Tetap Ada
“Ada orang yang tidak membuatmu kagum saat datang,
tapi membuatmu kehilangan arah saat ia tidak ada.”
.
Langit Jakarta sore itu seperti lembar kontrak yang terlalu sering dilipat: rapi di luar, kusut di dalam. Dari lantai dua puluh tiga sebuah gedung perkantoran di Sudirman, kota tampak seperti peta yang ditarik lurus oleh penguasa waktu—padahal setiap simpang menyimpan orang-orang yang sedang menyembunyikan lelah.
Amir berdiri di dekat jendela, menatap arus kendaraan yang mengular. Ia tidak suka melihat macet sebagai kemarahan. Ia melihatnya sebagai tanda: manusia bergerak, manusia mengejar, manusia takut terlambat—bukan hanya terlambat sampai kantor, tetapi terlambat menjadi seseorang.
Di balik kaca, pekerjaan berjalan seperti ritus. Email, rapat, deadline, angka, dan senyum yang disiapkan untuk klien. Kelas menengah atas kota punya cara paling halus untuk bertahan hidup: mereka belajar menutup retak dengan gaya. Mereka membeli ketenangan dengan membership gym, brunch di akhir pekan, liburan singkat ke luar negeri, dan kursus-kursus yang membuat hidup tampak “naik kelas”.
Namun Amir tahu: banyak orang naik kelas di kartu nama, tapi turun kelas di batin.
Di mejanya, laptop menyala. Ada draft presentasi peluncuran unit bisnis baru, rencana kampanye digital, perhitungan cash flow, dan sebuah map cokelat bertuliskan Confidential. Map itu diletakkan agak ke belakang, seperti rahasia yang selalu ingin bersembunyi tapi tetap mengintai.
Ponsel Amir bergetar. Pesan dari adiknya:
“Obat Ibu udah diminum. Tapi tadi Ibu nanya kamu pulang jam berapa.”
Amir membaca, lalu menahan napas. Ia membalas cepat:
“Aku pulang agak malam. Tolong jaga Ibu. Aku telepon nanti.”
Ia menutup layar ponsel, seolah menutup pintu kecil di dadanya. Ia sering melakukan itu: menunda perasaan agar pekerjaan tidak berantakan. Di kota seperti Jakarta, orang dibayar bukan cuma untuk bekerja, tapi untuk tetap tampak baik-baik saja.
Maya muncul di sisi meja Amir, membawa dua gelas kopi.
“Yang satu tanpa gula,” katanya.
Amir mengangguk. “Makasih.”
Maya adalah Head of People & Culture di perusahaan mereka. Tapi di keseharian, ia lebih seperti penyeimbang: tahu kapan harus tegas, kapan harus diam, kapan harus membiarkan orang menangis di ruang kecil tanpa menanyakan apa-apa. Ia tak pernah memaksa orang bercerita, tapi orang selalu merasa aman saat ia ada.
“Rapat jam lima sama Jaya,” Maya mengingatkan.
Amir menatap kalender. “Oke.”
“Dia lagi… ya kamu tahu,” Maya menambahkan, suaranya menurun, seperti takut didengar tembok.
Amir tahu. Jaya bukan tipe pemimpin yang meledak-ledak. Ia lebih seperti pintu besi: tidak banyak bunyi, tetapi kalau sudah menutup, tidak ada yang berani mengetuk terlalu keras.
Di kantor, semua orang mengejar satu hal: diakui oleh Jaya.
Masalahnya: Jaya jarang mengakui.
Ia tidak menyanjung. Ia tidak memuji. Kalimat paling hangat dari mulutnya sering hanya, “Oke.”
Dan di ruang kerja yang penuh ego, satu kata “Oke” bisa lebih mahal daripada bonus.
Amir kembali menunduk ke laptop. Ia membuka slide terakhir presentasi: tagline yang dibuat tim kreatif—rapi, pintar, sedikit pamer. Amir membaca, lalu menghapus satu baris. Ia menambahkan kalimat yang tidak ada di brief:
“Orang tidak membeli produk. Mereka membeli rasa aman.”
Ia mengetik pelan, lalu berhenti. Kalimat itu bukan semata strategi marketing. Itu pengakuan. Itu cermin.
.
Pukul lima kurang tiga menit, Amir berdiri di depan ruang rapat. Ia selalu datang sebelum waktu. Bukan untuk terlihat rajin, melainkan karena ia percaya keterlambatan itu menular: rapat molor, keputusan tertunda, tim lembur, lalu orang pulang membawa amarah yang salah alamat.
Pintu ruang rapat terbuka. Jaya masuk, diikuti Maya dan beberapa kepala divisi lain: Adi dari Finance, Ninggar dari Brand & Communication, Surya dari Operations, serta dua manajer yang baru sebulan pindah dari perusahaan kompetitor.
Jaya duduk tanpa basa-basi. “Mulai.”
Rapat dimulai dengan slide pertama. Ninggar menyampaikan konsep kampanye, memamerkan moodboard, warna, gaya visual, dan rencana kolaborasi influencer.
Adi mengangkat tangan. “Proyeksi ini terlalu optimistis. Angka okupansi… terlalu tinggi.”
Ninggar menatap Adi, tersenyum seperti orang yang sudah menyiapkan jawaban sebelum pertanyaan keluar. “Ini berdasarkan segmentasi premium. Kita nggak target semua orang.”
Adi tidak tersenyum. “Segmentasi itu asumsi. Kalau asumsi salah, cashflow jebol.”
Jaya menatap mereka, datar. “Oke. Solusi?”
Sunyi sebentar. Kritik sering lebih mudah diucapkan daripada solusi.
Amir membuka mapnya. “Saya bikin dua jalur,” katanya pelan. “Pertama, kita pakai data search intent dan lookalike dari kampanye sebelumnya. Kedua, kita siapkan plan B: bundling korporat dan komunitas premium. Ini simulasi dan mitigasinya.”
Ia menampilkan tabel: skenario A, skenario B, risiko, biaya, timeline, PIC, indikator harian. Presentasi Amir tidak mewah, tapi jelas. Tidak memukau, tapi rapi.
Jaya menatap layar lama.
“Oke,” kata Jaya.
Satu kata itu membuat ruangan seolah bergeser.
Maya menatap Amir. Tidak tersenyum. Tapi tatapannya seperti anggukan.
Rapat berlanjut, membahas hal yang lebih sensitif: rumor internal tentang restructure, pemotongan, dan kemungkinan pergantian beberapa jabatan.
Jaya menatap map cokelat di meja Amir. “Draft itu siapa yang bocorin?”
Tak ada yang menjawab.
Amir menahan napas. Ia tahu map itu bukan sekadar kertas. Di dalamnya ada nama-nama, angka, keputusan yang bisa meruntuhkan harga diri orang-orang yang bekerja dengan penuh ketakutan. Ada masa depan yang sedang diatur seperti kursi di ballroom: kalau salah susun, chaos.
“Draft itu belum final,” kata Amir pelan. “Saya minta tim berhenti menyebarkan. Kalau butuh klarifikasi, biar jalurnya lewat Maya.”
Jaya menatap Amir. “Kamu tahu ini sensitif.”
“Iya,” jawab Amir. “Makanya harus dijaga.”
Jaya mengangguk kecil. “Oke.”
Rapat ditutup. Orang-orang bubar membawa dua hal: pekerjaan baru dan kekhawatiran lama.
.
Di pantry, Maya menuang air putih. Amir berdiri di sampingnya, menatap kopi yang hampir habis.
“Kamu nggak takut tadi?” Maya bertanya.
Amir mengangkat bahu. “Takut. Tapi lebih takut kalau kepanikan menyebar.”
“Kenapa kamu selalu memilih jadi… yang menahan?” Maya menatapnya.
Amir diam sebentar. Ia mencari jawaban yang tidak terdengar seperti pidato.
“Karena di rumah,” katanya akhirnya, “ada orang yang nunggu aku pulang dengan kabar baik. Dan kalau kantor kacau, aku cuma nambah beban.”
Maya menatap Amir lebih lama. “Ibu kamu?”
Amir mengangguk. “Sedang sakit.”
Maya tidak bertanya penyakit apa. Ia hanya berkata pelan, “Kalau kamu butuh cuti…”
Amir menggeleng cepat. “Nanti. Setelah ini beres.”
Maya menaruh gelas. “Kamu nggak harus selalu kuat.”
Amir tersenyum tipis. “Aku nggak selalu kuat. Aku cuma… tetap ada.”
Kalimat itu keluar tanpa ia rencanakan. Dan setelah itu, ia menyesal sekaligus lega—seperti seseorang yang akhirnya mengaku bahwa ia lelah.
.
Malam turun, dan kantor berubah menjadi kapal besar yang berjalan di laut gelap: lampu-lampu menyala, orang-orang tinggal sedikit, suara AC menjadi latar, dan pikiran makin keras terdengar.
Amir membuka ulang laporan yang tadi ia sampaikan. Ia menemukan satu kesalahan: asumsi repeat customer yang terlalu tinggi. Bukan besar, tapi cukup untuk membuat proyeksi meleset.
Dalam budaya kantor, mengaku salah adalah hal yang berbahaya. Orang bisa kehilangan kepercayaan, kehilangan panggung, kehilangan kesempatan.
Amir menatap angka itu lama. Ia bisa diam saja. Ia bisa menyembunyikan dan berharap tidak ada yang menyadari.
Tapi ia teringat pesan adiknya, suara Ibu, dan map cokelat yang harus dijaga.
Ia berdiri, menghampiri ruang Jaya yang pintunya masih sedikit terbuka.
“Jay,” katanya pelan.
Jaya menoleh.
“Saya perlu bilang: proyeksi saya minggu lalu terlalu tinggi. Saya salah hitung di asumsi repeat customer. Saya sudah koreksi dan saya kirim revisinya malam ini.”
Maya yang kebetulan lewat, berhenti di ambang pintu.
Jaya menatap Amir lama. Tidak marah, tidak memuji. Ia hanya berkata, “Bagus kamu bilang. Kirim revisinya. Jangan ulangi.”
Amir mengangguk. “Siap.”
Saat berjalan keluar, Maya menyusul. “Kamu berani.”
“Bukan berani,” jawab Amir. “Cuma… nggak mau bohong.”
Maya menahan napas. “Itu justru yang paling berani.”
.
Pukul sebelas malam, grup kantor ramai. Ada insiden di salah satu outlet: tamu VIP komplain, video beredar, dan ada potensi viral.
Pesan bertubi-tubi:
“Siapa PIC?”
“Ini bisa hancur.”
“PR mana?”
“Tolong cepat!”
Maya mengirim pesan pribadi: “Kamu masih di kantor?”
Amir membalas: “Masih.”
Tanpa tanya apa-apa, Amir menuju ruang kecil dekat server. Dua staf muda sudah menunggu, wajah mereka pucat seperti kertas.
“Tarik napas dulu,” kata Amir. “Kita urutkan. Kejadian jam berapa?”
Salah satu staf menjawab terbata-bata. Amir mendengarkan, mencatat, tidak memotong. Di situasi genting, orang paling berguna bukan yang paling cepat bicara, tapi yang paling mampu menahan panik.
“Ini bukan tentang menyelamatkan nama,” kata Amir pelan. “Ini tentang tanggung jawab. Kita minta maaf dulu. Kita bereskan yang salah. Setelah itu, baru bicara.”
Staf lain bertanya, “Kalau kita disalahin?”
Amir menatapnya. “Kalau kamu benar, aku berdiri di depan. Kalau kamu salah, aku ikut bertanggung jawab. Tapi kita jangan lari.”
Kalimat itu membuat bahu yang tegang sedikit turun. Di kantor, ada banyak orang pintar. Tapi sedikit orang yang membuat orang lain merasa tidak sendirian.
Dalam satu jam, mereka menyusun kronologi, menyiapkan pernyataan, menghubungi pihak lapangan, dan menenangkan tim. Amir tidak terlihat seperti pahlawan. Ia terlihat seperti orang yang bekerja.
Ketika krisis mereda, kantor kembali sunyi.
Maya berdiri di ambang pintu. “Kamu selalu pilih berdiri di tengah,” katanya.
Amir menutup laptop. “Karena dari tengah, orang nggak jatuh sendirian.”
Maya menunduk. Matanya berkaca. “Aku capek lihat orang-orang baik selalu jadi tameng.”
Amir diam. Ia tidak punya jawaban yang manis. Ia hanya berkata pelan, “Kalau nggak ada tameng, semua orang luka.”
Maya mengangguk kecil. Ia tidak mengatakan apa pun lagi, tapi keheningannya menjadi doa.
.
Keesokan hari, kantor kembali hidup seperti biasa. Orang-orang datang dengan baju rapi, senyum profesional, dan cerita akhir pekan. Mereka membicarakan gym, investasi, sekolah anak, rencana liburan. Seolah semalam tidak ada krisis.
Di pantry, Adi mendekati Amir. “Bro, semalam… lu yang beresin?”
Amir mengangguk. “Tim juga.”
Adi menghela napas. “Gue nggak ngerti. Kenapa lu selalu… gercep.”
Amir menatap Adi. “Karena kalau aku lambat, ada orang lain yang panik. Dan kalau panik, kita bikin kesalahan.”
Adi diam, lalu tertawa kecil. “Lu tuh… aneh.”
“Aneh kenapa?”
“Lu nggak kayak orang kantor biasanya.”
Amir tersenyum tipis. “Mungkin karena aku bukan cuma kerja buat karier.”
Adi menatap Amir, seperti baru sadar ada dunia lain di luar presentasi.
.
Pukul dua siang, Jaya memanggil Amir ke ruangannya.
Ruang Jaya minimalis: meja kayu, rak buku bisnis, satu lukisan abstrak, dan jendela besar menghadap kota. Jakarta terlihat tenang dari atas, seperti luka yang ditutupi.
Jaya menyodorkan kertas. “Aku lihat laporan kamu. Kampanye rapi. Krisis semalam juga cepat.”
Amir mengangguk. “Itu kerja tim.”
Jaya diam sebentar, lalu bertanya, “Kamu tahu kenapa orang respek sama orang tertentu?”
Amir tidak menjawab. Ia menunggu.
“Karena mereka nggak bikin repot,” kata Jaya. “Bukan berarti mereka sempurna. Tapi mereka hadir. Tepat waktu. Belajar. Berani ngaku salah. Nggak main drama. Nggak bocorin rahasia. Kalau ada masalah, mereka ikut beresin.”
Amir menelan ludah. Kalimat itu seperti membaca daftar kebiasaan yang ia jalani bukan untuk dipuji, tapi untuk bertahan—untuk menjaga agar hidupnya tidak runtuh.
Jaya menatap Amir. “Aku nggak sering bilang ini. Tapi… aku respek sama kamu.”
Kalimat itu jatuh pelan, tapi membuat dada Amir sesak. Bukan karena ambisi tercapai, melainkan karena bagian dirinya yang selama ini memikul sendirian, akhirnya terlihat.
Ia menunduk, menahan mata agar tidak basah.
“Terima kasih,” suara Amir serak. “Saya cuma… berusaha jadi orang yang bisa diandalkan.”
Jaya mengangguk. “Dan satu lagi.”
Ia mendorong kertas itu. “Kamu pegang pembukaan unit Malang. Kamu pilih tim.”
Amir memandang kertas itu seperti memandang pintu yang tiba-tiba terbuka ke masa depan. Malang—kota yang dinginnya sederhana, kota yang selalu terasa seperti pulang.
Maya, yang entah sejak kapan berdiri di ambang pintu, tersenyum. “Selamat.”
Amir mengangguk. Ia ingin berkata banyak, tapi tidak ada kalimat yang cukup.
.
Di perjalanan pulang, Jakarta macet. Lampu rem menyala beruntun seperti doa yang tertahan. Amir duduk di kursi belakang taksi, menatap jalanan, dan tiba-tiba mengingat satu hal sederhana:
Kita sering mengira respek itu lahir dari panggung besar: presentasi megah, jabatan, gelar, penghargaan. Padahal kadang respek lahir dari kebiasaan kecil yang tak terlihat: membalas pesan tepat waktu, datang sebelum diminta, menutup mulut saat harus menjaga rahasia, meminta maaf tanpa alasan, belajar tanpa pamer.
Di rumah sakit, Amir berjalan pelan menyusuri koridor. Wangi antiseptik menusuk. Ia masuk kamar. Ibu menoleh, wajahnya pucat tapi matanya hangat.
“Kamu pulang juga,” kata Ibu lirih.
Amir duduk, menggenggam tangan itu. “Iya, Bu.”
Ibu tersenyum. “Kerja itu jangan bikin kamu lupa jadi manusia.”
Amir mengangguk. Dan kali ini ia tidak menahan air mata. Ia membiarkannya turun pelan—seperti hujan di kota yang terlalu lama menahan panas.
“Kamu capek,” kata Ibu lagi.
Amir mengangguk. “Capek.”
Ibu menepuk tangan Amir lemah. “Kalau capek, pulang.”
Amir menunduk. “Aku pulang sekarang, Bu.”
Ibu memejam, tersenyum. “Bagus.”
Di luar jendela, lampu kota menyala satu per satu. Jakarta kembali menjadi dirinya sendiri—ramai, tergesa, dan penuh janji. Besok Amir akan kembali ke meja kerja, ke rapat, ke krisis, ke keputusan-keputusan yang menuntutnya untuk tetap kuat.
Namun malam itu, ia membiarkan dirinya diam.
Bukan karena lelah telah menang, melainkan karena ia tahu satu hal yang tak semua orang sanggup lakukan:
Tetap ada, bahkan ketika tidak ada yang meminta.
Dan di sana, di kamar rumah sakit yang dingin, Amir menyadari: yang paling membuat seseorang dihormati bukan karena ia paling hebat, melainkan karena ia paling bisa diandalkan saat dunia orang lain sedang rapuh.
#TetapAda #CerpenKompas #CerpenIndonesia #DuniaKerja #Integritas #EtosKerja #KehidupanPerkotaan #HumanInterest