Harga Sebuah Sikap
“Bukan peristiwa yang mengacaukan hidup kita, melainkan penilaian kita atas peristiwa itu. Dan setiap penilaian—setiap sikap—selalu menagih harga.”
.
Jakarta tidak pernah benar-benar gelap. Bahkan ketika jam menunjukkan lewat tengah malam, kota itu tetap menyala—bukan seperti rumah yang menyalakan lampu agar penghuninya tidak tersandung, melainkan seperti panggung yang menolak turun tirai.
Langit duduk di kursi belakang mobil dinas, menatap bayangan dirinya sendiri di kaca. Wajahnya rapi: rambut disisir, kemeja putih, jam tangan yang sering disebut “investasi.” Namun mata di pantulan itu bukan mata yang pulang. Mata itu seperti sedang mengawal sesuatu—sejenis kewajiban—yang bahkan tidak ia sukai lagi.
Jaka, sopirnya, menyetir dengan halus. Ia sudah hafal cara membawa mobil tanpa membuat Langit pusing, tanpa membuat Langit terganggu. Ia paham: sebagian orang di kelas tertentu membeli ketenangan, bukan waktu.
“Lewat tol saja, Pak?” tanya Jaka pelan.
Langit mengangguk. Ia selalu memilih cepat. Sejak lama ia percaya, lambat adalah dosa kecil yang akan tumbuh menjadi kegagalan. Ia dibesarkan oleh kalender, oleh angka, oleh presentasi, oleh target yang menuntut dipenuhi, bukan dipahami.
Di pangkuannya, ponsel bergetar. Layar menyala. Satu pesan masuk, singkat, tanpa salam, tanpa kata pengantar, seolah pengirimnya pun kehabisan napas.
Bu masuk ICU.
Langit membaca sekali. Dua kali. Tiga kali. Ia menunggu panik menyergap, tetapi yang datang justru sunyi. Sunyi yang mengembang di dada, berat, dingin, seperti lantai marmer di lobi hotel bintang lima—indah dilihat, tapi tidak pernah benar-benar hangat.
Ia menutup layar. Tangannya menggenggam ponsel, seakan menggenggamnya bisa menggenggam keadaan.
“Ke mana, Pak?” tanya Jaka, masih menatap jalan.
Langit tidak menjawab langsung. Di kepalanya, hidup mendadak seperti berantakan. Bukan karena ia tidak tahu rumah sakit mana, melainkan karena ia tidak tahu harus bersikap apa.
Ia terbiasa mengendalikan rapat, mengendalikan tim, mengendalikan narasi. Ia bisa memutar arah opini di ruang boardroom hanya dengan memilih kata: “strategi,” “efisiensi,” “sinergi.” Tetapi ICU adalah ruang yang tidak bisa dipengaruhi oleh intonasi.
“Bandara,” kata Langit akhirnya.
Jaka menoleh lewat spion, sebentar saja, cukup untuk memastikan ia tidak salah dengar. “Sekarang, Pak?”
Langit mengangguk. “Sekarang.”
Mobil berbelok. Jakarta tetap bising. Namun di dalam mobil, tiba-tiba ada kesunyian yang terasa seperti hukuman.
.
Di ruang tunggu bandara, Langit duduk sendiri. Ia sudah mengirim pesan ke sekretaris: batalkan agenda dua hari. Ia sudah menghubungi Panji—atasannya yang belakangan lebih sering menyebut Langit “aset” daripada “orang”—untuk bilang ia harus keluar kota. Ia sudah menolak panggilan Damar, rekan bisnisnya, dua kali.
Ketika panggilan ketiga masuk, ia mengangkat, lebih karena lelah daripada niat.
“Langit,” suara Damar seperti selalu: cepat, percaya diri, seolah dunia mengikuti ritmenya. “Kamu di mana? Kita punya call sama investor jam sepuluh. Kamu nggak muncul, habis kita.”
“Aku harus ke Malang,” kata Langit singkat.
“Malang? Buat apa?”
“Ibuku.”
Hening sekejap. Lalu suara Damar turun menjadi nada yang ia kira empati. “Oh… ya, turut. Tapi bro, investor itu nggak nunggu. Kamu bisa mampir nanti. Sekarang kamu masuk call dulu, sepuluh menit juga cukup.”
Langit memejamkan mata. Kata “mampir” itu jatuh seperti paku kecil: tidak berdarah, tapi menembus.
“Sepuluh menit,” ulang Langit, pelan.
“Iya. Cuma sepuluh menit. Kamu kan jago. Kamu bisa bikin mereka yakin lagi. Setelah itu terserah kamu mau drama di mana.”
Drama.
Langit membuka mata. Ia menatap orang-orang yang lalu-lalang membawa koper. Ada yang tersenyum, ada yang cemberut, ada yang menatap kosong. Ia berpikir: mungkin semua orang sedang membawa “drama” masing-masing, hanya saja sebagian menyimpannya dalam koper, bukan di wajah.
“Aku nggak bisa,” kata Langit.
“Langit—”
“Aku nggak bisa,” ulangnya, lebih tegas.
Damar menghela napas kasar. “Oke. Tapi ingat, semua keputusan ada konsekuensinya. Hidup ini nggak gratis.”
Telepon ditutup.
Kalimat terakhir Damar menggantung, menempel di telinga seperti iklan yang tidak bisa di-skip.
Hidup ini nggak gratis.
Langit tertawa kecil, pahit. Ia baru sadar: selama ini ia hidup seolah-olah banyak hal gratis—waktu ibu, doa ibu, sabar ibu. Ia mengambilnya seperti fasilitas, seperti layanan kamar yang ia pesan tanpa memikirkan siapa yang mencuci seprai.
Panggilan boarding terdengar. Langit berdiri. Kakinya terasa ringan, bukan karena ia bahagia, tetapi karena ada sesuatu yang lama mengikatnya dan kini mulai longgar: ilusi kendali.
.
Malang menyambutnya dengan udara dingin dan jalan-jalan yang lebih manusiawi. Tidak ada gedung-gedung tinggi yang memamerkan kuasa. Yang ada hanya pohon, lampu jalan kuning, dan rumah-rumah yang seperti mengingatkan: hidup bisa sederhana jika kita tidak memaksa menjadi besar.
Di rumah sakit, bau antiseptik menyergap. Lorong menuju ICU panjang, dingin, dan bersih—terlalu bersih untuk menyimpan semua tangis yang lewat di situ.
Di ruang tunggu, beberapa orang duduk, sebagian memeluk tas, sebagian menunduk. Di salah satu kursi, seorang perempuan berkemeja putih dan celana bahan duduk dengan map di pangkuan. Rambutnya rapi, wajahnya tenang, tapi ada lelah yang tidak bisa ditutupi oleh kerapian.
Langit mengenali wajah itu sebelum ia mengenali suara.
“Langit?” perempuan itu berdiri.
Rara.
Ia pernah duduk sebangku dengan Langit di SMA, di masa ketika hidup terasa seperti ujian yang jawabannya sudah disiapkan. Rara selalu mendapat nilai terbaik. Langit selalu mendapat nilai baik karena ambisinya memaksa.
“Rara,” kata Langit, dan namanya keluar pelan, seperti sesuatu yang ia simpan lama.
“Kamu… datang,” Rara tersenyum kecil, senyum orang yang tidak ingin berlebihan di tempat seperti ini. “Aku jaga malam ini. Ibukamu… kritis, tapi stabil.”
Langit mengangguk, menelan ludah. “Aku telat ya.”
Rara menatapnya sebentar. Matanya seperti memeriksa sesuatu yang bukan tekanan darah.
“Yang telat itu bukan datangnya,” kata Rara. “Yang telat itu menyadari.”
Langit ingin membantah, tapi ia tahu Rara benar. Ia datang bukan karena ia terlatih menjadi anak. Ia datang karena keadaan memaksanya. Dan ia benci menyadari itu.
Rara mengambil kartu akses, mengajaknya masuk. “Kamu boleh lihat sebentar. Jangan lama.”
Di dalam, ibunya terbaring. Mayang—nama itu tiba-tiba terdengar seperti doa. Wajah ibu pucat, selang menempel, mesin berdetak ritmis. Langit duduk di samping ranjang, menggenggam tangan ibu yang dingin.
“Bu…” suaranya pecah di awal. Ia berhenti, mengatur napas. “Aku pulang.”
Tidak ada jawaban. Tetapi Langit merasa genggaman tangannya sendiri berubah: dari kuat menjadi memohon.
Ia menunduk. Ada air mata yang mendesak, tetapi ia menahannya, kebiasaan lama: jangan terlihat lemah, jangan terlihat rapuh. Kebiasaan yang dibangun dari rapat demi rapat, dari presentasi demi presentasi, dari dunia yang percaya emosi adalah gangguan.
Namun di ICU, semua topeng terasa konyol.
“Maaf, Bu,” bisiknya.
Ia tidak tahu maaf untuk apa. Untuk tidak pulang? Untuk tidak menelpon? Untuk menjadikan ibu sebagai latar belakang? Untuk menganggap cinta ibu tidak berharga karena terlalu sering diberikan?
Langit keluar dengan langkah berat. Di luar, Rara menunggu.
“Dia dengar?” tanya Langit, seperti anak kecil.
“Kadang iya,” jawab Rara. “Kadang tubuh tidak merespons, tapi otak masih mendengar. Kamu bicara saja.”
Langit mengangguk. Ia ingin bertanya banyak hal, tetapi lidahnya kelu. Ia hanya mampu mengangguk seperti orang yang baru belajar bahasa baru.
.
Hari pertama Langit tidur di kursi ruang tunggu. Ia menolak hotel. Ia menolak pulang ke rumah lama yang sudah lama ia tinggalkan. Ia memilih tidur di tempat yang tidak nyaman, seolah ingin menebus sesuatu dengan ketidaknyamanan.
Pagi, ponselnya meledak oleh notifikasi. Panji menanyakan update. Sekar—rekan satu divisi “Brand & Experience”—mengirim draft pitch deck. Kerta—kepala keuangan proyek Batu—mengirim angka terbaru, lengkap dengan tanda seru yang mengisyaratkan panik. Ada pula pesan dari ibu-ibu arisan lama, entah dapat nomor dari mana, mengirim doa dan emotikon tangan menangkup.
Langit memandangi semua itu. Ia baru sadar: hidupnya selama ini seperti jaringan laba-laba. Ia terhubung ke banyak orang, tetapi sebagian besar koneksi itu hanya tali yang menarik, bukan tangan yang memeluk.
Siang, Damar datang.
Ia muncul di lorong rumah sakit dengan pakaian rapi, sepatu bersih, dan wajah yang seperti tidak cocok di tempat ini. Di tangan kirinya, ada buket bunga. Di tangan kanannya, ponsel yang sesekali ia lihat, seolah berita paling penting bukan kondisi pasien, tapi pergerakan investor.
“Bro,” Damar memeluk Langit cepat. “Gila, aku langsung ke sini.”
Langit menerima pelukan itu tanpa hangat. Ia tidak benci Damar. Ia hanya lelah pada jenis manusia yang selalu datang membawa agenda.
“Ini buat Bu kamu,” kata Damar, menyerahkan bunga. “Kamu taruh ya.”
Langit mengangguk. “Makasih.”
Damar menepuk bahu Langit. “Sekarang begini. Investor dari Singapura minta ketemu jam lima. Offline. Mereka kebetulan di Batu. Kamu harus hadir. Kamu kan yang paling bisa menjual ‘kenapa’. Kita butuh kamu.”
Langit menatap Damar, lalu menoleh ke pintu ICU.
“Aku nggak bisa.”
Damar tertawa kecil, seolah Langit sedang bercanda. “Langit… realistis. Ibumu ditangani dokter. Kamu duduk di sini pun nggak mengubah apa-apa.”
Kalimat itu logis. Dan justru karena itu, ia kejam.
Langit merasakan panas di dada. Ia menatap Damar lama. “Kamu pernah nunggu orang yang kamu sayang hampir pergi?”
Damar diam sebentar, lalu mengangkat bahu. “Bro, jangan bawa perasaan ke bisnis.”
Langit tersenyum pahit. “Selama ini aku sudah melakukan itu. Dan tahu hasilnya? Aku jadi manusia yang pandai bicara, tapi tidak pandai merasa.”
Damar menghela napas. “Oke. Aku ngerti kamu emosional. Tapi investasi itu bukan soal emosi. Kamu nggak hadir, mereka bisa cabut.”
Langit menatap bunga di tangan. “Semua hal yang kamu sebut itu selalu bisa dicari lagi. Investor bisa dicari. Proyek bisa diganti. Uang bisa dikejar. Tapi waktu… waktu yang hilang dengan ibu… nggak bisa aku beli.”
Damar menatap Langit seperti menatap orang yang baru saja merusak rumus.
“Kamu berubah,” gumam Damar.
“Belum,” kata Langit. “Aku baru sadar aku harus berubah.”
Damar menyeringai. “Hidup ini nggak gratis, Langit.”
Langit mengangguk pelan. “Aku tahu. Selama ini aku bayar mahal. Bukan dengan uang. Tapi dengan diriku sendiri.”
Damar pergi, buket bunga yang ia bawa tadi terasa seperti simbol: indah, tapi tidak punya akar.
.
Malam itu, Rara duduk di sebelah Langit di ruang tunggu. Ia baru selesai shift. Wajahnya lelah, tapi matanya masih punya semacam cahaya: cahaya orang yang memilih hidupnya, bukan didorong hidupnya.
“Kamu kenal Damar?” tanya Rara.
“Kenal,” kata Langit. “Teman bisnis.”
Rara mengangguk. “Dia tipe yang selalu yakin hidup bisa dikendalikan.”
Langit tertawa kecil. “Aku dulu juga begitu.”
Rara menatapnya. “Kenapa berubah?”
Langit memandang pintu ICU. “Karena aku baru sadar, kendali itu… bukan punya kita. Selama ini aku merasa hebat karena bisa mengatur banyak hal. Tapi ternyata yang bisa aku atur hanya satu hal: caraku merespons.”
Rara tersenyum tipis. “Akhirnya kamu sampai situ.”
“Kamu sudah lama di situ?” tanya Langit.
Rara menunduk sebentar, seperti mengingat sesuatu. “Aku belajar pelan-pelan. Kadang dari pasien. Kadang dari kehilangan.”
Langit ingin bertanya kehilangan apa, tapi ia menahan. Ia baru belajar: tidak semua cerita harus dibuka dengan rasa ingin tahu; sebagian harus dihormati dengan diam.
“Kamu capek?” tanya Rara.
Langit terkejut. Pertanyaan itu sederhana, tapi di dunia Langit, pertanyaan itu jarang muncul. Orang-orang lebih sering bertanya: target tercapai? KPI aman? presentasi siap?
“Iya,” jawab Langit pelan. “Capek.”
Rara mengangguk. “Capek itu bukan musuh. Capek itu alarm. Tanda kamu hidup terlalu jauh dari dirimu sendiri.”
Kalimat itu masuk pelan, tapi menetap.
.
Pagi berikutnya, Mayang sadar sebentar. Rara memanggil Langit cepat.
Langit masuk, jantungnya berdegup seperti anak kecil yang takut terlambat lagi.
Ibu menoleh pelan. Matanya masih lemah, tapi hangat. Ia menatap Langit lama, seolah mengukur sesuatu yang tidak terukur: apakah anaknya masih anaknya.
“Kamu… pulang juga,” suara ibu lirih.
Langit duduk, menggenggam tangan itu. “Iya, Bu.”
Ibu tersenyum tipis. “Kerja itu… jangan bikin kamu lupa jadi manusia.”
Langit mengangguk. Dadanya sesak.
Ibu menghela napas. “Kamu… capek ya?”
Pertanyaan itu.
Pertanyaan yang selama ini Langit tidak pernah dapat dari rapat, dari investor, dari panggung presentasi. Pertanyaan yang seperti membuka pintu di dalam dirinya yang sudah lama terkunci.
“Iya, Bu,” suaranya pecah. “Capek.”
Ibu menekan tangan Langit pelan. “Kalau capek… pulang.”
Langit menangis. Ia tidak menahan. Ia membiarkannya turun seperti hujan yang akhirnya menyerah.
Di luar, mesin tetap berbunyi. Tetapi di dada Langit, sesuatu yang lebih penting bergerak: ia merasa, untuk pertama kalinya, hidup tidak sedang ia kejar. Hidup sedang ia peluk.
.
Hari keempat, ibu dipindahkan dari ICU ke ruang perawatan biasa. Kondisinya belum benar-benar aman, tetapi stabil. Kata “stabil” terasa seperti hadiah yang tidak terduga.
Langit mengantar ibu ke kamar baru. Ia menata bantal, menata selimut. Ia mendadak menjadi orang yang sabar. Hal-hal kecil yang dulu ia anggap remeh—menyeka keringat, menuang air hangat, memanggil perawat dengan sopan—kini terasa seperti latihan menjadi manusia.
Siang, Damar kembali datang. Kali ini wajahnya lebih tegang. Tidak ada bunga.
“Kamu harus ikut call sekarang,” kata Damar. “Mereka mau keputusan hari ini.”
Langit menatap Damar, lalu menatap ibu yang tidur.
“Aku bisa ikut dua puluh menit,” kata Langit. “Setelah itu aku kembali ke sini.”
Damar mendelik. “Dua puluh menit? Kamu kira ini rapat keluarga?”
Langit tersenyum kecil. “Justru ini rapat keluarga. Yang itu rapat bisnis.”
Damar ingin marah, tapi menahan. “Langit, kamu nggak realistis.”
Langit menatap Damar dengan tenang. “Aku baru realistis sekarang. Realistis bahwa proyek itu bisa gagal. Realistis bahwa orang tua bisa pergi. Realistis bahwa yang paling kita sesali nanti bukan angka, tapi momen.”
Damar terdiam.
Langit melanjutkan, suaranya pelan, tidak menghakimi. “Aku nggak minta kamu setuju. Aku cuma minta kamu paham: aku memilih sikap.”
Damar mendengus. “Sikap nggak bayar tagihan.”
Langit mengangguk. “Betul. Makanya aku tetap bekerja. Tapi aku nggak mau lagi menukar hidupku dengan ketakutan.”
Mereka akhirnya melakukan call. Langit bicara ringkas, jernih, tidak menjual mimpi berlebihan. Ia menjelaskan risiko, menjelaskan rencana mitigasi, menjelaskan batasan. Anehnya, investor justru lebih tenang. Mereka terbiasa mendengar orang “menjual,” tetapi jarang mendengar orang “mengaku.”
Selesai dua puluh menit, Langit menutup laptop.
“Udah?” tanya Damar.
“Udah,” jawab Langit.
“Kamu nggak mau follow up? Dorong lagi? Biar mereka yakin?”
Langit menatap Damar. “Keyakinan yang dibangun dari paksaan itu rapuh. Aku nggak mau membangun hal rapuh lagi.”
Damar memandangnya lama, seperti melihat orang lain dalam tubuh yang sama.
“Kamu akan menyesal,” kata Damar akhirnya.
Langit tersenyum tipis. “Aku sudah terlalu lama menyesal, Mar. Aku nggak mau menyesal karena hal yang sama.”
.
Beberapa hari berikutnya, Langit menjalani rutinitas yang tidak pernah ada di jadwalnya: menunggu. Menunggu dokter. Menunggu obat. Menunggu hasil lab. Menunggu ibu tidur. Menunggu ibu bangun.
Menunggu, bagi orang seperti Langit, dulu adalah bentuk kegagalan. Menunggu berarti tidak produktif. Menunggu berarti kehilangan waktu. Menunggu berarti tidak mengendalikan.
Namun ia mulai mengerti: menunggu bisa menjadi bentuk keberanian. Berani tinggal di satu tempat, tidak lari. Berani menghadapi rasa bersalah tanpa menutupnya dengan kesibukan.
Di kantin rumah sakit, ia melihat seorang pria muda berpakaian rapi menangis diam-diam di sudut. Ia melihat seorang anak SMA memeluk ibunya yang terbaring. Ia melihat seorang bapak tua duduk sendiri, menatap tangan sendiri seolah tangan itu menyimpan jawaban.
Langit merasa malu. Ia hidup di kota besar, bertemu banyak orang, tetapi selama ini ia tidak pernah benar-benar melihat manusia. Ia hanya melihat peran: investor, klien, tim, pesaing. Semua orang adalah fungsi.
Rara duduk di hadapannya suatu sore, membawa dua gelas kopi.
“Kamu kelihatan lebih… pelan,” kata Rara.
Langit tertawa kecil. “Aku baru tahu pelan itu tidak selalu kalah.”
Rara mengangguk. “Pelan itu kadang cara tubuh bilang: ‘aku ingin hidup, bukan sekadar berjalan.’”
Langit memandangi kopi. “Aku baru sadar, banyak hal tidak bisa aku kontrol. Aku pikir aku marah karena ibu sakit. Ternyata aku marah karena aku kehilangan kendali.”
Rara menatapnya dengan lembut. “Itu normal. Manusia itu sering lebih takut pada ketidakpastian daripada pada kehilangan.”
Langit menelan ludah. “Tapi kalau aku tidak bisa mengendalikan keadaan, aku harus mengendalikan apa?”
Rara menjawab tanpa tergesa. “Kamu bisa mengendalikan caramu memandang. Cara kamu memilih. Cara kamu bersikap.”
Langit mengangguk. Kalimat itu terasa sederhana, tapi ia tahu: untuk hidup di kalimat itu, seseorang harus membayar mahal.
Mereka diam sebentar. Lalu Rara berkata pelan, “Kamu tahu, Langit… orang-orang kelas menengah atas sering punya ilusi: mereka pikir uang bisa membuat semua hal aman. Padahal uang hanya bisa mengurangi beberapa ketidaknyamanan. Tidak bisa menghapus fakta bahwa kita manusia.”
Langit mengangguk. Ia teringat rumahnya di Jakarta: luas, rapi, tapi sering sunyi. Ia teringat jam-jam panjang di kantor: ramai, tapi sepi.
“Kamu tinggal sendiri?” tanya Rara.
Langit tersenyum pahit. “Iya. Aku pernah punya rencana menikah. Tapi… aku selalu merasa tidak ada waktu.”
Rara menatapnya, tidak menghakimi. “Tidak ada waktu, atau tidak ada ruang?”
Langit terdiam. Ia tidak pernah memikirkan itu. Ia baru sadar: hidupnya penuh, tapi sempit. Penuh jadwal, tapi sempit jiwa.
Minggu berikutnya, kondisi ibu membaik. Tidak sepenuhnya, tetapi cukup untuk pulang. Dokter memberi daftar obat, daftar kontrol, daftar pantangan. Langit mencatat semuanya dengan teliti, seperti mencatat KPI. Bedanya: kali ini ia mencatat bukan untuk dipuji, tetapi untuk merawat.
Mereka pulang ke rumah kecil di gang. Rumah itu tidak berubah banyak. Sofa lama. Foto ayah di dinding. Piring-piring yang sama. Wangi minyak kayu putih yang sama.
Langit berdiri di depan foto ayah. Ia menatap wajah itu lama. Ayahnya meninggal saat Langit sedang mengejar promosi. Ia pulang terlambat. Ia hanya sempat melihat tubuh ayah yang sudah tidak berbicara.
Ia berbisik pelan, “Maaf, Yah.”
Ibu duduk di kursi, lemah tapi hidup. Langit membuat teh hangat, memotong buah, menata obat. Ia melakukan hal-hal yang dulu ia serahkan pada “asisten” atau “layanan.”
Malam, ponselnya berdering. Damar.
Langit mengangkat.
“Investor deal,” kata Damar cepat. “Oke, kamu bener. Mereka lebih suka kamu jujur. Tapi… kamu serius mau resign dari perusahaan? Panji bilang kamu minta keluar.”
Langit menatap ibu yang sudah tertidur. “Iya.”
“Kenapa?” Damar terdengar tidak percaya. “Kamu di puncak, Langit.”
Langit tersenyum kecil. “Puncak bagus untuk melihat jauh. Tapi bukan untuk tinggal.”
Damar mendengus. “Kamu jadi filosof.”
“Bukan,” kata Langit. “Aku jadi manusia yang akhirnya sadar.”
“Terus kamu mau jadi apa?”
Pertanyaan itu—yang dulu ia jadikan identitas—kini terasa seperti pertanyaan yang salah alamat. Langit menarik napas.
“Aku mau jadi baik,” jawabnya pelan.
Damar tertawa. “Baik nggak bayar cicilan.”
Langit mengangguk. “Aku tidak bilang aku mau jadi miskin. Aku bilang aku mau jadi baik. Aku tetap kerja. Aku tetap bisnis. Tapi aku nggak mau lagi hidup di bawah kendali ketakutan.”
Hening sejenak.
“Kamu sok suci,” kata Damar akhirnya.
Langit tersenyum tipis. “Mungkin. Tapi aku lebih takut jadi sok kuat.”
Ia menutup telepon. Tangannya tidak gemetar. Dulu, menutup telepon pada Damar akan terasa seperti bunuh diri karier. Sekarang, ia merasa seperti baru saja menutup pintu kamar yang terlalu berisik.
Ia keluar ke teras. Angin malam Malang lembut. Tidak ada bintang terlihat jelas, tapi udara membuatnya merasa hidup.
Ia baru mengerti: pulang bukan sekadar lokasi. Pulang adalah keputusan untuk kembali pada hal-hal yang paling sederhana—yang paling tidak bisa dibeli.
.
Hari-hari berikutnya, Langit mengubah hidupnya bukan dengan gebrakan, tetapi dengan kebiasaan kecil.
Ia bangun pagi, menyiapkan sarapan. Ia menemani ibu jalan pelan di depan rumah. Ia menyapa tetangga yang dulu ia anggap “orang kampung.” Ia membantu ibu mengurus sesuatu di puskesmas. Ia belajar menunggu tanpa marah.
Ia juga tetap bekerja: bukan lagi sebagai eksekutif yang dikejar target, tetapi sebagai konsultan independen yang memilih proyek. Panji marah ketika Langit resign, tetapi Langit tidak lagi terguncang. Ia tahu: kemarahan orang lain tidak selalu harus menjadi kendali atas hidupnya.
Suatu siang, Sekar datang ke Malang. Sekar—teman kerja yang selama ini hanya ia kenal lewat Zoom—ternyata perempuan yang jauh lebih manusiawi saat tidak berada di balik slide.
“Kamu beneran keluar?” tanya Sekar.
Langit mengangguk. “Iya.”
Sekar duduk, memandangi rumah. “Gila, ya. Aku iri. Aku capek juga. Tapi aku takut.”
Langit menatap Sekar. “Takut itu wajar. Tapi jangan biarkan takut jadi bosmu.”
Sekar tertawa kecil. “Kamu berubah banget.”
Langit tersenyum. “Aku cuma berhenti lari.”
Sekar menatap Langit, lalu berkata pelan, “Kadang aku merasa hidup ini seperti lomba. Dan aku nggak tahu kenapa aku ikut.”
Langit mengangguk. “Aku juga. Tapi aku baru sadar: kita selalu punya pilihan untuk berhenti ikut lomba yang tidak kita pilih.”
Sekar diam. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, tetapi karena merasa dipahami.
Langit sadar: ini juga harga sebuah sikap. Ketika kita memilih hidup lebih jujur, kita akan membuat orang lain berani mengakui dirinya sendiri.
Tidak selalu nyaman. Tapi itulah harga.
.
Sore itu, ibu Langit duduk di kursi depan rumah, menatap jalan gang. Wajahnya masih lemah, tetapi ada ketenangan yang dulu jarang Langit lihat. Langit duduk di sebelahnya.
“Kamu nggak marah sama ibu?” tanya ibu tiba-tiba.
Langit menoleh. “Marah kenapa, Bu?”
Ibu menatapnya lama. “Marah karena ibu bikin kamu berhenti.”
Langit menelan ludah. Ia memandang tangan ibu yang kurus. “Bu… ibu bukan bikin aku berhenti. Ibu bikin aku pulang.”
Ibu tersenyum tipis. “Kamu selama ini… jauh.”
Langit mengangguk. Ia tidak membantah. Membantah tidak mengubah apa pun. Ia baru belajar: kebenaran tidak selalu butuh pembelaan; kadang hanya butuh pengakuan.
“Iya, Bu,” kata Langit. “Aku jauh.”
Ibu menghela napas. “Tapi sekarang… kamu di sini.”
Langit memandang jalan gang. Ada anak kecil bermain sepeda, ada ibu-ibu ngobrol, ada bapak-bapak tertawa. Adegan sederhana. Tetapi Langit merasa dadanya hangat.
Ia berkata pelan, seolah bicara pada dirinya sendiri, “Aku pikir aku harus mengendalikan hidup agar tidak hancur. Ternyata hidup justru hancur ketika aku terlalu ingin mengendalikan.”
Ibu menatapnya, tidak sepenuhnya paham teori, tapi paham manusia. “Yang penting… kamu baik.”
Langit menoleh. “Baik itu ternyata sulit, Bu.”
Ibu tersenyum. “Makanya… baik itu berharga.”
Langit tertawa kecil, dan air mata turun pelan. Ia tidak malu.
.
Malam itu, Langit membuka buku catatan. Ia menulis daftar hal yang bisa ia kendalikan hari ini:
-
Cara ia berbicara pada ibu.
-
Cara ia bersikap pada orang yang menolak pilihannya.
-
Cara ia bekerja tanpa mengorbankan manusia di dalam dirinya.
-
Cara ia memaafkan dirinya—pelan, tidak terburu-buru.
Ia menutup buku. Ia memandang langit Malang yang gelap. Di kegelapan itu, ia tidak merasa takut. Ia merasa lega.
Karena ia akhirnya mengerti: hidup tidak meminta kita mengendalikan segalanya. Hidup hanya meminta kita memilih sikap—di tengah hal-hal yang tidak bisa kita atur.
Dan setiap sikap—setiap pilihan untuk menjadi lebih jujur, lebih hadir, lebih manusia—selalu menagih harga.
Bukan harga uang.
Harga ego. Harga kebiasaan. Harga identitas lama.
Harga sebuah sikap.
Dan, untuk pertama kalinya, Langit merasa: harga itu layak dibayar.
.
.
.
Malang, 9 Januari 2025
.
.
#HargaSebuahSikap #CerpenKompas #Stoikisme #Epictetus #RefleksiHidup #KehidupanPerkotaan #KarierDanMakna #MenjadiManusia