“Seneng dong, Jeff, sudah tercapai cita-citanya menjadi GM?!”

Lontaran kalimat seperti itu sering diucapkan kepada saya. Hmmm, kata saya dalam hati. Orang-orang ini tentunya hanya melihat saya dari “surface”, permukaan saja. You know my name, but you don’t know what I’ve been through.

Terhadap orang-orang itu, jawaban saya selalu tegas, sambil memasang muka seserius mungkin, “Nope! Tidak! Ini bukan cita-cita saya. Tetapi mendapat posisi GM ini adalah bonus karir saya.”

Biasanya wajah lawan bicara saya terlihat terkejut dan  ternganga. Ada juga yang  tersenyum kecut. Mungkin dalam pikiran mereka berkata, “Kok ada ya orang yang citanya nggak tinggi-tinggi amat…

 Lah ya iyalah, kan cita-cita saya dari awal ingin menjadi Public Relations di hotel, dan itu sudah tercapai! Titik. Jadi, mendapatkan jabatan lebih tinggi setelah jabatan Public Relations Manager adalah bonus, bonus, bonus. Sebuah hadiah.  Seperti kado, buka saja bungkusnya aduk-aduk isinya, dipilah-pilah dan dinikmati saja segala cita rasa “hadiah” yang diberikan. Ada sih keselek tersedaknya yang membuat saya meneteskan air mata. Ditambah lagi dengan drama-dramanya yang membuat setiap episode karir menjadi menarik, menantang, mengedukasi dan bagian dari proses pematangan seorang pekerja, seorang praktisi perhotelan.

Lalu, apa sih cerita masalah ingkar janji yang dimaksud oleh judul besar di atas itu? Saya akan membawa Anda menoleh jauh ke belakang, ke masa-masa awal cerita perpindahan saya di dalam multi national group media di bawah divisi perdagangan dengan penempatan sebagai tenaga kerja honorer di toko buku di kota Malang. Setelah masa kerja satu tahun, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dengan alasan akan sekolah perhotelan di Bali. Saat itu pendaftaran mahasiswa baru BPLP mulai di buka di tahun 1985. Saya kembali lagi kepada circle fokus mencapai cita-cita, menjadi Public Relations sebuah hotel.

Pengunduran diri saya tidak langsung diterima oleh kepala cabang toko buku tempat awal saya bekerja. Tetapi beliau ternyata sangat kreatif dan langsung menelpon kepala divisi perdagangan di kantor pusat Jakarta. Selanjutnya saya berbicara per telepon dengan kepala divisi perdagangan yang saya kenal sebagai seorang figure kebapakan dan tenang ini.

“Mau sekolah di Bali, apakah sudah mendapat pekerjaan baru?” tanyanya.

“Tidak,” jawab saya.

“Kalau sekolah lagi dan meninggalkan pekerjaan yang sekarang, nanti kalau sudah lulus kan belum tentu dapat pekerjaan lagi. Jadi, sebaiknya Jeffrey tidak usah sekolah lagi dulu, tetapi kami kirim untuk penempatan di hotel kami di Bali.”

Jawaban saya waktu itu bukan sok apalagi bloon, tetapi memang polos tidak ada unsur politisnya. “Saya belum bisa menjawab sekarang, Pak. Mohon diberi waktu untuk membuat keputusan,” begitu jawaban saya.

“Baiklah, besok jam satu siang saya telepon lagi.” Demikian penutup pembicaraan bapak kepala divisi perdagangan waktu itu.

Di masa itu, saya tidak punya sparing partner untuk diajak berdiskusi tentang hal penting yang menyangkut nasib dan masa depan saya ini. Tidak dengan orangtua, tidak juga sanak saudara, teman, kerabat, handai taulan, dan rekan kerja sejawat. Bablas, semua keputusan adalah murni dari pemikiran saya sendiri yang masih belia, tetapi sering berlaku keras terhadap diri sendiri. Saya fokus untuk mendapatkan apa yang saya maui dengan berbagai upaya sendiri.

Pada hari dan jam yang ditentukan, kepala cabang toko buku yang bodynya ramping, rambutnya sedikit gondrong keriting dan berkaca mata minus lumayan tebal dengan muka tegang dan tergopoh-gopoh memanggil saya di dalam toko, dan menggiring sekali lagi ke ruangan kantornya. Di atas meja, sebuah gagang telepon telah tergeletak terbuka, pastilah bapak kepala divisi perdagangan tengah menunggu saya untuk berbicara di ujung telepon sana dari Jakarta.

“Bagaimana keputusannya, Jeffrey?” pertanyaan itu langsung dilontarkan begitu telepon saya tempelkan ke telinga.

Saya memang telah menyiapkan jawabannya semalam. Jadi, dengan cepat saja saya menyahut, “Baik, Pak, saya mau untuk penempatan di hotel.”

Terdengar napas lega. “Oke, bulan depan Jeffrey akan masuk hotel kita di Bali. Akan kami proses segera,” tutupnya.

Saat itu saya masih belum sadar rupanya, kalau saya ini ternyata salah satu aset perusahaan yang di bawah pengawasan, dipertahankan, dan bisa menjadi kandidat untuk posisi lain atau jenjang karir selanjutnya. Saya tidak pernah berharap banyak, karena sebenarnya status di kontrak kerja yang saya tanda tangani pun adalah “tenaga kerja honorer”. Peduli amat lah apa artinya itu, yang penting saya mendapat penghasilan bulanan rutin dengan segala fasilitasnya. Cukup untuk buat bayar kuliah, sedikit jajan, dan sebagian diserahkan untuk uang belanja ibu yang saya panggil mamie. Tempat tinggal pun masih menumpang orangtua. Tapi cita-cita menjadi Public Relations masih tetap terpendam dalam hati dan pikiran setiap saat.

Bagaimana perjalanan selanjutnya? Di sinilah jawaban dari ingkar janji itu.

Pada hari keberangkatan saya ke hotel di Bali bulan Oktober 1985, utusan dari kantor pusat Jakarta datang menjemput saya dengan tugas mengantar serta menghibahkan saya ke hotel di Bali yang kala itu masih di bawah divisi perdagangan. Cilakak…! Tidak tahu saya apa skenarionya, ternyata assignment pekerjaan untuk saya belum dipersiapkan oleh hotel penerima. Saya memang diberikan satu bungalow di pinggir pantai bagian dari hotel untuk tempat tinggal all-in alias full board. Saya diminta untuk melihat-lihat suasana dulu, orientasi, dengan penempatan kemudian mungkin di Front Office, mungkin di house keeping. Atau…, entahlah.

Walhasil, job assignment tak kunjung datang juga. Jadi, kerjaan saya hanya duduk mengobrol ngalor-ngidul dengan para kepala departemen sampai ke General Manager, termasuk makan minum bersama. Pokoknya seharian sampai malam kongkow bersama mereka. Dan mereka semua adalah rekrutmen kantor pusat seperti saya. Hmmm…, kayaknya saya yang tidak pernah menganggap diri saya pintar ini telah menjadi orang penting pula di situ. Kiriman kantor pusat, gitu loh. Saat itu status hotel baru diambil alih atau beralih kepemilikan, akan ada proses re-branding penggantian nama hotel dan renovasi untuk penambahan kamar serta fasilitas lainnya.

Setelah dua minggu, tanpa kepastian dan tugas kerja yang jelas, saya dijemput lagi dengan berita baru bahwa saya akan ditempatkan kembali untuk sementara waktu ke toko buku di Malang. Menunggu sebulan lagi. Saya tiba kembali di Malang. Saya menurut saja, dan rela-relanya disoraki teman-teman di toko buku yang menyambut kembali kehadiran saya. Cita-cita bekerja di hotel gagal untuk sementara waktu. Itung-itung dapat liburan gratis, dibiayai penuh oleh perusahaan, dan masih digaji penuh pula oleh toko buku walau dengan status “resignation approved”.  Nasib…..

Saya tidak pernah berprasangka buruk terhadap perusahaan ini, apalagi memberikan penilaian negatif. Aslinya, saya waktu itu ya tidak paham, lugu, belum berpengalaman sama sekali untuk memberikan suatu penilaian dan menganalisa kejadian itu.

Kemudian tepat satu bulan, sesuai dengan janji saya dijemput lagi. Tapi tidak ke Bali, melainkan diboyong ke hotel di Semarang yang baru selesai renovasi. Mewah hotelnya! Begitu kesan saya pertama kali. Senang hati ini. Saya pun mulai bekerja di entry level. Saya dapat tempat tinggal full board di kompleks hotel, satu kamar seluas 32 meter persegi dengan satu single bed, lantai berkarpet biru polos, lemari plastik dan kamar mandi sharing dengan dua kamar lainnya. Kamar dibersihkan oleh staff hotel, laundry, dan 3x makan. Terjamin.

Menjelang tiga bulan tinggal di Semarang, saya kembali mendapat surat panggilan dari Bali. Saya lalu melapor ke bapak kepala divisi perdagangan dan jawabnya, “Di Semarang saja dulu. Tunggu tiga bulan lagi, hotel yang di Bandung sudah hampir selesai. Jeffrey nanti di Bandung saja.”

Saya jadi berpikir, yang benar di mana sih? Semarang, Bandung, atau Bali? Namun lagi-lagi saya manut, menurut saja. Dan ketika hotel yang di Bandung selesai, saya menanyakan lagi, dan mendapat jawaban begini, “Di Semarang tidak ada orang, Jeffrey di situ saja. Biar yang Bandung untuk orang lain. Nanti Jeffrey bekerja di  hotel berbintang 4 yang akan dibangun di Semarang.”

 Lha, ini gimana sih? Makin bingung.

So… I keep staying di hotel bintang 2 di Semarang itu sambil menunggu penempatan yang dijanjikan di hotel bintang 4. Tidak sadar dengan segala dinamikanya karena comfortable dengan pekerjaan dan rekan-rekan kerja, saya tertahan sampai lima tahun. Terjadi sekali lagi, hotel bintang 4 yang baru selesai dibangun siap dibuka.  Saya disertakan untuk mengikuti seleksi karyawan, tetapi tidak juga terekrut untuk mendapatkan penempatan menjadi karyawan baru di situ.

Kontradiktif, ada kekecewaan terpendam kali ini.

Sampai pada akhirnya saya mengundurkan diri karena mendapat konfirmasi pekerjaan sebagai Restaurant Manager. Tempatnya jauh, di country club resort atas gunung dengan luas 600 hektar dan punya landasan pesawat terbang serta lahan berkuda, di Austin, Texas, Amerika Serikat.

Saya merasa sudah memiliki ilmu dan kapasitas untuk bekerja di Texas. Saya mengirimkan lamaran kerja secara independen, sambil lalu, pakai pos. Saya mengetahui nama dan alamat hotelnya hanya dari memungut brosur somewhere di tempat sampah di area hotel tempat kerja.

Sebelumnya, di akhir karir saya di hotel bintang 2 di Semarang ini, saya juga sudah sempat mendapat tugas membuka restaurant baru. Tugas ini membuat saya mendapatkan intensive course ilmu Food & Beverage Service selama tiga bulan, ditambah Food & Beverage Product selama enam bulan dengan modul pelajaran dan tim pembimbing dari BPLP Bali yang didatangkan di Semarang. Semua ini dalam persiapan akan dibukanya hotel baru berbintang 4 di Semarang milik jaringan hotel nasional ini. Jadi, lengkaplah sudah ilmu operasional saya dalam 5 tahun tersebut. Dari Front Office ke Food & Beverage, sebagai Chief Bar & Restaurant.

Lebih keren lagi, saya sudah dapat visa J1 Amerika Serikat, multiply dan berlaku lima tahun. Siap berangkat ke Texas. Nekat benerrrr…

Lalu, menjelang hari saya akan berangkat, seorang teman dekat mengingatkan.

Kowe sudah pamit Mamahmu?” begitu tanyanya.

“Sudah, lewat telepon,” jawab saya datar.

Yo ora iso ngono toh! Ini jauh loh! Kalau ada apa-apa di kemudian hari, kamu menyesal loh! Gih, sana pulang ke Malang, sik!” sarannya.

Saya pun menuruti nasihat bijak sang teman itu. Sebelum berangkat ke Jakarta, saya balik arah ke kota Malang dengan niat mau pamitan “face to face” dengan ibu dan anggota keluarga lainnya.

Sampai rumah di Malang, setelah bertatapan, terucaplah dari mulut ibu, “Jeffrey, kalau kamu jadi langsung berangkat, Mamie akan kepikiran, Jeff!” Kata-kata itu, meski singkat, seakan langsung menusuk ke hati. Saya terharu. Terlebih, di akhir tahun 1990 itu tengah pecah Perang Teluk, Irak-Iran-Kuwait. Rupanya Ibu takut anaknya hilang bersama misil-misil yang berseliweran di udara, walau selama ini anaknya yang ke-3 ini merantau, telah biasa hidup sendiri dan mandiri.

Akhirnya saya membatalkan diri berangkat ke Amerika. Apalagi kenekatan untuk berangkat itu terkesan konyol, karena saya tidak pernah memperhitungkan kondisi keuangan sendiri. Ndak punya sangu untuk biaya hidup! Yang saya sadar kemudian adalah, pemikiran senekat-nekatnya orang merantau, tetap harus punya modal uang untuk melanjutkan hidup selama beberapa bulan membayar ini-itu, ribetnya biaya hidup, dan tempat tinggal sebelum berpenghasilan.

Demikianlah ingkar janji nomor kesekian, dari runtutan peristiwa di atasnya.

Tapi faktor keberuntungan masih berpihak. Niat hanya transit di kota Malang untuk pamit pada keluarga karena ingin pergi ke Texas, Amerika, eh malah dapat kerjaan di hotel baru dengan award design arsitektur terbaik. Dapatlah jabatan sebagai Front Office Supervior menggantikan teman kuliah yang dapat kerjaan di hotel bintang 5 di Nusa Dua Bali. Namun saya hanya bertahan 10 bulan saja dengan tiga kali promosi jabatan di hotel dengan ballroom yang dapat menampung 1000 orang ini. Dari Front Office Supervisor, menjadi Banquet Executive dan kemudian Sales & Marketing Executive Membership. Saya menyadari bahwa suasana kerja di hotel ini terlalu penuh intrik dan konflik. Hal ini membuat saya kemudian berpikiran untuk pindah mencari pekerjaan di Bali.

Jadi, kembali ke awal target lagi.

Setelah mendapat referensi dari seorang teman dan satu boss pemilik hotel di Jalan Kartika Plaza, maka resmilah pada bulan Oktober 1991 saya berkarir di Bali dengan jabatan Sales Administrator di hotel bintang 4 jaringan internasional. Lokasinya pas “wall to wall” tetanggaan nempel tembok dengan hotel tepi pantai jaringan nasional yang seharusnya menjadi penempatan saya sewaktu masih bekerja di group toko buku divisi perdagangan itu.

Keberanian anak lugu tanpa syak wasangka buruk ini untuk hidup mandiri di tanah perantauan tidak sia-sia. Dinikmati, dijalani saja. Dalam waktu sekejap, saya bisa berteman dengan banyak orang dari luar lingkungan kerja. Inilah prestasi pertama dari hasil pengingkaran-pengingkaran janji pemberi kerja sebelumnya. Dari satu kekecewaan ke kecewaan yang lain.

Saya merasa bersyukur karena di hotel jaringan ini saya kerap dipaksa untuk berpikir out of the box. Sebagai seorang sales administrator yang bertanggung jawab terhadap administrasi department sales, saya ternyata dikasih tugas ke luar kantor untuk melakukan sales call juga. Lumayan buat mengurangi kejenuhan dan nambah-nambah pengalaman.

Siapa lagi yang ingkar janji kali ini?

Tapi semua ini membawa berkah, saya banyak diberi pelajaran dan dipaksa untuk belajar.

Dari rangkaian perjalanan karir, pada saatnya saya sadar, bahwa saya tidak selalu mendapatkan apa yang saya inginkan dengan begitu saja. Jumpalitan dulu. Perjalanan karir saya untuk mencapai cita-cita melalui jalur zig-zag, dan lebih banyak ditentukan oleh orang lain. Potensi diri ternyata lebih dapat dilihat oleh para atasan di mana saya pernah bekerja.

Bayangkan, tanpa pendidikan formal ilmu perhotelan, sekarang saya bisa dapat bonus menjadi GM di beberapa hotel berbintang, kategori boutique lagi.

Dari mana dapat ilmunya?

Tentu saja dari semua kebaikan hati yang nilainya abstrak. Juga dari kesempatan-kesempatan belajar jatuh bangun yang diberikan oleh para atasan saya sebelumnya. Memang ada kalanya beberapa penempatan atau tugas, sayanya  yang salah terima  dan mengerjakannya tidak dengan suka-cita. Tetapi rupanya inilah yang sekarang kita sebut dengan istilah extra mile itu. Ekspresi “ekstra” mengacu pada tindakan pelayanan bagi orang lain, melampaui apa yang diperlukan atau diharapkan.

Lalu, apa nilai ingkar janji di sini?

Kok, ternyata dengan banyak diingkari, perkembangan karir saya merambat naik positif, ya… pelan tapi pasti.

Saya bersyukur, bahwa kadang saya menemui semacam pemaksaan untuk berproses. Semua menempa saya menjadi diri saya yang sekarang. Saya telah menjalani semua dengan apa adanya, dengan penuh komitmen dan keteguhan. Saya beruntung karena tidak pernah berpikir apa hasilnya kemudian, sebab sudah dipikirkan oleh orang-orang yang memberikan tugas sebagai imbalannya, yaitu ilmu pengetahuan informal, langsung praktek tanpa banyak teori.

Maka lengkaplah ilmu perhotelan saya. Mulai sebagai Switchboard Telephone Operator bersuara merdu dan kadang-kadang harus berpura-pura merdu, receptionist good looking yang bekerja dengan sistem tiga shift multi tasking, Food & Beverage, dan terakhir, —terasah secara tepat guna— untuk mencapai cita-cita sekaligus menikmati bonusnya yaitu ilmu Sales & Marketing.

Dan atas semua ilmu dan prestasi itu, tentu saja saya tidak akan mengingkari adanya campur tangan Tuhan. Amin.

 

Penulis: Jeffrey Wibisono V.
Buku: Hotelier Stories Catatan Edan Penuh Teladan

Diterbitkan pertama kali oleh
PT.Percetakan Bali
Denpasar- Bali-Indonesia
Email : Jeffrey@Jeffreywibisono.com

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang.
Dilarang mengutip dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa seijin penulis dan penerbit.
ISBN : 978-602-1672-686