Home cerpen sastra Halaman 3
“Ada waktunya kita berhenti berbicara, bukan karena kalah, melainkan karena sadar: sebagian telinga memang ditakdirkan tak mau mendengar.” “Bahagia
“Setiap perempatan menyimpan rahasia: siapa yang berani menunggu, siapa yang diam-diam menyerah, dan siapa yang tetap melangkah meski lampu tak
“Makan bukan sekadar soal perut; ia adalah cara paling sunyi sebuah bangsa menjaga harga diri anak-anaknya, agar besok bisa berdiri
“Disiplin bukan hanya soal menata waktu, tetapi tentang menata hati agar tetap teguh meski dunia di luar terus berguncang.” .
“Kadang kita baru mengenal wajah asli seseorang saat kita rela pura-pura tak paham, pura-pura kalah, dan pura-pura menunggu. Di sanalah
“Tenang adalah keberanian paling sunyi.Memaafkan adalah kecerdasan yang tak terlihat.Bekerjalah diam-diam—biarkan hasil yang berbicara.” . Kota ini—Jakarta—bernafas pendek. Pagi-pagi sekali,