Nanti
“Kita terlalu sering berkata ‘nanti’ kepada orang-orang yang kita cintai, seolah-olah hidup pernah berjanji menyediakan hari esok.”
.
Senin pagi selalu membuat Jakarta tampak seperti seseorang yang terlambat menghadiri kehidupannya sendiri.
Pukul enam lewat empat puluh tujuh menit, Jalan Jenderal Sudirman sudah dipenuhi manusia yang bergegas. Lampu rem membentuk sungai merah panjang. Kereta MRT meluncur di atas kepala mereka yang terjebak kemacetan. Di trotoar, sepatu-sepatu mahal dan sepatu-sepatu yang dibeli dengan cicilan berjalan dengan kecepatan hampir sama.
Semua seperti sedang mengejar sesuatu.
Jayengrana juga.
Di lantai tiga puluh dua sebuah gedung perkantoran di kawasan SCBD, lelaki lima puluh empat tahun itu berdiri menghadap jendela ruang kerjanya.
Dari ketinggian itu Jakarta tampak jinak.
Mobil-mobil hanya sebesar kuku. Manusia tidak kelihatan. Kemacetan bahkan terlihat artistik.
Barangkali memang demikian salah satu ilusi yang diberikan ketinggian: semakin tinggi seseorang berdiri, semakin kecil persoalan orang lain terlihat.
Di belakangnya, laptop sudah menyala.
07.30 — Executive Committee Meeting.
09.00 — Investor Update.
11.30 — Lunch with Singapore Partner.
14.00 — Interview calon Chief Marketing Officer.
16.30 — Review ekspansi Surabaya.
19.00 — Dinner bersama calon investor.
Hari Senin yang normal.
Jayengrana mengambil telepon genggam.
Tujuh puluh tiga pesan WhatsApp.
Tiga belas surel belum dibaca.
Dua panggilan tak terjawab.
Satu pesan dari istrinya.
Jangan lupa malam ini makan di rumah. Raras pulang.
Jayengrana membaca kalimat itu beberapa detik.
Kemudian mengetik:
Siap. Malam ini Papa pulang cepat.
Ia hampir menambahkan satu kata.
Nanti.
Entah mengapa ia menghapusnya.
Layar telepon padam.
“Pak?”
Umarmaya berdiri di pintu.
Chief Financial Officer.
Sahabat.
Teman berkelahi dengan hidup sejak perusahaan mereka masih berkantor di sebuah ruko dua lantai yang bocor kalau hujan.
“Board sudah lengkap.”
Jayengrana mengambil jasnya.
“Let’s make some money.”
Biasanya Umarmaya tertawa.
Pagi itu tidak.
.
Perusahaan yang dibangun Jayengrana tidak lahir dari warisan.
Ia sering mengatakan itu.
Kadang dengan bangga.
Kadang terlalu bangga.
Dua puluh delapan tahun sebelumnya, ia hanyalah seorang sales executive perusahaan properti. Gajinya tidak besar. Mobil pertamanya Toyota Corolla tua yang AC-nya hanya dingin kalau mobil sedang berjalan.
Ia menjual apartemen.
Kemudian rumah.
Kemudian ruang kantor.
Ia hafal cara membaca calon pembeli dari sepatu, jam tangan, pertanyaan pertama, bahkan dari cara mereka menerima kartu nama.
Ia tahu kapan harus bicara.
Kapan harus diam.
Kapan menawarkan diskon.
Kapan membuat orang merasa bahwa kalau tidak membeli hari itu, dunia akan meninggalkan mereka.
Lalu suatu hari muncul pertanyaan:
Mengapa selalu menjual milik orang lain?
Dari pertanyaan sederhana itulah hidupnya berubah.
Bersama Umarmaya, ia mendirikan perusahaan konsultasi properti kecil di Kebayoran Baru.
Meja kerja mereka bekas.
Printer sering macet.
Telepon kantor hanya dua line.
Kalau hujan deras, air menetes tepat di dekat meja administrasi.
Sekretaris merangkap receptionist, purchasing, administrasi, bahkan kadang membuat kopi.
Mereka makan nasi Padang berdua satu lauk.
Mereka bergantian membawa mobil kalau ada presentasi penting agar klien mengira perusahaan mereka punya lebih dari satu kendaraan.
Mereka miskin.
Tetapi mimpi mereka mahal.
Sangat mahal.
Dua puluh tahun kemudian, perusahaan itu memiliki proyek di Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali, Makassar, dan beberapa kota yang dahulu hanya mereka lihat di peta.
Mereka membangun hotel.
Apartemen.
Mixed-use development.
Lifestyle complex.
Co-working space.
Mereka menjadi orang-orang yang diundang ke konferensi bisnis untuk menjelaskan bagaimana cara menjadi sukses.
Jayengrana memiliki rumah di Pondok Indah.
Apartemen di Singapura.
Villa di Uluwatu.
Keanggotaan klub golf.
Portofolio saham.
Deposito.
Asuransi kesehatan terbaik.
Jam tangan yang harganya pernah membuat ibunya menggeleng.
“Jam kok regane iso tuku omah?”
Jam kok harganya bisa untuk membeli rumah.
Jayengrana tertawa waktu itu.
Ibunya tidak.
“Jam murah karo jam larang,” kata perempuan tua itu, “podo-podo mung nuduhke wektu.”
Jam murah dan jam mahal sama-sama hanya menunjukkan waktu.
Jayengrana masih ingat kalimat itu.
Ibunya sudah meninggal sebelas tahun.
Ironisnya, setelah mampu membeli jam apa pun yang diinginkan, justru waktu yang semakin tidak dimilikinya.
.
Rapat berlangsung dua jam sebelas menit.
Revenue naik delapan persen.
EBITDA membaik.
Occupancy salah satu hotel mencapai tujuh puluh sembilan persen.
Pipeline proyek baru menjanjikan.
Tetapi proyek mixed-use di Surabaya mengalami cost overrun hampir sebelas miliar rupiah.
Jayengrana tidak suka angka merah.
“Apa masalahnya?”
Maktal, Director of Operations, membuka presentasi.
“Kenaikan harga material dan perubahan desain dari owner.”
“Kenapa kita approve?”
“Waktu itu ada keputusan—”
“Saya tidak bertanya sejarahnya.”
Ruangan mendadak senyap.
“Saya bertanya kenapa.”
Maktal menelan ludah.
Jayengrana memandang seluruh peserta rapat.
“Angka tidak punya perasaan. Profit tidak peduli kita capek atau tidak. Kalau target seratus dan hasil kita sembilan puluh sembilan, ya tetap tidak mencapai target.”
Tidak ada yang membantah.
Kalimat semacam itu terdengar gagah di ballroom seminar kepemimpinan.
Sedikit berbeda rasanya ketika diarahkan kepada manusia yang sudah bekerja enam belas jam sehari.
Umarmaya akhirnya berkata, “Jay, mungkin kita perlu lihat konteksnya.”
Jayengrana menoleh.
“Konteks tidak membayar payroll.”
Hening lagi.
Rapat selesai pukul 09.41.
Orang-orang keluar membawa laptop dan wajah profesional mereka.
Maktal paling akhir.
Sebelum keluar ia berhenti.
“Pak Jay.”
“Ya?”
“Ibu saya masuk ICU tadi malam.”
Jayengrana terdiam.
“Saya tetap datang karena presentasi ini.”
Entah mengapa kalimat itu terasa seperti tuduhan.
Padahal Maktal mengucapkannya pelan.
“Kenapa tidak bilang?”
Maktal tersenyum tipis.
“Karena Bapak selalu bilang personal problem jangan dibawa ke kantor.”
Pintu menutup.
Untuk pertama kalinya pagi itu Jayengrana tidak melihat layar laptop.
.
Siang hari ia makan bersama investor Singapura di restoran Jepang sebuah hotel bintang lima.
Omakase.
Dua belas course.
Mereka membicarakan proyek resort baru.
Nilai investasinya lebih dari satu triliun rupiah.
Investor itu bernama Daniel, enam puluh tahun, sudah mengenal Jayengrana hampir lima belas tahun.
Di antara sashimi dan wagyu, Daniel bertanya sesuatu yang tidak berhubungan dengan bisnis.
“Your daughter still in London?”
“Amsterdam.”
“Studying?”
“Already working.”
“What does she do?”
Jayengrana membuka mulut.
Lalu berhenti.
Ia tahu Raras bekerja di sebuah lembaga.
Bidang apa?
Sustainability?
Urban development?
Social enterprise?
Ia mendadak tidak yakin.
“Consulting,” jawabnya akhirnya.
Daniel mengangguk.
“And your son?”
“Boston.”
“Still studying architecture?”
Jayengrana tersenyum.
“Yes.”
Kali ini ia yakin.
Teleponnya bergetar.
Pesan Rengganis.
Raras sudah landing. Tolong malam ini jangan cancel lagi.
Jayengrana mengetik:
Yes. Promise.
Ia menekan send.
Lima menit kemudian Daniel berkata:
“Chairman happens to be in Jakarta. Can we have dinner tonight?”
Jayengrana melihat layar teleponnya.
Promise.
Ia diam tiga detik.
Tiga detik kadang cukup untuk menentukan bagian kecil dari sejarah sebuah keluarga.
“Sure,” katanya.
.
Nama istrinya Rengganis.
Mereka menikah dua puluh tujuh tahun.
Rengganis mengenal Jayengrana ketika lelaki itu belum mempunyai apa-apa kecuali ambisi.
Mereka pernah tinggal di rumah kontrakan dua kamar.
Pernah menghitung uang sebelum membeli susu anak.
Pernah makan mi instan pada tanggal dua puluh tujuh karena gaji baru masuk tanggal satu.
Pernah mematikan AC agar tagihan listrik tidak membengkak.
Pernah menjual cincin emas Rengganis untuk membayar gaji dua pegawai ketika perusahaan pertama Jayengrana hampir bangkrut.
“Aku ganti nanti,” kata Jayengrana ketika menerima cincin itu.
Rengganis tersenyum.
“Tidak usah.”
“Tetap aku ganti.”
“Kapan?”
“Nanti kalau perusahaan sudah besar.”
Perusahaan memang menjadi besar.
Jayengrana mengganti cincin itu.
Jauh lebih mahal.
Berlian.
Dibeli di Singapura.
Tetapi ada hal-hal yang tidak ikut tergantikan.
Sarapan bersama.
Jalan sore.
Obrolan sebelum tidur.
Menonton televisi sambil berebut remote.
Mengantar anak sekolah.
Menunggu Raras latihan menari.
Mendampingi putranya lomba menggambar.
Hal-hal kecil itu perlahan hilang.
Selalu dengan alasan yang masuk akal.
Meeting.
Tender.
Investor.
Business trip.
Cash flow.
Ekspansi.
Nanti.
Mereka melewati kemiskinan bersama.
Anehnya, kemiskinan tidak pernah membuat mereka berjauhan.
Kemakmuranlah yang perlahan melakukannya.
Rumah mereka sekarang memiliki enam kamar.
Lima kamar mandi.
Kolam renang.
Home theatre.
Dua asisten rumah tangga.
Satu sopir.
Satu gardener.
Tetapi beberapa malam terasa lebih sepi daripada rumah kontrakan mereka dahulu.
.
Pukul 19.23, meja makan sudah tertata.
Rengganis duduk bersama Raras.
Anak perempuan mereka kini tiga puluh tahun.
Rambutnya pendek sebahu. Wajahnya lebih tegas daripada ketika berangkat ke Eropa bertahun-tahun lalu dengan koper tiga puluh kilogram dan mata penuh keberanian.
“Papa bilang datang?” tanya Raras.
“Datang.”
“Jam berapa?”
Rengganis melihat telepon.
“Sebentar lagi.”
Pukul 20.10 makanan mulai dingin.
Pukul 20.47 Raras membuka sebotol wine.
Pukul 21.16 Rengganis menerima pesan.
Sorry. Investor dinner. Jangan tunggu.
Ia membaca pesan itu.
Tidak mengatakan apa-apa.
Raras sudah tahu dari wajah ibunya.
“Papa?”
Rengganis mengangguk.
Raras tertawa kecil.
Bukan tawa lucu.
Tawa orang yang sudah terlalu sering kecewa sehingga kecewa berikutnya tidak lagi mengejutkan.
“Consistent,” katanya.
Rengganis menatap anaknya.
“Kamu besok bisa sarapan sama Papa.”
“Besok aku ke Bandung.”
“Kapan pulang lagi?”
“Mungkin Desember.”
Rengganis memandang kursi kosong di ujung meja.
Di sanalah Jayengrana biasanya duduk.
Kursi paling besar.
Kursi kepala keluarga.
Malam itu kursi tersebut tampak seperti monumen kecil untuk seseorang yang masih hidup tetapi terlalu sibuk untuk hadir.
.
Jayengrana pulang pukul 00.38.
Lampu ruang keluarga masih menyala.
Rengganis duduk membaca buku.
“Kok belum tidur?”
Rengganis menutup bukunya.
“Menunggu.”
“Sorry. Dinner-nya panjang.”
“Aku tahu.”
“Raras sudah tidur?”
“Sudah.”
Jayengrana melepas jas.
“Besok aku sarapan sama dia.”
“Besok jam enam dia berangkat Bandung.”
Jayengrana berhenti.
“Kenapa cepat sekali?”
Rengganis memandangnya lama.
Pertanyaan itu sebenarnya bisa dijawab dengan pertanyaan lain:
Kenapa kamu terlambat sekali?
Tetapi ia tidak mengucapkannya.
“Ada proyek.”
Jayengrana duduk.
“Capek sekali hari ini.”
Rengganis tersenyum.
“Semua orang capek, Jay.”
Ada sesuatu pada cara istrinya mengatakan itu.
“Kamu marah?”
“Tidak.”
“Sounds like you’re angry.”
“Aku sudah melewati fase marah.”
Kalimat itu membuat Jayengrana lebih tidak nyaman daripada pertengkaran.
“Lalu?”
“Sekarang aku cuma belajar tidak berharap.”
Sunyi.
AC berdengung.
Dari lantai atas terdengar pintu kamar terbuka.
Raras turun membawa gelas kosong.
Ia berhenti ketika melihat ayahnya.
“Hi, Pa.”
“Hey.”
Jayengrana tersenyum.
“Come here.”
Raras mendekat.
Ayahnya memeluknya.
Pelukan itu hangat.
Tetapi canggung.
Seperti dua orang yang saling mencintai tetapi kehilangan kebiasaan menunjukkan caranya.
“How are you?”
“Good.”
“Work?”
“Good.”
“Amsterdam?”
“Good.”
Jayengrana tertawa.
“Everything good?”
Raras ikut tersenyum.
“Lebih gampang jawab begitu.”
Ia mencium pipi ayahnya.
“Good night, Pa.”
“Besok Papa antar.”
“Aku naik kereta.”
“Papa antar ke stasiun.”
Raras memandangnya.
“Jam enam.”
“Okay.”
“Really?”
Pertanyaan sederhana.
Tetapi Jayengrana mendengar sesuatu di belakangnya.
Sejarah.
Kekecewaan.
Janji-janji kecil yang tidak dipenuhi.
“Really.”
.
Pukul 05.43 telepon Jayengrana berdering.
Umarmaya.
“Jay, emergency.”
Jayengrana duduk.
“Apa?”
“Surabaya. Retaining wall proyek longsor. Tidak ada korban, tapi akses jalan warga tertutup. Media sudah datang.”
Jayengrana langsung bangkit.
“Siapkan flight pertama.”
Rengganis membuka mata.
“Kenapa?”
“Project emergency.”
Rengganis melihat jam.
05.45.
“Raras?”
Jayengrana membeku.
Di luar kamar terdengar roda koper melewati lantai.
Beberapa detik kemudian Raras mengetuk.
“Pa?”
Jayengrana membuka pintu.
Anaknya sudah siap.
Jaket.
Sneakers.
Backpack.
Koper.
“Ready?”
Jayengrana melihat telepon.
Kemudian anaknya.
Hidup kadang tidak datang sebagai pilihan besar.
Tidak ada musik.
Tidak ada petir.
Tidak ada narator yang memberi tahu bahwa keputusan berikutnya akan tinggal bertahun-tahun di dalam ingatan seseorang.
Hanya ada dua tujuan sederhana.
Bandara.
Atau stasiun.
Jayengrana berkata:
“Papa harus ke Surabaya.”
Raras tidak langsung menjawab.
“Oh.”
“Emergency.”
“I understand.”
“Nanti kalau Papa pulang—”
Raras mengangkat tangan.
“Jangan bilang nanti, Pa.”
Jayengrana terdiam.
“Aku sudah terlalu sering dengar kata itu.”
“Raras—”
“It’s okay.”
“Papa benar-benar harus—”
“Aku tahu.”
Raras tersenyum.
Tetapi matanya tidak.
“Papa selalu punya waktu untuk sesuatu yang penting.”
Ia menarik koper.
“Masalahnya, sejak kecil aku tidak pernah tahu kapan giliranku dianggap penting.”
Kalimat itu tidak keras.
Tidak ada tangis.
Tidak ada bentakan.
Justru karena itulah ia menghantam lebih dalam.
Rengganis berdiri di belakang mereka.
Diam.
Jayengrana hendak mengatakan sesuatu.
Raras memeluknya.
“Take care, Pa.”
Pintu lift menutup.
Jayengrana masih berdiri di sana.
Di tangannya, telepon kembali berdering.
Surabaya menunggu.
Anaknya tidak lagi.
.
Proyek itu membutuhkan tiga hari.
Tidak ada korban.
Kerusakan bisa diperbaiki.
Kontraktor bertanggung jawab.
Warga mendapat kompensasi.
Media akhirnya berhenti memberitakan.
Secara bisnis, krisis selesai.
Tetapi sesuatu di dalam diri Jayengrana tidak.
Dalam penerbangan pulang, ia tidak membuka laptop.
Ia duduk di business class, memandang awan.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun ia mencoba menghitung berapa banyak ulang tahun yang pernah ia lewatkan.
Ulang tahun Raras yang kedelapan belas?
Hong Kong.
Wisuda SMA?
Datang terlambat.
Hari pertama kuliah?
Conference call.
Wisuda master di Rotterdam?
Ia datang.
Dua hari.
Kemudian pulang karena tender.
Pentas tari waktu SD?
Tidak datang.
Lomba menggambar adiknya?
Entah.
Ia mencoba mengingat percakapan terakhir dengan Raras yang berlangsung lebih dari setengah jam.
Tidak bisa.
Anehnya, ia bisa mengingat EBITDA perusahaan lima tahun terakhir.
Harga tanah di Seminyak tahun 2008.
Jumlah kamar setiap hotel yang pernah dibangunnya.
Bunga pinjaman.
Nilai kontrak.
Harga saham.
Nomor frequent flyer.
Tetapi ia tidak tahu makanan kesukaan anak perempuannya sekarang.
Jayengrana memejamkan mata.
Mungkin manusia memang memiliki kemampuan luar biasa untuk menghafal apa yang dianggap penting.
Masalahnya baru muncul ketika suatu hari kita menyadari bahwa daftar penting itu ternyata salah.
.
Jumat malam Umarmaya datang ke rumah.
Tidak membawa laptop.
Tidak membawa dokumen.
Hanya sebotol wine.
Mereka duduk di teras belakang.
“Kenapa?” tanya Jayengrana.
“Apa?”
“Datang malam-malam.”
“Tidak boleh?”
“Biasanya kalau ke rumah bawa masalah.”
Umarmaya tertawa.
“Nah. Itu penyakitmu.”
“Apa?”
“Kamu pikir semua orang datang karena pekerjaan.”
Mereka tertawa.
Rengganis membawa dua gelas lalu meninggalkan mereka.
Setelah beberapa saat Umarmaya berkata:
“Aku mau resign.”
Jayengrana mengira ia salah dengar.
“What?”
“Aku mau berhenti.”
“Dari perusahaan?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Umarmaya memandang kolam.
“Aku capek.”
“Kita semua capek.”
“Bukan capek kerja.”
“Lalu?”
“Capek menjadi orang yang hidupnya cuma bekerja.”
Jayengrana menghela napas.
“Midlife crisis?”
“Mungkin.”
“Kamu mau ngapain?”
“Ngajar.”
Jayengrana tertawa.
“Serius?”
“Serius.”
“Finance?”
“Business ethics. Entrepreneurship. Mungkin mentoring UMKM.”
“Income?”
“Jauh turun.”
“Then why?”
Umarmaya menatap sahabatnya.
“Karena untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun aku ingin bangun pagi tanpa merasa sedang terlambat mengejar sesuatu.”
Jayengrana diam.
Umarmaya mengambil amplop kecil.
“Kamu tahu Arjuna?”
“Anakmu? Ya.”
“Kemarin ulang tahun dua puluh lima.”
“Congrats.”
“Dia kasih aku hadiah.”
“Yang ulang tahun malah kasih hadiah?”
Umarmaya mengeluarkan foto.
Foto lama.
Umarmaya muda sedang menggendong anak laki-laki.
Di belakangnya tertulis:
Terima kasih pernah punya waktu sebanyak ini untukku.
Jayengrana membacanya dua kali.
Umarmaya tertawa kecil.
Kemudian matanya berkaca-kaca.
“Anak kurang ajar.”
Jayengrana ikut tersenyum.
Tetapi dadanya terasa sesak.
“Jay,” kata Umarmaya, “berapa sebenarnya angka cukupmu?”
“Apa?”
“Kapan kamu merasa uangmu cukup?”
Jayengrana tidak menjawab.
“Sepuluh miliar?”
Diam.
“Lima puluh?”
Diam.
“Seratus?”
Umarmaya tersenyum.
“Kalau angka cukup terus bergerak setiap kali pendapatan naik, itu bukan target.”
“Lalu?”
“Ketakutan.”
Kata itu tinggal lama di antara mereka.
.
Malam itu Jayengrana tidak bisa tidur.
Pukul dua pagi ia turun ke ruang kerja.
Membuka laptop.
Bukan laporan keuangan.
Folder foto lama.
Ada ribuan.
Liburan.
Ulang tahun.
Sekolah.
Natal.
Bali.
Singapura.
London.
Tokyo.
New York.
Tetapi setelah beberapa menit Jayengrana melihat pola aneh.
Semakin tahun berganti, dirinya semakin jarang ada dalam foto keluarga.
Awalnya empat orang.
Kemudian tiga.
Kemudian Rengganis dengan anak-anak.
Kemudian Rengganis sendiri ketika anak-anak kuliah di luar negeri.
Jayengrana hadir sebagai orang yang membiayai hampir semuanya.
Tetapi tidak selalu sebagai orang yang mengalami semuanya.
Ia menutup laptop.
Di meja ada foto lama.
Rengganis muda menggendong Raras bayi.
Jayengrana berdiri di samping memakai kemeja murah.
Mereka tinggal di rumah kontrakan ketika foto itu dibuat.
Tidak punya investasi.
Tidak punya properti.
Tidak punya deposito besar.
Tetapi lelaki di foto itu tersenyum seperti manusia paling kaya di dunia.
Jayengrana menyentuh bingkai.
Entah kapan tepatnya ia mulai salah memahami kata cukup.
.
Senin berikutnya ia pergi medical check-up.
Bukan karena sakit.
Perusahaan memberikan executive check-up setiap tahun.
Dokter membaca hasilnya.
“Secara umum masih bagus.”
Jayengrana lega.
“Tapi tekanan darah mulai tinggi. Kolesterol naik. Gula masih aman.”
“Obat?”
“Belum tentu kalau lifestyle berubah.”
Jayengrana tertawa.
“Dok, lifestyle saya sudah begini tiga puluh tahun.”
Dokter tersenyum.
“Tubuh Bapak juga sudah mengingatkannya tiga puluh tahun.”
“Tidur?”
“Empat atau lima jam.”
“Olahraga?”
“Golf.”
“Berapa kali?”
“Kalau sempat.”
“Liburan?”
“Sering traveling.”
“Business trip bukan liburan, Pak.”
Jayengrana tertawa.
Dokter tidak.
“Kita semua punya semacam rekening kesehatan. Kalau terus ditarik tanpa pernah menyetor, suatu hari saldonya habis.”
Jayengrana melihat jam tangannya.
Jam yang harganya bisa membeli rumah kecil.
Tiba-tiba ia teringat ibunya.
Jam murah karo jam larang podo-podo mung nuduhke wektu.
“Kalau saya mulai sekarang?”
“Mulai apa?”
“Tidur. Olahraga. Kurangi stres.”
Dokter menatapnya.
“Kenapa harus nanti?”
Jayengrana terdiam.
.
Perubahan besar jarang dimulai dengan keputusan besar.
Kadang hanya dimulai dengan berjalan kaki.
Selasa pagi pukul enam, Jayengrana berjalan mengelilingi kompleks.
Tanpa sopir.
Tanpa telepon.
Ia melihat tukang sayur.
Anak sekolah.
Perempuan membawa anjing kecil.
Petugas keamanan menyapanya.
“Pagi, Pak.”
“Pagi.”
Ia baru menyadari nama petugas itu tertera di dada.
SLAMET.
Sudah sembilan tahun Slamet bekerja di kompleks itu.
Jayengrana baru pagi itu memanggil namanya.
“Pagi, Pak Slamet.”
Wajah lelaki itu langsung berubah cerah.
“Wah, pagi, Pak Jay.”
Begitu sederhana.
Nama.
Pengakuan kecil bahwa seseorang terlihat.
Jayengrana melanjutkan berjalan.
Mungkin selama ini ia terlalu sibuk menjadi penting sehingga lupa membuat orang lain merasa penting.
.
Perubahan kedua terjadi di kantor.
Maktal mempresentasikan perkembangan proyek Surabaya.
Jayengrana mendengarkan sampai selesai.
Tidak memotong.
Kemudian bertanya:
“Ibumu bagaimana?”
Maktal terdiam.
Orang-orang saling melihat.
“Sudah keluar ICU, Pak.”
“Syukurlah.”
“Terima kasih.”
“Kenapa kamu belum ambil cuti?”
Maktal bingung.
“Project masih—”
“Project tidak akan memanggilmu Nak kalau ibumu meninggal.”
Ruangan sunyi.
Jayengrana sendiri terkejut mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya.
Mungkin sebenarnya kalimat itu ditujukan kepada dirinya sendiri.
“Ambil tiga hari.”
“Tapi—”
“Go.”
Maktal mengangguk.
Matanya merah.
“Terima kasih, Pak.”
Setelah rapat, Umarmaya menghampiri.
“Siapa kamu?”
Jayengrana tertawa.
“Shut up.”
.
Perubahan ketiga jauh lebih sulit.
Rengganis.
Jumat sore Jayengrana pulang pukul enam.
Tidak ada acara.
Tidak ada investor dinner.
Tidak ada golf.
Ia menemukan istrinya menyiram tanaman.
“Mau dinner?”
Rengganis menatapnya curiga.
“Sama siapa?”
“Kamu.”
“Ada client?”
“Tidak.”
“Anniversary?”
“Tidak.”
“Ulang tahunku?”
“Bukan.”
Rengganis tertawa.
“Terus?”
Jayengrana mengambil selang dari tangannya.
“Ya dinner saja.”
Mereka pergi ke restoran kecil di Kemang.
Bukan fine dining.
Tidak ada sommelier.
Tidak ada private room.
Mereka duduk dekat jendela.
Beberapa menit pertama terasa canggung.
Dua puluh tujuh tahun menikah dan mereka seperti pasangan first date.
Jayengrana membuka percakapan.
“Kamu bahagia?”
Rengganis hampir tersedak.
“Pertanyaan apa itu?”
“Pertanyaan.”
“Setelah dua puluh tujuh tahun?”
“Makanya.”
Rengganis meletakkan gelas.
“Kenapa sekarang?”
Jayengrana berpikir.
“Karena aku sadar selama ini aku selalu bertanya apakah rumah cukup besar, uang cukup, anak-anak sekolah bagus, investasi aman.”
Ia berhenti.
“Tapi aku jarang bertanya apakah kamu bahagia.”
Rengganis menatap suaminya.
Lama.
“Aku tidak tidak bahagia.”
“Artinya?”
“Aku bersyukur.”
“Itu beda.”
Rengganis tersenyum.
“Kamu mulai pintar.”
“Jadi?”
Perempuan itu melihat keluar jendela.
“Aku cuma kehilangan teman.”
“Siapa?”
“Kamu.”
Kalimat itu jatuh perlahan.
Tidak keras.
Tetapi tepat mengenai sesuatu yang paling rapuh di dada Jayengrana.
“Aku ada.”
“Secara fisik.”
Jayengrana menunduk.
“Aku tidak membutuhkan rumah lebih besar, Jay. Aku tidak butuh tas lagi. Aku bahkan tidak tahu mau diapakan villa Bali itu.”
“Jual?”
Rengganis tertawa.
“Lihat. Otakmu langsung bisnis.”
Mereka tertawa bersama.
Kemudian Rengganis menggenggam tangan suaminya.
“Aku cuma ingin sesekali minum kopi sama kamu tanpa kamu melihat telepon setiap tiga menit.”
Jayengrana mematikan telepon.
Memasukkannya ke tas istrinya.
“Mulai sekarang.”
“Jangan ekstrem.”
“Kenapa?”
“Nanti perusahaan bangkrut.”
Mereka saling memandang.
Kemudian tertawa.
“Nanti,” ulang Jayengrana.
Ia menggeleng.
“Sepertinya kita terlalu sering memakai kata itu.”
.
Tiga bulan kemudian perusahaan tidak bangkrut.
Aneh memang.
Jayengrana mulai pulang pukul tujuh beberapa kali seminggu.
Perusahaan tetap berjalan.
Ia mulai mendelegasikan keputusan.
Perusahaan tetap berjalan.
Ia mengambil cuti empat hari.
Perusahaan tetap berjalan.
Ia berhenti menjawab surel setelah pukul sembilan malam.
Perusahaan tetap berjalan.
Penemuan itu sedikit menghina egonya.
Selama bertahun-tahun ia menganggap dirinya indispensable.
Ternyata dunia tetap berputar ketika ia tidur delapan jam.
Revenue tidak jatuh karena CEO makan malam bersama istrinya.
Tidak ada investor kabur karena ia berolahraga satu jam.
Ia mulai memahami sesuatu:
pemimpin yang organisasinya hanya dapat berjalan ketika ia hadir bukanlah pemimpin hebat.
Ia hanya berhasil menciptakan ketergantungan.
.
Pada bulan Desember Raras pulang.
Kali ini Jayengrana sendiri menjemput di bandara.
Pesawat terlambat empat puluh menit.
Ia menunggu.
Tidak membuka laptop.
Ketika Raras keluar membawa koper, ia berhenti.
“Papa?”
“Surprise.”
“Kok bisa?”
“Naik mobil.”
Raras tertawa.
Dalam perjalanan pulang mereka berbicara.
Awalnya hal-hal kecil.
Cuaca.
Makanan.
Amsterdam.
Kemudian Jayengrana bertanya:
“Actually, kamu kerja apa sih?”
Raras menoleh.
“Papa serius?”
“Serius.”
“You don’t know?”
Jayengrana menggeleng.
Raras tertawa.
“Wow.”
“Makanya ceritakan.”
Raras bekerja pada organisasi yang membantu kota-kota Asia mengembangkan hunian berkelanjutan dan terjangkau.
Ia bicara hampir empat puluh menit.
Urban inequality.
Affordable housing.
Kota yang semakin mahal.
Generasi muda yang bekerja keras tetapi tetap sulit membeli rumah.
Pembangunan yang seharusnya tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga nilai sosial.
Jayengrana mendengarkan.
Tidak memotong.
Untuk pertama kalinya ia melihat anaknya bukan sebagai anak kecil yang perlu dibiayai.
Melainkan perempuan dewasa yang memiliki pemikiran, pilihan, dan kehidupan sendiri.
“You know,” kata Raras, “salah satu alasan aku masuk bidang ini karena Papa.”
“Me?”
“I grew up around property.”
Jayengrana tersenyum bangga.
Kemudian Raras menambahkan:
“Dan karena aku melihat bagaimana bisnis bisa mengambil seluruh hidup seseorang kalau kita tidak hati-hati.”
Senyumnya hilang.
“That’s also me?”
Raras menatapnya.
“Yes.”
Mobil melaju menembus Jakarta yang basah.
“Sorry.”
Raras terdiam.
Sepanjang hidupnya ia jarang mendengar ayahnya meminta maaf.
“For what?”
“For being a good provider but sometimes a bad father.”
Raras melihat keluar jendela.
Beberapa detik.
Kemudian berkata:
“Papa bukan bad father.”
Jayengrana menoleh.
“You were just… absent.”
Satu kata.
Absent.
Tidak jahat.
Tidak kasar.
Tidak gagal memberi nafkah.
Tidak meninggalkan keluarga.
Hanya tidak hadir.
Dan barangkali dalam banyak keluarga perkotaan, itulah luka yang paling sulit dijelaskan.
Karena dari luar semuanya tampak sempurna.
Sekolah terbaik.
Rumah bagus.
Liburan luar negeri.
Asuransi.
Mobil.
Kartu kredit tambahan.
Anak-anak tidak kekurangan.
Tetapi cinta tidak selalu lapar pada fasilitas.
Kadang ia hanya lapar pada kehadiran.
“Aku tidak tahu cara memperbaiki tahun-tahun yang sudah lewat,” kata Jayengrana.
“Tidak bisa.”
“Jadi?”
Raras menoleh kepadanya.
“Jangan perbaiki masa lalu.”
“Lalu?”
“Jangan ulangi.”
Jayengrana mengangguk.
“Nanti Papa—”
Ia berhenti.
Raras menatapnya.
Keduanya tertawa.
“Good,” kata Raras. “You’re learning.”
Jayengrana menggenggam tangan anaknya.
Raras membiarkannya.
.
Setahun kemudian Umarmaya benar-benar meninggalkan perusahaan.
Ia mengajar dua hari seminggu di sebuah universitas.
Membuka program mentoring untuk pengusaha kecil.
Membantu beberapa UMKM membenahi pembukuan dan cash flow.
Penghasilannya turun.
Tetapi berat badannya juga turun tujuh kilogram.
Tekanan darahnya normal.
Ia terlihat sepuluh tahun lebih muda.
Suatu sore Jayengrana datang menjadi guest lecturer.
Seorang mahasiswa bertanya:
“Pak, apa definisi sukses?”
Dulu Jayengrana mempunyai jawaban siap pakai.
Financial freedom.
Impact.
Leadership.
Legacy.
Growth.
Hari itu ia berpikir cukup lama.
“Dulu saya kira sukses adalah ketika kita mampu membeli apa yang kita inginkan.”
Mahasiswa mencatat.
“Sekarang?”
Jayengrana tersenyum.
“Sekarang saya pikir sukses adalah ketika kita tidak perlu kehilangan diri sendiri untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.”
Ruangan diam.
Ia melanjutkan:
“Jangan membangun karier yang suatu hari membuat kalian harus memperkenalkan diri kembali kepada keluarga sendiri.”
Tidak ada yang mencatat setelah itu.
Mereka hanya mendengarkan.
.
Jayengrana tidak pensiun.
Ia juga tidak menjual perusahaan lalu pindah ke desa untuk menanam cabai.
Hidup nyata jarang membutuhkan perubahan sedramatis itu.
Ia tetap bekerja.
Tetap mengejar profit.
Tetap melakukan ekspansi.
Tetap terbang business class.
Tetap menikmati restoran bagus.
Tetap menyukai jam tangan.
Ia tidak mendadak menjadi manusia yang menganggap uang kotor dan ambisi dosa.
Karena uang tidak pernah menjadi persoalannya.
Ketidakmampuan menentukan cukuplah persoalannya.
Ambisi juga bukan musuhnya.
Ketidakmampuan menentukan bataslah yang hampir menghancurkannya.
Ia mulai membuat aturan baru perusahaan.
Tidak ada rapat rutin setelah pukul enam kecuali darurat.
Cuti tahunan harus diambil.
Mental health support disediakan.
Orang tua sakit adalah alasan sah untuk bekerja dari rumah.
Kinerja dinilai dari hasil, bukan dari siapa paling malam meninggalkan kantor.
Program executive development memasukkan satu modul baru:
Personal Sustainability.
Beberapa direksi menganggapnya terlalu lembek.
Jayengrana tidak peduli.
“Kita bicara sustainability gedung terus,” katanya suatu hari. “Green building, energy efficiency, carbon footprint. Tapi manusia yang menjalankan gedungnya kita biarkan burnout. Logikanya di mana?”
Tidak ada yang menjawab.
“Profit penting,” lanjutnya. “Cash flow penting. Target penting. Tapi perusahaan yang sehat tidak seharusnya tumbuh dengan menghabiskan manusianya.”
Ia melihat Maktal.
Lelaki itu tersenyum.
Ibunya sudah sehat kembali.
.
Tiga tahun kemudian, pada suatu Minggu pagi, Jayengrana bangun pukul lima lewat tiga puluh.
Tanpa alarm.
Rengganis masih tidur.
Ia membuat kopi.
Kemudian duduk di teras.
Langit Jakarta berwarna abu-abu muda.
Kota belum sepenuhnya bangun.
Tidak ada klakson.
Tidak ada meeting.
Tidak ada investor.
Teleponnya tergeletak di meja.
Tidak disentuh.
Pukul enam lewat sepuluh Rengganis keluar.
“Kok bangun?”
“Sudah cukup tidur.”
Rengganis duduk.
Jayengrana membuatkan kopi.
Mereka diam.
Dulu Jayengrana takut pada diam.
Diam terasa tidak produktif.
Sekarang ia tahu beberapa bagian terpenting kehidupan justru tumbuh dalam diam.
Beberapa menit kemudian telepon berbunyi.
Video call.
Raras.
Dari Amsterdam.
Wajahnya muncul bersama seorang anak kecil berusia dua tahun.
“Eyang!”
Jayengrana langsung mengambil telepon.
“Hey!”
Cucunya tertawa.
“Eyang kapan ke sini?”
Jayengrana melihat Rengganis.
“Bulan depan.”
Raras tertawa.
“Really?”
Pertanyaan itu.
Pertanyaan lama.
Really?
Jayengrana tersenyum.
“Ticket sudah issued.”
“Wow. Progress.”
“Papa belajar.”
“Slowly.”
“Yang penting belajar.”
Mereka tertawa.
Setelah panggilan selesai, Jayengrana menatap layar beberapa detik.
Kemudian meletakkannya.
Rengganis bersandar di bahunya.
“Kamu bahagia?” tanyanya.
Pertanyaan yang pernah ia ajukan bertahun-tahun lalu.
Jayengrana memandang halaman.
Ia memikirkan perusahaan.
Anak-anak.
Sahabat.
Kesehatan.
Kesalahan.
Waktu.
Semua yang pernah dikejar.
Semua yang hampir hilang.
“Aku sedang belajar.”
Rengganis tersenyum.
“Jawaban aman.”
“Jawaban jujur.”
Matahari perlahan muncul di antara bangunan Jakarta.
.
Ada usia ketika manusia mulai menyadari bahwa hidup bukan lagi persoalan memiliki lebih banyak.
Melainkan menyadari apa yang sudah terlalu lama tidak kita lihat.
Tubuh yang setia membawa kita bekerja.
Pasangan yang menunggu.
Anak yang diam-diam berhenti berharap.
Sahabat yang menua bersama kita.
Orang tua yang suatu hari kursinya kosong.
Rumah yang dibangun bukan hanya untuk tidur.
Dan diri sendiri yang bertahun-tahun kita tinggalkan di belakang meja kerja.
Ambisi tidak salah.
Uang tidak salah.
Karier tidak salah.
Bisnis tidak salah.
Keinginan hidup nyaman juga tidak salah.
Yang berbahaya adalah ketika salah satu dari semuanya meminta seluruh diri kita sebagai harga.
Sebab manusia bukan perusahaan.
Tubuh bukan mesin produksi.
Keluarga bukan fasilitas pendukung karier.
Pasangan bukan tempat pulang setelah semua orang lain selesai mendapatkan waktu kita.
Dan waktu bukan aset yang dapat dibeli kembali setelah cash flow membaik.
Kita boleh mengejar banyak hal.
Tetapi sesekali berhentilah.
Lalu bertanya:
Untuk siapa semua ini?
Setelah itu, beranikan diri mengajukan pertanyaan yang lebih sulit:
Apakah mereka masih ada ketika kita akhirnya selesai mengejarnya?
.
Sebulan kemudian Jayengrana berdiri di balkon apartemen Raras di Amsterdam.
Musim semi.
Udara dingin.
Di meja ada secangkir kopi yang sudah setengah dingin.
Cucunya berlari membawa pesawat mainan.
“Eyang!”
“Ya?”
“Main!”
Jayengrana sedang membaca pesan dari kantor.
Ada masalah proyek.
Seorang direktur meminta keputusan.
Ia mulai mengetik.
Saya cek nanti.
Jempolnya berhenti.
Kata itu kembali muncul.
Nanti.
Sebuah kata kecil.
Hanya lima huruf.
Tetapi betapa banyak kehidupan pernah ia masukkan ke dalamnya.
Nanti aku pulang.
Nanti kita makan bersama.
Nanti Papa antar.
Nanti Papa datang.
Nanti liburan.
Nanti olahraga.
Nanti check-up.
Nanti ngobrol.
Nanti istirahat.
Nanti aku ganti cincinmu.
Nanti setelah perusahaan besar.
Nanti setelah proyek selesai.
Nanti setelah target tercapai.
Nanti setelah semuanya aman.
Nanti.
Nanti.
Nanti.
Seolah-olah hidup adalah sebuah hotel yang selalu menyediakan kamar tambahan ketika kita datang terlambat.
Jayengrana menghapus pesan.
Ia mengetik:
Silakan putuskan bersama tim. Saya percaya kalian.
Send.
Telepon masuk ke saku.
“Main apa?”
“Pesawat!”
Jayengrana berjongkok.
Cucunya menyerahkan pesawat kecil berwarna merah.
Mereka berlari mengelilingi ruang tamu.
Jayengrana membuat suara mesin.
Anak itu tertawa sampai terjatuh.
“Lagi!”
Mereka berlari lagi.
Raras berdiri di pintu dapur.
Diam-diam merekam.
Beberapa menit kemudian ia mengirim video kepada ibunya.
Rengganis membalas:
Akhirnya papamu belajar main.
Raras mengetik:
Terlambat sedikit.
Ia memandang ayahnya.
Lelaki itu sedang merangkak di lantai mengejar cucunya.
Raras menghapus kalimat tadi.
Mengetik lagi:
Tapi belum terlambat.
.
Pesawat merah itu jatuh ke bawah sofa.
“Eyang!”
“Kenapa?”
“Pesawatnya!”
“Di mana?”
Anak itu menunjuk.
Jayengrana berlutut.
Kemudian merangkak.
Celana mahalnya menyentuh lantai.
Jam tangannya terbentur kaki meja.
Ia tidak peduli.
Tangannya meraba ke bawah sofa.
Ketika itulah, tanpa alasan, ia kembali teringat ibunya.
Jam murah karo jam larang podo-podo mung nuduhke wektu.
Jayengrana tersenyum sendiri.
“Iya, Bu,” bisiknya.
Cucunya tidak mendengar.
“Apa, Eyang?”
“Tidak apa-apa.”
Ia berhasil meraih pesawat.
“Ketemu!”
Anak itu menjerit gembira lalu memeluk lehernya.
Sangat erat.
Jayengrana memejamkan mata.
Tidak ada applause.
Tidak ada bonus.
Tidak ada penghargaan.
Tidak ada headline majalah bisnis.
Tidak ada orang yang menyebutnya visionary leader.
Tidak ada angka pertumbuhan.
Hanya tangan kecil yang memeluk lehernya.
Tetapi entah mengapa, setelah lebih dari tiga puluh tahun bekerja keras mencari definisi keberhasilan, baru pagi itu ia merasa benar-benar berhasil.
Di luar jendela, dunia terus bergerak.
Pasar saham dibuka.
Perusahaan membuat target.
Gedung baru dibangun.
Orang-orang berangkat bekerja.
Uang berpindah tangan.
Tender dibuka.
Ambisi-ambisi baru lahir.
Semua tetap berjalan tanpa menunggu Jayengrana.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, kenyataan itu tidak menakutkan.
Ia justru merasa lega.
Karena akhirnya ia mengerti:
kita tidak harus hadir di semua tempat.
Kita hanya perlu belajar hadir sepenuhnya di tempat yang benar.
.
Barangkali kita semua memiliki sedikit Jayengrana di dalam diri.
Kita menunda tidur demi pekerjaan.
Menunda pemeriksaan kesehatan karena sibuk.
Menunda menelepon orang tua.
Menunda makan bersama keluarga.
Menunda olahraga.
Menunda liburan.
Menunda percakapan.
Menunda meminta maaf.
Menunda mengatakan sayang.
Kita menyebut semuanya pengorbanan.
Kadang memang benar.
Hidup membutuhkan perjuangan.
Anak perlu sekolah.
Rumah perlu dibayar.
Karyawan perlu menerima gaji.
Bisnis harus hidup.
Karier harus diperjuangkan.
Masa depan membutuhkan persiapan.
Tetapi di antara semua alasan yang masuk akal itu, manusia sering lupa bahwa sesuatu yang masuk akal belum tentu boleh dilakukan tanpa batas.
Kita terus berkata:
Nanti.
Setelah proyek ini.
Setelah promosi.
Setelah cicilan lunas.
Setelah bisnis stabil.
Setelah anak lulus.
Setelah punya rumah.
Setelah tabungan mencapai angka tertentu.
Setelah pensiun.
Setelah tidak sibuk.
Masalahnya, kesibukan selalu pandai melahirkan kesibukan berikutnya.
Target melahirkan target.
Keberhasilan menciptakan standar keberhasilan baru.
Dan angka cukup berpindah sedikit lebih jauh setiap kali kita hampir menyentuhnya.
Sementara kehidupan memiliki kebiasaan yang tidak menyenangkan:
ia tidak pernah memberitahukan berapa banyak nanti yang masih tersedia.
Karena itu mungkin kita tidak membutuhkan revolusi besar untuk menyelamatkan hidup.
Tidak semua orang harus resign.
Tidak semua orang harus meninggalkan kota.
Tidak semua pebisnis harus menjual perusahaan.
Tidak semua eksekutif harus menjadi petani.
Tidak.
Kadang hidup hanya meminta beberapa keputusan kecil.
Tidur satu jam lebih awal.
Berjalan kaki tiga puluh menit.
Mematikan telepon ketika makan.
Mendengarkan tanpa memotong.
Mengambil cuti.
Memeriksa kesehatan.
Menabung dengan disiplin.
Mengurangi gengsi.
Membangun cash flow tanpa menghancurkan tubuh.
Mengatakan kepada pasangan apa yang sebenarnya kita butuhkan, alih-alih berharap ia menebaknya.
Memeluk anak sebelum mereka terlalu besar untuk menunggu pelukan kita.
Menemui orang tua selagi pintu rumah mereka masih dapat dibuka dari dalam.
Dan sesekali bertanya kepada diri sendiri:
Apakah kehidupan yang sedang kubangun adalah kehidupan yang benar-benar ingin kujalani?
Sebab work-life balance bukan perkara membagi dua puluh empat jam menjadi dua bagian yang sama.
Hidup tidak pernah serapi spreadsheet.
Ada minggu ketika pekerjaan meminta lebih banyak.
Ada hari ketika keluarga membutuhkan seluruh perhatian.
Ada masa tubuh meminta kita berhenti.
Ada saat bisnis harus diperjuangkan.
Ada pula saat seseorang yang kita cintai hanya membutuhkan kita duduk di sebelahnya.
Keseimbangan bukan lima puluh-lima puluh.
Keseimbangan adalah keberanian mengetahui apa yang tidak boleh dikorbankan.
Ia adalah manajemen kesadaran.
Tentang tubuh.
Tentang uang.
Tentang pekerjaan.
Tentang hubungan.
Tentang keinginan.
Tentang batas.
Tentang cukup.
Kita tidak harus membunuh ambisi untuk menjadi manusia yang utuh.
Kita hanya perlu memastikan bahwa ketika ambisi itu tercapai, masih ada manusia di dalam diri kita yang dapat menikmatinya.
.
“Eyang!”
Jayengrana membuka mata.
Cucunya sudah berdiri beberapa langkah di depannya.
Pesawat merah diangkat tinggi-tinggi.
“Terbang lagi!”
Jayengrana bangkit.
Telepon di sakunya bergetar.
Sekali.
Ia tidak mengambilnya.
Dua kali.
Tetap tidak.
Kemudian berhenti.
Jayengrana merentangkan tangan seperti sayap.
Cucunya tertawa.
Mereka berlari.
Raras berdiri di ujung ruang tamu.
Memandang ayahnya.
Jayengrana melihatnya.
Mereka bertatapan.
Tidak ada permintaan maaf.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada janji.
Semua itu sudah pernah terlalu banyak diucapkan.
Jayengrana hanya tersenyum.
Raras membalasnya.
Dan entah bagaimana, dalam tatapan singkat itu, seorang anak perempuan akhirnya mengetahui bahwa ayahnya telah pulang.
Bukan dari Surabaya.
Bukan dari kantor.
Bukan dari perjalanan bisnis.
Melainkan dari sebuah perjalanan yang jauh lebih panjang:
perjalanan kembali menuju kehidupannya sendiri.
Pesawat merah melintas di antara mereka.
Cucunya berteriak kegirangan.
Matahari musim semi masuk melalui kaca dan jatuh lembut ke lantai.
Jayengrana kembali berlari.
Tidak menuju bandara.
Tidak menuju ruang rapat.
Tidak mengejar target.
Tidak menuju masa depan yang terus-menerus menjanjikan bahwa kebahagiaan berada sedikit lebih jauh di depan.
Hari itu ia tidak sedang menabung kehidupan untuk nanti.
Ia ada di sana.
Hari itu.
Saat itu.
Bersama mereka.
Sepenuhnya.
Dan rupanya, sepanjang hidupnya, hanya itulah yang diminta orang-orang yang mencintainya:
hadir.
.
.
.
Malang, 17 September 2026
.
#Nanti #Cerpen #CerpenSastra #WorkLifeBalance #KarierDanKeluarga #RefleksiKehidupan #Leadership #PersonalSustainability #SelfAwareness #LifeLessons #KehidupanPerkotaan #Bisnis #Keluarga #NamakuBrandku #JeffreyWibisono
.
QUOTES PILIHAN
“Kita terlalu sering berkata ‘nanti’ kepada orang-orang yang kita cintai, seolah-olah hidup pernah berjanji menyediakan hari esok.”
“Cinta tidak selalu lapar pada fasilitas. Kadang ia hanya lapar pada kehadiran.”
“Pemimpin yang organisasinya hanya dapat berjalan ketika ia hadir bukanlah pemimpin hebat. Ia hanya berhasil menciptakan ketergantungan.”
“Uang tidak pernah menjadi persoalannya. Ketidakmampuan menentukan cukup-lah persoalannya.”
“Ambisi bukan musuh. Ketidakmampuan menentukan bataslah yang dapat menghancurkan kita.”
“Jangan membangun karier yang suatu hari membuat kalian harus memperkenalkan diri kembali kepada keluarga sendiri.”
“Keseimbangan bukan lima puluh-lima puluh. Keseimbangan adalah keberanian mengetahui apa yang tidak boleh dikorbankan.”
“Kita tidak harus hadir di semua tempat. Kita hanya perlu belajar hadir sepenuhnya di tempat yang benar.”
“Kesibukan selalu pandai melahirkan kesibukan berikutnya.”
“Hidup tidak pernah memberitahukan berapa banyak ‘nanti’ yang masih tersedia.”