Mereka yang Datangnya Dinantikan
“Orang besar bukan yang selalu benar di ruang rapat—melainkan yang tetap santun saat egonya punya alasan untuk menang.”
“Kedewasaan bukan soal gelar, melainkan kemampuan menempatkan diri: tahu kapan bicara, kapan diam, kapan merangkul.”
“Budi pekerti itu investasi paling sunyi—hasilnya paling nyaring ketika hidup menuntut kita memilih: tetap manusia, atau sekadar pemenang.”
.
Pagi di Jakarta selalu tampak seperti janji yang tidak pernah punya cukup waktu untuk ditepati. Di lantai tiga puluh dua sebuah gedung kaca di kawasan Sudirman, langit terlihat rapat oleh kabut tipis, seolah kota ini sengaja menyembunyikan batasnya sendiri agar manusia terus merasa “kurang” dan memaksa diri berlari.
Di ruangan rapat berpanel kayu, kopi hitam sudah dingin sebelum pembicaraan dimulai.
Panji Wira berdiri di dekat jendela. Kemeja putihnya rapi, jam tangannya tidak mencolok, tapi mahal. Wajahnya menyimpan ketenangan yang bukan jenis ketenangan orang yang tidak punya masalah—melainkan ketenangan orang yang terbiasa menahan masalah agar tak terlihat.
Ia menatap ponsel tanpa benar-benar membaca. Ada satu nama yang membuat jantungnya seperti mengempis: Sekar Ayu.
Nama itu muncul lagi setelah berbulan-bulan hilang, setelah sepotong hidup yang ia kira sudah selesai ternyata hanya sedang menunggu di ujung waktu.
Pesan masuknya singkat.
“Mas Panji, Bapak masuk ICU tadi malam.”
Di ruang rapat itu, orang-orang berbicara tentang angka, tentang target kuartal, tentang pendanaan putaran berikutnya. Tentang exit strategy dan peluang merger. Semua kata terdengar seperti bunyi yang tidak punya tubuh.
Panji menelan ludah. Di dalam kepalanya, suara masa kecilnya tiba-tiba muncul seperti radio tua yang belum sempat dimatikan.
“Kalau masuk rumah orang, lihat dulu sepatumu. Jangan sampai lantainya lebih bersih daripada hatimu, Nji.”
Itu suara Rangga Pramana, ayahnya.
Rangga bukan orang terkenal. Tapi di kampung—sebuah sudut Malang yang dulu masih punya sawah di tepi jalan—namanya selalu disebut dengan nada yang aneh: setengah kagum, setengah segan. Rangga dikenal bukan karena punya uang atau jabatan, melainkan karena ia pandai membawa diri. Ia menundukkan kepala saat menyapa orang tua, menahan senyum saat orang lain sedang marah, menahan lidah saat orang lain sedang memancing.
Rangga bisa menolak tanpa menyakiti, bisa menegur tanpa mempermalukan. Ia bukan malaikat. Ia manusia biasa yang memilih belajar menjadi baik, setahap demi setahap.
Dan justru itulah yang membuat banyak orang merasa aman di dekatnya.
Panji mengangkat tangan pelan, meminta jeda rapat.
“Maaf, saya harus keluar sebentar.”
Tak ada yang menahan. Dalam kelas menengah-atas, orang diajari satu hal: jangan terlihat terlalu ingin tahu. Rasa ingin tahu itu mahal, dan bisa menjadi bumerang.
Di luar ruangan, Panji menekan panggilan.
“Sekar… gimana Bapak?”
Suara perempuan itu terdengar lelah, tapi tetap tertata. Sekar selalu begitu: ia bisa menangis tanpa mengacaukan nada.
“Sesak napas. Dokter bilang komplikasi. Mas… Bapak nanya Mas Panji.”
Panji memejam.
“Bilang, aku berangkat sekarang.”
“Mas, jangan lupa… Bapak itu keras. Tapi dia bukan orang yang… yang gak sayang.”
Kalimat terakhirnya seperti pisau yang diselipkan lembut. Tidak menusuk cepat, tapi perihnya tinggal.
Panji menutup telepon. Ia kembali ke ruangan rapat, menatap orang-orang yang menunggu dengan wajah profesional.
“Ayah saya sakit. Saya harus pergi.”
Tak ada pertanyaan. Hanya anggukan. Ia mengambil jasnya. Dalam lift yang turun tanpa suara, Panji melihat pantulan dirinya di dinding kaca—seorang pria tiga puluhan yang tampak “jadi”—padahal dalam dadanya, ada anak kecil yang masih berusaha memahami mengapa orang dewasa sering gagal menjadi manusia.
.
Bandara Soekarno-Hatta seperti kota kecil yang tidak pernah tidur. Panji berlari kecil, menyeret koper kabin. Di antrean boarding, ia melihat pasangan muda dengan stroller, pria berjaket bomber yang memeluk laptop seperti memeluk nyawa, seorang ibu yang menenangkan anaknya dengan suara lembut.
Di setiap wajah, Panji melihat satu hal: orang-orang sedang berusaha.
Di pesawat menuju Surabaya, ia duduk di dekat jendela, membiarkan sayap membawa dirinya melewati awan. Langit selalu memberi ilusi sederhana: di atas, dunia tampak tenang.
Namun ponselnya kembali bergetar. Nama lain muncul: Jatmika Darma.
Jatmika adalah rekan bisnisnya—co-founder startup logistik yang baru saja naik daun. Mereka memulai dari garasi, dari ide yang ditertawakan, dari pitch deck yang berkali-kali ditolak. Sekarang investor mengejar mereka, media memanggil, dan orang-orang mulai berkata, “Panji itu hebat.”
Padahal, Panji tahu: yang lebih sulit daripada naik adalah tetap waras saat sudah di atas.
Teleponnya masuk.
“Nji, lo di mana?” suara Jatmika meledak tanpa salam.
“Di pesawat. Ada apa?”
“Gawat. Ada rumor di X. Katanya kita mark up invoice vendor. Ada yang leak dokumen internal.”
Panji menutup mata.
“Dokumen yang mana?”
“Gue belum tau. Tapi timeline udah panas. Kalau ini gak kita handle, investor bisa cabut. Lo mesti balik. Hari ini. Sekarang.”
Panji menghela napas. Di satu sisi ada ayahnya yang berbaring, di sisi lain ada bisnis yang menjadi hidup banyak orang.
Ia menahan nada.
“Aku lagi ke Malang. Ayahku ICU.”
Hening sejenak, lalu Jatmika berkata dengan nada yang mengecil tetapi tetap tajam.
“Gue ngerti, tapi ini perusahaan kita, Nji. Banyak orang hidup dari sini.”
Panji memandang langit.
“Aku ngerti. Tapi manusia juga hidup dari orang tuanya, Mat. Satu jam aja… aku pengin lihat beliau.”
Jatmika mendecak.
“Yaudah. Tapi nanti begitu lo landing, kita zoom. Gue tunggu.”
Telepon putus seperti pintu yang dibanting pelan.
Panji tersenyum getir. Ia teringat kalimat lain dari ayahnya, dulu, saat ia baru diterima kerja di Jakarta.
“Pinter itu penting. Tapi yang bikin orang nempel sama kamu bukan kepintaranmu. Itu caramu bikin mereka merasa dihargai.”
Panji dulu mengangguk saja. Sekarang ia baru paham: banyak orang pintar yang disegani, tapi sedikit yang benar-benar dirindukan.
.
Rumah sakit di Malang tidak berubah banyak. Bau antiseptik tetap sama, lampu lorong tetap putih dingin, kursi tunggu tetap mengajarkan manusia cara paling dasar untuk menjadi sabar.
Sekar menunggu di depan ICU. Rambutnya diikat sederhana. Ia memakai sweater abu-abu. Matanya bengkak, tapi wajahnya tidak hancur.
Saat melihat Panji, ia berdiri.
“Mas…”
Panji memeluknya sebentar. Pelukan itu kaku, bukan karena tidak ada rasa, melainkan karena ada terlalu banyak rasa yang tidak sempat diberi nama.
“Gimana?”
“Dokter bilang masih kritis. Tapi tadi sempat sadar.”
Panji menelan ludah.
“Boleh masuk?”
Sekar mengangguk.
Di dalam ICU, Panji melihat ayahnya—Rangga Pramana—terbaring dengan selang di hidung. Tubuhnya mengecil, seperti daun yang kehilangan air. Tapi di wajahnya, ada sesuatu yang tidak bisa hilang: wibawa yang tidak dibuat-buat.
Panji mendekat. Tangannya gemetar saat memegang tangan ayahnya.
“Pak… aku Panji.”
Kelopak mata Rangga bergerak. Pelan, seperti pintu tua yang membuka.
Rangga memandang Panji sebentar. Matanya berkabut, tapi sorotnya masih sama: menembus, tanpa menghakimi.
“Kowe… wis tekan.” suaranya serak.
“Iya, Pak. Aku di sini.”
Rangga menatap langit-langit, seolah mencari sesuatu. Bibirnya bergerak.
“Sekar…”
Sekar mendekat.
Rangga mengangkat tangan sedikit, memanggil. Sekar menempelkan telinganya.
“Ngono… ojo… kasar.” Rangga berbisik, nyaris tak terdengar.
Sekar menahan napas.
Panji menelan. Ia paham maksud ayahnya: jangan kasar dalam membawa diri—bahkan dalam situasi paling genting.
Panji membungkuk, mendekatkan wajahnya.
“Pak… aku minta maaf.”
Rangga menoleh perlahan, menatapnya.
“Maaf… opo?”
Panji menghela napas panjang. Di tenggorokannya, ada ribuan hal yang selama ini ia simpan dalam bentuk diam.
“Maaf… aku sering merasa aku sendiri. Padahal Bapak… ngajari aku jadi orang.”
Rangga menatapnya lama. Lalu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Rangga tersenyum—tipis, tapi nyata.
“Wes… dadi wong… sing… ngerti.”
Kalimat itu menghantam Panji lebih keras daripada semua capaian yang pernah ia raih.
Jadilah orang yang ngerti.
Bukan yang paling cepat. Bukan yang paling tinggi. Bukan yang paling menang.
Yang ngerti.
Yang bisa membaca situasi, mengukur kata, menimbang hati orang lain sebelum menaruh keputusan.
Di luar ICU, Panji menangis untuk pertama kalinya setelah lama.
Bukan tangisan dramatis. Tangis yang sunyi, yang turun dari mata tanpa suara, seperti hujan yang malu-malu.
Sekar duduk di sampingnya, tak mengganggu. Ia hanya menyodorkan tisu.
“Mas… Bapak itu dulu selalu ngomong,” Sekar berkata pelan, “orang yang datangnya dinantikan itu bukan karena dia bawa hadiah. Tapi karena dia bawa… rasa aman.”
Panji mengangguk.
“Kita sering lupa,” lanjut Sekar, “kelas menengah-atas itu sibuk naik level. Tapi adab… kadang ketinggalan di bawah.”
Panji tertawa kecil, pahit.
“Dan kita baru sadar saat orang yang ngajari kita adab… mau pergi.”
.
Malamnya, Panji duduk di kantin rumah sakit. Ia membuka laptop. Ada puluhan notifikasi. Mentions membludak. Grup internal perusahaan panas. Investor meminta penjelasan. Jatmika berkali-kali menelepon.
Panji menarik napas, lalu menekan call.
Wajah Jatmika muncul di layar, tegang.
“Akhirnya. Lo gimana?”
“Ayah gue kritis.”
Jatmika menatap sebentar, lalu berkata cepat, “Oke, tapi kita harus fokus. PR udah minta statement. Legal lagi cek. Tapi kalo lo gak ada, orang bakal bilang lo kabur.”
Panji menahan emosi.
“Mat. Dengerin gue.”
“Apa?”
“Gue gak kabur. Gue pulang. Dan itu beda.”
Jatmika mengernyit.
“Gue gak peduli istilah, Nji. Dunia gak peduli. Mereka cuma lihat headline.”
Panji menatap langit-langit kantin. Ia melihat seorang perawat makan cepat, seorang satpam minum teh, seorang anak muda menangis di pojok. Ia seperti diingatkan bahwa tragedi tidak memilih kasta.
Panji bicara pelan, mengukur tiap kata.
“Kalau kita mau dipercaya, kita gak bisa cuma ngomong angka. Kita harus ngomong dengan cara yang manusiawi.”
Jatmika mendengus.
“Manusiawi gak bisa bayar gaji.”
Panji diam sejenak.
“Justru karena kita bayar gaji, kita harus manusiawi.”
Jatmika menatap, tidak suka.
“Lo berubah.”
Panji tersenyum getir.
“Gue cuma… diingetin.”
Ia lalu menjelaskan. Tentang rumor, tentang dokumen, tentang transparansi. Ia minta tim menahan statement agresif. Ia minta mengakui kekurangan bila ada, tanpa defensif. Ia minta bertemu vendor, bukan mengancam. Ia minta bicara dengan publik seperti bicara dengan tamu yang datang ke rumah: sopan, jelas, tidak merendahkan.
Jatmika terdiam lama.
“Lo yakin ini jalan yang bener?”
Panji mengangguk.
“Bukan cuma bener. Ini cara kita membawa diri.”
Jatmika menghela napas, seperti orang yang baru sadar betapa berat menjadi dewasa.
“Oke. Kita coba.”
.
Tiga hari kemudian, Rangga Pramana meninggal dunia pada pukul 04.15.
Tidak ada musik. Tidak ada dramatis. Hanya detak mesin yang akhirnya berhenti, lalu sunyi yang mengembang seperti balon.
Panji memegang tangan ayahnya yang dingin.
“Pak… terima kasih.”
Sekar berdiri di samping, menangis tanpa meratap. Ia mengusap wajahnya berkali-kali, seperti mencoba menghapus kenyataan.
Di pemakaman, hujan turun pelan. Orang-orang datang. Tetangga lama, teman kerja, kerabat jauh. Mereka bercerita tentang Rangga: tentang bagaimana Rangga membantu tanpa pamer, menegur tanpa memaki, hadir tanpa merebut.
Seorang pria tua berkata pada Panji, “Bapakku sering bilang, Rangga itu seperti payung. Gak selalu kelihatan, tapi kita baru sadar nilainya saat hujan.”
Panji menunduk. Dadanya sesak.
Di antara pelayat, ada orang-orang dengan nama yang terasa “lama” namun tidak mengikat sejarah kerajaan mana pun: Raka Santosa, Mahesa Wirya, Arya Nala, Lintang Sekar. Mereka adalah jaringan lama ayahnya—teman kerja dulu, sahabat masa muda, kerabat yang hidupnya tersebar dari Malang sampai Surabaya, dari dunia pendidikan sampai pengusaha kecil-menengah yang tumbuh pelan-pelan.
Panji tersenyum lirih. Ia baru sadar: kisah-kisah yang dulu dibacakan ayahnya sebelum tidur bukan soal menang-kalah, melainkan soal tata krama, unggah-ungguh, dan martabat.
Ayahnya adalah ksatria versi paling sunyi—tidak memegang pedang, tapi memegang kendali diri.
.
Seminggu setelah pemakaman, Panji kembali ke Jakarta.
Di kantor, suasana masih tegang, tetapi rumor mereda. Statement yang mereka keluarkan—tenang, transparan, tidak menyerang—ternyata membuat publik lebih lunak. Vendor yang semula ingin “membongkar” akhirnya mau bertemu, karena merasa diperlakukan sebagai manusia, bukan musuh.
Di ruang rapat, Jatmika duduk berseberangan dengan Panji. Wajahnya kusut.
“Gue gak nyangka,” kata Jatmika pelan, “cara lo ngomong itu… ngaruh.”
Panji menatapnya.
“Orang gak cuma dengar isi, Mat. Mereka dengar cara.”
Jatmika tertawa kecil, lalu menunduk.
“Gue sering… lupa sopan.”
Panji mengangguk. Tidak menghakimi.
“Kita semua kadang lupa. Apalagi kalau lagi takut.”
Jatmika menatap Panji, matanya merah.
“Ayah lo… ngajarin lo itu ya?”
Panji diam sejenak, lalu berkata pelan, “Dia ngajarin gue bukan dengan ceramah. Tapi dengan cara dia hidup.”
Jatmika menghela napas panjang.
“Gue… pengin jadi orang yang kedatangannya dinantikan.”
Panji tersenyum.
“Itu bukan slogan. Itu latihan harian.”
Di luar gedung, Jakarta masih bising. Tapi di dalam ruangan itu, ada sesuatu yang terasa lebih sunyi dan lebih jernih: dua pria yang pelan-pelan belajar menjadi manusia, bukan sekadar profesional.
.
Malamnya, Panji pulang ke apartemennya di Kuningan. Dari balkon, ia melihat lampu kota seperti bintang-bintang yang jatuh dan lupa kembali ke langit.
Ia membuka laci meja, mengeluarkan buku catatan lama. Buku itu pernah diberikan ayahnya saat ia merantau.
Di halaman pertama, ada tulisan tangan Rangga Pramana:
“Adab iku luwih dhuwur tinimbang ilmu.”
(Adab lebih tinggi daripada ilmu.)
Panji menutup buku itu, menempelkan ke dadanya.
Di kota yang mengajarkan manusia untuk mengejar, Panji ingin belajar satu hal yang lebih sulit: menempatkan diri.
Ia ingin menjadi orang yang saat datang, orang merasa aman. Saat pergi, orang merasa kehilangan—bukan karena ia kaya, bukan karena ia hebat, melainkan karena ia pernah menghadirkan rasa hormat.
Panji menatap langit.
Di antara gedung-gedung tinggi, ia berbisik, seperti doa yang tidak ingin terdengar:
“Pak… aku akan belajar membawa diri. Biar kedatanganku… pantas dinantikan. Biar kepergianku… tidak meninggalkan luka.”
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa ayahnya tidak benar-benar pergi.
Karena adab yang diajarkan ayahnya kini tinggal di tubuhnya—di cara ia menahan kata, di cara ia menunduk saat menyapa, di cara ia memilih lembut ketika dunia menyuruhnya keras.
Di kota ini, mungkin itulah bentuk paling sunyi dari keberanian.
.
.
.
Malang, 11 Januari 2026
.
.
#MembawaDiri #Adab #BudiPekerti #Softskill #CerpenKompas #Jakarta #KelasMenengahAtas #EtikaBisnis #Leadership #Karier #Startup #Keluarga #Refleksi #WarisanNilai #NamakuBrandku