Di Antara Gedung dan Kesunyian yang Berpikir

“Negeri ini tidak runtuh oleh orang jahat,
melainkan oleh orang baik yang terlalu lama memilih aman.”

.

Pagi kota selalu punya cara menyamar sebagai kewajaran.
Di bawah apartemen Jayeng, orang-orang menyeberang dengan langkah cepat, seolah hidup bisa selesai jika mereka berjalan lebih cepat daripada pikiran mereka sendiri. Ojek daring berhenti sebentar lalu melesat. Bus kota mengerang. Pedagang kopi dari gerobak kecil meniup napas ke telapak tangan, menahan dingin yang tidak pernah benar-benar dingin—lebih mirip dingin yang berasal dari rasa tidak pernah cukup.

Jayeng melihat semua itu dari balik kaca. Ada garis samar di keningnya, garis orang yang sudah terlalu lama memaksa diri “baik-baik saja.” Ponselnya bergetar: notifikasi rapat, pesan grup, tautan berita yang menempelkan fotonya pada judul yang menggoda: “Analis Muda Penghambat Transformasi?”

Ia menatap judul itu sebentar. Lalu mengunci layar.

Di ruang apartemen, sunyi terasa lebih jujur daripada percakapan kantor. Meja kecil dekat jendela memuat buku-buku yang tidak populer: catatan pengasingan, lembaran arsip, tulisan-tulisan lama yang memaksa pembaca mengerti bahwa sejarah bukan sekadar tanggal, tapi luka yang diwariskan.

Jayeng menyesap kopi pahit tanpa gula.
Ia pernah mencoba menambahkan gula, beberapa bulan lalu—untuk menipu lidah bahwa hidup masih bisa “disederhanakan.” Tapi gula hanya membuat pahitnya lebih terasa di belakang.

Di sisi meja, tergeletak amplop berlogo institusi. Amplop itu belum dibuka. Jayeng tahu isinya: bahasa formal, kalimat rapi, ancaman yang sopan. Ancaman yang paling berbahaya, karena ia tidak bisa dilaporkan.

Ia memandang kota lagi. Jalan layang melingkar seperti pikiran yang tidak selesai.
Dan ia sadar: ia sudah terlalu lama hidup di antara gedung dan kesunyian yang berpikir.

.

Pertanyaan yang Terlalu Tenang

Rapat berikutnya lebih ramai. Lebih banyak orang. Lebih banyak pemilik jabatan. Lebih banyak yang datang bukan untuk berdiskusi, tapi untuk mencatat siapa yang sejalan dan siapa yang berbahaya.

Jayeng masuk dengan kemeja sederhana. Tidak mencolok. Tidak menantang. Ia duduk di baris tengah—posisi aman bagi orang yang ingin tak terlihat. Tapi ia tahu, sejak pertanyaan pertamanya, ia sudah terlihat.

Wiratma berdiri seperti pembawa acara. Ia punya kemampuan berbicara yang membuat ketidakadilan terdengar seperti “kebijakan.” Di sampingnya, Ratna memegang tablet, wajahnya serius tapi seperti menahan sesuatu. Sukma duduk tegak, tangan terlipat, ekspresi “kita harus kompak.” Sekar menatap meja terlalu lama, seolah meja itu punya jawaban.

“Kita sudah evaluasi,” ujar Wiratma. “Kita akan perlu dukungan penuh. Narasi harus satu. Publik harus percaya.”

“Publik,” gumam Jayeng dalam hati. Kata itu sering digunakan seperti payung besar, padahal di bawah payung itu, banyak kepala tidak pernah kebagian kering.

Slide berganti: “Skema Pembiayaan Partisipatif.”
Ada angka yang dipoles, ada kata-kata yang dipernis.

Jayeng mengangkat tangan—kali ini tidak terburu-buru. Ia menunggu jeda, memilih momen yang paling sopan untuk mengguncang.

“Mas Jayeng,” kata moderator internal, “silakan.”

Jayeng berdiri pelan, seperti orang yang tidak ingin mengganggu, tapi juga tidak ingin mengalah.

“Saya ingin memastikan,” katanya, “kalau program ini disebut untuk semua, maka semua punya akses yang sama.”

Wiratma tersenyum. “Tentu. Itu tujuan kita.”

Jayeng mengangguk. “Berarti, kalau ada yang tidak bisa bayar biaya komitmen, kita punya mekanisme subsidi?”

Sukma cepat menyela, “Kita ada opsi cicilan.”

Jayeng menatapnya. “Cicilan bagi keluarga yang sudah cicil hidup? Cicilan bagi orang yang bahkan untuk makan saja kadang harus memilih?”

Ada yang berdehem. Ada yang tersenyum kecut. Ada yang menatap jam tangannya, seolah waktu lebih penting daripada manusia.

Wiratma menahan napas. “Jayeng, kita nggak bisa menyenangkan semua pihak.”

Jayeng menoleh. “Tapi kita bisa memilih siapa yang kita korbankan.”

Kalimat itu jatuh, tidak keras, tapi tepat. Seperti sendok logam jatuh ke lantai keramik: bunyinya tidak panjang, tapi semua menoleh.

Ratna menutup matanya sepersekian detik. Sekar menarik napas. Sukma menegakkan dagu.

Wiratma tersenyum lagi—senyum yang rapi, tapi menyimpan iritasi. “Kita lanjut.”

Jayeng duduk kembali. Ia tahu, ia baru saja menjadi titik merah pada peta orang-orang yang ingin segala hal tetap hijau.

Seusai rapat, di koridor, Sekar mendekat dengan langkah ragu.

“Kamu sadar nggak,” bisiknya, “kamu bikin Wiratma kehilangan muka?”

Jayeng menatapnya. “Aku nggak niat bikin siapa pun kehilangan muka.”

Sekar menelan ludah. “Di tempat ini, Jay… muka itu lebih penting dari murid.”

Jayeng menatap koridor panjang itu. Lampu putih. Dinding bersih. Udara dingin.
Ia bertanya pada dirinya sendiri: kalau bersih berarti benar, kenapa aku merasa ini kotor?

.

Orang Baik yang Memilih Aman

Tokoh baru muncul dalam hidup Jayeng: Bagas.

Bagas senior di institusi, dikenal “bijaksana.” Semua orang memanggilnya Mas Bagas dengan nada hormat. Ia selalu punya kalimat penutup yang menenangkan: “Kita cari jalan tengah ya.” Ia bukan orang jahat. Justru itu masalahnya—Bagas adalah contoh sempurna orang baik yang terlalu lama memilih aman.

Mereka bertemu di pantry kantor. Bagas menuang air panas ke gelas teh, menatap Jayeng dengan mata yang seperti paham tapi juga seperti minta Jayeng berhenti.

“Kamu pintar,” kata Bagas. “Dan kamu benar, dalam banyak hal.”

Jayeng tersenyum tipis. “Tapi?”

Bagas tertawa kecil, lelah. “Tapi kamu belum lama di sini. Kamu belum punya banyak yang dipertaruhkan.”

Jayeng menatapnya. “Mas Bagas punya apa yang dipertaruhkan?”

Bagas diam sebentar, lalu berkata pelan, “Anak. Kesehatan orang tua. Rumah yang masih KPR. Tim yang harus aku lindungi. Kalau aku jatuh, bukan cuma aku.”

Jayeng mengangguk. Ia mengerti. Ia benar-benar mengerti. Dan itu yang membuatnya makin sakit: memahami alasan orang-orang baik diam, tapi juga melihat akibatnya.

Bagas menepuk bahu Jayeng. “Jay, kamu boleh kritis. Tapi jangan frontal. Jangan bikin orang merasa kamu lawan.”

Jayeng menatap tangan Bagas di bahunya—tangan hangat, niatnya baik.

“Mas,” kata Jayeng pelan, “kalau kita terus takut bikin orang merasa ‘dilawan’, kapan orang kuatnya merasa ‘dikoreksi’?”

Bagas menarik napas panjang, seolah mengeluarkan sesuatu yang selama ini tersimpan di dada.

“Kamu itu… idealis.”

Jayeng menggeleng. “Aku cuma takut jadi kamu.”

Kalimat itu keluar tanpa rencana. Dan seketika, Jayeng menyesal—bukan karena ia tidak yakin, tapi karena ia tahu, kalimat itu bisa melukai orang yang sebenarnya tidak ingin ia lukai.

Bagas tersenyum pahit. “Mungkin nanti, kamu akan mengerti.”

Jayeng tidak menjawab. Ia berharap tidak.

.

Ibu, Malang, dan Harga Tenang

Malam itu, ibunya menelepon lagi. Suara ibu tidak berubah, tapi Jayeng merasa ada kerut baru di dalamnya.

“Nak,” kata ibu, “ibu dengar kamu dibicarakan orang.”

Jayeng menutup mata. “Ibu dengar dari siapa?”

“Dari mana-mana,” jawab ibu. “Dari WA keluarga. Dari tetangga. Mereka bilang kamu bikin masalah.”

Jayeng tertawa pelan, tapi tidak lucu. “Masalahnya apa, Bu?”

Ibu diam. Lalu berkata, “Mereka bilang kamu melawan orang besar.”

Jayeng memandang langit dari jendela. Tidak ada bintang. Kota terlalu terang untuk mengizinkan bintang terlihat.

“Bu,” kata Jayeng, “aku nggak melawan orang besar. Aku cuma… nggak mau orang kecil diinjak.”

Ibu menghela napas, panjang. “Nak, hidup itu bukan cuma benar atau salah. Ada aman.”

Jayeng menelan sesuatu di tenggorokan. Kalimat itu seperti warisan dari ayahnya: yang penting aman. Dan ia tahu, kalimat itu tidak lahir dari kebodohan. Ia lahir dari trauma generasi yang terlalu sering melihat orang jujur jatuh.

“Bu,” kata Jayeng, suaranya lembut, “kadang aman itu bukan tempat. Aman itu posisi.”

Ibu bingung. “Maksudmu?”

“Aman itu… kita berdiri di sisi yang tidak bikin kita dimusuhi. Tapi kadang, berdiri di sisi itu berarti kita membiarkan yang lain jatuh.”

Ibu terdiam lama. Lalu suaranya bergetar, “Ibu cuma nggak mau kamu sendirian.”

Jayeng menahan napas. “Bu… aku juga nggak mau.”

Dan untuk pertama kalinya, Jayeng merasa takut bukan karena ancaman surat, bukan karena narasi kantor. Tapi karena kalimat ibunya: sendirian.

.

Tulisan yang Tidak Memaki, Tapi Menusuk

Jayeng menulis lagi.
Ia tidak menulis sebagai aktivis. Ia menulis sebagai saksi. Ia tidak mengangkat bendera. Ia mengangkat cermin.

Tulisan itu berisi potongan kisah:
tentang anak yang mendaftar tapi batal karena uangnya habis untuk bayar listrik,
tentang guru yang memilih diam karena takut honornya diputus,
tentang “program unggulan” yang unggulnya hanya untuk yang sudah punya modal.

Ia tidak menyebut nama Wiratma. Ia tidak menyebut institusi. Ia hanya menyebut pola. Dan pola jauh lebih menakutkan bagi sistem, karena pola membuat orang bisa menebak siapa pelakunya tanpa harus disebut.

Tulisan itu viral.

Malamnya, Wiratma mengirim pesan:

Kamu keterlaluan. Kamu paham konsekuensinya?

Jayeng menatap layar lama. Ia menulis balasan:

Saya paham. Tapi saya lebih paham konsekuensi diam.

Ia tidak mengirim. Ia menghapus.
Bukan karena takut, tapi karena ia tahu: dalam perang narasi, setiap kalimat bisa dipelintir. Dan ia sedang bertarung melawan mesin yang lebih besar dari dirinya.

Ia menaruh ponsel, memijit kening, lalu tertawa kecil sendirian.
Tertawa orang yang sadar: ia tidak punya senjata, kecuali ketekunan.

.

Sekar dan Cicilan yang Mengikat Leher

Sekar datang ke kafe yang sama. Duduk dengan wajah yang seperti tidak tidur.

“Aku ditekan,” kata Sekar tanpa pembuka. “Mereka suruh aku tanda tangan dukungan.”

Jayeng mengangguk. “Kamu mau?”

Sekar memegang cangkir, matanya basah tapi ia menahan. “Aku takut.”

Jayeng menatapnya lama. “Takut apa?”

Sekar tertawa hambar. “Takut kehilangan semuanya.”

Jayeng mengangguk. “Kamu takut miskin.”

Sekar menatap Jayeng. “Bukan cuma miskin. Takut… nggak punya wajah. Nggak punya harga. Nggak punya tempat.”

Jayeng memahami itu. Di kota, kehilangan pekerjaan bukan hanya soal uang. Itu soal identitas. Orang ditanya “kerja di mana” seperti ditanya “kamu siapa.”

Sekar menunduk. “Aku iri sama kamu.”

Jayeng tersenyum pahit. “Jangan iri. Aku juga takut.”

Sekar menatapnya cepat. “Kamu takut apa?”

Jayeng diam. Lalu menjawab jujur, “Takut suatu hari aku bangun, dan aku nggak kenal diriku sendiri.”

Sekar menggigit bibir. “Kadang aku merasa… kita ini hidup di negara yang memaksa orang baik jadi pengecut.”

Jayeng menatapnya. “Atau memaksa orang baik jadi penonton.”

Kalimat itu membuat Sekar menarik napas panjang, seolah baru sadar ia selama ini duduk di tribun.

Sekar berbisik, “Aku nggak sanggup jadi kamu.”

Jayeng mengangguk, “Aku nggak minta kamu jadi aku.”

Sekar menatapnya, mata merah. “Terus kamu minta apa?”

Jayeng menjawab pelan, “Jangan jadi mereka.”

.

Forum Klarifikasi: Saat Kebenaran Disuruh Minta Maaf

Forum klarifikasi diadakan lagi—kali ini lebih besar, lebih resmi, lebih teatrikal. Ada kamera, ada moderator, ada panelis yang sudah disusun seperti dekor panggung.

Jayeng duduk di kursi yang disediakan, kursi yang tampak setara tapi sebenarnya posisi terpojok.

Moderator membuka dengan senyum televisi. “Mas Jayeng, banyak yang menilai Anda menghambat kemajuan. Mengapa Anda tidak mendukung program yang jelas-jelas baik?”

Jayeng menatap kamera. Ia merasa seperti sedang diuji, bukan didengar.

“Aku mendukung pendidikan,” kata Jayeng. “Tapi aku tidak mendukung cara yang membuat pendidikan jadi pintu yang hanya bisa dibuka oleh yang mampu.”

Panelis tertawa kecil. “Mas Jayeng terlalu dramatis.”

Jayeng menoleh, tenang. “Yang dramatis itu kenyataan di lapangan, Pak. Saya cuma menuliskannya.”

Moderator mencoba menekan, “Tapi Anda harus ingat, komunikasi Anda bisa memicu ketidakpercayaan publik.”

Jayeng mengangguk. “Ketidakpercayaan publik tidak muncul dari tulisan saya. Ketidakpercayaan publik muncul dari pengalaman mereka.”

Ada jeda. Panelis tampak ingin menyela, tapi Jayeng lanjut, suaranya tetap pelan—dan itu yang membuatnya mengganggu.

“Ketika semua orang diminta percaya,” kata Jayeng, “dan yang bertanya dianggap musuh… itu bukan lagi kemajuan. Itu penyeragaman.”

Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada drama. Tapi Jayeng melihat sesuatu di mata beberapa orang di ruangan itu—sekelebat rasa malu. Dan rasa malu adalah awal yang sunyi dari perubahan.

.

Menyempit, Tapi Lebih Jernih

Setelah itu, hidup Jayeng benar-benar menyempit.

Undangan kerja hilang. Proyek batal. Beberapa teman menghindar. Bahkan orang yang dulu memuji “rasionalitas” Jayeng, sekarang menyebutnya “tidak bisa diajak kerja sama.”

Jayeng belajar: di negeri ini, orang baik sering dianggap baik selama ia tidak mengganggu kenyamanan orang kuat.

Namun di tengah penyempitan itu, ia mendapatkan ruang yang tidak pernah ia miliki sebelumnya: ruang untuk bernapas sebagai dirinya sendiri.

Ia membuka kelas kecil di bangunan tua. Tidak ada pendingin ruangan yang mewah. Tidak ada meja rapat kaca. Hanya kursi plastik, papan tulis, dan orang-orang yang datang membawa kegelisahan mereka.

Di sana, Jayeng bertemu tokoh baru: Nala—seorang guru honorer yang datang dengan tas kain lusuh dan mata yang keras kepala.

“Mas,” kata Nala pada pertemuan pertama, “saya nggak punya waktu untuk teori. Saya butuh cara bertahan.”

Jayeng tersenyum. “Aku nggak akan kasih teori kosong. Aku cuma akan bantu kamu menyusun kata.”

Nala menatapnya, curiga. “Kata bisa bikin saya tetap hidup?”

Jayeng mengangguk. “Kata bisa bikin kamu tidak mati sebelum mati.”

Nala menunduk. Seolah kalimat itu menyentuh sesuatu yang selama ini ia simpan.

Di akhir kelas, Nala menghampiri Jayeng. “Mas… kenapa Mas masih mau repot?”

Jayeng menjawab pelan, “Karena kalau kita berhenti repot, kita akan terbiasa membiarkan.”

Nala mengangguk. “Saya kira orang kayak Mas cuma ada di buku.”

Jayeng tersenyum pahit. “Aku juga kadang berharap aku cuma ada di buku.”

.

Pesan yang Membuatnya Tidak Menyesal

Suatu malam, pesan dari mahasiswa yang hampir putus kuliah kembali masuk—kali ini lebih panjang.

Mas, saya dulu pikir saya bodoh karena saya miskin. Saya pikir saya nggak pantas di kampus. Tapi tulisan Mas bikin saya sadar: sistem memang sering bikin orang miskin merasa salah. Terima kasih, Mas. Saya nggak berani bilang ini ke siapa-siapa. Tapi saya ingin Mas tahu: saya jadi berani bertahan.

Jayeng membaca pelan.
Ia menutup mata.
Ada sesuatu yang hangat di dada, bukan kebahagiaan yang meledak-ledak, tapi rasa cukup yang diam-diam menahan air mata.

Ia sadar: ia mungkin tidak mengubah sistem.
Tapi ia mengubah arah satu manusia—agar tidak jatuh.

Dan kadang, itu saja sudah seperti menyelamatkan satu kamar dari kebatakan.

.

Pagi kembali datang. Kota tetap bergerak. Sistem belum berubah. Jayeng tahu, mungkin tidak akan segera.

Ia berdiri di dekat jendela, menatap jalan layang yang sama.

Di luar, orang-orang masih bergegas membawa tas, rencana, dan kecemasan masing-masing. Di dalam, Jayeng membawa sesuatu yang tidak bisa dimasukkan ke tas: pilihan untuk tidak membungkam nurani.

Ia tahu, ia tidak punya jaminan.
Ia tidak punya pelindung.
Ia tidak punya panggung yang aman.

Tapi ia punya satu hal—dan itu satu-satunya hal yang membuatnya tidak runtuh:
ia tidak menukar pikirannya dengan rasa aman.

Karena negeri ini tidak selalu diselamatkan oleh kemenangan besar,
melainkan oleh orang-orang kecil yang menolak menyerah pada diam.

Dan diam… ketika dipilih terlalu lama oleh orang baik,
pelan-pelan akan menjadi puing yang paling rapi.

.

Ruang Tanpa Kamera

Undangan itu datang tanpa kop surat. Tanpa agenda tertulis. Tanpa senyum.

“Mas Jayeng, mohon hadir besok jam sepuluh. Ruang kecil. Internal.”

Kalimatnya singkat, seperti pesan orang yang tidak ingin meninggalkan jejak.

Jayeng datang lebih awal. Ruang itu berada di lantai yang jarang dipakai—tidak ada kaca besar, tidak ada panorama kota. Hanya dinding krem, meja oval, dan kursi yang terlalu dekat satu sama lain. Di ruangan ini, kata transparansi tidak punya tempat.

Wiratma duduk di ujung meja. Di sampingnya Bagas. Ratna. Sukma. Tidak ada moderator. Tidak ada kamera. Tidak ada publik.

Hanya kebenaran yang akan diuji apakah layak hidup atau harus dipermalukan.

“Jayeng,” kata Wiratma, tanpa basa-basi, “kita sudah cukup sabar.”

Jayeng duduk. Tangannya diletakkan di pangkuan. Punggungnya tegak, tapi dadanya terasa berat.

“Kamu pintar,” lanjut Wiratma. “Dan kamu tahu apa yang kamu lakukan.”

Jayeng mengangguk. “Saya tahu apa yang saya tulis.”

“Bukan itu,” kata Sukma cepat. “Kamu tahu dampaknya.”

Jayeng menatap Sukma. “Saya tahu dampaknya pada orang-orang yang selama ini tidak pernah ditanya.”

Ratna menyela, suaranya lelah. “Jayeng, kamu harus paham. Institusi ini bukan milik perasaan.”

Jayeng tersenyum kecil. “Tapi dampaknya selalu dirasakan manusia.”

Bagas mengangkat tangan, mencoba meredam. “Jay… kita tidak ingin mematikan suaramu. Kita hanya ingin… kamu lebih bijak.”

Jayeng menoleh ke Bagas. “Bijak seperti apa, Mas?”

Bagas terdiam.

Wiratma mencondongkan tubuh. Suaranya tetap tenang, tapi nadanya mengeras.
“Kami minta kamu buat klarifikasi. Pernyataan maaf. Singkat. Umum. Tidak perlu menyebut siapa-siapa. Cukup bilang kamu terlalu emosional dan tulisanmu disalahpahami.”

Jayeng merasakan sesuatu mengencang di dadanya. Bukan marah. Bukan takut. Tapi rasa pahit yang sulit dijelaskan—seperti menelan sesuatu yang tahu-tahu kita alergi.

“Saya tidak emosional,” kata Jayeng pelan. “Saya berhitung.”

Wiratma tersenyum tipis. “Kamu mau mempertaruhkan semuanya untuk idealismemu?”

Jayeng terdiam. Kata semuanya bergaung. Pekerjaan. Reputasi. Akses. Masa depan.

Ratna menatap Jayeng lama. Matanya berkabut. “Jayeng… kadang kita harus mengalah supaya bisa bertahan.”

Jayeng menatap Ratna. “Bertahan sebagai apa?”

Sukma menghela napas kesal. “Kamu keras kepala.”

Jayeng menggeleng. “Saya hanya tidak mau berbohong.”

Wiratma mengetuk meja pelan. Tok. Tok.
“Kalau kamu tidak mau minta maaf,” katanya, “kami tidak bisa menjamin posisimu.”

Jayeng mengangguk. Ia sudah menduga.

“Baik,” katanya.

Ruangan sedikit lega. Bagas mencondongkan badan, berharap.

Jayeng melanjutkan, suaranya datar tapi jelas:
“Kalau yang dimaksud minta maaf adalah mengakui saya salah bertanya—saya tidak bisa. Tapi kalau yang dimaksud minta maaf karena tulisan saya membuat orang tidak nyaman… mungkin memang kebenaran sering begitu.”

Ruangan membeku.

Wiratma berdiri. “Pertemuan selesai.”

Jayeng berdiri juga. Ia membungkuk sopan—kebiasaan yang tersisa dari didikan rumah.

Saat ia berjalan keluar, Bagas menyusul.

“Jay,” bisik Bagas, wajahnya penuh konflik, “kamu sadar kan… setelah ini kamu sendirian?”

Jayeng berhenti sejenak. Tidak menoleh.

“Mas,” katanya pelan, “saya sudah sendirian sejak pertama kali saya bertanya.”

Ia melangkah pergi.

.

Malang: Rumah dan Warisan Takut

Jayeng pulang ke Malang dua hari kemudian. Kereta melaju dengan ritme yang lebih manusiawi daripada kota. Sawah terbentang. Rumah-rumah kecil. Warung kopi yang tidak tahu apa itu transformasi, tapi tahu rasanya lapar.

Ibunya menyambut di teras. Rambut ibu semakin putih. Senyumnya masih sama—senyum yang selalu mencoba menenangkan dunia.

“Kamu kurusan,” kata ibu.

Jayeng tersenyum. “Kota bikin lupa makan.”

Ibu tidak bertanya banyak. Ia tahu, beberapa hal tidak butuh pertanyaan.

Malamnya, mereka duduk di ruang tamu. Televisi menyala tanpa ditonton. Ayah sudah lama meninggal, tapi bayangannya masih tinggal di kursi sudut—kursi tempat ayah dulu duduk sambil menghela napas dan berkata: yang penting aman.

Ibu menuangkan teh. Tangannya sedikit gemetar.

“Kamu bikin ibu takut,” kata ibu akhirnya.

Jayeng menatap cangkir. “Takut apa, Bu?”

“Takut kamu jatuh,” jawab ibu. “Takut kamu capek sendirian.”

Jayeng mengangguk. “Aku juga takut.”

Ibu menatapnya kaget. “Kamu takut tapi tetap maju?”

Jayeng tersenyum kecil. “Iya.”

“Kenapa?”

Jayeng menatap ibunya—wajah yang mengajarinya jujur, tapi juga mengajarinya bertahan.

“Karena aku takut suatu hari,” katanya pelan, “aku jadi orang yang selalu bilang ke anaknya: ‘yang penting aman’, tanpa pernah bertanya… aman untuk siapa.”

Ibu terdiam. Air matanya jatuh tanpa suara.

“Ayahmu,” kata ibu lirih, “dulu sering bilang… dia tahu ada yang salah, tapi dia capek.”

Jayeng mengangguk. “Aku tahu.”

Mereka duduk lama dalam sunyi. Tidak ada nasihat. Tidak ada solusi. Hanya dua generasi yang akhirnya jujur tentang satu hal: takut bisa diwariskan, kalau tidak disadari.

Ibu menggenggam tangan Jayeng.
“Kalau kamu jatuh,” katanya, “pulanglah.”

Jayeng menggenggam balik. “Aku akan pulang, Bu. Tapi aku nggak mau jatuh sambil berbohong.”

.

Jalan Layang, Malam, dan Mesin Kota

Kembali ke kota, Jayeng keluar malam itu tanpa tujuan jelas. Ia berjalan sampai ke bawah jalan layang—tempat mobil-mobil melintas tanpa saling mengenal. Suara mesin mengaum seperti napas raksasa yang tidak pernah tidur.

Di bawah lampu jalan, Jayeng berdiri. Angin membawa debu dan bau bensin. Kota terasa seperti mesin besar yang tidak peduli siapa yang terlindas, selama ia tetap bergerak.

Ia teringat Bagas. Ratna. Sekar. Nala. Mahasiswa itu. Ibunya.
Orang-orang baik, dengan pilihan yang berbeda.

Jayeng bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah aku benar? Atau aku hanya keras kepala?

Ia memejamkan mata.
Dan ia sadar: pertanyaan itu tidak akan pernah punya jawaban yang rapi. Tapi ia tahu satu hal—ia tidak sedang bermain peran. Ia tidak sedang mengejar citra. Ia hanya sedang mencoba tidak mengkhianati sesuatu yang sunyi di dalam dada.

Sebuah mobil melintas cepat. Cahaya lampunya menyapu wajah Jayeng sesaat, lalu pergi. Seperti banyak orang yang lewat dalam hidup: menyinari sebentar, lalu hilang.

Jayeng menarik napas panjang.
Di kota yang memuja aman, ia memilih tidak sepenuhnya aman.

Bukan karena ia berani.
Tapi karena ia tidak ingin mati pelan-pelan.

.

Yang Tersisa

Beberapa bulan kemudian, nama Jayeng jarang muncul di media. Ia tidak lagi diundang ke forum besar. Ia tidak lagi diminta “memberi perspektif.”

Tapi ruang kecilnya tetap hidup.
Diskusi tetap berjalan.
Kata-kata tetap bertukar.

Nala kini berani berbicara di rapat sekolah. Sekar sesekali mengirim pesan—pendek, hati-hati, tapi jujur. Bagas tidak pernah menghubungi lagi. Ratna mengirim pesan suatu malam: Maaf.

Jayeng membaca pesan itu lama. Ia membalas singkat: Terima kasih sudah jujur.

Ia tidak merasa menang.
Ia tidak merasa kalah.
Ia hanya merasa… utuh.

.

Epilog

Pagi kembali datang. Kota tetap bergerak. Jalan layang masih melingkar. Sistem masih berdiri.

Jayeng berdiri di jendela apartemennya—kopi pahit di tangan, buku tua di meja, sunyi yang tidak lagi menakutkan.

Ia tahu, negeri ini tidak akan runtuh hari ini.
Ia juga tahu, negeri ini tidak akan sembuh besok.

Tapi ia percaya satu hal:

Negeri ini perlahan rapuh setiap kali orang baik memilih diam demi aman.
Dan negeri ini perlahan bertahan setiap kali seseorang—siapa pun—berani berkata pelan, jujur, dan tetap berdiri.

Jayeng menyalakan laptop.
Ia menulis lagi.

Bukan untuk melawan.
Bukan untuk menang.

Hanya untuk memastikan:
ketika sejarah menoleh, ada jejak kecil yang bisa berkata,
“Aku tidak ikut diam.”

.

.

.

Malang, 26 Desember 2025

Jeffrey Wibisono V.

.

.

#orangbaikyangdiam #memilihaman #nurani #kesunyianyangberpikir #kritiktenang #sastraindonesia #cerpenkompasminggu #realitasnegeri #suaraSunyi #keberanianberpikir #melawandenganjujur #bukanaktivisme #catatanhati #etikaKekuasaan #pendidikanDanNurani #refleksiBangsa #diamItuPilihan #kebenaranYangTidakNyaman

Leave a Reply