Home cerpen sastra
Yang Diam-Diam Menulis Nasib Kita “Nasib jarang datang mengetuk pintu sebagai sebuah peristiwa besar. Ia lebih sering menyelinap sebagai sesuatu
“Tidak semua kegagalan meminta kita kembali menang. Sebagian hanya meminta kita pulang sebagai manusia yang berbeda.” , Pukul 05.47 pagi,
“Kesempatan kedua bukanlah kesempatan untuk mengulang hidup yang sama. Ia datang agar kita berani memperbaiki sesuatu yang pada kesempatan pertama
“Kita tidak selalu kemaruk pada harta. Kadang kita kemaruk pada kemungkinan—ingin menjadi segalanya, memiliki semuanya, dan akhirnya tidak benar-benar hadir
“Ada lelaki yang dikenal dari tempat ia berdiri. Ada pula lelaki yang baru dikenali setelah orang-orang melihat sejauh apa ia
Satu guru, tiga jalan, dan pertanyaan yang tak pernah selesai. . “Seorang guru tidak pernah benar-benar meninggal.Ia hanya berhenti berbicara,