Di Antara Harga dan Martabat
“Jika kamu menjual diri sebagai yang termurah, jangan kaget ketika dunia memperlakukanmu seolah-olah kamu tak pernah layak menjadi yang terbaik.”
.
Lampu-lampu kota Jakarta berpendar seperti rantai bintang yang jatuh terlalu dekat ke bumi. Dari jendela kaca lantai dua puluh tiga, Jayengrana menatap deret lampu itu dengan mata lelah. Di meja kerjanya, empat cangkir kopi kering menumpuk seperti bukti perkara: lembur bertahun-tahun, tenggat mepet, revisi tanpa ujung.
Jam di dinding menunjuk pukul sebelas malam. Di layar laptop, file presentasi bertuliskan:
“Pitching Rebranding – Amarta Regency Hotel & Residence”
Logo sementara terpampang di tengah slide, dengan catatan kecil di pojok: “fee masih dinego”. Kata “nego” itu membuat Jayeng — begitu semua orang memanggilnya — menghela napas panjang.
Ia mengusap wajah, menegakkan punggung, lalu melirik ke dinding ruang kerjanya. Di sana, poster kusam yang sudah menempel sejak ia pertama kali menyewa kantor kecil di bilangan Kuningan itu masih setia:
If you’re the cheapest, people don’t expect you to be the best.
If you’re the best, people don’t expect you to be the cheapest.
Dulu, kalimat itu sekadar hiasan Pinterest yang dicetak murah di percetakan belakang kantor. Sekarang, kata-kata itu terasa seperti surat panggilan sidang untuk dirinya sendiri.
Karena kenyataannya: sudah tiga bulan terakhir, Jayeng justru menjual dirinya sebagai yang “paling murah”.
.
Jayeng dan Tarif yang Turun Pelan-Pelan
Agensi milik Jayeng, Panji & Co., lahir dari mimpi dan sedikit nekat. Ia meninggalkan posisi mapan sebagai brand manager di sebuah perusahaan FMCG demi “kebebasan”: bebas memilih klien, bebas menentukan jam kerja, dan — tentu saja — bebas memutuskan harga jasanya sendiri.
Waktu pertama berdiri, Jayeng percaya sebuah prinsip: “Kalau mau dihargai, beranikan diri mematok harga yang pantas.” Ia tidak menerima proyek di bawah standar. Di website agensinya, ia menulis:
Kami bukan pilihan termurah, tapi kami ingin jadi pilihan terbaik.
Namun dua tahun terakhir, Jakarta bergerak lebih cepat daripada keberanian Jayeng.
Anak magang bermodal laptop dan akun Canva bertebaran di mana-mana, menjual jasa desain logo seratus ribu rupiah plus bonus tiga revisi. Freelancer di platform online menawarkan paket branding lengkap, dari logo sampai caption media sosial, dengan harga lebih murah dari satu kali makan malam keluarga Jayeng di restoran Jepang kesukaannya.
Biaya hidup naik pelan-pelan. Cicilan KPR apartemen di bilangan Bintaro menunggu tiap tanggal lima. Sekolah internasional putri sulungnya, Retna, menagih uang kegiatan setiap semester. Sementara itu, beberapa klien lama memutus kontrak retainer dengan alasan penghematan.
“Mas Jayeng, desainnya sih bagus banget. Tapi maaf ya, kantor lagi potong biaya marketing. Kita pakai internal saja sementara,” begitu kata salah satu klien, sambil menepuk bahunya dengan sungkan.
Awalnya, Jayeng masih bertahan di tarif standar. Lalu ada satu dua kali ia menurunkan sedikit, “hanya supaya kantor tidak sepi.” Sampai ia menyadari: batas yang dulu ia jaga, kini sudah seperti garis kapur di parkiran — tipis, kabur, dan gampang diserobot.
.
Malam WhatsApp dari Maya
Di tengah kebuntuan membuat slide terakhir, suara notifikasi WhatsApp memecah kesunyian.
Maya: Hei, masih di kantor?
Jayeng: Masih. Besok pitching Amarta. Kepala mau pecah.
Maya: Sini video call bentar. Aku di rumah, anak-anak sudah tidur.
Maya Umar adalah sahabat Jayeng sejak kuliah. Kini ia menjadi konsultan HR di sebuah perusahaan multinasional, dengan spesialisasi people development untuk generasi milenial. Di lingkar pertemanan mereka, Maya dikenal sebagai orang yang selalu punya kalimat menenangkan, tapi tidak pernah menghibur dengan kebohongan.
Wajah Maya muncul di layar, rambut dikuncir sembarangan, kacamata masih menempel.
“Masih pakai baju kerja jam segini?” tanya Maya, mengerutkan kening.
Jayeng menurunkan kamera, memperlihatkan kaus oblong dan celana training. “Baju kerja versi pengusaha yang sok bebas.”
Maya tertawa kecil. “Pitching besok serius banget, ya? Sampai empat cangkir kopi dibiarkan jadi fosil begitu.”
“Amarta Hotel, May. Grup baru yang ambisius. Kalau mereka deal, retainer setahun bisa nutup lubang-lubang invoice yang nyangkut.”
Maya memiringkan kepala. “Terus, what’s the catch?”
“Fee mereka mintanya… ya gitu lah.” Jayeng menunjuk kata “nego” di layar. “Katanya, ‘Mas Jayeng, kami suka banget konsepnya. Tapi tolong dong harganya kayak agensi sebelah. Mereka bisa segini, kok. Di bawah setengah proposal Mas.’”
Maya mengangkat alis. “Terus kamu mau bilang apa besok?”
Jayeng menghela napas. “Aku… lagi mikir. Kalau kutolak, belum tentu ada proyek lain masuk dalam waktu dekat. Tapi kalau kuterima, tim pasti megap-megap. Kita sudah bukan dua orang lagi, May. Ada tujuh orang yang tiap bulan nunggu gajian.”
Maya terdiam sejenak. “Mas, ingat nggak waktu kamu pertama kali buka Panji & Co.? Kamu bilang ke aku: ‘Kalau aku mulai banting harga, tolong tampar aku dari jauh.’”
Jayeng tersenyum tipis. “Ya, kamu cukup kirim gambar tangan di WhatsApp, aku sudah terasa ketampar.”
“Kamu capek, Jayeng.” Suara Maya melunak. “Capek berusaha jadi yang terbaik… tapi diam-diam menjual diri sebagai yang termurah. Itu nggak cocok sama dirimu.”
Jayeng memandangi poster di dinding. Tulisan cheapest yang dilingkari spidol merah terasa menyindir.
Maya melanjutkan, “Kamu tau nggak, di HR itu ada istilah psychological contract? Bukan kontrak tertulis, tapi ekspektasi diam-diam antara perusahaan dan karyawan. Di dunia jasa, kamu juga punya kontrak psikologis dengan klien. Kalau dari awal kamu memposisikan diri sebagai ‘yang penting murah’, jangan kaget kalau kamu diperlakukan seperti tenaga cadangan. Bukan mitra strategis.”
“Lalu aku harus apa, May? Anak-anak tetap butuh uang sekolah.”
“Kamu yang harus putuskan. Tapi menurutku, kadang yang kita butuh bukan klien lebih banyak, tapi klien yang lebih tepat.”
Kalimat itu menggantung di udara.
.
Sarapan Bersama Nawang
Pagi hari, Jakarta menyalakan rutinitasnya. Di apartemen Bintaro, aroma roti panggang dan telur orak-arik memenuhi dapur. Nawang Wulan, istri Jayeng, menyiapkan bekal untuk dua anak mereka. Seragam putih-abu dan putih-biru tergantung rapi di kursi makan.
“Mas, kamu kelihatan kurang tidur,” komentar Nawang sambil menuangkan kopi ke cangkir Jayeng. “Pitching hari ini, ya?”
Jayeng mengangguk, meraih roti. “Doain, ya.”
Retna, anak sulung yang duduk di kelas dua SMA internasional, menatap ayahnya dengan rasa ingin tahu. “Ayah, kalau pitching itu kayak presentation di sekolah, gitu?”
“Kurang lebih,” jawab Jayeng. “Bedanya, kalau Ayah gagal, bukan cuma nilai yang turun, tapi dompet juga ikut kurus.”
Mereka tertawa. Namun di balik canda itu, ada kecemasan yang hanya Nawang tangkap. Ia tahu, akhir-akhir ini wajah Jayeng sering membawa pulang kabut dari kantor.
“Mas,” kata Nawang pelan ketika anak-anak sudah masuk kamar untuk bersiap-siap. “Kalau memang harus menolak, tolak saja. Kita pernah hidup dengan lebih sedikit dari ini, ingat?”
Jayeng menatap istrinya. Nawang adalah dosen paruh waktu di sebuah universitas swasta, mengajar mata kuliah komunikasi. Gajinya tidak besar, tapi cukup menambah napas. Mereka berdua tumbuh dari keluarga Jawa kelas menengah yang diajarkan bahwa martabat tidak boleh dikorbankan demi kemewahan.
“Kamu tidak bosan, Wan, lihat aku seperti ini?” tanya Jayeng tiba-tiba. “Seperti pedagang yang setiap hari menimbang harga dirinya sendiri di pasar.”
Nawang tersenyum getir. “Aku menikah dengan laki-laki yang keras kepala soal nilai hidup. Bukan pengusaha yang selalu menang pitching. Jadi sepanjang kamu jujur dengan dirimu sendiri, aku ikut.”
Jayeng merasakan sesuatu menghangat di dada. Kadang, dukungan tidak datang dalam bentuk solusi, tapi dalam bentuk kehadiran yang tidak pergi.
.
Kantor Madi dan Spanduk Diskon
Sebelum ke kantor, Jayeng memutuskan mampir ke percetakan milik sepupunya, Madi Ngaliman, di daerah Cipete. Sebuah rumah ruko dua lantai dengan spanduk besar bertuliskan: “PRINT CEPAT, MURAH, BISA DITUNAIKAN HARI ITU JUGA!”
Madi menyambut dengan tawa lebar. “Panji & Co.! Eh, salah, Direktur Besar Jayeng datang! Kopi, teh, atau diskon brosur, Mas?”
“Air putih saja. Aku lagi puasa diskon,” jawab Jayeng, setengah bercanda.
Di dalam ruko, beberapa anak muda sibuk di depan komputer, mengedit desain katalog dan poster promosi. Printer besar menderu seperti mesin di pabrik baju, menelan kertas, memuntahkan warna.
“Kamu makin ramai saja, Di,” ujar Jayeng, mengagumi antrean pelanggan di meja kasir.
“Alhamdulillah, Mas.” Madi menyandarkan tubuh di meja. “Kuncinya cuma satu: jadi yang paling murah. Orang Indonesia suka harga miring. Kualitas? Yang penting nggak terlalu parah. Kita main di volume, bukan margin.”
Jayeng tersenyum hambar. “Dan kamu bahagia dengan itu?”
Madi mengangkat bahu. “Bahagia itu relatif, Mas. Cicilan mobil lunas, anak bisa masuk sekolah favorit, istri bisa arisan di kafe-kafe lucu. Toh, nggak semua orang harus jadi yang terbaik. Kadang cukup jadi yang tercepat dan termurah.”
“Mungkin,” gumam Jayeng. “Tapi aku merasa, setiap kali aku memotong harga jasaku, seolah ada bagian dari diriku yang ikut terpotong.”
Madi menepuk bahu sepupunya. “Kamu itu terlalu filosofis, Mas. Di dunia nyata, pelanggan jarang peduli dengan pergulatan batin vendor. Yang mereka lihat: angka di proposal.”
Jayeng tidak membantah. Tapi di kepalanya, poster di dinding kantor kembali muncul.
.
Ruang Rapat Amarta
Pukul dua siang, Jayeng berdiri di depan gedung Amarta Regency, sebuah hotel baru berlantai tiga puluh di kawasan Sudirman. Lobi luas dengan marmer mengilap, lampu gantung kristal menyerupai hujan beku, dan suara piano live yang mengalun pelan menciptakan kesan mewah sejak langkah pertama.
“Mas Jayeng?” Seseorang menyapanya dengan ramah.
Itu adalah Kelaswara, marketing director Amarta, perempuan muda dengan blazer krem dan sepatu hak tinggi yang tampak sangat nyaman di dunia hotel bintang lima. Namanya mengingatkan Jayeng pada tokoh cerita rakyat yang pernah ia baca waktu kecil — dan entah kenapa, itu membuatnya merasa sedikit lebih dekat.
“Terima kasih sudah datang,” kata Kelaswara. “Tim manajemen sudah menunggu di lantai sepuluh.”
Di ruang rapat berpanel kayu, empat orang duduk mengelilingi meja oval. Ada direktur keuangan, kepala operasional, dan satu orang laki-laki paruh baya yang diperkenalkan sebagai pemilik grup, Wong Agung.
Presentasi berjalan mulus. Slide demi slide mengalir: analisis brand positioning hotel-hotel pesaing, konsep identitas visual yang menonjolkan nuansa “urban sanctuary”, strategi digital untuk menarik tamu milenial profesional, hingga ide kampanye soft opening yang melibatkan komunitas kreatif kota.
Wajah-wajah di seberang meja tampak antusias. Bahkan Wong Agung beberapa kali mengangguk, sesekali menyelipkan komentar, “Ini beda sekali dari proposal agensi lain.”
Ketika slide terakhir muncul — “Budget & Timeline” — Jayeng merasakan telapak tangannya berkeringat.
“Jadi,” ia menutup laptop, “itu gambaran lengkap dari yang bisa kami kerjakan untuk Amarta. Di proposal tertulis, total fee untuk satu tahun pertama adalah…,” ia menyebutkan angka yang sudah disesuaikan — sedikit lebih rendah dari standar awal, tapi masih jauh di atas tawaran agensi lain.
Ruangan hening sejenak.
Direktur keuangan membuka lembaran kertas di depannya. “Mas Jayeng, konsepnya kami suka sekali. Jujur saja, ini yang paling matang sejauh ini. Namun, seperti yang kami sampaikan sebelumnya, budget marketing kami terbatas. Agensi lain bisa memberikan harga yang… yah, hampir setengah dari ini.”
Jayeng mengangguk, sudah menduga kalimat itu akan keluar.
“Kami ingin bekerja dengan yang terbaik,” sambung Kelaswara cepat, seperti menyadari nada terlalu kaku koleganya. “Tapi kami juga harus realistis. Apakah ada kemungkinan penyesuaian angka?”
Pertanyaan yang sudah dipersiapkan sejak awal pertemuan. Semua mata di ruangan kini tertuju pada Jayeng.
Di dalam kepalanya, angka-angka berputar: cicilan apartemen, uang sekolah, gaji karyawan, biaya sewa kantor, tagihan listrik, Internet, pajak, dan wajah anak-anaknya ketika minta izin ikut study tour ke Singapura.
Ia bisa saja menurunkan angka itu — lagi. Menambah jam lembur tim, mengurangi anggaran copywriter senior, mengganti fotografer profesional dengan stock photo.
Atau ia bisa bertahan.
Jayeng menarik napas. Entah dari mana keberanian itu perlahan muncul; mungkin dari poster di dinding kantor, mungkin dari suara Maya semalam, atau dari tatapan Nawang saat sarapan.
“Pak, Bu,” kata Jayeng, suaranya pelan namun jelas. “Ijinkan saya jujur.”
Wong Agung bersandar, memberi isyarat untuk lanjut.
“Panji & Co. bukan agensi besar. Tim kami kecil, tapi kami selalu memperlakukan setiap brand yang kami pegang seolah-olah itu milik kami sendiri. Harga yang kami ajukan bukan asal angka. Itu hasil perhitungan jam kerja, pengalaman, dan tanggung jawab yang kami siap pikul selama satu tahun ke depan. Kalau kami menurunkan lebih banyak lagi, kami bisa saja tetap mengerjakan proyek ini, tapi pasti akan ada bagian yang kami korbankan: kualitas riset, kedalaman strategi, mungkin juga kesehatan tim kami.”
Direktur keuangan menyilangkan tangan. “Tapi, Mas, di luar sana banyak yang bisa memberikan harga lebih murah.”
“Saya tahu,” jawab Jayeng. “Dan mereka mungkin baik sekali. Tapi pengalaman saya, ketika suatu pekerjaan dimulai dengan kompromi berlebihan pada harga, biasanya di akhir pihak yang paling kecewa justru klien. Bukan karena vendor tidak niat, tapi karena realita: tidak ada kualitas premium di atas biaya yang terlalu ditekan.”
Ia berhenti sejenak, menatap satu per satu.
“Saya ingin Amarta menjadi brand yang kuat, bukan hanya di tahun pembukaan, tapi bertahun-tahun ke depan. Karena itu, saya lebih memilih jujur sejak awal: kalau Bapak Ibu mencari yang termurah, mungkin kami bukan pilihan tepat. Tapi kalau Bapak Ibu mencari mitra yang siap berdiri di belakang brand ini dengan sepenuh hati, kami ingin menjadi salah satu kandidat yang dipertimbangkan.”
Ruangan kembali sunyi. Di luar jendela, langit Jakarta mulai memerah, seolah ikut menahan napas.
Wong Agung mengetuk pelan meja dengan ujung jari. “Mas Jayeng,” katanya perlahan, “di kampung saya di Jawa, ada pepatah: ‘Rega murah ora tansah trep, rega larang ora tansah nyengsarake.’ Harga murah belum tentu tepat, harga mahal belum tentu menyengsarakan. Yang penting itu pas dengan nilai.”
Ia menoleh pada timnya. “Saya sudah dengar angka dari agensi lain. Saya juga sudah lihat konsep mereka. Bagus, tapi… terasa generik. Proposal Mas Jayeng ini memang paling mahal,” ia menoleh lagi ke Jayeng, “tapi juga paling menyentuh visi kita.”
Direktur keuangan tampak hendak protes, tapi menahan diri ketika melihat tatapan bosnya.
“Saya minta waktu tiga hari untuk memutuskan,” lanjut Wong Agung. “Tapi satu hal dulu: Kalau kami setuju dengan angka Mas, saya tidak ingin mendengar kata ‘diskon’ atau ‘kurang’ di tengah jalan. Saya ingin kualitas yang Mas banggakan tadi.”
Jayeng merasakan dadanya menghangat. “Tentu, Pak. Kami akan berdiri di atas nilai yang kami ajukan sendiri.”
.
Tiga Hari Menunggu
Tiga hari menunggu bisa terasa seperti tiga bulan ketika di ujungnya ada kemungkinan hidup berubah arah.
Hari pertama, Jayeng menenggelamkan diri pada pekerjaan lain: revisi desain untuk sebuah coffee shop, menyiapkan materi workshop branding untuk UMKM binaan kampus Nawang, dan mengecek satu per satu invoice klien yang belum dibayar.
Hari kedua, ia mengumpulkan tim di kantor kecil mereka: Ragil, desainer utama yang jago menggambar karakter, Umar yang mengurus copywriting dan strategi, serta beberapa anak muda magang dari kampus desain di Jakarta.
“Aku mau jujur,” kata Jayeng di hadapan mereka. “Kalau Amarta jadi, workload kita akan naik drastis. Tapi aku janji, kita kerja dengan harga yang pantas. Nggak ada lagi lembur berjilid-jilid demi proyek yang dari awal sudah didiskon habis-habisan.”
Ragil mengangkat tangan. “Mas, jujur saja, kami sudah curiga juga kok belakangan ini. Beberapa proyek terakhir bikin kami begadang, tapi fee-nya tipis. Kalau sekarang Mas bilang kita kembali ke harga yang wajar, kami dukung.”
Umar mengangguk. “Lebih baik kita pegang lebih sedikit klien tapi mereka menghargai, daripada banyak tapi semua minta kita jadi ‘tukang desain kilat’.”
Hari ketiga, telepon itu akhirnya datang.
.
Telepon dari Kelaswara
Sore hari, ketika hujan turun pelan menimpa kaca kantor, layar ponsel Jayeng menyala: Kelaswara Amarta.
“Mas Jayeng, apa kabar?” suara di seberang terdengar hangat.
“Lebih deg-degan dari biasanya, Bu,” jawab Jayeng jujur.
Kelaswara tertawa. “Baiklah, saya nggak akan berlama-lama. Setelah diskusi internal yang cukup panjang dan sedikit drama dengan tim keuangan…” — ia menurunkan suaranya seperti sedang membocorkan rahasia — “…kami memutuskan untuk jalan dengan Panji & Co.”
Selama beberapa detik, Jayeng hanya bisa terdiam. Hujan di luar seolah mendadak terdengar lebih jelas.
“Serius, Bu?” akhirnya ia bertanya.
“Serius. Pemilik grup bilang, ‘Kalau dari awal kita sudah menawar terlalu rendah, jangan-jangan kita juga sedang menawar rendah masa depan brand ini.’ Saya kira kalimat itu terinspirasi dari ucapan Mas waktu pitching kemarin.”
Jayeng tertawa kecil, menahan luapan lega. “Terima kasih, Bu. Kami tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan ini.”
“Satu lagi, Mas,” tambah Kelaswara. “Saya pribadi lega Mas tidak menurunkan harga hanya demi menang. Bagi saya, itu tanda bahwa Mas menghargai tim dan karya sendiri. Dan saya percaya, orang yang menghargai dirinya sendiri akan lebih mudah menghargai kliennya.”
Begitu telepon ditutup, Jayeng memandangi poster di dinding kantor. Ia mendekat, menyentuh sudut kertas yang sedikit mengelupas.
“Kalau kamu yang terbaik, orang tidak mengharapkanmu menjadi yang termurah,” gumamnya pelan. “Mungkin aku baru benar-benar mengerti sekarang.”
.
Madi dan Rasa Lelah yang Tak Terlihat
Beberapa minggu setelah kontrak dengan Amarta berjalan, Jayeng mengajak Madi makan siang di sebuah restoran kecil dekat percetakan. Biasanya Madi datang dengan energi tinggi, tapi hari itu wajahnya tampak pucat, mata seperti baru selesai maraton lembur.
“Gimana kabar print shop?” tanya Jayeng sambil menyeruput es teh.
Madi menghela napas panjang. “Ramai, tapi… capek, Mas. Mesin mulai sering rusak. Karyawan keluar masuk. Klien sudah terbiasa dengan harga murah; sekali saja kita naikkan sedikit, langsung pindah tempat.”
“Bukannya volume yang banyak bisa nutup semua?” tanya Jayeng hati-hati.
“Di kertas, iya.” Madi memijat pelipis. “Tapi di kenyataan, aku dan istriku jarang ketemu anak-anak dalam keadaan benar-benar segar. Kami selalu capek. Kita seperti lari tiada ujung hanya untuk mengejar angka yang selalu kekurangan nol.”
Jayeng terdiam. Ia tahu, setiap pilihan ada konsekuensinya. Madi memilih jalan “termurah” dan kini ia mulai merasakan harga yang harus dibayar: bukan dalam rupiah, tapi dalam kualitas hidup.
“Mas,” kata Madi lirih, “kadang aku iri sama kamu. Meskipun agensimu nggak sebesar perusahaan lain, kamu kelihatan punya ruang bernapas. Kamu bisa bilang tidak. Aku… seolah selalu harus bilang ya pada semua yang datang, asalkan bayar.”
Jayeng menatap sepupunya dengan empati. “Mungkin bukan terlambat untuk ubah cara main, Di. Pelan-pelan saja. Dari menaikkan sedikit harga, atau memilih proyek yang lebih menghargai jasa kalian.”
Madi tersenyum getir. “Nanti klien lari semua, Mas.”
“Bisa jadi,” jawab Jayeng. “Tapi mungkin mereka akan diganti oleh klien yang lebih tepat. Kaya yang disampaikan Kelaswara ke aku: kadang yang kita butuh bukan pelanggan lebih banyak, tapi pelanggan yang lebih menghargai.”
Madi mengaduk kopi tanpa minum. Di wajahnya, ada pergulatan yang Jayeng kenal baik: perang antara rasa takut kehilangan dan keinginan mempertahankan martabat.
.
Kelas Menulis di Malam Hari
Kontrak dengan Amarta membawa arus baru ke dalam hidup Jayeng. Tidak hanya dari segi finansial, tapi juga kepercayaan dirinya. Ia tidak lagi gugup ketika menyebutkan fee di depan klien. Ia belajar mengatakan, “Ini harga yang pantas untuk kerja yang kami lakukan,” tanpa suara bergetar.
Suatu malam, Nawang mengajaknya ke kampus tempat ia mengajar. Ada kelas tambahan untuk mahasiswa komunikasi yang tertarik masuk dunia industri kreatif. Nawang ingin Jayeng menjadi pembicara tamu.
“Topiknya apa?” tanya Jayeng ketika mereka dalam perjalanan naik ojek online.
“‘Harga Diri di Balik Harga Jasa’,” jawab Nawang sambil tersenyum. “Kamu kan sekarang sudah lulus ujian itu.”
Di depan kelas, dua puluh mahasiswa duduk dengan laptop dan ponsel siap memotret slide. Jayeng memulai dengan menampilkan foto poster di dinding kantornya, kalimat bahasa Inggris tentang cheapest dan best yang telah menemaninya selama bertahun-tahun.
“Kalian semua nanti akan masuk dunia kerja,” kata Jayeng. “Entah sebagai pegawai, freelancer, atau pengusaha. Suatu saat, kalian akan bertemu pertanyaan ini: ‘Berapa nilai kerjamu?’ Dan percayalah, itu bukan hanya soal angka di invoice. Itu soal sejauh mana kalian menghargai diri sendiri.”
Seorang mahasiswa mengangkat tangan. “Tapi, Mas, kalau kami baru mulai, kan belum punya portfolio kuat. Wajar dong kalau kami pasang harga lebih murah?”
“Tidak ada yang salah dengan memulai dari bawah,” jawab Jayeng. “Yang jadi masalah, ketika kalian berhenti di bawah dan tidak pernah berani naik karena takut kehilangan klien. Murah sebagai strategi sementara, boleh. Murah sebagai identitas, itu masalah.”
Ia menatap satu per satu wajah muda itu, mengingat dirinya sendiri beberapa tahun lalu.
“Di kota seperti Jakarta, banyak orang terjebak dalam lomba menjadi yang paling murah. Diskon, bonus, promo tanpa henti. Tapi jarang yang berani berlomba menjadi yang paling tulus memberikan nilai. Padahal, orang yang benar-benar mencari kualitas tidak akan keberatan membayar lebih — selama mereka memahami apa yang mereka dapatkan.”
Nawang, yang duduk di pojok kelas, memandang suaminya dengan bangga.
.
Kota, Harga, dan Martabat
Beberapa bulan kemudian, soft opening Amarta berlangsung meriah. Lampu-lampu kota memantul di kolam renang di lantai atas, musik jazz mengalun, dan para tamu — dari pebisnis hingga influencer — memenuhi area lounge.
Di salah satu sudut, banner bertuliskan slogan baru Amarta terpampang: “Stay with Worth, Not Just Price.”
Kelaswara menghampiri Jayeng yang sedang memotret suasana peluncuran kampanye.
“Mas, slogan ini ternyata banyak disukai tamu,” katanya. “Mereka bilang, akhirnya ada hotel yang berani bilang, ‘Kami tidak sekadar murah.’”
Jayeng tersenyum. “Saya hanya menerjemahkan prinsip hidup ke dalam kalimat pemasaran, Bu.”
“Prinsip apa?”
“Harga bisa dinego,” jawab Jayeng pelan, “tapi martabat jangan.”
Keduanya tertawa kecil.
Jayeng menatap ke arah jendela besar di mana lampu-lampu Jakarta kembali menghampar seperti tadi malam saat ia lembur di kantor — hanya saja kali ini, tidak ada rasa sesak di dada. Ia teringat Madi yang perlahan mulai menaikkan harga cetakannya, Maya yang selalu mengingatkan soal kontrak psikologis, Nawang yang menemani dari balik dapur dan kelas kuliah, serta anak-anaknya yang malam ini dengan bangga mengatakan di rumah, “Ayah lagi kerja di hotel baru yang keren.”
Di tengah hiruk pikuk kota, Jayeng menyadari: kehidupan kelas menengah ke atas di Indonesia sering kali diukur dengan apa yang tampak — apartemen, sekolah anak, cafe yang dikunjungi. Tapi di balik semua itu, ada hal tak kasat mata yang justru menjadi penopang: keberanian menjaga nilai, bahkan ketika angka di rekening belum seberapa.
Dan mungkin, di situlah letak kebahagiaan yang lebih tenang: bukan menjadi yang paling murah, bukan pula yang paling mahal, tapi menjadi diri sendiri yang tidak mudah ditawar.
.
.
.
Malang, 8 Desember 2025
.
.
#CerpenIndonesia #CerpenKelasMenengah #HargaDiriProfesional #MartabatBukanDiskon #KehidupanUrban #BrandingDanNilai #JeffreyWibisonoStyle
.
Quotes Pendukung Cerita
-
“Harga bisa dinaikkan atau diturunkan, tetapi harga diri yang sekali kamu diskon, akan sulit kembali ke nilai semula.”
-
“Bukan jumlah klien yang menentukan berapa berharganya dirimu, tapi keberanianmu berkata ‘tidak’ pada mereka yang hanya ingin menawar martabatmu.”