Romantisme Kota Malang: Di Kota Ini Kita Belajar Pelan

“Ada kota yang tidak hanya kau tempati, tetapi juga kau izinkan tinggal di dalam hatimu. Di sanalah kau belajar pelan, jatuh, dan pulang.”

.

Hujan turun rapi di sepanjang Jalan Ijen, seperti ketukan jari yang sabar di atas kaca jendela. Kota Malang, pada jam-jam begini, terasa seperti seseorang yang baru saja bangun dari tidur siang yang terlalu panjang—sedikit linglung, tapi pelan-pelan kembali sadar.

Di sebuah kafe berlangit-langit kayu, menghadap deretan trembesi tua yang tubuhnya menyimpan banyak musim, Ajeng duduk di sudut dekat jendela. Di hadapannya, laptop menyala dengan dokumen presentasi terbuka, namun kursor berkedip tanpa kalimat baru sejak sepuluh menit lalu. Kopi susu di gelas bening sudah turun suhu, dingin pelan-pelan, mengikuti ritme hujan di luar.

Ia seharusnya sibuk. Besok pagi, agency kecilnya, RupaRasa, akan presentasi proposal kampanye digital untuk sebuah hotel baru di kawasan Batu. Kontraknya menyelamatkan arus kas tiga bulan ke depan. Tetapi pikirannya tidak hanya tentang presentasi, biaya produksi konten, atau engagement rate.

Hari ini, Ajeng sedang menunggu seseorang yang telah bertahun-tahun menjadi “kalimat tak selesai” dalam hidupnya.

Namanya Ranggalawe.

.

Pintu kafe terbuka, dingin sore menyusup bersama aroma aspal basah. Ranggalawe masuk dengan jaket denim sedikit basah di bahu, rambutnya yang mulai sedikit ikal di depan tertempel air hujan. Senyum itu—senyum yang dulu membuat Ajeng hafal caranya menunduk—masih sama: hangat, pelan, tapi menyimpan sesuatu yang belum selesai.

“Kamu tepat waktu juga,” suara Ajeng terdengar lebih tenang daripada isi dadanya.

“Aku bahkan datang lebih cepat,” jawab Ranggalawe, meletakkan payung lipat di samping kursi. “Malang kalau hujan begini sayang kalau disia-siakan.”

Dari luar, kendaraan melintas, menyalakan lampu, memantul di genangan air. Di dalam, suara mesin espresso, denting sendok, dan bisik-bisik pengunjung menjadi semacam latar suara yang netral. Seperti kota yang sengaja menurunkan volume, memberi ruang untuk dua manusia yang sedang memulai ulang pembicaraan lama.

.

Mereka dulu bertemu di Yogyakarta: dua mahasiswa yang sibuk mengejar nilai, organisasi, dan kemungkinan masa depan. Hampir menjadi “kita”, tapi tidak pernah diucapkan. Lalu hidup menarik mereka ke dua poros berbeda: Ajeng ke Jakarta, Ranggalawe kembali ke Jawa Timur, mengurus ibu dan merintis karier sebagai perencana kota.

Pertemuan hari ini tidak kebetulan. Ranggalawe diminta bergabung dalam tim konsultan yang menggarap proyek koridor pendidikan di Malang—sebuah gagasan jalur pejalan kaki dan pesepeda yang menghubungkan sekolah, kampus, dan ruang publik. Ajeng, dua tahun lalu, memilih pindah ke Malang setelah satu per satu yang ia kejar di Jakarta terasa seperti ruangan penuh cermin yang memantulkan kelelahan yang sama.

“Kamu kelihatan capek,” ujar Ranggalawe setelah basa-basi singkat lewat.

“Kelihatan, ya?” Ajeng terkekeh pelan. “Bagus. Berarti aku gagal pura-pura.”

“Kamu kerja berapa jam sehari sekarang?”

“Pertanyaan yang bagus,” Ajeng menatap ke luar sejenak, lalu kembali ke wajah Rangga. “Aku nggak ngitung lagi. Mungkin karena kalau dihitung, aku bakal sadar hidupku terlalu banyak layar dan terlalu sedikit diam.”

“Kota ini kan pelan,” kata Ranggalawe. “Harusnya kamu ikut pelan juga.”

“Pelan itu nggak selalu sama dengan santai, Rangga,” jawab Ajeng. “Pelan kadang berarti kita sadar betul apa yang sedang kita tanggung.”

Senyum kecil melintas di sudut bibir Rangga. Di antara mereka, masih ada canggung, tapi canggung yang tidak menyakitkan—lebih seperti jeda napas setelah tangga panjang.

.

Di luar, hujan menebal. Di dalam, obrolan pun ikut dalam.

Ranggalawe bercerita tentang pekerjaannya: peta-peta kota, rapat-rapat yang memperdebatkan lebar trotoar dan jumlah pohon, investor yang menghitung semua hal dengan satuan angka, bukan napas.

“Kadang aku merasa,” katanya, “pekerjaanku hanya membuat garis dan menulis angka. Sampai suatu hari aku lihat anak-anak pulang sekolah di jalan yang dulu aku gambar. Mereka lewat dengan tertawa. Di situ aku baru ngerti, ternyata yang kupetakan bukan peta kota, tapi cara orang bergerak di dalam hidupnya.”

Ajeng mendengarkan. Ada sesuatu yang menghangat pelan di dadanya. Seperti api kecil yang sempat mati dan kini diberi udara.

“Malang itu apa buat kamu, Rangga?” tanya Ajeng.

Ranggalawe menatap keluar, ke deretan trembesi yang tampak seperti payung raksasa melindungi jalan.

“Malang itu kelas tambahan,” jawabnya akhirnya. “Setelah kampus, setelah kota-kota lain, di sini aku belajar ulang tentang pelan. Pelan yang bukan menyerah, tapi mengakui bahwa kita nggak harus selalu jadi yang paling cepat.”

Ajeng tertawa kecil. “Aku kira kamu bakal jawab: Malang itu tempat ketemu lagi sama mantan gebetan yang tidak pernah diresmikan.”

“Ya itu juga,” kata Ranggalawe.

Mereka tertawa, kali ini lebih lepas.

Di meja mereka, dua gelas kopi menjadi saksi bahwa masa lalu tidak selalu datang untuk menagih. Kadang ia datang untuk mengembalikan bagian diri yang dulu tertinggal.

.

“Kota yang romantis bukan hanya yang memiliki pemandangan indah, tetapi yang membuat penghuninya berani jujur tentang luka dan mimpinya.”

.

Sore turun pelan. Di layar ponsel Ajeng, pesan-pesan dari klien hotel berdatangan. Revisi konsep, permintaan tambahan deliverables, permintaan last minute untuk teaser video. Salah satunya, pesan dari nomor yang kini Ajeng hafal ritmenya:

“Besok jam 08.00 kita present ya, Mbak. Mohon dipastikan semua materi sudah siap. Investor maunya konsep yang ‘wah’ tapi tetap hemat anggaran.”

Ajeng menarik napas panjang. Kata “wah” dan “hemat” berada di dua sisi tali yang harus ia seimbangkan setiap hari.

“Masih klien yang sama?” tanya Ranggalawe.

“Masih,” jawab Ajeng. “Kadang aku merasa mereka bukan cari partner, tapi cari pesulap.”

“Kamu bisa berhenti kapan?” tanya Rangga, pelan tapi tegas.

“Berhenti kerja?”

“Berhenti membiarkan orang lain memperlakukanmu seolah waktu dan tenagamu tidak punya batas.”

Ajeng terdiam. Dari luar, klakson terdengar sekali, lalu menghilang. Malang kembali pelan.

“Rangga,” katanya, “kamu tahu kan, aku hidup dari sini. Dari presentasi, dari revisi. Dari jam-jam lembur yang nggak dibayar. Dari rasa takut kehilangan klien.”

“Aku tahu,” jawabnya. “Tapi aku juga tahu, kamu bukan orang yang mudah dijajah rasa takutnya.”

Ajeng tersenyum tipis. Satu hal yang tidak berubah dari Ranggalawe adalah caranya menaruh kepercayaan pada orang lain—bahkan ketika orang itu sendiri sedang meragukan dirinya.

.

Malam merayap turun, membawa dingin yang lebih menusuk. Kafe hampir tutup ketika Ajeng dan Ranggalawe akhirnya keluar. Hujan tinggal gerimis, seperti sisa-sisa kata yang tak diucapkan.

Mereka berjalan menyusuri trotoar Ijen yang basah, lampu jalan memantul di aspal hitam, menciptakan garis-garis cahaya yang seolah menggariskan jalan di depan.

“Kadang aku iri sama kamu,” ucap Ajeng tiba-tiba.

“Kenapa?”

“Kamu tahu mau jadi apa. Perencana kota, kerja dengan peta dan ruang. Sementara aku… kadang rasanya cuma lari dari satu proyek ke proyek lain.”

Ranggalawe berhenti, menatapnya.

“Kota ini saja nggak selalu tahu mau jadi apa,” katanya pelan. “Lihat sekeliling: dulu sini cuma rumah-rumah, sekarang banyak kafe, kantor, co-working space. Malang berubah, tapi tetap Malang. Kamu juga begitu, Neng. Kamu boleh berubah, tapi tetap kamu.”

Ajeng menatap matanya. Ada kata yang mengganjal, tapi ia putuskan menundanya. Mereka sama-sama sudah cukup dewasa untuk tahu bahwa tidak semua kalimat harus segera diakhiri titik.

.

Beberapa bulan setelah kepindahannya, hidup Ajeng di Malang berputar di antara tiga titik: kantor RupaRasa di kawasan Soehat, kafe-kafe kecil tempat ia sering bekerja sambil memerhatikan orang, dan apartemen mungilnya tak jauh dari kampus.

Kantor RupaRasa tidak besar: satu ruang utama berisi meja kerja panjang, sofa kecil, papan tulis putih yang penuh coretan warna, dan rak buku berisi majalah desain, buku branding, dan beberapa novel lama yang tetap dibawa Ajeng dari Jakarta. Di tembok, terpajang foto-foto Malang dalam berbagai cuaca: kabut turun di Batu, senja keemasan di Tugu, malam berkabut di Kayutangan.

Tim inti RupaRasa membuat kantor itu terasa seperti rumah kedua.
Ada Anggraini, teman kuliah Ajeng yang memilih jadi dosen komunikasi di sebuah kampus swasta Malang. Pagi mengajar, sore hingga malam kadang ia duduk di kantor RupaRasa, membantu merapikan strategi komunikasi dan naskah kampanye.

Ada Panji, fotografer yang membuka studio kopi & foto di Tidar. Panji sering datang membawa cold brew dan cerita tentang pelanggan aneh yang minta difoto dengan pose seperti idol Korea tapi tetap “terlihat Jawa”. Ia menangani visual RupaRasa: foto, video, konten estetis.

Ada Jayengrana, lulusan teknik informatika yang memilih menolak kontrak kerja di perusahaan besar demi membangun platform edukasi digital dari kos-kosan. Di RupaRasa, ia mengurus sisi teknis kampanye, iklan digital, dan website klien.

Mereka bukan superstar di dunia korporat. Mereka tidak punya kartu nama dengan gelar panjang atau kantor dengan lift kaca. Tapi di tengah hiruk pikuk karier kelas menengah ke atas, mereka punya satu hal yang diam-diam membuat mereka kaya: kesempatan bekerja dengan orang-orang yang mereka mau, di kota yang ritmenya mereka pilih.

.

Suatu pagi yang cerah, setelah beberapa hari hujan tak turun, Ajeng berdiri di depan ruang kelas kampus tempat Anggraini mengajar. Di papan tulis tertulis tema kuliah tamu:

“Berkarier di Industri Kreatif: Antara Konten, Cuaca, dan Kewarasan.”

Mahasiswa memenuhi ruangan. Laptop terbuka, catatan digital siap. Ajeng menatap wajah-wajah muda itu, melihat dirinya dua belas tahun lalu—haus pengakuan, tergesa mengejar “sukses” tanpa sempat bertanya “untuk apa”.

“Aku mau mulai dengan satu kalimat,” kata Ajeng, menyalakan slide pertama. Di layar, sebuah kalimat muncul:

“Karier yang baik bukan hanya tentang seberapa tinggi kamu naik, tetapi seberapa utuh dirimu saat pulang ke rumah.”

“Dulu,” lanjutnya, “aku pikir sukses itu artinya tinggal di kota besar, punya jabatan, sibuk setiap hari. Sampai suatu ketika, aku sadar: aku lebih sering ketemu laptop daripada ketemu diriku sendiri.”

Tangan-tangan terangkat. Pertanyaan mengalir: bagaimana memulai agency sendiri, apakah realistis meninggalkan gaji tetap, bagaimana menghadapi orang tua yang takut anaknya “cuma jadi pekerja kreatif”, bagaimana menghindari terbakar ambisi sendiri.

“Malang itu kota yang baik untuk berkarier,” kata Ajeng menjawab salah satu pertanyaan. “Tapi bukan karena di sini semuanya gampang. Justru karena kota ini pelan. Di sini kalian bisa membangun, jatuh, dan bangkit lagi tanpa terlalu diperhatikan banyak orang. Di kota besar, setiap jatuh terasa seperti pameran. Di sini, jatuh terasa seperti latihan.”

Anggraini, yang duduk di belakang kelas, tersenyum bangga. Ia tahu, Ajeng bukan sekadar membagi tips, melainkan menggenggam tangan yang belum sempat lelah.

.

Di sisi lain kota, Ranggalawe menghadapi ruang rapat kaca yang dingin. Di meja, terbentang peta koridor pendidikan: garis warna-warni menandai jalur pejalan kaki, jalur sepeda, taman kecil, dan area komersial. Beberapa pejabat dan perwakilan investor duduk, masing-masing membawa kepentingannya sendiri.

“Kalau sebagian taman ini kita jadikan deretan ruko kecil,” ujar salah satu perwakilan investor, menunjuk area hijau di peta, “nilai ekonominya akan jauh lebih tinggi. Kita bisa tarik lebih banyak aktivitas.”

“Dan lebih banyak kendaraan,” sahut Ranggalawe tenang. “Lebih banyak macet. Lebih sedikit tempat anak-anak bermain.”

“Ruang publik tetap ada,” bantah yang lain. “Hanya menyusut sedikit. Toh masih ada trotoar.”

Ruang rapat seketika terasa lebih sempit. Di kepala Ranggalawe, suara Ajeng dari obrolan di Ijen terngiang: ‘Kalau karier membuatmu kaya materi tapi miskin nurani, itu bukan jenjang—itu jebakan.’

Ia menyimpan kalimat itu, bukan sebagai slogan, tetapi sebagai kompas.

“Saya mengusulkan alternatif,” ujar Ranggalawe akhirnya. Ia menggeser peta, menunjukkan skema lain. “Kita tetap beri ruang komersial, tapi di sisi yang tidak memotong jalur pejalan kaki dan area bermain. Keuntungannya mungkin lebih kecil di awal, tapi keberlanjutan dan citra kota akan lebih kuat. Orang datang bukan hanya untuk belanja, tapi juga untuk tinggal dan membesarkan anak.”

Perdebatan menghangat. Ada yang setuju, ada yang terang-terangan menghela napas panjang. Di akhir rapat, belum ada keputusan final. Tapi Ranggalawe tahu, ia sudah menaruh sesuatu di meja: keberanian untuk tak hanya bicara angka, melainkan manusia.

.

Malam itu, mereka bertemu lagi di sebuah angkringan modern di Kayutangan Heritage. Lampu-lampu kuning kecil menjuntai di atas kepala, jalanan batu berkilau sisa hujan, bangunan-bangunan lama menjadi latar seperti potongan masa lalu yang diperbaiki tanpa dihapus.

“Kalau kamu dipecat dari proyek?” tanya Ajeng.

“Aku masih bisa ngajar di kampus, konsultasi kecil-kecilan, atau bantu UMKM,” jawab Ranggalawe, setengah bercanda. “Tapi kalau aku diam dan pura-pura nggak tahu, aku akan kehabisan alasan untuk memandang peta kota ini dengan jujur.”

Ajeng menatapnya lama. Ada sesuatu yang bergerak di hatinya—bukan sekadar rasa lama yang kembali, melainkan hormat pada seseorang yang berani gelisah ketika kenyamanan menggoda.

“Kamu tahu,” katanya pelan, “romantisme itu bukan cuma soal senja dan kopi. Romantis itu ketika seseorang rela kehilangan sedikit ‘aman’ demi menjaga yang lain tetap punya tempat hidup.”

Ranggalawe tertawa kecil. “Berat amat definisi romantismemu, Neng.”

“Kita sudah terlalu tua untuk romantisme murahan,” balas Ajeng.

Angin malam mengusap pelan wajah mereka. Di sekitar, orang tertawa, memotret, berjalan lambat. Malang memeluk warganya dengan ritme yang sama: pelan, tapi konsisten.

.

Tidak ada badai yang datang sekali dalam hidup Ajeng. Kadang ia datang menyamar sebagai email, telepon, atau kontrak yang dibatalkan.

Suatu malam, telepon berbunyi panjang. Klien hotel besar yang menjadi tumpuan RupaRasa mengabarkan bahwa mereka memutuskan bekerja sama dengan agency lain yang menawar harga lebih rendah. Tanpa negosiasi etis, tanpa pembicaraan penutupan yang pantas. Semua hanya dirangkum dalam kalimat: “Kami menghargai kerja sama yang sudah berlangsung, tetapi memutuskan melanjutkan dengan vendor lain.”

Setelah telepon ditutup, Ajeng berdiri lama di balkon apartemennya. Lampu kota di kejauhan tampak seperti gugus bintang yang diturunkan tanah, tapi malam itu, semuanya blur di balik air mata.

Rasa kalah menyesak bukan hanya karena uang. Ada harga diri, ada jam-jam lembur, ada ide-ide yang dicurahkan. Rasanya seperti menonton seseorang membawa pergi meja makan yang kita buat sendiri.

Ponsel bergetar. Pesan masuk dari Ranggalawe:

“Kamu di mana?”
“Kalau butuh ditunggui, aku datang.”

Tak lama kemudian, ia muncul di depan pintu dengan jaket dan payung, napas sedikit terengah karena menaiki tangga.

Ajeng tidak banyak bicara. Ia hanya duduk di sofa, menangis dengan suara yang tidak lagi bisa ditahan. Untuk sekali ini, ia melepaskan peran sebagai perempuan kuat yang rapi bicara di depan klien, rapi memimpin tim, rapi memilih kata di kelas.

“Rangga…” suaranya pecah. “Capek.”

Ranggalawe tidak memberi nasihat panjang. Ia hanya duduk di samping, membiarkan jarak tubuh yang cukup dekat untuk terasa, tapi cukup jauh untuk tetap menghormati ruang.

“Dengar ini, Neng,” katanya pelan ketika tangis Ajeng mulai surut,

“Kota yang baik tidak menjanjikanmu hidup tanpa kecewa. Kota yang baik memberimu ruang untuk jatuh tanpa ditonton, lalu bangkit dengan cara yang kamu pilih sendiri. Malang kota itu. Dan kamu sudah memilih dengan benar.”

Ajeng mengusap mata dengan punggung tangan. Di luar, hujan turun lagi. Namun kali ini, suara hujan terasa seperti pengantar tidur, bukan ancaman.

.

Waktu berjalan. Luka di hati Ajeng tidak menghilang tiba-tiba, tetapi tepinya mulai melembut. Kontrak baru datang, lebih kecil, tapi memberi ruang tawar yang lebih sehat. RupaRasa pelan-pelan pindah fokus: lebih banyak bekerja dengan UMKM kota, hotel-hotel kecil, dan institusi pendidikan yang mau benar-benar berdialog.

Ia mengajak timnya membangun kerja yang tidak hanya memikirkan “klien puas”, tetapi juga “kami tetap utuh”.

Panji memperluas studio kopinya: menambah rak buku, mengadakan pameran foto kecil, membuka kelas fotografi untuk pelajar. Di dinding, terpajang foto-foto Malang dalam berbagai cuaca, sebagian diambil bersama Ajeng saat mereka menelusuri kota demi konten.

Jayengrana akhirnya meluncurkan platform edukasi digital yang disambut beberapa sekolah menengah. Ia mengajak Ajeng dan Anggraini mengisi modul tentang literasi digital dan etika bermedia sosial. Di salah satu sesi, Ajeng mengatakan:

“Jangan biarkan algoritma menjadi satu-satunya yang menentukan nilai dirimu. Kota, teman-temanmu, dan cara kamu memperlakukan orang lain, itu juga bagian dari kurikulum hidupmu.”

Di kampus, Anggraini menulis buku kecil tentang transisi dari dunia kuliah ke dunia kerja, berisi kisah nyata mahasiswa-mahasiswa yang jatuh-bangun. Ia meminta Ajeng dan Ranggalawe masing-masing menulis satu bab: tentang berhenti dan mulai lagi.

.

Proyek koridor pendidikan akhirnya disahkan dengan sejumlah kompromi. Ruang hijau menyusut, tapi tidak sebesar yang diusulkan investor di awal. Jalur sepeda tetap ada, meski sedikit berbelok untuk mengakomodasi kios kecil warga. Di atas kertas, tidak sempurna. Di lapangan, cukup untuk diperjuangkan.

Suatu pagi, Ajeng dan Ranggalawe berjalan di jalur itu. Pekerja lapangan masih menata tanaman di sisi jalan, mengecat marka jalur sepeda dengan warna terang. Di kejauhan, beberapa siswa lewat dengan seragam, mengangkat ponsel memotret proses pembangunan.

“Kamu lihat itu?” tanya Ranggalawe.

“Apa?”

“Anak-anak itu mungkin nggak akan pernah tahu namaku. Tapi mereka akan ngerasain hasil kerja kita. Itu cukup.”

Ajeng menggenggam lengannya. Tanpa dramatisasi, tanpa pengumuman.

“Romantisme kota,” ucapnya pelan, “bukan ketika kita bisa foto di tempat paling instagramable. Tapi ketika kita tahu, ada sudut-sudut kota yang jadi lebih layak ditinggali karena keputusan-keputusan yang kita buat, betapapun kecil.”

Angin pagi menyentuh wajah mereka. Langit Malang hari itu tidak sepenuhnya cerah, tapi juga tidak sepenuhnya kelabu. Semacam abu-abu yang jujur.

.

Malamnya, di meja makan apartemen, Ajeng menulis di jurnalnya:

“Jika suatu saat seseorang bertanya: di kota mana karier dan hatimu sama-sama tumbuh, aku akan menjawab pelan—di kota yang mengajariku berjalan tanpa tergesa, meski dunia terus berlari. Di kota Malang, dalam segala cuacanya, aku belajar pelan. Jatuh pelan, bangkit pelan, mencintai pelan. Dan ternyata, pelan bukan berarti tertinggal. Pelan berarti sadar.”

Ia menutup buku, mematikan lampu ruang tamu, meninggalkan jendela sedikit terbuka. Hujan mungkin datang lagi malam ini. Atau mungkin tidak. Tapi apa pun cuacanya, kota ini telah memberinya satu pelajaran yang utuh:

Di kota ini, kamu tidak diminta sempurna. Kamu hanya diminta berani hidup.

Dan kadang, itu lebih sulit—dan lebih indah—daripada apa pun.

.

Baca sesudahnya: https://jeffreywibisono.com/romantisme-kota-malang-sunyi-yang-mengajar-di-antara-ruang-dosen/

.

.

Malang, 8 Desember 2025

Jeffrey Wibisono V.

.

#CerpenIndonesia #CerpenKompasMinggu #KotaMalang #RomantismeKota #KarierKelasMenengah #UrbanStory #HealingJourney #KehidupanProfesional #SastraUrban #MalangDalamSegalaCuaca

Leave a Reply