work-life balance

Nanti adalah cerpen reflektif tentang karier, keluarga, kesehatan dan makna cukup—ketika seorang pebisnis belajar bahwa keberhasilan membutuhkan kehadiran.

Nanti

“Kita terlalu sering berkata ‘nanti’ kepada orang-orang yang kita cintai, seolah-olah hidup pernah berjanji menyediakan hari esok.” . Senin pagi
Ia tidak kemaruk harta. Ia kemaruk kemungkinan. Ingin karier, bisnis, gelar, pengaruh, keluarga, ketenangan, dan tetap relevan—semuanya sekaligus. Sampai suatu hari anaknya berkata: “Ayah bukan kekurangan pilihan. Ayah cuma tidak berani melepaskan.”

Kemaruk

“Kita tidak selalu kemaruk pada harta. Kadang kita kemaruk pada kemungkinan—ingin menjadi segalanya, memiliki semuanya, dan akhirnya tidak benar-benar hadir