Pulang Tanpa Papan Nama

“Di kota, topeng paling rapi pun akan retak saat perut lapar, badan lelah, dan masa depan terasa terancam. Saat itu, bukan kata-kata yang bicara—melainkan pilihan.”

.

Langit Jakarta sore itu seperti kain tipis yang ditarik terlalu kencang: indah, tapi mudah robek. Di kaca gedung-gedung tinggi, matahari memantul seperti janji—mengilap, mahal, dan kadang menipu.

Panji mematikan mesin mobilnya pelan-pelan, seolah mematikan suara yang sudah seharian menempel di kepala: notifikasi, rapat, target, angka, dan “segera”. Ia menatap gedung kantor konsultan tempat ia bekerja, lantai-lantai yang penuh aroma kopi, parfum mahal, dan kelelahan yang disembunyikan di balik senyum profesional.

Dua bulan terakhir, hidup Panji seperti lobi hotel bintang lima: rapi, dingin, dan selalu ada musik latar—agar orang lupa bahwa di balik pintu service, orang-orang berlari dengan lutut gemetar.

Ia menekan tombol lift. Lantai dua puluh tiga. Di sana, ruang rapat sudah menunggu dengan lampu putih yang membuat wajah siapa pun terlihat sedikit lebih pucat daripada kenyataan.

Sekar sudah duduk di ujung meja. Rambutnya digulung rapi. Syal tipis menutup lehernya, bukan karena dingin, tapi karena ia selalu ingin terlihat “siap”. Di sampingnya, laptop terbuka, catatan penuh warna, dan kalender yang tampak seperti medan perang.

“Panji,” sapa Sekar tanpa berdiri. Suaranya ramah, tapi matanya seperti orang yang baru selesai menangis di kamar mandi lalu mencuci wajahnya cepat-cepat.

“Maaf telat,” kata Panji. Ia tidak mengatakan bahwa ia telat karena sempat berhenti di minimarket membeli roti tawar dan air mineral—makan siang pertamanya hari itu. Ia merasa lucu: ia bisa membeli jam tangan mahal, tapi lupa memberi waktu makan untuk dirinya sendiri.

Di sisi lain meja, Candra datang dengan langkah yang tidak pernah terburu-buru. Jasnya pas, jamnya berkilau tipis, dan cara ia meletakkan ponsel di meja seolah dunia memang harus menunggu ia selesai bicara.

Candra adalah investor utama proyek mereka: sebuah program edukasi hospitality dan service excellence untuk jaringan properti premium, termasuk coworking space, restoran, dan boutique hotel yang sedang ingin “naik kelas”. Program itu bernama Brilliance, terdengar modern, terdengar mahal—dan memang mahal.

Ada satu kursi kosong lagi. Kursi untuk Klana. Rival. Kompetitor. Mantan rekan. Orang yang dulu makan sepiring dengan Panji, dan kini tak segan menumpahkan air di meja orang lain asal proyeknya menang.

Klana muncul lima menit kemudian, dengan senyum yang terlalu lebar untuk jadi tulus.

“Maaf ya, macet,” katanya, padahal rambutnya masih rapi sekali untuk orang yang terjebak macet.

Panji menahan diri untuk tidak menebak-nebak. Di kota, tebakan sering berubah jadi prasangka. Dan prasangka adalah bentuk lain dari kemalasan berpikir.

Rapat dimulai.

Candra memaparkan target, timeline, dan angka-angka yang terdengar seperti mantra: peserta sekian, revenue sekian, brand impact sekian, media exposure sekian. Ia berbicara seolah manusia bisa diringkas menjadi grafik.

Sekar menyampaikan konsep: modul pelatihan yang bukan hanya “cara melayani,” tapi cara menjaga integritas ketika uang, pujian, dan tekanan datang bersamaan.

Panji menambahkan strategi: digitalisasi funnel, konten edukasi, kemitraan dengan komunitas, dan sesi mentoring yang tidak membohongi peserta dengan janji instan.

Lalu Klana bicara.

Ia memuji konsep mereka, memuji tim, memuji Candra—dan di sela pujian itu, ia menyelipkan racun yang halus.

“Cuma saya khawatir,” katanya, nada suaranya seperti orang yang peduli. “Konsep ini bagus, tapi eksekusinya berat. Dan… mohon maaf, program sebesar ini butuh pemateri yang punya reputasi nasional. Kita harus realistis. Jangan sampai brand kita turun karena salah memilih wajah.”

Panji merasakan sesuatu menekan ulu hatinya. Bukan karena ia takut. Lebih karena ia kenal pola kalimat itu: orang yang ingin kamu kalah, tapi tidak ingin terlihat jahat.

Sekar menatap Panji singkat, seolah berkata: tahan dulu.

Candra tersenyum kecil, menimbang. “Yang penting hasil, bukan drama,” katanya datar.

Panji mengangguk. Ia memilih diam, bukan karena kalah argumen, tapi karena ia sedang belajar: tidak semua pertempuran harus dimenangkan di ruangan yang penuh ego.

Namun malam itu, ketika ia pulang ke apartemen sempit yang ia sewa di pinggir kota—bukan karena ia tidak mampu, tapi karena ia ingin dekat dengan ibunya di Bekasi—ponselnya bergetar.

Pesan dari rumah sakit.

Ibu masuk IGD.

Kalimat itu pendek. Tapi mampu membuat dunia Panji runtuh tanpa suara.

.

Di lorong IGD, bau antiseptik bercampur kecemasan seperti kabut. Panji melihat ibunya terbaring dengan selang oksigen. Tubuh perempuan itu kecil, tapi selama hidupnya, ia selalu tampak besar di mata Panji. Perempuan yang pernah bekerja di kantin sekolah, lalu membuka katering kecil-kecilan, membiayai Panji sampai jadi “orang kota”.

Panji menggenggam tangan ibunya. Kulitnya dingin.

“Maaf,” kata Panji pelan. Ia tidak tahu maaf untuk apa: karena jarang pulang, karena sering sibuk, karena hidupnya terlalu penuh rapat sampai lupa bahwa orang tuanya menua tanpa agenda.

Ibunya membuka mata setengah. Bibirnya bergerak pelan.

“Jangan… jadi orang yang menang… tapi kehilangan diri,” bisik ibunya.

Panji menelan ludah. Di kepala, ia ingat satu kalimat yang pernah ia baca di sebuah poster sederhana:

“Perhatikan gerak-gerik, bukan kata-kata. Manusia lebih jujur lewat tindakan.”

Ia memandangi tangannya sendiri. Tangannya bisa menandatangani kontrak, bisa menyusun strategi, bisa menulis proposal panjang. Tapi kapan terakhir kali tangannya memegang tangan ibunya tanpa tergesa-gesa?

.

Besoknya, Panji tetap datang rapat. Bukan karena kuat. Karena hidup menuntut profesionalitas, bahkan saat hati berantakan.

Di kantor, Sekar menyodorkan kopi.

“Kamu pucat,” katanya.

Panji ingin bilang: ibu mungkin tidak lama lagi. Tapi kata-kata itu tersangkut. Ia takut jika ia mengucapkannya, dunia akan benar-benar menjadikannya kenyataan.

“Aku… kurang tidur,” jawabnya.

Sekar tidak memaksa. Ia hanya menepuk bahu Panji pelan. Tepukan itu tidak menyelesaikan masalah, tapi membuat Panji merasa: ada orang yang melihatnya sebagai manusia, bukan mesin.

Di ruangan lain, Klana mengirim undangan meeting mendadak dengan Candra tanpa melibatkan Panji dan Sekar. Sekar tahu karena salah satu staf salah cc email.

“Kita nggak diajak,” kata Sekar.

Panji menarik napas. “Ya sudah. Kita fokus ke kerjaan.”

“Tapi ini pola,” Sekar menekan, suaranya naik setengah oktaf. “Dia mau ngambil alih. Dia mau kamu kelihatan nggak siap.”

Panji memandang Sekar. Ada kelelahan di mata perempuan itu. Kelelahan yang bukan hanya dari pekerjaan, tapi dari terus-menerus harus membuktikan diri di dunia yang suka meremehkan.

“Sekar,” kata Panji pelan, “kalau orang memang ingin kita jatuh, kita tidak bisa mencegah keinginannya. Yang bisa kita jaga cuma cara kita berdiri.”

Sekar tertawa kecil, getir. “Kadang yang paling menyakitkan itu bukan musuh. Tapi orang yang dulu bilang kita keluarga.”

Panji ingat kalimat lain dari poster itu:

“Kebanyakan orang nggak pengen kamu sukses… mereka cuma pengen kamu kalah duluan.”

Ia tidak ingin percaya. Tapi kota sering menguji optimisme dengan cara-cara yang tidak sopan.

.

Seminggu kemudian, program Brilliance mendapat pukulan.

Salah satu vendor digital marketing—rekomendasi Klana—menghilang membawa uang DP yang sudah ditransfer untuk iklan. Nominalnya besar. Candra marah. Bukan marah seperti orang kecewa—marah seperti orang yang merasa statusnya dihina.

“Kamu yang pilih vendor itu,” kata Panji ke Klana di ruang rapat.

Klana mengangkat bahu. “Saya hanya merekomendasikan. Keputusan akhir kan ada di tim.”

Sekar menyodorkan bukti chat. “Vendor ini kamu yang push. Kamu yang bilang dia trusted partner.”

Klana tersenyum tipis. “Ya, kita semua bisa salah. Jangan cari kambing hitam.”

Di titik itu, Panji merasakan amarah naik seperti air mendidih. Tapi ia menahan. Ia menatap Klana, lalu menatap Candra.

“Pak, saya tanggung jawab untuk membereskan. Tapi saya minta audit internal. Kita cek alur persetujuan, siapa menginisiasi, siapa menekan, siapa menyetujui.”

Candra mengerucutkan bibir. “Kamu mau bikin ini jadi ribet?”

Panji menatap lurus. “Yang bikin ribet bukan audit. Yang bikin ribet itu kebocoran integritas.”

Sunyi jatuh di ruangan. Sekar menahan napas.

Klana menyandarkan punggung, tetap santai. Namun, untuk pertama kalinya, matanya tidak tersenyum.

.

Malam itu, Panji pulang lebih larut. Di parkiran apartemen, hujan turun. Jakarta selalu punya cara membuat orang merasa kecil. Di bawah lampu kuning, air hujan terlihat seperti garis-garis tipis yang turun tanpa tujuan.

Ponsel Panji bergetar lagi. Dokter.

Kondisi ibu menurun.

Panji duduk di dalam mobil. Tangannya gemetar. Ia menekan setir keras-keras, seolah bisa menahan hidup dengan kekuatan otot.

Di kepalanya, suara ibunya: jangan jadi orang yang menang tapi kehilangan diri.

Panji menangis tanpa suara.

Di kota, laki-laki sering diajari untuk kuat. Tapi tidak ada pelatihan yang mengajarkan bagaimana tetap waras ketika orang yang kamu cintai perlahan pergi.

.

Besoknya, Panji mengajukan cuti satu hari untuk menemani ibu. Candra menolak.

“Kita lagi krisis,” kata Candra. “Kamu kunci. Kamu nggak bisa hilang.”

Panji menarik napas panjang. “Saya bukan hilang. Saya merawat ibu saya.”

Candra menatapnya datar. “Di dunia bisnis, semua orang punya masalah. Kalau kamu bawa masalah pribadi ke sini, proyek ini bisa gagal.”

Sekar, yang mendengar, mengepal tangan. “Mas, ini manusia, bukan spreadsheet.”

Candra melirik Sekar. “Kamu jangan emosional.”

Panji merasakan sesuatu patah di dalam dirinya—bukan harga diri, melainkan ilusi bahwa uang selalu punya tempat untuk empati.

Ia menatap Candra. “Pak, saya nggak minta proyek berhenti. Saya minta satu hari. Kalau proyek ini runtuh karena satu hari saya nggak ada, berarti dari awal kita membangun di atas ketergantungan, bukan sistem.”

Candra terdiam.

Klana tiba-tiba menyela, manis. “Sudah, Panji. Kalau kamu mau, aku bisa handle hari ini.”

Panji menoleh. Di wajah Klana, ada senyum yang bisa dianggap bantuan—atau kesempatan.

Panji tahu, di kota, bantuan kadang punya harga. Dan harga itu sering dibayar dengan reputasi.

.

Di rumah sakit, Panji duduk di samping ibunya. Sekar datang membawa bubur, tanpa diminta. Ia duduk diam, menatap lantai.

“Maaf aku baru bisa datang,” kata Sekar.

“Kamu nggak harus,” jawab Panji.

Sekar menggeleng pelan. “Aku pernah baca kalimat… orang bisa pura-pura cinta, tapi nggak bisa pura-pura peduli dalam jangka panjang.”

Panji memandang Sekar. Matanya mulai basah lagi.

Sekar melanjutkan, suaranya bergetar halus. “Aku nggak tahu kamu sedang seberat ini. Kamu selalu kelihatan bisa.”

Panji tersenyum pahit. “Itu problemku. Aku terlalu terlatih untuk terlihat baik-baik saja.”

Sekar menunduk. “Aku juga.”

Mereka duduk dalam diam yang hangat. Ada jenis kehadiran yang tidak butuh kata-kata untuk menenangkan.

Di ranjang, ibunya membuka mata perlahan. Melihat Sekar, ia berusaha tersenyum.

“Kamu… teman Panji?” bisiknya.

Sekar mendekat, memegang tangan ibu itu pelan. “Iya, Bu.”

Ibu Panji mengangguk kecil. “Jaga… dia. Orang baik… sering dipakai.”

Kalimat itu sederhana. Tapi membuat Sekar menutup mulutnya dengan tangan. Ia menangis tertahan.

Panji merasakan dadanya sesak. Ia ingin berkata: Bu, aku belum jadi apa-apa. Tapi mungkin, di mata ibunya, menjadi manusia yang tidak mengkhianati diri sendiri sudah cukup.

.

Sore hari, Panji kembali ke kantor. Ia belum sempat duduk, Sekar menariknya ke pantry.

“Klana mengubah deck presentasi,” kata Sekar. “Dia mengganti namamu di beberapa bagian. Dia bilang kamu cuti, jadi dia yang ambil alih.”

Panji menutup mata sejenak. “Dia cepat sekali.”

Sekar menyerahkan flashdisk. “Aku simpan versi asli, dengan timestamp. Dan… aku rekam rapat kemarin. Dia mengaku yang merekomendasikan vendor.”

Panji memandang Sekar. “Kamu… ngerekam?”

Sekar mengangguk pelan. “Aku capek jadi orang baik yang selalu kalah karena nggak punya bukti.”

Panji menahan napas. Ia tidak menyalahkan. Di kota, orang baik sering belajar menjadi waspada lewat luka.

Malam itu, Panji menemui Candra. Ia membawa data: chat rekomendasi vendor, bukti transfer, timeline persetujuan, dan rekaman rapat.

Candra membaca pelan, wajahnya berubah sedikit demi sedikit. Klana dipanggil.

Klana tetap tenang. “Ini framing,” katanya.

Panji menatapnya. “Kalau ini framing, kenapa semua bukti mengarah ke kamu?”

Klana menghela napas, lalu berkata dengan nada yang lebih dingin, “Panji, kamu pikir hidup ini adil? Kita semua berusaha bertahan. Kamu terlalu idealis.”

Panji tersenyum tipis. “Aku juga bertahan. Tapi aku nggak bertahan dengan cara menjatuhkan orang lain.”

Klana tertawa pendek. “Kamu sok suci.”

Sekar maju satu langkah. “Bukan sok suci. Ini soal integritas.”

Klana menatap Sekar sinis. “Oh, kamu ikut-ikutan? Kamu pikir kamu siapa?”

Sekar gemetar, tapi suaranya tetap tegak. “Aku manusia. Dan aku capek dibikin kecil.”

Candra akhirnya bersuara, dingin. “Klana, kamu keluar dari proyek. Mulai hari ini.”

Wajah Klana berubah, cepat. Senyumnya hilang. Di matanya muncul sesuatu yang selama ini tersembunyi: ketakutan. Ancaman kehilangan reputasi. Ancaman kehilangan akses.

Panji teringat kalimat lain:

“Kepribadian asli seseorang muncul ketika mereka lapar, lelah, atau terancam.”

Dan kini, kepribadian itu berdiri telanjang di depan mereka.

Klana menatap Panji lama. “Kamu menang sekarang,” katanya.

Panji menggeleng. “Ini bukan soal menang. Ini soal berhenti bohong.”

Klana pergi tanpa menoleh.

.

Setelah itu, proyek berjalan lagi. Tidak mudah. Mereka harus menutup kebocoran, memperbaiki strategi, dan meminta maaf kepada klien karena keterlambatan. Namun, ada sesuatu yang berubah: tim menjadi lebih jujur, lebih hati-hati, dan lebih manusiawi.

Sekar mengusulkan sesi baru dalam modul: “Trust Economy”—bahwa kepercayaan adalah mata uang paling mahal, dan mudah hancur oleh keserakahan kecil yang diulang-ulang.

Panji menambahkan latihan reflektif: peserta diminta menulis tiga tindakan kecil yang bisa mereka lakukan untuk membuktikan peduli, bukan sekadar bilang peduli.

Karena di dunia service, pelanggan tidak percaya pada niat. Mereka percaya pada konsistensi.

.

Dua minggu kemudian, ibu Panji berpulang.

Di pemakaman, langit mendung. Tanah basah. Orang-orang datang dengan baju hitam dan doa yang pendek. Panji berdiri di dekat makam, memandangi tanah yang menutup tubuh ibunya.

Sekar berdiri di sampingnya, diam.

Panji tidak menangis keras. Ia hanya merasa kosong, seperti ruangan hotel setelah tamu check-out: rapi, tapi kehilangan kehidupan.

Setelah semua orang pulang, Sekar berkata pelan, “Kamu nggak sendirian.”

Panji menatap Sekar. “Aku takut, Sekar. Takut kalau aku terus mengejar sesuatu, lalu kehilangan orang-orang yang seharusnya aku jaga.”

Sekar mengangguk. “Aku juga pernah begitu. Aku terlalu ingin terlihat berhasil… sampai lupa rasanya pulang.”

Panji menghembuskan napas panjang. “Aku baru sadar… ibuku paling banyak memberi. Tapi paling sedikit menerima.”

Sekar memejamkan mata. “Iya.”

Panji teringat satu kalimat terakhir yang seperti paku di dada:

“Orang yang paling banyak memberi… adalah orang yang paling sedikit menerima.”

Ia menatap makam itu. Dalam hatinya, ia bersumpah: ia akan belajar menerima. Bukan hanya memberi. Karena memberi tanpa menerima kadang lahir dari luka: takut dianggap beban, takut menyusahkan, takut tidak cukup baik.

.

Beberapa bulan setelahnya, program Brilliance berhasil. Mereka mengadakan sesi puncak di sebuah ballroom hotel. Lampu hangat. Musik lembut. Orang-orang berdiri, bertepuk tangan. Peserta menangis saat sesi reflektif—bukan karena drama, tapi karena akhirnya ada ruang aman untuk mengaku: “Saya lelah berpura-pura baik-baik saja.”

Di belakang panggung, Candra mendekati Panji.

“Saya salah,” kata Candra singkat.

Panji menatapnya.

“Saya pikir empati itu kelemahan,” lanjut Candra. “Ternyata empati itu… sistem keamanan. Tanpa itu, tim akan saling memakan.”

Panji mengangguk pelan. “Empati bikin kita ingat: uang bukan satu-satunya alasan orang bekerja.”

Candra menatap panggung. “Saya juga mau bikin sesuatu yang lebih berarti. Saya mau dana CSR yang bener. Bukan cuma simbol.”

Panji memandang Candra, lalu tersenyum tipis. Kadang manusia berubah bukan karena ceramah, tapi karena menyaksikan konsekuensi dari kekeringan hati.

Sekar menghampiri, membawa catatan. “Panji, ada komunitas yang minta kita buat kelas gratis untuk frontliner yang terdampak PHK.”

Panji menatap Sekar. “Kita buat.”

Candra mengangkat alis. “Gratis?”

Panji mengangguk. “Ada hal yang harus dibayar dengan uang. Ada hal yang harus dibayar dengan niat baik.”

Sekar menambahkan pelan, “Dan ada hal yang hanya bisa dibayar dengan tindakan.”

Malam itu, setelah acara selesai, Panji berdiri sendiri di balkon hotel. Jakarta di bawahnya seperti lautan lampu. Indah, jauh, dan tidak pernah benar-benar tidur.

Ia membuka ponsel, membaca catatan ibunya yang tersimpan di aplikasi memo—catatan lama yang baru ia temukan:

“Nak, kalau kamu lelah, pulanglah. Kalau kamu lapar, makanlah. Kalau kamu takut, jujurlah. Kamu tidak harus menang untuk menjadi orang baik.”

Panji menutup mata. Angin malam menyentuh wajahnya pelan, seperti tangan ibu yang dulu membelai kepalanya saat kecil.

Ia tersenyum, kali ini bukan senyum untuk profesionalitas, tapi senyum untuk dirinya sendiri—senyum yang akhirnya mengizinkan luka menjadi bagian dari perjalanan, bukan aib yang harus disembunyikan.

Dan di tengah kota yang selalu minta orang berlari, Panji memutuskan untuk belajar berjalan.

Pelan. Pasti. Jujur.

Karena ia tahu kini:

Di dunia yang penuh kata-kata, yang paling berharga adalah tindakan kecil yang konsisten—tindakan yang diam-diam menyelamatkan manusia dari dirinya sendiri.

.

.

.

Malang, 6 Januari 2025

Jeffrey Wibisono V.

.

.

#CerpenKompas #CerpenIndonesia #SastraIndonesia #KehidupanKota #Integritas #EmpatiDalamBisnis #DukaDanPulih #RefleksiDiri #TrustEconomy #ServiceExcellence #KelasMenengahAtas #JakartaStories

Leave a Reply