O-Ring di Dalam Dada

“Percaya itu menenangkan.
Tapi justru karena menenangkan, ia bisa mematikan kewaspadaan.”

“Yang menyelamatkan manusia bukan curiga, melainkan keberanian bertanya sebelum terlambat.”

.

Jakarta, pada pagi yang jarang dingin, selalu punya cara memoles segalanya agar tampak aman.

Kirana berdiri di balik jendela apartemen lantai tiga puluh tiga, menatap kota yang seperti papan catur raksasa. Lampu-lampu jalan belum sepenuhnya padam. Di kejauhan, crane diam seperti burung besi yang lupa cara mengepakkan sayap. Di bawah sana, beberapa motor kurir melintas, seperti jarum jam yang tak pernah bertanya apakah hari ini layak dimulai.

Ia memegang cangkir kopi. Uapnya naik pelan, menyentuh kaca yang berkabut tipis. Ada jenis sunyi yang hanya ada di kota besar: sunyi yang dibeli mahal—oleh AC, jendela kedap suara, dan kebiasaan menahan diri.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Panji.

“Pagi. Jam 9 run-through. Investor jam 3. Santai. Kita aman.”

Kirana membaca kata aman itu lebih lama dari yang semestinya. Aman. Kata yang seperti selimut hotel bintang lima—hangat, wangi, dan membuat orang malas membuka mata. Aman yang sering dibangun bukan oleh kepastian, melainkan oleh repetisi: kita selalu berhasil, jadi kita akan selalu berhasil.

Ia menaruh ponsel, membuka laptop. Di layar ada memo yang sudah ia kirim dua kali: analisis risiko, simulasi skenario, daftar potensi kegagalan. Dokumen itu rapi. Tidak emosional. Angka-angka tidak menangis. Angka-angka hanya berdiri, menunggu seseorang mau membaca.

Kirana bekerja sebagai analis risiko di sebuah perusahaan teknologi finansial yang sedang naik daun—aplikasi investasi bagi kelas menengah ke atas yang sibuk, yang ingin merasa cerdas tanpa harus menyentuh rumitnya dunia finansial. Aplikasi itu menjual kenyamanan dengan bahasa halus: investasi jadi mudah, hidup jadi ringan, masa depan jadi aman.

Kirana tahu: yang dijual dunia bukan lagi produk. Yang dijual adalah rasa aman.

Dalam sistem perusahaan itu, ada sebuah celah kecil. Nama teknisnya membosankan, tak akan pernah jadi bahan cerita media sosial. Tapi dampaknya bisa seperti retak pada bendungan: kecil di awal, besar saat dibiarkan.

Ia teringat pagi dingin lain—bukan di Jakarta, melainkan di Florida, 28 Januari 1986. Orang-orang berkumpul menatap langit. Anak-anak menunggu seorang guru terbang ke luar angkasa. Hampir semua orang percaya: NASA tidak mungkin salah. Di balik layar, para insinyur gelisah tentang sebuah komponen kecil bernama O-ring—karet penahan tekanan yang bisa gagal di suhu dingin. Mereka membawa data. Mereka mengingatkan. Tetapi peringatan itu tenggelam oleh keyakinan yang terlalu nyaman: Tenang saja, kita selalu berhasil.

Tujuh puluh tiga detik setelah peluncuran, Challenger meledak. Tujuh nyawa hilang. Dunia terdiam. Kepercayaan yang tadinya terasa hangat berubah menjadi penyesalan yang tak bisa diperbaiki.

Kirana menelan ludah. Ia menatap memo di layar dan merasa udara apartemennya menjadi lebih berat.

Telepon dari ibunya, Ratna, masuk.

“Sudah bangun?” tanya Ratna—seolah itu pertanyaan terpenting.

“Sudah, Ma.”

“Sarapan ya.”

“Iya.” Kirana bohong kecil. Ia hanya minum kopi.

Ratna diam sebentar, lalu menggeser topik ke stabilitas sosial.

“Kemarin Mama ketemu Sekar. Tunangannya sudah beli rumah. Kamu kapan?”

Kirana membayangkan arisan itu: meja panjang, kue-kue rapi, tawa yang terdengar tulus tapi berisi perbandingan. Di sana, hidup diukur bukan dari kedamaian batin, melainkan progress yang bisa dipajang.

“Mama cuma khawatir,” lanjut Ratna. “Karier kamu bagus. Jangan terlalu idealis. Hidup itu… yang penting aman.”

Kata itu lagi.

“Aman itu apa, Ma?” tanya Kirana pelan.

Ratna tertawa kecil. “Kerja bagus, penghasilan bagus, pasangan mapan, reputasi terjaga. Tidak bikin heboh.”

Tidak bikin heboh. Kalimat yang sejak kecil mengikat leher Kirana.

“Sore ini Mama ada arisan. Kamu datang.”

Kirana menutup telepon. Ia merapikan blazer, memakai sepatu hak yang indah tapi sering menyakitkan. Ia teringat pepatah yang pernah ia tulis sendiri:

“Yang terlihat elegan belum tentu nyaman. Yang terasa aman belum tentu selamat.”

Di kantor, lobi gedung kaca menyambut dengan wangi diffuser yang terlalu menenangkan. Logo perusahaan menyala biru: Investasi yang kamu mengerti. Kirana melewati sofa krem dan tanaman hias, menyapa resepsionis, naik lift bersama Damar—kepala produk yang selalu bicara cepat.

“Siap perang?” tanya Damar.

“Siap,” jawab Kirana. “Ada update.”

“Bikin panik atau bikin pede?”

“Bikin kita selamat.”

Damar terkekeh.

Run-through dimulai. Panji membawakan slide demi slide dengan percaya diri seorang pemimpin yang dicintai tim. Laras memoles narasi. Damar memamerkan roadmap dan diversifikasi layanan. Semua terdengar mulus. Semua terasa aman.

“Sistem kita solid. Ready scale,” tutup Panji.

Kirana mengangkat tangan. Ia bicara tentang celah validasi transaksi. Tentang potensi risiko. Ruangan hening.

Panji tersenyum tipis. “Timeline investor mepet. Ini soal momentum.”

“Itu edge case,” kata Damar.

“Investor butuh rasa aman,” tambah Laras lembut.

Panji mengakhiri, “Setelah deal, kita patch.”

Kirana menunduk dan menulis:

“Kita menunda keselamatan demi momentum.”

Siang itu ia makan dengan Rangga di restoran mahal. Rangga konsultan strategi, rapi, mapan, versi “aman” yang diharapkan banyak keluarga.

“Kamu bukan pemilik perusahaan,” kata Rangga setelah Kirana bercerita. “Pilih pertempuran. Ini soal persepsi.”

Persepsi.

“Kalau rem mobil bunyi aneh,” tanya Kirana, “kamu tetap jalan demi persepsi?”

“Itu beda.”

“Tidak beda,” jawab Kirana. “Ini reputasi, kepercayaan, masa depan.”

“Kamu terlalu emosional,” kata Rangga.

Kalimat itu seperti tamparan halus. Dalam budaya dewasa kelas menengah atas, “emosional” sering berarti “tidak elegan.”

Sore hari Kirana bertemu Gunareksa di kafe Menteng. Gunareksa mendengarkan, lalu berkata pelan, “Dalam kisah Menak, keberanian paling sulit adalah menanggung akibat kebenaran.”

“Aku cuma karyawan,” kata Kirana.

“Kamu punya suara,” jawab Gunareksa. “Itu kuasa.”

Rapat investor pukul tiga menjadi panggung. Jayendra bertanya tentang kesiapan sistem. Matanya berhenti pada Kirana.

“Bagian apa kamu?”

“Risk & compliance.”

“Apakah sistem ini siap scale?”

Dalam detik-detik itu Kirana melihat hidupnya seperti potongan film: ibunya, Rangga, kantor, reputasi—dan insinyur-insinyur NASA yang gelisah. Ia menarik napas.

“Secara umum kuat,” katanya. “Tapi ada celah yang perlu dipatch sebelum scale.”

Ruangan membeku. Jayendra justru lega.

“Saya tidak cari perusahaan yang bilang ‘aman’. Saya cari yang tahu di mana ia belum aman.”

Rapat berlanjut. Investor tidak mundur. Namun drama sesungguhnya dimulai setelah panggung ditutup.

HR mengundang Kirana ke Alignment & Communication. Ruangan kecil, dinding kaca.

“Kami menghargai keberanianmu,” kata Sena dari HR, “tapi kebenaran juga perlu dikemas.”

“Dikemas agar siapa nyaman?” tanya Kirana.

“Kami ingin kamu lebih aligned,” jawab Sena.

“Jika alignment berarti diam saat tahu ada risiko,” kata Kirana tenang, “saya tidak ingin aligned.”

Rapat berakhir tanpa kesimpulan. Harga kejujuran telah ditetapkan.

Seminggu kemudian, email promosi keluar. Nama Kirana tak ada. Posisi jatuh pada Wira—aman, rapi.

Di pantry terdengar bisik: “Berani itu bagus. Tapi bukan untuk promosi.”

Malam itu Kirana duduk di lantai apartemen. Pesan ayahnya, Nala, masuk: “Papa bangga. Jangan menyesal jadi anak yang berani bertanya.”

Akhir pekan ia pulang. Rumah rapi, obrolan tentang investasi dan liburan. Di teras, Nala berkata pelan tentang bisnisnya yang hampir hancur karena terlalu percaya, dan staf kecil yang menyelamatkan dengan satu pertanyaan.

“Kalau kamu bertanya, itu bukan bikin malu,” kata Nala. “Itu menyelamatkan.”

Ratna datang, matanya basah. “Mama minta maaf. Mama pikir diam itu aman. Ternyata diam itu menyesakkan.”

Di kantor, Panji mengakui ketakutannya. “Aku pilih jalan aman. Tapi aku mau memperbaiki. Risk harus punya kursi di meja keputusan. Kamu pimpin.”

“Aku akan dibenci,” kata Kirana.

“Mungkin,” jawab Panji. “Tapi kalau pemimpin cuma ingin disukai, perusahaan akan tidur.”

Rangga datang malam itu. Ia tidak siap hidup dengan konflik prinsip.

“Aku ingin tenang,” katanya.

Tenang—kata yang sama, dari banyak mulut.

Kirana berdiri. Tidak ada drama. Hanya bunyi kunci berputar pelan. Ia menangis bukan karena Rangga pergi, melainkan karena ia tak lagi mengecilkan suara demi dicintai.

Hari-hari berjalan. Patch dilakukan. Budaya bertanya tumbuh pelan. Kirana tetap bukan orang yang “aman” bagi politik kantor, tetapi ia menjadi orang yang “perlu”.

Ia mengerti sesuatu yang tak diajarkan seminar:

Tidak semua yang benar akan naik.
Tetapi semua yang naik akan diuji: beranikah ia tetap benar.

Kirana mengambil cuti panjang—bukan untuk lari, melainkan untuk mendengar suara kecil yang selama ini ditenggelamkan oleh kata aman.

Di apartemen sunyi, ia menulis satu kalimat:

“Aku tidak kehilangan siapa pun.
Aku hanya berhenti menggadaikan diriku.”

Jakarta tetap menyala. Kota tidak peduli. Tetapi di dalam dada Kirana, O-ring itu tak lagi rapuh. Ia elastis, kuat, dan tahu menahan tekanan.

Ia tidak merasa menang.
Ia merasa selamat.
Dan mungkin itulah kemenangan paling sunyi.

.

.

.

Malang, 11 Januari 2026

Jeffrey Wibisono V.

.

.

cerpen, Kompas Minggu, sastra urban, Jakarta, kelas menengah atas, budaya kantor, politik kantor, keluarga, cinta dewasa, reflektif

.

Quotes Relevan

  1. “Kepercayaan yang matang selalu menyediakan ruang untuk verifikasi.”

  2. “Rasa aman bisa menjadi narkotik paling halus: membuat kita lupa mengecek pintu.”

  3. “Yang paling berbahaya bukan orang jahat, melainkan orang baik yang terlalu ingin semua orang tenang.”

  4. “Tidak semua kebenaran akan dipromosikan, tetapi kebenaran selalu menyelamatkan.”

Leave a Reply