Ceritanya….

Siang ini saya harus berangkat untuk memenuhi panggilan tugas presentasi produk digital concierge yang harus saya expand jumlah penggunanya.
Di tengah ke-bisu-an saya di dalam mobil grab yang penuh kehangatan di siang hari yang rasanya seolah mencairkan gundul dan body saya, si Bli Driver yang kelihatannya belum berusia 40 tahun memecah kesunyian dengan pertanyaan “asli Jogja, pak?”
Saya tersenyum dan menjawab “tidak sama sekali”
Rupanya, si Bli Driver ini cerdas untuk melakukan ice-breaking. Dia melontarkan pertanyaan itu karena saya mengenakan baju bahan lurik Jogja, yang sengaja saya pilih dengan alasan bahannya adem dan cocok untuk temperatur udara dengan kelembaban super tinggi di Bali dalam seminggu terakhir ini. Atau bahkan sudah dua minggu-an.

Sambil mobil melaju dari Jimbaran ke Seminyak, sayapun bertanya ke Bli Driver “mengapa Bli Driver ambil pekerjaan ini?”
Jawabnya cukup spontan “Karena dari dulu, saya banyak bekerja di bidang transport. Tadinya saya adalah bagian dari lokal transport yang in-charge stand-by di Hotel Chain dekat pantai Muaya situ pak. Tapi karena sepi, saya sekarang ambil yang online saja”

Dalam pembicaraan lebih jauh, Bli Driver punya cerita tentang berbagai pekerjaannya. Rupanya Bli Driver ini adalah salah satu dari generasi pertama bisnis Wedding yang mulai merekah di tahun 2002. Pemiliknya orang Jepang. Bli Driver kolega salah satu teman saya yang adalah juga team pre-opening. Bli Driver bekerja di perusahaan Wedding Jepang itu sampai tahun 2007. Kemudian bergabung dengan perusahaan wedding lainnya. Hebatnya, Bli Driver ini adalah juga asisten salah satu fotographer termahal di Indonesia yang sekarang si maestro tersebut memilih beralih menekuni seni lukis.
Si Bli Driver ternyata sampai sekarang adalah seorang professional photografer, implant dengan salah satu travel agent yang menghendel tamu-tamu dari Cina, untuk foto Wedding di Nusa Lembongan.
Kejadian luar biasa ketika job fotografi Bli Driver padat, adalah pada saat momen kelahiran anak ketiga-nya. Bli Driver bilang, satu tangan pegang handphone, satunya pegang kamera, dapat berita dari istri kalau sudah buka-an tiga. Pada hari itu adalah hari kelahiran anaknya maju meleset dari perhitungan dokter, sedangkan Bli Driver sudah ada komitmen ambil job. Cilakak-nya pada hari itu tidak ada teman fotografer yang bisa menggantikannya. Semua penuh. Sehingga ketika pengambilan foto selesasi pukul 6 petang, Bli Driver langsung berangkat ke rumah sakit, dan pastinya anaknya sudah lahir.

Saat ini, dengan penuh rasa syukur, Bli Driver bilang “Banyak peluang pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan”. Sehingga, ketika job fotografi sepi, si Bli Driver mengambil pekerjaan lainnya. Salah satunya adalah menggunakan aplikasi transport online ini. Tidak pernah nganggur dan senang punya beberapa alternatif. Yang penting membuka diri, membuka wawasan dan network.

“Ndak penting dengan jabatan pak! Yang penting saya bisa mengerjakan pekerjaan dengan senang sesuai jadwal saya. Sebagian bisa untuk menggunakan waktu bersama keluarga dan tetap berpenghasilan cukup”

Buat saya inilah jawaban dari tuntutan zaman. Dengan teknologi yang semakin canggih, manusia secara emosi mengutamakan kenyamanan. Semua dengan cara masin-masing ingin berkembang menjadi individu pebisnis. No box, no career dan kebahagiaan adalah lebih utama dari uang penghasilannya.

Maka, untuk perusahaan-perusahaan konvensional, sudah waktunya menganalisa SDM nya. Apakah pola kerja dekade sebelumya masih bisa dijalankan, atau untuk beberapa fungsi pekerjaan sudah bisa bekerja dimana saja, jam berapa saja dan lebih mementingkan hasil produktifitas kerja atau result oriented istilah kerennya..

Yukz mari…, Silakan ….. wis wayahe kita mengakomodir generasi penerus kita mempunyai dan menjalankan dirinya untuk hidup No Career, Happiness Over Money!

 

Jeffrey Wibisono V.
Bali, 30 Oktober 2019