Di Kursi yang Ditinggalkan Cahaya

“Kecerdasan tidak selalu diwariskan melalui darah. Kadang-kadang ia tumbuh dari luka yang dibaca dengan sabar, pertanyaan yang tidak ditertawakan, dan keberanian mengakui bahwa kita masih harus belajar.”

.

Pada pukul lima lewat dua belas menit, ketika gedung-gedung tinggi di Surabaya masih berupa bayang-bayang kelabu dan lampu jalan belum sepenuhnya menyerah kepada matahari, Amir sudah duduk di meja makan.

Di hadapannya terbuka sebuah buku setebal empat ratus halaman tentang bagaimana manusia mengambil keputusan. Buku itu diberi pembatas dari kertas tagihan rumah sakit yang dilipat memanjang. Di sampingnya ada secangkir kopi hitam tanpa gula, sebuah pensil mekanik, dan buku catatan bersampul kulit yang pada halaman pertamanya tertulis:

Sepuluh halaman sebelum kota bangun.

Kalimat itu ditulis istrinya, Muninggar, delapan tahun lalu.

Ketika itu Amir baru saja memutuskan keluar dari perusahaan properti tempat ia bekerja selama hampir dua puluh tahun. Jabatan terakhirnya direktur pengembangan bisnis. Ia memiliki ruang kerja dengan pemandangan laut, mobil dinas berpelat cantik, sopir yang tahu kapan harus berbicara dan kapan membiarkan tuannya diam, serta sekretaris yang mengatur hidupnya sampai ke jadwal pemeriksaan gigi.

Namun, di balik semua itu, Amir mulai merasa pikirannya seperti lift gedung kantornya: terus naik dan turun di antara lantai-lantai yang sama.

Ia hadir dalam rapat, menyetujui investasi, memimpin negosiasi, menghadiri jamuan bisnis, memotong pita pembukaan proyek, lalu pulang membawa tubuh yang semakin mahal tetapi jiwa yang semakin murah.

Pada suatu malam, di meja makan apartemen mereka di kawasan barat kota, Muninggar bertanya, “Kapan terakhir kali kamu membaca sesuatu yang tidak berhubungan dengan laporan keuangan?”

Amir terdiam.

Ia mencoba mengingat-ingat, tetapi yang muncul justru daftar proposal, ringkasan studi kelayakan, laporan tingkat hunian, dan presentasi berisi panah-panah pertumbuhan.

“Banyak membaca angka juga membaca,” katanya membela diri.

Muninggar tersenyum. Senyum seorang dosen psikologi pendidikan yang terbiasa menunggu mahasiswa menemukan kesalahannya sendiri.

“Membaca untuk mengesahkan keputusan berbeda dengan membaca untuk menggugat pikiran.”

Kalimat itu membuat Amir tidak tidur semalaman.

Tiga bulan kemudian, ia mengundurkan diri.

Orang-orang menyebutnya keputusan berani. Sebagian diam-diam menilainya bodoh. Ada yang menduga Amir sedang tersingkir secara halus. Ada yang mengatakan ia terlalu percaya diri. Ada pula yang menunggu kegagalannya dengan kesabaran yang hampir religius.

Bersama Umarmaya—teman kuliahnya yang pernah menjadi jurnalis, konsultan komunikasi, lalu pemilik jaringan kedai kopi—Amir mendirikan ruang belajar bernama Ruang Menak di sebuah bangunan tua dekat Jalan Tunjungan.

Ruang itu bukan sekolah, bukan lembaga kursus, juga bukan inkubator bisnis dalam pengertian yang lazim. Di sana, para pemilik usaha, pekerja kreatif, mahasiswa, ibu rumah tangga, profesional hotel, dokter muda, pedagang daring, bahkan anak-anak putus sekolah dapat datang untuk membaca, menulis, berdiskusi, dan bertanya.

Syaratnya hanya satu: tidak boleh malu terlihat belum tahu.

Mereka menyewa lantai dua sebuah bangunan peninggalan masa lalu. Dinding bata merah dibiarkan terbuka. Jendela-jendela tinggi dipertahankan. Lemari buku dibuat dari kayu bekas peti kemas. Di sudut ruangan terdapat mesin kopi, printer tiga dimensi, papan tulis besar, serta meja panjang yang sengaja tidak memiliki kursi kepala.

“Supaya semua orang belajar bahwa gagasan tidak memerlukan singgasana,” kata Umarmaya.

Pada tahun pertama, Ruang Menak sepi.

Pada tahun kedua, hampir bangkrut.

Pada tahun ketiga, mereka mulai dikenal setelah sebuah kelompok ibu penjual makanan rumahan berhasil meningkatkan pendapatan dengan memperbaiki kemasan, pencatatan keuangan, dan pemasaran digital. Salah seorang dari mereka, Kelaswara, kemudian mengembangkan usaha sambal kemasan yang produknya masuk jaringan supermarket nasional.

Amir sering diundang berbicara di konferensi bisnis. Umarmaya menulis buku tentang kecerdasan yang tumbuh dari percakapan. Muninggar membuat program pendidikan orangtua dan guru. Ruang Menak membuka cabang kecil di Malang, Yogyakarta, dan Makassar.

Mereka mulai dipuji.

Kemudian, seperti semua hal yang dipuji terlalu lama, mereka mulai percaya bahwa dirinya tidak mungkin salah.

.

Pagi itu Amir membaca halaman 113 ketika teleponnya bergetar.

Nama yang muncul di layar: Maktal.

Putranya.

Amir membiarkannya bergetar tiga kali sebelum menjawab.

“Ya?”

“Papa sedang di rumah?”

“Sedang membaca.”

Di seberang terdengar embusan napas. “Aku perlu bicara.”

“Bicaralah.”

“Bukan lewat telepon.”

Amir melihat jam. Pukul lima lewat dua puluh delapan menit.

“Aku ada pertemuan pukul delapan.”

“Aku tahu.”

“Kalau begitu datang pukul tujuh.”

Maktal tidak langsung menjawab.

“Bisa sekarang?”

Amir menutup buku. Ada sesuatu dalam suara anaknya yang tidak biasa. Bukan kepanikan, melainkan kelelahan yang terlalu lama disembunyikan.

“Datanglah.”

Empat puluh menit kemudian, sebuah mobil listrik berhenti di depan rumah mereka di kawasan Citraland. Maktal turun tanpa membawa tas kerja. Ia mengenakan kemeja putih yang kusut di bagian punggung, celana hitam, dan sepatu yang tidak dikilapkan. Rambutnya tampak seperti baru diremas berkali-kali.

Pada usia tiga puluh empat tahun, Maktal telah menjadi salah satu wajah muda yang sering muncul dalam seminar kewirausahaan. Perusahaan teknologi pendidikan yang didirikannya, TumbuhLab, menyediakan platform pembelajaran untuk sekolah dan perusahaan. Nilai investasinya pernah diberitakan mencapai ratusan miliar rupiah.

Ia dikenal cerdas, fasih berbicara, dan mampu menjelaskan persoalan rumit dengan slide sederhana.

Orang-orang menyebutnya penerus kecerdasan Amir dan kelembutan Muninggar.

Hanya Amir yang merasa anaknya terlalu cepat mendapatkan tepuk tangan.

“Duduk,” katanya.

Maktal tidak duduk di meja makan. Ia berdiri di dekat jendela, memandang kolam kecil di halaman belakang.

“Perusahaan kami kehabisan uang tiga bulan lagi.”

Kalimat itu jatuh tanpa pembukaan.

Amir tidak langsung bereaksi.

“Berapa besar kebutuhanmu?”

“Bukan cuma soal kebutuhan dana.”

“Semua perusahaan bisa mengalami masalah arus kas.”

Maktal tertawa pendek. Tidak ada kegembiraan di sana.

“Kami kehilangan kontrak dengan dua grup sekolah. Investor utama menunda pendanaan. Tim pengembangan produk terlambat enam bulan. Pengguna aktif turun empat puluh persen.”

“Kenapa?”

“Karena produknya tidak berjalan sebaik yang kami presentasikan.”

Amir mengambil kacamatanya dan meletakkannya di atas meja.

“Sejak kapan kamu tahu?”

“Delapan bulan.”

“Dan baru sekarang kamu datang?”

“Aku mencoba memperbaikinya.”

“Dengan menutupinya?”

“Aku tidak menutupi.”

“Kamu mengatakan produknya siap digunakan secara nasional dalam wawancara bulan lalu.”

“Kami sedang mengupayakan—”

“Jangan gunakan bahasa humas kepadaku.”

Maktal akhirnya duduk. Kedua telapak tangannya menutupi wajah.

“Aku tidak tahu harus bicara kepada siapa.”

“Kamu punya komisaris. Punya mentor. Punya ibumu.”

“Aku tidak mau Ibu khawatir.”

“Jadi kamu datang kepadaku setelah semua pintu hampir tertutup?”

Maktal menurunkan tangannya. Matanya merah, bukan karena menangis, melainkan karena terlalu lama menahan sesuatu yang lebih berat daripada air mata.

“Aku datang karena aku tidak sanggup lagi berpura-pura menjadi orang paling pintar di ruangan.”

Amir hendak menjawab, tetapi suara langkah terdengar dari tangga.

Muninggar turun mengenakan pakaian olahraga berwarna abu-abu. Rambutnya diikat sederhana. Ia berhenti ketika melihat anaknya.

“Kamu tidak pulang semalam?” tanyanya.

Maktal menatap meja.

“Dari mana Ibu tahu?”

“Kemejamu masih yang kemarin. Lagi pula, seorang ibu tahu saat anaknya datang membawa malam yang belum selesai.”

Muninggar duduk di sebelahnya. Ia tidak memeluk, tidak mendesak, hanya meletakkan segelas air di depan Maktal.

“Perusahaanku mungkin bangkrut,” katanya pelan.

Muninggar mengangguk, seolah anaknya baru menyampaikan bahwa hujan turun di luar.

“Lalu?”

Maktal menatap ibunya, tidak mengerti.

“Lalu apa?”

“Selain perusahaanmu mungkin bangkrut, apa lagi yang sedang terjadi?”

Pertanyaan itu membuat bahu Maktal bergetar.

“Aku takut.”

Muninggar menunggu.

“Aku takut semua orang tahu bahwa aku tidak sehebat yang mereka kira.”

Untuk pertama kalinya pagi itu, suara Maktal pecah.

“Aku takut kehilangan seratus empat puluh karyawan. Aku takut investor menuntut. Aku takut siswa-siswa yang memakai platform kami tertinggal. Aku takut Sari meninggalkanku karena selama dua tahun aku lebih sering berbicara kepada laptop daripada kepadanya.”

Air mata jatuh ke atas meja.

“Aku takut Papa benar.”

Amir mengerutkan kening. “Benar tentang apa?”

“Bahwa aku mendapatkan semuanya terlalu cepat.”

Ruangan mendadak sangat sunyi. Bahkan dengung pendingin udara terdengar seperti suara dari tempat yang jauh.

Muninggar memandang suaminya.

Amir tahu tatapan itu. Tatapan yang sama ketika, bertahun-tahun lalu, ia pulang dengan sebuah penghargaan bisnis tetapi lupa menghadiri pertunjukan piano pertama Maktal.

“Masalahmu bukan karena tidak cerdas,” kata Amir. “Masalahmu karena terlalu lama menganggap kecerdasan harus selalu terlihat.”

Maktal mengangkat wajah. “Papa akan membantuku?”

“Aku akan membantumu menemukan masalahnya.”

“Dengan dana?”

“Belum tentu.”

Maktal menunduk lagi.

Amir menahan dorongan untuk segera menawarkan uang. Ia mampu menutup sebagian besar kebutuhan jangka pendek perusahaan itu. Ia memiliki investasi properti, kepemilikan saham, dan simpanan yang cukup. Namun ia juga tahu uang dapat menjadi obat bius paling sopan. Ia meredakan sakit tanpa menyembuhkan sumber penyakit.

“Bawa semua laporan ke Ruang Menak pukul sembilan,” katanya. “Tidak hanya laporan yang sudah dipercantik. Aku mau data asli.”

“Papa ada pertemuan pukul delapan.”

“Aku batalkan.”

Maktal memandangnya, seperti seorang anak kecil yang baru menyadari ayahnya masih dapat memilih dirinya.

.

Pukul sembilan lewat sepuluh menit, Ruang Menak belum dibuka untuk umum.

Hujan turun tipis di Jalan Tunjungan. Lampu-lampu pertokoan memantul di aspal. Dari jendela lantai dua, kendaraan terlihat bergerak seperti barisan pikiran yang tergesa-gesa mencari tempat parkir.

Umarmaya datang membawa dua bungkus nasi pecel dan tiga gelas kopi.

“Ketika Amir membatalkan pertemuan dengan calon investor tepat satu jam sebelumnya,” katanya, “hanya ada tiga kemungkinan: kota terkena gempa, Presiden menelepon, atau keluarganya sedang membutuhkan pertolongan.”

Maktal tidak tersenyum.

Umarmaya meletakkan makanan, lalu mengamati tumpukan dokumen dan layar laptop yang penuh grafik merah.

“Baiklah,” katanya. “Bukan gempa, tetapi dampaknya bisa sama.”

Selama dua jam, mereka memeriksa laporan.

TumbuhLab tidak hanya menghadapi kekurangan modal. Perusahaan itu telah tumbuh terlalu cepat. Mereka merekrut banyak orang sebelum produk stabil. Mereka membuka kantor di Jakarta dengan sewa mahal demi meyakinkan investor. Mereka membayar kampanye digital yang menghasilkan jutaan tayangan tetapi sedikit pelanggan berbayar. Mereka membangun fitur-fitur canggih yang tidak diminta guru.

Yang paling buruk, mereka tidak sungguh-sungguh mendengarkan pengguna.

“Kenapa kalian membuat sistem analisis pembelajaran berbasis kecerdasan buatan ini?” tanya Umarmaya.

“Investor menyukai potensinya.”

“Guru menyukainya?”

Maktal diam.

“Pernah bertanya?”

“Kami melakukan survei.”

“Survei seperti apa?”

“Formulir daring.”

“Berapa guru yang kamu temui langsung dalam enam bulan terakhir?”

Maktal memandang grafik di layar.

“Tidak ada.”

Amir menyandarkan tubuh. “Kamu membangun perusahaan pendidikan tanpa masuk kelas.”

“Tim riset kami—”

“Aku tidak bertanya tentang timmu.”

Maktal menggigit bibir. Di luar, hujan semakin deras.

Umarmaya membuka satu dokumen. “Di sini tertulis tingkat kepuasan pengguna delapan puluh tujuh persen.”

“Itu data kuartal lalu.”

“Bagaimana cara menghitungnya?”

“Pengguna yang memberi nilai empat atau lima dibagi jumlah responden.”

“Berapa yang menjawab?”

“Dua ratus delapan puluh.”

“Dari berapa ribu pengguna?”

“Sekitar seratus dua puluh ribu akun.”

Umarmaya melepas kacamatanya.

“Jadi, kurang dari seperempat persen pengguna menjawab, lalu kalian mengumumkan delapan puluh tujuh persen puas?”

“Itu metode yang umum.”

“Kesalahan yang umum tetaplah kesalahan.”

Maktal berdiri. Kursinya bergeser keras.

“Aku datang untuk mencari solusi, bukan untuk diadili.”

Amir menatapnya tenang.

“Orang yang menganggap pertanyaan sebagai pengadilan biasanya sedang melindungi sesuatu.”

“Aku sudah bilang aku salah!”

“Belum. Kamu baru bilang perusahaanmu bermasalah.”

“Apa bedanya?”

“Mengakui masalah berarti kamu masih bisa menyalahkan keadaan. Mengakui kesalahan berarti kamu bersedia melihat bagian dirimu yang ikut menciptakannya.”

Maktal berjalan ke jendela.

Di bawah sana, seorang pengemudi ojek daring menutupi kepalanya dengan tas plastik. Seorang perempuan berkemeja rapi berlari sambil membawa kotak kue. Seorang petugas kebersihan mengangkat sampah dari selokan agar air tidak meluap.

Kota terus bekerja tanpa memedulikan kegagalan siapa pun.

“Aku tidak pernah berniat menipu,” katanya.

“Tidak semua kebohongan dimulai dari niat menipu,” jawab Amir. “Sebagian dimulai dari ketakutan mengakui kenyataan.”

Maktal menoleh. “Papa mudah bicara. Ruang Menak tidak punya seratus empat puluh karyawan.”

“Ruang Menak pernah tidak sanggup membayar enam orang.”

“Itu berbeda.”

“Bagi enam keluarga yang menunggu gaji, tidak berbeda.”

Amir berdiri.

“Pada tahun kedua, aku menjual mobil untuk membayar mereka. Bukan karena aku pahlawan. Karena kesalahan perencanaanku membuat mereka menanggung risiko yang tidak mereka pilih.”

Maktal belum pernah mendengar cerita itu.

“Kenapa Papa tidak pernah bilang?”

“Karena saat itu aku juga ingin terlihat berhasil.”

Hujan menabuh kaca lebih keras.

Amir melanjutkan, “Aku sering mengajar orang untuk berani bertanya, tetapi di rumah aku membesarkan anak yang takut bertanya kepadaku.”

Wajah Maktal berubah.

Ada kalimat-kalimat yang tidak memerlukan suara keras untuk meruntuhkan dinding.

“Aku tidak tahu kapan itu dimulai,” kata Amir, lebih pelan. “Mungkin ketika kamu pulang membawa nilai sembilan puluh dan aku bertanya kenapa bukan seratus. Mungkin ketika kamu menang lomba lalu aku menyuruhmu bersiap untuk lomba berikutnya. Mungkin ketika kamu mengatakan ingin kuliah sastra dan aku menjelaskan mengapa bisnis lebih menjanjikan.”

Maktal menunduk.

“Aku pikir Papa lupa.”

“Aku tidak lupa. Aku hanya terlalu pengecut untuk membicarakannya.”

Umarmaya berjalan ke mesin kopi, memberi ruang bagi ayah dan anak itu untuk saling memandang tanpa saksi.

“Aku ingin Papa bangga,” kata Maktal.

“Aku bangga.”

“Bukan setelah aku sukses. Sebelum itu.”

Amir tidak segera menjawab.

Di luar, bunyi klakson bersahutan. Sebuah bus kota melintas, menyibakkan air ke trotoar. Bau kopi memenuhi ruangan.

“Maafkan aku,” kata Amir.

Hanya tiga kata.

Tetapi pada wajahnya, Maktal melihat seluruh tahun yang hilang: ulang tahun yang diwakili hadiah, percakapan yang digantikan nasihat, pelukan yang tertunda karena seorang ayah terlalu sibuk mengajarkan ketangguhan.

Maktal duduk kembali. Ia menangis tanpa berusaha menutupi wajah.

Amir mendekat, lalu meletakkan telapak tangannya di kepala anaknya.

Gerakan itu canggung. Terlambat. Namun sesuatu yang terlambat tidak selalu kehilangan makna.

Kadang-kadang, hati baru menemukan jalan pulang setelah bertahun-tahun tersesat di alamat yang sama.

.

Mereka menyusun rencana selama tujuh hari.

Hari pertama, Maktal mengumpulkan seluruh jajaran pimpinan.

Tidak ada presentasi indah. Tidak ada musik pembuka. Tidak ada foto untuk media sosial.

Di layar hanya tertulis:

KITA TIDAK BAIK-BAIK SAJA.

“Aku telah membuat kalian percaya bahwa semua masalah masih terkendali,” kata Maktal kepada tiga puluh dua kepala divisi yang hadir secara langsung dan daring. “Itu tidak benar.”

Beberapa wajah menegang.

“Dana operasional kita cukup untuk sekitar tiga bulan. Dua kontrak besar tidak diperpanjang. Produk utama kita mengalami penurunan penggunaan. Pendanaan berikutnya belum pasti.”

Direktur keuangan, seorang perempuan bernama Adaninggar, menatap meja. Ia telah berkali-kali meminta Maktal menyampaikan kondisi sebenarnya kepada dewan, tetapi selalu diminta menunggu waktu yang dianggap lebih tepat.

“Kita akan melakukan restrukturisasi,” lanjut Maktal. “Sebelum mengambil keputusan, aku akan membuka seluruh data yang boleh diketahui sesuai tanggung jawab masing-masing. Kalian berhak memahami keadaan perusahaan yang kalian bangun.”

Seseorang mengangkat tangan.

Biasanya dalam rapat, pertanyaan harus dikirim melalui moderator. Kali ini Maktal menunjuk langsung.

“Apakah akan ada pemutusan kerja?”

“Besar kemungkinan, ya.”

Ruangan menjadi gaduh.

“Berapa orang?”

“Belum ditentukan.”

“Apakah jajaran pimpinan juga dipotong?”

“Ya. Dimulai dari gajiku.”

“Kenapa baru sekarang?”

Pertanyaan terakhir datang dari seorang manajer produk yang telah bekerja sejak perusahaan masih menempati rumah kontrakan.

Maktal menarik napas.

“Karena aku takut.”

Tidak ada pemimpin perusahaan yang diajarkan mengatakan kalimat itu dalam pelatihan kepemimpinan. Mereka diajarkan menyampaikan visi, membangun kepercayaan, mengelola persepsi, dan menjaga moral tim.

Namun pagi itu, kejujuran yang rapuh terasa lebih meyakinkan daripada keyakinan yang dibuat-buat.

“Aku takut terlihat gagal. Karena itu, aku menunda percakapan yang seharusnya dilakukan lebih awal. Aku minta maaf.”

Setelah rapat, tidak semua orang memaafkannya.

Ada yang marah.

Ada yang menuduhnya tidak bertanggung jawab.

Ada yang segera memperbarui profil profesional dan menghubungi perusahaan lain.

Maktal tidak menyalahkan mereka.

Tanggung jawab bukan tuntutan agar orang lain memahami kesalahan kita. Tanggung jawab adalah kesediaan menerima akibat meskipun permintaan maaf telah diucapkan.

Hari kedua, ia mengunjungi sekolah negeri di pinggiran Sidoarjo yang pernah menggunakan versi gratis TumbuhLab.

Ruang guru berukuran tidak lebih besar daripada ruang rapat kecil di kantornya. Kipas angin berputar lambat. Di dinding tergantung kalender tiga bulan lalu. Sebagian guru menggunakan telepon genggam pribadi untuk memasukkan nilai karena komputer sekolah sudah lama rusak.

Seorang guru matematika bernama Lamdahur menunjukkan aplikasi TumbuhLab di layar ponselnya.

“Bagus sebenarnya,” katanya. “Tapi terlalu berat.”

“Bagian mana?”

“Hampir semuanya.”

Maktal tertawa kecil karena malu.

“Kenapa Bapak masih menggunakannya?”

“Karena modul latihan soalnya lumayan.”

“Fitur analisis pembelajaran?”

“Tidak pernah saya buka.”

“Rekomendasi berbasis kecerdasan buatan?”

Lamdahur menggeleng.

“Untuk mengetahui murid saya tidak paham pecahan, saya tidak perlu kecerdasan buatan. Saya perlu waktu duduk di sampingnya.”

Kalimat itu menancap lebih dalam daripada seluruh laporan konsultan.

Di kelas, Maktal menemui seorang anak perempuan yang mengerjakan soal melalui layar ponsel retak. Namanya Kelaswara, dipanggil Wara. Ayahnya pengemudi truk. Ibunya membuat kue basah yang dititipkan ke warung-warung.

“Kamu suka belajar dengan aplikasi ini?” tanya Maktal.

Wara mengangkat bahu.

“Kenapa?”

“Kalau salah, jawabannya langsung merah.”

“Memang harusnya bagaimana?”

“Dikasih tahu kenapa salah.”

Maktal terdiam.

“Kalau hanya diberi warna merah,” lanjut Wara, “rasanya seperti dimarahi, tapi tidak diajari.”

Malamnya, Maktal menulis kalimat itu di buku catatan:

Jangan membangun sistem yang hanya pandai menunjukkan kesalahan, tetapi tidak sabar menemani orang memperbaikinya.

Hari ketiga, ia menemui dua belas pelanggan lama.

Hari keempat, ia duduk bersama para pengembang perangkat lunak tanpa didampingi direksi.

Hari kelima, ia membaca semua surat keluhan yang selama ini diringkas staf menjadi grafik.

Hari keenam, ia memanggil investor dan mengungkapkan kondisi sesungguhnya.

Hari ketujuh, ia datang ke Ruang Menak pukul enam pagi.

Amir sudah berada di sana, membaca.

“Berapa halaman?” tanya Maktal.

“Sepuluh.”

“Setiap hari?”

“Kadang lima. Kadang dua puluh. Yang penting bukan jumlahnya.”

“Lalu?”

“Apakah sesuatu di dalam dirimu bergerak setelah membacanya.”

Maktal duduk di seberang ayahnya.

“Kami harus memberhentikan empat puluh tujuh orang.”

Amir menutup buku.

“Apa yang sudah kamu siapkan?”

“Pesangon sesuai ketentuan, tambahan satu bulan gaji untuk yang masa kerjanya lebih dari dua tahun, akses konseling, surat rekomendasi, dan bursa kerja kecil dengan perusahaan mitra.”

“Cukup?”

“Tidak akan pernah cukup.”

Amir mengangguk.

“Kami juga akan menutup kantor Jakarta, menghentikan dua produk, dan fokus pada platform yang benar-benar dipakai guru.”

“Investor?”

“Salah satu mundur. Yang lain memberi waktu enam bulan.”

“Dan kamu?”

Maktal melihat ke jendela. Matahari baru menyentuh atap-atap bangunan lama.

“Aku tidak tahu apakah perusahaan ini akan selamat.”

“Bukan itu pertanyaanku.”

Maktal kembali menatap ayahnya.

“Kamu sendiri bagaimana?”

Untuk beberapa detik, pertanyaan sederhana itu terasa lebih sulit daripada seluruh evaluasi bisnis.

“Aku masih takut,” jawab Maktal. “Tetapi sekarang aku bisa menyebutkan apa yang kutakuti.”

“Bagus.”

“Itu bagus?”

“Ketakutan yang memiliki nama lebih mudah diajak bicara.”

Maktal tersenyum tipis.

“Aku mulai membaca.”

Amir mengangkat alis.

“Sepuluh halaman setiap pagi,” kata Maktal. “Bukan buku bisnis.”

“Buku apa?”

“Kumpulan cerpen.”

Amir tersenyum untuk pertama kalinya pagi itu.

“Dulu aku ingin kuliah sastra.”

“Aku ingat.”

“Aku masih marah ketika mengingat Papa melarang.”

“Kamu berhak.”

“Tapi mungkin aku juga terlalu lama memakai Papa sebagai alasan atas semua pilihan yang tidak kuambil.”

Amir tidak membela diri.

Maktal membuka tasnya dan mengeluarkan buku bersampul biru.

“Aku membaca sebuah cerita tentang seorang anak yang pulang ke rumah ayahnya setelah bertahun-tahun. Mereka tidak menyelesaikan semua masalah. Mereka hanya duduk di beranda.”

“Lalu?”

“Entah kenapa aku menangis.”

“Cerita yang baik tidak selalu memberi jawaban. Kadang ia hanya menunjukkan luka mana yang selama ini kita sembunyikan.”

Maktal mengangguk.

“Aku ingin menulis.”

“Tulislah.”

“Aku tidak tahu bagaimana memulai.”

“Mulailah dari sesuatu yang tidak sanggup kamu katakan.”

.

Pemutusan hubungan kerja dilakukan pada hari Senin.

Langit cerah. Matahari terasa terlalu terang untuk sebuah hari yang akan dikenang sebagian orang sebagai hari kehilangan.

Maktal menemui para karyawan dalam kelompok kecil. Ia menolak menggunakan surat elektronik massal. Ia juga menolak menyerahkan seluruh proses kepada bagian sumber daya manusia.

Beberapa orang menerima dengan diam.

Beberapa menangis.

Seorang desainer bernama Sirtupelaeli membanting kartu akses ke meja.

“Kamu bicara tentang perusahaan seperti keluarga,” katanya. “Keluarga macam apa yang mengusir anggotanya saat kesulitan?”

Maktal menerima kemarahannya.

“Aku salah menggunakan kata keluarga,” jawabnya. “Perusahaan bukan keluarga. Perusahaan adalah tempat orang menukar waktu, kemampuan, dan kepercayaan dengan penghasilan serta kesempatan bertumbuh. Ketika perusahaan gagal memenuhi itu, kalian berhak marah.”

Sirtupelaeli menatapnya dengan kebencian yang jujur.

“Kata-kata tidak mengembalikan pekerjaanku.”

“Tidak.”

“Lalu untuk apa kamu minta maaf?”

“Agar aku tidak bersembunyi di balik jabatan ketika kamu kehilangan sesuatu akibat keputusanku.”

Sirtupelaeli mengambil tasnya.

Di ambang pintu ia berhenti.

“Semoga perusahaanmu selamat.”

Maktal tidak tahu apakah itu doa atau kutukan.

“Semoga kamu menemukan tempat yang lebih baik,” jawabnya.

Setelah ruangan kosong, ia duduk sendirian.

Di luar kaca, meja-meja kerja sedang dikosongkan. Kardus-kardus dibawa ke lift. Tanaman kecil, foto keluarga, cangkir, buku, jaket, dan benda-benda pribadi diangkat dari tempat yang selama ini mereka sebut kantor.

Setiap benda tampak ringan sampai seseorang harus membawanya pulang setelah kehilangan pekerjaan.

Maktal menangis di ruangan itu.

Bukan tangisan seorang pendiri perusahaan yang takut kehilangan valuasi.

Ia menangis sebagai manusia yang akhirnya memahami bahwa di balik angka penghematan biaya terdapat cicilan rumah, uang sekolah anak, pengobatan orangtua, rencana pernikahan, dan harga diri seseorang ketika menjawab pertanyaan keluarga: Besok kamu masih bekerja?

Muninggar datang menjelang sore.

Ia tidak menelepon lebih dulu. Ia membawa dua kotak makanan dan duduk di kursi tamu.

“Bagaimana Ibu tahu aku belum makan?”

“Kamu anakku.”

Maktal tertawa di antara sisa tangis.

Mereka makan tanpa banyak bicara.

“Bu,” kata Maktal setelah beberapa suap, “apakah kecerdasan bisa membuat seseorang menjadi baik?”

Muninggar menggeleng.

“Kecerdasan hanya memperbesar kemampuan. Orang yang baik dapat memakainya untuk menolong lebih banyak. Orang yang tamak dapat memakainya untuk merugikan lebih banyak.”

“Jadi pendidikan tidak cukup?”

“Pendidikan yang hanya menambah pengetahuan memang tidak cukup.”

“Apa yang kurang?”

“Kesadaran. Kemampuan melihat hubungan antara keputusan kita dan kehidupan orang lain.”

Maktal memainkan sendok.

“Apakah aku orang jahat?”

Muninggar tidak tergesa menjawab.

“Orang jahat jarang bertanya apakah dirinya jahat.”

“Itu berarti aku baik?”

“Tidak juga.”

Maktal tersenyum pahit.

“Kebaikan bukan identitas permanen. Ia keputusan yang harus dibuat berulang-ulang, terutama ketika keputusan itu mahal.”

Muninggar menyentuh tangan anaknya.

“Kamu telah melakukan kesalahan. Sebagian akibatnya tidak bisa dibatalkan. Tetapi hidup tidak meminta kita menjadi manusia tanpa kesalahan. Hidup meminta kita tidak berhenti belajar setelah menyakiti orang lain.”


Enam bulan berlalu.

TumbuhLab bertahan, meskipun tidak lagi disebut perusahaan rintisan paling menjanjikan.

Kantor mewah di Jakarta ditutup. Tim mereka berkurang hampir separuh. Produk kecerdasan buatan yang dahulu menjadi kebanggaan dihentikan. Perusahaan memusatkan diri pada tiga hal sederhana: bahan belajar yang ringan, umpan balik yang mudah dipahami, dan pelatihan guru.

Nilai perusahaan turun.

Jumlah pemberitaan berkurang.

Undangan seminar tidak lagi datang setiap minggu.

Anehnya, penggunaan produknya mulai naik.

Para guru merasa didengarkan. Sekolah-sekolah kecil bersedia membayar karena harga dibuat realistis. Tim produk mengunjungi kelas setiap bulan. Setiap fitur baru harus menjawab satu pertanyaan:

Masalah siapa yang sedang kita selesaikan?

Maktal tidak lagi memulai pagi dengan memeriksa jumlah pengguna.

Ia membaca sepuluh halaman.

Kemudian menulis satu halaman.

Terkadang hanya beberapa paragraf tentang jalanan yang dilihatnya dari mobil. Tentang penjual kopi yang hafal pesanan pelanggan. Tentang penjaga gedung yang membaca buku sejarah saat istirahat. Tentang seorang karyawan yang pernah ia berhentikan. Tentang ayahnya.

Pada Minggu pagi, ia mengajar kelas menulis gratis di Ruang Menak.

Pesertanya beragam: siswa sekolah, pengusaha, pegawai bank, dokter gigi, barista, pemilik toko pakaian, dan pensiunan guru.

Di antara mereka ada Wara, anak perempuan yang dahulu mengatakan warna merah terasa seperti dimarahi tanpa diajari. Ia memperoleh beasiswa dari program baru TumbuhLab.

Pada suatu pertemuan, Maktal menulis lima kata di papan:

Membaca. Menulis. Bertanya. Berteman. Bercermin.

“Apakah ini cara menjadi pintar?” tanya seorang peserta.

“Bukan,” jawab Maktal. “Ini cara agar kita tidak cepat merasa sudah pintar.”

Wara mengangkat tangan.

“Bedanya apa?”

“Orang yang ingin terlihat pintar mencari jawaban paling cepat. Orang yang ingin terus belajar mencari pertanyaan yang lebih jujur.”

“Kalau kita bertanya sesuatu yang bodoh?”

“Tidak apa-apa.”

“Orang bisa menertawakan.”

“Biarkan.”

“Papa saya bilang jangan bikin malu.”

Maktal berhenti.

Di bagian belakang ruangan, Amir berdiri bersandar pada rak buku. Muninggar duduk di sampingnya. Umarmaya sedang menuang kopi untuk para peserta.

Maktal melihat mereka, lalu kembali menatap Wara.

“Dulu aku juga takut membuat malu,” katanya. “Karena itu, aku berpura-pura tahu banyak hal. Akibatnya, aku membuat keputusan buruk dan menyakiti banyak orang.”

Ruangan menjadi sunyi.

“Jadi lebih baik kelihatan bodoh?”

“Lebih baik terlihat belum tahu selama beberapa menit daripada hidup dalam kesalahan selama bertahun-tahun.”

Wara mencatat kalimat itu.

Setelah kelas berakhir, Amir menghampiri Maktal.

“Kamu mengajar dengan baik.”

Maktal memasukkan spidol ke kotak.

“Berapa nilainya?”

Amir terdiam, lalu tertawa. Mereka berdua tahu lelucon itu berasal dari luka lama.

“Tidak ada nilai,” katanya. “Hanya satu pertanyaan.”

“Apa?”

“Apakah kamu bahagia?”

Maktal memandang ruangan. Wara sedang memilih buku. Umarmaya bercakap-cakap dengan seorang pemilik usaha roti. Muninggar membantu peserta lanjut usia mengirim tulisannya melalui surat elektronik.

“Belum sepenuhnya,” katanya. “Tapi aku merasa hidup.”

Amir mengangguk.

Mereka berjalan keluar bersama.

Jalan Tunjungan ramai oleh pejalan kaki. Anak-anak berfoto di depan bangunan lama. Musik jalanan terdengar dari kejauhan. Aroma makanan mengambang di antara suara kendaraan dan percakapan.

Kota itu tidak pernah benar-benar berhenti. Ia tumbuh, membangun, merobohkan, menjual, membeli, melupakan, dan mengingat. Di dalam gedung-gedungnya, manusia berlomba menjadi lebih cepat, lebih kaya, lebih penting, lebih terlihat.

Namun pagi itu, Amir dan Maktal berjalan perlahan.

“Pa,” kata Maktal, “kalau waktu bisa diulang, apakah Papa akan membiarkanku kuliah sastra?”

Amir berpikir sebentar.

“Aku akan bertanya kenapa kamu menyukainya.”

“Lalu?”

“Aku akan mendengarkan jawabanmu sebelum memberimu jawaban.”

Maktal menatap ayahnya.

“Papa berubah.”

“Belum selesai.”

“Umur Papa sudah enam puluh empat.”

“Belajar tidak mengenal usia pensiun.”

Mereka berhenti di sebuah penyeberangan.

Lampu masih merah. Orang-orang berkumpul di tepi jalan, sebagian menunduk pada telepon, sebagian bercakap, sebagian hanya menunggu.

Amir berkata, “Dulu aku pikir menjadi ayah berarti harus selalu tahu arah.”

“Sekarang?”

“Kadang menjadi ayah berarti berani mengakui bahwa kita pernah menunjukkan jalan yang salah.”

Lampu berubah hijau.

Mereka menyeberang.

Di tengah jalan, Maktal meraih tangan ayahnya, gerakan spontan yang biasa dilakukan anak-anak tetapi hampir tidak pernah dilakukan lelaki dewasa.

Amir terkejut. Namun ia tidak melepaskannya.


Setahun setelah krisis itu, Amir menerima telepon dari rumah sakit pada pukul empat pagi.

Muninggar mengalami serangan jantung.

Malam sebelumnya, mereka masih makan bersama. Muninggar mengeluh sedikit lelah, tetapi menolak diperiksa. Ia bahkan sempat menandai tugas mahasiswa dan menyiapkan pakaian olahraga.

Ketika Amir terbangun, istrinya sudah terbaring di lantai kamar mandi.

Ambulans datang dua belas menit kemudian.

Dalam perjalanan ke rumah sakit, Amir menggenggam tangan Muninggar yang dingin. Ia terus memanggil namanya, seolah suara dapat menahan seseorang agar tidak pergi terlalu jauh.

Muninggar sempat sadar di unit gawat darurat.

Matanya mencari Amir.

“Maktal?” bisiknya.

“Sedang menuju kemari.”

“Jangan biarkan dia menyalahkan diri.”

“Kamu akan mengatakannya sendiri.”

Muninggar tersenyum sangat tipis.

“Jangan selalu mengajari hidup bernegosiasi.”

Amir menunduk, menempelkan dahi pada tangannya.

“Aku belum siap.”

“Tidak ada orang yang siap kehilangan.”

“Aku masih membutuhkanmu.”

“Selama ini kamu pikir membutuhkan berarti memiliki.”

Air mata Amir jatuh.

Muninggar berusaha mengangkat jarinya, menyentuh pipi suaminya.

“Membutuhkan juga berarti meneruskan yang pernah kita pelajari bersama.”

Monitor di samping tempat tidur berbunyi teratur. Di luar ruangan, langkah kaki perawat terdengar cepat.

“Aku mencintaimu,” kata Amir.

“Aku tahu.”

“Aku seharusnya lebih sering mengatakannya.”

“Aku juga tahu.”

Maktal tiba ketika dokter dan perawat mulai bergerak lebih cepat.

Ia berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat.

“Ibu.”

Muninggar menoleh dengan susah payah.

Maktal mendekat dan menggenggam tangan ibunya dari sisi lain.

“Maaf aku terlambat.”

Muninggar menggeleng pelan.

“Kamu datang.”

“Aku belum membahagiakan Ibu.”

“Kamu bukan proyek yang harus selesai agar membuatku bahagia.”

“Ibu jangan pergi.”

“Dengarkan.”

Maktal mendekatkan wajah.

“Jangan ukur hidup dari berapa banyak yang mengenal namamu.”

Napas Muninggar semakin berat.

“Ukur dari berapa banyak orang yang merasa lebih berharga setelah bertemu denganmu.”

Itulah kalimat terakhirnya.

Tidak ada musik.

Tidak ada cahaya mendadak.

Tidak ada keajaiban seperti dalam film.

Hanya sebuah garis pada layar, suara panjang yang datar, dan dua laki-laki yang mendadak menjadi anak-anak di hadapan kehilangan.

.

Setelah pemakaman, rumah Amir dipenuhi bunga.

Karangan duka berjajar dari pintu gerbang sampai ujung jalan. Nama perusahaan, universitas, organisasi, dan tokoh-tokoh penting tercetak besar pada papan-papan itu.

Selama tujuh hari orang berdatangan.

Mereka menceritakan kebaikan Muninggar. Tentang mahasiswa yang dibantunya membayar uang kuliah. Tentang guru yang didampinginya menghadapi depresi. Tentang ibu tunggal yang diberi modal usaha. Tentang anak berkebutuhan khusus yang selalu ia sapa lebih dahulu.

Amir mendengarkan semuanya seperti seseorang membaca buku yang selama ini tersimpan di rumahnya tetapi tidak pernah benar-benar dibuka.

Pada malam kedelapan, rumah itu sepi.

Amir masuk ke ruang kerja Muninggar.

Di atas meja terdapat tumpukan buku, kacamata, pena, dan cangkir berisi teh yang telah mengering. Kalender masih terbuka pada hari kematiannya. Sebuah catatan kecil ditempel di bawah layar komputer:

Ingat mengirim buku untuk Wara.

Amir duduk di kursinya.

Ia membuka laci pertama. Di sana terdapat puluhan buku catatan, sebagian bertanggal sejak lebih dari dua puluh tahun lalu.

Salah satunya bersampul cokelat dan bertuliskan: Hal-hal Kecil tentang Amir dan Maktal.

Tangannya gemetar ketika membukanya.

Amir pulang larut, tetapi masih menyelimuti Maktal.

Maktal bertanya kenapa orang dewasa tidak pernah mengaku takut. Amir tidak menjawab.

Hari ini Amir gagal hadir di pertunjukan piano. Ia membawa hadiah mahal. Maktal tersenyum, tetapi tidak menyentuh pianonya lagi selama tiga minggu.

Amir tampak keras karena ia takut anaknya mengalami hidup sesulit masa kecilnya. Ia belum sadar bahwa cinta yang selalu memakai baju kekhawatiran dapat terlihat seperti tuntutan.

Amir menutup mulut agar isaknya tidak terdengar oleh rumah kosong.

Pada halaman terakhir terdapat tulisan beberapa hari sebelum Muninggar meninggal:

Amir mulai belajar menjadi ayah setelah anaknya dewasa. Tidak apa-apa. Beberapa pohon berbuah ketika musim hampir selesai. Buahnya tetap manis.

Di bawahnya ada satu kalimat:

Bila aku pergi lebih dahulu, jangan biarkan kedua lelaki yang kucintai mengubah kesedihan menjadi penjara.

Amir membaca kalimat itu berkali-kali sampai huruf-hurufnya kabur.

Maktal menemukannya menjelang tengah malam.

Ia duduk di lantai di samping kursi ayahnya. Amir menyerahkan buku catatan itu tanpa bicara.

Maktal membacanya perlahan.

Ketika selesai, ia menyandarkan kepala pada lutut Amir.

“Aku tidak tahu bagaimana hidup tanpa Ibu.”

“Aku juga.”

“Apa yang harus kita lakukan?”

Untuk pertama kalinya, Amir tidak merasa harus memiliki jawaban.

“Kita belajar.”

“Belajar apa?”

“Bangun pagi tanpa suaranya. Makan di meja yang kehilangan satu kursi. Pulang ke rumah yang lampunya tetap menyala tetapi tidak lagi menunggu dengan cara yang sama.”

Maktal menangis.

“Kita mungkin gagal berkali-kali,” lanjut Amir. “Ada hari ketika kita marah karena orang lain masih bisa tertawa. Ada hari ketika kita lupa sesaat lalu merasa bersalah karena lupa. Ada hari ketika aroma tertentu membuat kita runtuh.”

“Apakah rasa sakit ini akan hilang?”

“Entahlah.”

Amir menatap foto Muninggar di rak.

“Mungkin bukan rasa sakitnya yang mengecil. Mungkin hati kita yang perlahan belajar menjadi lebih luas untuk menampungnya.”

Mereka duduk sampai dini hari.

Tidak berusaha menjadi kuat.

Tidak memberi nasihat.

Tidak menyusun rencana.

Hanya dua orang yang tinggal setelah seseorang pergi, belajar bahwa duka pun membutuhkan tempat duduk.

.

Empat puluh hari kemudian, Ruang Menak membuka sebuah perpustakaan kecil untuk guru dan orangtua.

Namanya Ruang Muninggar.

Tidak ada upacara besar. Tidak ada karangan bunga. Amir hanya mengundang keluarga, sahabat, mahasiswa, dan orang-orang yang pernah disentuh hidupnya.

Wara membacakan tulisan pendek di depan para tamu.

“Orang yang mengajar kita tidak selalu berdiri di depan kelas,” katanya. “Kadang ia duduk di samping kita ketika kita salah, lalu tidak membuat kita merasa kecil.”

Maktal berdiri di belakang ruangan. Air matanya mengalir, tetapi kali ini ia tidak menyembunyikannya.

Setelah acara, Amir kembali ke meja panjang tempat dulu ia dan Muninggar merancang Ruang Menak.

Di atas meja terdapat buku yang sedang dibacanya pada pagi ketika Maktal datang membawa kabar kebangkrutan. Pembatasnya masih berupa kertas tagihan rumah sakit.

Ia membuka halaman 114.

Namun ia tidak segera membaca.

Ia mengambil buku catatan dan menulis:

Hari ini aku mengerti bahwa kecerdasan bukan kemampuan menghindari kehilangan. Kecerdasan adalah kesediaan membiarkan kehilangan mengajari kita mencintai dengan lebih sadar.

Maktal datang membawa dua cangkir kopi.

“Sepuluh halaman?” tanyanya.

“Sebentar lagi.”

Maktal duduk di seberang.

“Aku menyelesaikan sebuah tulisan.”

“Tentang apa?”

“Ibu.”

“Bacakan.”

Maktal membuka laptop.

Judulnya: Perempuan yang Tidak Pernah Menganggap Manusia sebagai Proyek.

Ia membaca tentang ibunya yang selalu bertanya sebelum memberi nasihat. Tentang caranya mendengarkan. Tentang catatan-catatan kecil. Tentang kalimat terakhir di rumah sakit.

Ketika selesai, Amir tidak berkata apa-apa.

“Jelek?” tanya Maktal.

Amir menggeleng.

“Lalu?”

“Aku sedang mencari tempat di dalam diriku untuk menyimpannya.”

Maktal menutup laptop.

Di luar, kota mulai bangun.

Pintu-pintu toko dibuka. Mesin kendaraan dinyalakan. Orang-orang berjalan menuju kantor, sekolah, rumah sakit, pasar, hotel, studio, dapur, dan ruang-ruang tempat mereka mempertaruhkan waktu demi masa depan.

Sebagian akan berhasil.

Sebagian akan gagal.

Sebagian tampak cerdas tetapi kehilangan arah. Sebagian dianggap biasa, padahal setiap hari diam-diam memperluas pikirannya.

Amir membuka bukunya.

Maktal membuka buku catatannya.

Mereka membaca dalam diam.

Sepuluh halaman sebelum kota benar-benar terjaga.

Di kursi kosong dekat jendela, cahaya matahari jatuh perlahan—hangat, tenang, dan lembut seperti seseorang yang pernah duduk di sana, menemani mereka belajar bahwa manusia tidak harus mengetahui segala sesuatu untuk dapat menjalani hidup dengan bijaksana.

Ia hanya perlu terus membaca.

Terus menulis.

Terus bertanya.

Terus mencari orang-orang yang membuat pikirannya bertumbuh.

Terus bercermin.

Dan, lebih penting daripada semuanya, terus menyediakan ruang di dalam dirinya agar orang lain tidak merasa kecil hanya karena belum tahu.

Sebab pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk menjadi manusia paling pintar di ruangan.

Hidup adalah perjalanan panjang untuk menjadi manusia yang cukup rendah hati membuka pintu, menggeser kursi, lalu berkata kepada siapa pun yang datang membawa keraguan:

Duduklah. Kita pelajari bersama.

.

.

.

Malang, 23 Juli 2026

Jeffrey Wibisono V.

.

#SepuluhHalamanSebelumKotaBangun #CerpenIndonesia #SastraUrban #CerpenKeluarga #KecerdasanEmosional #BelajarSepanjangHayat #BudayaMembaca #BeraniBertanya #RefleksiDiri #KepemimpinanManusiawi #BisnisBerkesadaran #PendidikanIndonesia #HubunganAyahDanAnak #KisahInspiratif #NamakuBrandku #JeffreyWibisonoV

.

Kutipan Pilihan

“Orang yang ingin terlihat pintar mencari jawaban paling cepat. Orang yang ingin terus belajar mencari pertanyaan yang lebih jujur.”

“Lebih baik terlihat belum tahu selama beberapa menit daripada hidup dalam kesalahan selama bertahun-tahun.”

“Jangan membangun sistem yang hanya pandai menunjukkan kesalahan, tetapi tidak sabar menemani orang memperbaikinya.”

“Kebaikan bukan identitas permanen. Ia keputusan yang harus dibuat berulang-ulang, terutama ketika keputusan itu mahal.”

“Ketakutan yang memiliki nama lebih mudah diajak bicara.”

“Beberapa pohon berbuah ketika musim hampir selesai. Buahnya tetap manis.”

“Mungkin bukan rasa sakit yang mengecil. Mungkin hati kita yang perlahan belajar menjadi lebih luas untuk menampungnya.”

“Manusia tidak harus mengetahui segala sesuatu untuk hidup dengan bijaksana. Ia hanya perlu rendah hati untuk terus belajar.”

Leave a Reply