Pagi di Jakarta itu selalu punya cara sendiri untuk terlihat “baik-baik saja”. Seolah kemacetan, target, notifikasi, dan janji-janji rapat yang
“Sifat manusia bukan paling mudah terbaca saat ia sedang bahagia—melainkan saat ia kecewa, saat ia tidak diuntungkan, saat ia merasa
“Tidak semua orang punya rumah yang menanyakan kabar. Ada yang belajar menghapus air mata sendiri, merayakan menang sendiri—karena tak ada
“Ada wajah yang tampak seperti halaman kosong—padahal di baliknya, ada huruf-huruf kecil yang hanya Tuhan sanggup membacanya.” . Ia dipanggil
“Yang paling berbahaya bukanlah kehancuran yang terlihat,melainkan keteraturan yang tak lagi bertanya untuk apa ia dijaga.” . Jayeng selalu percaya,
“Kadang yang menempel di punggungmu bukan beban hidup—melainkan suara-suara kecil yang takut melihatmu terbang. Naiklah. Udara yang lebih tinggi akan