Buat saya, mencari suatu destinasi untuk liburan ke luar negeri mirip dengan berkegiatan kalau sedang mencari buku bacaan di toko buku. Sama menariknya. Dari mulai tertarik dengan judul dan gambar di sampul depan, kemudian menelaah rangkuman premis dan diksi dari buku yang sedang saya pegang. Teman-teman percaya toh kalau ilmu marketing mengatakan people do not buy products, they buy emotions dan ada pengaruh social validation disitu.

Lalu apa yang menarik perhatian saya untuk memutuskan menuju my next holiday destination? You do not attract what you want, you attract what you are! Yang pasti pertanyaan pertama yang keluar “ada apa disana?”

Jadi, saya pikir, semua traveler lain melakukan hal yang mirip yaitu mulai dari menyusun Top-Most-Priority untuk dibaca dan dibahas ulang bersama teman perjalanan sebagai bagian dari mematangkan perencanaan dan mem-finalkannya. Sangat subyektif.

Kemudian, kalau kita berhandai-handai sebagai turis yang tertarik untuk liburan di Indonesia, mengusung genre traveler generasi baru yaitu Milenial, iGeneration dan Alpha kelahiran tahun 1990an dan 2000an. Kira-kira apa yang yang menarik perhatian kita? Dari total 17.504 pulaunya saja tidak mungkin kita bisa mengunjungi dan experience seluruh Indonesia dan menikmatinya menggunakan masa cuti panjang selama 30 hari pun. Tetapi bisa mengunjungi wilayah Indonesia ber-ulang-ulang dan mendarat di pulau yang berbeda-beda – island hopping,  tergantung tujuan pengalaman yang hendak ditimba.

Dalam pemikiran saya, salah satu pembangkit minat untuk Indonesia  menjadi pilihan future travelers melalui people – beragam suku dan budayanya adalah Indonesia harus mempunyai destinasi-destinasi tematik.  Mampukah Indonesia membangun special interest sesuai karakteristik historis geografis masyarakat dan pulaunya. Bukan melulu eksploitasi alamnya. Sehingga kemudian pangsa pasar niche nya terbentuk, lalu target promosi nya jelas dan kuota kunjungan wisatawannya-pun dapat ditentukan. Disinilah pada saatnya kita bisa bicara lebih banyak tentang suatu destinasi dengan quality of tourism nya termasuk length of stay dan spending power wisatawan yang sedang berkunjung.

Mari kita coba buka sejarah Nusantara. Harus kita akui, penguasaan bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya, bangsa Indonesia kalah jauh dibandingkan beberapa negara anggota ASEAN. Tetapi Indonesia masih bisa unggul apabila dapat mengembangkan Experience. Paket bisa dibuat dan itu misalnya adalah Paket Sejarah, Paket Legenda, Paket Arkeologi Antropologi, Paket Keraton, Paket Laboratorium Hidup dan masih banyak lagi. Khusus Paket Laboratorium Hidup saya dapat membandingkan Galapagos di Ekuador dengan Flobamora di NTT.

Jangan lupa, disini saya sedang memikirkan bagaimana meningkatkan perhatian future travelers. Maka kesiapan teknologi, Indonesia sebagai destinasi digital juga harus dimantapkan. Semua paket yang ditawarkan dan dijual harus terintergrasi dengan aman, mulai dari beragam tipe akomodasi, destinasi makanan sesuai daerahnya dengan mempromosikan Exotic Food yang bisa dikonsumsi wisatawan internasional sesuai karakter daerahnya. Lalu jangan lupa ada misi edukasi di dalam memberikan experience kepada wisatawan. Salah satunya adalah mengajari wisatawan untuk mendapatkan pengalaman berinteraksi dengan penduduk lokal dengan sarana naik Public Transportation (angkot) dari satu poin ke poin lainnya, bahkan bisa untuk mengajari memilih angkutan umum antar kota seperti menggunakan bis dan kereta api/listrik.

Bagaimana dengan paket budaya? Saya sendiri secara pribadi sangat tertarik dengan budaya. Indonesia ini kaya banget!. Setiap daerah mempunyai kekuatan masing masing. Dari Seni Tari, Seni Rupa, Seni Patung dll. Ini bisa diintegrasikan dengan Paket Sejarah Nusantara untuk daerah tertentu tersebut, atau bahkan Paket Legenda yang di ceritakan dari dongeng rakyat seperti Balingkang Dewi Danu di Kintamani Bali. Untuk mensukseskan semua program wisata ini Indonesia perlu Story Tellers sebagai duta wisata. Kita, future travelers perlu akses masuk yang nyaman dan infrastrukturnya. Untuk suksesnya program suatu paket, suatu destinasi perlu dukungan masyarakat setempat juga, sehingga sosialisi dan pelatihan secara berkesinambungan juga harus dilakukan. Ini sebagian pekerjaan pemerintah dengan dukungan swasta untuk implementasi dan mengembangkannya.

Bagaimanapun wujud destinasinya, walau lokasinya terpencil, kebutuhan kekiniannya atau keperluan modernisasi tetap harus disediakan. Misalnya MCK (Mandi Cuci Kakus) standar internasional, transportasi, convenience store, alat pembayaran non-tunai (tourist card dan virtual), APPS of the Destination. Pokoknya kita semua travelers memerlukan kemudahan mobilitas dengan segala informasinya yang terintegrasi dan akurat, mungkin ada yang sudah pernah ke Singapore dan London? Di kedua kota ini saya sangat nyaman untuk mobilitas dengan mudah dan murah selama berkunjung.

Satu lagi, apakah saya dengan destinasi di Indonesia yang melakukan program pemurnian alam? Ya, ini tren global. Tentunya akan menarik kalau ada pulau-pulau di Indonesia yang siap mempertunjukkan teknologi “free chemical” untuk kehidupan sehari-hari nya. Mulai dari pertanian, kemasan sampai ke pengelolaan limbahnya. Saya akan experience untuk menginap beberapa malam disini pasti ada pelajaran yang bisa dibawa pulang.

Jadi sekali lagi kualitas suatu produk temasuk produk wisata itu sangat subyektif. Semua tergantung terhadap pengalaman apa yang dirasakan oleh penikmatnya pada saat itu. Contoh konkritnya, mari kita masuk ke situs-situs guest review seperti tripadvisor, google review. Apakah dari satu review ke review lainnya isinya sama untuk produk yang sama dengan penikmat yang berbeda? Maka itulah bukti subyektifitas tersebut.

Pemikiran tertulis saya tentang cara atau bagaimana meningkatkan perhatian wisatawan secara umum ini masih sangat pendek dibandingkan potensi Indonesia yang sangat luar biasa.

Dari slogan saya  My Travel My Adventure terdapat letupan-letupan  emosi yang membuat saya menjadi tertarik berkunjung ke suatu destinasi. Misalnya karena cerita sejarahnya yang memikat, ingin mendapatkan pengalaman  yang diceritakan oleh orang lain, kelangkaan/scarcity atau ekskulisifitas, tipe wisatawannya, eksotisme suku setempat, jaminan keamanan, cocok untuk pengambilan foto-foto yang bisa untuk diceritakan kembali, heritage, history, pengalaman spiritual, affordable – sesuai kocek, banyaknya waktu untuk digunakan termasuk masa tempuh untuk mencapai destinasi yang menarik.

Pada akhirnya, Indonesia harus mampu menjual dengan cara mentransfer perasaan. Memahami maunya dan kebutuhan traveler seperti cerita fiksi yang menjadi non-fiksi, menjadi kenyataan. Bukan hard-sales saja dengan menonjolkan “Ini produk unggul kami”.

Tentunya teman-teman pembaca mempunyai ketertarikan yang lain dari saya dan ingin urun-rembug. Silakan ditulis di komen area di halaman ini. Terima kasih

 

Bali, 07 February 2020

Jeffrey Wibisono V.

 

Flyer Destination England Flyer Destination Galapagos Flyer destination Egypt Flyer destination Nature Tours