Menu Jiwa

“Kenyang itu bukan cuma urusan perut. Ada jiwa yang juga bisa kelaparan—ketika yang kita tonton, kita dengar, kita baca, dan orang-orang yang kita izinkan dekat, tak lagi memberi nutrisi.”

.

Lampu gantung di sudut kafe itu redup—seperti sengaja dibuat untuk menenangkan orang-orang yang siangnya dipaksa terang oleh layar: notifikasi, rapat, angka-angka, dan tuntutan untuk selalu tampak baik-baik saja.

Muninggar menatap dinding semen yang dipoles halus. Di sana, huruf-huruf timbul menempel rapi, seolah nasihat tak boleh berantakan:

“Asupanmu bukan hanya apa yang kamu makan; tapi juga apa yang kamu tonton, dengar, baca, dan orang-orang yang kamu habiskan waktumu bersama.”

Muninggar mengembuskan napas pelan. Ia seperti membaca dirinya sendiri—perempuan kelas menengah ke atas yang hidupnya rapi di luar, kusut di dalam. Rambutnya selalu jatuh pas, lipstik selalu sewarna “kebutuhan kerja”, dan jadwalnya selalu penuh: memimpin tim brand di perusahaan FMCG, mengajar kelas tamu di kampus swasta setiap Sabtu, menyiapkan pitch deck untuk bisnis kecil milik ibunya yang kini naik kelas jadi butik cake premium.

Tapi dua bulan terakhir, tidurnya selalu patah-patah, dan ia mulai takut pada sunyi. Sunyi terasa seperti ruang rapat kosong yang bisa memantulkan semua yang selama ini ia pura-pura tak dengar.

Pintu kaca kafe terbuka. Amir masuk, memakai kemeja biru yang disetrika rapi, membawa aroma hujan dan rokok yang baru padam. Amir bukan tipe pria yang suka menjelaskan dirinya dengan kata-kata. Ia menjelaskan dengan tindakan: mengirimkan bunga ke rumah sakit saat ayah Muninggar masuk IGD, memindahkan jadwal konsultasi kliennya agar bisa menjemput Muninggar malam-malam ketika mobilnya mogok, dan—yang paling membuat Muninggar lemah—mengingat hal-hal kecil yang tak pernah diingat orang lain.

Amir duduk. Menatap Muninggar seperti orang menatap perapian: hati-hati, karena hangat, sekaligus bisa membakar.

“Kamu lagi marah sama hidup?” tanya Amir, pelan.

“Aku capek,” jawab Muninggar. “Bukan capek kerja. Capek sama… suara.”

“Suara siapa?”

Muninggar tersenyum tanpa humor. “Semua. Timeline. Grup chat. Podcast motivasi yang isinya menyuruhku jadi mesin. Teman-teman yang kalau ketemu cuma membahas angka, target, dan siapa yang naik jabatan. Aku merasa… aku ini dikunyah hari-hari. Ditelan. Lalu besoknya dikunyah lagi.”

Amir mengangguk pelan. Ia paham jenis lelah itu. Sebab Amir pun tampak rapi, tapi dalam kepalanya sering terjadi kebakaran.

Di siang hari, Amir adalah konsultan strategi—masuk ke perusahaan-perusahaan dengan presentasi yang tampak meyakinkan, menyusun ulang bisnis orang lain, menata arah, memotong kebocoran, membangun alur yang membuat investor lega. Di malam hari, Amir adalah anak laki-laki yang masih menyimpan rasa bersalah karena dulu menolak pulang kampung saat ibunya meminta ditemani berobat, sebab ia sedang mengejar “loncatan karier” yang katanya tak boleh dilewatkan.

“Suara itu,” kata Amir, “kadang bukan suara luar. Kadang suara yang kita pelihara sendiri.”

Muninggar menatapnya.

Amir mengeluarkan ponsel, lalu meletakkannya di atas meja, layar menghadap ke bawah—seperti sedang menidurkan sesuatu yang terlalu berisik.

“Kamu tahu,” Amir melanjutkan, “aku pernah punya temen. Umar Maya.”

Nama itu membuat Muninggar teringat cerita-cerita lama. Umar Maya—teman Amir sejak kuliah, kini pengacara korporat yang hidupnya seperti berita: cepat, tegas, dan selalu ada update.

“Dia sukses,” kata Amir, “tapi dia juga paling sering menertawakan orang. Bukan tertawa karena lucu—tertawa karena merasa lebih tinggi.”

Muninggar diam. Ia pernah berada di ruangan yang sama dengan Umar Maya. Ruangan itu wangi, kursinya empuk, tapi kalimat-kalimatnya tajam. Orang-orang membahas orang lain seperti menilai properti: layak, tidak layak, menguntungkan, tidak menguntungkan.

“Aku pernah ikut dia,” Amir berkata, suaranya makin pelan. “Aku pikir… kalau aku dekat orang sekuat dia, aku juga akan kuat. Tapi ternyata aku malah jadi keras. Bukan kuat.”

Muninggar menelan ludah. Ada beda yang tipis antara kuat dan keras. Kuat itu bisa memeluk, keras itu hanya bisa memukul.

“Terus?” tanya Muninggar.

Amir menarik napas. “Aku hancur waktu ibuku meninggal. Umar Maya datang, tapi dia cuma bilang, ‘Kamu harus cepat move on. Hidup itu lomba.’”

Muninggar memejamkan mata. Kalimat seperti itu sering terdengar “dewasa” di kota. Padahal ia seperti obat yang salah dosis: bukannya menyembuhkan, malah membuat luka kebas—dan kebas itu menumpuk, jadi beban.

“Lalu aku sadar,” Amir lanjut, “ada orang-orang yang memberi nutrisi, ada orang-orang yang memberi racun. Dan racun itu bisa manis.”

Muninggar memandang tulisan di dinding lagi. Kata-kata itu terasa seperti pintu yang lama terkunci. Ia mulai mengerti: ia bukan hanya lelah bekerja. Ia lelah karena jiwanya terus dikasih makanan yang salah.

Dua hari setelah pertemuan itu, ayah Muninggar masuk rumah sakit lagi.

Muninggar berdiri di lorong yang bau antiseptik, melihat kaca jendela yang memantulkan wajahnya: mata panda, senyum yang dipaksa, dan pundak yang terlalu lama memikul semua.

Ibunya, Muninggar panggil Muninggar juga sejak kecil—sebuah kebiasaan keluarga yang unik—duduk di kursi tunggu, memeluk tas tangan seperti memeluk doa yang belum dikabulkan. “Ayahmu bilang,” suara ibunya retak, “dia ingin lihat kamu tenang dulu sebelum… sebelum apa pun.”

Muninggar ingin menyangkal, ingin bilang ayahnya akan baik-baik saja, ingin mengubah topik seperti ia mengubah strategi brand di kantor. Tapi di rumah sakit, semua strategi menjadi tidak berguna. Yang tersisa hanya kenyataan: manusia rapuh.

Amir datang membawa termos kecil berisi sup hangat dan selembar selimut tipis. Ia menaruhnya tanpa banyak bicara. Ia paham bahwa dalam momen seperti ini, kata-kata sering hanya menjadi gangguan.

Malam itu, di ruang rawat, ayah Muninggar—pria yang selama ini tampak kuat, pemilik toko buku yang pelan-pelan berubah jadi bisnis edukasi kecil—menggenggam tangan Muninggar.

“Garis hidup kita,” kata ayahnya, napasnya pendek, “bukan ditarik dari prestasi. Tapi dari siapa yang kamu izinkan mengisi harimu.”

Muninggar menahan tangis. Karena kalimat itu sederhana, tapi menampar. Ia ingat betapa sering ia menolak makan malam keluarga demi meeting yang sebenarnya bisa jadi email. Ia ingat betapa sering ia menunda pulang karena “ada networking”. Ia ingat betapa sering ia menukar pelukan rumah dengan tepuk tangan ruangan.

Ayahnya menatapnya, lelah tapi hangat. “Kamu punya otak bagus. Kamu kerja keras. Tapi jangan biarkan dunia mengajarimu cara jadi dingin.”

Muninggar tak mampu menjawab. Ia hanya menempelkan kening pada punggung tangan ayahnya, seperti anak kecil yang ingin kembali ke tempat aman. Ia menangis diam-diam, agar ayahnya tak perlu ikut sedih.

Di luar kamar, Amir menunggu—seperti orang yang paham bahwa cinta bukan selalu soal masuk ke ruang, kadang soal menjaga pintu agar orang lain bisa bernapas.

Hari-hari berikutnya seperti montase film yang terlalu cepat: Muninggar harus presentasi di kantor, harus mengajar di kampus, harus mengurus administrasi rumah sakit, harus menenangkan ibunya, harus terlihat “profesional”.

Di tengah itu semua, Umar Madi muncul.

Umar Madi adalah sepupu Muninggar—anak keluarga besar yang paling “startup”. Ia punya perusahaan teknologi kecil yang membantu UMKM naik kelas: sistem kasir, manajemen stok, integrasi marketplace. Di Instagram, Umar Madi tampak seperti poster kesuksesan: coworking space, konferensi, foto dengan orang penting, caption penuh kata-kata “growth” dan “scale up”.

Umar Madi datang menjenguk ayah Muninggar dan berkata, “Gar, kamu harus kuat. Ini ujian buat kamu naik level.”

Muninggar menatapnya. Ada niat baik di sana, tapi juga ada kesalahan yang halus: seolah sakit orang tua adalah tangga karier.

“Level apa, Di?” Muninggar akhirnya bertanya, suaranya datar. “Level jadi kebal?”

Umar Madi tertawa kecil. “Kamu terlalu sensitif.”

Kalimat itu—“terlalu sensitif”—adalah salah satu racun paling umum di kota. Racun yang membuat orang malu punya hati.

Muninggar menoleh ke Amir, yang berdiri di ujung lorong. Amir tak berkata apa-apa, tapi matanya berkata: kamu tidak salah karena merasa.

Malam itu, Muninggar pulang ke apartemen, menyalakan lampu, lalu duduk di lantai tanpa musik. Ia membuka ponsel. Timeline penuh berita buruk, konten pamer, debat kusir, dan motivasi agresif.

Tiba-tiba ia sadar: ia memakan semua itu setiap hari. Bukan dengan mulut, tapi dengan mata dan telinga. Dan jiwanya, diam-diam, keracunan.

Ia ingat kalimat Amir: racun bisa manis.

Muninggar menutup ponsel. Lalu menangis—bukan tangis yang elegan, tapi tangis yang jujur. Tangis yang membuat dadanya sakit, tapi setelahnya ada ruang.

Di sela tangis itu, ia menulis di catatan kecil:

  1. Kurangi asupan yang membuatku sinis.

  2. Dekati orang yang membuatku pulang ke diriku sendiri.

  3. Baca hal-hal yang membuatku lembut, bukan hanya tajam.

  4. Diam bukan lemah; diam adalah ruang untuk waras.

  5. Kerja keras boleh, tapi jangan kehilangan rasa.

Daftar itu sederhana. Tapi Muninggar merasa seperti baru saja menemukan tombol “kembali” yang selama ini ia lupa.

Minggu berikutnya, ayah Muninggar membaik sedikit. Tapi dokter berkata, “Kita harus realistis.”

Realistis. Kata yang sering terdengar rasional, padahal bisa membuat hati takut.

Di mobil, menuju rumah sakit, Muninggar berkata pada Amir, “Aku takut.”

Amir mengemudi pelan, seperti orang yang menahan dunia agar tidak terlalu cepat. “Takut itu manusiawi,” katanya. “Yang berbahaya adalah kalau takut membuat kamu memilih racun untuk menenangkan diri.”

Muninggar menatapnya. “Racun?”

Amir tersenyum kecil. “Scroll tak berhenti. Pamer yang bikin kamu merasa kurang. Teman yang menganggap duka sebagai drama. Kalimat yang menyuruh kamu kuat dengan cara mengubur rasa.”

Muninggar terdiam. Ia ingat betapa sering ia menenangkan sedih dengan belanja impulsif, dengan bekerja lebih banyak, dengan tertawa palsu di acara networking. Itu semua seperti gula: cepat membuat hangat, tapi setelahnya tubuh lemah.

Mereka sampai di rumah sakit. Di lift, Muninggar memegang tangan Amir sebentar—tidak lama, tapi cukup untuk mengatakan: aku ingin belajar sehat.

Di kamar, ayah Muninggar tersenyum. Wajahnya pucat, tapi matanya masih bisa memancarkan kasih.

“Ayah,” kata Muninggar, suaranya bergetar, “kalau nanti ayah… pergi, aku takut aku kembali jadi mesin.”

Ayahnya tertawa pelan. “Kalau kamu jadi mesin, siapa yang akan menjadi manusia untuk ibumu?”

Muninggar menangis lagi. Amir menunduk, menahan sesuatu di dadanya yang ikut bergetar.

Ayah Muninggar menggenggam tangan mereka berdua—tangan anaknya dan tangan Amir—seperti sedang merajut sesuatu yang ingin ia titipkan.

“Dengar,” kata ayahnya, napasnya berat, “hidup itu pilihan menu. Jangan bangga bisa makan apa saja. Banggalah bisa memilih yang membuatmu hidup.”

Beberapa bulan setelah itu, ayah Muninggar wafat.

Kepergian tidak pernah datang dengan cara yang sopan. Ia datang seperti pintu yang ditutup—kadang pelan, kadang keras—dan setelahnya rumah terasa berbeda.

Hari pemakaman, hujan turun seperti film Indonesia yang sengaja dibuat terlalu puitis. Orang-orang berdiri dengan payung hitam, menunduk, dan berkata “yang sabar ya” seperti mantra.

Setelah semua selesai, Muninggar duduk di ruang tamu rumah orang tuanya. Toko buku kecil di depan rumah kini sunyi. Rak-rak buku masih ada, tapi pengelolanya sudah tidak.

Ibunya keluar dari kamar membawa kotak kecil. “Ini punya ayahmu,” katanya. “Dia simpan buat kamu.”

Di dalam kotak itu ada buku tua, halaman-halamannya menguning, dan selembar kertas dengan tulisan tangan ayahnya:

“Kalau dunia membuatmu bising, pulanglah pada hal-hal yang membuatmu lembut.”

Muninggar memeluk buku itu seperti memeluk ayahnya lagi. Amir duduk di sampingnya, tidak mengganggu, hanya ada.

Muninggar berkata, “Aku mau berhenti mengisi hidupku dengan orang-orang yang hanya datang saat aku terlihat kuat.”

Amir mengangguk.

“Aku mau membangun hidup yang… sehat,” lanjut Muninggar. “Aku tetap kerja. Tetap bisnis. Tetap mengajar. Tapi aku mau pilih lingkungan. Pilih bacaan. Pilih tontonan. Pilih obrolan.”

Ia menatap Amir, matanya merah. “Kamu mau bantu?”

Amir tersenyum—senyum yang tidak berisik. “Aku juga sedang belajar.”

Muninggar mengangguk. Ia merasa, untuk pertama kalinya setelah lama, hidup tidak harus menjadi perlombaan. Hidup bisa menjadi perawatan.

Di malam itu, Muninggar membuka ponsel. Ia mulai unfollow akun-akun yang membuatnya merasa kecil. Ia meninggalkan grup chat yang isinya hanya pamer dan nyinyir. Ia menyimpan nomor orang-orang yang selama ini hanya hadir saat butuh. Ia menyalakan mode senyap.

Lalu ia menulis pesan ke Umar Madi: Aku sayang kamu. Tapi aku butuh kamu belajar hadir tanpa menggurui.

Umar Madi tidak langsung membalas.

Muninggar tidak marah. Ia mengerti: tidak semua orang siap makan makanan sehat. Ada yang masih kecanduan gula.

Satu tahun kemudian, toko buku ayah Muninggar berubah menjadi ruang belajar kecil: kelas menulis, diskusi buku, pelatihan komunikasi, mentoring bisnis untuk anak-anak muda yang ingin naik kelas tanpa kehilangan hati.

Muninggar tetap bekerja di perusahaan, tapi ia tidak lagi menukar hidupnya dengan validasi. Ia tetap mengajar, tapi ia memilih materi yang menyehatkan jiwa mahasiswa: tentang empati, integritas, etika, dan keberanian untuk berhenti jika sesuatu merusak.

Amir membuka program konsultasi yang lebih manusiawi: tidak hanya mengejar profit, tapi menata budaya kerja agar orang tidak menjadi robot. Ia menyebutnya “strategi yang beradab”—dan entah kenapa, klien-klien yang lelah dengan dunia yang terlalu keras, mulai berdatangan.

Suatu sore, di ruang belajar itu, Muninggar menempel tulisan baru di dinding—hurufnya tidak timbul seperti di kafe dulu, tapi dibuat dari kertas dan tinta, sederhana, jujur.

“Yang kamu konsumsi akan membentuk siapa kamu. Pilihlah yang membuatmu tetap manusia.”

Seorang remaja yang datang ikut kelas menulis bertanya, “Kak, kenapa tulisannya kayak gitu? Emang penting?”

Muninggar tersenyum. “Karena kita sering sibuk memberi makan perut, tapi lupa memberi makan jiwa.”

Remaja itu mengangguk, setengah paham. Muninggar tahu: beberapa pelajaran memang butuh waktu.

Amir dari kejauhan menatap Muninggar. Di matanya ada rasa yang tidak perlu diterjemahkan.

Muninggar menatap balik, lalu berkata pelan—seperti bicara pada dirinya sendiri, pada ayahnya, pada hidup yang pernah terlalu bising:

“Kalau aku bisa memilih menu untuk tubuhku, aku juga bisa memilih menu untuk jiwaku.”

Dan di kota yang tak pernah benar-benar tidur, kalimat itu terdengar seperti doa yang akhirnya menemukan rumah.

.

.

.

Malang, 29 Desember 2025

Jeffrey Wibisono V.

.

.

#CerpenKompasMinggu #CerpenIndonesia #KisahPerkotaan #KelasMenengahAtas #MenuJiwa #KesehatanMental #HealingJourney #DukaDanPulih #KarierDanHati #BisnisBeradab #EdukasiKehidupan #SelfGrowth #Literasi #SmallCircle #NamakuBrandku

Leave a Reply