Suara yang Layak Didengar
“Dalam hidup yang bising, bukan semua suara pantas diikuti. Ada kalanya, keselamatan batin ditentukan oleh siapa yang berani kita dengar.”
.
Hujan tidak jatuh; ia seperti memutuskan turun. Dari kaca apartemen lantai dua puluh tujuh, Jayeng melihat kota menyalakan lampu-lampu kecilnya—seperti bintang yang dipaksa bekerja lembur. Jalan protokol di bawah sana tampak licin, kendaraan meluncur pelan seperti ikan-ikan yang menahan napas.
Di meja kerja, laptop menyala. Ada spreadsheet, ada proyeksi arus kas, ada email investor yang bahasanya rapi seperti jas mahal. Di sampingnya, secangkir kopi yang sudah dingin. Jayeng tidak menyentuhnya. Ia menatap notifikasi yang sama berulang-ulang, seolah berharap tulisan itu berubah sendiri.
“Kita perlu keputusan malam ini,” pesan Umar masuk.
“Kalau kamu ragu, kita bisa jalan tanpa kamu. Kamu tinggal tanda tangan. Sisanya biar tim legal urus.”
Jayeng menghela napas, panjang. Di dunia mereka—dunia kelas menengah ke atas yang setiap keputusan selalu punya angka di belakangnya—kalimat “tinggal tanda tangan” terdengar seperti hal sepele. Padahal, sering kali itu adalah pintu masuk ke penyesalan bertahun-tahun.
Di layar ponsel, ada gambar yang tadi sore dikirim Maya, sahabat Jayeng sejak mereka sama-sama belajar “memakai kepala dingin” di kota yang panas. Gambar itu sederhana: empat kalimat yang menampar dengan cara yang lembut.
Empat jenis orang yang omongannya layak didengerin:
-
yang ngomong pakai pengalaman, bukan teori;
-
yang membantu tulus, bukan mengambil keuntungan;
-
yang jujur walau pedas;
-
yang konsisten antara omongan dan integritas.
Jayeng membaca lagi. Dan lagi. Seperti orang yang menekan luka untuk memastikan ia masih sakit.
Malam itu, ia teringat Ninggar.
Bukan, Ninggar bukan nama asli perempuan itu. Di KTP-nya tertulis nama modern yang cantik dan resmi. Tapi Jayeng memanggilnya Ninggar karena sekali waktu, saat mereka berdebat tentang “harga diri” dalam relasi dan bisnis, Ninggar berkata lirih, “Nama itu cuma panggilan. Yang penting, kita tetap punya harga sebagai manusia.”
Sejak itu, Jayeng mengingatnya sebagai Ninggar—seorang perempuan yang kalau bicara tidak pernah panjang, tapi selalu sampai.
Mereka bertemu di acara alumni sebuah kampus bisnis di Jakarta Selatan. Ruangannya wangi parfum, kursinya empuk, pembicara utamanya pengusaha yang gemar berkata “konsistensi adalah kunci” sambil mengganti jam tangan tiap kuartal.
Ninggar datang tanpa rombongan. Jayeng, yang baru saja naik jabatan di perusahaan hospitality grup, merasa perlu “memperluas koneksi”. Ia berdiri di lingkaran orang-orang yang tertawa keras, memamerkan proyek, memamerkan anak yang sekolah di luar negeri, memamerkan liburan yang tampak seperti iklan.
Ninggar berdiri di dekat meja kopi, memperhatikan semuanya dengan tenang, seperti seseorang yang pernah melewati badai dan tidak lagi tergoda suara petir.
Jayeng menghampiri.
“Capek ya?” tanya Jayeng, setengah bercanda.
“Bukan capek,” jawab Ninggar. “Cuma sedang memilih. Mana yang perlu didengar, mana yang cuma kebisingan.”
Jayeng tertawa kecil. Tapi kalimat itu menempel seperti debu halus yang tidak bisa disapu.
Di tahun-tahun berikutnya, hidup Jayeng melesat. Ia keluar dari perusahaan, mendirikan usaha konsultasi strategi brand dan revenue untuk hotel butik, restoran premium, dan properti mixed-use. Ia merangkul tren. Ia belajar algoritma. Ia mengerti bahasa investor. Ia punya tim konten. Ia punya presentasi yang selalu ditutup dengan kalimat “growth trajectory”.
Lalu datang Umar—teman lama yang selalu tampak lebih cepat: lebih cepat kaya, lebih cepat dikenal, lebih cepat punya jaringan.
Umar bukan orang jahat, Jayeng selalu menegaskan itu pada dirinya. Umar hanya… terlalu pintar melihat celah. Umar tahu cara membuat orang merasa “tidak mau ketinggalan”. Umar tahu cara menjual urgensi. Umar juga tahu cara menyebut keuntungan dengan kata yang lebih sopan: opportunity.
Madi ikut masuk sebagai co-founder: orangnya tenang, latar belakangnya hukum dan compliance. Madi selalu terlihat seperti payung: ada, tapi jarang dipakai, sampai hujan benar-benar turun.
Maya, sahabat Jayeng yang bekerja di dunia edukasi dan executive coaching, sejak awal mengingatkan: “Kamu boleh naik kelas ekonomi. Tapi jangan turunkan kelas etikamu.”
Jayeng mengangguk waktu itu. Mengangguk itu murah. Menjaga itu yang mahal.
Proyek besar pertama mereka datang dari sebuah grup investor yang ingin membangun hotel lifestyle di kota wisata. Angkanya menggoda: fee konsultasi besar, potensi saham kecil, akses ke jaringan. Tim bersorak. Umar mengirim voice note panjang, suaranya seperti iklan: “Ini pintu kita masuk ke liga baru, Jayeng.”
Lalu, di balik semua rencana yang tampak bersih, muncul satu permintaan:
“Kita butuh strategi untuk menekan biaya izin dan mempercepat approval. Ada jalur ‘khusus’. Umum kok, semua pemain juga begitu.”
Jayeng ingat betul, kalimat itu keluar bukan dari investor. Keluar dari Umar. Seolah Umar sudah menganggap itu prosedur standar.
Jayeng menatap Umar saat rapat. Rapat mereka dilakukan di sebuah lounge hotel bintang lima, lampunya temaram, musiknya halus, semua orang tampak sopan.
“Jalur khusus itu apa?” tanya Jayeng pelan.
Umar tersenyum. “Kamu terlalu literal. Ini Indonesia, Jayeng. Kita cuma menyesuaikan diri.”
Ninggar pernah berkata kepada Jayeng, pada satu sore di kafe kecil dekat kampus dulu: “Penyesuaian diri itu perlu. Tapi jangan menyesuaikan sampai kamu tidak lagi mengenali wajahmu sendiri.”
Jayeng menelan ludah. Ia mengingat itu seperti mengingat doa.
Madi menatap Jayeng, tidak bicara. Tapi tatapannya seperti menuliskan kalimat di udara: hati-hati.
Maya kemudian mengirim gambar “empat orang yang layak didengarkan” malam ini. Seolah semesta sedang mengirimkan catatan rapat dari tempat yang lebih tinggi.
Di apartemen, hujan makin rapat. Jayeng menutup laptop sejenak. Ia berjalan ke jendela. Ia melihat pantulan dirinya sendiri: pria dengan kemeja rapi, rambut disisir, mata lelah. Mata itu bukan lelah kerja; mata itu lelah karena mempertahankan diri dari versi dirinya yang mulai bisa dibeli.
Ia kembali duduk. Membuka chat ke Ninggar—nomor itu masih ada, tapi mereka jarang bicara sejak Ninggar pindah kota, fokus mengelola sekolah kecil dan program beasiswa untuk anak-anak staf rumah sakit.
Jayeng mengetik: “Ning, aku takut salah langkah.”
Tiga menit. Lima menit. Lalu balasan masuk, singkat:
“Takut itu baik, Jayeng. Takut itu alarm. Yang bahaya kalau kamu tidak takut.”
“Ceritakan inti masalahnya: ini soal uang, atau soal harga dirimu?”
Jayeng menatap kalimat itu lama. Di dunia mereka, orang sering menyamarkan harga diri menjadi “strategi”. Padahal, harga diri itu sederhana: kamu bisa tidur tanpa membenci dirimu sendiri atau tidak.
Jayeng menjelaskan, ringkas tapi jujur. Tentang jalur khusus. Tentang urgensi. Tentang tanda tangan.
Ninggar membalas:
“Dengar. Ada empat orang yang layak kamu dengar.”
“Satu: yang ngomong pakai pengalaman. Dua: yang niatnya menolong, bukan memanfaatkan. Tiga: yang jujur walau pedas. Empat: yang konsisten.”
“Sekarang tanya: Umar masuk yang mana? Investor itu masuk yang mana? Kamu sendiri masuk yang mana?”
Jayeng menahan napas. Pertanyaan itu seperti kaca: membuatmu melihat wajahmu tanpa filter.
Ia membuka chat Maya. Mengetik: “Aku butuh pendapatmu. Jujur.”
Maya menjawab cepat:
“Aku tidak akan menahanmu dari rezeki. Tapi aku akan menahanmu dari kebiasaan kecil yang mengantar ke kejatuhan besar.”
“Kalau kamu tandatangan sesuatu yang kamu sendiri malu jelaskan pada ibumu, itu bukan jalan ‘khusus’. Itu jalan pintas ke kehilangan diri.”
Jayeng mengusap pelipis. Kota berputar seperti mesin. Tapi kepalanya seperti ingin diam.
Ia telepon Madi.
Madi mengangkat di dering kedua. Suaranya datar, tapi hangat. “Kamu akhirnya telepon juga.”
“Kalau secara hukum…” Jayeng mulai.
Madi memotong, pelan: “Kalau kamu menanyakan ‘secara hukum’, berarti kamu sudah tahu secara moral kamu gelisah.”
Jayeng terdiam.
Madi melanjutkan: “Aku akan jujur, meski pedas. Kita bisa jalan bersih, tapi mungkin lebih lambat. Kalau Umar tidak mau, berarti dia bukan partner—dia hanya penumpang yang ingin cepat sampai.”
Kalimat itu membuat dada Jayeng panas. Bukan marah. Seperti sedih yang dipanaskan.
Tiba-tiba Jayeng teringat ayahnya—seorang pegawai biasa yang tidak kaya, tapi selalu pulang membawa ketenangan. Ayahnya sering berkata, “Nak, rezeki itu bukan cuma yang masuk dompet. Rezeki juga yang membuat kamu tidak takut melihat wajahmu di cermin.”
Jayeng menutup mata. Ia sadar, hidupnya selama ini memburu “naik kelas” agar anaknya kelak punya akses edukasi lebih baik, agar istrinya punya ruang aman, agar bisnisnya bisa membuka lapangan kerja. Semua itu mulia. Tapi mulia tidak berarti kebal dari godaan.
Ia menatap pesan Umar lagi: “Kita perlu keputusan malam ini.”
Jayeng mengetik balasan, jari-jarinya sempat berhenti di tengah, seperti ada bagian dirinya yang masih ingin disukai.
Lalu ia menulis:
“Aku tidak akan tanda tangan. Kita jalan sesuai prosedur. Kalau kamu mau lanjut tanpa aku, silakan. Tapi aku tidak akan jadi orang yang mengajari timku bahwa integritas bisa dinegosiasikan.”
Titik. Enter.
Hening.
Lima detik. Sepuluh detik. Notifikasi masuk.
Umar: “Kamu terlalu idealis. Dunia nyata nggak begitu.”
Umar: “Kamu pikir kamu suci?”
Jayeng menatap dua kalimat itu. Ada cara seseorang melukai: dengan menuduhmu sok baik, padahal kamu hanya mencoba tidak jadi buruk.
Jayeng tidak membalas. Ia tahu, debat dengan orang yang merasa semua bisa dibeli akan berakhir menjadi lelang harga diri.
Tapi Umar belum selesai.
Umar: “Kita sudah sejauh ini. Kamu jangan merusak semuanya.”
Kalimat itu membuat Jayeng hampir goyah. “Kita sudah sejauh ini” adalah mantra paling efektif untuk membuat orang bertahan di keputusan yang salah. Seperti orang bertahan di hubungan yang melukai, hanya karena sudah terlalu banyak kenangan.
Jayeng berdiri. Ia mengambil jaket. Hujan masih turun, tapi ia merasa harus keluar agar tubuhnya paham: keputusan ini nyata, bukan hanya tulisan di layar.
Ia turun ke lobby. Satpam menyapa. Lift bergerak seperti menelan pikirannya pelan-pelan ke lantai dasar.
Di luar, jalan basah. Jayeng berjalan tanpa payung, membiarkan hujan menempel di kemeja. Di trotoar, ia melihat seorang pengantar makanan menepi, menutup helmnya rapat, menunggu hujan reda. Di bawah lampu jalan, wajah lelaki itu tampak letih, tapi matanya tetap waspada.
Jayeng berhenti. Ia tidak kenal lelaki itu. Tapi ia merasakan sesuatu yang lama hilang: rasa hormat pada hidup yang tidak bisa dibeli.
Ia pulang dengan baju basah. Membuka laptop lagi. Menyusun email ke investor: menjelaskan bahwa timnya hanya akan bekerja dalam koridor legal dan etis, meski timeline akan lebih panjang. Ia menulis dengan bahasa yang tegas tapi tidak menggurui. Ia menutup dengan kalimat:
“Kami percaya bisnis yang sehat bukan yang paling cepat, melainkan yang paling bisa dipertanggungjawabkan—di ruang rapat maupun di ruang batin.”
Ia mengirim.
Malam semakin larut. Notifikasi dari investor masuk satu jam kemudian. Jayeng menahan napas sebelum membuka.
Isinya singkat:
“Baik. Kita lanjut. Terima kasih atas kejelasan Anda.”
Jayeng memejam. Ia tidak bersorak. Ia hanya merasa—seperti seseorang yang baru saja menurunkan beban dari punggung.
Besok paginya, Umar mengirim pesan panjang, minta bertemu. Jayeng setuju.
Mereka bertemu di sebuah kafe yang sering jadi tempat rapat karena instagrammable. Umar datang dengan wajah tegang, menaruh ponselnya di meja seperti senjata.
“Kamu bikin aku kelihatan buruk,” kata Umar tanpa pembuka.
Jayeng menatapnya. “Aku bikin kamu kelihatan buruk, atau kamu memang melakukan hal buruk?”
Umar terdiam sebentar, lalu tertawa pendek. “Kamu berubah, Jayeng.”
Jayeng menyesap air putih. “Aku cuma pulang ke diriku yang dulu.”
Umar menyandarkan tubuh. “Kamu pikir kamu menang?”
Jayeng menggeleng. “Aku cuma memilih tidak kalah.”
Umar menatap Jayeng lama. Ada sesuatu yang retak di matanya, tapi Umar terlalu terlatih untuk menunjukkan retak itu. Ia akhirnya berdiri, merapikan jaketnya.
“Sukses ya,” kata Umar, setengah sinis.
Jayeng mengangguk. “Kamu juga. Semoga suksesmu tidak membuatmu kehilangan orang-orang yang tulus.”
Umar pergi. Meninggalkan aroma parfum yang mahal, tapi entah kenapa terasa kosong.
Jayeng pulang dengan langkah yang lebih ringan. Ia membuka ponsel, mengirim pesan ke Ninggar:
“Aku memilih jalan yang lebih lambat.”
Ninggar membalas:
“Selamat. Kamu baru saja memilih hidup yang lebih panjang.”
“Ingat, Jayeng: orang yang layak kamu dengar itu langka. Tapi mereka membuat hidupmu tidak murahan.”
Jayeng lalu menulis catatan kecil untuk dirinya sendiri—sebuah mantra yang bisa ia baca saat dunia kembali bising:
-
Dengarkan yang bicara dari pengalaman, bukan pamer teori.
-
Dekati yang membantu tulus, bukan menghitung keuntungan dari luka kita.
-
Pelihara yang jujur walau pedas, karena merekalah yang menyelamatkan kita dari kebiasaan buruk.
-
Percaya pada yang konsisten, karena integritas bukan slogan, tapi pola napas.
Di siang hari, Jayeng mengumpulkan timnya. Ada anak muda yang baru lulus, ada yang sedang membiayai adik kuliah, ada yang menabung untuk menikah, ada yang menanggung cicilan rumah. Mereka semua punya mimpi yang nyata—dan mimpi, Jayeng tahu, sering kali rentan ditukar dengan jalan pintas.
Jayeng berkata, pelan tapi jelas:
“Di bisnis, kita boleh ambisius. Boleh ingin naik kelas. Tapi jangan pernah mengajari diri kita bahwa kecurangan adalah strategi. Karena sekali kamu menyebutnya strategi, besok kamu akan menyebutnya budaya.”
Timnya diam. Beberapa mengangguk. Satu orang terlihat hampir menangis—mungkin karena baru kali ini ada pemimpin yang tidak menjual moral sebagai materi motivasi, tapi benar-benar memakainya sebagai kompas.
Sore itu, Jayeng pulang lebih awal. Ia menjemput anaknya dari kursus musik. Di mobil, anaknya bercerita tentang guru yang sabar, tentang nada yang sulit, tentang latihan yang membosankan.
Jayeng tersenyum. Ia merasa, hidup sedang mengajari hal yang sama dengan cara yang lebih lembut: hal baik sering tidak instan, tapi selalu punya gema.
Saat lampu merah, Jayeng memandang ke luar jendela. Kota tetap ramai. Tetap bising. Tetap menawarkan jalan pintas.
Tapi di balik semua itu, Jayeng merasa ada ruang sunyi yang baru lahir di dalam dirinya—ruang yang tidak bisa dibeli, tidak bisa ditipu, tidak bisa ditukar.
Ia berbisik pada dirinya sendiri, seperti mengucap janji:
“Aku akan memilih suara yang benar, meski tidak populer. Aku akan memilih orang yang tulus, meski tidak ramai. Karena hidup bukan lomba cepat-cepatan—hidup adalah keberanian untuk tetap waras.”
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian bulan, Jayeng tidur tanpa memeluk kegelisahan.
.
.
.
Malang, 1 January 2026
.
.
#Cerpen #CerpenKompas #SastraIndonesia #SastraUrban #KelasMenengah #Integritas #EtikaBisnis #Leadership #RefleksiHidup #DuniaKorporat #BisnisIndonesia #Karier #Edukasi #SelfRespect #NamakuBrandku