Love

 

I SHOUT IN MY LONELINESS
OH GOD…. I AM FALLING IN LOVE!!!!!!

Tuhan… berat sekali perasaan ini membebaniku
Lelah aku menahannya.
Dia… tidak memiliki rasa yang aku rasakan
Aku sudah sampaikan rasaku kepadanya untuk membuat dadaku lega.
Aku beritakan rasaku ini kepada sahabat-sahabatku
Friend… aku jatuh cinta ….
Dan orangnya gak mau
Kena batunya neh guwe
Bisa kena hati begini yang mempermainkan emosiku
Belum juga aku berhenti berharap
Dia tiba-tiba meresponse SMS ku dengan kata kata biasa
Tetapi aku berbunga
Saya berharap dia menelponku dan memberikan harapan
Tetapi… tidak terjadi
Aku beranikan diri untuk mengontaknya sekali lagi
Dan sekali lagi…
Lalu aku memaksakan untuk menahan diri menanti waktu luangnya sesuai janjinya
Dan tidak ada berita
Dan akupun harus berhenti berharap
Cukup sudah rasa ini dan harus aku bekukan rasa hangat dilubuk hatiku itu
Lalu…
Dia menelponku disuatu sore
Saat yang sangat tidak tepat
Karena aku sedang meeting dengan dua orang atasanku untuk urusan kerjaan
Kemudian… hampir dua jam sudah dia masih mau menungguku
Tanpa harapan apapun aku menemuinya
Basi… kataku yang sebenarnya mengingkari kata hatiku sendiri
Di tempat yang aku tuju…
Ternyata aku bertemu orang orang yang aku kenal
Hhhhh…. membuatku lebih relax
Sampai ketika dia aku ajak makan malam, karena sudah waktunya
Dan dia mau …
Ternyata aku masih menaruh harapan
Belum pupus
Walau kemudian aku sampaikan secara terbuka dan tegas
Seperti dia salin kedalam e-mailnya kepadaku

Rupanya….
Disinilah permulaan dari cerita ini….
Email dia baru aku baca setelah dua hari dia kirim ke alamat e-mailku yang non aktif.

Jawabnya
sms – makes me wonder!

“Oh… aku kirain sudah berangkat bobo. Ternyata nunggu balasan. Oh well, maksud gw kalo kamu gak bisa n gak mau ada romantic relationship denganku ya gak usah kasih harapan. Bilang aza. Gitu loh”

Ini adalah sms kamu untukku.
Tiba-tiba aku bertanya: bukankah aku yang seharusnya menulis kalimat itu?
Jangan beri aku harapan, karena aku takut kandas!
Dua hari ini aku berpikir, apakah saat kamu bilang ‘there is something different when I look at you’ itu serius? Atau sekedar bullshit (maaf, kamu pasti ga suka kata ini, tapi aku ga bisa memilih kata yang lebih pas)?
Bukan tanpa alasan aku bertanya ini: aku tidak pernah punya keberanian untuk mendengar itu. Berpikir pun tidak. Tak pernah berharap kalimat itu keluar dari pesohor sepertimu. Bagiku kamu adalah dunia lain, tak tergapai. Cara pandangku yang salah? Mungkin.
Dua hari ini aku on-line (hal yang belum tentu kulakukan seminggu sekali), berharap kita bisa bicara. Sekarang aku lega sudah bisa bicara seperti ini untuk kamu (mungkin hal yang sama kamu rasakan saat kamu ungkapkan rasa itu padaku.
Itu kata kamu. Bener atau ga, aku ga tahu. Dan aku memilih untuk tidak mau tahu).
Paling tidak, malam ini tidurku lebih nyenyak. Dan esok pagi, hariku akan lebih relax di kantor. Naif? Aku ga peduli.

Ya, terjadi komunikasi tertulis setelah dua bulan aku menanggung rasa itu sendiri.

Pada malam aku ketemu dia di akhir December itu beberapa hari sebelum malam tahun baru, itu adalah satu diantara kesendirianku sepulang kerja dan menyetir mobil menuju rumah tetapi mencari pemberhentian untuk sekedar mengisi perut tetapi tanpa tujuan.

Sebegitu jauhnya aku menyetir sekejap terlintas makanan Palembang dan aku berbalik arah menuju tempat yang aku yakin sepi dan bagus untuk aku menyendiri.
Ternyata sudah ada dia yang menyapaku dengan hangat. Dia bersama seseorang. Aku tidak ingat siapa dia yang menyapaku, walau wajah itu ada di benakku

Sambil aku makan akupun mencuri-curi pandang untuk mengingat siapa dirinya. Hopeless… aku tidak ingat sama sekali. Memori lagi error.
Mungkin dia tidak sempat membaca betapa kikuknya aku sampai mengeluarkan kartu nama dengan harapan diapun memberikan punyanya untukku. Tetapi tidak.. dia tidak memberikannya.
Sampai akhirnya dia mendatangi mejaku kembali berpamitan dan mengajakku berjabat tangan. Sampai aku bisa menyebutkan namanya pada akhirnya. Pujian spontan sempat aku lontarkan dan akupun terkaget. Sekali lagi tanpa dia tahu.
Dan diapun melangkah pergi
Dan saat itulah… tiba tiba hatiku rasa aku kehilangannya
Dan terbayang bayang wajahnya sampai di rumah
Dan… kasarnya telapak tangannyapun yang aku rasakan saat kami berjabat tangan masih terasa.
ANEH! Dan akupun mencari nomor HPnya dan menyampaikan aku kena pelet jokingly.
Tetapi.. kok debaran hatiku keterusan…

Kenapa harus dirinya???

Pernah disuatu saat aku meminta kepada Tuhanku … kalau aku Kau ciptakan berpasang-pasangan, maka Kau tunjukkanlah jodohku ya Tuhan. Tetapi apabila aku harus menyalahi kodratMu dan Kau berikan aku jodoh, berikanlah aku orang yang sederhana tetapi mengasihiku.

Apakah dia jawaban dari semua itu? Aku tidak tahu…

Dia masuk kedalam benakku disaat aku sudah tidak mengharapkan apapun untuk sebuah jalinan asmara. Hilang sudah dendamku hilang sudah hasratku.

Kataku hatiku untuknya:
Aku tidak dapat berjanji akan menjadi matamu disaat kau tidak dapat melihat
Aku tidak dapat berjanji akan menjadi tanganmu ketika kau tidak dapat menjamah
Aku tidak dapat berjanji akan menjadi kakimu ketika kau tidak dapat melangkah
Tetapi
Apabila saat itu tiba dan aku masih ada di dekatmu, disampingmu…
Aku akan melakukan apapun sebisaku untuk ketidak mampuanmu

Sakitmu adalah sakitku???
Tentu saja tidak!!!
Kalau salah satu dari kita sakit, seorang lainnya setidaknya mampu mengobati sakit itu

Aku tidak mau jadi pacarmu
Karena aku memauimu bukan dari birahiku
Saat ini untukmu
Yang ada dalam diriku dalam hatiku adalah kasih
Dan aku berharap kamu mampu menghiasinya
Untuk menjadi rumahmu
Dan kasihku adalah persediaan perbedaanmu
Perdebatanmu

Dan selanjutnya…. dia hadir mengisi hidupku, walau semusim saja.
Jeffrey Wibisono V.
Bali, 22 April 2015