Ruang yang Ditinggalkan Orang-Orang Pergi
“Tahun ini membuka mataku: aku melihat siapa yang mencintaiku, dan siapa yang hanya mencintai manfaat dariku. Kejernihan itu menyakitkan—tapi menyelamatkan.”
.
Langit Jakarta di penghujung tahun seperti kaca besar yang menahan cahaya: gedung-gedung memantulkan kilau, jalan-jalan menahan deru, dan hujan turun pelan seolah tak ingin mengganggu siapa pun yang sedang berpura-pura baik-baik saja.
Di lantai dua puluh tujuh sebuah apartemen di Kuningan, Arka berdiri menghadap jendela. Dari ketinggian, kota tampak seperti papan permainan mahal: titik-titik lampu yang rapi, garis-garis jalan yang tegas, dan manusia-manusia yang bergerak dengan tujuan yang jarang benar-benar selesai. Ia memegang ponsel, namun tidak menggesernya. Ia sudah tahu, ada jenis pesan yang tidak perlu dibaca untuk bisa melukai.
Di meja makan marmer, laptop menyala. Sebuah email terbuka—bukan panjang, tapi cukup untuk mengubah arah hidup. Bahasa hukum yang dingin dan tertib. Tentang “restrukturisasi”, “pengalihan hak”, “pembaharuan kewenangan”. Tentang nama yang tiba-tiba lenyap dari daftar penandatangan.
Tentang Arka.
Ia tidak terkejut, hanya seperti kehilangan suara. Dalam dunia kelas menengah atas yang rapi, orang tidak menampar dengan tangan. Mereka menampar dengan dokumen.
Arka membangun Rumah Rasa tiga tahun terakhir bersama Bayu dan Nisa—platform konsultasi dan manajemen pengalaman untuk properti butik, F&B premium, dan brand yang ingin naik kelas. Bukan sekadar jasa desain logo atau kampanye, melainkan cara memikirkan ulang keramahan: bagaimana sebuah tempat bicara kepada tamunya, bahkan sebelum pintu dibuka. Arka menyebutnya “hospitality yang manusiawi”, lalu menuliskannya di pitch deck dengan kalimat yang ia yakini: “Pelayanan bukan prosedur. Pelayanan adalah perasaan yang dipelihara.”
Di keluarga Arka, diversifikasi itu kewajaran. Mereka bukan konglomerat, tetapi cukup mapan untuk menganggap pendidikan, properti, dan bisnis sebagai tiga kaki meja: satu kaki saja patah, meja masih berdiri. Ibu mengurus beberapa ruko warisan di Malang yang disewakan, adiknya Saka baru lulus S2 Manajemen Pendidikan dan sedang merintis lembaga kursus executive language untuk karyawan korporat, sementara Arka—yang dulu disangka akan meneruskan bisnis keluarga—justru memilih menempuh jalan yang kelihatan “tidak pasti”: merangkai cerita, mengelola rasa, membangun kepercayaan.
Kepercayaan. Kata itu yang kini ditikam paling pelan, paling rapi.
Ponselnya bergetar lagi.
Bayu: Bro, jangan baper. Ini cuma bisnis.
Arka menatap kata “cuma” seolah sedang menatap paku kecil yang menahan pintu. Dalam hidup orang dewasa, “cuma” sering dipakai untuk mengecilkan sesuatu yang sebenarnya besar: cuma pindah kepemilikan, cuma mengubah struktur, cuma memindahkan tanda tangan, cuma menghapus nama—dan dengan begitu, cuma menghapus sejarah.
Ia berjalan ke kamar, melihat koper setengah terbuka. Besok pagi ia harus ke Surabaya menghadiri wisuda Saka. Ia menutup koper itu tanpa suara, lalu kembali ke ruang tengah, duduk, dan menatap kota.
Di pantulan kaca, wajahnya tampak biasa saja. Tapi di dalamnya, ada sesuatu yang runtuh pelan: bukan perusahaan, melainkan keyakinan bahwa persahabatan bisa berjalan searah dengan ambisi.
Ia menarik napas. Mengingat ayahnya, yang sudah tiada, sering mengulang petuah ala menak Jawa dengan nada pelan namun tak bisa diganggu gugat: “Pinter itu penting, Ka. Tapi sing paling larang regane yaiku tata lan rasa.” Kecerdasan itu perlu, namun yang paling mahal adalah tata dan rasa.
Arka dulu mengira, tata dan rasa adalah pelengkap. Baru sekarang ia tahu: tata dan rasa adalah pagar.
—
Bandara Juanda menyambutnya dengan udara yang berbeda—lebih terang, lebih lugas. Surabaya tidak menahan diri untuk terlihat “cool” seperti Jakarta. Surabaya hanya bekerja, bergerak, dan selesai. Arka menyukai itu.
Saka menunggu di pelataran kampus. Toga membuat tubuhnya tampak lebih tegak, matanya penuh semangat yang jarang dimiliki orang dewasa—semangat yang belum banyak berurusan dengan pengkhianatan.
“Kamu kurusan,” kata Saka sambil memeluk Arka.
“Ini namanya upgrade,” Arka memaksa tersenyum. “Badan ringan, pikiran… belum tentu.”
Saka menatapnya lama. Ia tahu. Dalam keluarga mereka, ada bahasa yang tidak perlu dijelaskan. Ada jeda-jeda yang lebih jujur daripada kata.
Mereka duduk di sebuah kafe dekat kampus. Kafe itu dipenuhi orang-orang muda dan dewasa yang memegang laptop, membicarakan investasi, ekspansi, sertifikasi, dan liburan ke luar negeri. Kelas menengah atas yang bergerak cepat, seolah hidup hanya soal menambah angka dan memperluas jaringan.
Saka membuka percakapan tanpa drama.
“Mas, aku denger Rumahrasa… ada masalah.”
Arka mengangguk. Tidak langsung bercerita. Ia menatap cangkir kopi, seperti berharap bisa menemukan jawaban di dasar hitamnya.
“Aku dikeluarin,” katanya pelan, akhirnya. “Secara dokumen.”
Saka menahan napas. Lalu berkata, “Orang paling berbahaya itu bukan musuh. Tapi teman yang tahu kelemahanmu.”
Arka tertawa pendek, mirip orang yang baru saja ditampar tetapi diminta tetap sopan. “Kelemahanku cuma terlalu perfeksionis.”
“Bukan,” kata Saka. “Kelemahanmu: terlalu percaya.”
Kalimat itu seperti jarum. Kecil. Tepat. Menembus tempat yang selama ini Arka rawat diam-diam: kebutuhan untuk merasa aman di dekat orang yang ia sebut sahabat.
Arka menatap keluar jendela. Hujan mulai turun lagi, tipis. Ia tiba-tiba ingin pulang ke masa kecilnya di Malang, ke halaman rumah yang bersih, ke ibu yang menata bunga, ke kisah-kisah menak Malangan dan menak Jawa yang ayah ceritakan saat malam: tentang Jayeng yang menjaga kehormatan meski kalah, tentang Raras yang memilih diam agar tidak menambah luka, tentang Lintang yang tetap menyala meski awan menutup langit, tentang Kinasih yang mencintai tanpa mengikat.
Nama-nama itu, tanpa gelar, tanpa pangkat, seperti doa yang diselipkan ke masa depan.
Saka melanjutkan, suaranya lebih lembut: “Mas, kamu pernah bilang ke aku: ‘Kalau mau jadi besar, jangan takut kehilangan.’ Ini waktunya kamu membuktikan kalimat kamu sendiri.”
Arka memejamkan mata sebentar. Ada rasa malu yang muncul—malu karena ternyata ia belum sekuat narasi yang ia tulis untuk klien-kliennya.
“Aku marah,” kata Arka akhirnya. “Tapi aku juga… malu. Kayak orang paling bodoh di kota ini.”
Saka menggeleng. “Bodoh itu kalau kamu mengulangi. Kamu nggak bodoh. Kamu lagi belajar.”
Arka menatap adiknya. Tiba-tiba ia teringat: pendidikan bukan sekadar gelar. Pendidikan adalah cara menamai rasa sakit agar ia tidak berubah jadi kebencian.
—
Malam di hotel, ibu tidak banyak bertanya. Ia hanya menepuk punggung Arka sebentar, seperti memastikan anaknya masih utuh.
“Masih bisa makan?” tanya ibu.
Arka mengangguk, padahal tenggorokannya seperti disumbat sesuatu yang panas.
“Kalau capek,” kata ibu pelan, “pulanglah ke dirimu sendiri dulu.”
Arka masuk kamar. Menutup pintu. Dan di situ, ia menangis—tidak dramatis, tidak keras, hanya jatuh seperti hujan yang tidak ingin mengganggu siapa pun. Ia menangis bukan karena kehilangan perusahaan semata, melainkan karena merasa dibuang dari ruang yang ia ikut bangun, dari meja yang ia ikut bersihkan, dari cerita yang ia tulis dengan tangannya sendiri.
Dalam tangis itu, pikiran Arka bergerak seperti film yang diputar mundur: hari pertama ia dan Bayu bertemu di sebuah seminar, hari-hari menyusun konsep sampai larut, mengantar Nisa pulang karena hujan, merayakan proyek pertama, menulis kata “kita” berkali-kali di proposal.
“Kita.” Kata itu ternyata rapuh.
Arka membuka ponsel. Ada pesan dari Nisa.
Nisa: Aku baru tahu namamu udah nggak ada di struktur. Aku marah. Tapi aku lebih takut. Kamu baik-baik aja?
Arka menatap pesan itu lama. Nisa selalu begitu: tegas, jujur, dan tidak pandai berpura-pura. Ia bukan tipe yang bermain politik. Ia tipe yang bekerja.
Arka membalas singkat: Aku baik. Kita ketemu Jakarta. Kita beresin pelan-pelan.
Ia menutup ponsel. Menatap langit dari jendela hotel. Lalu mengingat suara ayahnya lagi, yang terasa seperti muncul dari ruang yang lebih jauh: “Ojo rebutan menang, Ka. Rebuten sing jenenge bener.”
Jangan berebut menang. Rebutlah yang namanya benar.
Arka tahu: ia bisa membalas Bayu dengan cara yang sama kotor. Ia punya bukti, punya akses, punya orang. Ia bisa menjatuhkan Bayu dengan satu langkah yang tepat. Tapi di dalamnya ada sesuatu yang lebih tua daripada marah—sesuatu yang diwariskan: kehormatan yang tidak suka berisik.
Dan malam itu, di kamar hotel yang tenang, Arka memutuskan satu hal: ia akan melawan, tetapi ia tidak akan kehilangan dirinya sendiri.
—
Dua minggu setelah wisuda, Arka dan Nisa bertemu di sebuah ruang kerja bersama di Senopati. Suasana ruangan dipenuhi aroma kopi, suara keyboard, dan percakapan orang-orang yang seolah hidupnya selalu produktif. Di dunia ini, “sibuk” adalah bentuk paling baru dari doa.
Nisa sudah menunggu, laptop terbuka, mata sedikit merah.
“Aku takut,” kata Nisa tanpa pembukaan panjang. “Kalau kita melawan, mereka punya tim legal besar. Kalau kita diam, kita kehilangan semuanya.”
Arka mengangguk. “Aku juga takut.”
Nisa menatapnya, seolah tidak terbiasa mendengar Arka mengaku takut.
“Tapi,” lanjut Arka, “kita nggak akan diam. Kita cuma memilih cara yang nggak merusak hati.”
Ia mengeluarkan dokumen: kronologi, catatan komunikasi, laporan kontribusi, bukti kerja. Ia menyusun semuanya seperti orang yang sedang merapikan rumah setelah perampokan: pelan, sistematis, dan penuh perhatian.
“Aku mau mulai dari mediasi,” kata Arka. “Bukan karena aku lemah. Karena aku nggak mau jadi mereka.”
Nisa menelan napas. “Kamu masih percaya cara baik?”
Arka menatap Nisa. “Percaya bukan berarti naif. Percaya berarti kita memilih tetap manusia, meski sedang diserang.”
Nisa terdiam lama. Lalu mengangguk.
Malam itu, Arka mengirim pesan ke beberapa klien lama. Bukan untuk mengadu. Ia hanya menyampaikan keadaan apa adanya: bahwa ada perubahan internal, dan ia memilih berjalan dengan integritas. Ia tidak menjelekkan Bayu. Ia tidak mengemis simpati. Ia hanya jujur.
Yang mengejutkan, banyak yang membalas dengan dukungan.
Salah satunya dari Jayeng—seorang pemilik resort di Lombok yang dulu sulit diyakinkan, namun akhirnya menjadi klien paling setia.
Jayeng: Ka, aku nggak peduli logo siapa. Aku peduli siapa yang kerja pakai hati. Kalau kamu bikin baru, aku ikut.
Arka membaca kalimat itu berulang. Dadanya terasa longgar untuk pertama kali sejak email itu datang. Ia tidak menyangka: di tahun yang membuka “warna asli” orang-orang, ia juga menemukan warna yang lebih hangat—kesetiaan yang tidak ribut-ribut.
Di rumah, Arka menyalakan lampu kecil. Menulis satu kalimat di buku catatan, seperti menanam paku untuk menahan runtuh.
“Ternyata yang jatuh itu bukan rezeki. Yang jatuh itu beban. Supaya aku punya ruang untuk yang lebih baik.”
—
Mediasi berlangsung beberapa kali. Bayu datang dengan senyum yang rapi, jawaban yang selalu “kita lihat nanti”, dan bahasa yang terlalu licin untuk bisa dipegang. Ia mengulang kalimat yang sama: “Ini cuma bisnis.” Ia berkata itu seperti mantra—seolah bisnis punya hak untuk menghapus etika.
Nisa mulai muak. Arka menahannya.
“Kalau kita ingin menang,” kata Arka suatu hari, “kita menang dengan cara yang membuat kita tetap bisa tidur.”
Nisa menatap Arka, lama. “Aku ingin tidur,” katanya pelan. “Aku capek.”
Arka mengangguk. “Aku juga.”
Akhirnya mediasi gagal. Bayu tidak mau mengembalikan hak. Ia tetap memilih jalannya.
Arka pulang malam itu tanpa rasa menang. Tanpa rasa kalah. Hanya rasa selesai: seperti menutup pintu yang selama ini dibiarkan terbuka oleh harapan.
Beberapa minggu berikutnya, Arka dan Nisa membangun ulang—lebih kecil, lebih rapi, lebih jelas batasnya. Mereka menamai entitas baru mereka LintangRaras Studio—lintang yang tetap menyala, raras yang tetap indah, meski luka pernah singgah.
Saka membantu dari sisi edukasi. Ia membuat modul pelatihan untuk tim-tim hotel dan bisnis F&B: tentang komunikasi layanan, narasi brand, dan cara memimpin tanpa menginjak. Mereka menyasar segmen menengah-atas yang sering lupa: uang bisa membeli fasilitas, tapi tidak bisa membeli rasa aman.
Arka mulai bekerja kembali. Ia tidak membuat unggahan dramatis. Ia tidak menuntut perhatian. Ia hanya memperbaiki sistem, menata ulang layanan, dan menguatkan tim kecilnya. Ia menegaskan prinsip: transparansi, batas sehat, dan keberanian berkata tidak.
Dan perlahan, proyek-proyek datang. Bukan dengan ledakan, tapi dengan ketukan pelan. Seperti orang yang tahu pintu ini dibuka oleh kerja, bukan oleh sensasi.
—
Suatu sore, tiga bulan setelah mediasi terakhir, Arka menerima telepon dari nomor tak dikenal. Ia mengangkatnya tanpa harapan apa pun.
“Ka… ini Bayu.”
Hening sejenak. Arka merasakan dada ditarik mundur ke malam email itu datang, ke kalimat “cuma bisnis”, ke rasa malu yang menyesakkan.
“Ada apa?” tanya Arka, suaranya datar.
Di seberang, Bayu menghela napas panjang. Suara yang biasanya percaya diri kini terdengar seperti orang yang kehilangan tempat berdiri.
“Aku salah,” katanya. “Banyak klien pindah. Aku kira aku bisa jalan sendiri. Tapi ternyata yang aku ambil bukan cuma perusahaan… aku ambil kepercayaan.”
Arka menutup mata. Ada bagian dirinya yang ingin berkata: Rasakan. Ada bagian yang ingin membalas. Tapi ada juga bagian yang lebih besar: bagian yang lelah berperang.
“Apa yang kamu mau?” tanya Arka.
Bayu terdiam sebentar, lalu berkata, “Aku mau minta maaf. Dan… kalau bisa, aku mau ngobrol. Bukan soal bisnis. Soal manusia.”
Arka menelan ludah. Ia tidak tahu apakah Bayu tulus, atau hanya panik. Tapi Arka tahu satu hal: ia tidak lagi menggantungkan hidupnya pada siapa pun. Ia sudah belajar berdiri.
“Kita bisa ngobrol,” kata Arka akhirnya. “Tapi aku punya syarat.”
“Apa?”
“Jujur. Tanpa manipulasi. Dan kamu harus siap kalau aku nggak bisa balik seperti dulu.”
Bayu terdengar seperti orang yang akhirnya kehabisan topeng. “Aku siap.”
Mereka bertemu di kedai kopi sederhana di Tebet. Tidak glamor. Tidak cocok untuk foto damai-damaian. Hanya meja kayu, lampu kuning, dan suara hujan di luar.
Bayu datang lebih dulu. Wajahnya terlihat lebih tua. Ketika Arka masuk, Bayu berdiri.
“Maaf,” kata Bayu. Pendek. Telanjang.
Arka duduk. Menatap Bayu lama. Di antara mereka, ada sejarah yang tidak bisa dibakar begitu saja. Ada proyek, ada tawa, ada perjalanan. Juga ada tikaman.
“Aku terima maafmu,” kata Arka pelan. “Bukan karena semuanya selesai. Tapi karena aku nggak mau hatiku jadi penjara.”
Bayu menunduk, matanya basah. “Aku iri sama kamu, Ka. Kamu selalu punya arah.”
Arka tersenyum kecil, getir. “Arah itu mahal, Yu. Aku bayar dengan kehilangan.”
Mereka berbicara lama. Tentang takut yang disamarkan ambisi. Tentang bagaimana manusia kadang mengorbankan orang lain demi terlihat menang. Tentang betapa licinnya kata “bisnis” ketika dipakai untuk menutupi keserakahan.
Ketika mereka selesai, Arka pulang tidak membawa kemenangan. Ia hanya membawa satu hal yang lebih penting: kelegaan.
Di trotoar, hujan turun lagi. Arka mengirim pesan kepada Nisa.
Kadang penutup terbaik bukan balas dendam. Tapi bertumbuh. Besok lanjut kerja ya.
Nisa membalas cepat.
Besok. Kita bikin yang lebih baik.
Arka memasukkan ponsel ke saku, berjalan menembus gerimis. Jakarta tetap berkilau, tetap ramai. Tetapi ia merasa berbeda: ia tidak lagi memandang gedung-gedung sebagai simbol kemenangan semata. Ia memandangnya sebagai pengingat—hidup boleh vertikal, tetapi hati harus tetap horizontal: menyentuh tanah, menyentuh manusia.
Sampai di apartemen, Arka menyalakan lampu kecil lagi. Menulis satu kalimat, seperti menutup bab.
“Tidak semua yang pergi meninggalkan kehilangan. Sebagian justru membersihkan ruang—agar kita bisa bernapas.”
Dan di ruang yang ditinggalkan orang-orang pergi itu, Arka akhirnya menemukan sesuatu yang lama hilang: kejernihan.
.
.
.
Malang, 23 Desember 2025
.
.
#Cerpen #KompasMinggu #SastraIndonesia #KisahPerkotaan #Jakarta #KelasMenengahAtas #BisnisBeretika #Pengkhianatan #Kejernihan #SelfRespect #PertumbuhanDiri #Keluarga #Pendidikan #Branding #Hospitality
.
Quotes sisipan
-
“Yang benar-benar mencintaimu tidak menghitung jasamu; mereka hadir bahkan saat kamu tak punya apa-apa untuk ditawarkan.”
-
“Ada orang yang pergi bukan karena kamu kurang, tapi karena mereka tak sanggup melihatmu bertumbuh.”
-
“Menjadi dewasa bukan soal tidak terluka, tapi soal memilih luka yang membuatmu belajar.”