Sisa Cinta di Antara Nota Belanja
“Di beberapa rumah, cinta tidak pernah diucapkan dengan kata-kata.
Ia tidak hadir dalam pelukan panjang atau kalimat manis sebelum tidur.”
Ia hadir sebagai nasi hangat yang sudah tersedia sebelum lapar terasa. Sebagai suara langkah di dapur yang memastikan seseorang tidak pulang ke rumah kosong. Sebagai pertanyaan sederhana yang terdengar seperti teguran, tetapi sebenarnya adalah cara paling jujur untuk mengatakan, “Aku peduli.”
Panji tumbuh di rumah seperti itu.
Rumah yang tidak pernah benar-benar dingin, tetapi juga tidak pernah terasa hangat.
Ada orang yang menunggu matahari sebelum berjalan.
Ada orang yang belajar berjalan dalam hujan.
Panji tidak pernah diajari mencari pelangi.
Ia hanya diajari bertahan sampai hujan berhenti.
.
Sejak kecil, hidupnya dipenuhi angka.
Bukan angka nilai di rapor.
Bukan angka skor permainan.
Tetapi angka pada nota belanja.
Struk-struk kecil itu seperti serpihan waktu. Kertas tipis yang mudah hilang, tetapi selalu kembali muncul di sudut-sudut rumah. Di bawah vas bunga, di sela buku resep, di dalam tas ibunya.
Ken Sari mencintai dengan caranya sendiri.
Ia tidak pernah berkata, “Ibu bangga padamu.”
Ia berkata:
“Beras tinggal sedikit.”
“Tagihan listrik belum dibayar.”
“Kita harus hemat.”
Panji belajar bahwa cinta mungkin berbentuk tanggung jawab.
Tetapi ia juga belajar bahwa tanggung jawab bisa terasa seperti beban yang tidak pernah selesai.
.
Pagi di rumah mereka selalu dimulai dengan suara yang sama: bunyi sendok membentur piring, air ketel mendidih, dan langkah cepat Ken Sari yang seperti tidak pernah punya waktu untuk diam.
Panji sering terbangun bukan karena alarm, melainkan karena ritme itu. Seperti sebuah film yang diputar berulang-ulang, dengan adegan yang tak pernah diganti: dapur, meja makan, kain lap yang menyapu meja, dan wajah ibunya yang jarang menatap lama.
“Bangun. Jangan telat,” suara Ken Sari datar, seolah kalimat itu bukan perintah, melainkan peraturan alam.
Panji mengangguk. Ia ingin bilang, “Iya, Bu,” dengan nada hangat. Tapi di rumah ini, nada hangat mudah dianggap manja. Jadi ia menelan kata-kata yang sebenarnya ingin ia keluarkan.
Di meja makan, nasi selalu ada. Kadang hanya dengan telur dadar tipis. Kadang dengan tempe goreng yang dipotong kecil-kecil agar “bisa untuk dua kali makan.” Ken Sari tidak pernah bilang, “Makan yang banyak, ya,” seperti ibu-ibu di sinetron.
Ia bilang, “Jangan buang-buang. Ini hasil kerja.”
Panji mengerti. Ia hanya tidak tahu apakah ia diperbolehkan merasa letih.
Setiap selesai belanja, Ken Sari akan mengeluarkan nota, meluruskan kertasnya di atas meja, lalu menghitung. Panji kecil menatap angka-angka itu seperti menatap bahasa asing. Ia belum paham rupiah. Tapi ia paham ketegangan di bahu ibunya, paham cara ibunya menghela napas, paham cara jari ibunya menekan kalkulator sampai bunyinya terdengar seperti ketukan kesabaran yang diuji.
Kadang Ken Sari bicara sendiri, setengah mengeluh, setengah berdoa.
“Minyak naik lagi.”
“Gula kok segini.”
“Besok gimana.”
Panji ingin menolong, tapi ia tidak tahu caranya. Anak kecil tidak bisa melawan harga pasar. Anak kecil hanya bisa belajar bahwa dunia ini selalu punya tagihan.
Dan bahwa menjadi dewasa berarti menjadi orang yang bisa membayar.
.
Masa kecilnya berjalan tanpa drama besar.
Tidak ada pertengkaran hebat. Tidak ada tangisan panjang.
Hanya diam.
Diam yang panjang.
Diam yang terasa seperti ruang kosong di antara dua kalimat yang tidak pernah selesai.
Ketika teman-temannya bercerita tentang pelukan ibu sebelum tidur, Panji hanya tersenyum.
Ia tidak tahu rasanya.
Bukan karena ibunya tidak mencintainya.
Tetapi karena cinta di rumahnya tidak memiliki bahasa yang mudah dipahami.
Ada malam-malam ketika Panji pura-pura tidur, menunggu ibunya masuk kamar, membetulkan selimut, lalu mencium keningnya. Ia menunggu seperti menunggu kejutan kecil.
Namun yang datang hanyalah suara pintu yang pelan ditutup, lalu lampu ruang tengah yang tetap menyala sampai larut. Ken Sari duduk di sana, menyetrika atau melipat baju, atau menulis catatan belanja esok hari.
Suatu malam, Panji memberanikan diri bertanya, “Bu, besok aku boleh ikut belanja?”
Ken Sari tidak menoleh, hanya menjawab, “Ngapain? Di rumah saja. Belajar.”
Panji ingin berkata, “Aku cuma ingin jalan sama Ibu.” Tapi kata itu terasa terlalu lembut untuk rumah ini. Jadi ia diam.
Ia belajar satu hal yang tidak tertulis di buku sekolah: di rumah tertentu, cinta memang ada, tetapi tidak boleh diminta.
.
Waktu berjalan.
Panji tumbuh.
Ia bekerja keras. Ia belajar mengandalkan dirinya sendiri.
Ia pindah ke kota lain, menyewa apartemen kecil dengan jendela besar yang menghadap lampu-lampu kota. Malam hari, ia sering duduk di depan jendela, memperhatikan cahaya yang bergerak seperti arus kehidupan yang tidak pernah berhenti.
Kota itu bising, tetapi anehnya tidak menyakitkan. Bising kota terasa seperti kebebasan: orang-orang berbicara tanpa takut salah, kendaraan berlalu tanpa harus meminta izin, kehidupan berjalan tanpa harus menunduk pada satu suara.
Panji bekerja di sebuah kantor kecil. Gajinya tidak besar, tapi cukup untuk membayar sewa dan makan, cukup untuk membeli kopi tanpa menghitung seribu-seribu, cukup untuk sesekali mengajak dirinya sendiri menonton film di bioskop.
Ia pernah berdiri di depan rak supermarket dan memilih sabun mandi yang ia suka, bukan yang paling murah. Rasanya bukan soal sabun. Rasanya seperti kemenangan kecil yang tidak pernah ia dapatkan di masa kecil.
Namun setiap bulan, pesan yang sama datang.
“Panji, ibu butuh uang.”
Kalimat itu pendek. Tanpa emoji. Tanpa penjelasan panjang.
Namun cukup untuk membuat dadanya terasa berat.
Ia tidak pernah benar-benar menolak.
Ia hanya kadang menunda.
Kadang menghela napas panjang sebelum menekan tombol transfer.
Seperti ada dua Panji di dalam dirinya: satu yang ingin menjadi anak baik, satu yang ingin akhirnya menjadi manusia yang utuh.
.
Di awal-awal, Panji selalu mengirim dengan cepat. Ia takut terlambat. Ia takut ibunya kekurangan. Ia takut ibunya berkata, “Kamu sekarang sombong ya, sudah kerja.”
Namun lambat laun, hal itu menjadi ritual yang menggerus.
Setiap transfer terasa seperti mengembalikan sesuatu yang sebenarnya tidak ia pinjam.
Ia mulai menyadari: uang itu bukan hanya uang. Uang itu seperti simbol. Seperti pengganti kalimat yang tidak pernah diucapkan.
“Maaf.”
“Aku butuh kamu.”
“Aku tidak tahu caranya mengatakan aku sayang.”
Ken Sari mungkin tidak bermaksud begitu. Tapi Panji merasa itu yang terjadi.
Dan perasaan itu berat.
Dalam beberapa bulan, ia mengirim dua kali. Kadang untuk listrik, kadang untuk obat. Ia jarang bertanya detail. Ia sudah cukup lelah.
Suatu hari, ia mencoba bertanya hati-hati, “Bu, uangnya untuk apa?”
Ken Sari membalas cepat: “Untuk hidup. Kamu kira ibu ini main-main?”
Panji memandang layar ponsel lama. Kata-kata itu seperti menampar dan memeluk sekaligus. Ia tidak bisa memilih mana yang lebih menyakitkan.
.
Suatu malam, hujan turun tanpa jeda.
Suara air mengenai kaca jendela seperti ritme yang terlalu jujur.
Panji duduk di sofa, layar ponselnya menyala di tangan.
Ia membuka aplikasi bank.
Angka-angka muncul.
Ia merasa seperti sedang menghitung bukan uang — tetapi perasaan.
Ia teringat masa kecilnya: ibunya menghitung nota belanja di meja makan, wajahnya tegang, matanya tajam, seolah hidup bisa runtuh jika satu angka salah.
Saat itu, Panji mengira ibunya menghitung uang.
Kini ia sadar: ibunya sedang menghitung rasa aman.
Dan rasa aman mahal.
Ia pernah membaca:
Ketika hujan datang, carilah pelangi.
Ketika gelap datang, carilah bintang.
Ia tersenyum tipis.
Tidak ada yang memberitahu bahwa kadang kita sendiri harus menjadi pelangi itu — untuk diri sendiri.
Tidak ada yang memberitahu bahwa menjadi bintang berarti tetap menyala meskipun tidak ada yang melihat.
Ia menatap angka saldo. Ia menatap pesan ibunya. Ia menatap dirinya sendiri yang lelah.
Dan untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya bertanya tanpa rasa bersalah: “Sampai kapan?”
.
Ia membuka dompetnya.
Sebuah nota lama jatuh ke lantai.
Kertas tipis. Tinta hampir hilang.
Ia mengambilnya perlahan.
Tanggal bertahun-tahun lalu.
Daftar barang sederhana: beras, telur, minyak goreng, sabun cuci.
Di pojok kanan bawah ada angka total yang waktu itu terasa besar. Panji ingat, ia sempat mendengar ibunya berkata lirih, “Ya Tuhan…”
Ia ingat hari itu.
Ia ingat berjalan di samping ibunya di bawah terik matahari. Ia ingat ingin mengatakan sesuatu — mungkin terima kasih, mungkin hanya ingin bercerita — tetapi tidak tahu bagaimana memulai.
Mereka pulang tanpa banyak bicara.
Ken Sari memegang kantong belanja seperti memegang nasib. Panji kecil menatap punggung ibunya, berharap punggung itu menoleh, berharap ada satu momen hangat yang jatuh dari langit.
Namun tidak.
Yang ada hanya langkah yang cepat, dan diam yang rapat.
Dan tiba-tiba ia menyadari sesuatu:
Selama ini ia tidak marah pada ibunya.
Ia marah pada perasaan tidak pernah cukup.
.
Panji memejamkan mata di sofa. Hujan masih jatuh. Di luar, lampu jalan memantulkan garis-garis basah di aspal, seperti urat-urat kehidupan yang terus mengalir.
Ia teringat masa kecilnya lagi. Ia teringat satu kejadian kecil yang selama ini ia kubur.
Hari itu ia pulang membawa hasil ulangan matematika: nilainya delapan puluh lima. Di kelas, itu termasuk tinggi. Teman-temannya dipuji.
Panji pulang dengan dada penuh harap. Ia bayangkan ibunya akan tersenyum, menepuk kepalanya, berkata, “Hebat.”
Namun yang terjadi, Ken Sari hanya melirik kertas itu lalu berkata, “Kenapa bukan sembilan puluh?”
Itu saja.
Panji merasa seperti balon yang dipompa, lalu diletuskan.
Ken Sari mungkin tidak bermaksud melukai. Ia hanya ingin Panji jadi lebih baik. Tetapi Panji kecil menyimpannya sebagai bukti: di rumah ini, aku harus selalu lebih. Tidak boleh cukup.
Dan ketika dewasa, ia menyadari pola itu terus hidup.
Ia mengirim uang, tetapi tidak pernah merasa cukup.
Ia bekerja keras, tetapi tidak pernah merasa cukup.
Ia mencoba menjadi anak baik, tetapi tetap merasa kurang.
Ada semacam “nota batin” di dalam dirinya—daftar hutang emosi yang tidak pernah ia buat, tetapi harus ia bayar.
.
Kabar sakit itu datang tiba-tiba.
Sebuah panggilan telepon dari tetangga. Suaranya panik. “Panji, ibumu masuk rumah sakit.”
Panji membeku. Udara di apartemen seolah berubah berat.
Ia memesan tiket pulang secepatnya. Di bandara, ia berdiri di antrean dengan tangan gemetar. Ia merasa seperti kembali menjadi anak kecil yang tidak mengerti apa-apa.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, hujan turun lagi. Kota asalnya menyambut dengan warna kelabu.
Rumah sakit selalu memiliki bau yang sama.
Dingin. Bersih. Sedikit kesepian.
Ken Sari terbaring diam.
Tanpa suara keras. Tanpa daftar belanja.
Untuk pertama kalinya, Panji melihat ibunya sebagai manusia biasa.
Bukan sosok kuat yang selalu menuntut.
Hanya seorang perempuan yang lelah.
Wajah Ken Sari pucat. Bibirnya kering. Tangannya—yang dulu cepat menghitung uang dan mencuci baju dan mengangkat kantong belanja—kini tergeletak seperti kehilangan tenaga.
Panji duduk di samping ranjang. Ia menatap monitor yang berbunyi pelan. Bunyi itu seperti mengingatkan bahwa hidup punya batas.
“Ibu kuat,” katanya pelan.
Ia tidak tahu mengapa ia bilang itu. Mungkin karena itu satu-satunya kalimat yang aman.
Panji ingin berkata sesuatu, tetapi kata-kata terasa berat.
Ken Sari membuka mata sedikit. Tatapannya tidak setajam dulu. Ada sesuatu yang redup, tetapi juga jujur.
“Kuat itu bukan pilihan,” lanjut ibunya pelan. “Kuat itu… kebiasaan.”
Kalimat itu menggantung di udara seperti doa yang belum selesai.
Panji menunduk.
Mungkin kuat bukan berarti tidak rapuh.
Mungkin kuat hanya berarti tetap memilih cahaya — bahkan ketika gelap terasa terlalu luas.
.
Di luar kamar, suara langkah perawat dan keluarga pasien lain berbaur. Ada yang menangis. Ada yang tertawa pelan, seperti menertawakan diri sendiri agar tidak runtuh. Ada yang bicara tentang biaya rumah sakit, tentang obat, tentang BPJS, tentang tagihan.
Panji duduk dan mendengarkan semua itu seperti mendengarkan versi besar dari hidupnya sendiri: hidup selalu punya tagihan.
Ketika dokter datang dan menjelaskan kondisi Ken Sari, Panji mengangguk berkali-kali. Ia paham kata-kata medis itu, tetapi di dalam dirinya ada kalimat lain yang lebih keras:
“Jadi begini akhirnya.”
Ken Sari menatapnya ketika dokter pergi. Ada jeda yang panjang.
Panji menunggu sesuatu. Mungkin sebuah permintaan maaf. Mungkin sebuah kalimat sayang. Mungkin sebuah pengakuan.
Namun Ken Sari hanya berkata, “Kamu jangan telat makan.”
Panji hampir tertawa, hampir menangis.
Di situ, di atas ranjang rumah sakit, Ken Sari tetap Ken Sari. Cintanya tetap datang sebagai perintah sederhana, sebagai teguran kecil.
Tetapi kali ini, Panji mendengarnya dengan cara berbeda.
Bukan sebagai tuntutan.
Sebagai kepedulian yang tidak punya bahasa lain.
Malam itu, Panji tidak pulang ke rumah. Ia tidur di kursi tunggu rumah sakit, membungkuk dengan jaket sebagai bantal. Lampu neon membuat dunia terasa pucat. Namun ia justru merasa ada sesuatu yang perlahan terang di dalam dirinya.
Ia teringat lagi kalimat tentang pelangi dan bintang.
Ia memahami sesuatu: pelangi dan bintang bukan hadiah. Mereka adalah cara pandang.
Hujan tidak berhenti karena kita mengeluh. Gelap tidak hilang karena kita takut. Tetapi kita bisa memilih apa yang kita cari di dalamnya.
Panji merasa hidupnya selama ini seperti hujan yang tidak selesai. Ia selalu menunggu. Menunggu ibunya berubah. Menunggu rumahnya hangat. Menunggu cinta diucapkan.
Padahal mungkin, di rumah tertentu, cinta memang tidak diucapkan.
Cinta hanya dikerjakan.
Ken Sari tidak pernah memberi pelukan. Tetapi ia memberi nasi hangat. Ia tidak pernah berkata “bangga.” Tetapi ia memastikan Panji sekolah. Ia tidak pernah berkata “sayang.” Tetapi ia memastikan Panji tidak pulang ke rumah kosong.
Dan mungkin Ken Sari juga tumbuh di rumah yang sama—rumah yang menganggap pelukan itu mewah.
Hari-hari berikutnya berjalan lambat.
Seperti kamera yang bergerak pelan.
Panji menemani ibunya. Ia membelikan bubur. Ia mengurus administrasi. Ia menandatangani berkas. Ia membayar tagihan.
Anehnya, ia tidak merasa terbebani seperti dulu.
Karena kali ini, ia melihat ibunya bukan sebagai sumber tuntutan—melainkan sebagai manusia yang pernah bertahan sendirian.
Di sela-sela kesibukan, Ken Sari kadang terdiam lama, memandang jendela. Kadang ia berkata, “Ibu merepotkan kamu ya.”
Itu kalimat yang jarang keluar dari mulutnya. Panji menatap ibunya.
“Enggak, Bu,” jawab Panji cepat.
Ia ingin menambahkan: “Aku cuma capek sendirian selama ini.” Tapi ia tidak.
Ia sudah lelah memaksa rumah ini berbicara bahasa yang tidak ia kuasai.
Maka ia memilih bahasa baru: hadir.
.
Setelah beberapa minggu, kondisi Ken Sari membaik. Ia boleh pulang. Namun dokter memberi catatan: Ken Sari harus menjaga pola makan, tidak boleh terlalu capek, harus kontrol.
Panji mengantar ibunya pulang. Rumah itu masih sama: meja makan, dapur, dan sudut-sudut yang menyimpan nota belanja.
Namun Panji melihatnya berbeda.
Ia membuka laci dan menemukan tumpukan struk lama. Ia menatapnya seperti menatap arsip kehidupan.
Ada rasa aneh di dadanya: sedih, marah, rindu, semuanya bercampur.
Ken Sari masuk dapur, menyalakan kompor. Ia bertanya tanpa menoleh, “Kamu mau makan apa?”
Panji menjawab, “Apa saja, Bu.”
Ken Sari mengangguk.
Panji duduk di meja makan. Ia memperhatikan tangan ibunya memotong bawang. Tangannya masih cekatan, meski kini sedikit gemetar.
Tiba-tiba Panji merasa ingin mengatakan satu kalimat yang tertahan puluhan tahun.
“Bu… terima kasih.”
Ken Sari berhenti sebentar. Ia tidak menoleh. Ia hanya berkata pelan, “Ngapain ngomong begitu.”
Tapi suara itu tidak sekeras biasanya. Ada sesuatu yang tipis, seperti retakan pada tembok yang terlalu lama berdiri.
Panji tersenyum kecil. Ia tahu: itulah versi pelukan ibunya.
.
Setelah pulang ke kota rantau, sesuatu berubah.
Panji tetap mengirim uang.
Tetapi ia mulai memahami bahwa mencintai tidak harus berarti kehilangan diri.
Ia mulai menetapkan batas.
Ia mulai belajar berkata, “Nanti dulu.”
Awalnya terasa bersalah.
Tetapi kemudian terasa seperti napas pertama setelah lama tenggelam.
Ia berkata pada ibunya, “Bu, bulan ini aku bisa kirim segini. Kalau kurang, kita atur bareng.”
Ken Sari sempat diam lama di telepon.
“Kamu sekarang pelit ya,” katanya akhirnya.
Dulu, kalimat itu akan membuat Panji langsung menyerah, langsung mengirim lebih. Tetapi kali ini, Panji menarik napas.
“Bukan pelit, Bu. Aku juga harus hidup. Aku juga punya rencana.”
Di ujung telepon, Ken Sari tidak langsung membalas. Panji mendengar napasnya.
Lalu, dengan suara yang lebih kecil dari biasanya, Ken Sari berkata, “Ya sudah.”
Itu bukan kata “maaf.” Bukan kata “mengerti.” Tetapi untuk Ken Sari, itu adalah bentuk menerima.
Panji menutup telepon dengan tangan yang gemetar, tetapi dadanya terasa lebih lega. Ia merasa seperti pertama kali berenang tanpa tenggelam.
.
Ia membangun bisnis kecil.
Tidak besar. Tidak sempurna.
Tetapi cukup untuk membuatnya merasa memiliki arah.
Ia mulai belajar mengatur uang bukan dengan rasa takut, melainkan dengan kesadaran. Ia mencatat pemasukan. Ia mencatat pengeluaran. Ia membuat daftar rencana. Ia menata masa depan seperti menata rumah yang dulu tidak pernah ia punya.
Dan di saat-saat tertentu, ia sadar: ia sedang menulis “nota belanja” versinya sendiri—tetapi kali ini, bukan untuk bertahan.
Untuk bertumbuh.
Ia mulai memahami hidup dengan cara berbeda.
Hidup tidak selalu memberi keluarga yang memahami kita.
Tetapi hidup selalu memberi kesempatan untuk memahami diri sendiri.
Dan mungkin pelangi tidak muncul setelah hujan berhenti.
Mungkin pelangi muncul saat kita berhenti melawan hujan.
.
Suatu sore, cahaya matahari masuk dari jendela apartemennya.
Udara terasa hangat.
Panji membersihkan laci. Ia menemukan lagi nota lama yang dulu jatuh dari dompetnya. Kertasnya makin pudar. Tinta hampir hilang.
Ia tersenyum.
Nota itu bukan lagi bukti hutang.
Ia menjadi saksi perjalanan.
Ia sadar: hidupnya tidak hanya tentang uang yang ia kirim, atau beban yang ia tanggung.
Hidupnya tentang seorang anak yang berusaha memahami bahasa cinta yang berbeda.
Bahwa cinta bisa hadir dalam bentuk yang salah — tetapi tetap cinta.
Bahwa luka bisa menjadi bahasa kasih sayang yang tidak pernah diajarkan.
Ia melipat nota itu dengan hati-hati.
Bukan sebagai beban.
Tetapi sebagai pengingat.
Bukan untuk mengagungkan masa lalu, tetapi untuk menghormati perjuangan yang pernah terjadi.
Karena hidup tidak selalu memberi langit cerah.
Kadang kita harus belajar melihat pelangi di tengah hujan.
Kadang kita harus belajar menemukan bintang di tengah gelap.
Dan mungkin…
Itu sudah cukup.
.
Beberapa hari kemudian, Ken Sari mengirim pesan.
Bukan permintaan uang.
Hanya satu kalimat pendek:
“Kamu sudah makan?”
Panji menatap layar. Dadanya hangat.
Kalimat itu sederhana. Tetapi ia tahu: di rumahnya, itu berarti “Aku peduli.”
Panji membalas:
“Sudah, Bu. Ibu gimana?”
Butuh beberapa menit sebelum balasan datang.
“Sudah. Jangan kerja kebanyakan.”
Panji tersenyum. Ia menatap hujan di luar jendela. Hujan turun pelan, tidak lagi seperti badai.
Ia teringat kalimat itu lagi—tentang pelangi dan bintang.
Dan ia merasa, untuk pertama kalinya, ia tidak perlu menunggu hujan berhenti untuk merasa tenang.
Karena sekarang, ia tahu cara berjalan dalam hujan.
Dan jika suatu hari gelap datang, ia tidak akan panik.
Ia akan mencari bintang.
Atau… jika tidak ada bintang, ia akan belajar menjadi salah satunya.
.
.
.
Malang, 25 Februari 2026
.
.
#SisaCintaDiAntaraNotaBelanja #CerpenIndonesia #SastraIndonesia #CerpenKompas #KeluargaUrban #AnakKetiga #LukaMasaKecil #RefleksiDiri #Empati #HealingJourney #KelasMenengahAtas #Storytelling