Superioritas
“Kita mulai menjadi kecil pada hari ketika merasa terlalu besar untuk mendengarkan.”
.
Senin, pukul 07.12.
Hujan baru saja selesai ketika Jayeng Pranata turun dari mobil di pelataran sebuah gedung di kawasan Kuningan.
Jakarta masih basah. Aspal memantulkan warna merah lampu rem, putih lampu gedung, dan langit September yang seperti belum selesai memutuskan apakah pagi itu akan terang atau kembali hujan.
Seorang petugas keamanan membungkukkan badan.
“Pagi, Pak Jayeng.”
“Pagi, Mas.”
Di trotoar, orang-orang berjalan cepat. Perempuan dengan sepatu olahraga menenteng heels dalam tas kertas. Lelaki berkemeja putih berlari kecil sambil memegang kopi. Dua pengemudi ojek daring berteduh di bawah kanopi. Seorang anak muda berbicara melalui earphone tentang target, presentasi, dan seseorang bernama Kevin yang belum mengirim revisi.
Jakarta memulai hari seperti biasanya:
tergesa-gesa.
Jayeng masuk ke lift.
Lantai dua belas.
Ketika pintu terbuka, ia mencium aroma kopi yang terlalu kuat dan pendingin udara yang terlalu dingin.
Di dinding resepsionis terpampang kalimat besar:
PEOPLE FIRST.
Jayeng selalu merasa kalimat itu indah.
Pagi itu, untuk pertama kalinya, ia merasa kalimat itu sedang menginterogasinya.
Sekretarisnya berdiri begitu melihatnya.
“Pak, Lamdahur menunggu.”
“Sepagi ini?”
“Katanya urgent.”
Jayeng melirik jam.
07.19.
“Suruh masuk lima menit lagi.”
Ia meletakkan tas.
Di atas mejanya sudah ada sebuah folder merah.
Tidak ada nama pengirim.
Hanya dua kata:
CONFIDENTIAL.
EMPLOYEE RELATIONS.
Jayeng duduk.
Membukanya.
Satu lembar.
Dua.
Tiga.
Sampai tujuh pengaduan.
Semua mengenai orang yang sama.
Maya Umarani.
Direktur Komersial.
Empat puluh dua tahun.
Delapan bulan bergabung dengan Arunika Living.
MBA dari Singapura. Pernah bekerja di dua perusahaan multinasional. Kariernya hampir selalu berhubungan dengan penjualan, pemasaran, pengembangan bisnis, dan restrukturisasi unit yang tidak mencapai target.
Di kalangan direksi, Maya dikenal memiliki satu kemampuan yang dikagumi sekaligus dibenci:
ia mampu menemukan angka yang tidak masuk akal di tengah presentasi lima puluh halaman.
Dan ia selalu bertanya.
“Kenapa?”
“Datanya dari mana?”
“Sudah diverifikasi?”
“Siapa yang bertanggung jawab?”
“Kalau targetnya tidak tercapai, tindakan koreksinya apa?”
“Kenapa masalah ini baru dilaporkan sekarang?”
Lalu pertanyaan yang paling tidak disukai banyak orang:
“Kalau memang tidak bisa, mengapa bulan lalu kita bilang bisa?”
Jayeng membaca pengaduan pertama.
Komunikasinya agresif.
Pengaduan kedua.
Tidak memberikan psychological safety.
Ketiga.
Terlalu demanding.
Keempat.
Sering membuat tim merasa tidak kompeten.
Kelima.
Sulit berkolaborasi.
Keenam.
Perfeksionis dan intimidating.
Ketujuh hanya beberapa paragraf.
Tetapi kalimat terakhir membuat Jayeng berhenti.
Maya menunjukkan toxic leadership behavior dan keberadaannya mulai mengganggu kesehatan organisasi.
Jayeng bersandar.
Toxic.
Aneh sekali, pikirnya.
Empat puluh dua tahun kehidupan seseorang dapat diringkas menjadi satu kata.
Ia menutup folder.
Ketukan terdengar.
“Masuk.”
Lamdahur muncul.
Lima puluh tahun. Kepala Human Capital. Kemeja biru, dasi abu-abu, wajah yang tampak tidak tidur cukup.
“Pagi, Pak.”
“Pagi. Duduk, Dahur.”
Lamdahur duduk.
“Sudah dibaca?”
“Sudah.”
“Kita harus melakukan sesuatu.”
“Setuju.”
Lamdahur tampak lega.
“Dua orang mempertimbangkan resign.”
“Karena Maya?”
“Katanya begitu.”
“Yang mengadu tujuh?”
“Iya.”
Jayeng mengetukkan telunjuknya pada folder.
“Yang saya ingin tahu bukan berapa orang yang mengadu.”
Lamdahur menatapnya.
“Lalu?”
Jayeng mendorong folder itu ke tengah meja.
“Saya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
.
Arunika Living bukan perusahaan terbesar di Indonesia.
Tetapi cukup besar untuk membuat seorang anak muda bangga menuliskannya di LinkedIn.
Perusahaan itu mengelola serviced residence, apartemen premium, restoran, coworking space, dan tiga hotel butik di Jakarta, Bandung, serta Yogyakarta.
Karyawannya hampir sembilan ratus.
Pendapatan tahunannya ratusan miliar rupiah.
Kantor pusatnya dirancang oleh konsultan interior terkenal: ruang kerja terbuka, coffee bar, tanaman hidup, perpustakaan kecil, meeting pods, ruang meditasi, dan dinding-dinding yang dipenuhi kata-kata mahal tentang manusia.
COLLABORATE TO GROW.
INNOVATION STARTS WITH YOU.
WE ARE FAMILY.
Setiap Jumat terakhir dalam sebulan ada town hall. Sesekali ada yoga. Ada kelas kesehatan mental. Ada leadership retreat di Bali. Para direktur berbicara tentang transformasi, agility, disruption, sustainability, digital ecosystem, dan entah berapa istilah bahasa Inggris lain yang membuat persoalan lama terdengar baru.
Namun seperti banyak keluarga, Arunika mempunyai hal-hal yang tidak pernah dibicarakan di meja makan.
Pertumbuhan mulai melambat.
Dua unit bisnis rugi.
Biaya mendapatkan pelanggan baru melonjak.
Salah satu restoran selalu penuh pada akhir pekan, tetapi average spending turun.
Proyek baru di Bandung terlambat enam bulan.
Ada vendor yang dipertahankan karena pemiliknya dekat dengan salah satu pejabat perusahaan.
Anggaran pemasaran digital naik hampir dua kali lipat, tetapi tidak seorang pun mampu menjelaskan dengan sederhana apakah uang itu benar-benar menghasilkan pelanggan baru.
Namun setiap rapat bulanan selalu menghasilkan kalimat yang kurang lebih sama:
“Masih manageable.”
“Masih sesuai koridor.”
“Sedang dilakukan mitigasi.”
“Perlu sedikit alignment.”
“Kita optimistis kuartal berikutnya membaik.”
Semua terdengar aman.
Sampai Maya datang.
Pada rapat direksi pertamanya delapan bulan lalu, Maya menampilkan satu grafik.
“Kita tidak sedang baik-baik saja.”
Direktur Keuangan mengangkat kepala.
Umarmadi, Direktur Operasional, menyandarkan tubuh.
Jayeng bertanya, “Kenapa?”
“Revenue tumbuh tiga persen.”
“Betul.”
“Inflasi berapa?”
Ruangan diam.
Maya mengganti grafik.
“Labor cost naik. Customer acquisition cost naik. Margin turun. Repeat customer turun. Revenue bertumbuh karena kita menaikkan harga.”
Ia menunjuk layar.
“Secara nominal kita tumbuh. Secara kesehatan bisnis kita mundur.”
Seseorang berdeham.
“Kita masih profitable.”
“Betul.”
Maya menatapnya.
“Pertanyaannya bukan apakah hari ini kita masih untung. Pertanyaannya, kalau pola ini diteruskan, berapa lama keuntungan itu bertahan?”
Itulah rapat pertama Maya.
Tidak ada yang bertepuk tangan.
Dan begitulah semuanya bermula.
Maya tidak pandai membuat kenyataan terdengar nyaman.
Ia seperti orang yang masuk ke ruang tamu yang rapi lalu menggeser sofa dan menunjukkan debu bertahun-tahun di bawahnya.
Masalahnya, manusia sering lebih marah kepada orang yang menunjukkan debu daripada kepada debu itu sendiri.
.
Selama seminggu Jayeng memanggil orang-orang.
Satu per satu.
Tidak ada sidang.
Tidak ada rekaman.
Ia hanya menyediakan kopi, menutup pintu, kemudian bertanya:
“Apa yang terjadi?”
Orang pertama, seorang marketing manager, berkata, “Saya takut kalau presentasi, Pak.”
“Kenapa?”
“Bu Maya selalu menemukan kesalahan.”
“Kesalahan seperti apa?”
“Angka.”
“Angkanya memang salah?”
Perempuan itu terdiam.
“Kadang.”
“Seberapa sering?”
“Lumayan.”
Jayeng mencatat.
“Kalau angkanya benar, apakah dia tetap menyerang?”
“Tidak.”
“Pernah menghina fisik? Keluarga? Agama? Gender?”
“Tidak pernah.”
“Pernah mengancam?”
“Tidak.”
“Jadi apa yang membuat kamu takut?”
Perempuan itu lama menjawab.
“Cara dia membuat saya merasa tidak cukup baik.”
Jayeng berhenti menulis.
Orang kedua mengatakan Maya pernah mempermalukannya di depan delapan orang.
“Apa yang dikatakan?”
“Proposal saya tidak layak dibawa ke klien.”
“Proposalnya akhirnya dibawa?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Budget-nya salah.”
“Berapa?”
Hening.
“Lumayan besar.”
Orang ketiga masuk.
Perempuan muda.
Baru tiga tahun bekerja.
Ia menangis sebelum menyelesaikan cerita.
“Bu Maya pernah bilang, ‘Kalau kualitas pekerjaan seperti ini terus, saya tidak mengerti untuk apa perusahaan membayar posisi Anda.’”
Jayeng meletakkan pena.
“Di depan orang lain?”
“Iya.”
“Bagaimana perasaanmu?”
Perempuan itu menyeka mata.
“Seperti orang bodoh.”
Kalimat itu tinggal di kepala Jayeng.
Seperti orang bodoh.
Bukan bodoh.
Merasa bodoh.
Ada perbedaan besar.
Tetapi luka tidak selalu peduli pada perbedaan tata bahasa.
Malamnya, di rumah, Jayeng membuka kembali laporan kinerja.
Istrinya sudah tidur.
Anak sulungnya mengambil master di Melbourne. Anak keduanya bekerja di perusahaan teknologi di Jakarta dan hanya pulang pada akhir pekan.
Rumah di Pondok Indah yang dahulu terasa terlalu kecil ketika anak-anak masih berlarian kini terasa seperti hotel yang kehilangan tamu.
Pukul 23.48.
Jayeng membuka dashboard.
Tim Maya:
pertumbuhan pendapatan tertinggi.
Corporate accounts naik.
Biaya akuisisi turun.
Pipeline penjualan membaik.
Forecast accuracy meningkat.
Receivables lebih terkendali.
Ia membuka laporan turnover.
Nol.
Jayeng mengernyit.
Tujuh pengaduan ternyata sebagian besar bukan dari bawahan langsung Maya.
Mereka berasal dari departemen yang harus bekerja dengannya.
Ia mengambil buku catatan.
Menulis:
Apakah Maya memang racun?
Ia menatap pertanyaan itu.
Kemudian mencoretnya.
Pertanyaan itu terlalu mudah.
Ia menggantinya:
Perilaku apa yang salah?
Lalu:
Kinerja apa yang benar?
Lalu:
Apa yang gagal dilakukan sistem?
Jayeng memandang tiga pertanyaan itu.
Ia teringat dirinya ketika berusia tiga puluh lima.
Ambisius.
Mudah marah.
Merasa bahwa orang yang bekerja lambat berarti tidak memiliki komitmen.
Pernah suatu malam ia membuat stafnya bekerja sampai pukul dua pagi hanya karena presentasi untuk pemegang saham harus terlihat sempurna.
Ketika selesai, ia pulang dengan perasaan bangga.
Bertahun-tahun kemudian ia baru mengetahui bahwa malam itu anak stafnya sedang demam tinggi.
Lelaki itu tidak berani meminta izin.
Jayeng tidak pernah melupakannya.
Kadang-kadang superioritas tidak datang dalam bentuk kesombongan.
Ia datang dalam bentuk keyakinan bahwa urusan kita selalu lebih penting daripada urusan orang lain.
Jayeng menulis lagi:
Kompetensi tidak memberi seseorang izin untuk merendahkan manusia.
Di bawahnya:
Tetapi ketidaknyamanan juga tidak otomatis membuktikan seseorang toxic.
Ia menutup buku.
Di antara dua kalimat itulah persoalan sebenarnya berada.
.
Maya tinggal sendirian di sebuah apartemen di Senopati.
Bukan karena hidupnya kosong.
Ia hanya terlalu lama belajar bahwa hidup dapat dijalani tanpa meminta terlalu banyak bantuan.
Ayahnya meninggal ketika Maya berusia tujuh belas.
Serangan jantung.
Tidak ada persiapan.
Tidak ada asuransi yang cukup.
Yang tersisa adalah rumah sederhana di Madiun, sedikit tabungan, seorang ibu, dan tiga anak.
Ibunya guru matematika.
Gajinya tidak besar.
Disiplinnya luar biasa.
Maya belajar dengan beasiswa.
Ketika teman-temannya merayakan kelulusan dengan perjalanan ke Bali, Maya pulang membantu ibunya.
Ketika memperoleh bonus pertama, ia tidak membeli tas.
Ia membayar utang keluarga.
Ketika mendapat promosi, ia membiayai kuliah adiknya.
Ketika memperoleh penugasan ke Bangkok, sebagian besar uang sakunya ditabung untuk merenovasi rumah ibunya.
Ketika teman-temannya mulai mengunggah foto keluarga kecil mereka, Maya sedang mengejar pesawat dari Singapura ke Jakarta untuk presentasi pukul sembilan pagi.
Ia tidak pernah menganggap dirinya berkorban.
Ia hanya hidup dengan satu keyakinan:
kalau hidup tidak memberi kita kemudahan, kita harus menjadi lebih kuat daripada kesulitan itu.
Sayangnya, kekuatan yang menyelamatkan seseorang pada suatu masa dapat melukai orang lain pada masa berikutnya.
Maya keras.
Bukan hanya kepada orang.
Terutama kepada dirinya sendiri.
Kesalahan kecil membuatnya sulit tidur.
Kegagalan terasa seperti penghinaan.
Dan ketika menemukan pekerjaan yang menurutnya ceroboh, sesuatu dalam dirinya seperti kembali menjadi anak tujuh belas tahun yang melihat ibunya menghitung uang belanja sampai lembar terakhir.
Ia tidak berteriak.
Justru itu yang membuat orang takut.
Suaranya menjadi tenang.
“Ini sudah dicek?”
“Sudah, Bu.”
“Kalau sudah dicek, mengapa salah?”
Tidak ada makian.
Tidak ada bentakan.
Tetapi kalimat itu mampu membuat seseorang mempertanyakan seluruh harga dirinya.
Suatu sore, Maktal, Digital Marketing Manager berusia tiga puluh satu tahun, keluar dari ruang rapat dan masuk toilet.
Ia mengunci pintu.
Menangis.
Lima belas menit.
Kemudian mencuci muka.
Memandang dirinya di cermin.
Ia sudah menikah. Punya anak perempuan berusia tiga tahun. Cicilan rumah di Bintaro. Mobil Jepang yang tinggal dua tahun lagi lunas. Setiap bulan mengirim uang kepada orang tuanya di Solo.
Hidup kelas menengah Jakarta yang tampak mapan sering sebenarnya hanyalah susunan kewajiban yang tidak boleh roboh.
Maktal tidak punya kemewahan untuk resign karena marah.
Ia harus tetap bekerja.
Tadi Maya berkata:
“Kita menghabiskan empat ratus juta rupiah untuk campaign ini. Jangan datang membawa jumlah impressions dan likes. Saya tidak membeli tepuk tangan. Saya ingin conversion.”
Maktal tahu Maya benar.
Itulah yang paling menyakitkan.
Karena mengetahui seseorang benar tidak otomatis membuat cara orang itu memperlakukan kita menjadi benar.
Di dunia kerja, pesan yang sangat penting kadang mati karena cara menyampaikannya membuat orang terlalu terluka untuk mendengar.
.
Jayeng mengajak Maya makan siang.
Bukan di restoran Jepang tempat mereka biasa menjamu investor.
Bukan pula di restoran Italia hotel bintang lima tempat direksi sering berbicara tentang efisiensi sambil memesan air mineral seharga makan siang staf.
Jayeng memilih warung soto di belakang gedung.
Maya tertawa ketika melihatnya.
“Serius?”
“Kenapa?”
“Saya pikir saya mau dipecat.”
Jayeng berhenti menarik kursi.
“Kenapa berpikir begitu?”
“HR sudah wawancara orang.”
Jayeng tidak menjawab.
Dua mangkuk soto datang.
Hujan turun.
Jakarta berubah kelabu.
“Maya.”
“Ya.”
“Kamu tahu orang takut sama kamu?”
Sendok Maya berhenti.
“Ya.”
“Dan kamu membiarkannya?”
“Saya tidak bangga.”
“Bukan pertanyaan saya.”
Maya meletakkan sendok.
“Saya lebih takut melihat perusahaan ini gagal daripada melihat orang tidak menyukai saya.”
“Dua hal itu bukan pilihan biner.”
Maya diam.
“Proyek Bandung,” katanya kemudian. “Bapak tahu kenapa terlambat?”
“Vendor.”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Tidak ada yang berani mengatakan keputusan awal kita salah.”
Jayeng menatapnya.
Maya mengambil telepon dan menunjukkan beberapa surel.
“Enam bulan lalu orang-orang sudah tahu kontraktor utama bermasalah. Tapi setiap dibawa ke rapat, bahasanya diperhalus.”
Ia membaca.
“Ada sedikit challenge.”
Geser.
“Timeline memerlukan adjustment.”
Geser.
“Masih dalam proses mitigasi.”
Maya meletakkan telepon.
“Tidak ada yang berani mengatakan kalimat paling sederhana: kita salah memilih kontraktor.”
Hujan semakin keras.
“Dan kamu pikir caramu adalah jawabannya?”
Maya diam.
“Menekan orang?”
“Tidak.”
“Mempermalukan?”
“Saya tidak bermaksud mempermalukan.”
“Bukan soal maksud.”
Maya menatap Jayeng.
“Leadership tidak hanya dinilai dari niat kita. Ia juga dinilai dari apa yang dialami orang lain karena cara kita memimpin.”
Wajah Maya berubah.
“Ada staf menangis setelah rapat denganmu.”
Maya menelan ludah.
“Saya tidak tahu.”
“Sekarang kamu tahu.”
Suara hujan memukul atap seng bagian belakang warung.
Seorang pengemudi ojek berlari mencari tempat berteduh.
Maya berkata pelan, “Saya akan dipecat?”
Jayeng menggeleng.
“Saya belum selesai mencari tahu.”
“Kenapa?”
“Karena saya menemukan sesuatu yang lain.”
Maya menunggu.
“Tim kamu punya performa terbaik.”
Tidak ada kemenangan di wajah Maya.
“Sebagian orang yang mengeluhkanmu juga punya persoalan kinerja yang nyata.”
Maya mengembuskan napas.
“Jadi?”
“Kita punya dua kebenaran yang tidak menyenangkan.”
“Apa?”
“Kamu benar tentang standar.”
Jayeng berhenti.
“Mereka benar tentang caramu.”
Maya memandang mangkuk soto.
“Pak, saya dibesarkan seperti ini.”
“Seperti apa?”
“Ibu saya guru matematika.”
Kemudian cerita itu keluar.
Rumah di Madiun.
Ayah.
Beasiswa.
Nilai sembilan.
“Kalau dapat sembilan, Ibu selalu bertanya: yang satu ke mana?”
“Dan kamu membencinya?”
“Dulu.”
“Sekarang?”
“Saya berterima kasih.”
Jayeng mengangguk.
“Bagus.”
Maya tampak lega.
Tetapi Jayeng melanjutkan.
“Namun jangan terlalu cepat mengubah semua luka masa lalu menjadi kebijaksanaan.”
Maya mengangkat kepala.
“Maksud Bapak?”
“Kadang-kadang kita mengulangi luka yang pernah kita terima karena terlalu lama menyebutnya pendidikan.”
Maya membeku.
Hujan terus turun.
“Tidak semua yang membuatmu kuat harus kamu wariskan kepada orang lain, Maya.”
Untuk pertama kalinya sejak bergabung dengan Arunika, Maya tidak punya jawaban.
Dan mungkin, pikir Jayeng, di situlah pendidikan seorang pemimpin benar-benar dimulai:
bukan ketika ia menemukan jawaban baru,
melainkan ketika jawaban lama tidak lagi cukup.
.
Seminggu kemudian, seluruh direksi berkumpul.
Jayeng berdiri di depan papan tulis.
Ia menulis satu kata:
TOXIC.
Lalu satu lagi:
DEMANDING.
“Bedanya?”
Umarmadi menjawab, “Yang satu merusak. Yang satu menuntut.”
“Bagus.”
Jayeng membuat garis vertikal.
KOMPETENSI.
Kemudian garis horizontal.
PERILAKU.
Empat kotak terbentuk.
“Orang kompeten dengan perilaku sehat.”
Ia menunjuk kotak pertama.
“Ini yang kita inginkan.”
Kotak kedua.
“Kompeten, tetapi perilakunya merusak.”
Ia tidak melihat Maya.
Semua orang justru melihat Maya.
Kotak ketiga.
“Belum kompeten, tetapi punya sikap dan kemauan belajar.”
Kotak keempat.
“Tidak kompeten, perilakunya merusak, dan menolak berkembang.”
Jayeng meletakkan spidol.
“Selama ini kita mencampur semuanya.”
Ia berjalan perlahan.
“Orang yang menantang pendapat dianggap sulit. Orang yang bertanya dianggap tidak kooperatif. Orang yang menolak angka palsu dianggap tidak suportif. Orang yang menuntut standar disebut toxic.”
Beberapa kepala mengangguk.
“Tapi kita melakukan kesalahan sebaliknya juga.”
Ia menatap Maya.
“Kita memaafkan perilaku buruk ketika pelakunya menghasilkan uang.”
Ruangan hening.
“Dua-duanya salah.”
Jayeng menulis:
HASIL TINGGI BUKAN LISENSI UNTUK MELUKAI.
Di bawahnya:
RAMAH BUKAN PENGGANTI KOMPETENSI.
“Kita tidak sedang membangun taman kanak-kanak tempat semua orang harus selalu senang.”
Beberapa orang tersenyum.
“Tapi kita juga tidak sedang membangun gladiator arena.”
Ia menutup spidol.
“Bisnis membutuhkan hasil. Manusia membutuhkan martabat.”
Jayeng memandang mereka satu per satu.
“Mulai sekarang jangan gunakan kata toxic kalau tidak bisa menjelaskan perilakunya.”
Ia menunjuk papan.
“Perilaku apa? Kapan? Dalam konteks apa? Dampaknya apa? Sudah pernah diberi feedback? Ada pola atau hanya satu kejadian?”
Lalu:
“Dan kalau masalahnya kinerja, katakan kinerja. Jangan menyebut orang malas kalau KPI-nya sendiri tidak pernah jelas.”
Seseorang mencatat.
“Kita berhenti mengadili karakter.”
Jayeng menarik kursinya.
“Kita memperbaiki perilaku. Kita mengembangkan kompetensi. Dan kalau setelah diberi kesempatan seseorang tetap memilih merusak, kita berani mengambil keputusan.”
Maya menatap papan.
Untuk pertama kalinya ia melihat dirinya bukan sebagai terdakwa.
Melainkan sebagai manusia yang perlu belajar.
Perbedaannya sangat besar.
.
Audit dimulai.
Bukan audit terhadap Maya.
Terhadap seluruh organisasi.
Hasilnya jauh lebih menyakitkan daripada tujuh pengaduan.
Ada manajer yang dua tahun memperoleh nilai meets expectation, meski enam dari sembilan KPI tidak tercapai.
Ada proyek terlambat empat bulan yang dalam laporan ditulis sebagai timeline realignment.
Ada anggaran pemasaran ratusan juta yang keberhasilannya diukur dari jumlah likes.
Ada vendor yang kualitasnya menurun tetapi kontraknya terus diperpanjang karena “sudah lama kenal”.
Ada rapat tiga jam tanpa keputusan.
Ada manajer yang selalu mengatakan “siap” tetapi hampir tidak pernah selesai tepat waktu.
Ada bawahan yang setiap hari lembur bukan karena pekerjaan terlalu banyak, melainkan karena atasannya tidak mampu menentukan prioritas.
Ada pula pimpinan yang bangga mengatakan timnya seperti keluarga, tetapi menelepon staf pada hari Minggu untuk pekerjaan yang sebenarnya bisa menunggu Senin.
Dan ada laporan dua puluh tujuh halaman yang pada dasarnya hanya mengatakan:
target tidak tercapai.
Kegagalan rupanya bisa terlihat sangat profesional jika dibungkus PowerPoint.
Maya membaca laporan itu.
Aneh.
Ia tidak merasa menang.
Justru takut.
Karena akhirnya ia memahami sesuatu:
selama ini ia melawan penyakit yang benar dengan obat yang salah.
Perusahaan memang membutuhkan keberaniannya.
Tetapi keberanian tanpa empati dapat berubah menjadi kekerasan.
Standar tanpa pendidikan berubah menjadi intimidasi.
Target tanpa pendampingan hanya melahirkan ketakutan.
Dan kompetensi, ketika tidak lagi bersedia mendengarkan, berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya.
Superioritas.
Malam itu Maya menelepon ibunya.
“Bu.”
“Lho, kok malam-malam?”
“Belum tidur?”
“Orang tua tidur cepat, bangunnya cepat.”
Maya tertawa.
Kemudian diam.
“Bu.”
“Hm?”
“Dulu kalau nilai Maya sembilan, kenapa Ibu selalu tanya yang satu ke mana?”
Ibunya tertawa kecil.
“Kamu masih ingat?”
“Ingat.”
“Marah?”
“Dulu.”
“Sekarang?”
Maya melihat Jakarta dari jendela apartemen.
“Entahlah.”
Di ujung sana terdengar televisi.
Kemudian ibunya berkata pelan:
“Maaf.”
Maya tidak siap mendengar kata itu.
“Kenapa Ibu minta maaf?”
“Ibu dulu juga tidak tahu cara mendidik anak.”
Maya menggigit bibir.
“Orang tua tidak otomatis pintar hanya karena punya anak, Nduk.”
Maya menutup mata.
“Ibu cuma takut kalian hidup susah.”
Air mata mulai turun.
“Makanya Ibu keras.”
“Saya tahu.”
“Kadang mungkin terlalu keras.”
Maya tidak menjawab.
Ibunya bertanya, “Kamu kenapa?”
“Kayaknya Maya juga terlalu keras sama orang.”
“Ya diperbaiki.”
Maya tertawa sambil menangis.
“Sesederhana itu?”
“Mau serumit apa?”
“Umur Maya sudah empat puluh dua.”
“Memangnya belajar ada tanggal kedaluwarsanya?”
Maya tertawa lagi.
Sebelum telepon ditutup, ibunya memanggil.
“Maya.”
“Ya?”
“Standar tinggi itu baik.”
Maya menunggu.
“Tapi jangan sampai orang lain harus kamu kecilkan supaya kamu merasa tinggi.”
Telepon berakhir.
Maya tetap duduk.
Di luar sana jutaan lampu menyala.
Jutaan rumah.
Jutaan keluarga.
Jutaan anak yang suatu hari mungkin membawa cara orang tuanya mencintai, mendidik, memarahi, dan menakuti mereka ke ruang-ruang rapat.
Maya membuka laptop.
Membuat dokumen baru.
Judulnya:
THINGS I NEED TO UNLEARN.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, daftar yang ia buat bukan mengenai apa yang masih harus dikuasai.
Melainkan apa yang harus dilepaskan.
.
Senin pagi.
Maya mengumpulkan tim.
Dua puluh tiga orang.
Tidak ada presentasi.
Tidak ada dashboard.
Tidak ada grafik.
Tidak ada target.
Maya berdiri.
Tangannya dingin.
“Saya mau bicara.”
Beberapa wajah langsung tegang.
Maya tersenyum.
“Saya tahu. Kalau saya mulai seperti itu biasanya ada yang salah.”
Tawa kecil.
Ketegangan turun sedikit.
“Saya baru belajar sesuatu.”
Ia berhenti.
“Saya selama ini berpikir pekerjaan saya memastikan kita mencapai standar tertinggi.”
Semua mendengarkan.
“Saya masih percaya itu.”
Ketegangan kembali.
“Tapi saya salah dalam satu hal.”
Sunyi.
“Saya pikir selama maksud saya benar, cara saya tidak terlalu penting.”
Maktal menatapnya.
“Saya salah.”
Dua kata.
Tanpa alasan.
Tanpa tetapi.
“Saya pernah mempermalukan orang dalam rapat. Saya pernah mengatakan sesuatu yang membuat orang merasa bodoh. Saya terlalu cepat menilai kesalahan sebelum bertanya apa yang sebenarnya terjadi.”
Suaranya bergetar.
“Untuk itu saya minta maaf.”
Seorang staf menunduk.
Maktal menggigit bibir.
“Tapi ada satu hal yang juga harus saya sampaikan.”
Semua kembali tegang.
“Target kita tidak diturunkan.”
Beberapa orang tersenyum.
“Standar kita tidak dibuat lebih mudah.”
Maya berjalan ke tengah ruangan.
“Tapi mulai sekarang saya tidak hanya akan bertanya mengapa kalian gagal mencapainya.”
Ia melihat mereka.
“Saya akan bertanya apa yang harus saya lakukan sebagai pemimpin supaya kalian mampu mencapainya.”
Sesuatu berubah di ruangan itu.
Sangat kecil.
Tetapi terasa.
Selama ini kalimatnya adalah:
Kalian harus lebih baik.
Pagi itu berubah menjadi:
Saya harus membantu kalian menjadi lebih baik.
Barangkali perbedaan antara bos dan pemimpin memang hanya beberapa kata.
Tetapi bagi orang yang bekerja di bawahnya, beberapa kata dapat mengubah seluruh dunia.
.
Tiga minggu kemudian Maktal membuat kesalahan lagi.
Campaign nasional.
Nilainya hampir enam ratus juta rupiah.
Conversion jauh di bawah proyeksi.
Dalam kehidupan Maya yang lama, rapat akan dimulai dengan:
“Siapa yang membuat forecast ini?”
Pagi itu ia duduk.
Melihat layar.
Lalu bertanya:
“Apa yang kita pelajari?”
Maktal sempat mengira ia salah dengar.
“Maaf, Bu?”
“Apa yang kita pelajari?”
Maktal menjelaskan.
Targeting terlalu luas.
Landing page lambat.
Segmentasi keliru.
Pesan kampanye tidak cukup berbeda.
“Solusinya?”
“Kami matikan dua ad set. Budget dialihkan ke retargeting. Landing page diperbaiki malam ini.”
“Kapan hasilnya terlihat?”
“Empat puluh delapan jam.”
“Lakukan.”
Maktal hendak duduk.
“Maktal.”
“Ya, Bu?”
“Forecast-mu tetap jelek.”
Ruangan tertawa.
Maya ikut tertawa.
“Tapi sekarang kamu tahu kenapa.”
“Ya.”
“Jangan ulangi.”
“Siap.”
Dua hari kemudian conversion membaik.
Seminggu kemudian campaign itu menjadi salah satu yang terbaik tahun tersebut.
Namun perubahan yang lebih penting terjadi setelah rapat.
Maktal mengetuk pintu ruang Maya.
“Bu.”
“Ya?”
“Saya mau ngomong.”
“Silakan.”
Maktal berdiri.
“Dulu saya benci Ibu.”
Maya mengangkat alis.
“Pembukaan yang menjanjikan.”
Maktal tertawa gugup.
“Saya serius.”
“Saya juga.”
“Saya pernah mau resign.”
Maya tidak tertawa lagi.
“Kenapa tidak jadi?”
“Anak saya masih kecil. Cicilan rumah. Orang tua.”
Ia tersenyum pahit.
“Kelas menengah tidak punya kemewahan untuk resign secara dramatis, Bu.”
Maya menunduk.
Kalimat itu menusuk.
“Maaf.”
“Tapi saya juga banyak belajar dari Ibu.”
“Jangan berhenti di situ.”
Maktal bingung.
“Kalau saya salah, bilang.”
“Serius?”
“Serius.”
“Kalau Ibu marah?”
“Ya risiko.”
Mereka tertawa.
Kemudian Maya berkata:
“Organisasi sehat bukan organisasi tanpa konflik, Tal.”
“Terus?”
“Organisasi sehat adalah tempat orang bisa berbeda tanpa kehilangan martabat.”
Maktal mengangguk.
Ia hendak pergi.
“Maktal.”
“Ya?”
“Terima kasih dulu tidak resign.”
Maktal tersenyum.
“Gajinya lumayan, Bu.”
Maya melempar pulpen.
Tawa mereka terdengar sampai luar.
Dan untuk pertama kalinya orang-orang di lantai dua belas mengetahui bahwa suara dari ruang Maya tidak selalu berarti seseorang sedang dimarahi.
.
Perubahan Arunika tidak dilakukan melalui poster baru.
Jayeng sudah terlalu lama bekerja untuk percaya bahwa budaya perusahaan bisa diperbaiki dengan mengganti kalimat di dinding.
Mereka mengubah sistem.
Feedback 360 derajat.
Leadership coaching.
KPI yang jelas.
Evaluasi bukan hanya berdasarkan what you deliver, tetapi juga how you deliver it.
Orang yang mencapai target dengan menghancurkan tim tidak lagi otomatis disebut bintang.
Orang yang sangat disukai tetapi terus-menerus gagal memenuhi tanggung jawab juga tidak lagi disembunyikan di balik kata attitude bagus.
Rapat diubah.
Setiap rapat harus menghasilkan keputusan.
Ada penanggung jawab.
Ada tenggat.
Kesalahan boleh terjadi.
Kesalahan yang sama berulang tanpa pembelajaran tidak boleh.
Orang boleh mengatakan:
“Saya tidak tahu.”
Tetapi setelah itu harus ada:
“Saya akan mencari tahu.”
Dalam salah satu town hall, seorang karyawan muda mengangkat tangan.
“Pak Jayeng.”
“Ya?”
“Kalau atasan yang salah bagaimana?”
“Kasih tahu.”
Ruangan tertawa.
Jayeng tidak.
“Saya serius.”
“Tapi kalau dimarahin?”
“Kalau seorang atasan tidak bisa menerima koreksi, persoalan pertama bukan ada pada bawahannya.”
Tepuk tangan.
Jayeng mengangkat tangan.
“Jangan tepuk tangan dulu.”
Ruangan kembali tenang.
“Keberanian bicara juga bukan lisensi untuk kurang ajar.”
Beberapa orang tertawa.
“Kalau tidak setuju, bawa fakta. Jangan bawa gosip. Jangan serang orangnya. Serang persoalannya.”
Di layar muncul:
BICARA DENGAN DATA.
MENDENGAR DENGAN RENDAH HATI.
MEMUTUSKAN DENGAN KEBERANIAN.
Arunika belum sempurna.
Tidak akan pernah.
Tetapi orang-orang mulai mempelajari sesuatu yang jarang diajarkan di sekolah bisnis:
kedewasaan profesional bukan kemampuan menghindari ketegangan.
Kedewasaan adalah kemampuan mengelola ketegangan tanpa saling menghancurkan.
.
Enam bulan kemudian Maya gagal.
Bukan kegagalan kecil.
Arunika mengikuti tender pengelolaan sebuah kompleks mixed-use besar di Surabaya.
Nilainya dapat mengubah peta perusahaan.
Maya memimpin tender selama empat bulan.
Jakarta–Surabaya berkali-kali.
Proposal direvisi sebelas kali.
Tim bekerja sampai malam.
Ada ibu yang mengikuti rapat melalui Zoom sambil anaknya tidur di pangkuan.
Ada ayah yang membatalkan acara sekolah anak.
Ada anak muda yang merayakan ulang tahun dengan nasi kotak di ruang rapat.
Tidak ada yang dipaksa.
Tetapi ambisi kadang lebih efektif daripada paksaan.
Maya yakin mereka akan menang.
Pesan datang pukul 16.43.
Ia membaca email.
We regret to inform you…
Selesai.
Empat bulan kehidupan manusia bisa berakhir dalam tiga paragraf.
Maya masuk toilet.
Berdiri di depan cermin.
Menangis.
Bukan karena bonus.
Bukan hanya karena reputasi.
Ia memikirkan tim.
Akhir pekan yang hilang.
Anak-anak yang menunggu.
Pasangan yang berkali-kali mendengar, “Maaf, malam ini pulang terlambat lagi.”
Ia membasuh wajah.
Keluar.
Tim sudah tahu.
Semua diam.
Maya berdiri di depan mereka.
“Saya minta maaf.”
Maktal menggeleng.
“Bu.”
“Saya yang memimpin.”
“Dulu Ibu pernah bilang sesuatu ke saya.”
“Apa?”
“Kegagalan bukan selalu bukti orang tidak bekerja.”
Maya diam.
“Kita kalah tender.”
Maktal menatapnya.
“Bukan kehilangan harga diri.”
Kalimat itu menghantam Maya.
Ia mengenalnya.
Itu kalimatnya sendiri.
Pernah ia ucapkan kepada Maktal beberapa bulan lalu.
Kini kembali kepadanya melalui lelaki yang dahulu pernah menangis karena dirinya.
Begitulah mungkin pendidikan bekerja.
Kita mengajari seseorang sesuatu.
Kemudian pada hari ketika kita sendiri lupa, orang itu mengembalikan pelajaran tersebut kepada kita.
Maya menangis.
Di depan mereka.
Tidak disembunyikan.
Tidak ada yang menganggapnya lemah.
Justru hari itu mereka melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah terlihat:
manusia di balik jabatan.
.
Dua tahun berlalu.
Arunika bertumbuh.
Tidak menjadi perusahaan terbesar.
Tetapi lebih sehat.
Pendapatan naik.
Margin membaik.
Dua unit yang merugi pulih.
Proyek Bandung selesai.
Turnover turun.
Employee engagement naik.
Namun angka yang paling disukai Jayeng bukan angka penjualan.
Internal promotion meningkat.
Lebih banyak jabatan pimpinan diisi orang dari dalam.
Suatu pagi, Jayeng berdiri di depan jendela lantai dua belas.
Jakarta tetap Jakarta.
Macet.
Bising.
Ambisius.
Penuh gedung yang berlomba menjadi lebih tinggi daripada gedung sebelahnya.
Usia Jayeng mendekati enam puluh.
Dewan komisaris menyetujui suksesi.
Nama penggantinya sudah diputuskan.
Maya.
Ketika diberi tahu, Maya justru berkata:
“Saya belum siap.”
Jayeng tertawa.
“Bagus.”
Maya mengerutkan dahi.
“Bagus?”
“Dulu kamu selalu merasa siap.”
“Saya serius, Pak.”
“Saya juga.”
“Saya masih punya banyak kekurangan.”
“Betul.”
Maya melotot.
“Bapak ini…”
“Kamu mau saya bohong?”
Mereka tertawa.
Jayeng membuka laci.
Mengeluarkan folder merah.
Maya mengenalinya.
“Masih disimpan?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Jayeng menyerahkannya.
Maya membuka tujuh pengaduan lama.
Tangannya bergetar sedikit.
“Baca halaman terakhir.”
Ada tulisan tangan Jayeng.
Tanggal dua tahun sebelumnya.
Jangan pecat dulu. Cari kebenarannya.
Di bawahnya:
Jika kompetensinya tinggi tetapi perilakunya melukai, kembangkan manusianya.
Jika perilakunya baik tetapi kompetensinya kurang, ajari.
Jika keduanya buruk dan ia menolak berubah, lepaskan dengan benar.
Dan satu kalimat terakhir:
Leadership is not disposal. Leadership is development.
Maya menutup folder.
“Kenapa Bapak kasih ini?”
“Supaya ketika kamu duduk di kursi saya, kamu tidak terlalu cepat membuang manusia.”
Maya menunduk.
“Tapi jangan juga terlalu lama mempertahankan orang yang merusak.”
Ia mengangguk.
“Bedakan.”
Air mata Maya jatuh.
“Dulu kamu datang membawa standar,” kata Jayeng.
“Perusahaan ini mengajarimu empati.”
Ia menatap perempuan itu.
“Sekarang tugasmu menjaga keduanya.”
.
Hari terakhir Jayeng tiba.
Ia tidak ingin pesta.
Karyawan tetap memenuhi auditorium.
Ada foto-foto lama.
Ada video.
Ada cerita.
Ada tawa.
Ada orang yang diam-diam menangis.
Kemudian Maya naik ke panggung.
Tangannya membawa folder merah.
“Dua tahun lalu,” katanya, “saya hampir kehilangan pekerjaan.”
Ruangan sunyi.
“Waktu itu tujuh orang mengadukan saya.”
Ia berhenti.
“Saya marah ketika tahu.”
Beberapa orang tersenyum.
“Karena saya merasa saya benar.”
Maya melihat seluruh ruangan.
“Dan sekarang saya tahu: perasaan selalu benar adalah salah satu bentuk superioritas yang paling berbahaya.”
Tidak ada yang bergerak.
“Sebagian yang saya perjuangkan memang benar. Target harus dicapai. Data harus benar. Accountability diperlukan. Bisnis tidak dapat hidup hanya dari niat baik.”
Ia menarik napas.
“Tetapi cara saya salah.”
Maktal menunduk.
“Saya pernah berpikir ketegasan berarti tidak boleh terlihat lembut.”
Maya melihat Jayeng.
“Saya kemudian belajar bahwa pemimpin tidak boleh dipaksa memilih antara hasil dan manusia.”
Suaranya mulai pecah.
“Pemimpin bertanggung jawab atas keduanya.”
Jayeng menatap lantai.
“Kalau dua tahun lalu Pak Jayeng hanya mendengarkan pembelaan saya, mungkin lebih banyak orang terluka.”
Ia berhenti.
“Kalau beliau hanya mendengarkan pengaduan tentang saya, mungkin saya sudah tidak berada di sini.”
Maya memegang folder itu lebih erat.
“Tetapi beliau melakukan sesuatu yang lebih sulit.”
Air matanya jatuh.
“Beliau tidak mencari siapa yang harus disalahkan.”
Ia memandang Jayeng.
“Beliau mencari kebenaran.”
Tepuk tangan terdengar.
Pelan.
Kemudian membesar.
Jayeng menutup wajah sebentar.
Ada usia ketika tepuk tangan tidak lagi membuat seseorang merasa besar.
Ia justru mengingatkan betapa kecil manusia di hadapan perjalanan hidupnya sendiri.
.
Tiga bulan setelah Jayeng pensiun, sejarah seperti mengulang dirinya sendiri.
Seorang manajer dilaporkan.
Empat orang mengeluhkan gaya komunikasinya.
Terlalu menekan.
Perfeksionis.
Sulit menerima pekerjaan yang menurutnya tidak memenuhi standar.
Namanya:
Maktal.
Kini Head of Digital Growth.
Ketika laporan itu sampai di meja Maya, ia hampir tertawa.
Hidup rupanya memiliki selera humor.
Maktal dipanggil.
Ia masuk dengan wajah pucat.
“Duduk.”
“Bu, saya bisa jelaskan.”
“Bagus.”
Maya menyandarkan tubuh.
“Saya akan dengarkan.”
Maktal bercerita.
Target.
Deadline.
Kesalahan tim.
Orang-orang yang menurutnya terlalu lambat.
Kampanye yang harus segera diluncurkan.
Klien yang tidak mau menunggu.
Setelah selesai, Maya bertanya:
“Kamu benar?”
Maktal terdiam.
“Menurut saya… iya.”
Maya tersenyum.
“Jawaban paling berbahaya.”
Maktal menelan ludah.
Maya membuka laci.
Mengeluarkan folder merah.
“Dulu folder ini milik saya.”
Maktal mengenalinya.
“Oh.”
“Sekarang kita mulai dari sini.”
Maktal menarik napas.
“Apakah saya akan dipecat?”
Maya teringat warung soto.
Hujan.
Jayeng.
Pertanyaan yang sama.
Ia menggeleng.
“Kita cari kebenarannya dulu.”
Maktal menunduk.
“Tapi satu hal pasti.”
“Apa?”
“Kalau kamu memang menyakiti orang, kamu harus berubah.”
Maktal mengangguk.
“Kalau timmu memang tidak perform, mereka juga harus berubah.”
Ia kembali mengangguk.
“Kita tidak memilih siapa yang paling nyaman untuk disalahkan.”
Maya mendorong folder itu ke arahnya.
“Kita memperbaiki manusianya. Kita memperbaiki sistemnya.”
Maktal mengambil folder.
Sebelum keluar ia bertanya:
“Bu.”
“Ya?”
“Dulu Ibu takut?”
“Waktu dilaporkan?”
“Iya.”
Maya tersenyum pahit.
“Sangat.”
“Tapi kelihatannya tenang.”
“Itulah problem kita, Tal.”
“Apa?”
“Kita terlalu sering mengira orang yang kelihatan kuat tidak sedang terluka.”
Maktal diam.
Kemudian keluar.
Maya duduk sendiri.
Dan tiba-tiba memahami betapa mudah seseorang yang dahulu menjadi korban berubah menjadi pelaku ketika suatu hari ia memperoleh kuasa.
Superioritas tidak mempunyai jabatan tetap.
Ia hanya menunggu kursi kosong.
.
Malam itu Maya pulang paling akhir.
Lampu-lampu lantai dua belas sudah banyak yang padam.
Jakarta membentang di balik kaca.
Dua puluh tahun lebih karier.
Berapa banyak rapat?
Berapa banyak kartu nama?
Berapa banyak target?
Berapa banyak penerbangan pagi?
Berapa banyak makan malam keluarga yang dilewatkan?
Berapa banyak presentasi yang dahulu terasa seperti persoalan hidup dan mati tetapi kini bahkan judulnya tidak lagi ia ingat?
Manusia menghabiskan sebagian besar usia dewasanya untuk bekerja.
Delapan jam.
Sepuluh jam.
Kadang dua belas.
Aneh jika tempat sebesar itu dalam hidup hanya disebut tempat mencari nafkah.
Kantor sebenarnya sekolah.
Tidak ada bel.
Tidak ada wali kelas.
Tidak ada ijazah untuk kedewasaan.
Di sanalah ego diuji.
Kesabaran dipatahkan.
Persahabatan ditemukan.
Pengkhianatan dikenali.
Kegagalan datang tanpa undangan.
Dan seseorang perlahan mengetahui siapa dirinya ketika suatu hari diberi kuasa atas manusia lain.
Maya memandang kursi CEO.
Dahulu kursi Jayeng.
Ia akhirnya memahami:
kursi tidak pernah membuat manusia menjadi lebih tinggi.
Kursi hanya membuat sifat manusia terlihat lebih jelas.
Orang baik dapat menjadi lebih bermanfaat.
Orang takut dapat berubah menjadi pengontrol.
Orang terluka dapat melukai.
Orang yang selalu merasa benar dapat berhenti mendengar.
Orang bijaksana dapat menggunakan kuasa untuk membesarkan manusia.
Itulah superioritas yang paling berbahaya.
Bukan ketika kita memang lebih pintar dalam suatu hal.
Bukan ketika jabatan kita lebih tinggi.
Bukan ketika pendapatan kita lebih besar.
Bukan ketika gelar pendidikan kita lebih panjang.
Superioritas lahir ketika semua kelebihan itu membuat kita merasa tidak lagi membutuhkan suara orang lain.
Maya mematikan lampu.
Sebelum keluar ia melihat sebuah kalimat yang sengaja dipasang di dinding setelah dirinya menjadi CEO:
“Jangan membuat manusia merasa kecil hanya agar target terlihat besar.”
Ia tersenyum.
Lalu turun.
.
Sepuluh tahun kemudian.
Jayeng hampir tujuh puluh ketika kembali ke Arunika.
Rambutnya putih.
Langkahnya lebih pelan.
Ia datang bukan sebagai komisaris.
Bukan penasihat.
Bukan pemegang saham.
Hanya tamu.
Hari itu Arunika meresmikan pusat pembelajaran internal.
Arunika Leadership House.
Bukan hanya untuk karyawan.
Mahasiswa tingkat akhir dari keluarga yang tidak mampu membayar program pengembangan profesional dapat mengikuti kelas gratis tentang bisnis, teknologi, komunikasi, keuangan pribadi, pelayanan, kepemimpinan, dan kewirausahaan.
Jayeng memasuki gedung.
Ratusan anak muda memenuhi aula.
Maya menyambutnya.
Rambut perempuan itu kini mulai beruban.
“Pak.”
“Maya.”
Mereka berpelukan.
“Sehat?”
“Masih suka bikin orang kesal.”
“Berarti sehat.”
Mereka tertawa.
Maktal datang.
Kini ia memimpin salah satu anak perusahaan.
“Pak Jayeng.”
“Wah. Korban Bu Maya.”
Maya memukul pelan lengan Jayeng.
Mereka tertawa lagi.
Seorang perempuan muda mendekat.
“Ini Nadira,” kata Maktal. “Dulu staf saya.”
“Dulu?”
“Sekarang direktur.”
Jayeng menjabat tangannya.
Ia melihat Maya.
Kemudian Maktal.
Kemudian Nadira.
Generasi.
Barangkali begitulah organisasi seharusnya tumbuh.
Bukan hanya dengan membuka cabang.
Bukan hanya menaikkan valuasi.
Bukan hanya dengan menambah kamar, meja, outlet, atau pelanggan.
Organisasi tumbuh ketika ia melahirkan manusia yang suatu hari tidak lagi membutuhkan orang yang dahulu membimbingnya.
Acara dimulai.
Pada sesi tanya jawab seorang mahasiswa berdiri.
“Bu Maya.”
“Ya?”
“Apa keputusan terbaik yang pernah Ibu ambil sebagai CEO?”
Maya berpikir.
Ekspansi?
Akuisisi?
Transformasi digital?
Restrukturisasi?
Tidak.
Ia melihat Jayeng.
Lalu Maktal.
Kemudian ratusan wajah muda di depannya.
“Belajar bahwa saya bisa salah.”
Anak-anak tertawa.
Maya ikut tertawa.
“Serius.”
Ia turun dari podium.
“Di kampus, kalian banyak belajar bagaimana menemukan jawaban.”
Ia berjalan mendekati baris pertama.
“Di dunia kerja, kalian akan menemukan bahwa pertanyaan sering jauh lebih penting.”
Ruangan tenang.
“Apakah saya sedang tegas—atau sebenarnya kasar?”
Ia berjalan lagi.
“Apakah dia benar-benar tidak kompeten—atau belum pernah diajari?”
“Apakah orang ini toxic—atau dia sedang mengatakan kebenaran yang tidak ingin saya dengar?”
“Apakah tim saya malas—atau sistem yang saya buat justru membuat mereka tidak mampu bergerak?”
“Apakah saya mempertahankan standar—atau mempertahankan ego?”
Maya berhenti.
“Apakah saya mendengarkan karena ingin memahami—atau hanya menunggu giliran untuk membantah?”
Tak seorang pun tertawa lagi.
“Dan ada satu pertanyaan yang paling sulit.”
Maya melihat mereka.
“Apakah saya sedang memimpin manusia, atau hanya menggunakan manusia untuk mencapai target saya?”
Tidak langsung ada tepuk tangan.
Hanya keheningan.
Beberapa kalimat memang membutuhkan keheningan sebelum layak diberi tepuk tangan.
Jayeng menatap perempuan yang bertahun-tahun lalu duduk di depannya di warung soto dan bertanya apakah dirinya akan dipecat.
Matanya berkaca-kaca.
Barangkali itulah keberhasilan seorang pemimpin.
Bukan ketika orang yang dipimpinnya menjadi seperti dirinya.
Melainkan ketika orang itu tumbuh melampaui dirinya.
.
Acara selesai menjelang magrib.
Jayeng menolak diantar sopir perusahaan.
Maya tetap mengantarnya sampai mobil.
Langit Jakarta berubah jingga kelabu.
Suara azan menyelinap di antara gedung.
“Pak.”
“Hm?”
“Terima kasih.”
“Untuk?”
“Tidak membuang saya waktu itu.”
Jayeng tersenyum.
“Jangan romantisasi saya.”
“Saya serius.”
“Saya juga.”
Maya menatapnya.
“Saya waktu itu juga tidak tahu keputusan saya benar atau tidak.”
Maya terdiam.
“Saya hanya merasa kamu masih bisa berubah.”
“Kalau saya tidak berubah?”
Jayeng memandangnya.
“Ya saya pecat.”
Maya tertawa sampai air matanya keluar.
Jayeng ikut tertawa.
Ketika tawa reda, lelaki tua itu berkata:
“Manusia tidak berubah hanya karena divonis, Maya.”
Ia membuka pintu mobil.
“Manusia berubah ketika diberi cermin, batas, kesempatan, dan alasan untuk menjadi lebih baik.”
Maya menahan air mata.
“Dan ingat satu hal.”
“Apa?”
“Jangan jatuh cinta pada cerita bahwa semua orang bisa diselamatkan.”
Maya mengangguk.
“Ada orang yang sudah diberi kesempatan berkali-kali dan tetap memilih merusak. Pemimpin juga harus berani melepaskan.”
“Jadi batasnya apa?”
Jayeng tersenyum.
“Kesediaan berubah.”
Ia masuk ke mobil.
Kaca diturunkan.
“Maya.”
“Ya?”
“Orang kompeten tidak selalu benar.”
Maya tersenyum.
“Orang baik juga belum tentu kompeten.”
Maya tertawa.
“Target?”
“Harus dicapai.”
“Manusia?”
“Harus dijaga.”
Jayeng mengangguk.
“Nah. Akhirnya pintar.”
Mobil bergerak.
Maya berdiri di trotoar.
Lampu belakang mobil Jayeng mengecil.
Lalu hilang ditelan lalu lintas.
Jakarta memasuki malam.
Orang-orang pulang.
Kereta penuh.
Bus penuh.
Lift-lift gedung membawa ribuan manusia dari meja kerja kembali kepada kehidupan mereka masing-masing.
Ada yang pulang membawa promosi.
Ada yang membawa surat peringatan.
Ada yang baru saja mendapat bonus.
Ada yang baru mengetahui kontraknya tidak diperpanjang.
Ada yang sedang membenci atasannya.
Ada atasan yang kecewa kepada bawahannya.
Ada seorang ayah yang terlambat pulang karena rapat.
Ada ibu yang membuka laptop lagi setelah anaknya tidur.
Ada anak muda yang menatap aplikasi lowongan kerja sambil bertanya apakah ia cukup berani memulai lagi.
Dan mungkin di salah satu gedung tinggi kota ini, seorang pemimpin sedang membuka laporan tentang seseorang yang disebut toxic.
Semoga ia tidak buru-buru percaya.
Semoga ia memeriksa.
Semoga ia mendengar.
Semoga ia cukup berani mengatakan bahwa perilaku buruk tetaplah buruk, bahkan ketika dilakukan oleh seorang bintang.
Namun semoga ia juga cukup bijaksana memahami bahwa orang yang membuat kita tidak nyaman belum tentu orang yang salah.
Sebab perusahaan tidak dibangun oleh kumpulan manusia yang selalu mengatakan iya.
Perusahaan dibangun oleh orang-orang yang berpikir.
Berbeda.
Berdebat.
Mencoba.
Gagal.
Mengakui kesalahan.
Belajar.
Lalu mencoba kembali.
Target penting.
Sangat penting.
Tanpa hasil, perusahaan mati.
Tetapi ada sesuatu yang tidak boleh dimatikan agar perusahaan dapat terus hidup:
martabat manusia.
Maya mendongak.
Lampu lantai dua belas masih menyala.
Di sana Maktal sedang berbicara dengan beberapa anggota timnya.
Bukan sidang.
Bukan pembelaan.
Mereka sedang duduk bersama.
Mendengarkan.
Mencari apa yang salah.
Mencari apa yang benar.
Mencari cara agar standar tetap tinggi tanpa membuat manusia merasa rendah.
Maya tersenyum.
Ia berbalik dan masuk lagi ke gedung.
Petugas keamanan menyapanya.
“Belum pulang, Bu?”
“Sebentar. Saya naik lagi.”
Pintu lift terbuka.
Maya masuk.
Sendirian.
Dinding lift memantulkan wajahnya.
Untuk sesaat ia seperti melihat Maya yang jauh lebih muda.
Perempuan yang berlari mengejar prestasi.
Yang takut miskin.
Takut gagal.
Takut dianggap biasa.
Takut tidak cukup baik.
Perempuan yang kemudian menjadi begitu kompeten hingga diam-diam mulai menganggap kompetensi sebagai hak untuk menentukan ukuran semua orang.
Maya menatap pantulan itu.
Ia tidak membencinya.
Sebab manusia tidak perlu membenci versi lama dirinya untuk menjadi manusia baru.
Ia hanya perlu berani mengaku:
aku pernah salah.
Tangannya menyentuh tombol dua belas.
Pintu menutup.
Lift bergerak naik.
Di lantai enam, Maya tiba-tiba teringat ibunya.
Jangan sampai orang lain harus kamu kecilkan supaya kamu merasa tinggi.
Lantai tujuh.
Ia teringat Maktal menangis di toilet.
Lantai delapan.
Ia teringat folder merah.
Lantai sembilan.
Warung soto.
Lantai sepuluh.
Jayeng.
Lantai sebelas.
Dirinya sendiri.
Lantai dua belas.
Ting.
Pintu terbuka.
Maktal dan timnya masih duduk di ruang rapat.
Mereka tidak melihat Maya.
Maktal sedang bicara.
“Saya minta maaf.”
Maya berhenti.
Tidak masuk.
“Target kita memang berat,” lanjut Maktal. “Tapi itu bukan alasan saya bicara seperti kemarin.”
Salah seorang staf menjawab sesuatu.
Maya tidak mendengar jelas.
Kemudian terdengar tawa.
Kecil.
Canggung.
Tetapi hangat.
Maya mundur.
Ia tidak diperlukan di sana.
Dan tiba-tiba ia memahami satu hal terakhir tentang kepemimpinan:
keberhasilan tertinggi seorang pemimpin mungkin justru terjadi ketika sebuah kebaikan tetap berlangsung tanpa kehadirannya.
Ia kembali ke lift.
Sebelum pintu menutup, Maya memandang ruang kerja itu sekali lagi.
Tidak ada musik kemenangan.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada grafik yang naik.
Hanya beberapa manusia yang sedang belajar menjadi lebih baik satu sama lain.
Tetapi malam itu, baginya, itulah pertumbuhan paling besar yang pernah dicapai Arunika.
Pintu lift menutup.
Maya tersenyum pada pantulannya.
“Terima kasih sudah bertahan,” bisiknya.
Kemudian ia berhenti.
Ada kalimat lain yang perlu dikatakan.
“Dan terima kasih sudah mau berubah.”
Lift bergerak turun.
Dua belas.
Sebelas.
Sepuluh.
Sembilan.
Perlahan-lahan angka itu mengecil.
Maya memandangnya dan tersenyum.
Barangkali manusia juga perlu begitu sesekali.
Turun.
Bukan dari jabatan.
Bukan dari standar.
Bukan dari cita-cita.
Melainkan dari perasaan bahwa dirinya selalu berada di tempat yang paling tinggi.
Sebab ternyata menjadi tinggi dan merasa lebih tinggi adalah dua perkara yang sama sekali berbeda.
Pintu lift terbuka di lobi.
Maya melangkah keluar.
Jakarta menunggunya dengan jalanan basah, klakson, lampu kendaraan, pedagang kopi, pengemudi ojek, pekerja yang terburu-buru pulang, serta jutaan manusia yang masing-masing membawa pertempurannya sendiri.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak merasa harus memenangkan semuanya.
Ia hanya ingin tetap belajar.
Sebab pada akhirnya, musuh terbesar seorang pemimpin bukanlah orang yang berani menentangnya.
Bukan bawahan yang mempertanyakan keputusannya.
Bukan kolega yang lebih pintar.
Bukan pula generasi baru yang suatu hari mampu menggantikannya.
Musuh yang sesungguhnya jauh lebih dekat.
Ia hidup di dalam diri.
Tumbuh diam-diam bersama pengalaman, jabatan, kekayaan, pendidikan, prestasi, dan tepuk tangan.
Sampai suatu hari ia berbisik:
Aku lebih tahu.
Lalu:
Aku lebih benar.
Dan akhirnya:
Aku tidak perlu lagi mendengarkan.
Pada saat itulah seseorang boleh jadi masih mempunyai jabatan tertinggi—
tetapi sesungguhnya telah berhenti menjadi pemimpin.
Maya berjalan menuju pintu keluar.
Udara malam menyentuh wajahnya.
Ia menghirupnya dalam-dalam.
Kemudian melangkah ke kota.
Bukan sebagai manusia yang telah selesai belajar.
Justru sebagai manusia yang akhirnya mengerti bahwa ia tidak akan pernah selesai belajar.
Dan mungkin—
hanya mungkin—
itulah satu-satunya superioritas yang layak diperjuangkan:
menjadi lebih baik daripada diri kita sendiri kemarin, tanpa merasa lebih tinggi daripada siapa pun hari ini.
.
.
.
Malang, 22 September 2026
.
#Superioritas #Leadership #HumanLeadership #LeadershipLessons #LeadershipAccountability #HighPerformanceCulture #PeopleDevelopment #CorporateCulture #WorkplaceCulture #HumanCapital #EmployeeEngagement #BusinessLeadership #CareerLessons #CerpenIndonesia #CerpenReflektif #NamakuBrandku #JeffreyWibisonoV
.
Catatan Makna
Cerita ini tidak sedang membela karyawan yang benar-benar toxic. Ia juga tidak sedang mengatakan bahwa orang berprestasi boleh menyakiti orang lain atas nama target.
Sebaliknya, Superioritas menempatkan empat perkara pada tempatnya: kompetensi, perilaku, kinerja, dan kemanusiaan.
Ada orang kompeten yang cara komunikasinya harus diperbaiki. Ada orang baik yang kompetensinya masih harus dikembangkan. Ada orang dengan standar tinggi yang keliru dianggap toxic hanya karena berani mengatakan kenyataan. Dan memang ada pula orang yang berprestasi tetapi perilakunya merusak manusia lain.
Pemimpin tidak boleh menyederhanakan semuanya menjadi “orang baik” dan “orang jahat”.
Ia harus mampu membedakan.
Karena organisasi yang hanya mengejar kenyamanan akan kehilangan standar. Namun organisasi yang hanya mengejar angka akhirnya kehilangan manusia.
Dan ketika manusianya hilang, cepat atau lambat angka akan mengikutinya.
“Ketegasan tanpa empati melahirkan ketakutan. Empati tanpa standar melahirkan mediokritas. Kepemimpinan membutuhkan keberanian untuk menjaga keduanya.”
“Orang yang membuat kita tidak nyaman belum tentu menjadi masalah. Kadang-kadang ia sedang menunjukkan masalah yang selama ini terlalu nyaman kita abaikan.”
“Jangan membuat manusia merasa kecil hanya agar target terlihat besar.”
“Jabatan memberi kita kewenangan untuk mengambil keputusan. Tidak pernah memberi kita hak untuk merendahkan manusia.”
“Superioritas dimulai bukan ketika kita menjadi lebih pintar, melainkan ketika kepintaran membuat kita berhenti mendengarkan.”
“Pemimpin terbaik tidak menciptakan pengikut yang selalu mengangguk. Ia membesarkan manusia yang suatu hari cukup berani untuk berbeda pendapat dengannya.”