Kemaruk
“Kita tidak selalu kemaruk pada harta. Kadang kita kemaruk pada kemungkinan—ingin menjadi segalanya, memiliki semuanya, dan akhirnya tidak benar-benar hadir di mana-mana.”
.
Pukul 05.17.
Jakarta belum sepenuhnya bangun.
Langit di balik gedung-gedung Kuningan masih berwarna abu kebiruan. Lampu kendaraan mengalir di jalan seperti urat-urat cahaya yang tak pernah benar-benar tidur. Di kejauhan, crane pembangunan berdiri di antara gedung tinggi, seperti tangan-tangan kurus yang terus meminta sesuatu kepada langit.
Dari lantai tiga puluh dua apartemennya, Jayengrana memandang kota yang selama bertahun-tahun mengajarinya satu hal: manusia harus terus bergerak.
Berhenti berarti tertinggal.
Setidaknya begitu yang dulu ia percaya.
Di meja makan terdapat dua laptop.
Laptop pertama menampilkan halaman pembuka sebuah presentasi:
NUSANTARA URBAN HOSPITALITY
2027–2032 GROWTH & EXPANSION ROADMAP
Dua belas hotel.
Lima kota.
Satu investor Singapura.
Angka investasi yang bahkan dua puluh tahun lalu tak pernah berani ia bayangkan.
Laptop kedua menampilkan laman sebuah universitas swasta terkemuka.
Program Doktor Manajemen Strategik.
Di sebelahnya tergeletak sebuah tablet.
Proposal lain terbuka di sana.
SANGGAR RASA FOUNDATION
Hospitality Vocational Scholarship Program
Tiga jalan.
Tiga kemungkinan.
Tiga versi dirinya.
Telepon genggamnya bergetar.
Pesan dari Wirayuda, komisaris perusahaan.
Jay, Singapore menunggu keputusan kita hari ini. Jangan lewat jam 10.00.
Belum selesai membaca, pesan lain muncul.
Rengganis.
Putrinya.
Ayah, jadi datang ke kampus Sabtu ini? Aku presentasi final. Please jangan cancel lagi.
Kemudian email masuk.
Invitation to Join Advisory Board — Southeast Asia Hospitality Investment Fund.
Disusul notifikasi LinkedIn.
Lalu pengingat medical check-up.
Kemudian pesan dari grup alumni.
Undangan makan malam.
Tawaran menjadi pembicara.
Permintaan wawancara.
Proposal kerja sama.
Satu telepon yang tidak ia angkat.
Lalu telepon lain.
Jayengrana mematikan suara telepon.
Sunyi.
Tetapi kepalanya tidak ikut sunyi.
Ia memandang tiga layar itu.
Aneh.
Hampir seluruh hidup ia habiskan agar suatu hari mempunyai banyak pilihan.
Kini, ketika pilihan datang dari segala arah, ia justru tidak tahu ke mana harus berjalan.
Kopi di hadapannya telah dingin.
.
Usianya lima puluh delapan tahun.
Jayengrana bukan orang gagal.
Kalau keberhasilan diukur menggunakan satuan yang disepakati orang-orang kota besar—jabatan, uang, properti, jaringan, akses, kartu kredit, lounge bandara, nama yang dikenal orang—ia bahkan termasuk kelompok kecil yang berhak menyebut hidupnya berhasil tanpa terdengar sedang menghibur diri.
Sebuah rumah di Surabaya.
Apartemen Jakarta.
Rumah di Batu yang disebutnya rumah pensiun, meskipun ia selalu tertawa setiap mengucapkan kata pensiun.
Dua properti sewa.
Portofolio saham.
Satu perusahaan konsultasi hospitality.
Kepemilikan minoritas pada tiga hotel.
Rekening yang tidak lagi membuatnya harus memeriksa saldo sebelum menggesek kartu.
Ia juga punya sesuatu yang jauh lebih mahal:
reputasi.
Kariernya lebih panjang daripada usia sebagian direktur yang kini mengundangnya menjadi penasihat.
Ia memulai dari bawah.
Benar-benar dari bawah.
Bukan “memulai dari bawah” sebagaimana ditulis orang-orang di media sosial setelah tiga bulan menjadi management trainee.
Jayengrana pernah mengangkat koper tamu.
Mengantar room service.
Mengganti asbak.
Mendengarkan tamu marah karena air panas tidak bekerja.
Menunggu rombongan check-in sampai lewat tengah malam.
Membawa brosur hotel dari kantor ke kantor.
Mengejar corporate account.
Mengunjungi travel agent ketika belum ada Google Maps.
Mengirim fax.
Menunggu konfirmasi reservasi melalui telex.
Menjadi Sales Executive.
Sales Manager.
Director of Sales.
Resident Manager.
General Manager.
Kemudian consultant.
Advisor.
Investor.
Ia membuka hotel.
Menutup hotel.
Mengganti nama hotel.
Melakukan pre-opening.
Rebranding.
Menghadapi owner yang menginginkan keuntungan sebelum hotel sempat belajar berjalan.
Berhadapan dengan operator yang lebih mencintai standar daripada kenyataan lapangan.
Menjadi orang tengah ketika owner dan operator tidak lagi berbicara dalam bahasa yang sama.
Ia pernah berdiri di depan ratusan karyawan ketika okupansi jatuh dan mengatakan,
“Kita akan baik-baik saja.”
Padahal malam sebelumnya ia sendiri tidak tahu apakah bulan berikutnya perusahaan masih mampu membayar gaji.
Bali.
Jakarta.
Surabaya.
Yogyakarta.
Malang.
Kota-kota lain di Indonesia.
Kemudian Singapura, Bangkok, Sydney, Dubai, Johannesburg, Amsterdam.
Ia membawa kartu nama, kontrak, target penjualan, presentasi dan keyakinan bahwa bisnis pada akhirnya adalah perkara manusia mempercayai manusia.
Empat puluh tahun.
Empat dekade cukup untuk mengajarkan banyak hal.
Hotel dapat dibangun dalam dua tahun.
Reputasi membutuhkan sepuluh tahun.
Kepercayaan bisa hilang dalam sepuluh menit.
Tetapi ada sesuatu yang tidak pernah diajarkan sekolah bisnis mana pun kepadanya.
Tidak juga seminar kepemimpinan.
Tidak ada dalam buku manajemen.
Tidak pernah muncul dalam KPI.
Bagaimana mengetahui kapan seseorang sudah memiliki cukup.
Pukul tujuh pagi Jayengrana sudah berada di mobil.
Maktal, sopir yang menemaninya sebelas tahun, menoleh melalui kaca tengah.
“Langsung kantor, Pak?”
Jayengrana hendak mengatakan ya.
Kemudian teringat janji sarapan dengan calon investor.
“Senayan dulu.”
“Baik.”
Mobil bergerak meninggalkan basement.
Tiga menit kemudian Jayengrana membuka kalender.
Ada laporan keuangan yang harus diperiksa.
“Tal.”
“Ya, Pak?”
“Ke kantor saja.”
“Siap.”
Maktal mengambil jalur kanan.
Dua lampu merah kemudian telepon Jayengrana bergetar.
Wirayuda.
Kami sudah di hotel.
“Tal.”
“Ya?”
“Senayan.”
Maktal melirik kaca tengah.
“Siap.”
Jayengrana menangkap tatapan itu.
“Kamu bingung?”
Maktal tersenyum.
“Saya enggak, Pak.”
“Lho?”
“Yang bingung kan Bapak.”
Jayengrana menatapnya.
Lalu tertawa.
“Sudah berapa tahun kamu bawa saya?”
“Sebelas.”
“Berarti sekarang kamu sudah berani.”
“Bukan berani, Pak.”
“Terus?”
“Sudah hafal.”
“Hafal apa?”
Maktal diam sebentar.
“Hafal kalau Bapak sedang banyak pikiran.”
Jakarta bergerak di luar jendela.
Motor menyelip.
Bus berhenti.
Orang menyeberang dengan kopi di tangan.
Seorang perempuan muda berlari kecil menuju halte sambil membawa laptop.
Seorang lelaki berjas berjalan cepat dengan telepon menempel di telinga.
Kurir makanan berhenti memeriksa peta.
Semua orang tampak menuju suatu tempat.
Jayengrana tiba-tiba iri.
Bukan pada usia mereka.
Bukan pada pekerjaan mereka.
Ia iri karena pagi itu mereka terlihat tahu harus pergi ke mana.
.
Sarapan berlangsung di sebuah hotel bintang lima.
Wirayuda sudah menunggu.
Usianya empat puluh enam. Lulusan Amerika. Bicara cepat. Membaca laporan keuangan lebih cepat daripada membaca suasana hati manusia.
Di sebelahnya duduk Umarmaya, investment banker yang beberapa tahun terakhir menjadi penasihat kelompok mereka.
“Singapore fund mau masuk empat puluh persen,” kata Wirayuda tanpa pembukaan. “Kalau kita ambil, lima tahun bisa dua belas properti.”
Jayengrana membuka dokumen.
Angka berjajar rapi.
EBITDA.
IRR.
ADR.
Occupancy.
Management fee.
Development pipeline.
Asset-light expansion.
Bahasa yang sangat ia kenal.
“Risikonya?”
Umarmaya menjawab.
“Kontrol.”
“Berapa besar?”
“Secara legal kita tetap mayoritas. Secara praktik, mereka akan punya pengaruh besar.”
Wirayuda mengangkat bahu.
“That’s normal.”
Jayengrana mengangkat kepala.
“Normal belum tentu benar.”
Wirayuda bersandar.
“Nah.”
“Apa?”
“Ini lagi.”
“Apanya?”
“Kamu selalu begitu belakangan ini.”
“Begitu bagaimana?”
“Setiap keputusan bisnis kamu bawa ke filsafat.”
Jayengrana tersenyum.
“Bisnis yang tidak pernah dibawa ke filsafat biasanya akhirnya dibawa ke pengadilan.”
Umarmaya menahan tawa.
Wirayuda tidak.
“Jay, kita bicara ekspansi.”
“Aku tahu.”
“Ini kesempatan besar.”
“Aku tahu.”
“Kapan lagi?”
Jayengrana menutup dokumen.
“Aku pikirkan.”
Wirayuda mengembuskan napas.
“Sudah tiga bulan kamu pikirkan.”
Sunyi kecil jatuh di meja.
Di meja sebelah seorang anak perempuan memotong pancake.
Ibunya membantu menuangkan madu.
Ayahnya duduk bersama mereka, tetapi kedua matanya berada di telepon.
Jayengrana memperhatikan keluarga itu.
Entah mengapa ia teringat Rengganis ketika berumur tujuh tahun.
Hari pertunjukan tari sekolah.
Ia berjanji datang.
Hari itu hotelnya overbooked dua puluh tiga kamar.
Ada grup korporat.
Ada tamu VIP.
Ada kesalahan reservasi.
Ada seorang tamu yang mengancam menulis ke kantor pusat.
Jayengrana tidak datang.
Rengganis tidak pernah mempermasalahkannya.
Justru itulah yang membuat Jayengrana masih mengingat.
Anak-anak tidak selalu menagih luka kepada orangtuanya.
Mereka hanya tumbuh mengelilinginya.
“Kamu sebenarnya mau apa, Jay?”
Pertanyaan Wirayuda mengembalikannya ke meja.
Jayengrana membuka mulut.
Tidak ada jawaban.
Karena untuk pertama kalinya ia menyadari:
ia memang tidak tahu.
Ia ingin perusahaan berkembang.
Tetapi ingin hidup lebih tenang.
Ia ingin mengajar.
Tetapi masih menikmati ruang rapat.
Ia ingin menulis.
Tetapi takut kehilangan relevansi bisnis.
Ia ingin tinggal lebih lama di Malang atau Batu.
Tetapi Jakarta membuatnya merasa masih diperlukan.
Ia ingin mengambil doktor.
Tetapi diam-diam bertanya: untuk ilmu, atau agar tiga huruf baru bisa ditambahkan di belakang namanya?
Ia ingin membangun sekolah hospitality.
Tetapi proyek itu tidak menjanjikan keuntungan sebesar hotel.
Ia ingin dekat dengan Rengganis.
Tetapi kalendernya selalu penuh.
Ia ingin sehat.
Tetapi tidur lima jam.
Ia ingin berhenti membuktikan sesuatu.
Tetapi masih membuka LinkedIn dan memperhatikan siapa mendapat jabatan apa.
Ia ingin hidup sederhana.
Tetapi masih merasa senang ketika seseorang mengenalinya di lobby hotel.
Ia ingin bebas.
Namun tidak sanggup melepaskan apa pun.
Manusia memang lucu.
Kita dapat memberi nasihat kepada ratusan orang mengenai arah hidup sambil diam-diam tersesat di dalam hidup sendiri.
“Aku belum tahu,” katanya.
Wirayuda menatapnya lama.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “masalah kita bukan investor.”
.
Siang itu Jayengrana membatalkan dua rapat.
Ia berjalan kaki.
Tindakan kecil yang hampir terasa radikal bagi seseorang yang sebelas tahun selalu mempunyai mobil menunggu.
Matahari Jakarta tidak mengenal belas kasihan.
Kemejanya mulai basah.
Di trotoar ia melewati pegawai bank, mahasiswa magang, ekspatriat, kurir, pedagang kopi, pegawai kementerian, eksekutif dengan earbuds, perempuan dengan sepatu olahraga yang membawa high heels dalam tas.
Berbagai kelas sosial bergerak di trotoar yang sama.
Masing-masing membawa kecemasan yang tidak terlihat.
Ia berhenti di depan sebuah gedung.
Dua puluh tujuh tahun lalu, di lokasi itu berdiri hotel tempat ia pernah bekerja.
Hotel itu sudah tidak ada.
Digantikan kompleks perkantoran berlapis kaca.
Di tempat yang kini menjadi lobby tower dahulu terdapat meja front office.
Di sanalah ia menerima promosi besar pertamanya.
Ia masih mengingat hari itu.
Gajinya naik.
Kartu namanya berubah.
Ia pulang membawa dua kotak martabak.
Rengganis masih kecil.
Ayahnya masih hidup.
“Senang?” tanya ayahnya.
“Tentu.”
“Terus?”
Jayengrana tertawa.
“Ya kerja lagi, Pak.”
Ayahnya ikut tertawa.
Kemudian mengatakan sesuatu yang saat itu terdengar biasa.
“Kalau setiap tujuanmu hanya menjadi tangga menuju tujuan berikutnya, kapan kamu akan sampai?”
Dua puluh tujuh tahun kemudian, kalimat itu akhirnya menemukan pemiliknya.
.
Malam itu Jayengrana tidak pulang ke apartemen.
Ia naik kereta menuju Malang.
Tanpa agenda.
Tanpa memberi tahu banyak orang.
Maktal mengantarnya ke stasiun.
“Jemput kapan, Pak?”
“Belum tahu.”
Maktal tersenyum.
“Bagus.”
“Apa yang bagus?”
“Sekali-sekali Bapak tidak tahu sesuatu tanpa panik.”
Pintu mobil tertutup.
Jayengrana berdiri membawa satu tas.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tidak ada orang menunggu di kota tujuan.
Aneh sekali.
Kebebasan kadang-kadang terasa hampir sama dengan kehilangan.
.
Kereta meninggalkan Jakarta.
Gedung mundur.
Gedung menjadi rumah.
Rumah menjadi pabrik.
Pabrik menjadi sawah.
Sawah menjadi gelap.
Jayengrana membuka laptop.
Menutupnya.
Membuka telepon.
Meletakkannya lagi.
Di kursi seberang lorong seorang mahasiswa membaca buku tebal.
Jayengrana memperhatikannya cukup lama.
“Buku apa?”
Anak itu menunjukkan sampul.
Manajemen.
“Kuliah?”
“Iya, Pak.”
“Semester?”
“Enam.”
“Mau jadi apa?”
Mahasiswa itu tertawa.
“Belum tahu.”
Jayengrana tersenyum.
“Bagus.”
Anak itu bingung.
“Kenapa bagus?”
“Umur dua puluh satu belum tahu mau jadi apa itu normal.”
“Kalau umur Bapak?”
Jayengrana tertawa.
“Lebih mahal akibatnya.”
Mereka tertawa bersama.
Beberapa menit kemudian mahasiswa itu bertanya,
“Bapak kerja apa?”
Pertanyaan sederhana.
Dahulu Jayengrana punya jawaban cepat.
General Manager.
CEO.
Consultant.
Advisor.
Sekarang ia melihat jendela.
Bayangannya mengambang di kaca.
“Saya sedang belajar memilih pekerjaan.”
Mahasiswa itu tertawa.
“Bapak baru lulus?”
Jayengrana mengangguk kecil.
“Kurang lebih.”
.
Malang menyambut dengan udara pagi yang dingin.
Dari stasiun ia menuju rumahnya di Batu.
Rumah itu dibeli delapan tahun lalu sebagai “rumah pensiun”.
Istilah yang selalu ia ucapkan sambil tertawa, seolah pensiun merupakan penyakit yang harus dicegah dengan vitamin, rapat, dan tiket pesawat.
Halaman penuh daun.
Pak Sastro, penjaga rumah, datang tergopoh.
“Lho, kok mendadak?”
“Supaya rumahnya enggak sempat pura-pura rapi.”
Mereka tertawa.
Pagi itu Jayengrana menyapu teras.
Pak Sastro melarang.
Ia tetap menyapu.
Ada kepuasan aneh melihat daun berpindah karena tangannya sendiri.
Tidak ada KPI.
Tidak ada dashboard.
Tidak ada investor.
Tidak ada yang perlu dibuatkan laporan.
Satu jam kemudian ia membuat kopi.
Gunung terlihat di kejauhan.
Kabut menggantung.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ia mendengar burung tanpa menjadikannya suara latar untuk conference call.
Telepon bergetar.
Rengganis.
“Ayah di mana?”
“Batu.”
“Hah?”
“Kabur.”
Putrinya tertawa.
“Dari siapa?”
Jayengrana melihat halaman.
“Dari ayahmu sendiri mungkin.”
Sunyi sebentar.
“Ayah baik-baik saja?”
Pertanyaan itu menusuk lebih dalam daripada seharusnya.
“Baik.”
“Bener?”
Jayengrana hendak memberikan jawaban otomatis.
Baik.
Seperti lelaki-lelaki dari generasinya yang diajari bahwa baik-baik saja adalah seragam yang harus tetap dikenakan bahkan ketika tubuh dan pikiran penuh luka.
Namun pagi itu ia mengatakan sesuatu yang hampir tidak pernah ia ucapkan.
“Ayah bingung.”
Sunyi lagi.
“Ayah?”
“Iya.”
“Bingung?”
“Iya.”
Kemudian Rengganis tertawa kecil.
Bukan mengejek.
Seperti lega.
“Finally.”
“Apa?”
“Finally Ayah jadi manusia.”
.
Sabtu siang Rengganis datang.
Membawa ransel, laptop dan dua bungkus rawon.
Usianya dua puluh tujuh tahun.
Lulusan komunikasi, sedang menyelesaikan program magister bisnis sambil mengembangkan platform pendidikan untuk pekerja hospitality muda.
Jayengrana pernah menawarkan modal.
Ia menolak.
“Kenapa?”
“Kalau pakai uang Ayah, nanti setiap keputusan aku dengar suara Ayah.”
Kalimat itu dulu membuat Jayengrana tersinggung.
Sekarang ia mulai memahami.
Mereka makan di teras.
Tidak ada restoran mahal.
Tidak ada wine.
Tidak ada percakapan tentang networking.
Hanya dua mangkuk rawon dan kerupuk yang sedikit melempem karena perjalanan.
“Ayah kenapa?”
Jayengrana menceritakan semuanya.
Singapura.
Doktor.
Foundation.
Advisory board.
Konsultasi.
Hotel.
Buku yang belum selesai.
Kelas yang ingin dibangun.
Keinginan pindah.
Ketakutannya meninggalkan Jakarta.
Ketakutan yang lebih besar: tidak lagi dibutuhkan.
Rengganis mendengarkan hampir empat puluh menit.
Kemudian bertanya,
“Ayah tahu masalahnya?”
“Makanya cerita sama kamu.”
“Ayah tidak kekurangan pilihan.”
“Terus?”
“Ayah kemaruk.”
Jayengrana meletakkan sendok.
“Apa?”
“Kemaruk.”
“Kurang ajar.”
Rengganis tertawa.
“Aku serius.”
“Kemaruk apa? Uang?”
“Bukan.”
“Properti?”
“Bukan.”
“Terus?”
Rengganis mengambil tisu.
Menggambar sebuah lingkaran.
“Ini hidup Ayah.”
Kemudian membuat garis ke enam arah.
“Ini semua kemungkinan Ayah.”
Ia menatap ayahnya.
“Ayah kemaruk kemungkinan.”
Jayengrana diam.
Rengganis menambah garis.
“Masih mau bisnis.”
Garis.
“Mau jadi konsultan.”
Garis.
“Mau menulis.”
Garis.
“Mau mengajar.”
Garis.
“Mau doktor.”
Garis.
“Mau investasi.”
Garis.
“Mau punya waktu buat keluarga.”
Garis.
“Mau hidup tenang.”
Garis lagi.
“Tapi masih mau dikenal.”
Jayengrana hendak menyela.
Rengganis mengangkat tangan.
“Belum selesai.”
Ia membuat garis terakhir.
“Dan Ayah ingin semuanya tetap terbuka.”
Jayengrana melihat tisu itu.
Seperti gambar matahari buruk buatan anak TK.
“Bukankah bagus punya banyak opsi?”
“Bagus.”
Rengganis mengambil pulpen lagi.
“Tapi pintu yang semuanya dibuka tidak otomatis membuat kita bebas.”
“Kenapa?”
“Karena akhirnya kita cuma berdiri di lorong.”
.
Berdiri di lorong.
Kalimat itu tinggal.
Mengikuti Jayengrana bahkan setelah percakapan mereka selesai.
Ia sadar itulah hidupnya selama beberapa tahun terakhir.
Tidak benar-benar berada di mana-mana.
Di Jakarta memikirkan Batu.
Di Batu memeriksa Jakarta.
Saat rapat ingin menulis.
Saat menulis merasa seharusnya mencari proyek.
Ketika bersama anak memikirkan pekerjaan.
Ketika bekerja menyesal tidak mempunyai waktu untuk anak.
Ketika punya uang ia menginginkan waktu.
Ketika punya waktu ia merasa bersalah karena tidak menghasilkan uang.
Saat menerima satu proyek, ia memikirkan proyek yang mungkin tidak ia ambil.
Saat menolak undangan, ia takut dilupakan.
Saat hadir dalam acara, ia bertanya mengapa datang.
Tubuhnya selalu hadir.
Pikirannya selalu berangkat lebih dahulu.
Barangkali ia memang kemaruk.
Bukan kepada makanan.
Bukan kepada harta.
Bukan pula kepada perempuan.
Ia kemaruk kepada kemungkinan.
Ingin memiliki terlalu banyak kehidupan dalam satu kehidupan.
Dan mungkin kelelahan manusia modern bukan semata karena terlalu banyak bekerja.
Melainkan karena terlalu banyak kehidupan yang berusaha dijalankan pada saat bersamaan.
.
Malam itu mereka berjalan di kompleks perumahan.
Lampu vila menyala.
SUV mahal berjajar.
Beberapa rumah kosong karena pemiliknya hanya datang akhir pekan.
Dari sebuah rumah terdengar tawa sekelompok orang.
Dari rumah lain terdengar piano.
“Ayah ingat waktu aku kelas lima?” tanya Rengganis.
Jayengrana selalu takut pada kalimat yang dimulai dengan Ayah ingat waktu aku…
Biasanya itu pintu menuju kesalahan orangtua.
“Kenapa?”
“Aku ikut lomba pidato.”
Jayengrana mengingat samar-samar.
“Ayah datang?”
“Datang.”
Ia lega.
“Tapi waktu aku pidato, Ayah teleponan di luar.”
Langkah Jayengrana melambat.
“Maaf.”
Rengganis menggeleng.
“Aku enggak sedang nagih.”
“Tetap saja.”
“Aku justru mau bilang sesuatu.”
Mereka berhenti.
“Aku dulu pikir Ayah enggak sayang.”
Dada Jayengrana mengeras.
“Tapi setelah kerja, aku ngerti.”
Rengganis memandangnya.
“Ayah bukan enggak sayang.”
Ia berhenti.
“Ayah cuma selalu berada di tempat lain di dalam kepala.”
Tidak ada kemarahan dalam suara itu.
Justru itulah yang menghancurkan sesuatu di dalam Jayengrana.
Ia melihat kembali kehidupannya seperti rangkaian film yang diputar terlalu cepat.
Makan malam sambil membaca email.
Liburan sambil conference call.
Ulang tahun sambil menjawab pesan owner.
Percakapan sambil melihat jam.
Pelukan sambil memikirkan pesawat.
Rumah sambil memikirkan hotel.
Hotel sambil memikirkan target.
Target tercapai sambil memikirkan target berikutnya.
Ia hadir dalam ribuan ruangan.
Namun berapa kali ia benar-benar berada di sana?
Matanya panas.
Rengganis pura-pura melihat jalan.
Memberikan ayahnya kesempatan mempertahankan sedikit harga diri lelaki generasi lama.
Jayengrana mengusap mata.
“Debu.”
Rengganis melihat aspal yang baru saja diguyur hujan.
“Banyak sekali debunya.”
Mereka tertawa.
Kemudian tanpa upacara, Rengganis menggandeng lengan ayahnya.
Seperti ketika kecil.
Dan malam itu Jayengrana memahami sesuatu yang tidak pernah tercantum dalam laporan tahunan mana pun:
kehilangan terbesar tidak selalu terjadi ketika seseorang pergi.
Kadang kehilangan terjadi ketika orang yang kita cintai masih berada di sebelah kita, tetapi pikiran kita terus-menerus berada di tempat lain.
.
Senin pagi Jayengrana membuat tabel.
Bukan business plan.
Bukan feasibility study.
Bukan proyeksi lima tahun.
Hanya tiga kolom.
HARUS.
BERARTI.
BISA DILEPASKAN.
Ia mulai menulis.
Kesehatan.
Rengganis.
Keluarga.
Keuangan dasar.
Masuk kolom pertama.
Mengajar.
Menulis.
Mentoring.
Membangun sekolah hospitality.
Proyek konsultasi yang benar-benar memberi dampak.
Masuk kolom kedua.
Kemudian tangannya berhenti.
Kolom ketiga ternyata paling sulit.
Karena manusia jauh lebih mudah menentukan apa yang diinginkannya daripada menentukan apa yang bersedia dilepaskannya.
Ia menulis:
Ekspansi dua belas hotel.
Diam.
Menghapusnya.
Menulis lagi.
Menghapus lagi.
Ia berdiri.
Membuat kopi.
Kembali duduk.
Kemudian menulis:
LEPASKAN.
Advisory board Singapura.
TIDAK SEKARANG.
Program doktor.
Ia menatap lama.
Kemudian menulis:
TUNDA SATU TAHUN. TANYAKAN KEMBALI: ILMU ATAU GELAR?
Ia tersenyum.
Ada rasa sakit kecil ketika menuliskannya.
Tetapi juga lega.
Untuk pertama kalinya ia mengerti:
menunda tidak selalu berarti takut.
Menolak tidak selalu berarti gagal.
Melepaskan tidak selalu berarti kalah.
Kadang-kadang semuanya justru merupakan bentuk tertinggi dari memilih.
.
Wirayuda datang ke Batu dua hari kemudian bersama Umarmaya.
“Jadi?”
“Kita tidak ambil ekspansi dua belas hotel.”
Wirayuda berdiri.
“Gila.”
“Mungkin.”
“Kamu sadar nilainya?”
“Sadar.”
“IRR?”
“Sadar.”
“Exit value?”
“Sadar.”
“Lalu kenapa?”
Jayengrana menuangkan kopi.
“Karena kita sedang membangun sesuatu yang lebih besar daripada kemampuan organisasi kita untuk tetap menjadi manusia.”
Wirayuda menepuk meja.
“Nah! Filsafat lagi.”
Jayengrana tertawa.
“Duduk dulu.”
Ia mengeluarkan dokumen lain.
Bukan dua belas hotel.
Empat.
Dua existing properties direposisi.
Satu hotel baru.
Dan satu training hotel.
Di bawahnya ada rencana akademi vokasi.
Program beasiswa.
Kerja sama SMK.
Management trainee.
Digital hospitality laboratory.
Leadership academy.
Wirayuda membaca.
Ekspresinya perlahan berubah.
“Kamu serius?”
“Sangat.”
“Return-nya lebih kecil.”
“Secara finansial.”
“Investor tidak membeli idealisme.”
“Cari investor yang membeli horizon sepuluh tahun.”
“Lebih susah.”
“Berarti kita harus bekerja lebih keras mencari orang yang tepat, bukan menerima uang yang salah.”
Umarmaya mengambil dokumen.
Membalik halaman demi halaman.
“Training hotel ini bisa jadi talent pipeline.”
Jayengrana mengangguk.
“Ya.”
“Intellectual property kurikulumnya bisa dilisensikan.”
“Ya.”
“Corporate training?”
“Ya.”
“Consulting?”
“Ya.”
“Executive education?”
“Bisa.”
Umarmaya tersenyum.
“Ini bukan proyek sosial.”
“Tidak.”
“Ini ekosistem.”
“Betul.”
Wirayuda melihat keduanya.
“Kalian sudah gila bersama rupanya.”
Jayengrana tersenyum.
“Belum.”
Ia menunjuk proposal.
“Kita baru berhenti kemaruk.”
.
Enam bulan kemudian sebuah bekas hotel bisnis di Malang mulai direnovasi.
Tidak besar.
Delapan puluh empat kamar.
Lantai dasar menjadi restoran sekaligus laboratorium pelayanan.
Lantai dua mempunyai ruang kelas.
Mahasiswa hospitality bekerja berdampingan dengan profesional.
Mereka belajar housekeeping.
Revenue management.
Food cost.
Salesmanship.
Digital marketing.
AI.
Financial literacy.
Service recovery.
Public speaking.
Leadership.
Entrepreneurship.
Sustainability.
Namun ada satu mata kuliah yang diwajibkan Jayengrana.
Namanya aneh.
MENJADI MANUSIA.
Tidak ada ujian tertulis.
Peserta harus menghabiskan waktu bersama petugas kebersihan, satpam, pengemudi, pedagang pasar, pekerja laundry, tamu lanjut usia, penyandang disabilitas, pedagang kaki lima dan pekerja layanan.
Mereka harus belajar mendengarkan.
Bukan menjawab.
Mendengarkan.
Pada kelas pertama seorang mahasiswa bertanya,
“Pak, apa hubungannya dengan hospitality?”
Jayengrana menjawab,
“Kalau kamu tidak sungguh-sungguh tertarik kepada manusia, jangan masuk bisnis yang hidup dari manusia.”
.
Bisnis itu tidak langsung sukses.
Tiga bulan pertama rugi.
Wirayuda mengirim emoji tengkorak setiap laporan bulanan keluar.
Bulan keempat mulai membaik.
Bulan keenam mendekati break-even.
Bulan kedelapan sebuah perusahaan nasional mengirim tiga puluh manajer untuk leadership retreat.
Tahun berikutnya dua grup hotel meminta lisensi kurikulum.
Sebuah politeknik menawarkan kerja sama.
Perusahaan teknologi ingin mengembangkan hospitality learning platform bersama mereka.
Investor yang dahulu menganggap konsep itu terlalu sentimental mulai bertanya apakah model tersebut dapat direplikasi.
Jayengrana tidak terburu-buru.
Itulah perubahan terbesar.
Dahulu setiap keberhasilan menjadi alasan untuk memperbesar.
Sekarang setiap keberhasilan menjadi alasan untuk memperdalam.
Dahulu pertanyaannya:
Seberapa besar kita bisa menjadi?
Sekarang:
Seberapa berguna kita bisa menjadi tanpa kehilangan diri sendiri?
.
Suatu Kamis sore ia mengajar.
Di papan tulis Jayengrana menulis:
FOCUS IS POWER.
Tiga puluh dua mahasiswa memandang.
“Siapa ingin sukses?”
Semua tangan naik.
“Siapa ingin kaya?”
Sebagian tertawa.
Hampir semua tangan tetap naik.
“Siapa ingin bahagia?”
Semua.
“Keluarga yang baik?”
Semua.
“Karier hebat?”
Semua.
“Bisnis sendiri?”
Banyak tangan.
“Travel?”
Tangan lagi.
“Personal branding?”
Tawa.
Tangan.
“Investasi?”
Tangan.
“Sehat?”
Semua.
“Punya waktu?”
Semua.
Jayengrana tersenyum.
“Bagus.”
Ia mengambil spidol merah.
Menulis semua keinginan itu di papan.
Uang.
Karier.
Keluarga.
Bisnis.
Gelar.
Perjalanan.
Reputasi.
Kesehatan.
Pengaruh.
Waktu.
Kebebasan.
Kemudian mencoret semuanya kecuali satu kata.
HIDUP.
Ruangan sunyi.
“Kalian boleh menginginkan semuanya.”
Ia meletakkan spidol.
“Tapi kalian tidak bisa menjalani semuanya pada waktu yang sama.”
Seorang mahasiswa mengangkat tangan.
“Jadi harus memilih, Pak?”
“Ya.”
“Kalau salah pilih?”
“Perbaiki.”
“Kalau menyesal?”
“Belajar.”
“Kalau kehilangan kesempatan?”
Jayengrana tersenyum.
“Kalian pasti kehilangan kesempatan.”
Mahasiswa itu terkejut.
“Lho?”
“Setiap pilihan adalah kematian kecil bagi kemungkinan lain.”
Ruangan diam.
“Itulah harga fokus.”
.
Jayengrana berjalan ke jendela.
Malang sedang hujan.
“Generasi kalian dibesarkan dalam ketakutan kehilangan kesempatan.”
Ia menulis:
FOMO.
“Semua harus dicoba.”
SIDE HUSTLE.
“Semua harus menghasilkan.”
PERSONAL BRAND.
“Semua harus terlihat.”
NETWORKING.
“Semua orang harus dikenal.”
INVESTMENT.
“Uang tidak boleh diam.”
EDUCATION.
“Gelar tidak boleh kurang.”
CONTENT.
“Kehidupan bahkan harus didokumentasikan supaya dianggap terjadi.”
Beberapa mahasiswa tertawa.
Merasa tertangkap.
“Semua itu tidak salah.”
Jayengrana memandang mereka.
“Yang salah adalah ketika kalian tidak lagi tahu mana alat dan mana tujuan.”
Ruangan kembali diam.
“Kalian punya tiga pekerjaan, tetapi tidak tahu ingin menjadi siapa.”
“Kalian punya seribu koneksi, tetapi tidak punya lima orang yang bisa ditelepon ketika hidup runtuh.”
“Kalian punya banyak followers, tetapi tidak tahu apakah ada yang benar-benar mengenal kalian.”
“Kalian punya investasi untuk masa depan, tetapi menghabiskan kesehatan yang dibutuhkan untuk menikmati masa depan itu.”
“Kalian memotret makan malam untuk dikenang, tetapi sepanjang makan malam tidak pernah benar-benar melihat orang yang duduk di depan kalian.”
Tak ada yang tertawa lagi.
“Akibatnya?”
Jayengrana menunjuk kepalanya.
“Tubuh kalian hidup di satu tempat.”
“Pikiran kalian tinggal di lima belas tempat.”
Ia mengambil spidol.
Menulis:
A DIVIDED MIND REACHES NOWHERE.
Di bawahnya:
PIKIRAN YANG TERBELAH TIDAK PERGI KE MANA-MANA.
“Ketika pikiran menarik kalian ke arah yang berlawanan, kalian merasa sangat sibuk.”
Ia berhenti.
“Padahal sebenarnya kalian diam.”
.
Di baris belakang, seorang mahasiswa bernama Menakjingga mengangkat tangan.
“Pak, Bapak sendiri pernah begitu?”
Jayengrana tertawa.
“Lama.”
“Berapa lama?”
“Hampir empat puluh tahun.”
Kelas tertawa.
“Terus bagaimana Bapak akhirnya menemukan fokus?”
Jayengrana tidak langsung menjawab.
Ia teringat Jakarta.
Lantai tiga puluh dua.
Dua laptop.
Satu tablet.
Puluhan notifikasi.
Seratus kemungkinan.
Ia teringat Rengganis.
Ayah cuma selalu berada di tempat lain di dalam kepala.
Ia teringat tisu di meja makan.
Garis-garis yang menuju ke segala arah.
Lalu ia berkata,
“Saya tidak menemukan fokus ketika mengetahui apa yang paling saya inginkan.”
Ia berhenti.
“Saya menemukannya ketika akhirnya berani menentukan apa yang rela saya tinggalkan.”
Tidak ada yang mencatat selama beberapa detik.
Kemudian hampir seluruh kelas menunduk.
.
Tiga tahun berlalu.
Pukul 05.17.
Jayengrana kembali berdiri di depan jendela.
Bukan lantai tiga puluh dua.
Rumah di Batu.
Kabut masih menutupi sebagian gunung.
Di meja hanya ada satu laptop.
Satu.
Ia membuka naskah buku yang hampir selesai.
Judul sementara:
JALAN YANG DIPILIH.
Di halaman pertama tertulis:
“Fokus bukan kemampuan mengatakan ya kepada satu tujuan. Fokus adalah keberanian mengatakan tidak kepada seribu gangguan yang menyamar sebagai kesempatan.”
Dari dapur terdengar suara.
Rengganis datang membawa dua cangkir kopi.
Ia sekarang memimpin unit pendidikan perusahaan.
Bukan karena ia anak pemilik.
Ia pernah menolak posisi itu dua kali.
Pada kali ketiga, dewan memilihnya melalui proses yang bahkan lebih keras daripada kandidat lain.
“Ayah belum mandi?”
“Belum.”
“Jam sembilan ada wisuda.”
“Ingat.”
“Speech sudah?”
“Belum.”
Rengganis menggeleng.
“Tipikal.”
“Ayah mau ngomong pendek.”
“Berapa menit?”
“Tujuh.”
“Standar tujuh menit Ayah itu dua puluh lima.”
Mereka tertawa.
.
Pukul sembilan, seratus delapan belas lulusan berdiri di halaman.
Tidak semuanya akan bekerja di hotel.
Ada yang masuk restoran.
Travel technology.
Airline.
Property management.
Bank.
Rumah sakit.
Event management.
Ada yang pulang untuk mengembangkan homestay keluarga.
Ada yang membuka kedai kopi.
Ada yang menjadi guru.
Ada pula yang memilih bekerja di kapal pesiar untuk mengumpulkan modal sebelum pulang.
Jayengrana berdiri di podium.
Di barisan depan duduk Wirayuda.
Rambutnya mulai beruban.
Umarmaya.
Maktal.
Pak Sastro.
Dan Rengganis.
Jayengrana membuka kertas pidato.
Kemudian menutupnya.
“Empat puluh tahun saya mengira karier adalah perjalanan naik.”
Semua diam.
“Naik jabatan.”
“Naik gaji.”
“Naik kelas hotel.”
“Naik nilai proyek.”
“Naik jaringan.”
“Naik reputasi.”
Ia tersenyum.
“Ternyata saya keliru.”
Angin Batu bergerak perlahan.
“Karier bukan sekadar perjalanan naik.”
Ia memandang wajah-wajah muda itu.
“Karier adalah perjalanan mendekat.”
Ia membiarkan pertanyaan muncul dalam kepala mereka.
“Mendekat kepada apa?”
Ia berhenti.
“Kepada diri yang akhirnya berani kalian pilih.”
.
Setelah acara seorang lulusan menghampirinya.
“Pak Jay.”
“Ya?”
“Saya dapat dua tawaran.”
“Selamat.”
“Yang satu perusahaan besar di Jakarta. Gajinya tinggi.”
“Bagus.”
“Yang satu hotel kecil di Labuan Bajo. Gajinya hampir separuh.”
“Bagus.”
“Bapak pilih mana?”
Jayengrana tertawa.
“Nah.”
“Apa, Pak?”
“Penyakit lama.”
“Maksudnya?”
“Kamu meminta orang lain memilih hidupmu.”
Anak itu tersipu.
“Terus caranya bagaimana?”
Jayengrana menunjuk dua kursi.
Mereka duduk.
“Jangan tanya mana yang lebih bagus.”
“Lalu?”
“Tanya: kamu sedang membangun apa dalam lima tahun ke depan?”
Anak itu berpikir.
“Kalau saya tahu itu?”
“Pilihanmu akan lebih sederhana.”
“Kalau dua-duanya menarik?”
“Pilih satu.”
“Yang lain?”
“Relakan.”
Anak itu diam.
“Sesederhana itu?”
“Tidak.”
Jayengrana tersenyum.
“Tapi memang sesulit itu.”
.
Sore turun.
Orang-orang pulang.
Kursi dibereskan.
Petugas kebersihan mengumpulkan botol air.
Jayengrana membantu mengangkat beberapa kursi.
Seorang staf berusaha mencegah.
“Pak, biar kami.”
Jayengrana tetap mengangkat.
“Kalau saya angkat kursi, jabatan saya turun?”
Staf itu tertawa.
“Tidak, Pak.”
“Nah.”
Rengganis melihat dari jauh.
Ada sesuatu yang berubah pada ayahnya.
Bukan karena ia meninggalkan bisnis.
Ia tidak meninggalkannya.
Perusahaan tetap menghasilkan uang.
Proyek tetap berjalan.
Investasi tetap ada.
Ia masih naik pesawat.
Masih masuk ruang rapat.
Masih membaca laporan.
Masih bernegosiasi.
Masih mengejar target.
Masih marah jika kualitas pelayanan buruk.
Tetapi bisnis sekarang mempunyai tempat di dalam hidupnya.
Bukan hidupnya yang tinggal di dalam bisnis.
Perbedaannya hanya satu kalimat.
Namun diperlukan empat puluh tahun untuk memahaminya.
.
Malam turun bersama hujan.
Jayengrana dan Rengganis duduk di teras.
Tidak banyak bicara.
Mereka melihat air jatuh dari ujung genteng.
Telepon Jayengrana berbunyi.
Ia melihat layar.
Pesan bisnis.
URGENT.
Dulu tubuhnya akan langsung menegang.
Ia akan menjawab.
Satu pesan menjadi lima.
Lima pesan menjadi panggilan.
Panggilan menjadi satu jam.
Satu jam menjadi satu malam.
Dan satu malam menjadi bagian kehidupan yang tidak pernah dapat dibeli kembali.
Jayengrana membaca nama pengirim.
Mematikan layar.
Meletakkan telepon terbalik.
Rengganis melihatnya.
“Urgent?”
“Mungkin.”
“Kok enggak dibalas?”
“Besok.”
“Wah.”
“Apa?”
“Progress.”
Mereka tertawa.
Hujan semakin deras.
.
“Ayah.”
“Hm?”
“Bahagia?”
Pertanyaan itu datang begitu saja.
Jayengrana tidak langsung menjawab.
Ia memandang halaman.
Pohon.
Lampu.
Hujan.
Anaknya.
Rumah.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada podium.
Tidak ada investor.
Tidak ada kamera.
Tidak ada orang penting.
Anehnya, ia tidak membutuhkan apa pun lagi untuk membuat malam itu terasa lengkap.
“Bahagia itu kata besar,” katanya.
“Terus?”
“Mungkin bukan bahagia.”
“Apa?”
“Hadir.”
Rengganis tersenyum.
“Bedanya?”
“Dulu Ayah punya banyak hal, tetapi selalu memikirkan yang belum Ayah punya.”
Ia memandang putrinya.
“Sekarang Ayah sedang belajar berada di tempat Ayah berada.”
Rengganis mengangguk.
Mereka kembali melihat hujan.
.
Di kejauhan, kota menyala.
Orang-orang masih bekerja.
Seseorang sedang mengejar promosi.
Seseorang sedang membuat proposal bisnis.
Seseorang sedang memulai usaha.
Seseorang sedang mengambil gelar kedua.
Seseorang sedang mengejar omzet.
Seseorang sedang membeli rumah.
Seseorang menjual rumah karena ingin rumah yang lebih besar.
Seseorang sedang mengejar pesawat.
Seseorang sedang meninggalkan pekerjaan.
Seseorang sedang membuka media sosial dan diam-diam bertanya mengapa kehidupan semua orang tampak lebih berhasil daripada hidupnya sendiri.
Tidak ada yang salah dengan semua itu.
Ambisi bukan dosa.
Uang bukan musuh.
Karier bukan kesia-siaan.
Pendidikan bukan kesombongan.
Bisnis bukan kerakusan.
Pencapaian bukan sesuatu yang harus dipermalukan.
Yang berbahaya adalah ketika manusia tidak lagi mengetahui untuk apa ia mengejar semuanya.
Ketika cukup selalu berada satu langkah setelah pencapaian berikutnya.
Ketika keberhasilan hari ini hanya menjadi alasan untuk merasa kurang besok pagi.
Ketika setiap pintu harus dibuka hanya karena pintu itu tersedia.
Ketika setiap undangan harus diterima karena takut tidak diundang lagi.
Ketika setiap peluang harus diambil karena takut orang lain mengambilnya.
Ketika setiap kemenangan harus segera disusul kemenangan berikut.
Barangkali di situlah kemaruk lahir.
Bukan ketika manusia mempunyai banyak.
Tetapi ketika ia tidak lagi mampu mengatakan:
cukup.
Sebab tanpa arah, kecepatan hanya membuat seseorang tersesat lebih jauh.
Dan tanpa keberanian memilih, banyak kesempatan hanya berubah menjadi banyak gangguan.
.
Jayengrana masuk ke ruang kerja.
Di atas meja ada bingkai foto tua.
Foto dirinya ketika masih muda.
Berseragam hotel.
Tubuh kurus.
Rambut masih lebat.
Senyumnya besar.
Wajah seorang lelaki yang merasa seluruh dunia sedang menunggu untuk ditaklukkan.
Ia membuka bingkai itu.
Di belakang foto terdapat tulisan tangan ayahnya.
Sudah puluhan tahun tidak dibaca.
Hanya enam kata.
Sing mlaku kudu ngerti sing dituju.
Orang yang berjalan harus tahu yang dituju.
Jayengrana duduk.
Matanya panas.
Hampir empat puluh tahun ia berjalan untuk akhirnya memahami enam kata.
Ia mengambil buku catatan.
Menulis:
Aku tidak menyesali jalan-jalan yang pernah kutempuh.
Berhenti.
Kemudian:
Aku hanya berharap dahulu aku lebih sering hadir ketika sedang menjalaninya.
Ia menatap kalimat itu.
Lalu menambahkan:
Dan aku terlalu lama mengira kemaruk adalah keinginan memiliki banyak benda. Ternyata aku sendiri kemaruk kepada kemungkinan—ingin menjadi semua versi diriku sekaligus.
Ia menutup buku.
Mematikan lampu.
.
Pagi berikutnya datang tanpa upacara.
Matahari muncul perlahan dari balik gunung.
Suara motor pedagang sayur terdengar dari jalan.
Jayengrana keluar rumah.
Tidak membawa telepon.
Tidak membawa laptop.
Tidak membawa agenda.
Hanya berjalan.
Di sebuah persimpangan kecil ia berhenti.
Jalan kiri menuju pusat kota.
Jalan kanan menuju kebun.
Dahulu ia mungkin akan berdiri lama.
Menimbang.
Membandingkan.
Menghitung jarak.
Mencari jalan alternatif.
Membuka peta.
Membaca review.
Bertanya jalan mana yang paling efisien.
Memastikan tidak kehilangan sesuatu di jalan lainnya.
Pagi itu tidak.
Ia memilih kanan.
Lalu berjalan.
Beberapa meter kemudian terdengar suara dari belakang.
“Ayah!”
Rengganis berlari kecil menyusul.
“Mau ke mana?”
Jayengrana menoleh.
Tersenyum.
“Jalan.”
“Ke mana?”
Ia menunjuk ke depan.
“Ke sana.”
Rengganis menyusul.
Mereka berjalan berdampingan.
Dan untuk sekali ini Jayengrana tidak memikirkan jalan yang tidak dipilih.
Tidak bertanya apakah jalan kiri lebih indah.
Tidak membayangkan siapa yang mungkin ditemuinya di sana.
Tidak memikirkan apa yang sedang terjadi di Jakarta.
Tidak membuka telepon.
Tidak menghitung langkah.
Tidak mengejar apa-apa.
Ia hanya berjalan.
Satu jalan.
Satu arah.
Satu pagi.
Satu kehidupan.
Utuh.
Di sebuah tikungan, matahari menerobos sela pepohonan.
Jayengrana berhenti.
Bukan karena ragu.
Ia hanya ingin melihat.
Benar-benar melihat.
Cahaya.
Daun yang basah.
Gunung.
Anaknya.
Pagi yang tidak meminta apa pun darinya.
Rengganis menatap ayahnya.
“Kenapa?”
“Enggak apa-apa.”
“Terus?”
Jayengrana tersenyum.
“Bagus saja.”
Mereka berjalan lagi.
Barangkali beginilah akhirnya manusia sampai.
Bukan ketika dunia berhenti menawarkan jalan-jalan baru.
Bukan ketika tidak ada lagi kesempatan.
Bukan ketika ambisi telah mati.
Bukan pula ketika rekening cukup besar untuk membeli ketenangan.
Manusia sampai ketika ia tahu jalan mana yang dipilih—
dan mempunyai keberanian untuk tidak terus-menerus menoleh kepada jalan yang dilepaskannya.
Sebab hidup tidak meminta kita menjadi semua hal.
Tidak pula mengalami semua hal.
Tidak memenangkan semua hal.
Hidup hanya meminta kita sungguh-sungguh hadir dalam bagian yang telah kita pilih.
Jayengrana berjalan semakin jauh.
Jalan kiri sudah tidak terlihat.
Dan anehnya, ia tidak merasa kehilangan.
Untuk pertama kalinya ia mengerti bahwa cukup bukan keadaan ketika seseorang telah mempunyai semuanya.
Cukup adalah saat seseorang tidak lagi merasa harus mempunyai semuanya.
Mungkin itulah lawan sebenarnya dari kemaruk.
Bukan kemiskinan.
Bukan kegagalan.
Bukan berhenti bercita-cita.
Melainkan kemampuan untuk berkata:
ini pilihanku.
ini jalanku.
ini hidupku.
dan ini cukup.
Rengganis menggandeng lengannya.
Mereka terus berjalan.
Jayengrana tidak menoleh lagi.
Sebab pagi itu, setelah hampir enam puluh tahun hidup, ia akhirnya mengetahui bahwa satu kehidupan ternyata sudah lebih dari cukup—
asal dijalani dengan utuh.
.
.
.
Malang, 12 September 2026
Jeffrey Wibisono V.
.
#Kemaruk #CerpenSastra #CerpenIndonesia #JeffreyWibisonoV #NamakuBrandku #FocusIsPower #FokusHidup #Hospitality #Leadership #Karier #Bisnis #Entrepreneurship #Pendidikan #Ambisi #RefleksiHidup #LifePurpose #WorkLifeBalance #PersonalBranding #HospitalityLeadership #RedefineReigniteReemerge
.
Kemaruk
“Kemaruk tidak selalu berarti ingin memiliki lebih banyak. Kadang kemaruk adalah ketidakmampuan melepaskan kemungkinan, karena kita ingin menjadi semua versi diri kita sekaligus.”
“Setiap pilihan adalah kematian kecil bagi kemungkinan lain. Itulah harga fokus—dan sekaligus harga sebuah kehidupan yang utuh.”
“Tidak semua kesempatan harus diambil. Sebagian datang hanya untuk menguji apakah kita benar-benar mengenal tujuan.”
“Kita tidak menemukan fokus ketika mengetahui semua yang kita inginkan. Kita menemukannya ketika berani menentukan apa yang rela kita tinggalkan.”
“Ambisi memberi kita tenaga untuk bergerak. Fokus memastikan tenaga itu tidak habis untuk berputar.”
“Bisnis harus mempunyai tempat di dalam kehidupan. Jangan sampai seluruh kehidupan justru tinggal di dalam bisnis.”
“Cukup bukan ketika kita telah mempunyai semuanya. Cukup adalah ketika kita tidak lagi merasa harus mempunyai semuanya.”
.
Pesan Cerita
Kemaruk bukan cerita tentang memusuhi ambisi, kekayaan, pendidikan, karier, bisnis ataupun pencapaian. Ia justru bercerita tentang kedewasaan dalam memilih.
Manusia modern dapat terjebak dalam bentuk kemaruk yang lebih halus: kemaruk peluang, gelar, jabatan, networking, investasi, eksistensi digital, pengakuan dan keinginan untuk terus relevan. Semuanya tampak positif sehingga kita tidak menyadari ketika hidup mulai terpecah ke terlalu banyak arah.
A divided mind reaches nowhere.
Pikiran yang terus ditarik ke arah berlawanan akhirnya menghabiskan energi bukan untuk bergerak maju, melainkan untuk berputar.
Karena itu fokus bukan sekadar teknik produktivitas.
Fokus adalah keberanian memilih kehidupan.
Dan setiap kehidupan yang benar-benar dipilih selalu menuntut keberanian lain yang lebih sulit:
merelakan kehidupan-kehidupan yang tidak kita pilih.