Home keluarga
Yang Diam-Diam Menulis Nasib Kita “Nasib jarang datang mengetuk pintu sebagai sebuah peristiwa besar. Ia lebih sering menyelinap sebagai sesuatu
“Kita tidak selalu kemaruk pada harta. Kadang kita kemaruk pada kemungkinan—ingin menjadi segalanya, memiliki semuanya, dan akhirnya tidak benar-benar hadir
“Tidak semua orang yang berjalan bersamamu sedang menuju tujuan yang sama. Sebagian hanya menunggu waktu yang tepat untuk berbelok, sementara
“Hidup orang kota sering tampak selesai dari luar: rumah rapi, kalender penuh, tubuh wangi, dan foto keluarga tersenyum. Padahal yang
“Nama bukan sekadar bunyi yang dipanggil orang lain. Ia adalah doa yang diam-diam menagih kita menjadi manusia yang lebih utuh.”
“Uang tidak pernah benar-benar menunjukkan siapa kita. Ia hanya menyorot, dengan lampu yang terlalu terang, apa yang diam-diam kita sembah.”