Bali, “Restarting” Pariwisata

“Bekerja sama untuk membangun sektor pariwisata yang berfaedah bagi semua orang, dimana berkelanjutan dan inovasi adalah bagian dari semua yang kita kerjakan”. Zurab Pololikashvili, Sekjen UNWTO

Jutaan nyawa dalam pertaruhan pada masa pandemi COVID-19 pada tahun 2020. Selanjutnya, kita harus bersama-sama memastikan kalau pariwisata akan kembali lebih tangguh dari masa sebelumnya. Kita perlu menyampaikan satu pesan yang jelas, yaitu untuk tidak lagi menunda Restart Pariwisata.

 

Dalam catatan, Bali telah tertutup untuk wisatawan mancanegara sejak bulan Maret 2020 lalu. Tahun ini adalah tahun yang sangat berat bagi semua dan sudah mengambil waktu sembilan bulan, belum berkesudahan.

Banyak dari kita berpikir kalau Novel Coronavirus (2019-nCoV) – yang sekarang kita kenal dengan nama COVID-19 – hanya akan berlangsung sebentar seperti wabah yang sudah-sudah. Tetapi dengan berjalannya waktu, ternyata sekarang kita bisa memprediksi kalau penutupan lintas batas internasional seluruh dunia akan berlangsung lebih lama lagi.

Bahkan pembukaan pada tahun 2021 masih belum bisa ditentukan oleh hampir semua negara di seluruh dunia – termasuk Indonesia – walau sudah ada negosiasi Travel Bubble tingkat ASEAN. Kita hidup dalam ketidakpastian.

Banyak pengusaha, pada awal pandemi berusaha untuk mempertahankan pekerjanya dengan berbagai cara. Berusaha bertahan sampai sekitar enam bulan. Tetapi, ketika perusahaan berjalan berkelanjutan tanpa pendapatan, ekosistem kesulitan ekonomi berlaku dan berimbas terhadap semua sektor industri. Tidak hanya dari industri pariwisata, tetapi semua pekerja termasuk disektor industri ikutannya yang tak terhingga jumlahnya.

Ketika COVID-19 merebak dan ruang kerja memulai Di-Rumah-Saja Work From Home (WFH), Pemotongan Gaji, Cuti tidak dibayar, hingga Dirumahkan dan Pemutusan Hubungan Kerja; masyarakat Bali dalam hitungan jam bergerak untuk mempertahankan ekonomi keluarga masing-masing.

Masyarakat Bali mulai membuka diri menjadi pelaku bisnis mikro, melakukan apa yang mereka bisa lakukan, untuk tetap mendapatkan penghasilan diantara jadwal cuti tidak dibayarnya. Sampai sekarang kita masih bisa menyaksikan para pejuang UMKM yang menjual makanan dari dapur rumahnya melayani orderan online. Di sepanjang jalan area tertentu, kita juga bisa melihat deretan parkir kendaraan pribadi yang berubah menjadi toko kelontong, menjual makanan siap saja, menjual buah dan sayur dan banyak macam lagi.

Selain itu, di dunia jasa layanan, mantan pekerja Housekeeping hotel menawarkan Cleaning Service ke rumah-rumah pribadi, demikian juga dengan mantan Engineering hotel membuka on-call untuk service AC dan keperluan pekerjaan teknik lainnya.

Bukan hanya itu Fashion Designer dan penjahit bekerjasama membuat masker untuk dibagikan dan dijual ke publik, selain beralih profesi keusaha kuliner juga. Sempat juga dipublikasikan di media elektronik, di beberapa area pantai, penduduknya kembali ke laut untuk menjadi petani rumput laut.

Pasar Domestik

Sebenarnya dalam tiga bulan terakhir, Bali telah terbuka untuk wisatawan domestik. Aksi ini memberikan secercah harapan terbukanya lapangan kerja di pulau ini yang kehidupannya hampir 90% bergantung terhadap bisnis pariwisata. Banyak upaya dilakukan untuk memenuhi warna-warni kebutuhan pasar domestik dan keinginan liburan mereka.

Disetiap hari, kita  mendapat informasi kelulusan uji sertifikasi CHSE (Clean, Healthy, Safety and Environment Sustainability) hotel, travel agent, biro perjalanan wisata, juga sarana pendukung pariwisata lainnya.

Demikian pula dengan kolaborasi. Kita bisa membaca postingan di media online, media sosial, chef dari berbagai dapur hotel mempunyai agenda mingguan untuk menyajikan makanan kreasi spesial mereka dengan target pangsa pasar penduduk lokal dan wisatawan domestik.

Di Bali, saat ini berlaku covid price di restoran, cafe dan tempat sejenisnya. Harga jual turun secara masif walau harga bumbu dapur meningkat tajam juga. Tentunya hal ini dilakukan hanya untuk semangat bertahan, tetap ada cara untuk menarik pembeli dari masyarakat lokal Bali yang secara ekonomi masih mampu. Juga syukur-syukur kalau ada wisataman domestik musiman yang mampir.

Anda pernah dengar kata ‘Staycation’?

Ya, benar!

Ini semacam tren re-opening. re-starting, beragam hotel, resor, villa dari semua klasifikasi bintang berpromosi. Tidak sedikit yang meluncurkan harga khusus paket day pass – menggunakan fasilitas kolam renang hotel.

Saya, melihat dan merasakan “harga” yang sedang belaku di usaha wisata di Bali saat ini adalah harga terendah sepanjang masa. Sekali lagi, target pangsa pasar adalah penduduk lokal Bali yang bisa menginap sambil bekerja di hotel atau villa baik pada hari kerja mau pun pada akhir pekan. Di resor bintang 5, paket khususnya bahkan termasuk child-minding services, co-working space, wellness activities.

Bali juga menikmati masuknya warga Jakarta – terutama mereka yang dari kelas menengah ke atas – memanfaatkan paket-paket liburan yang tersedia. Disini termasuk fasilitas keluarga yang liburan bersama anak usia sekolah, menikmati wi-fi gratis untuk melaksakan wajib masuk sekolah online dari rumah dan belajar dimana saja jika memungkinkan.

Akhirnya, kita semua telah tahu, bahwa Bali berulang kali tertimpa musibah yang mengancam perekonomiannya dari sektor pariwisata. Ada wabah kolera, terorisme, erupsi gunung berapi dan beberapa lagi. Kita akui orang Bali sangat tangguh. Setiap saat setelah badai berlalu, terbukti pulau ini tampil lebih kuat. Tentunya, kita berharap, pasca pandemi COVID-19 kali ini, Bali yang mistis, kembali ramai dengan bisnis wisata budaya dan wisata alam berkelanjutannya yang unik, menarik dan layak dikunjungi. #RestartTourism – Trust is our new currency.

This is Bali Always Happy

 

Bali, 7 December 2020

Jeffrey Wibisono V. @namakubrandku

Hospitality Consultant Indonesia in Bali –  Telu Learning Consulting – Commercial Writer – Copywriter – Jasa Konsultan Hotel

 

Artikel juga tayang di BisnisWisata.co.id

 

Leave a Reply