Jeffrey Wibisono V.
  • Home
  • Profile
  • Blogs
  • Support me and locals
Kisah Jayengrana, profesional urban Jawa Timur, bangkit dari kegagalan melalui academy kopi & hospitality. Doa, keluarga, dan kota membalikkan nasibnya.

Di Antara Kabut dan Waktu

“Suatu hari nanti kamu akan takjub menyaksikan bagaimana Tuhan membalikkan keadaanmu dalam sekejap—hanya untuk menjawab doa-doa yang selama ini kamu
  • Creative Thinking Creative Thinking
  •   October 12, 2025
Cerpen urban emosional tentang Amir yang berdamai dengan kegagalan, menutup jendela masa lalu, dan menumbuhkan kepercayaan diri lewat langkah kecil yang nyata.

Menutup Jendela yang Selalu Terbuka 

“Kesalahan itu bukan dirimu; ia hanya jejak di tanah basah. Keringkan kakimu, lalu berjalanlah lagi—pelan saja, asal ke arah pulang.”
  • Creative Thinking Creative Thinking
  •   October 12, 2025
Kisah Rengganis membangun kampus keterampilan bersama Tole: dicari, diabaikan, diuji integritas—namun tetap melangkah tanpa kehilangan jati diri.

Sebelum Senja Memendam Kota

“Dalam hidup, kita tak selalu disukai, tak selalu dibenci.Yang penting, kita tetap berarti—meski tak selalu dihargai.” . Di langit Jakarta,
  • Creative Thinking Creative Thinking
  •   October 10, 2025
Cerpen urban Malang–Batu: Ragil merajut kritik jadi kolaborasi di jembatan kaca. Ora melu nguruni, ora usah nyacati—kritik beralamat, cinta bekerja.

Yang Tidak Mengaduk Jangan Mencela

“Mereka yang tidak ikut mengaduk adonan, sering paling keras mencicipinya.Padahal rasa sejati hanya diketahui oleh tangan yang sabar di dapur
  • Creative Thinking Creative Thinking
  •   October 10, 2025
Tentang keberanian menjaga jarak dari yang berusaha meruntuhkanmu, meski darah dan sejarah pernah satu meja.

Memaafkan Tanpa Membuka Pintu

“Jangan memelihara ular yang sudah pernah menggigitmu.Kulitnya mungkin berganti, tetapi bisanya tetap sama.” . Aku bertemu Jaya Engrana pertama kali
  • Creative Thinking Creative Thinking
  •   October 9, 2025
Pada suatu malam purnama, Jokotole duduk di bangku depan kafe. Ia menatap jalan, menghitung orang yang lewat tanpa tujuan selain melewati waktu. Di sampingnya, Gagar Mayang—kini bocah lima tahun—menggambar kapal dengan krayon biru. “Ayah,” katanya tanpa menoleh, “kenapa kapal di gambar adek selalu berputar?” “Supaya tidak menabrak,” jawab Jokotole. “Berarti berputar itu baik?” “Kalau membuatmu selamat, selalu baik.” Gagar Mayang berhenti menggambar, menatap ayahnya, menghafal jawaban itu entah untuk kapan. Di dada Jokotole, ada sesuatu yang juga berhenti sebentar: rasa cemas yang dulu mendorongnya berlomba tanpa memastikan kaki berpijak. Ia merasakan semacam damai yang tidak menyombongkan diri—damai yang memanggil orang-orang bukan dengan panggung, melainkan dengan ruang.

Ketika Kapal-kapal Berputar Haluan

“Damai sering lahir bukan ketika kita menang berdebat, melainkan saat kita berhenti memaksa dipahami dan memilih berjalan dengan langkah yang
  • Creative Thinking Creative Thinking
  •   October 9, 2025
  • «
  • 1
  • …
  • 25
  • 26
  • 27
  • 28
  • 29
  • 30
  • 31
  • …
  • 141
  • »

Search

My Recent Post

  • Mitokondria
  • Eksperimen
  • Jatuh Tempo: Ketika Angka Menagih Jiwa
  • Unbossing
  • Kota, Api dan Sebuah Cara Pulang
  • Perimeter
  • Ambigu
  • Menunda Bicara Kehilangan Pulang
  • Aspirasi
  • Bebas

Share To Your Circle

  • Support me and locals
  • Cart
  • My Account

Copyright © 2026 Jeffrey Wibisono V. . All rights reserved

back to top