Jam yang Tidak Pernah Disebut

“Yang paling melelahkan bukan bekerja.
Yang paling melelahkan adalah merasa harus selalu berarti.”

.

Jam itu tidak pernah disebut dalam rapat. Tidak tercantum di kalender korporat. Tidak muncul di undangan seminar. Tetapi jam itu selalu datang, seperti ketukan pelan yang menuntut jawaban tanpa suara: 03.30.

Ia terbangun beberapa detik sebelum alarm. Kadang ia membiarkan alarm tetap menyala sebentar, hanya untuk memastikan bahwa ia tidak mengarang kebiasaannya sendiri. Lalu ia mematikannya perlahan—seolah suara paling kecil pun bisa mengusir sesuatu yang sedang ia jaga: sunyi.

Di kamar yang masih gelap, ia duduk di tepi ranjang tanpa segera berdiri. Tubuhnya tidak lagi muda, tetapi ia mengenali tubuh itu seperti mengenali koridor hotel yang pernah ia kelilingi ribuan kali: ada sudut-sudut yang harus dilewati pelan, ada tangga yang tak boleh tergesa. Ia menarik napas panjang. Dada terasa penuh, bukan oleh penyakit, melainkan oleh kebiasaan berpikir yang tidak pernah selesai.

Di sebelahnya, Sekartaji tidur menghadap dinding. Bahunya naik-turun. Kadang jemarinya bergerak kecil, entah karena mimpi atau karena dingin. Ia menatap punggung itu lama—seperti seseorang yang membaca ulang kalimat yang pernah ia abaikan padahal paling penting.

Ada masa ketika ia mencoba tidur lebih lama. Mengistirahatkan diri seperti orang yang merasa sudah selesai. Tetapi setiap kali ia bangun selepas matahari, ada sesuatu yang tertinggal di dalam dirinya: bukan jadwal, bukan tugas, melainkan rasa—rasa kehilangan arah yang sulit dijelaskan. Seolah hidup yang selama ini ia jalani dengan ritme ketat mendadak menjadi ruang kosong yang gaungnya membuat kepala pening.

Ia berdiri. Kakinya menyentuh lantai dingin. Ia melangkah ke kamar mandi. Air dingin memukul kulitnya, dan ia tidak menutup mata. Dingin itu seperti pengingat: hidup yang nyata jarang hangat. Ia mengeringkan tubuh, mengenakan pakaian yang sudah disiapkan semalam. Tidak ada ritual besar. Ia belajar, terlalu banyak ritual hanya membuat orang lupa pada maksud.

Tas kecil sudah menunggu: buku catatan tipis, pulpen, dompet, dan rosario yang warnanya memudar—benda yang jarang ia ceritakan kepada siapa pun, tetapi sering ia genggam, terutama ketika hidup terasa terlalu bising.

Di dapur, ia meneguk air hangat. Ia tidak membuat kopi. Bukan karena pantang, melainkan karena ia ingin pagi tetap bening. Pada jam ini, ia tidak perlu semangat palsu. Ia hanya perlu hadir.

Ia melirik kamar sekali lagi. Sekartaji bergerak sedikit. Ia menahan napas, seperti takut pintu yang berderit dapat membangunkan sesuatu yang rapuh. Ia menutup pintu pelan. Lorong apartemen sunyi. Lampu sensor menyala sebentar lalu padam lagi, seolah dunia hanya menoleh sesaat, lalu kembali acuh.

Di lobi, satpam mengangguk dengan sopan yang nyaris sama tiap hari.

“Pagi, Pak.”

Ia mengangguk balik. Tidak banyak kata. Ada jenis sapaan yang cukup menjadi penanda: masih hidup, masih berangkat, masih mencoba menjaga ritme.

Pukul 04.30 kendaraan daring menjemputnya. Ia duduk di kursi belakang. Kota belum sepenuhnya bangun, tetapi juga tidak pernah tidur sepenuhnya. Ada warung yang baru membuka tirai. Ada pedagang sayur melintas. Ada perempuan menyapu teras kios dengan gerakan lambat. Ada lampu jalan yang belum dipadamkan—seperti urat-urat yang tetap menyala ketika manusia memejamkan mata.

Ia memandangi semuanya tanpa menilai. Dulu, ia juga bergerak pada jam seperti ini—menuju bandara, menuju hotel lain, menuju kota lain—dengan agenda padat, dengan rasa penting yang menempel di dada. Kini, ia bergerak tanpa atribut. Tanpa jabatan. Tanpa kartu nama yang dulu selalu ia simpan di saku. Ia tidak merasa kehilangan, tetapi juga tidak sepenuhnya bebas. Ada ruang kosong yang sesekali menganga, dan ia menutupnya dengan disiplin kecil.

Kapel itu tidak mencolok. Terjepit di antara gedung-gedung kantor yang siang hari penuh rapat dan malam hari kosong seperti cangkang. Pintu kayunya sederhana. Tidak ada penunjuk besar, tidak ada ajakan. Ia masuk tanpa suara.

Beberapa orang sudah duduk. Seorang ibu dengan tas belanja. Seorang lelaki muda dengan kartu identitas masih menggantung di leher. Seorang mahasiswa menahan kantuk. Mereka tidak saling mengenal, tidak saling menyapa. Tetapi duduk berdampingan dengan keheningan yang sama, seolah ada kesepakatan tak tertulis: biarkan tiap orang membawa bebannya sendiri, tanpa perlu ditanya.

Pukul 05.00 ia menutup mata. Doanya tidak panjang. Ia sudah lama berhenti berdoa seperti menyusun proposal. Ia lebih sering mengucap terima kasih—pada tubuh yang masih mau bangun, pada rumah yang masih menunggu, pada kesempatan memperbaiki diri tanpa harus jatuh terlalu jauh.

Namun pagi itu, sebuah pertanyaan lama datang kembali, datangnya tanpa diundang—pertanyaan yang dulu terucap di ruang penuh lampu dan tepuk tangan:

“Kalau tidak ada jabatan, kamu mau jadi apa?”

Pertanyaan itu pernah ia jawab cepat, terlalu cepat, karena ia tidak suka terlihat ragu. Waktu itu ia tertawa kecil, mengelak, mengatakan hal yang terdengar aman. Tapi kini ia mengerti: pertanyaan itu tidak menuntut jawaban lisan. Pertanyaan itu menuntut hidup yang konsisten.

Ibadah selesai pukul 06.00. Ia berdiri. Ia tidak tergesa keluar. Ia menatap ke depan sebentar, lalu melangkah. Hari ini ia memilih pulang berjalan kaki.

Jaraknya tidak jauh: dua kilometer. Tetapi dua kilometer itu terasa seperti sesuatu yang tidak masuk CV—dan barangkali memang tidak perlu masuk. Ia berjalan pelan. Udara pagi masih bersih. Di tikungan pertama, bau minyak goreng menyapa. Warung streetfood sudah buka. Lintang, perempuan muda yang menata jajanan, tersenyum.

“Pagi, Om.”

Ia mengangguk, membeli dua risoles dan kopi susu kecil. Mereka tidak bicara banyak, hanya beberapa kalimat yang ringan. Tentang jam buka. Tentang harga minyak yang naik. Tentang ibu di kampung yang masih menunggu kiriman. Ia melihat di mata Lintang sesuatu yang jarang muncul di ruang rapat: daya tahan yang tidak punya panggung.

Ia melanjutkan berjalan. Membeli koran dari lelaki tua yang berdiri di pinggir jalan. Penjual itu tersenyum, giginya tinggal beberapa.

“Masih ada yang beli koran?” tanya lelaki itu seperti bercanda.

“Masih,” jawabnya, dan memasukkan koran ke tas tanpa langsung membacanya. Ia menyukai bau kertas—bau yang membuat hidup terasa tidak sepenuhnya layar.

Ia melewati sekolah internasional berpagar tinggi. Spanduk pendaftaran tergantung rapi. Lapangan hijau di dalam tampak seperti karpet baru. Ia pernah berdiri di tempat-tempat seperti itu, berbicara tentang masa depan anak, tentang investasi pendidikan. Tetapi tiap kali melihat pagar tinggi, ia selalu teringat: kelas menengah sering membangun tembok untuk rasa aman, lalu lupa bahwa rasa aman juga membutuhkan kehadiran.

Ia berjalan melewati baliho apartemen mewah, iklan investasi, promosi kursus bahasa. Semua menjanjikan hidup yang lebih cepat, lebih tinggi, lebih banyak. Ia tidak sinis. Ia hanya tahu: kelas menengah tidak selalu runtuh karena miskin, tetapi karena lupa berhenti. Karena terlalu lama hidup sebagai fungsi. Terlalu lama menjadi jabatan. Terlalu lama memelihara citra sampai lupa tubuh punya batas.

Langkahnya membawa ia pulang. Di rumah, Sekartaji sudah bangun. Teh hangat menunggu. Tidak banyak kata. Mereka sudah melewati cukup banyak hidup untuk tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam.

Ia duduk di meja kerja. Laptop menyala. Pesan masuk. Email terbuka. Notifikasi melintas. Dunia digital bergerak tanpa jeda.

Ia menulis. Bukan untuk mengejar viral. Ia menulis untuk merapikan pikirannya sendiri, agar pengalaman yang panjang tidak berubah menjadi beban yang busuk di dalam kepala. Ia juga menjual buku—bukan mimpi instan, bukan janji-janji kilat. Ia menjual pengalaman yang sering tidak sedap diceritakan: kegagalan, salah baca orang, rapuhnya tim, pecahnya komunikasi, dan cara bangkit yang tidak selalu heroik.

Empat puluh tahun di industri perhotelan dan pariwisata mengajarkannya satu hal: keramahan bisa menjadi topeng, dan topeng yang dipakai terlalu lama akan menempel pada wajah. Ia tidak ingin hidupnya berubah menjadi topeng.

Pagi itu, sebuah pesan masuk yang membuat jemarinya berhenti sebentar.

Dari Ragil.

Ragil adalah salah satu wajah kelas menengah baru: pendidikan bagus, jejaring luas, kepercayaan diri tinggi. Dalam beberapa tahun, Ragil melompat cepat—jabatan, proyek, kendaraan, apartemen, gaya hidup. Ragil tampak seperti contoh sukses yang dicari banyak orang. Tetapi pesan itu pendek dan terasa berat: “Mas, bisa ketemu? Urgent.”

Ia menutup laptop pelan. Tidak ada kepanikan, tetapi ada rasa yang sulit diabaikan: hidup sering mengembalikan pertanyaan yang dulu tidak diselesaikan.

Siang itu, ia duduk di kafe dekat kantor lamanya. Kafe itu berubah: desain lebih modern, musik lebih keras, menu lebih mahal. Tetapi aroma kopi masih sama. Ragil datang terlambat, sepuluh menit. Wajahnya rapi, tetapi matanya seperti habis mengangkat sesuatu yang terlalu berat.

“Aku kacau,” kata Ragil tanpa pembukaan. Jam mahal di tangannya menyala, tetapi kilau itu tidak membantu apa pun.

Ragil bercerita tentang hotel yang baru dibuka, tentang investor yang menuntut angka, tentang tim yang pecah, tentang komplain tamu yang beruntun, tentang media sosial yang menggigit. Ragil bercerita cepat, seperti orang yang takut jika ia diam, ia akan runtuh.

Ia mendengarkan tanpa memotong. Ia mengaduk teh hangatnya pelan. Ketika Ragil selesai, ia bertanya satu hal, pelan:

“Yang kamu selamatkan itu apa?”

Ragil terdiam. Matanya berkedip-kedip, seperti mencari jawaban di tempat yang tidak pernah ia masuki.

“Nama,” kata Ragil akhirnya, hampir berbisik. “Reputasi.”

Ia tidak tertawa. Ia hanya mengangguk, seolah paham bahwa banyak orang tenggelam bukan karena kekurangan strategi, melainkan karena ketakutan kehilangan wajah.

“Kamu capek?” tanyanya lagi.

Ragil menelan ludah. “Capek. Tapi kalau berhenti, aku takut dianggap gagal.”

Ia memandang Ragil sebentar. Ia tidak menawarkan solusi instan. Ia tidak menjanjikan “nanti pasti bisa”. Ia hanya mengatakan sesuatu yang terdengar sederhana, tetapi sering paling sulit:

“Kalau kamu terus bergerak dalam panik, kamu akan menyelamatkan yang salah.”

Ragil menunduk. Bahunya turun. Ada air di sudut matanya, tetapi ia menahannya, seperti orang yang terlalu lama dilatih untuk kuat di depan publik.

Ia menyarankan Ragil melakukan hal-hal kecil: datang lebih pagi, mendengar lebih lama, menunda pembelaan diri, memperjelas peran tim, membangun ritme kerja yang tidak memakan manusia. Ia tidak menyebutnya “metode”. Ia tidak menamai seolah itu formula. Ia hanya menyebutnya kebiasaan yang harus dipelihara.

“Kalau aku mulai, aku mulai dari mana?” tanya Ragil.

Ia menatap Ragil, lalu menjawab tanpa dramatis:

“Mulai dari pagi.”

Ragil mengangkat kepala. Ia seperti baru sadar bahwa selama ini ia mengejar puncak tanpa merawat dasar. Ragil mengangguk pelan, seperti orang yang akhirnya mau menerima: ada hal yang tidak bisa diburu.

Perubahan Ragil tidak terjadi dalam semalam. Tidak ada adegan besar. Tidak ada lonjakan angka yang layak dipamerkan. Tetapi beberapa minggu kemudian, Ragil mengirim pesan: timnya mulai bisa duduk bersama tanpa saling menyalahkan. Komplain berkurang. Operasional membaik. Ragil tidak menulis, “Terima kasih telah menyelamatkan.” Ragil menulis, “Terima kasih sudah menahan aku agar tidak menjadi orang yang tergesa.”

Ia membaca pesan itu lama. Lalu ia menutup ponsel dan diam sebentar. Tidak semua percakapan membutuhkan jawaban.

Di hari lain, ia menghadiri rapat organisasi relawan. Ruangannya biasa. Orang-orangnya beragam: pengusaha, dosen, dokter, pegawai, ibu rumah tangga. Di sana tidak ada yang memanggilnya dengan gelar. Tidak ada panggung. Tidak ada honor. Hanya kerja yang harus selesai dan orang yang harus dibantu.

Ia menyukai tempat seperti itu. Ia merasa lebih ringan ketika tidak perlu mempertahankan citra.

Namun tubuh sering punya agenda sendiri.

Suatu sore, dokter menyebut tekanan darah. Kata-kata dokter terdengar datar, tetapi bagi Sekartaji, itu cukup untuk membuat wajahnya berubah. Di rumah, Sekartaji menaruh obat di meja dan menatapnya dengan mata yang tidak marah, hanya khawatir.

“Pelan,” kata Sekartaji.

Ia tidak langsung setuju. Ada bagian dari dirinya yang menolak diam—seolah berhenti berarti lenyap. Ia terbiasa menjadi orang yang dibutuhkan. Ia terbiasa merasa berarti karena berguna. Ketika diminta melambat, ia seperti diminta menghapus identitas yang selama ini ia rawat.

Malam itu ia sulit tidur. Ia menatap langit-langit kamar. Ia mendengar napas Sekartaji yang pelan. Di antara gelap, ia merasakan sesuatu yang jarang ia beri nama: takut. Bukan takut mati. Takut tidak penting. Takut menjadi orang yang lewat tanpa dicatat.

Pagi berikutnya, jam yang sama datang lagi: 03.30. Ia bangun, tetapi kali ini tubuhnya tidak langsung ringan. Ia duduk lebih lama di tepi ranjang. Ia merasakan detak di pelipisnya. Ia mendengar suara dalam kepala yang bertanya tanpa belas kasihan:

Kalau suatu hari kamu tidak bisa bangun seawal ini, kamu masih siapa?

Ia tidak punya jawaban yang rapi. Ia hanya berdiri pelan, mengambil air, berdoa singkat, lalu berangkat. Rutinitasnya tetap sama, tetapi maknanya bergeser. Ia mulai mengurangi jadwal. Ia mulai menolak proyek yang hanya mengejar nama. Ia mulai tidur sedikit lebih siang, tidak sebagai kemewahan, tetapi sebagai cara menghormati batas.

Ia masih berjalan dua kilometer pulang dari kapel, tetapi langkahnya lebih pelan. Ia berhenti sejenak ketika melihat matahari mulai naik di sela gedung. Ia mengingat hal yang dulu ia tahu tetapi sering ia abaikan: hidup itu tidak sedang lomba.

Suatu pagi, di pinggir trotoar, ia melihat seorang pria muda duduk menunduk, menatap kosong. Pakaian kantor kusut, tas selempang diletakkan di samping. Ia berhenti.

“Kamu kenapa?” tanyanya pelan.

Pria itu menoleh, matanya merah. “Baru di-PHK. Bingung.”

Ia tidak mengeluarkan pidato. Ia duduk sebentar di tepi trotoar, menjaga jarak agar tidak menggurui. Ia hanya bertanya pekerjaan apa, sudah berapa lama, apa yang membuatnya paling takut.

Pria itu menjawab terbata-bata, “Saya takut pulang. Takut ditanya.”

Ia mengangguk. Ia paham jenis takut itu. Takut yang bukan soal uang semata, tetapi soal wajah di rumah.

Ia membuka kantong kecil dari warung tadi, menyerahkan satu risoles.

“Ini,” katanya. “Makan dulu.”

Pria itu kaget, menolak halus, tapi akhirnya menerima. Ia menggigit pelan. Seperti orang yang baru sadar bahwa tubuhnya belum makan sejak kemarin.

Ia berdiri. Tidak ada kalimat penutup yang indah. Ia hanya berkata:

“Jangan buru-buru menjelaskan apa-apa hari ini. Pulang saja dulu.”

Pria itu menatapnya lama, seperti ingin mengucap terima kasih tetapi malu. Ia mengangguk kecil.

Ia melangkah lagi. Di sepanjang jalan pulang, ia memikirkan betapa banyak orang di kota ini hidup dengan beban yang tidak terlihat. Kelas menengah yang tampak mapan ternyata sering rapuh di dalam. Karena masyarakat mengajarkan: tampil rapi, jangan terlihat kalah.

Di rumah, Sekartaji menunggunya dengan teh hangat. Ia meletakkan tas, menghela napas, lalu duduk. Sekartaji tidak bertanya banyak. Sekartaji hanya menatapnya sejenak, seolah memastikan ia pulang dengan utuh.

Pukul 03.30 akan selalu datang—sampai suatu hari ia tidak lagi datang untuknya. Ia tidak bisa menawar itu. Tetapi selama ia masih bisa memilih, ia akan memilih sunyi. Ia akan memilih kebiasaan kecil yang menjaga dirinya agar tidak terseret oleh bising.

Pagi itu, seperti pagi-pagi sebelumnya, ia menutup pintu tanpa suara. Jam di ponselnya menunjukkan angka yang sama. Kota masih gelap.

Ia melangkah.

Dan tidak ada yang mencatatnya.

.

.

.

Malang, 4 Januari 2026

Jeffrey Wibisono V.

.

.

#CerpenKompas #KompasMinggu #RefleksiHidup #RutinitasPagi #DisiplinSunyi #MaknaHidup #KelasMenengah #RitmeHidup

Leave a Reply