Ketika Nama Menemukan Pemiliknya
“Nama bukan sekadar bunyi yang dipanggil orang lain. Ia adalah doa yang diam-diam menagih kita menjadi manusia yang lebih utuh.”
.
Pagi itu Jakarta seperti biasa: terlalu sibuk untuk berduka.
Di Jalan Sudirman, kaca-kaca gedung memantulkan matahari yang baru naik, seperti ribuan keping ambisi yang belum sempat dibersihkan dari debu malam. Mobil-mobil hitam mengular, pengemudi ojek daring menyelinap di antara spion, dan para eksekutif muda melangkah cepat dengan sepatu mahal, kopi di tangan kanan, hidup yang tampak terkendali di tangan kiri.
Di lantai tiga puluh dua sebuah gedung perkantoran, seorang lelaki bernama Tresna Wicaksana Satya berdiri di depan jendela.
Nama itu terlalu panjang untuk kartu nama korporat.
Di email kantor, ia menulis dirinya: T.W. Satya.
Di lingkaran bisnis, orang memanggilnya Satya.
Di rumah, ibunya masih memanggilnya Tresna.
Dan pada pagi itu, setelah dua puluh tahun meniti karier dari trainee hotel, konsultan hospitality, pengelola investasi properti, sampai menjadi direktur sebuah grup usaha keluarga yang punya hotel butik, restoran, klinik estetika, lembaga kursus, dan yayasan pendidikan, Satya mendadak merasa tidak mengenal nama yang selama ini ia bawa.
Di meja kerjanya ada tiga berkas.
Berkas pertama: proposal pembangunan apartemen premium di atas lahan kampung tua pinggir kota.
Berkas kedua: laporan audit internal tentang mark-up pengadaan.
Berkas ketiga: surat dari ibunya, ditulis tangan, dikirim melalui sopir dari Malang.
Surat itu hanya berisi satu kalimat.
“Le, jangan sampai nama baikmu lebih bersih daripada hatimu.”
Satya membaca kalimat itu berulang-ulang.
Di luar, kota masih percaya bahwa kesuksesan adalah gedung tinggi, mobil sunyi, dan kalender penuh rapat.
Tetapi di dalam dirinya, sesuatu runtuh pelan-pelan.
.
Nama Tresna Wicaksana Satya diberikan oleh ayahnya, Jayengrana, seorang guru sastra Jawa yang mengajar di SMA negeri sebelum pensiun dini dan membuka perpustakaan kecil di rumah.
Ayahnya tidak kaya.
Tetapi ia memiliki kemewahan yang jarang dimiliki orang kota: waktu untuk duduk, membaca, dan mendengarkan orang lain selesai bicara.
“Kenapa namaku panjang sekali, Pak?” tanya Satya kecil suatu sore.
Waktu itu ia duduk di lantai teras, memakai seragam SD yang lututnya terkena noda tanah. Ayahnya sedang membungkus buku-buku tua dengan plastik bening.
“Karena hidupmu juga jangan pendek maknanya,” jawab ayahnya.
“Apa artinya?”
Ayahnya tersenyum.
“Tresna itu kasih. Bukan kasih yang hanya diucapkan, tapi yang dikerjakan. Kalau kamu melihat orang lapar, jangan hanya bilang kasihan.”
“Berarti harus diberi makan?”
“Kalau mampu, iya. Kalau belum mampu, paling tidak jangan ikut menambah laparnya.”
Satya mengangguk, meski belum benar-benar paham.
“Wicaksana itu kebijaksanaan. Orang pintar belum tentu wicaksana. Orang punya kuasa belum tentu adil. Kelak kalau kamu memimpin, jangan memimpin seperti orang takut kehilangan kursi.”
“Lalu Satya?”
“Satya itu kebenaran. Setia pada yang benar, bahkan ketika yang benar membuatmu rugi.”
Ayahnya menatapnya lama.
“Nama itu bukan hiasan, Le. Nama itu utang.”
Satya kecil tidak tahu, kelak utang itu akan datang menagih tepat ketika hidupnya tampak lunas.
.
Dua puluh lima tahun kemudian, Satya menjadi orang yang disebut berhasil.
Ia tinggal di apartemen luas di Jakarta Selatan, dengan dinding berwarna abu-abu lembut dan lukisan abstrak yang dibeli karena kurator mengatakan nilainya akan naik. Istrinya, Sekar, seorang konsultan pendidikan internasional, mengelola program beasiswa untuk anak-anak Indonesia yang ingin kuliah ke luar negeri. Putri mereka, Rara, bersekolah di SMA swasta bilingual, fasih berbicara tentang sustainability, artificial intelligence, dan mental health, namun sering kesulitan makan malam bersama ayahnya tanpa melihat ayahnya membuka pesan WhatsApp.
Di dunia luar, keluarga Satya terlihat lengkap.
Di Instagram Sekar, mereka adalah keluarga urban yang sehat: makan di restoran Jepang, liburan ke Sumba, menghadiri konser klasik, berfoto di depan instalasi seni, dan sesekali mengunggah kegiatan amal yayasan.
Tetapi seperti banyak keluarga kelas menengah atas perkotaan, mereka lebih sering berbagi alamat rumah daripada ruang batin.
Sekar memiliki ruang kerjanya sendiri.
Rara memiliki dunianya sendiri.
Satya memiliki kelelahan yang ia sembunyikan di balik jas.
Malam-malam di rumah mereka sering sunyi bukan karena tidak ada suara, melainkan karena setiap orang sibuk menjelaskan diri kepada layar masing-masing.
“Ayah tahu nggak nama lengkap Ayah artinya apa?” tanya Rara suatu malam.
Satya sedang membaca laporan keuangan di tablet.
“Tahu. Kenapa?”
“Tugas sekolah. Kami diminta menulis tentang nama dan identitas.”
Satya tersenyum kecil. “Bagus. Tulis saja bahwa nama itu doa.”
“Itu klise, Yah.”
Satya berhenti sebentar.
“Lalu menurutmu apa?”
Rara menatap ayahnya. Matanya jernih, berani, dan sedikit terluka.
“Nama itu janji. Tapi kadang orang dewasa hidup seperti tidak pernah berjanji.”
Kalimat itu jatuh di meja makan seperti gelas pecah.
Sekar menunduk.
Satya pura-pura batuk.
Teleponnya berdering. Nama Kelana muncul di layar.
Ia berdiri.
“Sebentar. Ayah angkat ini dulu.”
Rara tidak menjawab.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Satya merasa anaknya tidak sedang membantah.
Anaknya sedang membaca dirinya.
.
Kelana adalah saudara sepupu Satya, sekaligus direktur operasional dalam grup keluarga Mandraka Sentosa.
Mereka tumbuh bersama, tetapi memilih jalan berbeda.
Satya percaya sistem, reputasi, dan pembangunan berkelanjutan.
Kelana percaya kecepatan, jaringan, dan keberanian mengambil kesempatan sebelum orang lain sempat bertanya.
“Sat, besok board meeting jangan terlalu idealis,” kata Kelana di telepon.
“Maksudmu?”
“Lahan Kebon Pala itu sudah hampir pasti. Investor Singapura masuk kalau kita bisa clean and clear tiga bulan.”
“Masih ada warga di sana.”
“Relokasi.”
“Relokasi ke mana?”
“Kita siapkan kompensasi.”
“Kompensasi bukan pengganti sejarah hidup orang.”
Kelana tertawa kecil.
“Ini masalah bisnis, Sat. Jangan jadikan semuanya puisi.”
Satya diam.
“Kamu ini kadang seperti bapakmu,” lanjut Kelana. “Terlalu sibuk mencari makna sampai lupa bahwa dunia nyata butuh angka.”
Satya menatap lampu kota dari balkon apartemennya.
Di bawah sana, Jakarta bergerak seperti mesin raksasa yang tidak pernah bertanya siapa yang tergilas.
“Angka juga punya wajah, Lan.”
“Wajah tidak muncul di laporan laba rugi.”
“Justru itu masalahnya.”
Telepon terputus.
Malam semakin larut.
Satya kembali ke ruang makan. Sekar sudah membereskan piring. Rara sudah masuk kamar.
Di meja, tertinggal selembar kertas tugas sekolah Rara.
Judulnya: Arti Seuntai Nama.
Pada kalimat pertama, Rara menulis:
“Aku ingin tahu apakah nama ayahku masih tinggal di dalam dirinya.”
Satya membaca itu sambil berdiri.
Ada rasa sakit yang tidak membuat suara, tetapi langsung menemukan tempat paling dalam di dada.
.
Board meeting Mandraka Sentosa dimulai pukul sembilan pagi.
Di ruangan itu hadir orang-orang yang sangat rapi dalam berbicara tentang masa depan.
Ada Menak Sabrang, komisaris independen yang pernah menjadi pejabat publik dan kini menjadi penasihat bisnis.
Ada Raden Umarmaya, pakar hukum korporasi yang pintar membungkus risiko dengan bahasa yang terdengar elegan.
Ada Dewi Sudarawerti, CFO yang teliti, tajam, dan diam-diam mulai muak dengan cara perusahaan menyembunyikan luka di bawah istilah strategis.
Ada juga Kelana, tentu saja, dengan senyum seorang pemburu yang sudah mencium darah kesempatan.
Presentasi dimulai.
Apartemen premium dua menara.
Retail lifestyle.
Private wellness club.
Sky garden.
Target market: keluarga muda mapan, ekspatriat, profesional kreatif, investor properti.
Return on investment: menggiurkan.
Branding: “Urban Sanctuary for the New Achievers.”
Satya memperhatikan slide itu.
Ia mengenali bahasa yang indah ketika dipakai untuk menutupi hal yang belum selesai secara moral.
“Bagaimana status sosial warga?” tanyanya.
Kelana menoleh. “Sudah dipetakan.”
“Berapa kepala keluarga?”
“Seratus dua puluh tujuh.”
“Berapa yang setuju pindah?”
Kelana menatap Umarmaya.
Umarmaya membuka dokumen. “Secara hukum, sebagian besar lahan sudah berpindah kepemilikan melalui proses yang sah.”
“Saya tidak bertanya sah. Saya bertanya setuju.”
Ruangan menjadi sepi.
Menak Sabrang mengetuk meja pelan.
“Satya, dalam pembangunan kota, selalu ada pihak yang harus menyesuaikan.”
“Menyesuaikan atau disingkirkan?”
“Kata-kata bisa membuat masalah sederhana menjadi emosional.”
“Kadang masalah menjadi sederhana karena kita menolak merasakan emosi orang lain.”
Dewi Sudarawerti mengangkat wajah.
Untuk pertama kalinya pagi itu, seseorang di ruangan itu tampak bernapas.
Kelana menyandarkan tubuhnya.
“Baik. Kalau kita ikuti standar moral kamu, proyek ini mundur setahun. Investor bisa pergi. Bank bisa berubah sikap. Cash flow holding terganggu. Hotel di Bandung butuh renovasi. Sekolah vokasi hospitality kita butuh subsidi. Klinik baru butuh alat. Kamu mau menjelaskan itu ke semua karyawan?”
Satya terdiam.
Itulah kekejaman dunia dewasa: yang salah tidak selalu datang dengan wajah jahat. Kadang ia datang dengan spreadsheet yang masuk akal.
“Yang saya minta bukan membatalkan proyek,” kata Satya pelan. “Saya minta kita membangun tanpa mempermalukan manusia yang sudah lebih dulu hidup di sana.”
“Caranya?”
“Kita buat relokasi bermartabat. Hunian pengganti dekat akses kerja mereka. Pelatihan usaha. Prioritas kerja untuk anggota keluarga. Dana pendidikan anak. Dokumentasi sejarah kampung menjadi bagian dari desain kawasan. Dan audit ulang proses pembelian lahan.”
Umarmaya tersenyum tipis.
“Itu mahal.”
Satya menatapnya.
“Lebih mahal mana, Pak? Membayar keadilan sekarang atau membayar kutukan sosial nanti?”
Tidak ada yang menjawab.
Di ujung ruangan, Dewi menutup laptopnya.
“Saya mendukung audit ulang,” katanya.
Kelana menoleh tajam. “Dewi.”
“Saya CFO, bukan penjaga kebohongan.”
Kalimat itu membuat udara berubah.
Satya tahu, mulai hari itu, hidupnya tidak akan kembali nyaman.
.
Kebon Pala bukan kampung miskin seperti yang sering dibayangkan orang gedung.
Di sana ada rumah-rumah kecil yang dicat warna hijau, warung kopi dengan Wi-Fi, bengkel motor, salon rumahan, studio foto wisuda, kursus matematika, katering harian, laundry kiloan, dan mushola kecil yang pengeras suaranya kadang kalah oleh deru MRT.
Warga di sana bukan anti pembangunan.
Mereka hanya takut kehilangan alamat yang menyimpan nama-nama orang tua mereka.
Satya datang ke sana tanpa rombongan besar.
Ia ditemani Tirtayasa, manajer CSR muda lulusan kampus ternama yang awalnya menganggap kunjungan lapangan sebagai konten.
“Pak, sebaiknya kita dokumentasikan,” kata Tirtayasa sambil mengeluarkan ponsel.
“Untuk apa?”
“Transparency. Engagement. Brand trust.”
Satya menatapnya.
“Jangan jadikan luka orang sebagai aset komunikasi.”
Tirtayasa menurunkan ponsel.
Mereka berjalan memasuki gang. Bau gorengan, sabun cuci, asap knalpot, dan hujan semalam bercampur menjadi aroma kota yang tidak pernah muncul di brosur properti.
Di sebuah rumah kontrakan, Satya bertemu Sulastri, pemilik katering yang memasok makan siang untuk karyawan kantor sekitar. Suaminya sopir taksi online. Anaknya, Jaka, kuliah desain komunikasi visual sambil bekerja paruh waktu membuat logo untuk UMKM.
“Bapak dari perusahaan itu?” tanya Sulastri.
Satya mengangguk.
“Saya datang untuk mendengar.”
Sulastri tertawa pendek.
“Orang seperti Bapak biasanya datang setelah keputusan dibuat.”
Satya tidak membantah.
“Benar, Bu. Dan mungkin itu kesalahan kami.”
Sulastri menatapnya agak lama. Barangkali ia jarang mendengar orang berjas mengucapkan kata salah tanpa segera menambahkan tetapi.
“Kami bukan tidak mau pindah,” kata Sulastri akhirnya. “Tapi jangan disuruh pindah seperti barang gudang. Di sini pelanggan saya tahu rumah saya. Anak saya lahir di sini. Ibu saya meninggal di kamar belakang. Kalau kami pergi, yang hilang bukan tembok. Yang hilang itu arah pulang.”
Satya mencatat kalimat itu.
Arah pulang.
Ia teringat ayahnya.
Ia teringat Malang.
Ia teringat dirinya sendiri yang mungkin sudah lama tidak pulang, meski setiap minggu naik pesawat.
.
Malamnya Satya mengunjungi ibunya di Malang.
Rumah itu masih sama.
Teras dengan kursi rotan.
Rak buku ayahnya yang mulai dimakan usia.
Foto keluarga yang warnanya memudar.
Ibunya, Ratnaningsih, duduk di ruang tengah sambil merapikan rosario tua dan beberapa buku catatan ayahnya.
“Kamu kurus,” kata ibunya.
“Ma, semua ibu selalu bilang anaknya kurus.”
“Karena semua anak selalu merasa ibunya berlebihan.”
Satya tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, senyum itu tidak dipakai untuk rapat.
Setelah makan malam, ibunya menyerahkan sebuah buku kecil bersampul cokelat.
“Catatan bapakmu.”
Satya membukanya.
Di halaman pertama tertulis:
Tresna tanpa tindakan menjadi belas kasihan yang malas.
Wicaksana tanpa keberanian menjadi kecerdasan yang pengecut.
Satya tanpa kasih menjadi kebenaran yang melukai.
Satya berhenti membaca.
Matanya panas.
“Bapak menulis ini kapan?”
“Waktu kamu diterima kerja pertama di hotel.”
Satya menunduk.
Dulu ia memulai hidup dari bawah. Berdiri berjam-jam di lobby hotel, belajar tersenyum kepada tamu yang bahkan tidak mengingat namanya. Ia pernah tidur di mes karyawan, pernah makan mi instan sebelum shift malam, pernah dimarahi karena salah mencetak bill, pernah menangis diam-diam di toilet staf setelah seorang tamu mempermalukannya di depan umum.
Lalu ia naik.
Pelan-pelan.
Ia belajar bahasa Inggris, presentasi, negosiasi, laporan keuangan, digital marketing, branding, manajemen krisis. Ia masuk ruang-ruang yang dulu hanya ia bersihkan dari luar. Ia bertemu investor, pemilik hotel, pejabat, selebritas, akademisi.
Tetapi di suatu titik, ia mulai memakai keberhasilan seperti baju zirah.
Agar tidak ada yang melihat bahwa di dalamnya masih ada anak muda yang takut dianggap tidak cukup.
“Ma,” katanya pelan, “apakah Bapak kecewa kalau tahu aku sekarang?”
Ibunya menatapnya.
“Bapakmu tidak pernah mendidik kamu supaya tidak salah. Ia mendidik kamu supaya tahu jalan pulang setelah salah.”
Satya menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia menangis bukan karena gagal.
Ia menangis karena merasa ditemukan.
.
Keputusan Satya membuat badai.
Investor menekan.
Kelana marah.
Media bisnis mencium konflik internal.
Sebagian direksi menganggap Satya membawa perusahaan ke risiko reputasi yang lebih besar.
Tetapi audit membuka sesuatu yang tidak bisa lagi ditutup: ada permainan harga, perantara gelap, tekanan psikologis kepada beberapa warga, dan potensi konflik kepentingan dalam pengadaan awal.
Nama Kelana terseret.
Nama Umarmaya ikut disebut.
Mandraka Sentosa pecah seperti keluarga yang terlalu lama menyimpan piring retak di lemari kaca.
Di rumah, Sekar memeluk Satya tanpa banyak bertanya.
“Kalau semua ini membuat kita kehilangan banyak hal?” tanya Satya.
Sekar menjawab pelan.
“Mungkin kita hanya kehilangan hal-hal yang selama ini membuat kita sulit saling menemukan.”
Rara berdiri di pintu kamar.
“Ayah benar-benar akan melawan mereka?”
Satya menatap putrinya.
“Ayah tidak sedang melawan orang. Ayah sedang mencoba tidak mengkhianati nama Ayah.”
Rara berjalan mendekat.
“Kalau Ayah kalah?”
Satya tersenyum letih.
“Setidaknya kamu tahu Ayah pernah mencoba benar.”
Rara memeluknya.
Pelukan itu pendek, canggung, tetapi cukup untuk membuat sesuatu yang beku di antara mereka mencair.
.
Enam bulan kemudian, proyek Kebon Pala berubah nama.
Bukan lagi “Urban Sanctuary for the New Achievers.”
Satya menggantinya menjadi Pala Wening: Ruang Tumbuh Bersama.
Desainnya direvisi.
Sebagian kampung dipertahankan sebagai koridor budaya dan ekonomi mikro. Warga yang pindah mendapat unit hunian terjangkau di kawasan yang sama. Anak-anak muda Kebon Pala dilibatkan dalam studio kreatif, manajemen gedung, kuliner, desain mural, dokumentasi sejarah, dan pelatihan hospitality.
Sulastri membuka dapur komunitas modern yang memasok katering sehat untuk tenant perkantoran.
Jaka mendesain identitas visual kawasan.
Tirtayasa, yang dulu ingin merekam luka untuk konten, kini memimpin program inkubasi UMKM dengan lebih banyak mendengar daripada bicara.
Dewi menjadi CEO baru setelah restrukturisasi.
Kelana mundur.
Umarmaya pensiun dari dewan penasihat.
Satya tidak menjadi pahlawan.
Ia kehilangan posisi direktur grup.
Sebagian media menulisnya sebagai eksekutif idealis yang tidak cocok dengan ritme bisnis agresif.
Sebagian lain menyebutnya wajah baru kepemimpinan etis.
Satya tidak terlalu peduli.
Ia membuka kantor konsultasi kecil di sebuah ruko tenang di Jakarta Selatan. Namanya sederhana: Seuntai Nama Advisory.
Di sana ia membantu keluarga bisnis, sekolah vokasi, hotel butik, UMKM naik kelas, dan yayasan sosial membangun sistem tanpa kehilangan jiwa.
Di dinding kantornya ia memasang tiga kata:
Tresna. Wicaksana. Satya.
Kasih.
Kebijaksanaan.
Kebenaran.
Tiga kata yang tidak membuat hidup menjadi mudah.
Tetapi membuat hidup tidak kehilangan arah.
.
Pada hari peresmian Pala Wening, hujan turun tipis.
Bukan hujan besar yang membuat orang bubar, melainkan hujan lembut yang membuat semua tampak seperti sedang diberkati.
Satya berdiri di belakang kerumunan.
Ia melihat Sulastri menerima pesanan melalui aplikasi.
Ia melihat Jaka memotret mural wajah para sesepuh kampung.
Ia melihat anak-anak berlari di lorong yang dulu hampir menjadi pagar seng proyek.
Ia melihat Sekar berbicara dengan beberapa guru tentang program beasiswa vokasi.
Ia melihat Rara memandu tur kecil untuk teman-teman sekolahnya, menjelaskan bahwa pembangunan kota tidak harus selalu berarti penghapusan ingatan.
Ibunya datang dari Malang, berjalan pelan dengan tongkat.
“Le,” katanya.
“Iya, Ma?”
“Sekarang namamu terdengar lebih pas.”
Satya tertawa kecil.
“Dulu belum?”
“Dulu namamu seperti jas mahal yang kebesaran. Sekarang seperti baju rumah yang akhirnya kamu pakai sendiri.”
Satya menggenggam tangan ibunya.
Di panggung kecil, Rara membacakan tulisan sekolahnya yang sudah direvisi.
Suaranya terdengar jelas di antara gerimis.
“Dulu aku mengira nama adalah sesuatu yang diberikan orang tua kepada anaknya. Sekarang aku tahu, nama juga sesuatu yang harus dikembalikan anak kepada dunia. Ayahku bernama Tresna Wicaksana Satya. Ia tidak selalu benar. Ia pernah jauh, pernah sibuk, pernah takut, pernah diam. Tetapi suatu hari ia memilih pulang kepada arti namanya. Dari situ aku belajar, manusia tidak harus sempurna untuk menjadi teladan. Ia hanya harus berani berhenti berbohong kepada dirinya sendiri.”
Satya menunduk.
Bukan karena malu.
Tetapi karena ada air mata yang terlalu pribadi untuk ditunjukkan kepada kota.
Di atas panggung, Rara melanjutkan:
“Kasih tanpa tindakan hanyalah perasaan. Kebijaksanaan tanpa keberanian hanyalah pengetahuan. Kebenaran tanpa kerendahan hati hanyalah kesombongan. Tetapi ketika kasih, keberanian, dan kebenaran berjalan bersama, seorang manusia bisa menjadi rumah bagi banyak orang.”
Gerimis turun lebih rapat.
Jakarta, yang biasanya terlalu sibuk untuk berduka, sore itu seperti diberi kesempatan untuk diam.
Dan di tengah kota yang terus tumbuh, di antara gedung, gang, warung, apartemen, sekolah, klinik, kantor konsultan, dan mimpi-mimpi kelas menengah yang sering lupa bertanya untuk siapa semua pencapaian itu dibangun, Satya akhirnya memahami sesuatu.
Nama bukan masa lalu.
Nama bukan sekadar administrasi.
Nama bukan pajangan di kartu nama, bukan tanda tangan di kontrak, bukan profil LinkedIn, bukan jabatan di pintu ruangan.
Nama adalah arah pulang.
Dan setiap manusia, betapa pun jauhnya ia pergi, selalu punya satu tempat paling sunyi untuk kembali:
arti dirinya sendiri.
.
.
.
Malang, 29 Juni 2026
.
.
#ArtiSeuntaiNama #CerpenIndonesia #SastraPerkotaan #KepemimpinanMelayani #EtikaBisnis #KelasMenengahUrban #NamakuAdalahIdentitas #BrandkuAdalahWarisan #TresnaWicaksanaSatya #KasihKebijaksanaanKebenaran #JeffreyWibisonoV #NamakuBrandku
.
Quotes Tambahan
“Jabatan bisa memperkenalkan siapa kita kepada dunia, tetapi keputusan sulit memperkenalkan siapa kita kepada diri sendiri.”
“Orang yang benar-benar memimpin tidak selalu berdiri paling depan. Kadang ia hanya orang pertama yang berani berkata: ini tidak adil.”
“Kota boleh dibangun dari beton dan kaca, tetapi peradaban hanya bisa dibangun dari hati yang tidak tega.”
“Kesuksesan yang tidak menyisakan ruang bagi orang kecil hanyalah kegagalan yang memakai jas mahal.”
“Pulang bukan selalu kembali ke rumah lama. Pulang adalah kembali kepada nilai yang dulu membuat kita manusia.”