Tidak Gratis

“Kebaikan yang tidak pernah diberi batas, lama-lama dianggap kewajiban.”

.

Pagi itu Jakarta seperti biasa: tergesa, padat, dan nyaris tidak menyediakan ruang bagi siapa pun yang ingin berjalan pelan. Panji berdiri di tepi trotoar Sudirman, menatap arus kendaraan yang mengalir seperti sungai tanpa henti. Di kaca gedung seberang, pantulan dirinya terlihat rapi—jas berpotongan tepat, sepatu mengilap, rambut tertata, jam tangan yang seolah berkata hidupnya terukur.

Namun ada sesuatu yang tidak ikut rapi.

Di layar ponselnya, pesan masuk tanpa jeda. Grup kantor, grup proyek, grup keluarga, grup alumni, grup komunitas sekolah adik. Kata-kata yang sama: urgent, follow up, tolong ya, yang kemarin gimana? Nama-nama itu muncul berulang, seperti lampu merah yang tak pernah benar-benar padam: Umarmaya, Umarmadi, Jayengrana, Klono. Mereka bukan sekadar rekan kerja; mereka adalah sistem yang sudah bertahun-tahun meminjam tenaga Panji.

Panji menekan tombol mute pada satu grup, lalu pada grup lain. Ia tahu, itu hanya mematikan bunyi, bukan mematikan tuntutan. Getaran tetap terasa di telapak tangan, seolah tubuhnya sudah terlatih menjadi tempat orang lain meletakkan beban.

Ia melangkah masuk gedung. Sensor pintu kaca membuka seperti mulut yang mengundang, pendingin ruangan menyambut seperti udara yang tidak pernah punya rasa. Lift menelan Panji bersama orang-orang yang wangi parfumnya mahal, tasnya berlogo, matanya menatap lantai angka-angka, bukan menatap sesama.

Panji mengamati semuanya dengan kebiasaan lama: membaca orang, membaca situasi, menebak kebutuhan. Itu yang membuatnya cepat naik. Itu juga yang membuatnya, entah kapan, jarang didengar.

Di lantai tiga puluh dua, ruang rapat kaca menghadap kota. Dari sana, Jakarta tampak kecil dan patuh. Jalanan seperti garis, manusia seperti titik. Dalam ruang rapat, dunia menjadi ringkas: target, KPI, valuasi, reputasi. Dan dalam ringkasnya dunia itu, Panji sering merasa dirinya justru paling mudah dihapus.

Rapat dimulai tanpa menunggu ia duduk.

“Panji, catat ya,” kata Umarmaya cepat, bahkan sebelum Panji menarik kursinya. “Nanti rangkum. Kirim ke investor. Jam tiga kita presentasi.”

Panji mengangguk, refleks. Ia membuka laptop, jari-jarinya bergerak seperti mesin yang sudah tahu ritme. Ia pernah datang sebagai orang yang menyusun strategi, orang yang mengikat narasi. Tapi entah sejak kapan ia lebih sering menjadi tangan yang menulis, bukan mulut yang memutuskan.

Ketika Panji mencoba menyela, Umarmadi menyela balik, “Sebentar. Ini aku selesaikan dulu. Nanti Panji tinggal rapihin.”

Jayengrana di ujung meja menatap layar, sesekali mengangguk, seperti dunia hanya berisi dua orang: ia dan Umarmaya. Klono—yang selalu membawa candaan—menyenggol bahu Panji pelan, lalu berbisik, “Bro, kamu itu paling aman. Kalau ada apa-apa, kamu bisa nutup.”

Kalimat itu terdengar seperti pujian. Tapi di telinga Panji, pujian sering terasa seperti label pada barang: mudah diambil, mudah dipakai.

Rapat berjalan, kata-kata melaju, dan Panji menulis. Ia menulis strategi yang diambil orang lain. Ia menulis keputusan yang tidak sempat ia pertanyakan. Ia menulis sambil menahan perasaan yang tidak punya kolom di spreadsheet.

Selesai rapat, Umarmaya menepuk bahu Panji ringan. Gesturnya hangat, tapi bagi Panji mirip sentuhan seseorang pada asisten yang rajin.

“Thanks ya. Kamu emang paling bisa diandalkan.”

Kalimat itu manis, seperti permen. Manis sebentar, lalu lengket di gigi dan menyakitkan saat dicabut.

Panji kembali ke mejanya. Di layar monitor, daftar tugas bertambah seperti gulungan kertas yang tak pernah habis. Pekerjaan Panji bukan lagi sekadar pekerjaan—itu jaringan. Ia membantu bisnis keluarga Jayengrana yang sedang ekspansi F&B dengan membuka cabang coffee shop di kawasan SCBD. Ia menjadi penasihat komunikasi untuk sekolah swasta tempat Umarmaya menyekolahkan anak, karena sekolah itu sedang “repositioning” agar terlihat lebih elit. Ia juga diminta Klono membantu membuat proposal untuk startup pendidikan yang ingin menggabungkan bimbingan belajar dengan aplikasi—“biar ada unsur edutech, bro, investor suka.”

Panji sering merasa hidupnya sebuah simpang yang selalu dimasuki orang lain. Ia menjadi pertemuan antara bisnis, karier, dan edukasi—semuanya menginginkan hasil, semuanya menginginkan cepat, semuanya menginginkan Panji tetap “bisa”.

Di sela notifikasi, sebuah panggilan masuk: nomor rumah sakit.

Panji menelan ludah sebelum mengangkat.

“Mas Panji?” suara perawat terdengar hati-hati. “Ibu minta Mas ke sini kalau bisa. Ibu habis kontrol. Ada hasil yang perlu dibicarakan.”

Ada jeda. Di jeda itu, Panji mendengar kantor masih ramai—telepon berdering, pintu kaca dibuka-tutup, suara tawa singkat yang terdengar seperti keberhasilan. Tapi di telinga Panji, semuanya menjauh.

“Baik, Mbak,” jawab Panji. “Saya ke sana.”

Ia berdiri, mengambil tas, dan berjalan menuju ruang Umarmaya.

“Ma, saya izin keluar. Ada urusan keluarga.”

Umarmaya bahkan tidak menoleh dari laptop. “Sekarang? Presentasi jam tiga.”

“Ini soal ibu saya.”

Umarmaya menghela napas, seperti seseorang yang terganggu oleh hujan.

“Ya sudah. Tapi deck-nya harus jadi. Kamu bisa kerjain dari sana, kan? Kamu kan… fleksibel.”

Fleksibel. Kata itu, di telinga Panji, terdengar seperti kalimat lain: kamu bisa dipakai kapan saja.

Panji mengangguk lagi. Ia selalu mengangguk.

Di lift turun, ia memandangi pantulan dirinya. Ada garis lelah di bawah matanya yang tidak bisa ditutupi apapun. Ada beban yang menggantung di bahunya seperti tas yang tak pernah ia lepas.

Ia teringat ibunya, dulu, ketika ia pulang terlambat dari sekolah:
“Jadilah anak yang baik, Ji. Anak baik itu disayang orang.”

Kalimat itu menjadi kompas sejak kecil. Panji tumbuh menjadi anak yang baik. Lalu menjadi dewasa yang… mudah diminta.

.

Rumah sakit di Kuningan siang itu penuh orang-orang dengan wajah rapi dan mata cemas. Mereka membawa tas kerja, laptop, dan seolah sedang rapat bahkan di ruang tunggu. Panji berjalan di koridor yang berbau antiseptik. Suara langkahnya jelas, seperti ketukan jam yang mengingatkan: waktu tidak pernah menunggu.

Di kamar, ibunya duduk bersandar. Kerudungnya rapi, senyumnya lemah tapi matanya hangat.

“Kamu pulang juga,” kata Ibu lirih, seperti bicara pada anak yang sering ia tunggu.

Panji duduk, menggenggam tangan itu. Tangan yang dulu menuntunnya menyeberang jalan, sekarang dingin dan kurus.

“Iya, Bu. Maaf telat.”

Ibu memandangnya lama. Bukan menilai jasnya, bukan menanyakan proyeknya. Pandangan itu seperti jendela dibuka: masuk angin, masuk kenyataan.

“Kamu capek,” kata Ibu pelan.

Panji tertawa kecil. “Biasa, Bu. Kerjaan…”

Ibu menggeleng. “Kerjaan itu jangan bikin kamu lupa jadi manusia.”

Kalimat itu jatuh perlahan, tapi menghantam seperti batu ke air tenang. Panji menelan napas.

Dokter datang, menjelaskan hasil pemeriksaan dengan bahasa yang dipermudah. Tapi tetap saja ada kata-kata yang menancap: prosedur, risiko, kontrol ketat, waktu. Panji mengangguk bukan karena paham sepenuhnya, melainkan karena takut.

Selesai penjelasan, Ibu berkata, “Ibu nggak mau kamu hancur cuma karena kamu merasa harus kuat buat semua orang.”

Panji menatap lantai. Di ponselnya, notifikasi kantor terus masuk. Umarmaya menanyakan deck. Umarmadi minta revisi. Klono meminta Panji ikut rapat tambahan “biar aman”.

Panji mengetik cepat: Siap, Ma. Aku kerjain dari RS.
Lalu mengirim.

Ibu melihat gerak jari Panji dan bertanya lirih, “Ji… kapan terakhir kamu bilang: ‘Aku nggak bisa’?”

Panji berhenti mengetik. Lidahnya kaku.

“Aku… bisa, Bu. Nggak apa-apa.”

Ibu tersenyum sedih. “Itu masalahnya.”

.

Malamnya, Panji duduk di kafe dekat rumah sakit. Ia menyalakan laptop, memaksa otak bekerja. Di luar jendela, hujan turun. Lampu kota mengabur seperti ingatan yang terlalu penuh.

Di meja sebelah, seorang perempuan duduk sendiri, membuka buku catatan tebal. Rambutnya disanggul sederhana, pakaiannya rapi tapi tidak mencolok. Ia menulis dengan serius, sesekali menghela napas.

Panji tak bermaksud memperhatikan, tapi judul pada sampul bukunya terlihat: Etika dan Batas Diri.

Perempuan itu menangkap tatapan Panji dan tersenyum singkat. “Maaf, mas. Bukan bacaan anak gaul, ya.”

Panji tersenyum. “Saya malah iri. Saya udah lama nggak pegang buku yang bukan spreadsheet.”

Perempuan itu tertawa kecil. “Aku Sekartaji.”

“Panji.”

Sekartaji menutup bukunya sebentar. “Kerja di finance?”

“Strategi,” jawab Panji. Ragu sejenak. “Kadang… apa saja yang diminta.”

Sekartaji mengangguk, seolah paham tanpa perlu banyak tanya. “Kamu terdengar seperti orang yang jadi rumah buat semua orang.”

Panji tertawa, tapi ada rasa pahit. “Rumah itu harus kuat, kan?”

“Rumah juga bisa retak kalau semua orang masuk tanpa permisi,” kata Sekartaji.

Kalimat itu sederhana, tapi Panji merasa seperti baru saja mendengar sesuatu yang selama ini ia tahu namun selalu ia abaikan.

Sekartaji berkata lagi, “Aku ngajar. Banyak murid pintar. Tapi banyak juga yang tidak punya batas. Mereka pengin semua orang suka, sampai lupa siapa dirinya.”

Panji mengaduk kopi. “Kalau nggak disukai… takut ditinggal.”

Sekartaji menatapnya lurus. “Kadang kita ditinggal bukan karena jahat, tapi karena terlalu mudah. Orang nggak belajar menghargai kalau kita nggak mengajarkan batas.”

Panji diam lama. Hujan di luar makin deras, dan ia merasa seperti anak kecil yang baru mengerti bahwa “baik” dan “bodoh” kadang tinggal selangkah.

Sekartaji mengangkat gelasnya. “Mas Panji, orang baik itu perlu pagar. Biar kebunnya nggak diinjak.”

Panji mengangguk. Di dadanya, ada sesuatu yang bergerak pelan, seperti pintu yang mulai terbuka.

.

Hari-hari setelah itu berjalan seperti film yang diputar cepat.

Panji mengurus jadwal kontrol ibu, menyiapkan dokumen asuransi, berdiri di antrean farmasi, lalu kembali ke layar laptop mengejar presentasi. Ia tidur di kursi ruang tunggu, bangun oleh notifikasi, lalu membalas pesan dengan kalimat sopan yang selalu sama: Siap. Oke. Saya urus.

Di kantor, pola itu makin jelas—seolah ada daftar tak tertulis yang selalu menempatkan Panji di posisi paling bawah meskipun pekerjaannya paling banyak.

Saat ia berbicara, rapat sering tidak menunggu. Seseorang menyela. Mereka diam saat Panji mengusulkan, lalu bersemangat saat orang lain mengulang dengan kalimat berbeda.

Panji memperhatikan: beberapa kali ia memaparkan ide, ruangan hening. Lima menit kemudian, Jayengrana mengucapkan ide yang sama—lalu semua mengangguk.

“Bagus,” kata Umarmaya. “Itu yang kita perlu.”

Panji menelan. Di kepalanya, ada suara kecil yang ingin protes, tapi suara kecil itu selalu kalah oleh suara yang lebih lama: suara yang takut ditinggalkan.

Suatu sore, setelah presentasi sukses—investor tersenyum, angka-angka naik, tepuk tangan terjadi—Panji berharap setidaknya ada ruang untuk diakui. Tapi ruang itu cepat penuh oleh nama orang lain.

Umarmaya berdiri di depan ruangan, menerima pujian. Jayengrana menepuk punggungnya. Umarmadi tertawa lepas. Klono merekam momen untuk diunggah ke LinkedIn, dengan caption “Teamwork makes the dream work.”

Panji duduk di kursi belakang, menatap layar yang mulai gelap. Ia merasa seperti seseorang yang bekerja membangun panggung, lalu disuruh berdiri di balik tirai.

Seusai acara, Klono menghampirinya di pantry, membawa kopi.

“Bro,” kata Klono sambil tertawa, “kamu ini manusia apa charger? Kok selalu siap ngecasin semua orang.”

Panji tersenyum, dipaksa. “Ya… biar jalan.”

Klono menepuk pundaknya lebih keras. “Santai aja. Kamu mah nggak akan ke mana-mana. Kamu orang baik.”

Sekali lagi, “orang baik” terdengar seperti label yang dipakai orang lain untuk memastikan Panji tetap di tempat yang mereka inginkan.

Malam itu Panji pulang dengan kepala penuh. Di apartemennya, ia duduk sendiri. Lampu kota di luar jendela seperti ribuan mata yang tidak peduli. Ia membuka pesan lama dari Sekartaji. Perempuan itu pernah mengirim satu kalimat:
“Kalau kamu tidak menjaga batasmu, orang lain akan menggunakannya sebagai pintu.”

Panji menatap kalimat itu lama, seperti menatap dirinya sendiri.

Ia menulis balasan: Aku mulai merasa aku tidak disegani. Tapi aku juga takut berubah.
Sekartaji menjawab singkat: Takut itu wajar. Tapi hidupmu bukan ruang tunggu.

.

Keesokan harinya, Panji mencoba eksperimen kecil: ia menolak hal yang tidak termasuk tanggung jawabnya.

Umarmadi mengirim pesan: Panji, tolong rapihin deck untuk proyekku ya. Aku lagi padat.

Panji mengetik, jari-jarinya gemetar: Maaf, aku nggak bisa. Aku masih handle presentasi Umarmaya dan urusan rumah sakit.

Balasan Umarmadi datang cepat: Yaelah, cuma rapihin doang.

Cuma. Kata itu seperti mengecilkan semua jam, semua tenaga, semua beban yang Panji pikul. Panji menatap layar ponsel, napasnya cepat.

Ia ingin menulis “iya” lalu selesai. Tapi ia ingat ibunya. Ia ingat Sekartaji. Ia ingat dirinya yang sering meminta maaf bahkan saat tidak salah.

Panji menaruh ponsel. Ia tidak membalas.

Di kantor, Umarmadi melewatinya tanpa menyapa. Siangnya, ketika Panji masuk ruang rapat, Umarmaya berkata tanpa menoleh, “Oh ya, kita lanjut. Panji catat.”

Panji menahan napas. Ia ingin mengatakan: “Bisa nggak kita bagi peran?” Tapi ia diam. Eksperimen kecilnya belum sampai sejauh itu. Ia masih belajar.

Belajar, rupanya, tidak selalu elegan. Belajar sering memalukan. Belajar membuat orang lain tidak nyaman.

.

Krisis datang pada hari Jumat sore.

Ibu harus menjalani tindakan kecil pada Sabtu pagi. Panji sudah meminta izin dari jauh hari. Ia menandai kalender, mengirim email, mengingatkan tim. Ia bahkan—untuk pertama kali—mengucapkan kalimat yang tidak biasa ia ucapkan: “Saya tidak bisa standby.”

Tapi Jumat malam, Umarmaya mengirim pesan: Panji, besok kita perlu kamu ikut meeting investor dadakan. Penting. Jam 10.

Jam 10 adalah jam tindakan ibu.

Panji menatap layar lama, seolah menunggu kata-kata berubah sendiri. Lalu ia mengetik:
Maaf, besok saya tidak bisa. Saya di rumah sakit.

Beberapa menit tak ada balasan. Panji merasa dadanya sesak, menunggu hukuman yang belum datang. Lalu muncul:
Hah? Ini penting banget, Ji. Kamu kan bisa atur. Kamu selalu bisa.

Kalimat itu—kamu selalu bisa—membuat Panji seperti ditarik kembali ke versi dirinya yang lama. Versi yang selalu mengalah. Versi yang merasa nilai dirinya diukur dari seberapa sering ia menyelamatkan orang lain.

Ia mengetik lagi, lebih jelas:
Tidak bisa. Ini soal ibu saya. Saya sudah bilang dari jauh hari.

Balasan Umarmaya singkat:
Oke.

Tidak ada “semoga lancar”. Tidak ada emoticon. Tidak ada manusia.

Panji menatap kata “oke” itu seperti menatap pintu yang ditutup pelan. Ada rasa takut—takut dipinggirkan, takut dianggap tidak loyal, takut kehilangan tempat. Tapi bersamaan dengan itu, ada rasa lain yang lebih tenang: rasa bahwa ia akhirnya memilih sesuatu yang bukan angka.

Sabtu pagi, Panji menemani ibu. Tangan ibu menggenggam tangan Panji.

“Kalau kamu kehilangan pekerjaan?” tanya Ibu pelan, seolah tidak ingin menjadi beban, tapi juga tidak ingin Panji mengorbankan hidupnya.

Panji tersenyum tipis. “Kalau itu terjadi, berarti saya selama ini kerja di tempat yang salah.”

Ibu memandangnya lama, lalu tersenyum. “Akhirnya kamu jadi laki-laki.”

Kalimat itu membuat mata Panji panas. Ia memalingkan wajah, pura-pura memperhatikan perawat.

Tindakan berjalan lancar. Setelahnya, Panji duduk di lorong, menunggu ibu sadar penuh. Ia merasa lega—dan anehnya, merasa bersalah pada kantor.

Di ponselnya, pesan masuk dari Klono: Meeting kacau. Umarmaya ngomel. Tapi ya sudahlah.

Panji menutup mata. Ada rasa takut. Tapi ada juga rasa… damai. Seperti seseorang yang pertama kali tidur tanpa alarm.

.

Senin berikutnya, Panji masuk kantor dengan langkah yang berbeda. Masih rapi, masih sopan, tapi ada sesuatu yang tegak.

Umarmaya memanggilnya ke ruangannya.

“Kamu bikin kita repot kemarin,” kata Umarmaya tanpa pembuka.

Panji menatapnya. Dulu ia akan minta maaf. Dulu ia akan menjelaskan panjang. Dulu ia akan memohon dimaklumi.

Tapi kali ini, ia bertanya pelan, “Kita repot karena saya menemani ibu saya, atau karena sistem kita bergantung pada satu orang yang selalu dipaksa ‘bisa’?”

Umarmaya terdiam sejenak. Ia seperti tidak biasa ditanya begitu.

“Kamu berlebihan,” kata Umarmaya akhirnya. “Ini dunia kerja.”

Panji mengangguk. “Saya paham dunia kerja. Tapi saya juga paham dunia hidup. Dan saya tidak mau jadi orang yang sibuk—tapi tidak pernah dihormati.”

Umarmaya memicingkan mata. “Maksud kamu apa?”

Panji menarik napas. Ini kalimat yang selama ini ia takutkan.

“Saya akan tetap kerja profesional,” kata Panji. “Tapi mulai sekarang, jam saya jelas. Scope kerja saya jelas. Kalau saya bilang tidak bisa, itu artinya tidak bisa. Bukan negosiasi.”

Umarmaya tertawa kecil, meremehkan. “Kamu berubah ya.”

Panji menatapnya, dan untuk pertama kali ia tidak merasa perlu menjelaskan supaya diterima.

“Saya sedang belajar,” katanya. “Belajar… menjadi baik. Tapi bukan baik yang bisa dipakai. Baik yang punya batas.”

Umarmaya menatapnya lama. Di wajahnya, Panji melihat sesuatu yang jarang ia lihat: kebingungan—seolah ia baru sadar bahwa selama ini ia memegang orang yang tidak pernah ia anggap bisa lepas.

.

Perubahan tidak terjadi seperti sulap. Ada hari-hari Panji masih tergoda untuk kembali menjadi “yang selalu bisa”. Ada hari-hari ia merasa bersalah karena menolak. Ada hari-hari ia merasa kesepian karena tidak semua orang menyukainya.

Beberapa rekan kerja mulai menjaga jarak. Mereka kehilangan “Panji lama” yang selalu mengiyakan.

Klono bahkan berkata di pantry, setengah bercanda, setengah menyindir, “Wah, sekarang Panji mahal ya.”

Panji tersenyum. “Bukan mahal. Cuma… tidak gratis.”

Klono terdiam sebentar, lalu tertawa kaku. Tapi di mata Klono, ada sesuatu yang berubah: respek kecil yang sebelumnya tidak ada.

Umarmadi, yang dulu suka meremehkan, tiba-tiba lebih sopan saat meminta bantuan. Jayengrana yang biasanya mengambil ide Panji, mulai menanyakan pendapat Panji langsung—meskipun masih ada sisa kebiasaan lama.

Yang paling sulit bukan mengubah orang lain, melainkan mengubah diri sendiri: kebiasaan meminta maaf tanpa sebab. Kebiasaan menyenangkan orang agar tidak ditinggal. Kebiasaan menelan kata-kata sendiri.

Panji berkali-kali membuka ponsel, ingin menulis “iya” padahal ia ingin bilang “tidak”. Ia berkali-kali mengetik lalu menghapus. Ia belajar bahwa batas tidak selalu indah, tapi batas itu perlu.

Di luar kantor, Panji lebih sering bertemu Sekartaji. Kadang hanya minum teh hangat. Kadang berjalan di taman kota yang kecil tapi cukup untuk bernapas. Sekartaji tidak pernah menasihati panjang. Ia hanya memberi kalimat-kalimat pendek yang seperti paku: kecil, tapi menahan sesuatu agar tidak roboh.

“Orang-orang akan menguji batasmu,” kata Sekartaji suatu malam. “Bukan karena mereka jahat, tapi karena mereka terbiasa kamu menghapus garis.”

Panji mengangguk. “Aku takut jadi orang jahat.”

Sekartaji tersenyum. “Batas bukan kejahatan. Batas itu pagar agar kebunmu tidak diinjak.”

Panji menatap lampu-lampu kota. Dulu lampu itu membuatnya merasa harus berlari. Sekarang, lampu itu seperti mengingatkan: tidak semua hal harus dikejar.

.

Waktu berjalan, ibu membaik. Tidak sepenuhnya, tapi cukup untuk kembali tertawa di ruang makan, cukup untuk menegur Panji jika lupa makan, cukup untuk menanyakan kabar Sekartaji dengan wajah yang diam-diam bahagia.

Suatu Minggu pagi, ibu meminta Panji mengantarnya ke sebuah panti di pinggir kota. Panji heran, tapi mengiyakan.

Di panti itu, anak-anak berlari. Mereka tertawa tanpa beban, memanggil ibu Panji dengan akrab. Seorang anak kecil mendekati Panji, menatapnya dengan mata jernih.

“Om siapa?”

Panji menelan ludah. Di kantor, ia bisa menjelaskan dirinya dengan rapi: konsultan, strategi, proyek, investor. Tapi di hadapan anak itu, semua terasa seperti kostum yang terlalu besar.

“Aku… Panji,” katanya.

“Kerja apa?”

Panji terdiam. Semua jawaban yang biasa ia banggakan terasa tidak relevan. Ia ingat daftar tak terlihat yang pernah ia baca di pikirannya sendiri: saat bicara diabaikan, batas diremehkan, ingin semua suka tapi tak ada yang hormat, minta maaf padahal tidak salah, diejek tanpa takut, terlalu menyenangkan orang lain, saat tidak ada—tidak ada yang mencari.

Dan tiba-tiba ia sadar: ia tidak ingin hidupnya selesai sebagai orang yang “baik” namun kosong.

Ia menarik napas.

“Aku sedang belajar,” katanya akhirnya.

“Belajar apa?” anak itu bertanya polos.

Panji menatap wajah kecil itu, dan entah kenapa air mata mendesak naik.

“Belajar… menjadi baik,” jawabnya. “Yang benar-benar baik.”

Anak itu tersenyum, seperti menerima jawaban paling wajar di dunia.

Tidak ada yang menanyakan jam tangannya. Tidak ada yang meminta ia menjelaskan strategi. Tidak ada yang peduli siapa yang memuji di LinkedIn.

Panji duduk, membantu merapikan buku, mendengar cerita anak-anak tentang sekolah mereka, tentang cita-cita sederhana: jadi guru, jadi koki, jadi orang yang “punya rumah”.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Panji merasa dinilai bukan dari hasil, tapi dari hadirnya.

Ia menangis tanpa suara. Bukan karena sedih semata, tapi karena seperti menemukan kembali bagian dirinya yang lama hilang: manusia yang tidak perlu membuktikan nilai lewat kelelahan.

Di perjalanan pulang, ibu memandangnya dan berkata pelan, “Disayang itu bonus, Ji. Disenggani itu kamu bangun sendiri—dari caramu menghormati dirimu.”

Panji menggenggam tangan ibu, dan kali ini ia tidak menahan air mata. Ia membiarkannya turun pelan, seperti hujan yang akhirnya jatuh setelah lama ditahan panas.

Jakarta masih ramai, masih bising. Kantor masih punya target. Orang-orang masih punya ambisi. Dunia masih ingin cepat.

Tapi di dada Panji, ada ruang yang baru: ruang untuk berkata “tidak” tanpa merasa bersalah, ruang untuk berkata “cukup” tanpa takut ditinggal, ruang untuk memilih manusia di atas angka.

Ia mengerti sekarang—bahwa kebaikan tidak gratis. Dan martabat tidak datang dari tepuk tangan.

Martabat datang dari batas yang kita tulis sendiri, lalu kita jaga, meski tangan gemetar.

Dan kalau ada satu hal yang ingin Panji bawa pulang dari semua itu, mungkin ini:
kita boleh menjadi orang baik, tapi jangan sampai kebaikan kita menjadi tiket gratis bagi siapa pun untuk menginjak.

Karena yang paling mahal dalam hidup, sering kali, adalah diri sendiri—yang terlalu lama kita bagikan tanpa syarat.

.

.

.

Malang, 8 Januari 2026

Jeffrey Wibisono V.

.

.

#cerpen #cerpenkompas #sastramodern #jakarta #kehidupanperkotaan #batasdiri #selfrespect #duniakerja #kelasmenengah #refleksihidup #kesehatanmental #keluarga #belajarmenjadibaik

Leave a Reply