Sebelum Kota Benar-Benar Pulang
“Bahagia itu bukan soal menambah yang baru, melainkan berani melepas yang sudah pergi, mensyukuri yang masih tinggal, lalu menatap hari esok tanpa menggenggam luka.”
.
Malam di Jakarta selalu terdengar seperti mesin yang lupa dimatikan: dengung AC gedung-gedung tinggi, sirene yang melintas cepat seperti kalimat pendek yang tak sempat ditafsirkan, dan suara kendaraan yang menggesek aspal—seolah kota sedang menulis memo panjang tentang hidup orang-orangnya.
Di balkon apartemen lantai dua puluh tujuh, Panji menyalakan lampu kecil. Bukan lampu utama. Ia selalu memilih yang redup, yang membuat ruangan seperti ruang tunggu: nyaman untuk diam, tapi tidak sepenuhnya aman dari pikiran.
Di bawah sana, jalan protokol berkilat oleh sisa hujan. Lampu merah berubah hijau. Hijau berubah merah. Manusia, pikirnya, kadang lebih setia pada jadwal lampu lalu lintas ketimbang jadwal pulang ke rumah.
Sekar duduk di sofa dekat jendela. Rambutnya digelung seadanya, masih memakai kaus polos yang ia beli di toko konsep di Kemang, yang katanya “minimalis”—padahal harga satu kaus bisa untuk membayar listrik rumah orang lain sebulan. Sekar tidak sedang menyindir. Sekar hanya menjalani standar hidup yang ia bangun pelan-pelan bersama Panji, dari waktu ke waktu, dari proyek ke proyek, dari satu “iya” ke “iya” berikutnya yang semakin mahal.
Di layar laptop, Sekar menutup file proposal sekolah kecilnya: lembaga edukasi yang ia bangun untuk anak-anak kelas menengah atas—bukan sekadar bimbel, tetapi “studio pembelajaran” dengan kelas literasi, public speaking, mindfulness, dan etika digital. Sekar percaya, uang bisa membeli kursus, tapi tidak bisa membeli karakter. Ia membangun tempat yang mencoba menambal celah itu.
Panji menatap Sekar seperti menatap masa depan yang ia tahu seharusnya ia perjuangkan, tetapi entah kenapa makin hari terasa seperti jarak yang memanjang.
“Bu masih belum makan,” kata Panji akhirnya.
Sekar mengangguk. Tidak bertanya “kenapa”. Tidak menyalahkan “siapa”. Sekar sudah hapal pola kalimat itu. Setiap kali Panji berkata tentang “Bu”, di belakangnya ada kata-kata lain yang tidak ikut keluar: sakit… takut… pulang… menyesal…
Panji—konsultan strategi brand dan hospitality—terlatih menata kata untuk klien. Ia bisa membungkus krisis menjadi narasi yang terdengar elegan di ruang rapat. Ia bisa mengubah angka yang turun menjadi “kesempatan reposisi”. Ia bisa menyalakan harapan investor dengan satu slide yang tepat.
Tetapi untuk ibunya, ia sering tidak punya kata.
Sekar mengambil ponsel, mengetik cepat, lalu memperlihatkan layar: pesan untuk perawat di Malang. “Aku sudah tanya. Bu bilang tidak nafsu. Tapi minum sedikit.”
Malang. Kota yang selalu terdengar hangat di kepala Panji, tetapi dingin setiap kali ia harus kembali—karena di sana ada rumah lama, dapur dengan bau kayu, foto ayahnya di dinding, dan kenyataan bahwa hidup tidak pernah benar-benar “naik kelas” tanpa meninggalkan sesuatu di belakang.
Panji menelan ludah. “Aku merasa… seperti pengecut.”
Sekar menutup laptopnya. “Kalau kamu pengecut, kamu tidak akan merasa begitu.”
Kalimat Sekar tidak terdengar seperti penghiburan. Ia terdengar seperti fakta. Sekar berbicara seperti orang yang sudah capek memoles luka, dan akhirnya memilih merawatnya apa adanya.
Di luar, hujan mulai turun lagi. Tipis. Seperti ragu.
Panji teringat ucapan almarhum ayahnya—dulu, saat Panji masih muda dan baru bekerja di Jakarta:
“Nak, hidup itu seperti naik kereta. Ada stasiun yang harus kamu tinggalkan, bukan karena kamu tidak sayang, tapi karena kereta tetap jalan.”
Dulu Panji menganggap itu nasihat dewasa. Sekarang, kalimat itu terdengar seperti vonis.
.
Pagi berikutnya, Panji bertemu Candra di sebuah kafe di SCBD. Di tempat itu, kopi bukan sekadar kopi—ia adalah akses, jejaring, dan pembenaran gaya hidup. Para barista memakai apron rapi. Kursi-kursi kayu tertata. Musiknya lembut, seperti mendorong orang bicara pelan, supaya rahasia mereka tidak bocor ke meja sebelah.
Candra datang dengan setelan yang tidak pernah terlalu formal, tapi selalu terlihat “mahal”. Ia bekerja di venture capital, berurusan dengan angka dan orang-orang yang ingin terlihat yakin. Candra suka mengatakan, “Satu-satunya hal yang lebih cepat dari teknologi adalah ego manusia.”
“Gimana Bu?” tanya Candra.
Panji mengangkat bahu, tapi bahunya tidak cukup kuat menahan beban. “Dokter bilang… degeneratif. Kita cuma bisa memperlambat.”
Candra menatap Panji lama. “Kamu udah siap?”
Pertanyaan itu seperti paku. Panji ingin menjawab dengan strategi, dengan rencana, dengan timeline. Tapi hidup tidak pernah meminta presentasi. Hidup meminta keberanian yang sunyi.
“Aku nggak tahu,” kata Panji jujur.
Candra mengangguk pelan. “Kalau gitu, jangan pura-pura tahu.”
Panji tersenyum tipis. “Aku ini konsultan, Dra. Profesiku pura-pura tahu.”
Candra tertawa sebentar, lalu serius lagi. “Di kerjaan kamu bisa ‘reframe’. Di keluarga, kamu harus ‘feel’.”
Panji menatap cangkirnya. Di permukaan kopi, ia seperti melihat bayangan dirinya yang dulu—ambisius, rapi, percaya bahwa semua hal bisa disusun seperti deck presentasi.
Candra melanjutkan, “Gue baca sesuatu semalam. Bukan dari buku bisnis. Dari catatan tua bokap. Dia tulis: yang kita genggam terlalu lama, lama-lama menggenggam kita balik.”
Kalimat itu memukul Panji di bagian yang paling rapuh. Ia sadar, selama ini ia menggenggam banyak hal: reputasi, target, citra sebagai “anak sukses”, keyakinan bahwa ia bisa membayar semua masalah dengan kerja lebih keras.
Tapi penyakit ibunya tidak bisa dibayar dengan lembur.
Ponsel Panji bergetar. Nama yang muncul: Maya.
Maya bukan mantan. Bukan juga teman biasa. Maya adalah orang yang pernah menjadi rumah singgah Panji di masa-masa ia terlalu penuh untuk pulang. Maya bekerja di social enterprise, mengurus program literasi untuk kampung-kampung kota, dan entah kenapa selalu punya cara bicara yang sederhana, tetapi menembus.
Panji mengangkatnya.
“Ji,” suara Maya pelan, seperti baru saja selesai menangis. “Kelana… kecelakaan.”
Panji menegakkan badan. “Kelana siapa?”
Maya menarik napas. “Kelana. Teman kita. Yang dulu suka cerita naik motor gede tapi selalu telat bayar parkir itu.”
Nama itu membuka pintu memori. Kelana: mantan eksekutif perusahaan ride-hailing yang keluar lalu membangun bisnis logistik kecil. Kelana selalu tampak seperti orang yang bisa menertawakan hidup—bahkan saat hidup menertawakan dia duluan.
“Sekarang di mana?” tanya Panji.
“RS di daerah Tebet. Tapi… Ji, kondisinya berat.”
Panji memejamkan mata.
“Kadang hidup tidak menunggu kita siap. Ia hanya datang, lalu meminta kita berdiri.”
.
RS selalu punya bau yang sama: campuran antiseptik, plastik, dan doa yang tertahan. Panji masuk lorong IGD bersama Maya. Maya mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam; rambutnya diikat, tapi beberapa helai jatuh menutupi wajah—seolah bahkan rambut pun tidak tahan melihat berita buruk.
Di kursi tunggu, ada Ragil—chef yang sekarang punya dua restoran fusion dan satu dapur cloud kitchen. Ragil menatap kosong, seperti panci yang sudah dimatikan apinya tapi masih panas.
Ada juga Kirana, psikolog klinis yang sering menangani klien-klien “sukses” yang diam-diam ingin menghilang. Kirana berdiri dekat vending machine, memegang botol air tapi tidak minum.
Panji mendekat. “Gimana?”
Ragil menjawab pelan, “Masuk ICU. Pendarahan internal.”
Kirana menambahkan, “Dokter bilang jam-jam ini kritis.”
Panji menatap pintu. Satu pintu bisa memisahkan dunia menjadi dua: yang bisa bicara dan yang tidak sempat.
Maya duduk, menutup wajah dengan telapak tangan. “Aku baru ketemu dia dua minggu lalu,” katanya. “Dia bilang, ‘Maya, aku capek jadi orang kuat.’ Aku kira itu cuma curhat biasa.”
Kirana menghela napas. “Banyak orang bilang capek sambil tersenyum. Karena mereka takut kalau tidak tersenyum, orang lain pergi.”
Panji merasa dadanya sesak. Ia teringat Kelana yang selalu menertawakan kegagalan bisnisnya, seolah kegagalan itu lelucon yang bisa ditertibkan. Ia teringat Kelana yang pernah berkata di rooftop bar, “Kalau gue mati, jangan bikin status sok puitis. Dateng aja. Bawa kopi.”
Dan sekarang, mereka ada di RS, dan kopi tidak ada artinya.
Ragil memukul paha pelan. “Gue bingung, Ji. Kita ini… kerja keras, upgrade ini itu, sekolah lagi, investasi sana sini. Tapi ujungnya… tetap begini.”
Panji menatap Ragil. “Mungkin kita salah paham. Kita kira hidup itu tangga. Padahal kadang hidup itu… ruang tunggu.”
Kirana memandang Panji. “Kalau hidup ruang tunggu, pertanyaannya bukan ‘kapan dipanggil’. Pertanyaannya: ‘kamu duduk sambil jadi siapa?’”
Kalimat itu mengendap.
Di ponsel Panji, notifikasi dari Sekar masuk: foto ibunya di Malang, duduk di ranjang, memegang sendok, menatap jauh. Sekar menulis: Bu bilang, “Panji jangan lupa makan.”
Panji tertegun. Ibunya yang sakit, masih mengingatkan anaknya makan.
“Cinta yang matang bukan yang membuat kita merasa dimiliki, tapi yang membuat kita tetap dijaga—bahkan saat tubuh sudah lelah.”
Maya menatap Panji. “Sekar tahu kamu di sini?”
Panji mengangguk. “Aku bilang. Dia nggak marah. Tapi… aku merasa bersalah.”
Maya mengangguk pelan. “Bersalah itu tanda kamu masih punya hati. Tapi jangan tinggal di sana.”
.
Kelana tidak bertahan sampai pagi.
Berita itu datang seperti benda jatuh: bunyinya singkat, tapi gema di dalam dada bisa panjang.
Di ruang duka, mereka berdiri di sekitar peti yang sederhana. Tidak ada karangan bunga yang terlalu besar. Kelana pernah bilang ia tidak suka hal berlebihan. Ia suka yang cukup.
Panji memandang wajah Kelana yang kini diam. Wajah itu terlihat tenang, seolah semua ambisi yang dulu berputar di kepala Kelana akhirnya berhenti mencari alasan.
Ragil menangis tanpa suara. Maya menggigit bibir, mencoba menahan. Kirana menutup mata, seperti berdoa, tapi juga seperti menyusun ulang sesuatu di dalam dirinya.
Panji tidak menangis. Bukan karena kuat. Karena tubuhnya seperti kehabisan air. Ia hanya berdiri, menatap, dan merasa ada bagian dirinya yang runtuh.
Saat orang-orang mulai meninggalkan ruangan, Panji masih berdiri. Ia mendekat, berbisik pada Kelana, seolah Kelana masih bisa mendengar:
“Maaf. Kita terlalu sibuk jadi orang penting. Sampai lupa jadi teman.”
Kalimat itu pecah di tenggorokan. Panji akhirnya menangis—bukan dengan dramatis, bukan dengan suara keras—melainkan dengan jenis tangis yang paling memalukan: tangis orang dewasa yang tidak tahu harus meletakkan dukanya di mana.
.
Malam itu, Sekar menunggu Panji di rumah. Tidak bertanya macam-macam. Tidak memberi ceramah. Sekar hanya menyiapkan sup hangat dan menaruhnya di meja.
Panji masuk, melepas sepatu, duduk. Wajahnya lelah seperti jalan yang dipakai terlalu banyak kendaraan.
Sekar duduk di depannya. “Aku dengar.”
Panji mengangguk. “Kelana… pergi.”
Sekar meraih tangan Panji. Di genggaman itu tidak ada solusi. Tapi ada tempat.
Panji menunduk. “Aku takut, Kar.”
“Apa?”
“Aku takut aku sibuk sampai aku lupa. Aku takut Bu pergi, dan aku belum sempat jadi anak.”
Sekar menahan napas sebentar. “Kamu sudah jadi anak. Kamu cuma lupa beristirahat dari peran-peran lain.”
Panji memandang Sekar, matanya merah. “Aku merasa… hidup kita ini seperti daftar checklist. Sekolah, kerja, bisnis, investasi, networking. Kita selalu menambah. Tapi… kapan kita melepas?”
Sekar diam. Ia mengingat hari-hari ketika mereka mulai: apartemen kecil, meja lipat, dan mimpi yang belum punya harga. Mereka dulu tertawa lebih sering—meski uang lebih sedikit.
Sekar berkata pelan, “Mungkin kita perlu latihan.”
“Latihan apa?”
Sekar menatap Panji seperti guru yang lembut. “Latihan bahagia yang sederhana.”
Panji tersenyum getir. “Bahagia kok latihan.”
Sekar mengangguk. “Iya. Karena luka juga latihan. Bedanya, luka sering kita jalani tanpa sadar.”
Sekar mengambil kertas kecil dan menulis tiga kalimat. Lalu menaruhnya di depan Panji.
-
Lepaskan yang sudah pergi.
-
Syukuri yang masih tinggal.
-
Tatap yang akan datang.
Panji menatap tulisan itu lama. Ia teringat gambar yang pernah ia lihat—sebuah kutipan sederhana yang dulu ia anggap motivasi receh. Sekarang, kalimat-kalimat itu seperti pegangan di tebing.
Panji berkata lirih, “Aku nggak tahu caranya.”
Sekar menjawab, “Kita belajar bareng.”
.
Dua hari kemudian, Panji terbang ke Malang.
Pesawat mendarat sore. Udara Malang berbeda dari Jakarta: lebih dingin, lebih pelan, seperti kota itu memberi ruang untuk orang memikirkan hidup.
Di rumah lama, perawat membuka pintu. Panji masuk dan langsung mencium bau rumah yang ia rindukan sekaligus ia takuti: bau kayu, bau teh, bau masa kecil.
Ibunya, Candra—begitulah mereka memanggilnya sejak lama, nama yang terasa hangat di lidah—sedang duduk di ranjang. Wajahnya lebih tirus. Tapi matanya masih sama: mata yang dulu bisa membaca kebohongan anaknya bahkan sebelum anaknya bicara.
Panji mendekat. “Bu…”
Ibunya tersenyum kecil. “Loh, pulang?”
Kalimat itu sederhana, tapi membuat Panji ingin berlutut. Ibunya tidak berkata, “Kenapa baru sekarang?” Ibunya hanya berkata, “Pulang?” seperti rumah adalah hal paling wajar di dunia.
Panji duduk di samping ranjang. Tangannya gemetar. “Maaf, Bu.”
Ibunya mengangkat tangan, menyentuh pipi Panji. “Kamu capek ya?”
Panji menunduk. Tangisnya kembali. Ia mengangguk, seperti anak kecil yang ketahuan menyimpan beban.
Ibunya berkata pelan, “Panji… hidup itu bukan lomba. Kamu boleh berhenti sebentar.”
Panji menangis. “Aku takut kehilangan.”
Ibunya tersenyum tipis. “Kehilangan itu pasti. Tapi kamu jangan kehilangan dirimu sendiri sebelum kehilangan itu datang.”
Kalimat itu seperti air dingin di kepala Panji.
Malam itu, Panji tidur di kursi dekat ranjang ibunya. Ia terbangun beberapa kali, mendengar napas ibunya yang pelan. Ia merasa seperti penjaga yang terlambat datang, tapi akhirnya hadir.
Pagi, ibunya meminta Panji membacakan pesan-pesan lama di ponselnya. Ibunya ingin mendengar suara anaknya. Panji membacakan pesan dari Sekar, dari Candra, dari Maya, bahkan dari grup alumni kampus.
Ibunya tertawa kecil saat membaca pesan lucu, lalu tiba-tiba diam.
“Bu kenapa?”
Ibunya menatap langit-langit. “Bu ingat ayahmu.”
Panji menahan napas. “Aku juga.”
Ibunya berkata, “Ayahmu dulu selalu bilang: kalau kamu ingin jadi orang besar, jangan jadi orang yang meninggalkan.”
Panji menunduk. “Aku sudah meninggalkan banyak.”
Ibunya menggeleng. “Kamu pergi untuk hidup. Itu tidak salah. Yang salah itu kalau kamu lupa jalan pulang.”
Panji memegang tangan ibunya. Tangan itu dingin, tapi masih menggenggam balik.
“Kadang yang paling kita butuhkan bukan nasihat baru, tapi keberanian untuk kembali pada hal-hal yang dulu membuat kita manusia.”
.
Hari-hari berikutnya, Panji menjalani rutinitas yang tidak pernah ia masukkan ke kalender Google: menyuapi ibunya, mengusap punggungnya saat batuk, membacakan berita pagi, menemani ibunya melihat pohon di halaman.
Sesekali, Panji membuka laptop untuk rapat. Tapi ia mulai mematikan kamera lebih sering. Ia mulai berkata, “Saya sedang di rumah.” Dan anehnya, dunia tidak runtuh. Klien masih bisa menunggu. Presentasi masih bisa disusun. Hidup masih jalan.
Panji mengirim pesan ke Sekar tiap malam. Sekar membalas dengan foto-foto kecil: meja makan yang ia rapikan, tanaman yang ia siram, kelas anak-anak yang ia ajar.
Sekar menulis suatu malam: Aku baru sadar, Ji. Anak-anak di kelas itu pintar. Tapi banyak yang kesepian. Mereka punya gadget, punya kursus, punya liburan. Tapi mereka jarang punya orang dewasa yang benar-benar mendengar.
Panji membaca itu lama.
Ia teringat Kelana. Ia teringat kalimat Maya: “Aku capek jadi orang kuat.”
Ia teringat dirinya sendiri yang selalu tampak baik-baik saja.
Panji membalas: Kalau begitu, kita bangun sesuatu yang bukan cuma mengajar, tapi menyembuhkan.
Sekar membalas cepat: Aku tunggu kamu pulang. Kita mulai dari rumah.
.
Tiga minggu kemudian, ibunya meninggal dengan tenang.
Tidak ada drama besar. Tidak ada kata-kata terakhir yang panjang. Ibunya hanya menggenggam tangan Panji, menatapnya seperti ingin memastikan anaknya tahu jalan pulang, lalu napasnya berhenti seperti lilin yang padam tanpa angin.
Panji tidak menjerit. Ia hanya duduk lama. Ia merasa ada lubang yang terbuka, tapi sekaligus ada beban yang selesai: ia sudah hadir. Ia tidak menjadi anak yang terlambat seratus persen. Ia terlambat, ya—tapi ia pulang.
Di pemakaman, Panji berdiri di samping Sekar yang datang dari Jakarta. Sekar menangis diam-diam. Candra berdiri di belakang, menunduk. Maya datang, membawa bunga kecil, bukan karangan besar.
Setelah semua selesai, mereka duduk di teras rumah lama. Teh diseduh. Angin Malang menyapu pelan.
Maya berkata, “Aku selalu takut mati. Tapi sekarang aku lebih takut hidup tanpa sadar.”
Kirana mengangguk. “Itu ketakutan yang sehat.”
Candra menatap Panji. “Terus kamu gimana, Ji?”
Panji menarik napas. “Aku nggak punya jawaban besar. Tapi aku punya keputusan kecil.”
“Apa?”
Panji memandang halaman. “Aku mau pulang—bukan pindah kota. Tapi pulang ke hal-hal yang penting.”
Ragil—yang datang belakangan—mengelap matanya. “Kayak apa?”
Panji menoleh ke Sekar. Sekar mengangguk, seolah memberi izin pada kata-kata yang selama ini tertahan.
Panji berkata, “Aku dan Sekar mau bikin program edukasi untuk keluarga. Bukan cuma anak-anak. Tapi orang tua juga. Kelas tentang komunikasi, tentang hadir, tentang gimana caranya jadi manusia—di tengah ambisi kelas menengah yang sering lupa cara bernapas.”
Maya tersenyum samar. “Kamu bisa bikin modulnya?”
Panji tertawa kecil. “Aku bisa bikin slide.”
Kirana menambahkan, “Tapi pastikan bukan cuma slide. Pastikan itu hidup.”
Panji mengangguk. “Iya.”
Sekar berkata pelan, “Aku juga mau ubah sekolahku. Aku mau ada sesi family dinner assignment. Bukan tugas matematika. Tugas ngobrol.”
Candra tertawa, lalu diam. “Gila… tugas ngobrol.”
Maya menatap mereka. “Lucu ya. Kita sekolah tinggi-tinggi, tapi kita lupa belajar ngobrol.”
Panji menatap langit. Di sana tidak ada jawaban. Tapi ada ruang.
“Kesuksesan yang tidak membuatmu pulang, pada akhirnya hanya membuatmu jauh.”
.
Beberapa bulan kemudian, di Jakarta, program itu dimulai.
Mereka menyewa ruang sederhana di sebuah ruko yang tidak terlalu “Instagramable”. Sekar sengaja memilih tempat yang tidak terlalu mewah. Ia ingin orang datang bukan karena dekor, tapi karena kebutuhan.
Di kelas pertama, hadir belasan keluarga: ayah-ayah yang bekerja di bank, ibu-ibu yang punya bisnis skincare, pasangan muda yang sedang membangun startup, remaja yang sekolah di internasional dan bicara campur-campur bahasa tapi bingung bicara tentang perasaan.
Panji berdiri di depan. Ia tidak memakai jas. Ia memakai kemeja biasa.
Ia membuka kelas dengan kalimat yang ia tulis semalam:
“Kalau kita bisa mengatur portofolio investasi, harusnya kita juga bisa mengatur portofolio hati.”
Beberapa orang tertawa. Tapi ada yang menunduk.
Panji melanjutkan, “Ada tiga latihan sederhana. Bukan untuk jadi sempurna. Untuk jadi sadar.”
Ia menulis di papan:
-
Lepaskan yang sudah pergi.
-
Syukuri yang masih tinggal.
-
Tatap yang akan datang.
Lalu Panji berkata, “Siapa pun di ruangan ini yang sedang kehilangan—kehilangan orang, kehilangan waktu, kehilangan diri—kita mulai dari hal paling kecil: mengakui.”
Di barisan belakang, seorang ayah mengusap mata. Seorang anak remaja menatap ibunya.
Sekar berjalan pelan di antara kursi, membagikan kertas. Di kertas itu ada satu pertanyaan:
“Apa yang selama ini kamu genggam, padahal itu sudah pergi?”
Dan pertanyaan kedua:
“Siapa yang masih tinggal, tapi belum kamu syukuri?”
Dan pertanyaan ketiga:
“Apa yang ingin kamu bangun—tanpa mengulang luka yang sama?”
Suara ruangan menjadi sunyi. Sunyi yang tidak menakutkan. Sunyi yang terasa seperti doa.
Panji melihat Sekar. Sekar mengangguk, matanya berkaca-kaca. Mereka tahu, program ini tidak akan menyelamatkan semua orang. Tapi mungkin, ia bisa menyelamatkan beberapa. Dan itu sudah lebih baik daripada hidup yang hanya mengejar angka.
Di akhir kelas, seorang ibu mendekat, berkata pelan, “Mas… saya baru sadar, suami saya masih ada. Tapi saya sudah lama berhenti melihat dia.”
Panji tidak menjawab dengan teori. Ia hanya berkata, “Malam ini… ajak dia makan. Dan tanyakan satu hal yang sudah lama tidak Anda tanyakan.”
Ibu itu mengangguk, menangis.
Malam itu, Panji pulang bersama Sekar. Mereka naik lift, berdiri berdua. Di cermin lift, wajah mereka terlihat lebih tua sedikit. Tapi ada sesuatu yang lebih muda: cara mata mereka saling memandang.
Di dalam apartemen, Panji menaruh kunci, lalu memeluk Sekar lama.
Sekar berbisik, “Kamu sudah pulang.”
Panji menutup mata. “Kita pulang.”
Di luar, Jakarta masih bising. Tapi di dalam, ada ruang yang akhirnya tenang.
“Bahagia bukan rumah yang selalu rapi. Bahagia adalah hati yang akhirnya tidak lari.”
.
.
.
Malang, 22 Januari 2026
.
.
#Cerpen #CerpenIndonesia #GayaKompas #DramaKeluarga #KehidupanUrban #KelasMenengah #DukaDanPemulihan #RefleksiHidup #EdukasiKeluarga #HealingJourney #KisahJakarta #StorytellingFilmis