga pendukung lainnya yang dapat menciptakan kenyamanan wisatawan.
  6. Lingkungan hidup yang alami juga yang buatan.

Faktor penarik lainnya antara lain:

  1. Travel services dan retail advertising juga wholesale marketing
  2. Special event
  3. Incentive perusahaan
  4. Mengunjungi teman-teman dan sanak saudara.
  5. Produk oleh-oleh / buah tangan.

Inti dari pernyataan di atas adalah, aspek penawaran harus dapat menjelaskan apa yang akan ditawarkan, atraksinya apa saja, jenis transportasi yang dapat digunakan apa saja, fasilitas apa saja yang tersedia pada sebuah destinasi, siapa saja yang bisa dihubungi sebagai perantara pembelian paket wisata yang akan dibeli.

SAPTA PESONA PARIWISATA INDONESIA

Beberapa tahun lalu pariwisata Indonesia sempat mengalami kejayaan. Bila dibandingkan dengan masa sekarang, memang secara kuantitas jumlah wisatawan terus meningkat, namun seharusnya sudah lebih jauh dari itu.
Pada program Visit Indonesia Year 1991 dahulu dikampanyekan program Sapta Pesona. Hal tersebut menunjukkan hasil yang memuaskan terbukti dengan terlampuinya target kunjungan wisata.
Pada program pengembangan pariwisata Bali sekarang ini agaknya saya masih kepincut dan terkesima dan “flash back” dengan  rumusan program Sapta Pesona yang nampak sederhana namun pernah meningkatkan kesadaran, rasa tanggung jawab segenap lapisan masyarakat, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat luas untuk mampu bertindak dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ada “missing link” untuk suatu kampanye pariwisata berkesinambungan masa kini.
Logo Sapta Pesona dilambangkan dengan Matahari yang bersinar sebanyak 7 buah yang terdiri atas unsur:

  1. Keamanan
  2. Ketertiban
  3. Kebersihan
  4. Kesejukan
  5. Keindahan
  6. Keramahan
  7. Kenangan

 

Sapta Pesona Logo

Sumber logo Sapta Pesona: www.budpar.go.id

Uraian makna program Sapta Pesona merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam program-program pembangunan kepariwisataan sebagai sektor andalan devisa Nasional:
1.  AMAN
~   Suatu kondisi lingkungan destinasi wisata yang memberi rasa tenang, bebas dari rasa takut dan kecemasan wisatawan.
~   Daerah tujuan wisata dengan lingkungan yang membuat nyaman wisatawan dalam melakukan kunjungan.
~   Menolong, melindungi, menjaga, memelihara, memberi dan meminimalkan resiko buruk bagi wisatawan yang berkunjung.
2.  TERTIB
~   Destinasi yang mencerminkan sikap disiplin, teratur dan profeional, sehingga memberi kenyamanan kunjungan wisatawan.
~   Ikut serta memelihara lingkungan
~   Mewujudkan Budaya Antri
~   Taat aturan/ tepat waktu
~   Teratur, rapi dan lancar
3.  BERSIH
~   Layanan destinasi yang mencerminkan keadaan bersih, sehat hingga memberi rasa nyaman bagi kunjungan wisatawan
~   Berpikiran positif pangkal hidup bersih
~   Tidak asal buang sampah/ limbah
~   Menjaga kebersihan Obyek Wisata
~   Menjaga lingkungan yang bebas polusi
~   Menyiapkan makanan yang higienis
~   Berpakaian yang bersih dan rapi
4.  SEJUK
~   Destinasi wisata yang sejuk dan teduh akan memberikan perasaan nyaman dan betah bagi kunjungan wisatawan.
~   Menanam pohon dan penghijauan
~   Memelihara penghijauan di lingkungan tempat tinggal terutama jalur wisata
~   Menjaga kondisi sejuk di area publik,restoran, penginapan dan sarana fasilitas wisata lain
5.  INDAH
~   Destinasi wisata yang mencerminkan keadaan indah menarik yang memberi rasa kagum dan kesan mendalam wisatawan.
~   Menjaga keindahan obyek dan daya tarik wisata dalam tatanan harmonis yang alami
~   Lingkungan tempat tinggal yang teratur, tertib dan serasi dengan karakter serta istiadat lokal
~   Keindahan vegetasi dan tanaman peneduh sebagai elemen estetika lingkungan
6.  RAMAH TAMAH
~   Sikap masyarakat yang mencerminkan suasana akrab, terbuka dan menerima hingga wisatawan betah atas kunjungannya
~   Jadi tuan rumah yang baik & rela membantu para wisatawan
~   Memberi informasi tentang adat istiadat secara spontan
~   Bersikap menghargai/toleran terhadap wisatawan yang datang
~   Menampilkan senyum dan keramah-tamahan yang tulus.
~   Tidak mengharapkan sesuatu atas jasa telah yang diberikan
7.  KENANGAN
~   Kesan pengalaman di suatu destinasi wisata akan menyenangkan wisatawan dan membekas kenangan yang indah, hingga mendorong pasar kunjungan wisata ulang
~   Menggali dan mengangkat budaya lokal
~   Menyajikan makanan/ minuman khas yang unik, bersih dan sehat
~   Menyediakan cendera mata yang menarik

Akhir kata, saya terpanggil untuk mulai menulis tentang seri pengetahuan perhotelan dan pariwisata, karena kecemasan saya pada kualitas layanan yang mulai hilang sentuhan ragamnya . Di sini, saya menyinggung pekerja perhotelan dan pariwisata Bali secara umum dan luas . Industri ini berkembang pesat di seluruh dunia. Namun, seiring dengan berjalannya  waktu , tampaknya mengarah ke industri kapitalis di mana pariwisata hanya menjadi komoditas bisnis tanpa memperhatikan etika bisnis yang spesifik dan pelayanan perhotelan dan pariwisata yang juga bisa disesuaikan dengan budaya lokal .
Pariwisata adalah terutama bisnis ” PELAYANAN” , di mana kepuasan tamu merupakan komoditas vital . Keberhasilan kita dan kesempatan kita untuk  berpromosi akan tergantung seberapa baik kita memainkan peranan  kita di team works  dengan sesama karyawan dan rekan sejawat, owners dan di atas semua itu adalah dengan pelanggan dan tamu .
Saya berharap dengan langkah demi langkah pembelajaran, maka akan menawarkan banyak kesempatan untuk kemajuan. Orang yang berkembang adalah orang yang memberikan sedikit lebih , terhadap sebuah pelayanan yang setingkat lebih baik .

Bali, 09 November 2013

Jeffrey Wibisono V.