Biasa

“Segala yang merusak hidup sering datang tanpa teriak—
ia menyamar sebagai hal yang biasa.”

.

Jakarta malam itu tidak sedang marah. Ia hanya lelah. Lampu-lampu gedung menyala seperti napas panjang yang ditahan, satu per satu, seolah kota ini tidak ingin tidur karena takut ditinggalkan. Dari balkon apartemen lantai dua puluh tiga, Damar berdiri dengan kedua tangan bertumpu pada besi dingin. Angin menyapu kemeja putihnya yang belum diganti sejak pagi—kemeja yang sama yang ia pakai untuk meyakinkan orang-orang bahwa hidupnya berjalan baik-baik saja.

Di meja kecil di sampingnya, secangkir kopi sudah dingin. Asapnya hilang lebih dulu, seperti banyak hal lain yang perlahan lenyap dari hidupnya tanpa ia sadari.

Damar menatap ke bawah, ke jalur kendaraan yang seperti aliran cahaya. Di sanalah hidup orang lain bergerak—terlihat sibuk, terlihat penting, terlihat berarti. Ia pernah percaya bahwa kelelahan adalah harga wajar dari keberhasilan. Bahwa jarak adalah konsekuensi logis dari ambisi. Bahwa rasa sepi hanyalah jeda sementara sebelum pencapaian berikutnya.

Ia menyebut semua itu biasa.

Ponselnya bergetar di saku. Nama yang muncul membuat dadanya sedikit mengeras: Wulan.

Ia tidak langsung mengangkat. Ada jeda pendek—bukan karena ia sibuk, melainkan karena ia sudah terlalu sering menunda perasaan dengan alasan yang terdengar rasional. Ketika akhirnya ia menekan tombol panggil balik, nada suaranya dibuat tenang, seperti seorang pria yang yakin ia masih memegang kendali.

“Mas,” suara Wulan terdengar pelan namun utuh, “besok kamu jadi ikut ke panti?”

Damar mengerutkan dahi, pura-pura mencari di ingatan. Padahal ia ingat betul. Ia yang berjanji. Ia yang mengusulkan. Ia yang menyebutnya sebagai bagian dari nilai perusahaan.

“Besok aku ada pitching,” jawabnya. “Investor datang. Ini penting.”

“Semua juga penting,” Wulan menimpali, tidak meninggi, tidak menyalahkan. “Anak-anak di sana juga menunggu.”

Damar menghela napas, menahan kesal yang ia bungkus dengan logika. “Wulan, aku kerja buat masa depan kita.”

Ada jeda di seberang. Bukan jeda marah, melainkan jeda orang yang sedang menghitung ulang kata-katanya agar tidak melukai dirinya sendiri.

“Kadang aku bingung, Mas,” kata Wulan akhirnya. “Masa depan yang kamu bangun itu… masih ada aku di dalamnya atau tidak.”

Kalimat itu menggantung. Damar ingin menjawab cepat, ingin berkata iya tanpa berpikir. Tapi ia tahu, kebohongan yang diucapkan tergesa biasanya lebih kejam daripada kejujuran yang datang terlambat.

“Jangan mulai lagi,” katanya. “Aku capek.”

Wulan menarik napas. Damar bisa mendengar itu, seperti mendengar pintu pelan-pelan ditutup dari dalam. “Baik,” jawab Wulan lirih. “Hati-hati pulang.”

Telepon terputus.

Damar menatap layar gelap beberapa detik sebelum meletakkan ponsel di meja. Ia tidak merasa bersalah—belum. Ia hanya merasa terganggu. Dan dalam hidupnya, perasaan terganggu sering ia singkirkan dengan kerja lebih keras, seperti menyapu debu ke bawah karpet.

Ia masuk ke dalam apartemen. Ruang tamu rapi, dingin, dan mahal. Tidak ada yang salah, tidak ada yang berantakan. Justru itulah masalahnya. Segalanya tampak biasa, seperti katalog.

Di rak buku, sebuah buku catatan tipis menarik perhatiannya. Sampulnya polos. Itu milik Wulan. Ia mengambilnya, membuka halaman pertama.

“Yang paling menakutkan bukan miskin,
tapi kehilangan rasa cukup.”

Damar mendengus kecil. Ia menutup buku itu kembali, meletakkannya seperti orang meletakkan cermin yang terlalu jujur.

Di kamar, ia mendapati Wulan sudah tidur menghadap dinding. Jarak di ranjang mereka adalah jarak yang tidak terlihat, namun terasa seperti ruang rapat.

“Besok aku pulang agak malam,” katanya, sekadar formalitas.

Wulan tidak menjawab. Mungkin sudah tertidur, mungkin memilih diam. Dalam pernikahan, diam bisa jadi doa, bisa jadi hukuman. Damar lebih nyaman menganggapnya doa.

Ia mematikan lampu. Gelap datang, tapi pikirannya tetap terang—terang oleh angka-angka, target, dan kalimat-kalimat yang akan ia ucapkan di hadapan investor besok. Di dalam kepalanya, hidup masih soal memenangkan permainan.

Ia tidak sadar: permainan yang paling berbahaya bukan yang dimainkan di luar, melainkan yang dibiarkan menang di dalam.

.

Damar dan Wulan membangun segalanya dari bawah. Mereka bukan keluarga konglomerat, bukan pula pewaris nama besar. Mereka bertemu di ruang kerja bersama bertahun-tahun lalu—sama-sama muda, sama-sama lapar, sama-sama percaya bahwa dunia bisa ditaklukkan dengan kerja keras dan keberanian.

Wulan dulu seorang analis riset pasar yang teliti. Damar seorang konsultan yang piawai bicara. Mereka saling melengkapi seperti dua sisi pisau: yang satu tajam memotong data, yang satu tajam memotong keraguan.

Mereka pindah dari kos sempit di Tebet ke kontrakan kecil di Cilandak, lalu ke apartemen yang kini mereka tinggali. Setiap peningkatan tempat tinggal adalah simbol: lihat, kita berhasil. Setiap simbol adalah candu kecil, membuat Damar percaya bahwa hidup harus selalu naik.

Bersama mereka ada Jingga, sahabat lama Damar dari Malang. Jingga tidak terlalu ambisius, tapi tajam membaca manusia. Ia mengurus narasi, citra, dan kemasan. Jingga tahu cara membuat sebuah produk terasa lebih dari sekadar produk. Ia paham dunia menilai lewat kulit, meski sering lupa bahwa kulit yang terlalu dipoles bisa menutup luka yang bernanah.

Tiga orang itu, bertahun-tahun, berjalan seirama. Mereka membangun firma konsultan yang cepat dikenal di ekosistem bisnis kelas menengah atas: perusahaan keluarga yang ingin naik kelas, pemilik hotel boutique yang ingin rebranding, start-up yang ingin tampak mapan, hingga investor yang ingin membeli “citra”.

Mereka sering bercanda di awal: “Jangan sampai kita jadi orang yang cuma jual kemasan.” Lalu kemasan-lah yang paling laku. Dan laku adalah bahasa yang mudah mengubah prinsip menjadi pengecualian.

Perubahan itu datang pelan. Tidak ada satu peristiwa besar yang bisa disalahkan. Tidak ada pertengkaran hebat, tidak ada pengkhianatan terbuka. Yang ada hanya pergeseran kecil—prioritas yang berubah, nada bicara yang meninggi, empati yang dikurangi sedikit demi sedikit.

Damar mulai percaya bahwa ia selalu benar karena ia sering menang. Ia mulai menoleransi sikap keras pada tim karena target tercapai. Ia mulai menganggap kelelahan Wulan sebagai dramatis, keprihatinan Jingga sebagai kelemahan.

Kesombongan tidak datang dengan terompet. Ia datang sebagai kepercayaan diri yang tidak pernah diuji ulang.

Ketamakan tidak selalu tentang uang. Kadang ia berbentuk keinginan untuk lebih—lebih dikenal, lebih dihormati, lebih diakui.

Iri hati bersembunyi di balik kalimat: aku hanya waspada.

Kemarahan disamarkan sebagai ketegasan.

Kemalasan dibungkus kata delegasi.

Dan hawa nafsu—itu selalu disebut sekadar salah paham.

Semua itu terasa biasa.

.

Pagi itu, hujan tipis menggantung. Jakarta memberi kesan sejuk, padahal ia hanya menunda panas. Damar tiba di kantor lebih awal dari biasanya—ia ingin merasa unggul bahkan terhadap waktunya sendiri.

Kantor mereka menempati satu lantai di gedung komersial. Interiornya minimalis, warna-warna hangat, ada aroma kopi dan diffuser wangi cedarwood yang dipilih Jingga. Semua terlihat tenang, padahal orang-orang bekerja seperti berlari. Tumpukan proposal, desain pitch deck, laporan keuangan, semua menunggu disulap menjadi cerita yang bisa dijual.

Di ruang rapat, Wulan sudah duduk. Rambutnya terikat rapi, laptop terbuka, mata fokus. Jingga mengatur proyektor sambil memeriksa berulang-ulang desain slide.

Damar masuk. Senyumnya lebar, suaranya lantang. “Oke, tim. Ini hari kita.”

Wulan menatap Damar sebentar. Tatapannya bukan kagum, bukan benci. Tatapan seorang yang mulai belajar menerima bahwa orang yang ia cintai bisa berubah menjadi orang asing.

Investor datang tepat waktu: dua pria, satu perempuan. Mereka memakai kemeja yang tidak pamer, jam yang tidak mencolok, tapi aura yang membuat ruangan terasa lebih kecil. Damar menyambut dengan percaya diri, berjabat tangan hangat, menyebut nama mereka satu per satu seolah sudah akrab. Ia pandai membuat jarak terasa dekat.

Presentasi dimulai. Damar bicara seperti orkestra: naik-turun, dramatis, meyakinkan. Ia menampilkan pertumbuhan, potensi, ekspansi. Ia memutar kisah: “Kami bukan sekadar konsultan. Kami partner perubahan.”

Investor mengangguk. Mereka menulis, menatap layar, sesekali bertanya. Damar menjawab cepat, kadang terlalu cepat.

Lalu pertanyaan datang dari investor perempuan, suaranya datar, tajam, seperti garis di laporan audit.

“Dalam proposal Anda, ada program CSR: panti anak, program makan gratis, mentoring. Itu biaya. Apa return-nya?”

Damar tersenyum tanpa ragu. “Return-nya brand value. Kita beli reputasi.”

Wulan menegang. Jingga menunduk.

Perempuan itu mengernyit. “Anda… membeli?”

Damar mengangkat bahu. “Semua orang membeli sesuatu. Ada yang membeli saham, ada yang membeli pengaruh, ada yang membeli simpati. Yang penting hasil.”

Kalimat itu jatuh seperti benda berat. Tidak memecahkan apa pun di ruangan, tapi meretakkan sesuatu di dalam.

Investor laki-laki pertama tertawa kecil, setengah kagum. “You’re honest.”

Damar ikut tertawa, merasa menang.

Wulan menahan napas. Jingga memejam, seperti menahan kata-kata.

Rapat selesai dengan “kami akan review dan kembali dengan keputusan”. Investor pergi. Pintu ruangan tertutup. Hening tinggal, dan hening selalu jujur.

Wulan berdiri. “Mas, kamu dengar nggak dirimu sendiri barusan?”

Damar merapikan kertas. “Aku realistis. Kalau kita tidak bicara bahasa mereka, kita tidak akan dapat dana.”

“Bahasa mereka bukan satu-satunya bahasa di dunia,” Wulan menahan, mencoba tetap tenang. “Kamu bilang ‘beli reputasi’ seolah kebaikan bisa jadi transaksi.”

“Memang bisa,” jawab Damar cepat. “Dan itu efektif.”

“Kamu dingin,” Wulan berkata, suaranya retak tipis.

“Kamu terlalu emosional,” Damar menimpali.

Kalimat itu, dalam banyak rumah, pernah jadi palu.

Jingga akhirnya bicara, pelan tapi tajam, “Mar, kamu berubah sejak kita mulai dapat liputan. Sejak nama kamu jadi headline. Kamu kayak… lapar terus.”

Damar menoleh cepat. “Jadi sekarang kalian kompak menilai aku?”

“Bukan menilai,” Wulan menyela, matanya basah. “Kami mengkhawatirkanmu.”

“Khawatir?” Damar mendengus. “Aku yang kerja paling keras.”

Wulan menggeleng. “Kamu kerja paling keras untuk menang, Mas. Bukan untuk pulang.”

Kata “pulang” itu menampar Damar. Karena rumah mereka memang mewah, tapi rasanya sudah lama bukan rumah.

Damar mendekat, suaranya dingin. “Kalian tidak mengerti tekanan.”

Wulan menatapnya lurus. “Justru aku yang mengerti. Tekanan bukan alasan untuk kehilangan hati.”

Damar membuka mulut, ingin membalas. Tapi kata-kata yang keluar justru lebih kejam dari yang ia rencanakan.

“Kalau kamu tidak sanggup ikut ritme ini, kamu bisa istirahat.”

Wulan seperti terpukul. Jingga memalingkan wajah.

“Baik,” Wulan berkata pelan. “Kalau itu yang kamu mau.”

Wulan keluar dari ruang rapat. Pintu menutup pelan, tapi bagi Damar suaranya seperti dibanting.

Damar berdiri sendiri, dadanya naik turun. Ia merasa menang dalam debat. Ia tidak sadar: ia baru saja kalah dalam sesuatu yang lebih besar.

.

Malamnya, Damar pulang dengan kemenangan setengah matang. Investor belum tanda tangan, tapi pintu terbuka. Ia berharap Wulan menyambut dengan tenang, seperti biasa—seperti orang yang selalu memaafkan.

Namun apartemen itu sunyi.

Sunyi yang bukan karena tidak ada suara, tapi karena tidak ada kehangatan. Bahkan pendingin ruangan terasa seperti napas asing.

Di meja makan, ada satu amplop. Tulisan tangan Wulan rapi, tapi seolah bergetar: Untuk Damar.

Damar membuka dengan gerakan cepat, seolah ingin menguasai isi surat itu sebelum isi surat itu menguasai dirinya.

“Mas, aku tidak pergi karena benci. Aku pergi karena aku mulai hilang saat tetap tinggal.
Aku lelah menjadi alasan untuk ambisimu, lelah menjadi hiasan untuk reputasimu.
Aku percaya kamu orang baik, Mas. Tapi orang baik pun bisa tersesat oleh hal-hal yang pelan dan tampak wajar.
Kamu menyebutnya ‘biasa’, padahal itu yang paling berbahaya.
Aku titip satu kalimat:
Jangan takut miskin. Takutlah kalau kamu kaya tapi tidak punya hati.
Aku ke Malang dulu. Ke rumah Ibu.
Kita bicara kalau kamu sudah bisa mendengar tanpa ingin menang.
—Wulan.”

Damar menahan napas. Lalu ia berdiri, berjalan ke kamar, membuka lemari, melihat pakaian Wulan yang setengahnya hilang. Ia duduk di tepi ranjang seperti orang baru belajar bahwa hidup bisa berubah hanya karena satu surat.

Untuk pertama kalinya, Damar merasa takut bukan karena kehilangan bisnis, melainkan karena kehilangan seseorang yang selama ini diam-diam menjaga agar ia tetap manusia.

Ia mencoba menelepon. Wulan tidak mengangkat. Ia mengirim pesan: Kita bisa bicara. Tidak ada balasan.

Damar menatap apartemen yang rapi. Rapi seperti kuburan: tidak ada yang berantakan, tapi tidak ada yang hidup.

.

Hari-hari berikutnya, kantor tetap berjalan. Klien tetap datang. Deadline tetap memaksa. Namun Damar seperti mesin yang kehilangan oli: berisik di dalam, retak di bagian yang tak terlihat.

Ia mulai mudah marah. Ia memotong pembicaraan staf. Ia menuntut hasil tanpa peduli proses. Ia menatap semua orang seperti kompetitor.

“Kenapa angka engagement turun?” bentaknya pada tim digital.

“Karena kita belum posting konten baru, Pak. Jingga—” staf itu berhenti, sadar Jingga bukan lagi di kantor.

Damar memukul meja ringan. “Cari cara! Saya tidak peduli!”

Di ruangan, orang-orang menunduk. Tak ada yang berani membantah. Di banyak perusahaan, ketakutan sering disalahartikan sebagai hormat.

Di pantry, Damar mendengar bisik-bisik. “Pak Damar sekarang beda ya.” “Iya, kayak nggak punya rem.” “Dulu masih bisa ketawa.”

Damar mendengar, tapi pura-pura tidak. Ia punya kebiasaan lain: menunda rasa bersalah sampai rasa bersalah menjadi kebal.

Jingga mengirim pesan singkat suatu sore: Aku cuti dulu, Mar. Aku capek. Aku butuh jarak. Tidak ada emotikon, tidak ada basa-basi.

Damar mengetik balasan: Oke. Urus handover. Lalu ia hapus. Ia ganti: Baik, J. Jaga kesehatan. Ia kirim, tapi terasa seperti formalitas.

Malam-malam Damar semakin panjang. Ia tidur larut, bangun cepat, tubuhnya bergerak, tapi hatinya seperti tertinggal di ruangan lain.

Suatu malam, ia menemukan buku catatan Wulan lagi. Kali ini ia membuka lebih lama.

Di halaman tengah, Wulan menulis daftar, rapi seperti materi kelas:

Kesombongan → kerendahan hati
Ketamakan → kedermawanan
Hawa nafsu → kemurnian
Iri hati → kasih
Kerakusan → penguasaan diri
Kemarahan → kesabaran
Kemalasan → ketekunan

Damar membaca itu berkali-kali. Tujuh baris. Tujuh cermin.

Ia teringat panti yang Wulan sebut. Ia teringat janji yang ia langgar. Ia teringat bagaimana ia menjadikan kebaikan sebagai barang dagangan.

Di jam dua pagi, Damar membuka laptop. Ia mencari alamat panti di Kalimalang. Tangannya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena malu.

.

Pagi Minggu, Damar datang ke panti sendirian. Ia mengenakan kaus polos, tanpa jam mahal. Ia parkir di pinggir jalan kecil, di antara warung bubur dan bengkel motor. Udara pagi berbau tanah basah dan asap gorengan. Di kejauhan, suara azan sudah selesai. Hari berjalan seperti biasa.

Di gerbang panti, cat tembok mulai pudar. Ada pot bunga plastik yang retak, ada papan kecil bertuliskan nama yayasan. Damar berdiri beberapa detik, seperti ragu apakah ia pantas masuk.

Seorang pengurus menyambut. Perempuan paruh baya, senyumnya lelah tapi hangat. “Mas Damar ya? Biasanya sama Mbak Wulan.”

Damar mengangguk. “Saya… saya terlambat.”

Pengurus itu tidak bertanya macam-macam. Ia hanya mempersilakan. Dalam hidup, ada orang-orang yang tidak meminta penjelasan panjang karena mereka sudah terlalu sering melihat orang tersesat.

Di halaman, anak-anak berlarian. Ada yang memakai kaus kebesaran, ada yang mengejar bola plastik, ada yang tertawa keras. Tawa mereka tidak punya strategi. Tidak ada yang berpura-pura penting.

Di ruang belajar, seorang anak perempuan berambut ikal sedang menulis. Ia menatap Damar tanpa takut.

“Om siapa?”

“Damar,” jawabnya.

Anak itu mengangguk. “Om kerja apa?”

Pertanyaan sederhana yang biasanya Damar jawab dengan kebanggaan: CEO, founder, consultant. Tapi di hadapan mata anak itu—mata yang tidak peduli titel—Damar mendadak ragu.

“Aku… orang yang sedang belajar,” katanya.

Anak itu tersenyum. “Belajar apa?”

Damar menelan ludah. Kata-kata besar tiba-tiba terasa murahan. Ia mencari yang jujur.

“Belajar… jadi baik.”

Anak itu mengangguk lagi, seolah itu jawaban paling wajar di dunia. Lalu ia kembali menulis.

Damar duduk di kursi kecil. Ia membantu mereka membaca, menghitung, menggambar. Ia mendengarkan cerita mereka: tentang ibu yang kerja dua shift, tentang ayah yang hilang, tentang mimpi jadi dokter, jadi koki, jadi desainer.

Seorang anak laki-laki bertanya, “Om, kalau sudah kaya, pasti bahagia ya?”

Damar terdiam. Di kepala, ia ingin menjawab dengan motivasi: bahagia itu pilihan. Tapi di dada, ada sesuatu yang lebih jujur.

“Belum tentu,” katanya akhirnya.

Anak itu mengerutkan dahi. “Kenapa?”

Damar melihat tangan kecil itu memegang pensil. “Karena kadang orang kaya… lupa caranya merasa cukup.”

Anak itu mengangguk tanpa benar-benar mengerti. Tapi Damar mengerti. Dan pemahaman itu seperti pisau yang pelan-pelan membelah pertahanannya.

Di sela tawa, Damar tiba-tiba menangis—tanpa suara. Air mata itu bukan karena sedih semata, melainkan karena sadar: ia punya segalanya, tapi hampir kehilangan makna.

Pengurus panti duduk di sampingnya, menawarkan tisu. “Mas nggak apa-apa?”

Damar menggeleng, tersenyum pahit. “Saya cuma… capek.”

“Capek itu manusiawi,” kata perempuan itu. “Yang tidak manusiawi itu kalau capek jadi alasan menyakiti.”

Kalimat itu sederhana. Tapi Damar merasa seperti dipukul pelan di tempat yang sakit.

Damar pulang siang itu tidak membawa foto, tidak membawa konten, tidak membawa cerita kemenangan. Ia membawa sesuatu yang lebih berat: rasa malu yang sehat.

Malamnya, ia menelpon Wulan.

Wulan mengangkat setelah beberapa dering. Suaranya terdengar jauh, seperti kota lain. “Mas?”

Damar menahan napas. Ia ingin menjelaskan panjang. Ia ingin meminta maaf dengan kata-kata paling indah. Tapi ia tahu: kata-kata bisa jadi tipu daya terakhir.

“Aku ke panti,” katanya pelan.

Hening.

“Aku datang sendiri,” lanjutnya. “Aku nggak foto. Nggak bikin konten. Nggak ngomong soal brand. Aku cuma… duduk. Dengerin.”

Wulan tidak menjawab cepat. Lalu suara Wulan masuk, lirih. “Dan?”

Damar menutup mata. “Dan aku malu.”

Kalimat itu sederhana. Tapi di mulut orang seperti Damar, itu seperti mengakui kalah di medan perang.

Wulan menarik napas panjang. “Aku tidak butuh kamu sempurna, Mas. Aku cuma butuh kamu hadir.”

Damar mengangguk meski Wulan tak melihat. “Aku ingin pulang.”

“Pulang itu bukan alamat,” Wulan berkata pelan, seperti mengutip sesuatu yang pernah ia tulis. “Pulang itu… keadaan hati.”

Damar menelan. “Kalau aku belajar, pelan-pelan… bolehkah aku menjemputmu?”

Hening lagi. Kali ini tidak menebal, tapi menghangat.

“Datanglah ke Malang,” jawab Wulan. “Bukan untuk membuktikan apa-apa. Datang untuk mendengar.”

.

Dua hari kemudian, Damar berada di tol menuju Malang. Mobil melaju, tetapi pikirannya berjalan lebih lambat. Ia melewati papan-papan iklan, melewati rest area, melewati kota-kota kecil yang dulu ia anggap “bukan target market”.

Di kursi sebelah, ada satu kotak sederhana: buku catatan Wulan, dan beberapa mainan edukasi untuk anak-anak panti. Ia membawa itu bukan sebagai simbol, tetapi sebagai latihan: memberi tanpa perlu terlihat.

Ia ingat Malang dengan cara yang ganjil: kota tempat ia dulu merasa cukup. Di sana ia pernah menjadi orang biasa tanpa beban prestise. Di sana ia pernah tertawa lepas bersama Jingga di warung kopi kecil dekat kampus. Di sana ia pernah berjanji pada dirinya sendiri: kalau sukses, jangan berubah jadi sok tahu.

Janji itu terdengar lucu sekarang.

Sesampainya di Malang, hujan turun pelan, seperti kota itu sedang membasuh sesuatu. Damar memarkir mobil di depan rumah ibu Wulan. Rumah itu tidak besar. Ada pohon mangga di halaman. Ada pot-pot bunga yang dirawat. Hangatnya nyata, tidak dipoles.

Pintu dibuka. Wulan berdiri di sana. Wajahnya lebih tenang, tapi matanya menyimpan lelah yang belum selesai.

Damar ingin memeluk. Tapi ia menunggu—seperti orang yang belajar menghormati ruang.

Wulan mendekat duluan. Memeluknya singkat. Dalam pelukan itu, Damar merasa tubuhnya kembali menjadi manusia, bukan mesin.

Mereka duduk di ruang tamu. Tidak ada drama. Tidak ada teriakan. Hanya dua orang dewasa yang sama-sama capek.

“Aku takut kamu pergi selamanya,” kata Damar.

Wulan menatapnya. “Aku pergi supaya kita tidak mati pelan-pelan.”

Damar mengangguk. “Aku salah.”

Wulan diam. Ia menunggu.

Damar melanjutkan, suaranya serak, “Aku pikir kesombongan itu percaya diri. Aku pikir ketamakan itu kerja keras. Aku pikir marah itu ketegasan. Aku pikir malas itu delegasi. Aku pikir… aku pikir aku benar.”

Wulan menunduk, air mata jatuh. “Aku juga salah,” katanya. “Aku terlalu lama memaklumi. Aku terlalu lama menutup luka dengan senyum.”

Damar meraih tangan Wulan—pelan, meminta izin.

Wulan tidak menariknya.

“Mas,” Wulan berkata lirih, “aku tidak minta kamu berhenti jadi hebat. Aku cuma minta kamu berhenti jadi kejam.”

Damar menunduk. Kata “kejam” membuatnya ingin membantah, tapi ia tahu: kejam tidak selalu berteriak. Kejam bisa berupa pengabaian yang berulang, penghakiman yang halus, tuntutan yang membuat orang lain merasa tidak cukup.

“Aku mau belajar,” katanya.

Wulan menatapnya lama. “Belajar itu bukan sekali datang ke panti, Mas. Belajar itu rutinitas.”

Damar mengangguk. “Aku tahu.”

Malam itu, mereka tidak menyelesaikan semuanya. Mereka hanya memulai satu hal yang jarang dilakukan orang sukses: mengakui rapuh.

Di kamar tamu, Damar tidur dengan gelisah. Di luar, hujan masih turun. Di dalam, ia mendengar suara masa lalu: suaranya sendiri yang sering berkata, biasa aja, saat Wulan mengeluh. Suara itu kini terdengar seperti orang lain.

Ia bangun sebelum subuh. Ia berjalan ke dapur, melihat ibu Wulan sedang menyiapkan air panas.

Ibu itu menoleh, senyumnya tenang. “Belum tidur, Nak?”

Damar menggeleng. “Saya… banyak salah, Bu.”

Ibu Wulan menuang air ke gelas. “Semua orang salah.”

“Tapi saya menyakiti Wulan.”

Ibu itu mengangguk pelan. “Kamu tahu kenapa Wulan pergi?”

Damar menghela napas. “Karena saya…”

“Karena dia masih ingin kamu,” ibu itu memotong pelan. “Kalau dia tidak ingin kamu, dia tidak akan meninggalkan surat. Dia akan hilang tanpa pesan.”

Damar menelan ludah.

Ibu Wulan melanjutkan, “Orang yang masih menulis surat, itu masih menaruh harapan. Tapi harapan bisa mati kalau dipelihara sendirian.”

Damar menatap lantai. Ia merasakan sesuatu yang lama tidak ia rasakan: takut kehilangan karena kesalahan sendiri.

.

Beberapa hari setelahnya, Damar kembali ke Jakarta. Tapi ia membawa ritme baru: ritme yang tidak memuja kecepatan.

Di kantor, ia mengumpulkan tim. Orang-orang datang dengan cemas, terbiasa pada amarah Damar belakangan ini.

Damar berdiri di depan, suaranya pelan. “Saya minta maaf.”

Kalimat itu membuat ruangan sunyi.

“Saya minta maaf kalau saya keras,” lanjutnya. “Kalau saya bikin kalian takut. Kalau saya lupa… kita manusia.”

Tidak ada tepuk tangan. Tapi beberapa orang terlihat menahan napas, seperti baru diizinkan bernapas.

Seorang staf muda mengangkat tangan, ragu-ragu. “Pak, ini berarti… target kita turun?”

Damar tersenyum lemah. “Target tetap ada. Tapi cara kita mencapainya harus manusiawi.”

Seorang staf lain berkata pelan, “Terima kasih, Pak.”

Damar mengangguk. Ia tahu ini baru awal. Orang tidak akan percaya perubahan dalam sehari. Kepercayaan tidak dibeli. Ia ditumbuhkan.

Jingga kembali beberapa minggu kemudian. Ia datang dengan mata lelah tapi jujur. “Aku balik kalau kamu beneran berubah,” katanya tanpa basa-basi.

Damar mengangguk. “Aku nggak minta kamu percaya cepat. Aku cuma minta kamu lihat.”

Jingga menatap Damar, lalu duduk. “Oke. Kita mulai dari cara kita bicara.”

Mereka membuat aturan baru: tidak ada lagi presentasi yang menjual kepedulian sebagai komoditas. Jika ada program sosial, mereka lakukan tanpa publikasi dulu. Jika suatu saat dipublikasikan, harus jelas: untuk mengajak orang lain terlibat, bukan untuk memoles ego.

Damar mengubah satu hal kecil: setiap rapat, ia memulai dengan satu pertanyaan yang dulu ia anggap tidak produktif: “Bagaimana kabar kalian?”

Awalnya orang menjawab singkat. Lama-lama, beberapa mulai jujur. Ada yang mengaku lelah, ada yang mengaku kehilangan orang tua, ada yang mengaku cemas. Damar belajar mendengar tanpa menyelipkan solusi instan.

Wulan memimpin program mentoring untuk karyawan muda, setelah ia kembali dari Malang. Ia tidak langsung tinggal lagi di apartemen. Ia memilih menyewa tempat kecil dekat kantor, untuk memberi ruang yang sehat.

Damar menerima, meski dadanya masih sering sesak. Ia belajar: cinta tidak selalu berarti memiliki. Cinta juga berarti membiarkan orang lain aman.

Suatu malam, Wulan datang ke apartemen hanya untuk makan malam. Mereka duduk, tidak banyak bicara. Damar memasak sederhana: sup dan telur dadar. Rasanya biasa. Tapi hangat.

Wulan menatap meja. “Mas, kamu tahu yang membuat orang berubah itu bukan rasa bersalah?”

Damar mengangkat alis.

“Yang membuat orang berubah itu rasa kehilangan,” kata Wulan pelan. “Rasa takut kehilangan hal yang berharga.”

Damar menunduk. “Aku takut.”

Wulan mengangguk. “Takut itu baik kalau membuatmu sadar.”

.

Beberapa bulan kemudian, investor yang dulu mereka temui kembali menghubungi. Mereka ingin melanjutkan pembicaraan. Damar masuk rapat dengan sikap berbeda. Ia tidak lagi menjual kalimat-kalimat bombastis.

Investor perempuan itu bertanya lagi, “CSR Anda sekarang seperti apa?”

Damar menatapnya, lalu menjawab pelan, “Kami tetap lakukan. Tapi bukan untuk citra. Kami lakukan karena kami ingin perusahaan ini layak dihuni.”

Investor itu menatap Damar lama. “Anda berubah.”

Damar tersenyum. “Saya pernah salah mengira reputasi bisa dibeli. Saya belajar… reputasi itu konsekuensi.”

Investor itu mengangguk. “Good.”

Mereka tidak langsung tanda tangan. Tapi kali ini, penundaan tidak membuat Damar panik. Ia sudah belajar: tidak semua jeda adalah ancaman. Kadang jeda adalah ruang untuk tetap manusia.

.

Satu tahun setelah malam di balkon itu, Damar kembali berdiri di tempat yang sama. Jakarta tetap sama: bising, terang, tidak pernah benar-benar selesai. Jalur kendaraan di bawah masih seperti aliran cahaya, lampu-lampu gedung masih menyala seperti doa yang lupa dibaca.

Di meja kecil, secangkir kopi hangat. Kali ini ia menyesap pelan, menikmati rasa, bukan menelannya tergesa.

Ponselnya bergetar. Nama yang muncul: Wulan.

Damar mengangkat cepat. “Halo.”

“Mas,” suara Wulan terdengar lembut, “aku di bawah. Boleh naik?”

Damar tersenyum, dadanya hangat. “Tentu.”

Beberapa menit kemudian, Wulan masuk. Mereka tidak lagi tinggal bersama penuh, tapi mereka sering bertemu. Mereka membangun ulang, seperti orang membangun rumah setelah gempa: perlahan, hati-hati, dengan tiang yang lebih kuat.

Wulan berdiri di balkon, menatap kota. “Kamu masih suka lihat Jakarta dari sini?”

Damar mengangguk. “Aku suka mengingat… dulu aku berdiri di sini dan merasa dunia harus tunduk.”

Wulan menatapnya. “Sekarang?”

Damar menarik napas. “Sekarang aku cuma ingin… tidak kehilangan hati.”

Wulan menatapnya lama. “Kamu tahu, Mas… kata ‘biasa’ itu bisa jadi doa.”

“Doa?”

“Ya,” Wulan mengangguk. “Biasa bisa berarti: kita masih hidup. Kita masih bisa memperbaiki. Kita masih punya kesempatan.”

Damar menelan. “Aku dulu menganggap biasa sebagai alasan untuk tidak peduli.”

Wulan tersenyum tipis. “Sekarang jadikan biasa sebagai alasan untuk tetap sadar.”

Damar masuk ke ruang tamu, mengambil buku catatan itu. Sampulnya sudah agak kusut. Ia membuka halaman kosong, menulis dengan tangan yang lebih tenang.

“Aku tidak takut hidup biasa.
Aku takut kehilangan nurani saat semuanya terasa biasa.”

Wulan membaca tulisan itu. Matanya berkaca-kaca, tapi kali ini air mata itu bukan karena luka. Lebih seperti hujan setelah kemarau panjang.

Damar menoleh. “Maaf ya.”

Wulan menggeleng pelan. “Kita sudah lewat fase minta maaf berkali-kali. Sekarang fase membuktikan.”

Damar tersenyum. “Aku akan membuktikan… lewat kebiasaan.”

Wulan tertawa kecil. “Nah. Itu yang benar.”

Mereka berdiri berdampingan, menatap Jakarta. Tidak ada janji besar. Tidak ada kalimat dramatis. Hanya dua orang yang memilih untuk tidak menyerah pada versi dirinya yang paling gelap.

Di luar, kota tetap bising. Namun di dalam, Damar akhirnya mengerti: yang menumbuhkan hidup bukan perubahan besar yang diumumkan, melainkan perubahan kecil yang dijaga setiap hari—hingga ia menjadi biasa.

Dan barangkali, itulah kemenangan paling sunyi.

.

.

.

Malang, 2 Januari 2026

Jeffrey Wibisono V.

.

.

#Cerpen #CerpenKompas #SastraIndonesia #Jakarta #Malang #KisahDewasa #RefleksiDiri #AmbisiDanCinta #Integritas #HealingJourney #KelasMenengah #DuniaBisnis #MaknaHidup #TujuhDosaBesar #NamakuBrandku

Leave a Reply