Istana di Bulan
“Cinta yang dewasa tidak selalu datang untuk menetap. Kadang ia datang untuk mengajar: cara pulang, cara melepaskan, dan cara tetap waras.”
.
Di kota yang tak pernah benar-benar tidur, orang-orang kelas menengah ke atas belajar menyebut lelah sebagai “kesibukan”, menyamarkan sepi sebagai “agenda”, dan menukar rindu dengan notifikasi.
Langit kota itu berlapis-lapis: neon mall, kaca gedung kantor, papan iklan skincare, sampai cahaya apartemen yang seperti akuarium—hangat dari jauh, dingin dari dekat. Dan di antara semuanya, ada satu hal yang tetap paling aneh: betapa mudahnya seseorang bisa merasa sendiri, meski hidupnya tampak penuh.
Arsa selalu tahu cara terlihat penuh.
Pagi-pagi ia sudah ada di mobil, kemeja rapi, parfum yang tak pernah salah takar, jam tangan yang memantulkan cahaya lampu merah. Ia bukan orang miskin, bukan juga kaya raya yang menyebut uang sebagai permainan. Ia berada di lapisan yang paling sibuk: cukup mampu untuk punya pilihan, cukup terikat untuk tak bisa sembarangan memilih.
Arsa mendiversifikasi hidupnya seperti orang menata portofolio: ia punya pekerjaan utama sebagai konsultan brand untuk beberapa perusahaan keluarga, mengajar kelas tamu di kampus swasta, dan diam-diam menjadi “penjaga” usaha kecil milik ibunya—kafe roti sourdough yang menolak mati meski diserbu coffee shop baru tiap bulan.
Ia juga punya hubungan sosial yang kelihatannya sehat: grup tenis, komunitas lari, circle alumni yang suka membahas investasi, dan obrolan panjang di lounge hotel tentang “masa depan yang harus dibangun.”
Namun, Arsa tahu—di tengah semua itu—ada ruang kosong yang tak pernah terisi. Ruang kosong itu seperti kamar hotel yang sudah dibersihkan: rapi, wangi, namun tetap terasa bukan rumah.
Sampai sebuah sore, saat ia menunggu klien di sebuah rooftop bar, ia bertemu perempuan yang membuat kota itu terasa seperti tiba-tiba menjadi langit lain.
Namanya Sekartaji.
Arsa mendengar nama itu dari pelayan yang memanggilnya, dan ia tertegun, seolah pernah membaca nama itu di naskah lama, di dongeng Jawa yang diwariskan orang tua tanpa pernah diminta. Tapi Sekartaji bukan dongeng. Ia nyata: gaun sederhana, rambut disanggul seadanya, dan mata yang memandang tanpa kebutuhan untuk mengesankan siapa pun.
Sekartaji datang bukan untuk pamer—ia datang untuk menepi.
Ia duduk sendirian, memesan teh hangat di tempat yang semua orang memesan cocktail mahal. Ia menulis sesuatu di buku kecil, lalu tertawa pelan pada kalimatnya sendiri, seperti orang yang sedang akrab dengan pikirannya.
Arsa mendekat tanpa rencana. Ia hanya merasa—aneh—seperti diseret sesuatu yang lembut, sesuatu yang tidak memaksa, tapi juga tidak memberi pilihan.
“Boleh saya duduk?” tanya Arsa.
Sekartaji menutup bukunya. “Boleh. Tapi saya bukan orang yang pandai ngobrol ringan.”
“Syukurlah,” Arsa tersenyum. “Saya lelah dengan ngobrol yang ringan.”
Mereka tertawa, dan tawa itu terasa… bersih.
Di kota itu, tawa bersih adalah barang langka. Sebab kebanyakan tawa lahir dari kebutuhan untuk tampak ramah, atau tanda setuju yang tidak sungguh-sungguh.
Sekartaji bekerja di dunia yang Arsa kenal namun jarang ia pahami: ia memimpin tim kecil yang mengembangkan program pembelajaran digital untuk anak-anak pekerja urban—anak supir, anak cleaning service, anak petugas parkir—yang hidupnya berdekatan dengan gedung-gedung mewah, tapi jauh dari pintunya.
“Banyak orang bicara pendidikan seperti talkshow,” kata Sekartaji. “Padahal pendidikan itu kerja sunyi. Hasilnya tidak langsung viral.”
Arsa mengangguk. “Saya dulu yakin semua masalah bisa diselesaikan dengan strategi.”
Sekartaji menatapnya. “Sekarang?”
Arsa ragu sejenak. “Sekarang saya curiga… beberapa masalah hanya bisa diselesaikan dengan keberanian untuk jujur.”
Itu kalimat pertama yang membuat Sekartaji memandang Arsa lebih lama.
Sejak pertemuan itu, sesuatu dalam hidup Arsa berpindah tempat.
Seolah ada lift tak kasatmata yang mengangkatnya keluar dari lantai rutinitas, lalu menaruhnya di tempat lain—tempat yang lebih ringan, lebih sunyi, lebih tinggi. Tempat yang, entah bagaimana, terasa seperti bulan.
Arsa tidak pernah berkata pada siapa pun bahwa ia merasa seperti sedang tinggal di bulan. Ia tahu kalimat itu terdengar seperti puisi murahan.
Tapi faktanya: Sekartaji membuat dunia jadi terasa asing sekaligus akrab. Dan yang paling mengganggu: Arsa mulai menikmati keasingan itu.
Mereka berjalan malam-malam setelah rapat Arsa selesai, melewati toko buku yang hampir tutup, membeli roti dari kafe kecil yang lampunya redup, lalu duduk di mobil tanpa musik—hanya membiarkan percakapan mengalir.
Sekartaji bercerita tentang anak-anak yang belajar lewat ponsel bekas, tentang ibu-ibu yang menyelipkan uang receh untuk beli kuota, tentang seorang anak yang berkata, “Kak, kalau aku pinter, aku bisa jadi orang yang nggak gampang dibohongi, kan?”
Arsa mendengar cerita-cerita itu seperti orang menatap cermin baru: wajahnya tetap sama, tapi pantulannya berbeda.
Dalam beberapa pekan, mereka mulai membangun sesuatu yang konyol tapi indah: istana pasir.
Bukan istana pasir di pantai, melainkan istana-istana kecil dari kebiasaan: nongkrong di tempat yang bukan gaya mereka, mencoba menu yang tidak instagramable, menertawakan hal-hal kecil seperti orang yang tidak sedang dikejar target.
Mereka bahkan membuat “ritual” baru: tiap bertemu, Sekartaji membawa kertas kecil berisi satu pertanyaan.
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan romantis biasa. Kadang justru menusuk.
-
“Hal apa yang kamu lakukan untuk orang lain, tapi diam-diam kamu benci karena merasa dieksploitasi?”
-
“Kapan terakhir kali kamu merasa bangga pada dirimu—tanpa menyebut uang dan pencapaian?”
-
“Kalau kamu berhenti bekerja besok, siapa kamu?”
Arsa awalnya tertawa, tapi perlahan ia sadar: Sekartaji sedang membangunkan sesuatu yang lama ia tidurkan.
Dan setiap kali ia pulang setelah bertemu Sekartaji, ia merasa seperti baru turun dari bulan—kakinya menyentuh aspal, tapi pikirannya masih melayang di tempat yang lebih terang.
Namun kota tidak pernah membiarkan orang lama-lama tinggal di bulan.
Kota itu punya tagihan, target, dan tuntutan yang berbunyi seperti alarm.
Tanggung jawab Arsa mulai menumpuk seperti email tak terbaca. Klien meminta revisi mendadak. Mahasiswa menunggu feedback. Kafe ibunya butuh keputusan cepat karena sewa naik. Bahkan komunitas lari pun menuntut kehadiran, karena absen dianggap “tidak komit.”
Sekartaji tidak protes. Ia hanya mengubah cara hadir.
“Kamu tetap bisa mencinta,” katanya suatu malam, “sambil menyelesaikan tanggung jawabmu. Tapi jangan lupa badanmu juga bagian dari tanggung jawab.”
Arsa mengernyit. “Maksudnya?”
“Gerak,” kata Sekartaji singkat. “Kalau harus urus hal kecil, jalan kaki. Kalau harus ambil sesuatu, naik tangga. Kamu sering mengurus semua orang, tapi tubuhmu kamu perlakukan seperti mesin sewaan.”
Arsa tertawa kecil. Lalu diam.
Karena itu benar.
Ia mulai mencoba: parkir sedikit lebih jauh, berjalan lebih banyak, menolak rapat yang tak penting, dan belajar mengatakan “tidak” tanpa merasa bersalah.
Anehnya, itu membuatnya lebih tenang.
Sementara hubungan mereka—yang semula seperti roket—mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih realistis: tidak selalu naik, tidak selalu puitis, tapi terasa dewasa.
Lalu datang sebuah malam ketika Sekartaji tampak berbeda.
Ia tidak membawa pertanyaan di kertas kecil. Ia tidak tertawa pada lelucon Arsa. Ia menatap jalan seperti orang sedang menghitung jarak.
Arsa bertanya, “Ada apa?”
Sekartaji menghela napas panjang, seolah menahan sesuatu di dada.
“Ada tawaran,” katanya.
Arsa menunggu.
“Program kami dapat pendanaan besar. Tapi syaratnya… pusat kegiatan dipindah. Ke luar kota. Bukan pindah sebentar.”
Arsa merasa ada sesuatu runtuh perlahan—seperti bangunan kaca retak tanpa suara.
“Berapa lama?” suaranya serak.
“Tak ada angka pasti,” jawab Sekartaji. “Bisa bertahun-tahun.”
Arsa menatapnya. “Kamu akan ambil?”
Sekartaji tidak langsung menjawab. Ia menunduk, memutar cangkir teh yang sudah dingin. “Aku mencintaimu,” katanya pelan. “Tapi aku juga mencintai hidupku. Dan selama ini… hidupku adalah anak-anak itu.”
Kalimat itu bukan ancaman. Bukan drama. Itu kenyataan.
Arsa ingin mengatakan: tinggallah, kita bisa cari cara, aku bisa bantu, kita bisa…
Tapi kalimat-kalimat itu terdengar egois di kepalanya, seperti orang kaya yang mengira semua bisa diselesaikan dengan fasilitas.
Arsa menelan ludah. “Kalau aku minta kamu tetap… aku jadi siapa?”
Sekartaji mengangkat wajah. Matanya basah, tapi tegak. “Kamu jadi Arsa yang dulu. Yang selalu punya strategi, tapi lupa bahwa cinta itu bukan strategi.”
Malam itu, Arsa pulang seperti orang kehilangan gravitasi.
Ia menatap langit dari balkon apartemen. Lampu kota terlihat seperti bintang palsu. Ia membayangkan bulan yang tadi mereka tinggali—yang ternyata bukan tempat tinggal, melainkan tempat singgah.
Istana pasir mereka… rapuh.
Tapi bukankah semua istana pasir memang diciptakan untuk hancur?
Hari-hari berikutnya, Arsa menjalani hidup seperti biasa, tapi ada retakan halus yang menyelinap ke mana-mana.
Di rapat, ia terdengar normal. Di kelas, ia tetap memberi materi. Di kafe ibunya, ia tetap menyelesaikan masalah.
Namun di sela-sela, ada sunyi yang membesar.
Sekartaji sibuk menyiapkan perpindahan. Mereka masih bertemu, tapi ritmenya berubah. Tidak ada lagi ritual pertanyaan. Tidak ada lagi tawa panjang. Seperti dua orang yang sedang menyiapkan perpisahan tanpa berani menyebutnya.
Sampai suatu malam, Sekartaji mengajak Arsa pergi ke tempat yang tidak pernah mereka datangi: taman kecil di tengah kota—taman yang sering dilewati, tapi jarang disinggahi orang “kelas menengah ke atas” karena dianggap tidak relevan.
Mereka duduk di bangku kayu yang catnya mengelupas.
Sekartaji membuka tasnya, mengeluarkan sebuah kertas kecil terakhir.
Ia menyerahkannya pada Arsa.
Arsa membaca pelan:
“Apa yang ingin kamu lepaskan agar kamu bisa menjadi lebih utuh?”
Arsa tertawa pahit. “Pertanyaan yang kejam.”
Sekartaji mengusap matanya. “Aku juga harus menjawab.”
Arsa menatapnya. “Jawabanmu?”
Sekartaji menelan napas. “Aku harus melepas ilusi bahwa cinta yang baik selalu berarti tinggal.”
Arsa menutup mata sebentar. “Aku harus melepas… kebiasaan mengukur nilai diriku dari siapa yang memilih bertahan.”
Mereka diam lama. Di taman itu, suara kota terdengar seperti jauh: motor, klakson, tawa, musik dari warung.
Sekartaji berkata pelan, “Aku tidak ingin kita berpisah dengan cara yang buruk. Aku ingin kita mengakhirinya… gracefully.”
Arsa menatapnya—dan saat itu, ia sadar: cinta tidak selalu berakhir karena kurang cinta. Kadang justru karena terlalu banyak hal yang harus dicintai.
Arsa mengangguk. “Kita akhiri dengan hormat,” katanya. “Tanpa saling menyalahkan.”
Sekartaji tersenyum, tapi air mata jatuh juga. “Kamu tahu,” katanya lirih, “kisah-kisah lama sering mengajarkan bahwa perempuan harus menunggu dan laki-laki harus mengejar. Tapi hidup modern… kadang membuat kita sama-sama harus pergi.”
Arsa memejamkan mata, menahan sesuatu yang menggumpal di dadanya. “Kalau begitu, biar aku jadi orang yang tidak menghalangi.”
Sekartaji menggenggam tangan Arsa erat, seperti menyimpan memori terakhir. “Terima kasih,” katanya.
Dan malam itu, Arsa akhirnya mengerti: beberapa cinta datang bukan untuk dimiliki, melainkan untuk membentuk.
Sekartaji pergi beberapa waktu setelah itu. Tidak ada adegan bandara yang dramatis. Tidak ada pelukan panjang di depan banyak orang. Mereka memilih cara yang paling sunyi: pesan terakhir yang sederhana, lalu jarak yang dipelihara dengan hormat.
Arsa mengira ia akan hancur.
Ternyata ia hanya berubah.
Ia mulai melakukan hal-hal kecil yang dulu ia anggap sepele: berjalan kaki lebih sering, menolak agenda yang tidak sehat, memberi waktu pada ibunya tanpa merasa “tidak produktif,” dan—yang paling sulit—membiarkan kesepian duduk di sampingnya tanpa buru-buru diusir.
Di kafe ibunya, Arsa membuat program kecil: kelas weekend gratis untuk anak-anak sekitar—tentang komunikasi, menulis, dan cara menyusun CV. Ia tidak mempublikasikannya sebagai pencitraan. Ia hanya melakukannya.
Suatu kali, seorang anak bertanya, “Mas, kenapa bantuin kita?”
Arsa terdiam lama, lalu menjawab, “Karena ada seseorang yang pernah mengajarkanku… bahwa hidup yang baik bukan soal terlihat tinggi, tapi soal membuat orang lain bisa naik.”
Malam-malam tertentu, Arsa masih menatap langit. Kadang ia tersenyum sendiri, mengingat istana pasir dari debu bulan. Ia tahu—istana itu sudah lama runtuh.
Tapi bekasnya tetap ada: bukan di tanah, melainkan di cara ia memandang hidup.
Arsa akhirnya percaya pada satu hal:
Cinta yang dewasa tidak selalu menetap.
Tapi ia selalu meninggalkan seseorang yang lebih utuh.
Dan di kota yang sibuk itu, Arsa berjalan—lebih pelan, lebih sadar—dengan dada yang pernah pecah, lalu disusun ulang menjadi lebih manusia.
Karena pada akhirnya, yang paling indah dari cinta bukanlah “memiliki.”
Melainkan: menjadi lebih baik setelah kehilangan.
.
.
.
Malang, 6 Maret 2026
.
#CerpenKompasMinggu #CerpenSastra #CintaDewasa #KehidupanUrban #KelasMenengah #KarierDanBisnis #RefleksiHidup #PerpisahanElegan #Mentorship #CeritaIndonesia