Terlalu Lama Menjadi Orang Lain
“Kadang kita tidak kehilangan kesabaran—kita hanya akhirnya berani mengakui: nilai hidup kita selama ini terlalu sering dititipkan pada mulut orang lain.”
“Menghargai pendapat bukan berarti menggadaikan kompas batin.”
.
Kota itu, seperti layar raksasa yang tak pernah dimatikan, selalu menyala: lampu-lampu gedung, papan iklan yang menjanjikan kebahagiaan instan, bunyi notifikasi yang memantul dari kaca-kaca kafe, dan lalu lintas yang tak pernah benar-benar selesai, hanya berganti jam ramai.
Panji mencintai kota itu seperti orang mencintai sepatu mahal: nyaman, meyakinkan, membuat langkah terlihat mewah—meski kadang diam-diam menyakitkan tumit.
Di usia yang orang lain sebut “matang”, Panji punya hal-hal yang, menurut standar kelas menengah ke atas, lengkap: apartemen di lantai tinggi yang jendelanya menghadap garis laut jauh, mobil listrik yang tak pernah kehabisan pujian dari teman-teman kantor, dan pekerjaan yang bisa dipajang dengan bangga di bio media sosial. Ia memimpin tim brand strategy di sebuah grup usaha yang merangkum semuanya—hotel, kuliner, properti, dan platform pendidikan.
Namun yang paling sering ia pamerkan—tanpa ia sadari—bukanlah pencapaiannya. Yang ia pamerkan adalah kesanggupannya bertahan.
Sekar, istrinya, sering berkata pelan, “Kamu kuat, tapi kamu capek.” Seolah kata “kuat” dan “capek” adalah saudara kandung yang tidak bisa dipisahkan.
Sekar bekerja di dunia edukasi—ia mengelola program beasiswa dan inkubasi karier di sebuah yayasan keluarga. Orang-orang memanggilnya “visioner” karena ia bisa bicara tentang masa depan dengan mata yang tidak sinis. Bagi Panji, Sekar adalah rumah yang selalu hangat—tetapi rumah pun bisa jadi tempat orang menyembunyikan debu.
Mereka punya dua anak: Ragil, remaja yang baru belajar bahwa hidup bukan cuma soal nilai rapor; dan Muning, anak yang masih mengira semua orang dewasa selalu benar karena mereka bicara lebih keras.
Pada suatu malam, setelah acara makan malam yang terlalu rapi—meja panjang, piring-piring putih, aroma wine yang dibiarkan menyebar seperti prestise—Panji tiba-tiba merasa lelah pada kalimat-kalimat yang sudah terlalu sering ia dengar.
Klana hadir malam itu. Teman lama Panji dari masa kuliah yang kini sukses sebagai investor dan “pemburu peluang”. Klana tipe orang yang selalu punya pendapat tentang hidup orang lain, dan selalu mengatakannya dengan percaya diri yang seolah dibaptis oleh angka-angka portofolio.
Umara, sahabat Sekar, juga datang. Umara seorang psikiater, terkenal di lingkaran sosial mereka karena “jujur tanpa basa-basi”. Ia sering jadi rujukan keluarga-keluarga mapan yang ingin terlihat sehat secara mental—tanpa benar-benar ingin membongkar luka.
Umadi, adik Panji, adalah kebalikan: pengusaha rintisan di bidang logistik yang hidupnya penuh improvisasi. Ia tidak sekaya Panji, tapi ekspresinya selalu seakan punya cadangan bahagia.
Malam itu mestinya biasa. Mereka bicara tentang bisnis, properti, dan sekolah anak—menu standar percakapan kelas menengah ke atas: bagaimana membuat hidup tampak terkendali.
Namun, di tengah gelas yang beradu dan tawa yang diatur, Klana melontarkan kalimat yang membuat Panji seperti tersandung.
“Panji, kamu itu terlalu lembek,” kata Klana sambil menyeka sudut bibirnya. “Kamu sibuk brand dan value, tapi lupa: yang menang itu yang cepat, yang tegas, yang berani potong orang. Dunia nggak butuh orang baik. Dunia butuh yang efektif.”
Umara menimpali dengan nada halus namun tajam. “Klana ada benarnya. Kadang empati itu hanya cara elegan untuk menghindari keputusan sulit.”
Sekar menghela napas kecil, mencoba meredakan. “Tapi keputusan sulit bukan berarti keputusan dingin.”
Klana tertawa. “Sekar, kamu itu kebanyakan baca buku. Hidup bukan seminar. Hidup itu kompetisi.”
Ragil yang biasanya diam, menatap Panji seolah meminta jawaban: Ayah, nilai hidup kita apa?
Panji membuka mulut—dan mendadak tidak ada kalimat yang terasa benar.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang mengganggu: kesabarannya pada nilai hidup orang lain… habis.
Bukan karena ia membenci mereka. Bukan karena ia tidak menghargai opini. Ia hanya tiba-tiba sadar, ia terlalu lama hidup dengan mengamini standar orang.
Di meja itu, ia seolah melihat peta hidupnya: pilihan karier, pola kerja, jenis investasi, bahkan cara ia tertawa—semuanya pernah lewat sensor “layak menurut lingkungan”.
Dan malam itu, Panji ingin menurunkan semua sensor itu.
Ia berdiri, minta izin, berjalan ke balkon apartemen. Angin membawa aroma kota: campuran asap kendaraan, parfum mahal, dan kemungkinan yang tak pernah tidur.
Di bawah, lampu-lampu tampak seperti ribuan mata. Kota seperti sedang menonton dia.
Panji menempelkan telapak tangan ke pagar balkon, dingin, dan bertanya pada dirinya sendiri: “Apa yang penting buatku—bukan buat mereka?”
Jawabannya tidak langsung datang. Tetapi ada getaran halus seperti pintu yang mulai terbuka.
.
Kompas Batin yang Terlambat Diperiksa
Hari-hari berikutnya, Panji menjalani rutinitas seperti biasa—rapat, presentasi, perjalanan singkat, dan makan siang bisnis yang penuh basa-basi. Namun ada sesuatu berubah: ia tidak lagi bisa menelan mentah-mentah nilai hidup orang lain. Bukan karena ia menjadi keras. Ia menjadi sadar.
Di ruang rapat, ia mendengar jargon yang sama: “growth”, “efficiency”, “market domination”. Biasanya ia menikmati permainan kata-kata itu. Sekarang, ada pertanyaan yang terus menyelip: “Kalau semua orang menang, siapa yang tersisa untuk dijaga?”
Suatu siang, ia bertemu dengan seorang rekan kerja lama yang kini mengurus divisi CSR, namanya Jayeng. Jayeng tidak pernah suka glamor. Ia selalu tampak seperti orang yang tahu bahwa hidup ini lebih luas daripada timeline.
Mereka makan di sebuah tempat yang tidak terlalu mahal—dan entah kenapa itu terasa menenangkan.
Jayeng menyodorkan tablet, menunjukkan laporan program sosial. “Kita punya angka bagus,” katanya. “Tapi ada satu wilayah yang lagi butuh perhatian. Banjir bandang. Banyak keluarga kehilangan rumah. Banyak anak putus sekolah.”
Panji memandang foto-foto itu—wajah-wajah yang tidak punya privilege untuk sekadar “rebranding” hidupnya.
“Aku tahu kamu sibuk,” lanjut Jayeng, “tapi aku butuh orang yang bisa bikin ini bukan sekadar bantuan sekali lewat. Kita perlu sistem.”
Kata “sistem” menggugah Panji—kata itu ia kenal. Ia hidup dari sistem. Ia membangun sistem merek. Ia menyusun sistem penjualan. Ia menata sistem customer experience. Tetapi baru kali ini ia merasa sistem bisa menyelamatkan, bukan hanya menghasilkan.
Panji terdiam lama.
Lalu ia berkata, nyaris berbisik: “Aku mau ikut.”
Jayeng menatapnya, seolah memastikan Panji tidak sedang bermain citra.
Panji menelan ludah. “Aku juga capek jadi orang yang cuma mengatur persepsi.”
Di luar restoran, kota tetap bising. Tetapi di dalam diri Panji, ada ruang sunyi yang baru. Ruang itu tidak meminta tepuk tangan.
.
Ketika Dunia yang Jauh Mendekat
Di rumah, Sekar melihat perubahan Panji dengan insting seorang istri yang mengenal suaminya lebih dalam daripada laporan kinerja.
Panji mulai membaca berita yang biasanya ia lewati. Ia menonton dokumenter tentang krisis kemanusiaan, migrasi, perubahan iklim, dan konflik yang selama ini terdengar jauh—sekarang terasa dekat, seolah dunia menepuk bahunya: hei, kamu hidup di planet yang sama.
Ragil mencibir suatu malam, “Ayah tiba-tiba jadi aktivis?”
Panji tersenyum tipis. “Bukan aktivis. Cuma… terlambat sadar.”
Sekar menaruh teh hangat di meja. “Terlambat itu relatif,” katanya. “Yang penting kamu akhirnya pulang ke dirimu sendiri.”
Kalimat itu menampar lembut.
Malam-malam berikutnya, Panji dan Sekar berbicara lebih panjang dari biasanya. Bukan soal sekolah anak atau jadwal rapat. Mereka bicara tentang nilai: apa yang ingin diwariskan selain aset. Mereka bicara tentang makna: apa bedanya sukses yang dipuji orang, dengan sukses yang membuat kita bisa tidur tanpa dicekik rasa bersalah.
Di sela percakapan itu, Sekar tiba-tiba berkata, “Aku kangen kamu yang dulu.”
Panji mengernyit. “Yang dulu?”
“Yang tidak takut dianggap kurang,” kata Sekar. “Yang tidak perlu jadi definisi orang lain.”
Panji menatap wajah Sekar lama. Ia baru sadar: selama ini ia memaksa dirinya jadi versi yang “pantas” untuk semua orang—dan tanpa sengaja, ia mencuri ruang Sekar untuk mencintainya apa adanya.
Ada jenis kesedihan yang tidak meledak—ia hanya menetes perlahan, tetapi mengikis dinding batin.
Panji menunduk. “Maaf,” katanya.
Sekar menggenggam tangannya. “Kita semua belajar,” jawabnya. “Tapi jangan tunggu sampai hati kamu kering.”
Malam itu, Panji menulis di catatan ponselnya, satu kalimat:
“Menghargai nilai orang lain itu indah. Tapi menunda nilai sendiri itu bunuh diri yang rapi.”
.
Keluarga: Ruang Paling Sederhana, Luka Paling Dalam
Di tengah gelombang pemikiran besar tentang dunia, Panji tetap pulang ke hal yang paling sederhana: keluarga.
Namun keluarga bukan berarti selalu damai. Keluarga adalah tempat kita paling berani menyimpan amarah—karena kita yakin mereka tidak akan pergi. Dan keyakinan itu, kadang, adalah bentuk ketidakadilan.
Suatu malam, Ragil pulang terlambat. Wajahnya keras. Aroma rokok menempel di jaketnya seperti pengakuan yang belum selesai.
Sekar menatap Ragil, kecewa dan khawatir bercampur. “Kamu ke mana?”
Ragil mengangkat bahu, “Keluar.”
Panji ingin marah, tetapi ia ingat: marah sering cuma cara cepat menutup rasa takut.
“Ayah cuma mau tahu kamu aman,” kata Panji pelan.
Ragil mencibir, “Ayah aman? Ayah aja nggak pernah ada. Ayah ada di rumah, tapi kepala Ayah di kantor.”
Kalimat itu masuk seperti paku.
Muning yang mendengar dari kamar, keluar perlahan, memeluk Sekar.
Sekar menahan air mata, tetapi air mata itu selalu menemukan jalan.
Panji menarik napas panjang. “Kamu benar,” katanya pada Ragil. “Aku sering tidak hadir.”
Ragil tampak tidak siap dengan pengakuan itu. Ia ingin bertengkar, tetapi pertahanan runtuh ketika lawan tidak menyerang.
Panji melanjutkan, “Tapi aku mau belajar. Dan aku mau kamu juga belajar: kalau kamu marah, jangan cari obatnya di tempat yang membuat kamu kehilangan dirimu.”
Ragil menatap Panji lama. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia menahan, seperti anak kelas menengah ke atas yang diajarkan untuk terlihat kuat.
Di ruang tamu yang luas itu, Panji melihat sesuatu yang ironis: mereka punya ruang besar, tetapi sering tak punya ruang untuk jujur.
Sekar berkata lirih, seolah bicara pada udara, “Kita ini sering rapi di luar, berantakan di dalam.”
Panji memandang Sekar, memandang anak-anaknya. Ia ingin memeluk semuanya sekaligus, menghapus tahun-tahun yang hilang.
Tetapi hidup tidak punya tombol undo. Hidup hanya punya keberanian untuk memperbaiki.
Panji berkata, “Mulai sekarang, kita bikin peraturan baru.”
Ragil mengangkat alis, “Apa?”
“Di rumah ini, kita boleh gagal,” kata Panji. “Tapi kita tidak boleh pura-pura.”
Muning menangis duluan, seperti anak kecil yang akhirnya mendapat izin untuk melepaskan takut.
Sekar menutup mulutnya, air mata jatuh.
Ragil menunduk, lalu berkata pelan, hampir tak terdengar, “Aku capek, Yah.”
Panji menghampiri Ragil, memeluknya—pelukan canggung seorang ayah yang terlalu lama lupa bahwa anak lelaki pun butuh dipeluk.
Di pelukan itu, Panji merasa dadanya sesak. Ia sadar: semua prestasi yang dipamerkan tidak akan bisa menggantikan satu malam ketika anakmu berkata, aku capek—dan kamu memilih hadir.
Di atas meja, jam dinding tetap berdetak. Kota di luar tetap menyala. Tetapi di rumah itu, ada sesuatu yang lebih penting daripada jadwal: kesadaran.
.
Bisnis, Nilai, dan Cara Menolong Tanpa Merendahkan
Beberapa waktu kemudian, Panji mulai terlibat serius dalam program yang dibawa Jayeng. Ia mengusulkan kemitraan: perusahaan mereka membantu membangun sistem edukasi darurat, akses internet, kelas hybrid, dan pelatihan keterampilan bagi orang-orang yang kehilangan pekerjaan akibat bencana.
Umadi ikut membantu dengan jaringan logistiknya. Sekar menyusun kurikulum dan mentoring. Ragil—yang awalnya sinis—perlahan ikut, karena ia melihat orang-orang sebaya yang tidak punya pilihan hidup seperti dirinya.
Di salah satu kunjungan lapangan, Panji melihat seorang ibu muda menggendong anak, berdiri di depan tenda posko. Mata ibu itu lelah, tapi sorotnya tidak menyerah.
Ibu itu berkata, “Saya tidak minta dikasihani, Pak. Saya cuma butuh jalan.”
Kalimat itu menancap.
Dalam mobil perjalanan pulang, Panji diam lama. Sekar menatapnya, menunggu.
Panji akhirnya berkata, “Kadang kita membantu orang sambil diam-diam merasa lebih tinggi.”
Sekar mengangguk. “Itu perangkap.”
Panji menelan napas. “Aku nggak mau begitu.”
Sekar berkata pelan, “Tolong itu bukan panggung. Tolong itu cara kita menjadi manusia.”
Panji memejamkan mata. Ada rasa malu yang sehat—malu karena akhirnya sadar, bukan malu karena terlihat lemah.
Ia menulis lagi di catatan ponsel:
“Jika bantuan membuat kita merasa besar, berarti kita belum membantu—kita baru membeli perasaan unggul.”
Romansa yang Datang Tanpa Undangan
Malam-malam Panji dan Sekar kini berbeda. Mereka tidak lagi hanya sibuk mengurus anak, mengatur jadwal, atau mengelola citra keluarga mapan.
Ada satu malam, setelah anak-anak tidur, listrik sempat padam sebentar karena perbaikan jaringan. Apartemen gelap, kota di luar tetap terang, tetapi ruangan mereka seperti kembali ke masa lalu: sunyi, sederhana, tanpa layar.
Sekar menyalakan lilin. Cahaya kecil itu membuat wajahnya tampak lebih lembut—atau mungkin karena Panji akhirnya melihatnya tanpa tergesa-gesa.
Panji tertawa kecil. “Kayak kita lagi di rumah kontrakan dulu.”
Sekar ikut tertawa. “Waktu kita punya sedikit uang tapi banyak mimpi.”
Panji menatap Sekar lama, lalu berkata, “Aku kangen.”
Sekar mengangkat alis. “Kangen apa?”
“Kangen jadi orang yang tidak sibuk membuktikan diri,” jawab Panji. “Kangen jadi suami, bukan manajer rumah.”
Sekar terdiam. Matanya berkaca-kaca. Ia menoleh, seolah malu terlihat rapuh.
Panji mendekat. “Sekar…”
Sekar memotong pelan, “Aku capek jadi kuat sendirian.”
Kalimat itu—yang sederhana—membelah Panji dari dalam. Ia merasa seperti pria yang baru sadar: selama ini ia memeluk istrinya dengan jadwal, bukan dengan hati.
Panji menyentuh pipi Sekar, menghapus air mata yang jatuh. “Mulai sekarang, kita kuat bareng-bareng,” katanya.
Sekar menatapnya, lama, seolah memastikan Panji bukan sedang terbawa suasana.
Panji melanjutkan, “Aku tidak janji jadi sempurna. Tapi aku janji: aku hadir.”
Sekar tersenyum kecil—senyum yang bukan karena lucu, tetapi karena lega.
Malam itu, tanpa musik, tanpa restoran mahal, tanpa foto untuk dipajang, Panji dan Sekar duduk berdekatan di lantai, bersandar pada sofa, seperti dua orang yang baru pulang dari perjalanan panjang.
Di luar, kota tetap berisik. Tetapi di dalam, ada romansa yang tidak perlu disahkan oleh siapa pun.
Romansa yang muncul ketika seseorang akhirnya berkata: aku memilih nilai hidupku, dan aku memilih kamu.
Panji berbisik, seperti membaca doa:
“Cinta yang dewasa bukan yang paling meriah—melainkan yang paling setia memperbaiki.”
Sekar menutup mata, menyandarkan kepala ke bahunya. Panji merasakan hangat tubuh Sekar, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa kaya dengan cara yang benar.
.
Epilog yang Tidak Berisik
Pada suatu pertemuan sosial berikutnya, Klana masih dengan gaya lamanya. Ia memamerkan proyek baru, bicara tentang profit, tentang menyingkirkan pesaing.
Umara tetap tajam dengan analisis psikologinya.
Namun Panji kini berbeda. Ia mendengar mereka—menghargai—tanpa perlu menelan.
Klana bertanya, “Jadi kamu sekarang sibuk main kemanusiaan?”
Panji tersenyum. “Aku sibuk menata ulang hidupku.”
Klana tertawa. “Lebay.”
Panji mengangguk. “Mungkin.”
Lalu Panji berkata, pelan tapi tegas, “Aku sudah terlalu lama hidup dengan nilai yang bukan milikku. Dan ternyata… itu yang paling melelahkan.”
Umara menatap Panji, seperti melihat pasien yang akhirnya mau jujur.
Panji menoleh ke Sekar yang berdiri di sampingnya. Sekar menggenggam tangannya—sebuah bahasa yang tidak butuh kata.
Muning dan Ragil menghampiri, masing-masing memeluk orang tuanya dengan cara mereka yang canggung. Panji merasakan sesuatu menutup luka lama: bukan prestasi, bukan validasi, tetapi keintiman yang tumbuh dari keberanian.
Sebelum pulang, Panji menatap kota dari lobi gedung. Lampu-lampu masih menyala. Kompetisi masih ada. Dunia masih rumit.
Tetapi Panji tidak lagi takut.
Karena ia akhirnya punya kompas.
Dan kompas itu tidak dibuat oleh orang lain.
.
.
.
Malang, 23 Februari 2026
.
.
#TerlaluLamaMenjadiOrangLain #CerpenSastra #KompasMinggu #RefleksiHidup #UrbanStory #HealingJourney #LiterasiIndonesia
.
Quotes tambahan
-
“Tidak semua yang cepat itu benar, dan tidak semua yang benar harus cepat.”
-
“Kita boleh menghargai pandangan orang lain, tapi jangan menyerahkan setir hidup kepada mereka.”
-
“Keluarga tidak selalu rapi, tapi di sanalah kita belajar pulang.”
-
“Membantu tanpa merendahkan adalah bentuk tertinggi dari pendidikan hati.”
-
“Romansa paling sunyi sering lahir dari kalimat: aku hadir.”