Perimeter
“Kadang, menjadi lelaki bukan soal menang—melainkan soal siapa yang tetap berdiri ketika ‘perimeter’ hidupmu runtuh, lalu memilih membangunnya kembali tanpa menyalahkan siapa pun.”
.
Malam Jakarta tidak pernah benar-benar gelap. Ia hanya berganti warna: dari jingga billboard ke biru neon, dari putih lampu jalan ke merah rem mobil yang seperti urat nadi kota. Di lantai 27 sebuah gedung perkantoran di Kuningan, kaca-kaca tinggi memantulkan siluet orang-orang yang pulang dengan mata lelah, tetapi tetap rapi. Lantai itu, tempat sebuah perusahaan konsultan strategi bernaung, punya aroma khas: kopi, karpet baru, dan ambisi yang disembunyikan di balik bahasa yang “profesional”.
Panji berdiri di dekat jendela, menatap ke bawah seolah-olah ia sedang menghitung jarak jatuh dari sebuah keputusan.
Di atas meja, layar laptop menampilkan file presentasi untuk rapat esok pagi: “Re-Aligning Strategy: Q1—Q4. Risk, Resilience, Reputation.” Di pojok layar, ia menulis catatan kecil yang tak akan pernah dibaca klien: “Perimeter.”
Ia menyukai kata itu belakangan ini. Perimeter terdengar seperti garis tegas yang melindungi. Seperti pagar rumah yang memisahkan “dunia” dan “keluarga”. Seperti batas yang membuat manusia bisa tidur tanpa terus merasa dikejar.
Namun, di usia tiga puluh delapan, Panji baru sadar: perimeter bukan hanya tembok. Ia juga keputusan. Ia juga pertemanan. Ia juga cara seseorang memegang kata-katanya sendiri.
Ponsel bergetar. Nama yang muncul membuat tenggorokannya mengeras.
Sekartaji.
Panji menunda dua detik, lalu mengangkat.
“Mas,” suara Sekartaji pelan, seolah ia takut suara sendiri bisa memecahkan sesuatu. “Ayah masuk IGD. Dokter bilang… ada komplikasi.”
Di dalam kepala Panji, malam Jakarta tiba-tiba seperti menutup lampunya. Ia melihat bayangan ayahnya—dulu seorang pengusaha percetakan yang membangun segalanya dari nol, yang mengajarkan Panji mengecek kualitas kertas dengan ujung jari, yang selalu bilang: kalau kamu mau kuat, jangan hanya belajar memukul. Belajarlah menahan.
“Di mana?” tanya Panji.
“RS di Bintaro. Aku di jalan, tapi… Mas, aku takut.”
Kata “takut” mengendap seperti timah.
Panji menatap ruang kantor yang mulai kosong. Di salah satu meja, ada beberapa anggota timnya yang belum pulang: Ragil, Gunungsari, dan Kelana. Mereka sedang membahas sesuatu di whiteboard—angka, timeline, resiko. Mereka bukan sekadar rekan kerja. Mereka, tanpa disadari Panji, adalah “gang”-nya: kelompok kecil yang selama ini menjaga perimeter profesionalnya, menahan gelombang agar ia tetap terlihat “baik-baik saja”.
Panji mematikan laptop, meraih jas, lalu berjalan mendekat.
“Gue harus pergi. Urgent,” katanya.
Ragil menoleh cepat. Ragil itu tipe orang yang kalau bicara, kalimatnya pendek tetapi tepat. Seperti orang yang terbiasa menahan panik agar tetap berguna.
“Ke rumah sakit?”
Panji mengangguk.
Gunungsari berdiri, langsung mengambil kunci mobil. “Gue antar. Malam begini susah.”
Kelana—yang biasanya paling santai dan paling pandai menyisipkan humor untuk meredakan tegang—kali ini hanya menatap Panji sejenak, lalu berkata, “Rapat besok gimana?”
Panji menarik napas. Di sinilah hidup sering menempatkan orang: di antara dua dunia yang sama-sama minta diprioritaskan. Dunia yang membayar tagihan, dan dunia yang memberi alasan untuk tetap membayar tagihan.
“Besok gue mungkin telat. Kalau gue enggak muncul, lo ambil alih,” Panji menatap Kelana. “Lo bisa.”
Kelana mengangguk pelan. “Gue bisa.”
Di lift, Panji memandang pantulan wajahnya sendiri di pintu stainless. Wajah itu rapi, tapi mata tidak. Mata itu seperti orang yang baru sadar bahwa ia sudah terlalu lama hidup di dalam “presentasi”—dan lupa bahwa hidup bukan slide.
Di parkiran, Gunungsari menyetir cepat, tetapi tidak liar. Jakarta tengah malam seperti jalanan milik mereka: lebih lengang, tetapi tetap penuh kejutan. Di radio, penyiar membacakan berita ekonomi: rupiah, suku bunga, investasi. Dunia seolah berjalan biasa. Padahal di dalam mobil, ada seseorang yang sedang mengejar garis tipis bernama “waktu”.
Panji membuka ponsel dan mengetik pesan ke Sekartaji: Aku otw. Tahan ya.
Tidak ada balasan.
.
Rumah sakit selalu punya dua waktu: waktu jam dinding dan waktu batin. Jam dinding bergerak pelan. Waktu batin berlari. Dan di antara keduanya, manusia belajar apa arti “tunggu”.
Di lorong IGD, Sekartaji duduk di kursi plastik. Rambutnya rapi tetapi mata sembab. Ia menatap pintu ruang tindakan seperti orang menatap pintu yang bisa membuka dua kemungkinan: kehidupan atau kehilangan.
Panji mendekat, memeluknya tanpa kata.
Sekartaji menempelkan dahi ke bahu Panji, dan dalam diam itu Panji mendengar sesuatu yang selama ini jarang ia dengar: suara rapuh yang tidak disembunyikan.
“Aku takut banget,” bisik Sekartaji.
Panji ingin berkata: Aku juga. Tapi ia menelan kata itu. Ia tahu, di momen seperti ini, ketakutan tidak butuh saingan. Ia butuh sandaran.
“Gue di sini,” katanya. Suaranya serak. “Kita bareng.”
Sekartaji mengangguk. “Dokternya bilang, ayah butuh tindakan. Tapi ada risiko.”
“Berapa?” tanya Panji, mencoba menjadi rasional karena rasional adalah baju besi terakhir ketika hati mulai runtuh.
Sekartaji mengangkat bahu. “Aku enggak bisa mikir angka, Mas. Aku cuma… enggak siap kalau…”
Kalimat itu terputus. Tapi Panji paham kelanjutannya.
Di ujung lorong, seorang perawat memanggil nama ayah Sekartaji. Sekartaji berdiri tergesa. Panji mengikuti.
Dokter menjelaskan cepat: prosedur, risiko, kemungkinan. Panji menandatangani formulir dengan tangan yang sedikit gemetar, seperti orang menandatangani kontrak hidup dan mati.
Saat Sekartaji masuk ke ruang tunggu keluarga, Panji berdiri di dekat vending machine yang lampunya menyala redup. Ia menatap kopi instan di balik kaca, lalu tertawa kecil tanpa suara.
Di kantor, Panji terbiasa mengendalikan risiko dengan model prediksi. Di sini, risiko tidak peduli model. Ia hanya peduli kenyataan.
Gunungsari berdiri di sampingnya. “Lo butuh sesuatu?”
Panji menggeleng. “Gue butuh waktu yang enggak bisa dibeli.”
Gunungsari menatapnya, lalu berkata pelan, “Kadang yang bisa kita lakukan cuma jaga perimeter kecil. Biar enggak semua jebol.”
Panji menoleh. “Perimeter kecil?”
Gunungsari mengangguk, menatap lorong. “Perimeter di kepala lo. Perimeter di keluarga lo. Perimeter di cara lo tetap jadi manusia.”
Kalimat itu seperti menampar lembut. Panji teringat sesuatu yang pernah ia baca—entah dari buku entah dari catatan orang lain: bahwa menjadi lelaki sering kali bukan tentang “menjadi baik” menurut dunia, melainkan tentang “menjadi berguna” ketika dunia sedang buruk.
Dan malam itu, Panji sadar: berguna bukan berarti tidak takut. Berguna berarti tetap hadir meski takut.
.
Operasi berjalan lama. Sekartaji berkali-kali menatap jam, lalu menatap lantai, lalu menatap pintu.
Ragil datang menyusul sekitar jam satu. Ia membawa roti tawar, air mineral, dan satu hal yang jarang dibawa orang ke rumah sakit: ketenangan.
“Gimana?” tanya Ragil.
Sekartaji menggeleng. “Belum keluar.”
Ragil duduk tanpa banyak bicara. Ia hanya membuka botol air, menaruhnya dekat Sekartaji, lalu berkata, “Minum dulu.”
Sekartaji menatapnya seperti orang yang baru ingat bahwa tubuh juga perlu dijaga, bukan hanya hati.
Kelana datang jam dua, membawa powerbank dan jaket. “Gue pikir kalian kedinginan,” katanya. Humor kecilnya menyelip di sela ketegangan. Tapi Sekartaji tersenyum tipis. Dan itu sudah cukup.
Panji memandang mereka bertiga. Ragil, Gunungsari, Kelana. Mereka bukan saudara sedarah. Tapi malam ini, mereka adalah “kelompok kecil” yang memegang perimeter Panji agar ia tidak runtuh seluruhnya.
Di kepala Panji, ada empat kata yang seperti kompas: kekuatan, keberanian, penguasaan, kehormatan. Dulu ia mengira itu slogan latihan fisik. Kini ia paham: empat hal itu bisa hidup dalam bentuk yang lebih sunyi.
-
Kekuatan: menahan diri agar tidak meledak.
-
Keberanian: tetap duduk di kursi tunggu, menghadapi kemungkinan terburuk.
-
Penguasaan: mengatur napas, mengatur keputusan, mengatur diri sendiri.
-
Kehormatan: tidak lari dari tanggung jawab ketika semua orang ingin lari.
Tepat jam tiga lewat, pintu ruang operasi terbuka.
Dokter keluar. Sekartaji berdiri begitu cepat sampai kursi plastiknya bergeser.
“Operasinya selesai,” kata dokter. “Kondisinya stabil, tapi masih kritis. Kita observasi ketat.”
Sekartaji menangis. Tangisnya bukan tangis lega sepenuhnya. Lebih seperti tangis manusia yang baru keluar dari lorong gelap dan belum yakin apakah cahaya itu betul-betul matahari.
Panji memeluk Sekartaji. Kali ini Sekartaji menangis lebih keras, seperti orang yang selama ini menahan terlalu lama.
Di belakang mereka, Ragil menunduk. Kelana menatap langit-langit. Gunungsari mengusap wajah, seolah ada debu yang masuk mata.
Malam itu, mereka tidak berkata banyak. Karena kadang, satu-satunya bahasa yang pantas untuk ketakutan yang besar adalah: diam yang hadir.
.
Pagi datang bukan membawa jawaban, tetapi membawa rutinitas. Panji pulang sebentar untuk mandi dan mengganti baju. Lalu ia kembali ke kantor karena rapat tidak mengenal belas kasihan.
Di lift gedung kantor, Panji menatap diri sendiri lagi. Bedanya: hari ini ia tidak merasa sedang memegang presentasi. Ia merasa sedang memegang hidup.
Di ruang rapat, klien sudah duduk. Kelana memulai presentasi dengan tenang. Ragil menyiapkan data. Gunungsari menatap Panji seolah berkata: Lo enggak sendirian.
Panji duduk, mendengarkan. Ada momen ketika klien bertanya sesuatu yang biasanya akan membuat Panji langsung mengambil alih. Tapi hari ini, ia membiarkan Kelana menjawab. Dan Kelana menjawab dengan baik.
Di situ Panji belajar: kepemimpinan bukan selalu menjadi orang paling keras. Kadang kepemimpinan adalah memberi ruang agar orang lain bertumbuh, karena perimeter tim juga harus dijaga—bukan hanya perimeter ego.
Setelah rapat, Panji menerima telepon dari Sekartaji. Suaranya lebih tenang.
“Ayah masih di ICU,” katanya. “Tapi stabil.”
“Gue ke sana habis ini,” kata Panji.
Sekartaji diam sebentar, lalu berkata, “Mas… aku baru sadar sesuatu.”
“Apa?”
“Selama ini aku pikir lelaki itu harus selalu kuat, selalu tahan, selalu enggak boleh rapuh. Tapi malam itu… aku lihat kamu takut, dan kamu tetap tinggal. Itu… itu rasanya lebih ‘kuat’ dari apa pun.”
Panji menelan napas. Ia ingin bilang: aku juga baru belajar.
“Gue masih belajar,” katanya. “Kuat itu… bukan enggak takut. Kuat itu… enggak ninggalin.”
Sekartaji menghela napas. “Makasih ya.”
Telepon ditutup. Panji berdiri di dekat jendela kantornya lagi. Di bawah, Jakarta bergerak. Mobil, manusia, rutinitas. Kota tidak berhenti hanya karena seseorang sedang diuji.
Tapi Panji tahu sekarang: di tengah kota yang tak pernah berhenti, manusia perlu membuat “perimeter” yang bisa ia jaga.
Perimeter bukan untuk memisahkan diri dari dunia. Perimeter untuk memastikan: ketika dunia menekan, kita masih punya tempat untuk berdiri sebagai diri sendiri.
.
Beberapa minggu setelah itu, ayah Sekartaji mulai membaik. Ada hari-hari ketika ICU terasa seperti kamar tunggu panjang, tapi ada juga hari ketika mereka bisa tertawa kecil karena ayah Sekartaji mengeluh makanan rumah sakit hambar.
Di suatu sore, Panji mengajak Sekartaji berjalan di taman kota yang baru direnovasi. Banyak keluarga kelas menengah atas jogging dengan baju olahraga mahal, banyak anak kecil bersepeda, banyak pasangan muda memegang kopi kekinian.
Sekartaji berkata, “Aku sering merasa kita hidup di gelembung.”
“Gelembung?”
“Iya. Hidup kita rapi: kerja, bisnis, investasi, sekolah bagus, makan di tempat bagus. Tapi begitu sakit datang… gelembung itu tipis sekali.”
Panji mengangguk. “Makanya orang perlu latihan. Bukan cuma latihan badan.”
Sekartaji menatapnya. “Latihan apa?”
Panji memandang sekeliling. “Latihan jadi manusia yang berguna. Buat keluarga. Buat orang-orang yang kita pilih jadi ‘kelompok kecil’ kita.”
Sekartaji tersenyum tipis. “Kelompok kecil?”
Panji menatapnya, lalu berkata dengan jujur, “Gue sadar… gue enggak bisa jadi laki-laki sendirian. Gue butuh orang-orang yang bisa gue percaya. Dan gue juga harus bisa dipercaya.”
Sekartaji meraih tangan Panji. “Berarti… kita juga harus jadi perimeter satu sama lain.”
Kalimat itu menembus Panji seperti sesuatu yang hangat. Ia merasa ada bagian dirinya yang dulu selalu kaku, sekarang mulai lentur.
Mereka berjalan pelan, melewati anak-anak yang tertawa, melewati orang-orang yang sibuk merekam video untuk media sosial. Di dunia yang menilai segalanya lewat tampilan, Panji merasa ada sesuatu yang lebih penting dari tampilan: ketahanan.
Ketahanan bukan konten. Ketahanan adalah proses yang sering tidak terlihat.
.
Malam berikutnya, Panji mengumpulkan Ragil, Gunungsari, dan Kelana di sebuah warung steak yang sederhana tapi selalu ramai. Mereka duduk di meja pojok. Tidak ada rapat. Tidak ada slide. Hanya makanan dan percakapan.
Panji mengangkat gelas air mineral. “Gue mau bilang makasih.”
Kelana tertawa kecil. “Ih, kok jadi mellow? Ini bukan annual meeting.”
Ragil menatap Panji. “Kenapa?”
Panji menarik napas. “Karena gue sadar… selama ini gue pikir gue harus tanggung semuanya sendiri. Padahal enggak. Kalian… waktu itu… kalian jaga gue.”
Gunungsari mengangguk pelan. “Itu normal. Kita tim.”
Panji menatap mereka satu per satu. “Gue juga pengin kita bikin sesuatu. Bukan cuma kerja.”
Kelana mengernyit. “Maksudnya?”
Panji meletakkan ponselnya di meja, membuka catatan. “Kita bikin program internal. Buat tim kita. Semacam… pelatihan ketahanan. Bukan motivasi kosong. Tapi praktikal. Mental, fisik, skill. Biar kalau hidup ngetok… kita enggak panik.”
Ragil mengangkat alis. “Kayak survival training?”
Panji tersenyum. “Survival… tapi di kota. Di dunia kerja. Di keluarga. Di diri sendiri.”
Kelana bersandar. “Gue setuju. Banyak orang kuat di LinkedIn, tapi rapuh di rumah.”
Gunungsari menatap Panji. “Lo baru sadar ya… perimeter itu harus dirawat?”
Panji mengangguk. “Iya.”
Mereka makan. Mereka tertawa. Dan di antara tawa itu, ada rasa yang lebih dalam: rasa bahwa menjadi “lelaki”—atau menjadi manusia dewasa—bukan soal tampil paling hebat, tapi soal membangun lingkaran yang saling menjaga.
Sebelum pulang, Ragil berkata, “Gue punya satu kalimat.”
“Apa?”
Ragil menatap Panji, lalu berkata, “Kalau lo mau dihormati, bukan karena jabatan, tapi karena lo bisa diandalkan… ya itu baru ‘kehormatan’.”
Panji menelan. Ia mengangguk pelan. Dalam kepalanya, empat kata itu kembali muncul—kekuatan, keberanian, penguasaan, kehormatan—tapi kini mereka tidak lagi terdengar seperti teori. Mereka terdengar seperti rumah.
Di rumah, Panji duduk di balkon apartemen. Sekartaji membuat teh. Angin malam Jakarta membawa suara jauh: sirene, motor, tawa.
Sekartaji duduk di sampingnya. “Mas, kamu capek?”
Panji menatap cangkir. “Capek. Tapi… beda.”
“Beda gimana?”
“Dulu capek karena ngejar. Sekarang capek karena menjaga.”
Sekartaji menatapnya lama. “Menjaga itu… capek yang mulia.”
Panji tersenyum tipis. Ia memandang langit kota yang tertutup polusi cahaya. Tidak ada bintang jelas. Tapi ada sesuatu yang tetap bisa dilihat: garis-garis gedung, jendela-jendela, kehidupan orang lain.
Panji berpikir tentang ayah Sekartaji yang masih belajar pulih. Tentang timnya. Tentang dirinya yang selama ini hidup sebagai “pria sukses” di mata publik, namun nyaris kehilangan kemampuan paling sederhana: hadir.
Ia menoleh ke Sekartaji. “Kalau suatu hari hidup kita goyang lagi…”
Sekartaji memotong, “Kita bikin perimeter lagi.”
Panji tertawa kecil. “Iya.”
Sekartaji menatapnya serius. “Mas, aku enggak butuh kamu jadi superhero. Aku butuh kamu jadi orang yang bisa diandalkan.”
Panji mengangguk. “Gue juga.”
Mereka duduk dalam diam. Dan diam itu terasa seperti sesuatu yang sudah lama hilang: damai.
Di balik semua itu, kota tetap bising. Dunia tetap menuntut. Namun malam itu Panji paham: ia tidak harus mengalahkan dunia. Ia hanya harus menjaga batas-batas yang membuatnya tetap manusia.
Perimeter.
Dan pada akhirnya, ia mengerti: yang paling sulit bukan membangun tembok dari luar. Yang paling sulit adalah membangun batas dari dalam—agar ego tidak merusak, agar takut tidak menguasai, agar cinta punya tempat untuk bertahan.
.
.
.
Lumajang, 5 Februari 2026
.
.
#CerpenKompas #SastraUrban #PerimeterHidup #KetahananDiri #KelasMenengahAtas #JakartaMalam #Reflektif #Emosional #Keluarga #PersahabatanDewasa #MenjadiBerguna #Leadership
.
.
Nilai reflektif & solutif
-
Perimeter hidup: batas sehat antara karier–keluarga–diri sendiri.
-
“Gang” modern: lingkaran kecil orang tepercaya yang saling menjaga.
-
Empat kebajikan taktis (diadaptasi dalam konteks urban): kekuatan menahan diri, keberanian hadir, penguasaan emosi/skill, kehormatan sebagai dapat-diandalkan.
-
Leadership dewasa: memberi ruang, membangun ketahanan tim, bukan memusatkan semuanya pada diri.