Kabar yang Tak Pernah Ditanyakan

“Tidak semua orang punya rumah yang menanyakan kabar. Ada yang belajar menghapus air mata sendiri, merayakan menang sendiri—karena tak ada tepuk tangan yang pulang bersamanya.”

.

Di kota ini, orang-orang memeluk kesibukan seperti memeluk payung saat hujan: erat, terburu, dan seolah-olah kalau dilepas sebentar saja, dunia akan basah oleh aib.

Jayen tahu betul cara berjalan cepat tanpa tampak panik. Ia juga tahu cara tersenyum yang tidak menampakkan retak. Itu satu paket dengan jam tangannya yang mahal, sepatu kulit yang selalu mengilap, dan mobil yang setiap pagi menelan jalan tol seperti menelan rutinitas.

Pukul 05.12, alarm berbunyi. Pukul 05.13, ia sudah duduk di tepi ranjang, menatap lantai tanpa benar-benar melihat. Pukul 05.20, ia mengecek kalender: rapat investor, inspeksi proyek, makan siang dengan kepala sekolah internasional anaknya—meski anaknya tidak tinggal bersamanya. Pukul 05.45, ia menyesap kopi yang pahitnya terukur, seperti hidup yang dipilihnya: rapi, efisien, nyaris tanpa ruang untuk lemah.

Ia tinggal di apartemen lantai dua puluh tujuh. Dari jendela besar, kota tampak seperti papan sirkuit: lampu-lampu berkedip, mobil mengalir, manusia bergerak—semuanya terhubung, semuanya sibuk, semuanya seperti punya tujuan. Namun di balik kaca, Jayen sering merasa ia hidup di ruang yang sunyi, sunyi yang mahal.

Pagi itu, ia berhenti sejenak di depan cermin. Dasi biru dongker. Kemeja putih. Rambut yang selalu tersisir rapi. Ia menatap wajahnya sendiri, lalu seperti biasa, mengucapkan kalimat yang sama, nyaris seperti mantra.

“Jangan lemah.”

Kalimat itu diwariskan tanpa upacara. Sejak kecil, ia belajar bahwa pertanyaan “Kamu capek?” adalah kemewahan yang jarang datang. Yang sering datang: “Kamu harus bisa.” “Kamu harus kuat.” “Kamu jangan memalukan.”

Ayahnya dulu seorang pengusaha yang tidak pernah punya waktu, tapi selalu punya standar. Ibunya seorang sosialita yang rajin mengurus acara amal, tetapi jarang mengurus pulang. Rumah Jayen penuh tamu, penuh foto keluarga, penuh tawa di ruang makan—tapi tawa itu seperti dekorasi: dipasang saat perlu, disimpan saat selesai.

Ia mengingat malam-malam ketika ia pulang membawa piala lomba, menaruhnya di meja, lalu menunggu seseorang bertanya bagaimana prosesnya, bagaimana rasanya, bagaimana ia takut sebelum tampil. Tak ada yang bertanya. Yang ada hanya komentar singkat: “Bagus.” atau “Yang lain juga bisa.”

Lama-lama, ia belajar merayakan piala itu sendiri. Lama-lama, ia belajar menepuk pundaknya sendiri.

.

Di lobi apartemen, ia bertemu Sura—petugas kebersihan yang selalu menunduk sopan. Rambut Sura disembunyikan di balik penutup kepala, seragamnya rapi, tangannya memegang pel yang baunya campuran lemon dan lelah.

Jayen biasanya hanya mengangguk. Kota ini mengajarkan orang untuk bersikap “cukup” pada yang tidak ada di lingkaran pentingnya.

Namun pagi itu, entah kenapa, Jayen berhenti.

“Kamu… baik?” tanyanya.

Sura terkejut seperti baru dipanggil namanya di keramaian. Ia mengangkat wajah, mata kecilnya menatap Jayen dengan keraguan.

“Baik, Pak,” jawabnya cepat.

Jayen hampir melangkah lagi, tapi ada sesuatu yang menahan. Ia melihat tangan Sura sedikit bergetar. Ada luka kecil di jari telunjuk, dibalut plester yang sudah kusam.

“Kok tanganmu…” Jayen menunjuk.

Sura menunduk, menutupinya.

“Tidak apa-apa, Pak. Cuma kecolok kawat kemarin.”

“Sudah diobati?”

“Sudah. Hehe.”

Tawa kecil itu seperti kertas tipis yang dipaksa menutup lubang besar.

Jayen mengangguk pelan. Ia ingin bilang “Istirahat kalau sakit,” tapi lidahnya kaku. Ia sudah terlalu lama hidup dalam dunia yang menganggap sakit sebagai gangguan jadwal.

Di pintu putar, ia melangkah keluar. Udara pagi menyengat dingin, tapi yang membuat dadanya sesak justru pertanyaan sederhana yang barusan ia ajukan. Pertanyaan yang tidak pernah ia dengar tumbuh untuk dirinya.

Kamu… baik?

Ia merasa seolah baru menemukan satu tombol di dirinya yang lama berdebu.

.

Rapat investor berlangsung seperti biasa: angka, proyeksi, peluang, risiko. Ruang meeting ber-AC dingin, meja panjang mengkilap, gelas-gelas air mineral berjajar seperti pasukan. Orang-orang bicara cepat, menimbang masa depan seperti menimbang laba.

Jayen mempresentasikan proyek properti terbaru: hunian vertikal, konsep ramah lingkungan, target pasar kelas menengah atas yang ingin “hidup lebih tenang” tanpa benar-benar keluar dari keramaian.

Setelah presentasi, seorang investor bernama Rana—teman lama Jayen—menepuk bahunya.

“Perfect, Jayen. Seperti biasa. Kamu memang mesin.”

Mesin.

Jayen tersenyum. Kalimat itu terdengar seperti pujian, tapi di telinganya, itu seperti vonis.

Di sela rapat, ponselnya bergetar. Nama “Maya” muncul di layar. Maya adalah sahabat Jayen sejak kuliah, sekarang menjadi psikolog organisasi dan konsultan SDM untuk beberapa perusahaan besar. Maya selalu punya cara melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.

Jayen mengangkat.

“Kamu sedang jadi mesin lagi?” Maya bertanya tanpa basa-basi.

Jayen tertawa singkat, pura-pura santai. “Kamu bisa baca aura?”

“Aku bisa baca pola. Kamu kalau sibuk, suaramu jadi rata.”

Jayen diam sejenak. Lalu, entah dari mana, ia mengucapkan kalimat yang tidak biasa keluar dari mulutnya.

“Aku tadi nanya orang… ‘kamu baik?’”

“Dan?”

“Rasanya… aneh.”

Maya tidak tertawa. Suaranya justru lembut.

“Karena kamu jarang ditanya begitu.”

Jayen menelan ludah. Di ruangan penuh angka, tenggorokannya tiba-tiba terasa sempit.

“Aku baik,” katanya cepat, seperti refleks.

Maya menghela napas pelan, seolah-olah napas itu sedang merapikan sesuatu di udara.

“Jayen, kalau suatu hari kamu capek, kamu tidak harus membuktikan apa-apa untuk pantas dicintai.”

Jayen ingin menjawab, tapi rapat sudah memanggilnya kembali. Ia menutup telepon dengan kalimat aman.

“Nanti kita ketemu ya.”

Namun kalimat Maya terus menempel di kepalanya seperti stiker yang tak mau lepas.

Kamu tidak harus membuktikan apa-apa untuk pantas dicintai.

.

Siang, ia menuju sekolah internasional. Bukan untuk menjemput anak—anaknya, Nara, tinggal bersama ibunya di rumah yang lebih besar, lebih “keluarga”. Jayen dan istrinya berpisah tanpa drama di media sosial, tanpa aib. Mereka menyebutnya “kesepakatan dewasa”, padahal yang sebenarnya terjadi adalah dua orang yang terlalu lelah untuk saling memeluk luka.

Jayen datang untuk membahas biaya semester depan. Ia duduk di ruang administrasi dengan sofa abu-abu dan aromaterapi lavender yang mengingatkannya pada ruang tunggu klinik.

Di lorong, ia melihat Ninggar—mantan teman SMA yang kini menjadi kepala program akademik di sekolah itu. Wajah Ninggar masih sama: garisnya tegas, matanya jernih, senyumnya tidak banyak tapi terasa hangat. Ninggar punya aura orang yang terbiasa mengurus banyak hal tanpa meributkan dirinya sendiri.

“Jayen?” Ninggar memanggil.

Jayen menoleh. “Ninggar… sudah lama.”

Mereka tertawa kecil, seperti dua orang yang baru menemukan foto lama dalam kotak.

“Ngopi?” Ninggar bertanya. “Lima belas menit saja. Aku habis rapat juga.”

Jayen hendak menolak—jadwalnya padat—tapi kali ini ia mengangguk.

Di kafe kecil sekolah, mereka duduk di pojok. Anak-anak berseragam lewat dengan tas besar, suara mereka seperti burung-burung yang tidak tahu dunia dewasa bisa begitu berat.

Ninggar mengaduk kopinya pelan.

“Kamu kelihatan… selalu sibuk,” katanya.

Jayen tersenyum. “Kota ini menuntut begitu.”

Ninggar mengangguk, lalu memandang Jayen seperti membaca garis halus di wajahnya.

“Jayen, aku mau tanya sesuatu. Kamu… baik?”

Pertanyaan itu kembali, tapi kali ini diarahkan tepat ke jantungnya.

Jayen tercekat. Ia ingin menjawab cepat seperti biasa—“baik”—tapi ada jeda yang tidak bisa ia atur. Jeda itu penuh suara, padahal di kafe tidak bising.

Ia menatap cangkirnya. Permukaan kopi memantulkan wajahnya yang rapi, tapi di balik rapi itu, ia melihat sesuatu yang retak.

“Aku… tidak tahu,” jawabnya jujur, setengah berbisik.

Ninggar tidak menghakimi. Ia hanya mengangguk, lalu berkata pelan:

“Tidak apa-apa tidak tahu. Yang penting kamu berhenti pura-pura.”

Kalimat itu seperti pintu yang dibuka pelan. Angin masuk. Dingin, tapi jujur.

Jayen menelan napas. “Aku merasa… sendirian. Padahal aku dikelilingi orang.”

Ninggar menatapnya lama. Lalu ia berkata, nyaris seperti mengaku:

“Aku juga.”

Jayen mengangkat wajah. “Kamu?”

Ninggar tersenyum pahit.

“Orang lihat aku seperti… beres. Punya karier bagus, dihormati, kelihatan ‘punya arah’. Tapi tahu nggak, Jayen… aku pulang ke apartemen yang sunyinya bisa bikin telinga berdenging. Aku punya orang tua, punya saudara, tapi… ya kamu tahu, tidak semua keluarga itu tempat pulang.”

Jayen merasakan sesuatu menghangat di dadanya. Bukan bahagia, tapi rasa dikenali. Rasa bahwa ada orang lain yang juga memegang payung yang sama saat hujan.

Ninggar melanjutkan, “Kadang aku menang, Jayen. Aku dapat penghargaan, aku berhasil bikin program beasiswa. Tapi aku merayakannya sendiri. Aku beli kue kecil, aku tiup lilin sendiri, aku foto sendiri. Lucu ya?”

Jayen ingin tertawa, tapi yang keluar justru napas panjang. Matanya panas.

“Tidak lucu,” katanya pelan. “Itu… sedih.”

Ninggar mengangguk. “Makanya, aku belajar satu hal: kalau kita ketemu orang, jangan cuma tanya ‘apa kabar’ sebagai formalitas. Tanyalah dengan niat. Karena bisa jadi, di balik jas mahal dan feed Instagram yang rapi, ada orang yang tiap malam jadi keluarganya sendiri.”

Jayen terdiam. Ia teringat Sura di lobi. Ia teringat dirinya kecil yang menunggu seseorang melihatnya.

Ia berkata lirih, “Aku merasa seperti… aku jadi ayah bagi diriku sendiri sejak kecil.”

Ninggar menatapnya lembut. “Dan kamu capek.”

Jayen menunduk. Dalam hidupnya yang penuh target, ia baru sadar: capek itu bukan musuh. Capek adalah tanda manusia masih punya hati.

.

Malamnya, Jayen pulang lebih awal. Ia menolak satu acara networking. Ia menolak satu jam lembur. Ia memilih pulang ke apartemen yang biasanya ia datangi hanya untuk tidur.

Di lift, ia melihat pantulan dirinya di dinding stainless. Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin menjadi “mesin”.

Di koridor lantai dua puluh tujuh, ia mendengar suara tangis kecil dari unit sebelah. Tangis yang ditahan. Tangis yang seperti takut mengganggu tetangga.

Jayen berhenti. Ia mengenal unit itu: seorang perempuan muda, single mom, sering pulang larut. Jayen tidak tahu namanya. Mereka hanya saling sapa dengan senyum tipis.

Tangis itu membuat Jayen ingat pada sesuatu: ketika ia kecil, ia juga sering menangis pelan di kamar agar tidak terdengar.

Ia berdiri di depan pintu unit itu. Tangan terangkat… lalu ragu.

Di kepala, suara lama berbisik: Jangan ikut campur. Jangan cari masalah. Jangan lemah.

Namun suara lain—suara yang baru hidup—berkata: Kadang orang tidak butuh solusi. Mereka butuh diingatkan bahwa mereka tidak sendiri.

Jayen mengetuk pelan.

Tak lama, pintu terbuka sedikit. Mata perempuan itu sembab.

“Maaf…” katanya cepat. “Saya ganggu ya?”

Jayen menggeleng. “Tidak. Saya cuma… dengar. Kalau kamu perlu apa-apa… aku di sebelah.”

Perempuan itu menatap Jayen seperti tidak percaya ada orang yang mengetuk bukan untuk komplain. Bibirnya bergetar.

“Terima kasih,” katanya. “Saya… tadi cuma capek.”

Jayen mengangguk. “Aku paham.”

Pintu menutup pelan. Jayen berdiri sebentar, merasakan sesuatu yang sederhana tapi besar: sebuah hubungan manusia yang tidak ada di kontrak, tidak ada di KPI, tidak ada di laporan tahunan.

Di dalam unitnya, ia duduk di sofa. Sunyi datang, tapi kali ini sunyi tidak sejahat biasanya. Karena ia barusan menaruh seutas benang di kota yang sering memutus tali.

Ia membuka ponsel, menulis pesan kepada Maya:
“Aku tidak baik-baik saja. Tapi aku ingin belajar.”

Lalu ia menulis pesan kepada Ninggar:
“Terima kasih sudah nanya kabar dengan sungguh-sungguh.”

Terakhir, ia mengetik nomor yang sudah lama ia simpan tapi jarang ia hubungi: nomor ibunya.

Jari Jayen bergetar. Ia menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar. Satu… dua…

“Hallo?” suara ibunya muncul, agak jauh.

Jayen menelan napas. “Ma… ini Jayen.”

“Oh, Jayen… kamu jarang telepon. Ada apa?”

Jayen hampir menjawab otomatis, “Nggak apa-apa.” Tapi kali ini ia melawan kebiasaannya sendiri.

“Ma… Ma baik?”

Ada hening singkat. Di seberang, ibunya seperti mencari kata.

“Aku… baik,” jawab ibunya akhirnya, tapi suaranya tidak sekuat biasanya.

Jayen memejam. Ia tiba-tiba sadar: mungkin ibunya juga selama ini menjadi keluarganya sendiri dalam diam, hanya saja ia menutupnya dengan pesta dan senyum.

“Ma,” kata Jayen lirih, “aku kangen.”

Di seberang, terdengar tarikan napas yang pecah.

“Oh, Nak…” suara ibunya bergetar. “Ibu juga.”

Dan untuk pertama kalinya, Jayen mendengar ibunya menangis—bukan tangis drama, tapi tangis yang lama disimpan di bawah kosmetik dan jadwal sosial.

Malam itu, mereka tidak membahas uang. Tidak membahas reputasi. Tidak membahas siapa salah. Mereka hanya bicara seperti dua manusia yang sama-sama lelah dan sama-sama ingin pulang.

Jayen menutup telepon dengan dada sesak—tapi sesak yang melegakan, seperti luka yang akhirnya dibersihkan.

.

Beberapa minggu kemudian, Jayen mengundang beberapa orang ke unitnya: Maya, Ninggar, Sura, perempuan tetangga yang ia baru tahu bernama Mila, juga seorang satpam bernama Umar yang sering membantu mengangkat barang. Tidak ada formalitas. Tidak ada dress code.

Di meja makan, ada nasi hangat, sup bening, ayam panggang, salad, dan satu kue kecil dengan lilin—bukan untuk ulang tahun, tapi untuk merayakan sesuatu yang jarang dirayakan di kota: keberanian untuk jujur.

Mereka duduk, makan, tertawa pelan. Sura bercerita tentang anaknya yang ingin kuliah. Mila bercerita tentang ketakutannya menjadi ibu tunggal. Ninggar bercerita tentang program beasiswa yang hampir gagal. Maya bercerita tentang klien-klien yang terlihat hebat tapi rapuh.

Jayen mendengar, bukan sebagai bos, bukan sebagai investor, bukan sebagai lelaki yang harus tampak kuat. Ia mendengar sebagai manusia.

Di tengah obrolan, Jayen berkata, pelan tapi tegas, seperti membuat janji:

“Aku dulu pikir rumah itu tempat. Ternyata… rumah itu orang. Dan kadang, kita harus membangun rumah itu sendiri—dari kebaikan-kebaikan kecil.”

Maya tersenyum. Ninggar menatap Jayen dengan mata berkaca-kaca.

“Kalau besok kamu jatuh,” Ninggar berkata, “kamu tidak harus menghapus air mata sendirian.”

Jayen menunduk. Ia merasakan panas di mata, tapi kali ini ia tidak malu.

Karena ia akhirnya mengerti: tidak semua keluarga lahir dari darah. Ada keluarga yang lahir dari kepedulian. Dari pertanyaan sederhana yang ditanyakan dengan sungguh-sungguh.

Kamu… baik?

Di kota yang penuh lampu, pertanyaan itu adalah lilin kecil. Tidak mengusir gelap seluruhnya, tapi cukup untuk mengingatkan: gelap tidak harus ditanggung sendirian.

Dan malam itu, Jayen meniup lilin di atas kue kecil—dengan tepuk tangan yang akhirnya ia dengar, bukan dari dunia, tapi dari manusia-manusia yang memilih saling menjadi rumah.

.

.

.

Malang, 9 Januari 2025

Jeffrey Wibisono V.

.

.

#CerpenKompas #SastraUrban #RumahYangTakPernahBertanya #KesepianDewasa #CerpenIndonesia #KehidupanKota

Leave a Reply