Beras Jagung di Meja Kaca

“Yang paling kuat bukanlah mereka yang selalu menang, tetapi mereka yang berani jujur pada asal-usulnya dan tetap bekerja diam-diam.”

.

Pagi di Malang selalu datang seperti nafas yang ditahan terlalu lama lalu dilepas pelan. Jaya menyalakan lampu ruang rapat. Meja kaca memantulkan langit yang masih kelabu; di baliknya, bukit-bukit memeluk kota dengan sabar. Di layar, pitch deck edutech yang ia bangun bersama Ngar dan Retna menunggu giliran: tiga puluh slide, puluhan mimpi, ratusan jam begadang.

Jaya menepuk-nepuk saku kemejanya, mencari flashdisk seolah mencari kepastian. Di telinganya, suara roda sepeda dari masa kecil sering datang tak diundang. Dengung rantai, ayahnya menembus dingin subuh, mengayuh dari kampungnya ke Singosari, membeli hasil bumi dari petani. Sorenya, sang ayah kembali, sepeda berat karena karung. Ibunya menunggu di depan rumah, menggelar pakaian bekas di tikar. Di dapur, panci menguapkan bau gurih yang akrab: beras jagung, bukan beras putih. Teksturnya agak kasar, tapi di meja kayu kecil itu—yang kini hanya tersisa sebagai kenangan—mereka makan dengan rasa kemenangan kecil setiap hari.

“Masuk, Mas?” suara Retna memecah bayangan. Ia meletakkan map warna bata di atas meja, kuku-kukunya rapi, matanya jenih namun jernihnya berkabut. “Investor dari Surabaya sudah di lobi. Kita mulai on time?”

“On time,” jawab Jaya. “Kita sudah bersiap terlalu lama untuk perkara ini.”

Ngar menyusul, blazer hitam, sneakers putih. “Aku bawa data pengguna tiga bulan terakhir. Ada lonjakan aneh di wilayah pesisir. Kupikir karena kolaborasi sama sekolah perhotelan.”

Jaya mengangguk. Di luar kaca, matahari merayap, membelah kabut. Ia menatap kilau kota—hotel-hotel baru, kafe minimalis, kampus swasta, gudang logistik, papan reklame cat warna-warni—semua seperti baris-baris pada wajah metropolitan yang tumbuh, berisik, tapi menyimpan wibawa.

.

Jaya tak pernah menceritakan semua kisah awalnya pada investor. Ia menyimpannya seperti orang menyimpan uang receh di toples kaca: kecil-kecil, tapi memenuhi ruang dengan makna.

Suatu Imlek ketika ia masih kecil, ayahnya duduk di hadapannya dengan buku catatan sampul lusuh. “Kamu mau invest?” tanya ayahnya, separuh serius separuh bercanda. “Tepung terigu bakal naik. Kita bisa beli sekarang, nanti kamu lihat sendiri hasilnya.”

Jaya menatap merah angpau di tangan. “Kalau rugi?”

“Belajar,” jawab ayahnya. “Belajar itu bunga yang selalu kembali.”

Sejak itu, setiap angpau punya tujuan. Kadang untuk beli biskuit kaleng, kadang minyak goreng, kadang detergen. Di toko kelontong kecil ibunya, ia belajar margin: roti untungnya segini, telur asin segitu, minyak goreng sekian. Uang bukan soal angka di kepala; ia berwujud peluh di telapak.

Ketika ekonomi keluarga membaik, ayah mengajaknya menjaga toko cat. Bau thinner menyusup ke baju, katalog warna jadi semacam kitab. Di belakang toko berdiri apotek kecil yang kemudian diurus bersama; Jaya mengantar obat sambil mendengar curhat hidup pelanggan. “Mas Jaya,” kata seorang ibu, “kalau cat kamar anak laki-laki bagusnya apa?” Jaya membuka katalog, mengingat mata anak-anak yang ia temui: “Coba ini. Biru yang tenang, bukan yang galak.”

Di malam-malam sendu kota, Jaya membayangkan kelak punya pabrik sendiri, tapi diam-diam ia juga ingin membuka sekolah. Di kepalanya, cat, air minum, toko kelontong, apotek, dan ruang kelas bukan hal-hal yang tak saling kenal; semuanya adalah bahasa paling sederhana dari satu kata: membangun.

.

Rapat dimulai. Investor dari Surabaya, lelaki dengan senyum pelit yang rapi, memperkenalkan diri sebagai Kelana. “Saya suka angka,” katanya, menatap Jaya, Retna, dan Ngar secara bergiliran. “Saya juga suka cerita. Tapi saya akan menaruh uang pada angka yang membuat cerita tampak tak mungkin gagal.”

Jaya menekan tombol. Slide pertama muncul: “Belajar yang Mengakar: Dari Kota ke Kota, Dari Kelas ke Karir.” Ada peta distribusi pengguna, testimoni siswa dari keluarga pedagang, portofolio modul yang menghubungkan pelajaran dengan realita industri: perhotelan, e-commerce, manufaktur cat, distribusi air minum, desain, hingga logistik.

“Kenapa edutech?” tanya Kelana.

“Karena kami semua murid yang tak pernah lulus dari kehidupan,” jawab Jaya. “Kami ingin membuat kelas yang meniru cara pasar bekerja: jujur, berdarah, tapi penuh kesempatan.”

Ngar melanjutkan dengan data retensi, CAC yang menurun, LTV yang menanjak. Retna menjelaskan model kolaborasi: “Kami tidak hanya menjual kursus. Kami mengikat ekosistem: UMKM cat, distributor air minum, hotel-hotel yang butuh SDM, kampus yang butuh silabus realistis. Anak-anak belajar sambil magang, magang sambil berkontribusi.”

Kelana mengusap dagu. “Menarik. Tapi saya ingin tahu: kalian siap seberapa jauh jika pasar meminta kalian tumbuh lebih cepat dari moral?”

Pertanyaan itu menggantung seperti lampu yang entah berkedip entah padam.

Retna menatap Jaya. Jaya menarik napas pelan. “Kami akan tumbuh setangguh yang kami bisa tanpa melompati pagar yang kami bangun sendiri.”

“Pagar?” Kelana menaikkan alis.

“Pagar yang melindungi esok dari keserakahan hari ini,” kata Jaya. “Sejak kecil saya diajarkan hemat, menabung, tidak otomatis menaikkan gaya hidup ketika pendapatan naik. Pagar itu sama: tidak otomatis menaikkan ambisi dengan cara yang merusak.”

Kelana tersenyum samar. “Saya suka jawaban itu. Tapi pasar—” ia mengetuk meja kaca, membuat suara jernih—“kadang menginginkan kalian memecahkan kaca, bukan mengetuknya.”

.

Malam setelah rapat, rest area tol membentang seperti mimbar sunyi. Jaya menyetir sendiri, pikirannya berlari cepat. Penawaran Kelana jelas: dana besar, valuasi menggiurkan, ekspansi ke kota-kota. Namun ada catatan kaki: percepatan user growth dengan taktik integrasi “curam”—program bundling yang menyamarkan biaya, promosi “gratis” yang mengunci peserta, kemitraan eksklusif dengan pemasok tertentu yang meminta syarat-syarat yang membuat Jaya ingat pada katalog warna—warna yang tampak sama, tapi lain arti di dinding.

Ia menepi, mematikan mesin. Di kursi penumpang, kotak makan dari ibunya masih ada: kering tempe, sambal terasi, sepotong jagung rebus. Ia menggigit jagung, rasanya manis dan sederhana. Di kepalanya, ayahnya datang menuntun sepeda. “Kalau kamu terburu-buru,” suara ayahnya pelan, “kamu lupa periksa rem.”

Telepon bergetar. Pesan dari Retna: Jaya, besok kita putuskan. Sekali kita tanda tangan, jalannya panjang. Aku ikut apa pun keputusanmu, tapi izinkan aku jujur: aku takut kehilangan kita demi ambisi yang kita tak kenali.

Ia menatap hiruk lampu truk yang lewat. Di kaca, ia melihat wajahnya sendiri—lebih matang dari masa remaja yang bau thinner, tapi tetap anak yang lapar. Lapar bukan hanya pada roti, tetapi pada makna.

.

Beberapa hari kemudian, ia mengajak Retna dan Ngar ke Singosari, menyusuri jalur yang dulu dilalui ayahnya. Mereka berhenti di pasar lama yang kini lebih terang, namun tetap menyisakan bau tanah basah setelah turun hujan dini hari. Di kios sayur, perempuan paruh baya menyuapkan cerita: harga cabai yang naik, anaknya masuk sekolah vokasi perhotelan, suaminya baru berhenti jadi kuli.

“Kami sedang membangun kelas yang mengikat pasar dan sekolah,” kata Retna, mempresentasikan lebih tenang daripada pitch deck di gedung tinggi. “Kalau ibu mau, anak ibu bisa ikut program magang kami. Ada beasiswa untuk keluarga pedagang.”

Perempuan itu tertawa kecil sambil mengusap daun bawang. “Nak, kalau kalian serius, tolong jaga janji. Anak-anak di sini mudah patah hati kalau harapan cuma judul di spanduk.”

Ngar mencatat. Jaya mengangguk, pipinya terasa hangat. Mereka melanjutkan perjalanan ke rumah tua Jaya. Ibunya menyiapkan makan siang: sayur bening, tahu tempe, sambal bawang, dan—Jaya memandangi panci, tersenyum—nasi campur beras jagung.

“Kenapa masak ini, Bu?” tanya Jaya.

Ibunya terkekeh. “Supaya kamu ingat rasa yang menyelamatkan kita.”

Mereka makan di meja kayu yang baru, namun Jaya tetap melihat meja lama di masa kecilnya. Retna duduk di seberang, suaranya lembut. “Kadang aku iri pada orang yang masa kecilnya terjaga oleh rasa yang jelas. Aku tumbuh di gang sempit Surabaya, radio tetangga adalah jam kami. Ibuku penjahit, ayahku ojek kayuh. Kami juga makan yang sederhana. Tapi sekarang—” ia menatap potongan jagung di piring, “aku sering lupa menunda keinginanku.”

Jaya menaruh sumpit. “Mungkin kita bisa membuat program ‘Beras Jagung’ di platform. Bukan tentang jagungnya, tapi tentang kesadaran finansial: modul hemat, investasi kecil-kecilan, strategi menunda gratifikasi.”

Ngar menyahut, antusias. “Gamifikasi nabung! Ada toples digital. Anak-anak bisa ‘membeli stok’ sederhana, belajar margin dengan contoh sehari-hari.”

Retna tersenyum. “Dan bukan sekadar teori, tapi terhubung ke UMKM lokal. Biar uang belajar mereka kembali sebagai pengalaman nyata.”

Jaya menatap ibunya, yang memindahkan sayur ke mangkok. “Bu, kalau kita bikin program yang ngajarin anak-anak invest kecil dari angpau, Ibu setuju?”

Ibunya mengangkat bahu. “Kalau kamu yang urus, Ibu percaya. Tapi janji, jangan jual mimpi lebih mahal daripada kenyataan.”

.

Kelana menerima mereka sekali lagi di kantornya, kali ini di Surabaya. Di dinding, lukisan-lukisan abstrak seharga motor menggantung seperti kitab anyar. Meja panjang dari kayu trembesi memantulkan perbincangan ke langit-langit.

“Kami terima investasi,” kata Jaya akhirnya, “dengan syarat-syarat yang kami ajukan.”

“Saya dengar,” Kelana membuka map, “kalian menambah satu pilar: ‘Beras Jagung Module’. Kalian ingin mengalokasikan sebagian dana ke beasiswa keluarga pedagang, melibatkan UMKM cat, air minum, hotel, dan apotek kecil. Kalian ingin kontrak kami menegaskan larangan bundling yang menipu, larangan diskon kamuflase, larangan lock-in licik. Kalian juga menolak kemitraan eksklusif yang mematikan pemasok kecil. Kalian meminta kursi di komite etika internal.”

Ngar menatap Jaya. Retna mengatupkan bibir.

Kelana menutup map. Lama sekali ia diam. “Saya bukan orang suci,” ucapnya datar. “Saya datang dari jalanan lain, jalan yang diaping oleh target. Tapi saya akan cerita suatu hal: dulu saya juga diajar hitung margin dari anak kecil jualan roti. Saya menua, tetapi saya rindu angka-angka yang menyelamatkan kehormatan. Kalian dapatkan dana, kalian dapatkan syarat kalian. Hanya satu permintaan saya—”

Ia berdiri, melangkah ke jendela yang memantulkan arteri kota. “—jangan membuat saya menyesal percaya.”

.

Hujan besar datang tanpa salam. Jalanan besar Surabaya berubah seperti sungai dengan muara yang hilang. Seminggu setelah penandatanganan, pabrik air minum mitra mereka terendam, logistik kacau, kelas-kelas daring banjir keluhan. Senter-senter kecil menyala di kegelapan: tutor yang mengajar lewat WhatsApp, UMKM cat yang meminjamkan pick-up untuk kirim modul, hotel yang membuka ballroom untuk learning camp darurat.

Di tengah krisis, telepon dari apotek mitra. “Mas Jaya, stok obat batuk tipis, tapi ada peluang belajar buat anak-anak. Mereka bisa bantu inventaris, belajar sistem stok, dapat uang lembur. Kami juga butuh orang untuk jaga antrian.”

Retna dan Ngar membagi tim. Malam-malam jadi panjang. Jaya kembali merasakan bau obat, angka-angka stok, keluh batuk anak-anak. Di sela teriakan logistik, ia mendengar jantung masa kecilnya mengayuh sepeda.

Saat banjir surut, Jaya berdiri di depan kelas tatap muka pertama pasca-kacau. Ia menatap puluhan wajah: anak sopir angkot, anak pedagang sayur, anak satpam hotel, anak barista kedai kopi. Ia bercerita tentang toples kaca, tentang angpau pertama yang jadi tepung terigu, tentang menunda gadget demi belanja stok, tentang menulis semua pemasukan kecil dan pengeluaran pendek.

“Kalau kalian sekarang punya sepuluh ribu,” katanya, “kalian bisa belikan apa? Bukan jawaban yang ku cari, tapi kebiasaan mencatat. Kebiasaan itu yang kelak menjaga kalian ketika angka-angka jadi raksasa.”

Tangan-tangan kecil terangkat. Cerita mengalir. Di belakang, Retna mencatat inspirasi modul baru: Micro-Ownership Lab. Ngar membuat papan di dinding: “Toples Digital,” nama-nama siswa tertera dengan target yang mereka pilih sendiri.

.

Krisis berikutnya datang bukan dari banjir, melainkan dari diri. Di tengah keberhasilan awal, di saat jumlah pengguna menanjak, beberapa influencer menawarkan kolaborasi endorsement dengan imbalan bypass modul tertentu supaya “terlihat gampang lulus”. Ngar tergoda: itu akan menaikkan angka. Retna galau: itu melukai pagar.

Jaya memanggil keduanya ke ruang rapat. Di meja kaca, ada piring berisi jagung rebus yang baru dikupas. “Kita bisa menjadi seperti mereka,” ucap Jaya, “atau menjadi kita.”

“Kita butuh angka itu,” Ngar menatap ponsel. “Tanpa itu, investasi akan menuntut. Kita berjanji mengembalikan.”

“Dan kita berjanji pada diri sendiri untuk tidak menipu masa depan,” Retna menatap Jaya. “Kalau kita bengkok sekarang, kita akan berkelok selamanya.”

Jaya memecah kebisuan. “Nomor di layar bisa naik hari ini, tapi jangka panjang—” ia mengangkat jagung. “—rasa yang hilang tidak bisa ditukar.” Ia memutuskan: tak ada tiket cepat, tak ada endorsement palsu. Mereka memilih jalan panjang.

Keputusan itu memanjang siang menjadi malam yang gelap. Target meleset. Komunitas digital mencibir karena “gak mau kompromi”. Kelana mengirim pesan singkat: Tetap. Nanti kamu paham kenapa.

.

Saat retakan kepercayaan hampir muncul, sebuah surat datang dari Singosari. Surat itu ditulis tangan dengan tinta biru yang sedikit pudar. “Mas Jaya,” tulis seseorang yang menandatangani dirinya Ragil, “dulu saya baca modul ‘Beras Jagung’. Saya mulai menabung dari uang jaga warung ibu. Saya belajar margin dari roti, telur asin, minyak goreng. Saya lolos magang di hotel, pindah ke bar, lalu ke front office. Suatu malam, tamu berkata kamar anaknya terlalu terang. Saya ingat modul warna. Saya rekomendasikan cat biru tenang. Anak itu tidur nyenyak. Di situ saya mengerti, belajar bukan angka; belajar adalah wani—keberanian—untuk meletakkan hati di hal-hal kecil. Terima kasih.”

Jaya membaca surat itu keras-keras di depan tim. Beberapa orang tersenyum, beberapa mengusap mata. Retna menepuk bahu Jaya pelan. “Beginilah rasanya jadi sekolah yang hidup.”

.

Waktu bergulir. Platform edutech mereka tidak meledak seperti kembang api; ia tumbuh seperti pohon—lambat, menghunjam, lalu teduh. Di sekelilingnya, ekosistem kecil-kecil menguat: UMKM cat mulai berani bermain warna dengan sains sederhana, apotek mitra menerapkan first-expiry-first-out, hotel-hotel partner mengirim staf untuk mengajar kelas guest empathy. “Beras Jagung Module” menjadi semacam rite of passage bagi siswa baru; mereka memotret toples digital mereka, mengunggah catatan margin pertama mereka seperti orang memamerkan medali.

Kelana, yang jarang berkata manis, suatu kali menulis email satu kalimat: Untung kita tidak memecahkan kaca.

Jaya membalas dengan foto meja kaca ruang rapat dan piring jagung rebus. Kaca lebih berguna untuk bercermin.

.

Di suatu acara wisuda kecil—tanpa toga, tanpa panggung mewah, hanya aula hotel yang meminjamkan ruang—Jaya diminta memberi pidato. Ia membuka dengan tenang:

“Kita sering mendengar pepatah: ‘Jadilah kaya sebelum berderma.’ Aku ingin memperbaikinya. ‘Jadilah bijak bahkan ketika kau masih menghitung recehan.’ Karena kebijaksanaanlah yang menjaga kita agar tidak menghabiskan marwah saat kita menambah rupiah.”

Ia bercerita tentang ayah yang mengayuh sepeda, ibu yang menjemur baju bekas, topi dari kain sisa yang ia pakai ke toko cat, apotek kecil sebagai kelas kimia dadakan, tentang investor yang akhirnya percaya pada pagar, tentang banjir yang menjadi guru, dan tentang surat Ragil yang menyelamatkan semangat mereka di hari-hari gelap.

“Kota mengajar kita menjadi siapa,” katanya, “tetapi asal-usul mengingatkan kita mengapa.”

Ruang hening. Beberapa siswa menatap ke lantai, beberapa menatap lampu. Retna berdiri di samping, matanya berkaca-kaca, Ngar menunduk, senyumnya rumit seperti garis grafik yang sedang ia pelototi selama ini.

Jaya menutup dengan doa yang terdengar seperti janji: “Semoga kita tidak pernah bosan memegang toples kecil dalam hati. Supaya ketika angka-angka di layar melonjak, tangan kita tetap tahu rasa jagung rebus yang sederhana.”

Tepuk tangan pecah, tidak meledak, tetapi mengalun. Seperti langkah ayah yang pulang membawa karung, seperti ibu yang membereskan tikar, seperti pasar yang mulai tidur. Di luar aula, langit kota menyalakan bintang sedikit saja—cukup untuk mengingatkan: terang tidak perlu sombong.

.

Beberapa waktu sesudahnya—di sebuah malam ketika pekerjaan berhenti mengejar—Jaya berdiri di atap hotel, memandang lampu-pendar kota. Retna berjalan mendekat, membawa dua gelas air mineral. “Untuk malam yang jujur,” katanya.

“Malam yang jujur,” ulang Jaya, menyentuhkan gelasnya. “Untuk pagar yang melindungi esok.”

“Untuk anak-anak yang belajar menunda beli sepatu,” Retna menambahkan, tertawa.

“Untuk UMKM cat yang berani mencoba warna yang bukan sekadar tren.”

Mereka minum. Angin membawa suara kota: klakson, tawa, doa, dan juga rencana-rencana orang yang tak dikenal. Jaya merasa dadanya lapang. Di meja kaca esok pagi, slide akan berganti, target akan menunggu, rapat akan terjadi. Tetapi kini, di antara dua gelas air dan sepotong bulan, ia ingat dua hal yang tak boleh berubah: meja kayu kecil masa lalu, dan panci beras jagung.

“Retna,” kata Jaya pelan, “kalau nanti angka-angka jadi buas, ingatkan aku.”

Retna mengangguk. “Aku akan menaruh jagung rebus di meja.”

Jaya tersenyum. “Dan kalau kamu lupa pada dirimu, aku akan menggelar tikar di depan rumahmu.”

Mereka tertawa; tawa yang tahu jarak, tahu kerja, tahu sayang yang dilatih sabar. Kota pun, malam itu, seolah menepuk punggung mereka.

.

Di pagi berikutnya, sebelum rapat, Jaya menyalakan lampu ruang, menatap pantulan langit di meja kaca. Ia menulis lima kalimat di sticky note, menempelkannya di pojok layar:

  1. Naikkan ilmunu sebelum gaya hidupmu.

  2. Catat margin—kecil hari ini, besar nanti.

  3. Jangan lock-in hati orang; buka pintu, lalu ajari mereka cara membuat kunci.

  4. Krisis adalah kelas; kelulusan adalah kejujuran.

  5. Ingat rasa jagung.

Ia duduk. Pintu terbuka. Tim masuk satu-satu, membawa laptop, data, dan—benar—piring kecil berisi jagung rebus yang diletakkan Retna di sudut meja, diam, kuning, dan hangat. Jaya menatapnya lama-lama, merasakan ada sesuatu di dadanya yang tumbuh, pelan-pelan, seperti pohon.

Di luar, matahari naik, dan kota, seperti biasa, berangkat bekerja.

.

.

.

Malang, 13 Januari 2026

Jeffrey Wibisono V.

.

.

#CerpenKompasMinggu #FiksiPerkotaan #BerasJagung #EdutechIndonesia #UMKMNaikKelas #EtikaBisnis #InvestasiDini #Hospitality #MalangSurabaya #NamakuBrandku

Leave a Reply